Satu menit tersisa sebelum set ketiga dalam semifinal Turnamen Musim Semi Prefektur Miyagi antara SMA Aoba Jōsai dan SMA Karasuno dimulai. Oikawa Tōru, kapten Aoba Jōsai — atau biasa disebut Seijō, menenggak minumannya sampai habis. Ia mulai memikirkan siasat apa yang harus ia dan timnya lakukan paska kekalahan mereka di set kedua.
Matanya beredar ke sekeliling lapangan dan tribun penonton, lalu menangkap salah satu spanduk bertuliskan 'Turnamen Musim Seni Prefektur Miyagi: Voli Putra Tingkat SMA' yang dihiasi dengan bunga nasional dan kebanggaan Jepang sekaligus bunga yang menggambarkan musim semi.
Prunus serrulatal. Cherry blossoms. Sakura.
Sakura. Oikawa tersenyum samar. Mendadak tubuhnya terasa seperti dialiri energi yang entah dari mana. Semangatnya kembali memuncak. Dan ketika peluit dibunyikan, ia memasuki lapangan dengan langkah mantap.
presented to you by jenojaem00
.
To Go Through The Cherry Blossom
.
Oikawa Tōru x Haruno Sakura
Haikyuu!! cc Haruichi Furudate ㅡ Naruto cc Masashi Kishimoto
Warning: OOC, plotless, conflictless, typo(s), long description / narration.
Enjoy!
.
.
.
Kemenangan Karasuno setelah duce 26 - 24 menutup pertandingan hari ini. Walaupun tidak menyangka akan kalah dari Karasuno yang tim volinya sempat terpuruk selama beberapa tahun, Oikawa mengakui bahwa Karasuno kini sudah semakin kuat, ditambah dengan duo Kageyama Tobio (mantan adik kelasnya semasa SMP, juga salah satu setter jenius) dengan Hinata Shōyō, middle blocker bertubuh kecil yang serangannya gila-gilaan dan sangat cepat.
Wajah-wajah kecewa dan sedih tidak hanya terlihat pada dirinya dan teman satu timnya, tetapi juga pada pelatih dan pendukung mereka. Setelah mendengarkan kalimat terakhir dari pelatihnya, Oikawa menepuk pundak teman-temannya dan memberikan komando untuk memberikan hormat pada pendukung yang sudah berjuang bersama mereka sampai akhir.
"Terima kasih dukungannya!" serunya sambil membungkukkan badan memberi hormat, yang diikuti oleh rekan setimnya.
"Terima kasih dukungannya!"
Yahaba Shigeru, Watari Shinji dan Kyōtani Kentarō sudah mengambil barang mereka dan sedang memandangi tim Karasuno yang sedang merayakan kemenangan mereka di tengah lapangan. Oikawa ikut melihat pemandangan itu dengan tajam. Tangannya terkepal, lalu ia mengalihkan pandangan saat melihat Kageyama melihat ke arahnya dengan tatapan — apa? Kasihan?
Oikawa mendecih, lalu berbalik dan meninggalkan lapangan menuju ruang ganti. Ia paling tidak suka dikasihani seolah-olah ia adalah orang paling menyedihkan. Kekalahannya hari ini juga tidak berarti ia lemah dan tidak mampu, hanya saja… Oikawa berhenti berjalan. Kenapa aku bisa kalah? pikirnya.
Sebuah tepukan membuat Oikawa menoleh ke arah kanannya. Iwaizumi Hajime, sahabatnya sejak kecil yang juga merupakan wakil kapten tim voli putra Seijō, menatapnya datar.
"Ada apa?"
"Apa?" Oikawa balas bertanya. Pikirannya belum seratus persen fokus pada Iwaizumi yang berada di hadapannya.
Iwaizumi menghela napas. "Melamun di sini. Apa yang kau pikirkan?"
Oikawa langsung memasang tampang isengnya seperti biasa — ditambah dengan senyum lebar yang akan selalu membuat Iwaizumi memukul kepalanya atau meninggalkannya dengan wajah datar.
"Bagaimana kalau ternyata aku memikirkanmu, Iwa-chan?" tanyanya dengan seringaian yang semakin lebar.
Iwaizumi mendengus. "Sudahlah, kalau tidak ada apapun di dalam otakmu itu lebih baik kita bergegas ke ruang ganti."
Iwaizumi mulai berjalan, diikuti Oikawa yang berjalan di belakangnya dengan pikiran penuh. Ia kecewa atas kekalahan ini, tentu saja. Dan sudah jelas ia kesal karena pandangan Kageyama terhadapnya. Tapi tunggu dulu.
Ia kecewa, ia kesal, dan ia kira ia tidak bisa memikirkan apapun selain pembalasan dendam — di lain waktu, tentunya, karena ini adalah pertandingan terakhirnya sebelum lulus. Nyatanya ia hanya merasa kecewa dan sedikit terganggu, tapi tidak ada lagi yang dirasakannya.
Sepanjang perjalanan pulang Oikawa memikirkan hal ini. Ia bahkan tidak tertidur dan berhasil membuat Iwaizume cukup heran karena biasanya bahunya akan dibebani oleh kepala besar Oikawa. Secara harfiah.
Bus sekolah yang berisikan tim Seijō akhirnya memasuki gerbang SMA Aoba Jōsai. Terdengar sorakan dari berbagai penjuru sekolah.
"Kalian sudah berusaha! Tetap semangat!"
"Kalian keren!"
"Semangat, Seijō!"
Oikawa turun belakangan dari bus. Ia baru beranjak dari tempatnya setelah memastikan semua anggota timnya turun dan tidak ada yang tertinggal. Di luar, terlihat tim Seijō sudah sibuk bercerita dengan teman mereka masing-masing yang mendengarkan dengan antusias.
Oikawa melangkah keluar dan menutup pintu bus. Saat ia berbalik, matanya langsung menangkap sosok merah muda lembut bergerak mendekat ke arah mereka — ah tidak, ke arahnya. Oikawa tahu karena mata emerald itu menatap langsung ke mata cokelat gelapnya. Tidak ada kesedihan dan kekecewaan di wajah gadis itu, yang terlihat hanya… entahlah apa. Rambut merah muda yang diikat asal itu bergoyang seiring dengan langkah sang pemilik yang kini hanya berjarak kurang dari dua meter dari Oikawa.
"Oi, Haruno."
Haruno Sakura, wakil ketua seitokai* Aoba Jōsai itu hanya mengagguk pelan. "Kau sudah berjuang, Kapten."
"Jadi kau tidak sedih, ya, sekolah kita tidak maju ke final dan membalaskan dendam pada Shiratorizawa?"
Sakura menghela napas pelan. "Sedih, tentu saja," ia lalu menatap Oikawa tajam, matanya berkilat semangat, membuat Oikawa merasakan sesuatu yang buruk akan dilakukan atau dikatakan Sakura. "Tapi kau jadi bisa lebih fokus pada tugasmu sebagai ketua seitokai. Ya, kan? Jadi aku tidak sedih karena kekalahan kalian."
Benar, kan, dugaannya. Gadis ini selalu punya cara untuk membuatnya menderita. Oh ayolah, ketua seitokai Aoba Jōsai adalah Oikawa Tōru, dan Haruno Sakura hanyalah wakilnya, tetapi justru gadis ini yang mendominasi kekuasaan. Bahkan Oikawa merasa Sakura menganggapnya sebagai pembantu, atau lebih parah, budak.
Oikawa mendengus. "Aku berjuang mati-matian agar dapat membanggakan sekolah, tapi kau melihatnya dengan sebelah mata, ya, Haruno?"
Sakura berkacak pinggang. Walaupun kapten tim Seijō ini lebih tinggi darinya, dan pastinya lebih kuat, tapi ia tidak akan kalah dalam perdebatan ini.
Sakura maju selangkah. "Aku bukannya tidak menghargai perjuanganmu di medan perang, wahai Kapten Seijō yang terhormat," katanya penuh sarkas. "Tapi tugasmu yang paling utama di sekolah ini adalah —"
"Aku tahu," potong Oikawa malas. Ia menggantung tas berisi perlengkapan volinya ke bahu kanan. "Setelah ini aku akan jarang berlatih jadi kau bisa punya banyak waktu untuk berduaan denganku."
Oikawa melirik Sakura, dan dugaannya seratus persen benar. Wajah gadis itu merona walaupun raut kesalnya tetap tergambar jelas.
"Teruslah bermipi, dasar sok keren!" katanya lalu berbalik dan menjauhi Oikawa yang hanya terkekeh melihat partner kerja sekaligus rivalnya itu berjalan menjauh sambil menghentakkan kaki.
Detik berikutnya ia tertegun. Entah ke mana perasaan kecewa dan kesal yang tadi dirasakannya. Hatinya menghangat seiring waktunya bertemu Sakura tadi.
Apa?
Oikawa menggelengkan kepalanya kencang, lalu bergegas menuju ruang ekskul. Tidak ada waktu memikirkan yang lain. Ia harus kembali menjalankan tugasnya sebagai ketua seitokai.
Setidaknya itulah yang dipikirkannya sekarang.
Aoba Jōsai, Miyagi. Dua tahun sebelumnya.
Bel berbunyi, tanda berakhirnya ujian di hari terakhir itu. Semua murid SMA Aoba Jōsai mengumpulkan lembar jawaban mereka dengan tertib. Tak sampai lima menit, ruang-ruang kelas yang tadinya hening dan sedikit tegang dipenuhi sorak-sorai para murid yang merasa bebas akibat selama lima hari ini sudah dibuat pusing oleh soal-soal ujian akhir semester.
Sebelum mereka membereskan barang dan beranjak keluar, terdengar suara dari speaker yang ada di setiap kelas dan di beberapa area publik sekolah. Suara seorang anggota hōsōbu* perempuan mulai terdengar.
"Selamat siang, semuanya. Sebelum meninggalkan kelas, ada beberapa hal yang harus disampaikan." Pengumuman itu membuat semua murid kembali pada posisi duduk masing-masing.
"Pertama-tama, selamat karena sudah menyelesaikan ujian akhir semester," lanjutnya, yang diikuti tepuk tangan dan sorakan beberapa siswa — kebanyakan anak laki-laki yang biasa ribut di kelas. "Yang kedua, tentang pemilihan ketua seitokai. Seperti yang sudah diketahui, kandidat ketua seitokai hanya dapat diikuti oleh anak kelas satu, yang sebentar lagi akan naik ke kelas dua, tentunya. Ketua dan wakil ketua seitokai akan menjabat dalam periode satu tahun, sementara anggota seitokai dapat menjabat dua tahun apabila: terpilih, dan jabatan akhir berada di kelas tiga. Khususnya untuk kelas satu, harap memberikan satu kandidat dari tiap kelas. Terima kasih."
Kelas 1-3 dipenuhi kasak-kusuk dan saling tunjuk, siapa yang akan menjadi kandidat ketua seitokai. Oikawa sendiri hanya melempar pandangan bosan ke luar jendela kelas. Ia tidak memiliki ambisi untuk menjadi anggota, apalagi ketua seitokai. Kegiatan ekskul volinya saja sudah cukup menyita waktu. Terlebih, ia bukanlah tipe serius yang berkarisma dan dapat memimpin orang banyak.
Tapi itu hanyalah khayalannya. Hanamaki Takahiro, teman sekelas sekaligus teman setimnya, tiba-tiba meneriakkan namanya.
"Oikawa!"
Panggilan yang tidak disengaja itu tanpa diduga menjadi 'harapan' bagi teman sekelasnya untuk 'menyerahkan' nama Oikawa Tōru sebagai kandidat ketua seitokai.
Oikawa mendesis pada Hanamaki yang kini sedang berjalan ke arahnya sambil tersenyum bersalah.
"Gomen, Oikawa! Aku bermaksud memanggilmu untuk memberikan ini."
Oikawa melihat sepucuk surat beramplop putih yang diberikan Hanamaki. Perasaan kesalnya memudar saat melihat nama kekasihnya — yang berasal dari sekolah lain — mengirimkan surat untuknya. Kemudian dahinya berkerut.
"Kenapa ini ada padamu? Tadi dia ke sini, ya?"
Hanamaki hanya mengangguk. Lalu ketika melihat Oikawa hendak membuka suratnya, ia menepuk pelan bahu Oikawa dan kembali ke mejanya.
Oikawa membuka surat itu dengan agak heran dan sedikit tidak enak. Jujur saja, sudah hampir dua minggu ini ia memang jarang sekali menghubungi kekasihnya. Alasannya hanya satu: voli. Ia menyayangi kekasihnya, tentu saja. Tetapi ia tidak bisa meninggalkan voli begitu saja. Ia sudah paham bahwa risikonya bergabung dalam undōkei* dan terutama klub voli pasti akan sangat menyita waktunya. Ia harus disiplin dan tentunya bertanggung jawab atas pilihannya sendiri.
Perasaan tak enak itu bukan tidak berdasar. Baris pertama surat itu sudah menjelaskan semuanya.
Oikawa-san, maaf aku tidak bisa menghubungimu juga menemuimu langsung. Aku tidak bisa.
Dan beberapa baris kemudian, dapat dipastikan bahwa status hubungannya saat ini adalah shinguru; single; jomlo.
Oikawa tersenyum masam. Alasannya diputusi adalah karena Oikawa terlalu sering berlatih voli. Waktu mereka terbatas karena voli. Mantannya itu menganggapnya lebih mencintai voli. Jadi intinya, dia menyalahkan voli. Dan Oikawa tidak menyukai gagasan itu.
Kedatangan Matsukawa Issei mengembalikan Oikawa ke alam sadar. Ketua kelasnya itu, seperti biasa, memasang wajah datar dan kelihatan malas.
"Oikawa, kau bersedia jadi kandidat dari kelas kita, kan?" tanyanya to the point. "Karena tidak ada yang bersedia lagi."
Oikawa menghela napas berat. "Aku sudah sibuk dengan voli, Matsukawa. Sepertinya tidak akan berhasil."
Matsukawa memberinya tajam. "Ini baru kandidat. Kurasa hanya orang aneh yang memilihmu menjadi ketua seitokai."
"Sialan kau, Matsukawa," umpatnya. Ia lalu berdiri dan memberikan keputusan akhirnya. "Kandidat saja, kan? Baiklah, berikan saja namaku."
Sebuah keputusan yang salah.
Dikaruniai wajah tampan, otak pintar, dan kemampuan olahraga tidak sepenuhnya bagus. Contohnya saat ini. Oikawa Tōru, setter jenius yang dimiliki Seijō dengan wajah tampan dan pesona yang luar biasa, akhirnya terpilih menjadi ketua seitokai.
Di sampingnya berdiri wakilnya, Haruno Sakura, yang memperoleh suara tipis darinya. Gadis itu tidak seambisius yang dipikirkan Oikawa dan teman-temannya. Ia malah terlihat biasa saja berdiri berdampingan dengan Oikawa di panggung aula. Ya, mereka baru saja dilantik beberapa menit yang lalu.
Setelah sambutan Oikawa dan Sakura, para murid tampak meninggalkan aula satu persatu. Menyisakan Oikawa, Sakura dan anggota seitokai terpilih.
Sebelum para anggota berkumpul, Oikawa berdeham, membuat Sakura menoleh ke arahnya.
"Haruno, kau yang mulai pembicaraan, oke?"
Sakura membulatkan matanya. "Kau gila, ya? Yang ketua itu, kan, kau! Bukan aku," bantahnya tak terima. Walaupun ia memang mencalonkan diri sebagai seitokai, ia tidak mau menjalankan sesuatu yang bukan menjadi tugasnya.
Oikawa berdecak. "Aku tidak pintar berkata-kata, tahu? Kau saja sana," selorohnya. Ia memasukkan kedua tangan di saku celana dan tampak tak acuh.
Sakura hanya menggerutu, tapi tetap melakukan yang dikatakan Oikawa. Mau tak mau Oikawa menahan senyum melihatnya.
Senyum.
Sudah hampir satu bulan ia tidak benar-benar tersenyum. Sejak peristiwa diputusi oleh mantannya, Oikawa memang hanya memberikan senyum ala kadarnya pada orang lain. Ia juga sudah tidak tahu seperti apa tertawa lepas itu, tawa yang mencapai matanya. Hatinya sakit, tentu saja. Bukan karena ditinggalkan, tetapi karena apa yang ia suka, apa yang dicita-citakannya, dianggap remeh dan tidak penting oleh orang yang dianggapnya penting. Kecewa, begitulah kira-kira perasaannya.
Oikawa memperhatikan Sakura yang bisa mengatasi keadaan dan berbicara tenang pada anggota seitokai-nya. Sakura lalu menoleh pada Oikawa, mengisyaratkan pemuda itu untuk berbicara juga.
"Mungkin Oikawa-san ingin menyampaikan sesuatu? Atau menambahkan sesuatu?" tanyanya dengan nada formal.
Oikawa tersenyum samar. "Terima kasih, karena sudah mempercayaiku. Aku pun akan mempercayai kalian semua yang berada di sini. Jadi mulai sekarang, ayo kita bekerja sama!"
Sambutan singkat itu ditanggapi dengan antusias oleh semua orang, termasuk Sakura. Ia ikut bertepuk tangan seperti yang lainnya.
Oikawa menoleh untuk melihat respon Sakura, dan gadis itu sedang menatapnya seolah mengatakan, "Kau sudah melakukan yang terbaik."
Gadis itu menatapnya dengan tatapan bangga.
Oikawa tertegun. Perasaan didukung itu yang kini membuatnya lebih bersemangat. Sakura tidak terang-terangan mengatakan ia akan mendukungnya. Tapi dari sikapnya, tatapannya, dan anggukan yang baru saja gadis itu berikan padanya, memberinya kekuatan.
Oikawa tahu, ia bukannya sudah kehilangan sesuatu yang berharga. Ia malah baru saja menemukannya, meskipun ia belum mau mengakuinya.
tbc
Seitokai: semacam OSIS
Hōsōbu: klub penyiaran (public announcement sekolah di Jepang)
Undōkei: ekskul dalam kategori olahraga
Halo! Maaf kalau datang-datang aku bawa cerita yang plotless begini. Apakah fic-nya nggak jelas? Atau ngebosenin? Let me know, ya!
Akhir-akhir ini aku lagi rewatch Haikyuu!! dan jadi lebih notis Oikawa di sini — karena aku pecinta Kags dan Noya hehehe. Sebenernya lihat pairing SasuSaku itu asyik, sih, karena yang satu dingin dan yang satu hangat (?) jadi saling mengisi. Tapi setelah aku lihat Oikawa, kayaknya — menurutku, lucu aja kalau dia dipasangin sama Sakura yang akan keluar galaknya di saat tertentu :)
Oh ya, di sini aku nggak menuliskan Oikawa dengan nama kecilnya karena mengikuti panggilan Oikawa di Haikyuu!!, ya. Sementara untuk Sakura aku sesuaikan sama panggilannya di Naruto.
Buat judulnya sendiri, itu nggak 'sefilosofis' itu, kok. Arti Tōru sendiri (menurut Haikyuu!! Wiki) adalah to go through, dan seperti yang kita sudah tahu, bahasa Inggris Sakura adalah cherry blossoms.
Oke sekian dulu dariku. Kalau kalian kurang suka fic-nya nanti kuhapus, ya. Aku ganti cerita lain yang (mudah-mudahan) menarik.
Terima kasih sudah mampir!
