Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.

Warning: oneshot, Hinata x Hinata's harem.

.

.

Hinata punya harem

by Fei Mei

.


.

Biasanya saat menjelang tahun baru, Hinata akan ikut orangtua dan adiknya untuk ke rumah kakeknya. Tetapi tahun ini ia tidak bisa ikut, karena teman-temannya ingin mengajaknya menghabiskan malam tahun baru bersama-sama. Tidak tanggung-tanggung, yang mengajak ada sekitar enam puluhan orang. Sedih karena anak pertamanya tidak bisa ikut pulang kampung, tapi Tuan dan Nyonya Hinata senang karena putra mereka bisa punya begitu banyak teman dekat dari penjuru Jepang berkat main bola voli.

Rumah kediaman Hinata bukanlah bangunan tempat tinggal yang paling luas, jelas masing sangat banyak rumah yang jauh lebih leluasa. Tetapi lokasinya itu, lho, di atas bukit, seakan tanah sekitarnya menjadi milik mereka. Karena itulah, Sawamura Daichi sebagai anak yang tampaknya paling bertanggungjawab di antara semua orang yang ingin berkumpul itu, meminta izin pada kedua orangtua Hinata agar mereka SEMUA boleh menginap disana.

.

" … kami tersanjung banget sih, kalau kalian mau kumpul disini … " ujar ibunya Hinata waktu dimintai izin. "Tapi, mana muat kalian semua masuk ke rumah?"

"Kami sudah sepakat, jika diizinkan disini, akan bawa tenda," tegas Daichi.

"Benar gapapa kalian pada di tenda?" tanya Nyonya Hinata lagi.

Daichi mengangguk. "Hanya semalam. Mereka yang tidak dari Miyagi sudah berniat sewa kamar penginapan terdekat jika terjadi sesuatu."

Tuan Hinata meremas lembut pundak istrinya, bermaksud menenangkan. "Kalau begitu, pastikan begitu kami pulang nanti, rumah kami masih dalam keadaan sebaik saat kami tinggalkan."

.

Jadilah, Hinata Shoyo bahagia saat beberapa bus terparkir di sekitar rumahnya, terutama saat teman-temannya turun dari kendaraan itu. Setiap tamu segera memasang tenda, ada juga yang menyiapkan peralatan masak outdoor serta barang-barang yang berhubungan dengan kemping. Bahkan, sebenarnya bukan hal aneh atau mengejutkan, tapi Hinata tercengang ketika orang-orang Nekoma membawa setidaknya tiga net untuk mereka main voli.

"Main voli, di puncak bukit. Kalau bolanya kejauhan, maknyus deh, nyarinya," dengus Oikawa.

"Anggep aja turnamen persahabatan," ujar Kuroo sambil menyengir lebar. "Kalau bolanya gelinding entah kemana, dijadiin lomba nyari bola—anggep aja kayak lomba cari telor, Paskah yang kecepatan!"

"Kalau lomba, ada hadiahnya, dong?" tantang Atsumu.

"Boleh!" sahut Terushima. "Yang berhasil nemuin bola yang hilang, bisa tidur bareng Hinata!"

Kenma mengangkat tangan. "Kalau gitu, aku mau ikut main."

Sakusa ikutan. "Demi menyelamatkan Hinata dari kalian yang kotor, aku akan berjuang."

Hyakuzawa tidak mau kalah. "Daripada aku makan tempat saat tidur di tenda, mending aku bareng Hinata, biar cocok—Si Tinggi dengan Si Cebol."

"Wah, kalau begitu aku termasuk Si Tinggi, dong?" sahut Lev.

"Temen-temen, Hinata itu orang Karasuno, biarlah aku sebagai 'mama'nya Karasuno untuk tidur bareng bayiku," tutur Suga.

"Aku—"

"EHEM!" Daichi berdeham keras. Sontak saja haremnya Hinata langsung terdiam. "Kita baru nyampe, baru keluarin barang juga. Belum tentu entar jadi main voli, belum tentu juga bolanya bakal hilang. Kenapa kalian udah rebutan, sih?"

Mereka yang daritadi rebutan langsung bergumam 'maaf' pelan sembari kembali mengerjakan tugas masing-masing. Disitu, Daichi agak lega karena Hinata sedang di dalam rumah untuk menunjukkan kamarnya dan kamar Natsu pada para gadis yang ikut menginap. Iya, mereka sepakat bahwa setiap kaum hawa yang ikut menginap jangan tidur dalam tenda, biar menumpang di kamar Hinata dan Natsu saja. Bahkan, orangtua Hinata mengizinkan kamar utama di rumah itu dijadikan kamar cadangan jika memang tidak muat.

Hinata sendiri sebagai tuan rumah, sudah berniat untuk ikut tidur di tenda, terserah dengan siapa. Ia sudah tanya di grup khusus untuk yang ingin ikut menginap tentang apa saja yang perlu ia siapkan, tetapi Daichi sebagai 'ayah' di grup besar itu bilang bahwa Hinata tidak perlu menyiapkan apa-apa, sebab masing-masing akan bawa kebutuhan sendiri-sendiri. Iyalah, memangnya Hinata sanggup menyiapkan daging untuk dimakan 60 orang sendiri? Masih untung Shirofuku, manager Fukurodani itu, tidak ikut—kalau gadis itu ikut, berarti butuh setidaknya lima porsi untuknya seorang.

"Bahan makanannya bakal cukup, tidak ya?" gumam Semi, sambil memasang tempat bakar sate.

"Yang paling penting itu untuk entar malem sama sarapan besok pagi, kan?" konfirmasi Komori.

Kapten Inarizaki mengangguk. "Untuk makan siang harus hemat."

"Atau mau pesan pizza aja siang ini?" usul Ennoshita.

"Boleh juga, tapi kalau memang masakannya kurang saja," jawab Akaashi.

Semi masih belum begitu puas. "Tapi, seriusan. Kalau sudah dihemat dan ternyata malam ini kurang, bagaimana? Susah lho, bolak-balik darisini ke minimarket malem-malem. Pesen online aja mungkin mereka kesulitan untuk bisa sampai sini."

"HOOO AKU TAHU JAWABANNYA!" seru Bokuto. Akaashi kaget bukan main mendengar suara keras itu. "CARI MAKANAN DI SEKITAR SINI!"

"OOOH IDE BAGUS!" timpal Nishinoya. "SIAPA TAHU NEMU BABI HUTAN!"

"Erm, bukankah itu bahaya—"

"TERUS YANG DAPET BAHAN MAKANAN PALING MAKNYUS DAPET HADIAH JUGA!" usul Yamamoto, memotong perkataan Kita.

"HADIAHNYA TIDUR BARENG SI NOMOR SEPULUH DARI KARASUNO!" Tendo tidak mau kalah.

Daichi menepuk dahi keras-keras. Kenapa mereka malah rebutan untuk tidur bareng Hinata lagi!?

Enggak, Daichi sudah malas berdeham untuk menghentikan teriakan tak bermoral itu lagi. Untungnya kediaman Hinata ini tidak punya tetangga di sekitarnya. Mereka mau teriak kayak apa juga, mungkin tidak bakal mengganggu warga terutama saat masih terang begini. Jadi, biar saja haremnya Hinata gelud sendiri.

.


.

Walau orang-orang Nekoma membawa tiga net serta sangat banyak bola voli, tetap saja tidak semua bisa main secara bersamaan. Satu tim terdiri dari paling banyak tujuh orang sudah termasuk Libero, kalau dikali enam masih 42 orang. Sekitar hampir 20 orang sisanya harus rela mengantri sambil main kartu yang dibawa orang Fukurodani atau pinjam PSP dari orang Seijo—Tendo merasa miris karena tidak ada yang berniat meminjam manga yang dibawanya.

Biar seru, Kuroo memutuskan agar masing-masing tim diacak, biar bukan seperti pertandingan antar sekolah. Lagian, kalau mau antar sekolah, kasihan banget yang teman satu timnya tidak ada yang hadir alias jomblo—eh maksudnya sendirian seperti Hyakuzawa, Terushima, dan Daisho. Izumi dan Koji yang adalah teman SMP Hinata, memutuskan untuk tidak ikut main voli—iyalah, gak kuat, gak kuat, gak kuat. Para gadis pun lebih tertarik untuk main kartu remi, dan baru mau main voli kalau para cowok pada sudahan. Lagian, para gadis yang hampir semuanya adalah manager tim tertentu itu, datang kesana bukan sebagai manager, jadi mereka tidak usah repot mengurus para bocah dari masing-masing tim.

Lalu, bagaimana pembagian tim untuk main volinya? Mungkin karena memang sudah direncanakan matang-matang sebelum tiba di rumah Hinata, Kuroo telah menyiapkan banyak potongan kertas yang bertuliskan angka satu sampai enam. Dan mungkin untuk iseng juga, selain menulis nomor, Kuroo menyisipkan 6 potongan kertas tak bernomor.

"Hm?" Yaku bingung begitu melihat isi kertas yang dipilihnya. "Kok ini angka nol?"

Kuroo menghampiri Orang-yang-sedang-Beruntung itu. "Ah, ini bukan angka nol. Coba dilihat baik-baik itu apa."

Yaku memicingkan mata, memerhatikan lebih saksama apa yang ada di kertas itu. Ada lingkaran lalu di sekitarnya ada garis-garis—" ...—Ini gambar matahari, maksudnya?"

"Bingo!" sahut Kuroo. "Jadi yang dapet gambar matahari, itu berarti masuk ke tim Hinata."

Sontak saja para mata para peserta langsung terbelalak. Pengambilan kertas pembagian tim itu jadi bagaikan perang di sesi diskon. Daichi menghela, pantas saja tadi Kuroo melarang Hinata untuk mengambil kertas.

"Ap—Tsukishima dapet gambar matahari? Tuker sama aku, dong!" pinta Hoshiumi.

"Memangnya kamu dapet nomor berapa?" tanya Tsukishima.

"Empat!" jawab Hoshiumi.

Si Kacamata meneguk ludah susah payah. Seingatnya tadi yang sudah dapat nomor empat itu di antaranya ada Tanaka, Bokuto, dan Lev. "Ogah. Lagian di tim Hinata sudah ada dua orang cebol, gak perlu nambah satu lagi."

Yaku, yang merupakan orang beruntung pertama untuk masuk tim Hinata, langsung mengambil golok untuk diasah. Untungnya sebelum benar-benar mengasah, benda itu sudah dirampas Osamu.

Daichi menepuk bangga pundak Middle Blocker-nya. "Akhirnya kamu mau kerjasama dengan Hinata!"

"Enggak gitu—"

"—Enggak usah tsundere, semua tahu kamu demen Hinata, kok," tegas Daichi sambil tersenyum. Tsukishima mingkem.

"—TOBIO-CHAN JANGAN RAMPAS KERTAS MATAHARIKUUU!" teriak Oikawa sambil berlari mengejar mantan adik kelasnya.

Di sisi lain, Suna dengan resehnya melaporkan bahwa Kenma dan Ushijima berbuat curang dengan membuat potongan kertas baru dan menggambar bentuk matahari disana. Kuroo geleng-geleng melihatnya—kalau Kenma itu tidak membuatnya heran, tapi Ushijima pasti hanya ikutan Setter-nya Nekoma.

"Ehem, omong-omong, kalau nanti bolanya hilang, cari sama-sama ya!" sahut Kuroo. Dalam hati, Kapten Nekoma itu deg-degan juga, karena bola-bola yang ia bawa itu memang dari sekolahnya.

"Yang berhasil nemu paling banyak, boleh tidur bareng Hinata, kan?" tanya Koganegawa, memastikan.

"E-eh? Sama aku?" Hinata kaget. Ah, iya, saat perang pertama pecah, Hinata ada di dalam rumah, jadi tidak tahu apa-apa.

Kuroo langsung mendengus. "Terserah. Tapi jangan disengajain, ya, hilangnya! Entar orang yang menyebabkan bola kita hilang, dapet hukuman!"

Harem Hinata langsung was-was. Beberapa orang bertanya bersamaan, "Apa hukumannya?"

Sebenarnya, karena tidak merencanakan bagian itu, Kuroo bingung juga. Ia hanya tidak ingin mereka sengaja menghilangkan bola hanya demi lomba untuk menentukan siapa yang paling boleh tidur bareng tuan rumah.

Daichi pun menyelamatkan rekan sesama kapten itu. "Hukumannya adalah … tidak boleh berbicara atau mengirim pesan pada Hinata lebih dari dua kata dalam satu jam selama seminggu!"

DUARRR. Bom internal dalam hati harem-nya Hinata meledak.

.


.

Berkat usul hukuman dari Daichi, para pengurus konsumsi seperti Semi, Akaashi, dan Kita menerapkan hal yang sama bagi peserta yang makan berlebihan—yang berpotensi pada kurangnya bahan makanan sehingga muncul lomba mencari bahan makanan. Ancaman dari kapten Karasuno itu begitu efektif, karena orang-orang seperti Nishinoya, Tanaka, dan Bokuto jadi hanya mengambil makanan sesuai kapasitas perut dan bukan keinginan hati.

Masalahnya, habis jam makan siang, para penggila bola voli ini kembali bertanding lagi. Dengan kata lain, mereka akan cepat lapar lagi. Kalau sudah seperti ini, tampaknya benar harus ada yang pergi untuk beli bahan makanan demi kegiatan bakar-bakaran pada jam terakhir tahun ini.

"Hmmm, bagaimana kalau aku saja?" tawar Hinata. "Kalau pakai sepeda, aku tahu jalan pintasnya. Apalagi setiap hari kan, aku bolak-balik naik-turun bukit, jadi sudah biasa!"

"Entar kamu balik pasti sudah agak gelap, Hinata, gapapa, nih?" tanya Kinoshita cemas, tapi tetap tahu harus ada yang pergi beli.

Narita mengangguk setuju. "Kamu jangan sendiri, deh, kasian kamu bawa barangnya!"

"Oh, kalau begitu, bareng aku dan Koji saja!" tawar Izumi.

Koji pun mengiyakan. "Lagian, kita bertiga masing-masing bisa bawa sepeda, jadi bawa barangnya bisa lebih banyak."

Nakashima, orang Wakutani, masih agak cemas. Tapi daripada menahan Hinata lebih lama dan ujungnya kesorean untuk pergi, ia dan yang lainnya pun melepas Hinata dengan kedua teman SMPnya.

Sepeninggal si Tuan Rumah, teman-temannya masih terus bermain voli. Beberapa yang memang sudah lelah, memutuskan untuk istirahat. Bahkan beberapa seperti Tsukishima, Kunimi, dan Kenma yang sudah malas berolahraga malah sudah mandi duluan. Mungkin sekitar tiga jam kemudian, Tanaka menyuarakan rencana gilanya:

"GELEDAH KAMAR HINATA!"

"HOOO IKUT! IKUT!"

"AKU JUGA!"

"AKU PENGEN TAHU DIA NYIMPEN FOTOKU APA ENGGAK!"

"GAK MUNGKIN, ADANYA PASTI FOTOKU!"

Sabar, sabar, tarik nafas, hembuskan, tarik lagi—"KALIAN SEMUA DIEM!" Yak, bom Daichi meledak lagi.

"M—maaf, Daichi-san, aku cuman becanda …" kata Tanaka dengan takut sambil duduk bersimpuh.

Daichi melipat tangan depan dadanya. "Bercanda atau tidak, menggeledah kamar orang yang sedang tidak ditempat, tanpa izin pula, bukan hal yang baik dan itu melanggar hukum."

Iwaizumi mengangguk. "Lagian, saat ini di kamar Hinata ada barang para gadis juga, kan? Bahaya kalau yang kalian buka ternyata malah tas mereka."

"—anu!"

Haremnya Hinata menoleh ke asal suara. Kedua manager Karasuno ditambah beberapa gadis lainnya keluar dari rumah dengan wajah pucat.

"Ap—ada apa?" tanya Daichi. Dalam hati agak tegang juga, karena perempuan-perempuan itu mengeluarkan ekspresi yang kompak.

Dengan gugup, Yachi menyodorkan sesuatu berbentuk lonjong kecil pada kaptennya. "I—ini! Aku gak sengaja nemu ini d-di kotak sampah kamar Hinata!"

Daichi menyerngit. Ia kaget saat menyadari benda apa yang ada di tangan managernya, lalu menyambarnya begitu saja. "I—ini, kan—"

"Apaan, tuh?" tanya Kindaichi.

"Apaan, sih?" Futakuchi tidak mau kalah.

"Mampus—itu kan, test pack!?" sahut Konoha kaget.

"TEST PACK!?"

"KENAPA DI KAMAR HINATA!?"

"POSITIF APA NEGATIF?"

"MAKNYUS, POSITIF!"

"HINATA HAMIL!?"

"SAMA SIAPA!?"

"PASTI KERJAAN KAGEYAMA!"

"BUKAN AKU!"

"AONE! PASTI KERJAAN AONE!"

" …"

"Erm, bukan Aone, deh, sori, KUROO! PASTI KUROO!"

"LAH KENAPA GUA!?"

"SERIUSAN INI HINATA DIHAMILIN SIAPA!?"

"KALAU GAK ADA YANG MAU NGAKU, AKU AJA YANG TANGGUNGJAWAB NIKAHIN DIA!"

"YEEE GAK BOLEH!"

"HINATA MILIKKU!"

"AKU!"

"HINATA—"

"—ya?"

Hening, semua terdiam. Suara manis dari Matahari mereka terdengar. Dengan gugup mereka menoleh, melihat si Tuan Rumah dengan kedua temannya telah kembali dari belanja.

"Daritadi samar-samar aku kayak denger kalian manggil aku, ada apa?" tanya Hinata polos.

"HINATA—"

Akaashi langsung membekap mulut Bokuto, dibantu oleh Suga, Yaku, dan Matsukawa. Sebagai gantinya, Daichi dengan segera menghampiri adik kelasnya, memperlihatkan apa yang ditemukan Yachi.

"Hinata, penjelasan, tolong," pinta Daichi.

Yang ditanya langsung menyerngit. Ia langsung salah tingkah saat sadar apa yang ada di tangan kaptennya. "K-kok—ini siapa yang nemuin?"

"Kenapa ini bisa di kamarmu?" tanya Daichi lagi.

"A-aku bisa jelasin, sungguh!"

Daichi mengangguk.

"Seriusan, Daichi-san tenang dulu, ini bukan seperti yang kamu pikirkan!"

"Hinata, daritadi aku tenang, lho, kita semua juga lagi tungguin penjelasan kamu," balas Daichi.

Jadi Hinata menghela nafas pelan, dengan gugup pun ia menjawab. "Erm, aku lupa buang keluar, jadi masih di tempat sampah kamarku ..."

"Ini berarti positif, kan, ya?"

Hinata mengangguk.

"Siapa ayahnya?"

Si Matahari menatap bingung Daichi. "Yang jadi ayah, ya papaku, lah."

Dia dicabulin bapaknya!?

"Papamu—"

"Loh, memang aku belum bilang apa-apa, ya?" tanya Hinata polos.

"Bilang apa?"

Hinata tersenyum cerah."Aku bakal punya adek lagi, lho!"

" … adek?"

"Iya! Mamaku hamil, baru tahu kemarin siang!"

" … mama?"

Kageyama langsung menghampiri rekannya. "Jadi ini bukan test pack kamu?"

Hinata menyerngit. "Ya bukan, lah. Itu punya mamaku! Tadinya sampah-sampah dari kamar orangtuaku dan kamar Natsu kukumpulin jadi satu di kamarku, maksudnya bisa aku inget buang keluar bareng sampah kita saat kalian nginep ini."

" … "

" … "

"OALAAAHH BIKIN KAGET!"

"Eh? Kalian kenapa?" Hinata bingung.

Daichi menghela. "Mereka pikir ini punyamu, mereka pikir kamu hamil." Sebenarnya aku juga, tapi biarin, deh.

Hinata memiringkan kepalanya dengan imut. "Aku kan, cowok, mana bisa hamil, kan?"

OH IYA!

Tunggu, tunggu, berarti kalau kita 'ituin' Hinata berkali-kali, gak masalah, dong?

Elah, mesum banget kalian!

.


.

Selesai

.


.

A/N: ASTAGA GAK NYANGKA NEMBUS 2K WORDS! Ini jauh lebih panjang dari rencana Fei, karena awalnya cuman mau ngetik bagian test packnya aja, jadi kirain gak bakal lebih dari 500 words. Eeeh, ternyata, haremnya Hinata pakai acara perang berkali-kali dulu, wkwkwk. Harusnya yang beginian baru diunggah akhir tahun ya, tapi biarin deh, moga aja akhir tahun dapet ide lain. Terus itu tahu deh, tanah kosong di sekitar bangunan rumah Hinata seberapa luas sampai muat berapa bus, wkwkwk /udahcukupfei

Review?