Chapter 2 : Inside of me

Aku berjalan – berjalan dan terus berjalan sampai pada akhirnya aku menemukan sebuah bola api hitam yang melayang tepat di hadapanku. Bola api hitam itu mengeluarkan hawa panas yang sungguh tinggi. Aku merasa seperti terbakar tepat didepannya. Akan tetapi bola api itu tidak bergerak seinchi pun dari tempatnya berada. Aku meraihnya dan tidak memperdulikan tubuhku yang terasa terbakar itu. Aku sudah tidak hidup, berada diruangan kosong, dan aku tidak ada tujuan lagi. Buat apa memikirkan hal lain.

Setelah bersentuhan melihat bola api itu berada akan tetapi didepanku adalah diriku yang memperlihatkan gigi taring yang tajam dan ekspresi marahnya kepadaku. Dia memiliki mata merah yang menyala dengan pupil yang tipis seperti kucing. Hal itu yang dapat membedakan kita.

"KAU ITU BODOH, KENAPA KAU MENYERAHKAN JIWAMU SEENAKNYA SAJA ?!, " teriaknya kepadaku dengan mengacungkan telunjuknya kepadaku.

"Aku sudah mati, buat apa aku memperjuangkan sesuatu yang tidak ada ?, " balasku dengan santainya.

"Kau benar-benar tanpa harapan kau tahu itu kan, " ucapnya.

"Lagipula kau itu siapa ? Dan kenapa kamu mirip denganku ?, " komentarku terhadap dirinya.

"Aku itu adalah kau, kegelapan yang ada pada dirimu, " kata dirinya.

"Kenapa kau tidak pernah mengambil alih tubuhku agar aku tidak merasakan penderitaanku selama ini, " tuturku dengan nada parau.

Diriku satunya menghela nafas dan pandangannya berubah menjadi kalem, "Begini ya, aku tidak bisa mengambil kendali tubuhmu karena mekanisme kesadaranmu menekanku agar aku tidak bisa masuk. Jadi masih belum cukup untuk bisa melewati pertahanan pikiranmu. Dengan kata lain kau masih belum pada sebuah titik yang membuatku bisa menembus alam bawah sadarmu, " ujarnya dengan menepuk punggungku dengan santainya.

"Oh begitu ya. Aku dari dulu berharap demikian akan tetapi tidak bisa. Lalu sekarang kita harus bagaimana ?, karena kau sudah ada disini, " tanyaku kepada kembaranku.

"Semenjak kau disini salah satu dari kita harus mengambil kendali tubuh ini, " ucapnya yang berada dibelakangku dengan benda lancip menyentuhku yang kelihatannya akan menusuk tubuh.

"Sebelum itu. Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu. Karenamu aku akan bisa istirahat, " kataku yang menoleh padanya dengan senyuman. Lalu aku berpaling dan akan memeluknya.

Pisau yang ditancapkan lalu dilepasnya dan terdengar suara klang yang menandakan bahwa pisau itu benar – benar jatuh bersaaman saat aku mendekapnya. Dia hanya diam saja, aku tahu bahwa diriku satunya jika ingin benar – benar menguasai tubuhku seutuhnya sudah dari awal dia akan lakukan dan tidak akan perlu basa – basi dengan hal semacam ini.

"Kenapa kamu tidak melakukannya ?, aku tahu jika kamu yang berada diluar maka hidupmu tidak akan bosan dan kamu bisa melakukan apa saja, " tuturku.

"Aku tahu kau akan melakukannya. Aku sudah tahu jalan pikiranmu akan kemana. Dan aku membencimu karena itu. Kau tidak mau untuk berjuang, kau sudah melakukan banyak hal, akan tetapi untukmu semua itu hanyalah hal – hal yang bisa kau lewatkan dengan mudah tanpa melihat artinya. Aku tahu beberapa dari hal itu kau tidak menyukainya sama sekali. Kau hanya bisa melihat replika yang membuatmu setidaknya tersenyum dan tidak mau melihat realita. Kau khawatir bahwa kamu tidak bisa menerimanya dan akan membuat keputusan yang salah. Ya memang ini dirimu, dan kau paling benci jika orang membeda – bedakan seberapa parah dirinya. Setiap individu unik dan berbeda-, " ucapannya terhenti ketika dia merasakan pukulan oleh pemilik tubuh aslinya.

"Hentikan... jangan diteruskan. Kamu sungguh membuatku jengkel tahu tidak. Awal marah – marah lalu mengancam setelah itu usil dengan mengucapkan semua itu..., " kataku dengan berlinang air mata.

"Untuk memudahkannya kau bisa memanggilku Mugen. Karena kita adalah dua sisi bulan jika satu sisi terang disiniari matahari maka satunya gelap tidak terpancar olehnya. Akan tetapi sebuah bulan baik kedua sisinya adalah satu. Dan kenapa tampilanku seperti ini ?, aku membuatnya demikian karena menurutmu jika sosokmu dalam kegelapan maka itulah yang akan memanifestasikan. Terakhir kenapa aku tidak ingin melakukan apa – apa denganmu karena kau membosankan. Aku tidak ingin bertemu denganmu. Tetapi karena kita sudah berada disini aku sekarang terkurung bersamamu, sungguh luar biasa. Dan kau akan membuatku lebih jengkel karena kelakuan bodohmu. Akan tetapi dengan begini kau tidak sendirian. DASAR PEMILIK TIDAK BERGUNA !, MENYUSAHKAN SAJA YANG KAU LAKUKAN, " ucap Mugen dengan tersenyum memeluk Ash dengan erat. Aku akan melindungi dan menemanimu sekarang Ash, itulah hal terakhir yang akan kulakukan selagi kita bersama. Dengan masuk ke dimensi ini, aku mendapatkan seperti rasa akan kekuatan yang aku tidak punya. Semula yg kumiliki adalah emosi yang terkandung oleh Ash akan tetapi aku merasa terisi, dan sepertinya Ash juga. Mungkin berada di dunia ini tidak terlalu buruk oleh kita batin Mugen.

Aku pun melepaskan pelukanku kepadanya dan melihat wajahnya senyum dengan seringai yang menjulang keatas, "Aku ada ide, kita kan tidak memiliki tubuh bagaimana kalau kita merasuki tubuh seorang anak ?, " saran yang Mugen berikan.

"Lho lho bentar, emang harus anak kecil kah ?, dan memangnya kamu memiliki kekuatan untuk melakukannya ?, " tanyaku yang memikirkannya sambil melirik Mugen.

Mugen mencoba mengeluarkan energinya dan benar di sekitar tubuhnya keluar aura hitam. Lalu dia mencoba membuat elemen yang kita tahu, air, api, tanah, udara, listrik. Dengan variasinya berwarna ungu kehitaman. Dia pun mencoba membuat sebuah senjata. Dan dia memilih pedang katana yang panjang terbuat dari kegelapan yang memadat. Dia mengetuk katana itu ke lantai dan bunyi klang terdengar. Dia menyeringaiku sambil menaruh katananya di pundak. Aku mengitarinya dan menyentuh ujung katananya dan droplet darah keluar dari jariku.

Dia sedari tadi melihatku akan tetapi senyumnya masih sama dan aku menepuk pundaknya, "Katana yg cukup bagus walaupun simpel. Tapi terlihat kokoh juga, " komentarku dengan kembali berdiri dihadapannya. Mugen memberikan pegangan katana padaku. Aku melihat tangannya dan mengambil pedang itu. Aku mengayunkannya, dan terasa enteng, suara swing – swing saat mengayun pun terdengar dengan jelas. Aku pun juga mencoba memanifestasikan sebuah katana pada tanganku satunya, akan tetapi yang keluar hanyalah sebuah pisau dapur. Aku pun cemberut dan menatap Mugen yang menutupi mulutnya terdengar suara cekikian darinya.

"Kelihatannya energimu masih sedikit Ash, kita harus meningkatkan pasokan energimu kelak. Aku mungkin tahu caranya, aku punya sebuah teori sih, " ucapnya dengan nada dan gestur berfikir.

"Baiklah Mugen, kita harus melakukannya suatu hari, " jawabku dengan senyum seringai. Karena ini pasti akan menarik, aku pun meleburkan kedua senjata itu, yang terjadi mereka berubah jadi energi dengan pisau yang kupegang kembali padaku akan tetapi katananya kembali ke kembaranku, "Bagaimana dengan merasuki tubuh anak kecil ?, " tanyaku.

Dia pun dengan nada senang memberitahuku, "Ohoho, kita kan satu tubuh dua jiwa. Dan kenapa seorang anak kecil ?, karena kita perlu pengalaman seorang anak yang lahir disini bagaimana anak - anak seusianya berkelakuan dan ilmu yang diberikan bukan ?, ditambah lagi dunia ini bisa menjadi pijakanmu untuk memulai hidup barumu. Kita bisa mengisi korban yang sudah meninggal dan merasukinya. Bukankah itu ide yang bagus ?, " diapun merangkul pundakku.

"Hidup kita yang baru Mugen. Ya, kau ada benarnya juga dan kita tidak merubah jiwanya karena sudah pergi, kita hanya mengisinya dengan jiwa kita, " tuturku sambil menoleh kepadanya.

"Itu baru semangat Ash, kita harus menggunakan semangat yang kita miliki dengan baik, " jawab Mugen.

"Oh ya bagaimana dengan jiwa kita ?, bukannya kita dihadapan Kami-sama dan Shinigami sebelumnya ?, " kataku yang panik jika sampai kita kena hukuman bisa celaka ini, karena kita mencoba untuk lari dari dua sosok apalagi Kami-sama sosok terkuat yang ada di dunia ini.

Mugen pun masih memajang senyumannya dari tadi yang mana seolah dia sudah mengurus hal itu, "Jangan khawatir sebenarnya sejak awal kita sudah lepas dari mereka akan tetapi hanya bagian dirimu saja yang masih tinggal. Sedangkan aku sudah terbawa dengan Hokage ketiga itu. Aku bisa memanggil separuh dirimu yang tertinggal dikarenakan kita berasal dari satu tubuh, jika salah satu dari kita terpanggil maka kita bisa menyatu dan utuh menjadi satu. Jiwa kita fleksibel jadi kita bisa pada dua tempat yang berbeda dengan dua tubuh. Akan tetapi kita tidak bisa terpisah. Untuk bagaimana kita bisa lolos dari kedua sosok itu. Aku sudah merekayasanya seperti kita lenyap dan pergi ke dalam Shinigami yang terjadi adalah jiwamu menyusut dan perlahan sedikit demi sedikit kembali ke tempatku memanggil. Di dalam Shinigami juga kan para jiwa dibersihkan sehingga mereka semakin lama semakin hilang dan pergi dari dunia kehidupan, " penjelasan dari Mugen.

Aku pun ingin bertanya sejak kapan dia melakukan itu, lalu terdengar suara dari dalam kepalaku, "Disaat kau datang kedunia inilah sesuatu sedang masuk kedalam dirimu, walaupun sedikit berwarna biru ada dalam inti tubuhmu. Aku pun menjamah dan berinteraksi dengan chakra energi yang ada di dunia ini bersemayam pada tubuhmu. Lalu semenjak kau memanifestasikan tubuh, aku sudah mencoba mengumpulkan energi dalam dirimu dengan menyedot dan mengkonversi chakra dengan energiku yaitu emosi yang kau kumpulkan. Oh ya dan aku bisa berkomunikasi denganmu lewat telepati juga, hehehe, bagaimana ? Cukup bermanfaat bukan ?, dan kau tidak harus berbicara dengan mulutmu karena nanti malah dianggap kau tidak waras, "

"Relaks, Ash. Aku sudah menangani banyak hal kau tidak usah risau. Ayo Ash, aku sudah menemukan tubuh yang cocok. Dan tubuh ini tidak ada bedanya dengan kita, " Dia pun menarikku untuk mengikutinya. Kami pun sampai ke tempat asalnya untuk melihat seperti apa anak yang ia temukan. Di ruangannya hanya terdapat sebuah layar lebar dengan anak yang ia temukan terpampang dilayar besar itu. Disana aku melihatnya, ternyata Mugen menemukan bayi yang bersama dengan Naruto kecil dalam satu ruangan penuh dengan beberapa tempat bayi. Bayi yang dipilih oleh Mugen memiliki rambut hitam kecoklatan, tubuhnya normal tidak terlalu gemuk dari yang kulihat. Dan ada tulisan didepan keranjangnya "Masaki Kunio"

Disana juga terdapat Hokage ketiga dengan beberapa ninja elite yang berpakaian dengan rompi abu – abu dengan kaos hitam didalamnya. Mereka memakai celana panjang hitam dengan pelindung tangan dari besi serta pedang pendek yang bernama Pedang Tanto di belakang mereka, tidak lupa mereka semua memakai masker binatang yang menutupi seluruh wajahnya. Ninja - ninja elite ini adalah pasukan anbu yang langsung dikepalai oleh Hokage dan hanya bergerak atas perintah hokage saja. Mereka juga yang menjaga hokage setiap saat dan tidak terlihat oleh pandangan saat berjaga.

"Aku perlu ruangan khusus untuk satu bayi yang aku bawa ini, " ucap Hokage kepada staff panti asuhan disana.

"Baik hokage kami akan siapkan tempatnya kepada bayi yang hokage bawa, " jawab salah satu staff.

Disana terlihat aktivitas penuh dengan banyaknya orang. Dan sepertinya kita melihat bagaimana Hokage ketiga itu berinteraksi dengan mereka. Dan mengatakan kepada staff khusus yang ada tentang bijuu yang lepas tadi. Dan terlihat bahwa mereka tidak menyukai apa yang mereka dengar. Aku dan Mugen Saling menoleh, "Kita harus menjaganya juga, Mugen. Akan tetapi kita tidak boleh berbohong terhadap dirinya jika dia ingin tahu tentang dirinya, " tuturku dengan wajah merengut terhadap pembicaraan dibalik staff khusus itu sesaat setelah Hiruzen Sarutobi pergi.

"Kakak, aku baru sadar. Jika salah satu dari kita bisa keluar dari tubuh. Apakah kita juga bisa merasuki orang - orang, Kak ?, " tanyaku sambil masih tetap memandang Naruto Uzumaki, dengan rasa campur aduk.

"Tidak ada angin, tidak ada hujan, kenapa kau memanggilku Kakak sekarang ?. Ya benar berkatku kita bisa merasuki orang. Akan tetapi untuk sekarang hanya aku yang kuat untuk melakukannya kau masih belum siap, " ujarnya kepadaku dengan tatapan heran perihal panggilan yang aku berikan.

"Kita berasal dari satu tubuh, sehingga jiwa kita tidak bisa dipisahkan secara permanen. Aku memanggilmu kakak dikarenakan otomatis kita adalah keluarga. Dan aku sungguh mempercayaimu seperti aku mempercayaiku diriku seutuhnya. Dengan kamu yang lebih dewasa maka dari itu aku memanggilku, Kakak, " gumamku dengan pelan, dan berharap Mugen tidak menolaknya.

Mugen menatapku yang sedang menutup kepalaku dengan kedua kakiku yang kutekuk sampai pundakku, "Baiklah jika itu maumu Ash, berarti kau adalah Adikku, " . Akupun yang mendengar itu senang dan memeluknya. Sebenarnya aku dari dulu menginginkan saudara kandung laki – laki. Dan akhirnya terwujud.

Kakakku tersenyum dan memelukku kembali. Tiba – tiba kita berdua serasa ditarik sempat ruangan menghitam sejenak lalu terang lagi dengan tempat yang berbeda. Kita pun melepaskan pelukannya dan melihat gerbang emas besar sekali dengan semacam kertas yang ada pada lubang kunci yang terlihat membekas didepan kita.

Kami pun mendekati tempat itu tapi sebelum sampai kedepan sana Kakakku mendorong kita berdua jatuh, dikarenakan cakar putih yang hampir mengenaiku berada seinci dari kedua kakiku.

"KALIAN BERDUA SIAPA !? JAWAB !, DAN BAGAIMANA KALIAN BISA MASUK KEMARI ?!, " terdengar suara yang menggema keras kepada kita.

Sosok yang mengucapkan itu pun terlihat menjulang tinggi dari atas seekor rubah dengan corak garis hitam dari mata hingga telinganya. Dengan mata merah dan pupil kucing. Tidak salah lagi dia adalah Kyuubi, rubah ekor sembilan. Yang telah disegel tadi oleh hokage keempat.

"Kita adalah jiwa yang sengaja mengikuti Naruto kecil, " ungkapku.

"Kalau begitu robek segel ini agar aku bisa bebas dari kurungan ini !, " perintahnya yang semena – mena.

"Kami tidak akan merobek segelnya dikarenakan ada penjaga yang membuatnya tidak diperbolehkan untuk dilepas. Kau tahu kan maksudku. Tidak mungkin sebuah segel yang mengurungmu semudah merobek saja tanpa ada pengamannya dari jamahan manusia lain. Dan untuk bagaimana kami bisa masuk kedalam sini sepertinya kau atau tubuh Naruto sendiri yang mencoba untuk mengumpulkan energi, " ujar Mugen dengan tatapan tajam kepada Kyuubi.

"Oh aku paham, pasti si Namikaze, yang memberikannya. Untuk perihal energi, Naruto tidak memerlukannya apalagi aku. Kemungkinan segel itu yang mencoba mengisi sendiri dengan chakra akan tetapi tubuh Naruto kurang chakra jadi dia mencari disekitarnya dengan volume kecil. Karena kalian terdekat sehingga segelnya mencoba menarik kalian untuk memperkuatnya, kelihatannya kalian hanya terbawa masuk saja kemari, " penjelasan dari Kyuubi.

"Sebaiknya kita kembali Kakak, dan sampai jumpa, Kyuubi-san, " ujarku sambil menatap kakakku. "Jangan berfikir kalau ini hanya sebuah kurungan saja, Kyuubi-san. Mencobalah untuk membuat hubungan dengannya. Dan juga kau cukup tua nenek, hahaha. Oh mungkin kau akan suka dengan Naruto, hanya dialah yang bisa dekat denganmu kau tahu. Semoga kau mau membantunya dan tidak memanipulasinya Kyuubi-san, " pesan dari kakakku dan kami pun kembali bersama pada tubuh asal kami.

"Dia mengetahui jenis kelaminku. Sungguh tidak bisa dipercaya. Jika anak ini memang menarik, maka aku akan mencoba mendekatinya. Setelah aku bisa berkomunikasi dengannya. Dan dari yang disampaikan sosok kakak tadi, sepertinya hidup anak ini akan berat, aku berasumsi begitu, " rubah ekor sembilan itu masuk kedalam dan beristirahat.

Aku dan Kakakku lalu mendiskusikan apa yang akan kita lakukan untuk kedepannya. Dengan aku yang latihan dan membesarkan pasokan chakraku dalam tubuh dengan menimpanya dengan chakra milik kakak sehingga mau tidak mau inti chakraku akan melebar dan kapasitasnya naik. Kami juga membahas bagaimana untuk memadatkan chakraku. Karena aku sudah tahu basisnya untuk mengontrol chakra yaitu dengan memusatkan satu titik dengan daun pada tubuh, memanjat pohon, menyebrang air, membuat kubah chakra yang dialiri oleh air deras, memanjat air terjun, berdiri diatas senbon. Senbon adalah jarum yang lancip kedua sisinya, biasanya digunakan untuk akupuntur oleh medis. Kami juga mendiskusikan untuk mengumpulkan buku - buku mengenai chakra dan elemen, terlebih lagi jutsu – jutsu yang bisa diraih oleh kita. Kami sempat menyinggung teknik ninja medis dan master segel, akan tetapi kedua hal itu membutuhkan kontrol chakra yang hebat, dan keluwesan dalam menarik garis untuk segel, karena jika sedikit saja bentuknya berbeda maka fungsi segelnya akan berubah atau bahkan rusak sampai - sampai membuat kerusakan lingkungan, akhirnya kami memutuskan untuk menunda tentang hal itu dan fokus kepada peningkatan, pemadatan, dan kontrol chakra untukku. Tentu saja bukan hanya aku saja yang melakukannya kakaku juga demikian agar dia semakin kuat.

Kami juga akan memburu ninja - ninja yang pengetahuan dan skillnya bisa digunakan untuk kita sendiri, kita juga menargetkannya harus berhati – hati. Kami perlu ninjutsu, varietas jutsu atau teknik olah chakra dan / tanpa elemen. Taijutsu, yaitu Kata atau beladiri dengan tangan kosong. Genjutsu, olah ilusi dengan mengacaukan aliran chakra atau pikiran target yang seolah – olah yang ada didepannya itu nyata. Dan Kenjutsu, beladiri pedang. Semua itu bertahap dan tidak sebentar.

Setelah ditentukan, latihan kami dimulai.