Kehilangan adalah upacara menyambut hari-hari penuh rindu. Tidak pernah sedetikpun Chanyeol tidak merindukan sosok yang sangat ia cintai. Menyesali kebodohan di masa lalu tidak ada gunanya sekarang. Jika tidak hari ini ia memperbaikinya, maka selamanya orang itu tidak akan pernah kembali.
Setiap detik menjadi sangat berharga bagi Chanyeol. Meski hanya sekedar datang untuk bermain dengan si kembar Kai dan Sehun buah hasil bercintanya dengan mantan suaminya sebelum akhirnya bercerai tiga tahun yang lalu. Chanyeol senang karena ia juga bisa bertemu dengan sosok yang ia rindukan meski pada kenyataannya mantan suaminya itu tidak berniat rujuk kembali dengannya.
"Papaaaaaa," Teriakan yang sangat melengking, disusul kemunculan seorang anak berhidung mungil dengan rambut seperti habis kesetrum.
"Papa, sehun mengompol lagi," Keluhnya sembari mengucek mata yang masih setengah sadar.
Baekhyun menghentikan aktifitas dapurnya dan berjongkok untuk menyamakan tinggi dengan anaknya.
"Lagi? Baiklah nanti papa yang akan urus Sehun. Sekarang Kai mandi duluan, sebentar lagi daddy datang untuk antar kalian ke sekolah," Ucapnya lembut sembari merapikan rambut anaknya yang sedikit berantakan.
"Daddy akan datang?" Tanyanya begitu antusias.
Baekhyun menggangguk sembari tersenyum, "Ayo cepat mandi, papa akan siapkan sarapan dan urus sehun dulu,"
Kai menggangguk patuh dan berlari mengambil handuk di dekat sofa kemudian masuk kedalam kamar mandi. Kai memang lebih mandiri dan mudah diatur karena dia kakak, berbanding terbalik dengan Sehun yang manja dan masih sering mengompol seperti bayi besar. Terkadang sulit bagi Baekhyun untuk mengurus keduanya sendirian, belum lagi ia harus mengurus toko bunga yang baru saja ia buka setahun yang lalu untuk menyokong kehidupan mereka bertiga.
Chanyeol memang sering mengirim uang, tapi itu hanya untuk keperluan si kembar dan Baekhyun tidak pernah mengambil sedikitpun untuk keperluannya. Awalnya ia menolak keras tapi luluh juga setelah lebih dari dua puluh kali Chanyeol memohon untuk menerima uang tunjangan dengan syarat hanya untuk anaknya bukan dirinya.
Sehun berpura-pura tidur kembali saat menyadari Baekhyun masuk kedalam kamar. Ia bahkan tidak beranjak dan tetap terbaring di kasurnya yang basah. Baekhyun duduk di samping ranjang, mengusap pucuk kepala anak bungsunya itu, tangannya turun meraba bagian yang akan membuat anaknya bangun.
"Ahhhhh Papaaaa geliii, papa curang," katanya sembari cekikikan menahan geli akibat Baekhyun menggelitik perutnya.
Sehun langsung bangun dan memeluk Baekhyun, hampir membuatnya terjengkang kebelakang. Dengan lembut Baekhyun membalas pelukan putranya.
"Sehun kan sudah besar, kenapa masih ngompol di celana?hm?," Baekhyun melepas pelukannya, mengusap lembut pucuk kepala putranya sembari tersenyum lembut.
"Papa marah ya, Sehun kan masih kecil," Ia tertunduk lesu, Baekhyun menunduk miring melihat wajah murung Sehun, "Bagaimana bisa papa marah sama anak yang menggemaskan ini," kekehnya lalu mencubit hidung mini Sehun gemas.
"Ayo bangun dan cepat mandi. Kakakmu sedang mandi sekarang," Baekhyun beranjak dari tempat duduknya, mengambil beberapa cucian kotor. Sementara Sehun langsung berlari keluar kamar dengan celana basahnya untuk bergabung dengan Kai bermain mandi busa.
Baekhyun sedikit lega karena Kai bisa mengambil alih tugasnya memandikan Sehun. Sambil menunggu kedua buah hatinya ia menyiapkan sarapan, dua potong sandwitch dan segelas susu coklat untuk Sehun karena Kai alergi dengan susu jadi tidak meminumnya.
ting
Baekhyun berjalan menuju pintu dengan masih menggunakan pakaian tidurnya. Seperti dugaannya yang datang adalah mantan suaminya, Chanyeol.
"Selamat pagi," sapanya sembari tersenyum hangat.
"Pagi, masuklah. Anak-anak sedang mandi," Katanya, masih sama, nada bicaranya tidak lembut tapi juga tidak kasar.
"Daddyyyyy" itu suara Sehun yang berlari tanpa sehelai kain menuju Chanyeol yang baru saja melepas sepatunya. Di belakangnya ada Kai yang juga berlari dengan handuk dan air yang masih menetes ikut berlari kecil.
Dengan senang hati Chanyeol menggendong tubuh kedua putranya itu dan menciuminya tidak peduli pada bajunya yang sudah basah.
"Daddy, Sehun kangen," Sehun mem-pout bibir mungilnya sehingga membuat Chanyeol terkekeh gemas.
"Kai juga kangen sama Daddy," Selanya tidak mau kalah.
"Daddy juga kangen banget sama dua jagoan Daddy. Makanya sekarang Daddy yang antar kalian ke sekolah,"
Baekhyun hanya tersenyum saja melihat percakapan orang dewasa dan dua kurcaci itu. Rasanya sudah lama ia tidak melihat pemandangan indah seperti ini. Terlebih karena Chanyeol tugas keluar kota selama setahun dan anak-anak tidak bisa bertemu dengannya.
"Pakai baju dulu atau kalian akan masuk angin," tegur Baekhyun,
"Daddy turunkan aku, nanti papa akan marah jika ucapannya tidak dituruti," Bisik Kai, tentu saja masih bisa Baekhyun dengar. Chanyeol tertawa dan menuruti saja apa kata putranya.
Kai berlari masuk kedalam kamar dengan handuk yang mulai melonggar. Memang anak yang mandiri dan patuh.
"Sini, aku akan mendandani sehun dulu. Kau bisa membuat kopi selagi menunggu," Baekhyun mengambil alih Sehun dari gendongan Chanyeol.
Chanyeol melihat-lihat sekeliling rumah yang di dominasi warna kuning dan putih, persis dengan warna kesukaan Baekhyun. Ia memandangi satu per satu foto kedua putranya dengan tatapan penuh haru. Ia menyesal karena kehilangan momen-momen berharga saat Kai dan Sehun tumbuh hingga menjadi aktif seperti sekarang. Kenangan ketika pertama kali ia menggendong tubuh kecil kedua jagoannya, hari disaat mereka terlahir, masih tersimpan rapi dalam ingatannya.
"Andai saja, andai aku tidak melakukan kebodohan itu mungkin sekarang kita menjadi keluarga yang bahagia. mungkin tidak harus ada luka yang kita sembunyikan dalam hati masing-masing," monolognya dalam hati ketika melihat foto Baekhyun yang masih ia ingat kapan dan dimana foto itu diambil."Kau hanya perlu mengantar mereka saja, tidak perlu menjemput," Celetuk Baekhyun membuat Chanyeol terkejut sesaat.
"Kenapa? Aku bisa menjemput mereka setelah dari kantor," Katanya mencoba meyakinkan.
"Tidak usah, aku akan pergi belanja dan kebetulan dekat dengan sekolahnya,"
"Baiklah, jangan sungkan menelfon jika butuh bantuan," finalnya.
Tidak ada gunanya berdebat dengan mantan suaminya itu. Baekhyun masih sama keras kepalanya seperti dulu dan Chanyeol tidak ingin membuat satu kesalahan sedikit pun dengan bertengkar untuk hal kecil atau semua usahanya selama ini akan sia-sia.
Sekarang mereka sedang duduk bersama dengan Kai di pangkuan Chanyeol dan Sehun di pangkuan Baekhyun. Kedua kurcaci itu sedang sibuk melahap sandwitch, bedanya jika Kai makan dengan rapi sedangkan Sehun tidak perlu di tanya, sangat berantakan.
"Kai tidak minum susu?," Celetuk Chanyeol,
"Dia alergi susu, sama sepertimu," cicit Baekhyun tanpa melirik sedikitpun pada Chanyeol dan hanya fokus menyisir rambut Sehun.
Lagi. Chanyeol merasa kacau karena belum tahu semua tentang kedua putranya. Setelah 5 tahun berlalu baru sekarang ia tahu Kai sama seperti dirinya, alergi terhadap susu. Dia benar-benar sadar sekarang. Banyak waktu yang hilang
