Saat Miyuki membuka matanya yang dia lihat hanyalah langit-langit khas rumah sakit dengan gorden putihnya, membatasi areanya dengan kasur lain. Cairan infus yang entah kenapa membuatnya mengantuk itu tinggal setengah botol, padahal sebelum ke rumah sakit Miyuki punya masalah tidur. Bukan karena dia memiliki insomnia, tetapi sesuatu selalu membuatnya terus terbangun. Membuatnya merasakan betapa lamanya waktu berjalan.
Di sisi kirinya duduk Sawamura yang berkutat dengan gawai pintarnya. Tidak menyadari Miyuki yang sudah terbangun.
Tangan kiri Miyuki yang dibalut gelang kertas identitas kalau dirinya pasien meraih tangan Sawamura, menggenggamnya lemas.
"Senpai? Sudah bangun?" kaget Sawamura, dia menaruh gawainya di atas nakas yang sudah penuh oleh tremos, gelas plastik, tisu, kacamata, juga vas berisi bunga mawar putih.
Miyuki tersenyum, "Sudah berapa lama kau di sini? Ini jam berapa?"
"Sudah dari jam setengah tujuh dong. Aku sengaja datang pagi-pagi untuk menemanimu, Miyuki-senpai."
"Ohh, ayahku ke mana?"
"Cari sarapan." Jawab Sawamura singkat, dia juga menggenggam tangan kiri Miyuki dengan kedua tangannya. Menangkupnya hangat seakan mengatakan kalau ada dirinya yang menemani, "Hari ini harinya ya senpai dioperasi."
Helaan napas kecil terdengar, "Ya, setelah sekian lama aku harus bertahan dan tidak menyadari hidup berdampingan dengan penyakit ini. Akhirnya aku bisa bebas juga."
"Kata ayah senpai besar ya tumornya."
"Entahlah. Aku tidak melihat hasil ronsen juga tidak begitu mendengar apa kata dokter. Walau aku lihat juga aku tidak paham."
Genggaman tangan itu menguat, seperti meremas tangan Miyuki, "Pasti operasinya berhasil kan?"
"Sudah pasti lah. Kenapa? Kau takut?" tanya Miyuki tersenyum mengejek.
Sawamura mengangguk, dan itu membuat Miyuki terkejut, "Iya, aku takut." Jawab Sawamura menunduk, "Aku takut senpai pergi. Aku takut senpai tidak bisa bermain baseball lagi. Lebih lagi, aku takut senpai tidak bisa menerima lemparanku lagi."
Kerlip keemasan itu mulai menitikkan air mata. Hati cengeng Sawamura Eijun menangis nyata pada sosok Miyuki Kazuya yang terbaring lemas itu. Kesedihan itu nyata dan Miyuki menangkap jelas.
"Aku tidak mau kehilangan orang yang aku cintai..."
Tertegun, waktu membeku dalam sekian detik, "Sawamura..."
Sawamura menempelkan punggung tangan kiri Miyuki pada keningnya, "Aku ingin senpai tetap hidup, berumur panjang, sehat selalu, dan kita bisa memenangkan NPB. Terus saat memasuki masa pensiun, aku akan mengajak senpai tinggal di Nagano. Kita bisa bersama mengurus perkebunan. Hidup bersama dengan damai sampai hari tua di sana. Aku sangat ingin itu. Jadi, kumohon jangan mendadak sakit dan membuatku sangat khawatir."
"Sawamura, angkat kepalamu." Perintah Miyuki.
Sawamura pun menurut. Dan yang dilihat adalah senyum lembut dari Miyuki Kazuya yang sangat langka untuk dilihat.
"Aku pasti sembuh. Aku pasti kembali bermain baseball. Prosesnya penyembuhannya mungkin akan agak lama, tapi jika kau bersabar semua mimpi bodohmu itu pasti akan terwujud."
"Jangan sebut itu mimpi bodoh!" geram Sawamura.
"Kalau kau yang mengatakannya jadi mimpi bodoh, Bakamura."
"Grrr, kembalikan air mataku yang tadi."
"Kau yang menangis kok aku yang disuruh bayar."
Menghela napasnya meredam rasa kesalnya, Sawamura pun melepas genggam tangannya. Dia mengusap air matanya sejenak lalu merogoh saku kirinya mengeluarkan sesuatu.
"Senpai."
"Apa?"
Sawamura membuat Miyuki menggenggam sesuatu yang kecil, hasil pemberian Sawamura.
Terheran, Miyuki menarik tangannya dan melihat apa yang Sawamura berikan. Alisnya mengerut heran ketika mendapati apa itu, "Jimat?"
"Aku pulang sebentar kemarin ke Nagano untuk berkunjung ke kuil. Berdoa pada dewa untuk kesembuhan senpai juga membelikan jimat ini. Jimat ini juga sudah diberkati oleh biksu di sana, jadi aku yakin kalau senpai membawa jimat ini ke ruang operasi pasti operasinya akan lancar selancar mungkin. Juga, itu hadiah ulang tahunku untukmu, senpai. Hari ini kan hari ulang tahunmu."
Sebelah alis Miyuki terangkat, "Benarkah? Aku lupa kalau hari ini aku ulang tahun. Aku tidak melihat kalender."
"Kapan operasi ingat, ulang tahun sendiri tidak ingat. Hebat ya Miyuki Kazuya ini."
"Oi."
Miyuki menatap lama jimat itu. Sarung merahnya mengingatkannya pada Sawamura Eijun. Hadiah kecil yang dibawa oleh pasangan batterynya jauh-jauh dari Nagano ke Tokyo. Dia menggenggamnya pelan tanpa ada niat melepasnya, "Hapus air matamu, Sawamura. Aku belum mau mati."
"Ukh, padahal aku peduli padamu, senpai. Kenapa kata-katamu selalu membuatku merasa kesal sih."
"Dan kau jatuh cinta pada orang yang selalu membuatmu kesal ini. Masokis ya?"
Wajah Sawamura memerah, "Diam, aku bukan masokis!"
Miyuki tertawa kecil, dan itu seperti secercah cahaya di antara mimik pucat yang selama ini bertahan melawan rasa sakit yang luar biasa. Sawamura terpukau sejenak di sana.
Sang pitcher berdiri dari duduknya. Dia mendekati sang pujaan hati dan mencium keningnya lembut. Mebisukan Miyuki dari tawanya, membungakan hati yang semakin tersentuh.
Setelah itu Sawamura menangkup pipi tirus Miyuki dan menempelkan kening mereka. Miyuki pun membalasnya, dia hanya bisa membalas menangkup pipi empuk Sawamura dengan satu tangannya. Mata mereka saling terpejam menikmati momen yang melambat lembut ini.
"Terima kasih kadonya dan terima kasih kau sudah menemaniku sampai di sini, Sawamura." Ucap Lirih Miyuki tulus, senyumnya terpatri indah.
"Sama-sama. Dan selamat ulang tahun, senpai. Aku sangat sangat mencintaimu."
