presented to you by jenojaem00
.
To Go Through The Cherry Blossom
.
Oikawa Tōru x Haruno Sakura
Haikyuu!! c Haruichi Furudate x Naruto c Masashi Kishimoto
warning: OOC, plotless, conflictless, typo(s)
.
Enjoy!
[insert music background: Better — Jeremy Passion]
Sudah satu tahun lebih Oikawa Tōru menjabat sebagai ketua seitokai SMA Aoba Jōsai. Dan bersamaan dengan itu pula ia jadi lebih dekat dengan Haruno Sakura. Tidak ada yang spesial sebenarnya. Mereka hanya bertemu di ruang seitokai, membicarakan masalah sekolah dan program- program yang mereka jalankan, lalu kemudian kembali ke kesibukan masing-masing. Namun tak jarang ketika pemilik rambut cokelat gelap dengan pemilik rambut merah muda itu bertemu, mereka akan meributkan hal-hal kecil.
Oikawa memeriksa daftar nama di tangannya sekali lagi. Pagi ini ia dan para anggota seitokai akan berangkat ke sebuah tempat perkemahan di sekitar Miyagi juga. Acara perkemahan ini merupakan acara terakhir mereka sebelum masa jabatan seitokai mereka resmi selesai dalam satu minggu.
Oikawa melihat Haruno Sakura sedang duduk di atas pembatas beton di pelataran parkir sekolah. Ia menghampiri gadis itu dan berjongkok di depannya. Sakura meliriknya dengan tatapan bingung.
"Jadi, wakilku, apa yang harus kita lakukan sekarang, hm?"
Sakura tidak bergerak dari posisinya. "Tidak ada," balasnya enteng.
Oikawa memiringkan kepala, bingung. "Aku sudah tidak sibuk dan tidak ada latihan. Kau bilang aku harus fokus mengurus seitokai. Jadi apa yang harus kulakukan?"
Oikawa akhirnya mendapat perhatian Sakura. Gadis itu menegakkan badannya dan menatap Oikawa lurus-lurus.
"Bukannya kita sudah menyelesaikan semuanya, hingga akhirnya acara ini bisa dilaksanakan?"
Oikawa melepaskan tawa santai. Ia menepuk kepala Sakura sebelum berdiri. "Jangan terlalu serius, Haruno. Aku hanya menggodamu."
Sakura memberinya tatapan kesal namun ikut tertawa pada akhirnya. Oikawa menawarkan tangan kanannya. "Ayo, kita harus mengabsen semua orang dan berangkat."
Sensasi hangat dan menggelitik menjalari tangan hingga perutnya, membuat Oikawa—entah kenapa—harus menahan sudut bibirnya agar tidak terangkat. Ia tahu persis apa yang sedang dirasakannya ini. Tapi kali ini, ia akan mengakuinya.
Pada dirinya, dan pada Sakura.
.
.
.
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari satu jam, anggota seitokai Aoba Jōsai akhirnya tiba di Mizunomari Park Camping Ground. Oikawa sekali lagi mengabsen semua anggota sebelum akhirnya mengangkut boks perlengkapan dan keluar dari bus.
Kegiatan mereka tidak terlalu terikat jadwal, jadi Oikawa tidak terburu-buru berjalan dan menikmati pemandangan dari jalan setapak yang membelah lapangan rumput yang sangat luas.
Oikawa tidak menyadari Sakura sudah berjalan di sebelahnya, sama-sama membawa sebuah boks, hanya saja lebih kecil. Melihat Oikawa tidak menyadari kehadirannya, Sakura memanggil lelaki tinggi itu. Oikawa menoleh dan tersenyum mendapati Sakura sudah berjalan di sebelahnya.
Sungguh hal yang langka, karena biasanya mereka akan melontarkan sarkasme atau menyeringai satu sama lain, bukannya tersenyum seperti ini.
"Kau memilih tempat yang sangat bagus, Oikawa-kun," puji Sakura tulus. Mata hijaunya berbinar cerah melihat pemandangan di sekitarnya. Bahkan jika mereka hanya berjalan-jalan mengelilingi area ini Sakura akan sangat senang. Suasana tenang inilah yang ia sukai.
Oikawa tertegun. Ia kira Sakura akan mengatakan sesuatu yang tajam atau semacamnya, tapi gadis itu malah memujinya. Dengan canggung ia tertawa. "Apa ini? Kau memujiku, Haruno?" pancingnya. Ia tahu jika ia bersikap iseng seperti ini, Sakura akan mengelak seperti biasa.
Tapi respon Sakura di luar dugaan Oikawa. Sakura tertawa kecil sebelum menjawabnya. "Tidak, aku berkata jujur. Ini tempat yang sangat bagus. Aku tidak tahu Miyagi memiliki tempat seperti ini di tengah kota," Sakura menatap Oikawa tepat di matanya. "Tenang, indah, hijau di mana-mana."
Oikawa tidak dapat menjawabnya.
Tenang, indah, hijau… itu adalah deskripsi yang sangat bagus untuk menggambarkan mata Haruno Sakura bagi seorang Oikawa Tōru.
"Ya, cantik sekali," kata Oikawa setengah melamun, masih memandang Sakura lekat.
Sakura jadi salah tingkah. Ia berdeham sebelum mempercepat langkahnya, meninggalkan Oikawa beberapa langkah di belakangnya.
"Kita harus cepat, Oikawa-kun. Mereka akan menunggu."
Oikawa kembali pada kesadarannya, lalu merasa bodoh karena sudah bertindak di luar kendali. Ia menghela napas sebelum menyusul Sakura yang berjalan jauh di depannya.
Oikawa terkekeh. "Kau bisa terjatuh, Haruno," katanya setengah berteriak, yang malah membuat Sakura berjalan semakin cepat.
"Jatuh cinta padaku, mungkin?" bisik Oikawa pada dirinya sendiri. Ia lalu menggeleng sambil tersenyum samar sebelum meneruskan langkahnya. Merasa geli karena sudah memikirkan hal-hal seperti itu; Haruno Sakura jatuh cinta padanya. Sesuatu yang sangat samar, tidak dapat diprediksi, tapi bisa diharapkan.
Tentu saja, ia harap memang begitu.
.
.
.
Jika kalian berpikir bahwa Oikawa akan menyatakan perasaannya pada Sakura saat acara perkemahan itu, itu tidak benar. Jika kalian kira Oikawa akan meminta Sakura menjadi kekasihnya di depan api unggun, atau ketika sedang acara bebas di suatu malam di bawah langit penuh bintang, kalian salah besar. Nyatanya acara perkemahan itu berakhir dengan begitu saja.
Semua anggota seitokai juga mempertanyakannya, karena seperti kalian semua, mereka juga mengira akan ada sesuatu yang terjadi antara Oikawa Tōru dan Haruno Sakura di acara perkemahan ini. Terlebih, ini adalah acara terakhir mereka sebagai ketua dan wakil ketua seitokai.
Oh, siapa yang tidak berpikiran seperti itu, jika hanya Sakura satu-satunya perempuan yang diisengi oleh Oikawa. Atau dilirik berkali-kali secara diam-diam oleh sang kapten voli. Atau ditepuk kepalanya, diberi senyum, diberikan uluran tangan… Tentu semua orang menyadarinya.
Kecuali Sakura.
Bukannya tidak menyadari, Sakura hanya tidak ingin dianggap terlalu percaya diri. Ia tidak ingin berharap terlalu tinggi sehingga bisa membuatnya kecewa.
Seperti saat ini, dua hari setelah acara perkemahan.
Baiklah, Sakura rasa ia harus jujur terhadap perasaannya sendiri. Ia sering berdebar tidak keruan ketika Oikawa ada di sekitarnya. Wajahnya juga sering memanas jika Oikawa menggodanya. Atau keinginan kuat untuk melihat laki-laki itu di mana saja jika mereka tidak bertemu.
Saat perkemahan kemarin, beberapa anggota seitokai memberinya kode keras bahwa Oikawa pasti akan menyatakan perasaannya pada Sakura di acara bebas atau saat acara api unggun. Sakura sudah berharap, tapi ternyata Oikawa tidak mengatakan hal-hal seperti itu padanya. Sama sekali.
Sakura tahu ia sudah bertindak bodoh dengan membiarkan harapannya terbang terlampau tinggi, tapi ia juga tidak dapat menahan perasaan senang mengetahui Oikawa akan menyatakan perasaan padanya, atau malah memintanya menjadi kekasihnya.
Sakura masih menyembunyikan tubuh dan kepalanya di balik selimut saat ponselnya berdering. Tanpa melihat caller ID si penelepon, Sakura mengangkatnya.
"Saki! Kau mau menemaniku melihat latihan voli hari ini tidak?"
Sakura dapat mendengar suara Yamanaka Ino yang bersemangat dari seberang sana. Ia menghela napas sebelum menjawab Ino dengan suara parau.
"Tidak," ia berdeham, lalu mengatakannya dengan lebih jelas. "Tidak, Ino. Aku tidak ingin keluar rumah saat ini."
"Saki, kau sakit? Atau ini gara-gara acara kemarin itu, ya?" suara Ino terdengar khawatir. Sahabatnya sejak hari pertama SMA itu sangat mengenal dirinya rupanya.
"Begitulah," balas Sakura, tak tahu harus menjawab apa.
Sakura tidak tahu apa yang terjadi, tapi terdengar Ino terkesiap dan mengetikkan sesuatu di laptop atau komputernya. Entahlah, Sakura hanya dapat mendengarnya, tapi terlalu malas untuk membuka mulut jadi ia hanya diam saja sampai Ino mengatakan harus pergi dan mematikan sambungan.
Sakura masih memegang ponselnya saat benda itu berdering lagi. Dengan enggan Sakura menjawabnya, "Ya, Ino?"
"Ada apa dengan suaramu, Haruno? Kau sakit?"
Sakura langsung terduduk di ranjangnya begitu mendengar suara berat dan ramah yang ia kenal. Ia memeriksa caller ID penelepon itu dan merutuki kecerobohannya tidak memeriksa panggilan masuk itu terlebih dahulu.
Sakura membersihkan tenggorokannya. "Tidak, tidak. Aku hanya baru bangun," katanya setengah berbohong. Benar, ia memang tidak sakit. Tapi ia sudah bangun sejak dua jam yang lalu dan hanya meringkuk di balik selimutnya.
Oikawa terdengar lega di seberang sana. "Baguslah. Kenapa kau bangun siang sekali?"
"Karena hari ini aku tidak ada rencana, sepertinya?" balas Sakura tidak jelas.
"Bagus, kebetulan sekali kau tidak ada rencana dan aku justru berencana mengajakmu bertemu hari ini."
Sakura merasa hari ini adalah hari di mana ia bertindak sangat bodoh. Ia juga menyesali mulut besarnya yang membicarakan hal-hal yang tidak perlu. Oikawa adalah orang yang paling ingin ia hindari sementara ini, tetapi lelaki itu justru memintanya bertemu.
Sakura bisa saja langsung menolaknya, tapi itu akan semakin memperjelas bahwa Sakura mengharapkan Oikawa mengajaknya berpacaran di acara perkemahan kemarin. Dan ia tidak mau ketua seitokai itu mengetahuinya.
"Haruno, kau masih di sana?"
"O-oke? Kenapa tiba-tiba kau mengajakku bertemu?" Sakura mendengar Oikawa tergelak di seberang sana.
"Kenapa kau takut sekali, sih? Jangan berpikir macam-macam, kita harus membahas dan mengevaluasi acara perkemahan kita kemarin."
Sakura memandang kosong selimutnya. Tentu saja, memangnya Oikawa mengajaknya bertemu untuk apalagi selain karena alasan kegiatan seitokai?
Sakura menghela napas setelah memantapkan hati. "Baiklah, satu jam lagi di sekolah, kurasa?"
"Tidak, kita tidak bertemu di sekolah. Aku bolos latihan hari ini demi membahas masalah ini, tahu? Kujemput kau di rumahmu satu jam lagi. Sampai jumpa, Haruno."
Oikawa bahkan tidak memberikan Sakura kesempatan membalas perkataannya. Ia langsung memutus telepon, membiarkan Sakura terdiam di atas ranjang dengan bertanya-tanya dan… galau.
Dengan perasaan berat Sakura turun dari ranjangnya dan bergegas ke luar kamar. Setelah mandi, ia mengambil salah satu oversized crop hoodie-nya yang berwarna abu-abu untuk menutupi slim fit t-shirt putihnya, memadukannya dengan sweatpants abu-abu dan sepatu kets putih. Ia mengikat rambut merah mudanya a la messy ponytail. Setelah mengambil sling bag dan ponselnya, ia menunggu di ruang tamu.
Tak sampai lima menit, Oikawa memberinya pesan.
Aku sudah di depan rumahmu.
Sakura mengatur napasnya sebelum akhirnya berjalan keluar. Pintu pagar terbuka dan ia mendapati Oikawa dengan jogger abu-abu dan hoodie hitam. Sakura harus menahan debaran jantungnya agar tidak terpesona melihat penampilan kasual Oikawa, dan kenyataan bahwa mereka terlihat seperti sedang mengenakan couple look outfit.
Oikawa menaikkan sebelah sudut bibirnya, menilai penampilan Sakura. "Kau tidak sengaja berpenampilan seperti itu agar kita terlihat—"
"Jangan teruskan," potong Sakura cepat. Ia tidak dapat mencegah rasa panas yang menjalar ke leher dan berakhir di pipinya. Ia membuang pandangannya ketika mendengar kekehan Oikawa, lalu mengalihkan pembicaraan. "Jadi, kita akan ke mana?" tanyanya pada akhirnya.
Mereka berjalan menuju halte bus. "Mizunomari," balas Oikawa enteng. Ia memasukkan ponselnya ke dalam canvas bucket bag coklat yang tersampir di pundak kirinya.
Sakura menoleh cepat dengan pandangan tidak percaya. "Mizunomari… tempat kita berkemah kemarin?" tanyanya memastikan.
Oikawa tersenyum samar. Ia akhirnya mendapat perhatian Sakura setelah gadis itu entah kenapa seperti menghindarinya; menghindari tatapan matanya, menghindari godaan isengnya.
"Kita akan mengevaluasi kegiatan kemarin, benar?" Sakura mengangguk. "Jadi aku akan mengevaluasinya langsung di lokasinya. Sudahlah, kita berangkat saja dan kau akan mengerti."
[insert music background: Kiss Me Kiss Me — 5 Seconds of Summer]
Oikawa melirik Sakura yang suasana hatinya tiba-tiba saja berubah. Dua jam yang lalu gadis itu terlihat enggan bertemu dengannya, dan sore ini ia berjalan dengan ceria di jalan setapak Mizunomari. Mata Sakura berbinar cerah dan Oikawa tidak menemukan alasan untuk tidak merasa senang.
"Senang?" tanya Oikawa.
Sakura berhenti berjalan dan menengok ke belakang untuk melihat Oikawa. Ia mengangguk sambil tersenyum kecil. "Kau tahu, aku sama sekali tidak puas berjalan-jalan di sini saat acara kemarin."
Oikawa menghela napas lega. Pilihannya datang ke sini tidak salah sama sekali. Malah kini ia bisa membuat Sakura merasa lebih baik dari entah apa yang dirasakan gadis itu sebelumnya.
"Kita akan mengevaluasi acara perkemahan dari mana, Oikawa-kun?"
Oikawa tampak berpikir. "Bagaimana kalau dimulai dengan, 'Berhenti memanggilku Oikawa dan aku akan memanggilmu Sakura?'"
Sakura menegang sesaat namun ia berusaha tetap tenang. "Tentu," katanya ringan.
"Baiklah, Sakura," Oikawa menoleh untuk melihat respon Sakura, dan gadis itu terlihat sedikit canggung dengan panggilan untuknya. "Hei jangan canggung begitu. Itu, kan, namamu."
"Aku tidak canggung," bantah Sakura tidak terima. Ia merapikan anak-anak rambutnya yang keluar dari ikatannya akibat semilir angin di sepanjang jalan setapak itu.
Oikawa bertindak di luar pikirannya lagi. Ia menepuk kepala Sakura, membuat Sakura menghentikan langkahnya. Sakura menatapnya bingung, jadi Oikawa mengacak rambut gadis itu yang membuatnya mendapat pukulan pelan di lengan.
"Astaga! Rambutku jadi semakin berantakan!" katanya sambil terus berusaha merapikan rambutnya.
Oikawa menyentuh lengan Sakura untuk menghentikan gerakan tangan gadis itu, namun efeknya di luar dugaan. Keduanya diam. Coklat gelap bertemu emerald. Adonis menatap Adonia.
Sakura menatap Oikawa lurus-lurus untuk pertama kalinya. Ia lalu melihat tangannya berada dalam genggaman Oikawa.
Tapi ketika ia hendak menarik tangannya kembali, Oikawa menahannya. "Kau— " Sakura tercekat. Lalu ketika ia bisa kembali tenang, ia melanjutkan, "Kau sudah berjuang kemarin. Ya, kan?"
Oikawa menarik sebelah alisnya, pada awalnya bingung apa yang sedang dibicarakan oleh Sakura. Tapi ketika ia paham Sakura sedang membicarakan tentang kekalahan Seijō dari Karasuno, ia memberikan Sakura sebuah senyum kecil. "Ya, tentu saja. Memangnya kenapa?" tanyanya penasaran tanpa melepaskan genggaman tangannya dari Sakura.
Sakura masih menatap matanya. "Kau… tidak sedih?"
Oikawa sedikit terkejut dengan pertanyaan Sakura yang tiba-tiba. "Hah?" jadi dengan payahnya hanya itu yang dapat ia katakan.
Sakura menarik tangannya, namun Oikawa tetap memegangnya dengan erat. "Se-sepertinya kau tidak sedih, ya… hahaha," katanya memaksakan tawa yang terdengar canggung. "Aku hanya bertanya."
"Aku kecewa, tentu saja."
Sakura berhenti. Ia merasakan genggaman Oikawa pada tangannya menegang, jadi ia tidak berusaha melepaskan tangan lelaki itu lagi.
"Kau mau cerita?"
Oikawa terhenyak mendengar suara lembut itu. Bukan nada ketus, bukan nada menghakimi, bukan nada sok simpati atau nada mengasihani. Oikawa merasakan ketulusan dari tatapan dan nada bicara Sakura. Dan itu untuk pertama kalinya ia merasakan itu.
Ia menarik napas, mempersiapkan diri, lalu mengembuskannya pelan-pelan. Ia lalu melanjutkan langkah sambil menggandeng tangan Sakura, dan ketika dilihatnya gadis itu bertanya-tanya sambil mengikutinya, ia hanya tersenyum tipis.
"Aku sempat kecewa, tapi tidak lagi," katanya yakin. Sakura hanya diam, memberi isyarat Oikawa untuk melanjutkan ceritanya.
"Seseorang pernah meninggalkanku karena voli," lanjutnya. Oikawa melihat perubahan air muka Sakura. Gadis itu sedikit terkejut, tapi tidak berkomentar. "Katanya, aku terlalu menghabiskan waktuku untuk voli. Aku terlalu berambisi. Tapi seperti yang kau lihat, bahkan dengan ambisiku yang begitu besar pada voli, aku tidak bisa memenangakan pertandingan ini. Aku tidak bisa membuat bangga sekolah. Aku mengecewakan teman-temanku."
Oikawa tidak melanjutkan kata-katanya, jadi Sakura akhirnya membuka mulutnya. "Jadi… kau kira, untuk pertama kalinya kau disakiti oleh voli, begitu?"
Oikawa tampak berpikir sebentar. "Tidak, sepertinya tidak," balasnya. "Tapi aku yang sudah berjuang mati-matian ini tidak bisa memenangkan pertandingannya. Aku kecewa, pada diriku sendiri." Suaranya tertahan pada kalimat terakhir.
"Tōru-kun," panggil Sakura. Oikawa hanya menatapnya balik tanpa menjawab. Ada perasaan menggelitik di dadanya mendengar Sakura untuk pertama kalinya memanggilnya dengan nama kecil. "Ada berapa orang yang turun bertanding dalam timmu?"
"Enam," katanya tanpa berpikir.
"Lalu dengan Karasuno?"
Oikawa mendengus mendengar pertanyaan yang terdengar konyol itu. "Enam, Sakura," katanya berusaha sabar.
"Lalu kenapa kau menyalahkan dirimu sendiri?"
Deg!
Satu pertanyaan dari Haruno Sakura yang membuat Oikawa terkena skakmat.
"Kalau kau merasa sudah berusaha dan berjuang mati-matian, kenapa kau tidak berterima kasih juga pada dirimu untuk hal itu?" Sakura melanjutkan dengan tenang. "Kecewa dan sedih karena kalah itu biasa. Tapi pertandinganmu tidak berhenti di turnamen SMA, kan?"
Oikawa tercenung mendengarnya. Selama ini ia terlalu menyalahkan dirinya sendiri dan menganggap kegagalan timnya adalah sepenuhnya karena dirinya yang tidak mampu bermain dengan baik. Gagal sebagai kapten. Balas dendam pada Akademi Shiratorizawa tanpa sadar malah menjadi tujuan utamanya, dan ia tidak berpikir lebih jauh, bahwa seharusnya ia bermain voli karena voli adalah sesuatu yang sangat disukainya, bukan untuk membalaskan dendam dan gengsi.
Dan gadis di hadapannya ini baru saja menyadarkannya.
"Kau tidak tahu, ya, namamu itu masuk jajaran setter terbaik Jepang?" tanya Sakura. Oikawa tidak menjawabnya. "Ternyata selain penampilan fisikmu, ada juga kemampuan yang bisa kau banggakan," canda Sakura.
Oikawa tak dapat menahan diri untuk tidak tertawa. "Jadi, kau menganggap penampilan fisikku ini keren, ya?"
Sakura mencibirnya. "Aku tidak mengatakan kau keren. Aku hanya bilang selain penampilan fisikmu, kau juga punya kemampuan…"
"Dengan kata lain," potong Oikawa, "selain tampan, aku juga berbakat. Begitu, kan?" seringai tampak di wajah Oikawa.
Sakura memasang tampang cemberutnya. "Sudahlah. Aku sudah berusaha menghiburmu tapi kau malah membuatku kesal."
Oikawa terkekeh. "Oke, oke, maafkan aku. Tapi terima kasih, karena sudah menghiburku. Walaupun aku tidak tahu apakah yang tadi itu bisa dikatakan menghibur atau tidak," lanjutnya dengan nada jahil.
"Astaga, aku tidak pernah tahu kalau kau sangat menyebalkan!"
"Tentu saja," sambar Oikawa saat melihat Sakura memberinya tatapan kesal. "Kau, kan, selama ini melihatku sebagai lelaki tampan yang berbakat."
Sakura melepaskan tangannya dengan paksa. "Kau bilang kita ke sini untuk mengevaluasi kegiatan kemarin!"
Oikawa meraih tangan Sakura lagi, kali ini sama sekali tidak berminat melepaskannya.
"Kenapa kau mendadak seperti ini?" tuntut Sakura. Ia dibuat tidak mengerti dengan sikap Oikawa ini. Saat di acara kemarin, Oikawa memang mengajaknya bicara dan bercanda, memperhatikannya juga, tetapi ia tidak bersikap manis begini. Jika terus-terusan begini, Sakura yakin hatinya goyah dan ia akan semakin mengharapkan lelaki ini.
"Kembali ke evaluasi," kata Oikawa, tidak berniat menjelaskan perbuatannya ini lebih lanjut. Sakura mendengus sebal, tapi diam menunggu kelanjutan kata-kata Oikawa. "Itu tidak berjalan sesuai rencana, sebenarnya."
"Benarkah?" tanya Sakura sedikit terkejut. Jujur saja, ia cukup menikmati kegiatan kemarin. Ia rasa tidak ada yang salah dengan susunan acara mereka.
Oikawa bergumam mengiyakan. Ia menarik Sakura mendekat. "Kurasa, kau juga mengharapkan sesuatu. Benar, kan?"
Sakura memerah. Jantungnya berdebar keras dan ia harap Oikawa tidak mendengarnya. Tangannya yang berada dalam genggaman Oikawa juga mendadak menjadi dingin.
"Sakura," Oikawa berhenti berjalan dan menghadapkan tubuhnya pada Sakura. Sakura rasa ia bisa roboh kapan saja dengan tatapan lembut Oikawa padanya saat ini. "Aku tidak mau berbasa-basi, oke? Aku menyukaimu," Oikawa berterus-terang. "Aku ingin menyatakan perasaanku padamu sejak beberapa waktu lalu, namun aku menunggu saat yang tepat."
Sakura menelan ludah. Ia memberanikan diri bertanya. "Lalu kenapa kemarin…" Sakura tidak melanjutkan pertanyaannya. Ia tidak sanggup untuk bertanya, jujur saja. Tapi ia juga penasaran setengah mati kenapa Oikawa tidak menyatakannya saat itu.
Oikawa mengelus punggung tangan Sakura lembut. "Karena itu adalah hari spesial bagi semua orang."
Sakura menatapnya bingung. "Memangnya ada perayaan apa saat kita berkemah?"
"Hari spesial bagi anggota seitokai," jelas Oikawa. "Aku tidak ingin berbagi hari spesial jadian denganmu dengan semua orang," katanya percaya diri. "Bicara soal itu, kau mau, kan, jadi kekasihku?"
"Bukannya kau sudah tahu jawabannya?" tanya Sakura pelan.
"Tahu, tapi aku ingin mendengarnya langsung darimu," kata Oikawa gemas sambil kembali mengacak rambut Sakura dengan tangannya yang bebas.
Sakura menemukan keberaniannya untuk menatap Oikawa tepat di mata. "Kau tidak tahu betapa uring-uringannya aku setelah kembali dari acara perkemahan itu."
Oikawa akui ia terkejut. "Jadi apa artinya itu?"
Sakura menahan senyumnya. "Tentu saja, Kapten."
Oikawa menarik Sakura dalam sebuah pelukan, lalu ia menempelkan dahinya dengan dahi kekasihnya itu.
"Bolehkah?" tanya Oikawa.
Sakura paham dan mengangguk. Berlatarkan langit senja Mizunomari, satu ciuman, lengkap dengan senyum dan pelukan.
.
So kiss me kiss me kiss me
And tell me that I'll see you again
'Cause I don't know if I can let you go
So kiss me kiss me kiss me
I'm dying just to see you again
Let's make tonight the best of our lives yeah
.
.
.
Bepergian dengan kereta tidak pernah terasa lebih menyenangkan dari ini. Sakura menyukainya saat tangan Oikawa menggenggamnya erat seolah tidak mau melepaskannya, bahkan ketika mereka duduk bersisian di kereta yang akan membawa mereka pulang ini.
"Aku lebih ingin memeluk lenganmu, Tōru-kun."
Oikawa melihat kekasihnya dan tersenyum senang. Ia suka Sakura yang bersikap manja seperti ini. Sepertinya ia harus memberitahu Sakura untuk sering-sering bertingkah seperti ini, khusus padanya.
Oikawa mengaitkan lengan Sakura pada lengannya, namun tetap menggenggam tangan gadis itu. "Begini lebih baik. Dan omong-omong Sakura, kau harus lebih sering bertingkah manja begini. Aku menyukainya."
Wajah Sakura bersemu merah, tapi ia tidak dapat menahan senyumnya. "Benarkah? Kau tidak akan menganggapnya menyebalkan?"
"Akan, kalau kau melakukannya juga pada orang lain," Oikawa memberinya nada peringatan main-main.
"Kau ini posesif sekali, ya? Kau bahkan tidak mau menyatakan perasaanmu pada saat acara kemarin."
"Tentu saja, karena aku tidak suka berbagi. Aku ini posesif, aku ini egois, dan kuharap kau bisa bertahan dengan itu."
Sakura menepuk-nepuk lengan Oikawa. "Selama kau tidak menyerah dalam voli, dan tidak menyalahkan dirimu sendiri, aku tidak masalah dengan itu."
Oikawa merasa tersentuh. Ia tidak dapat mengatakan apa-apa selain menatap Sakura penuh damba, penuh rasa terima kasih dan luapan kasih sayang.
"Terima kasih," katanya lembut.
Sakura tersenyum sambil mengelus pipi Oikawa pelan. "Aku bangga padamu."
Astaga, ia benar-benar menyayangi gadis ini. Gadis ini sangat berharga, dan Oikawa tahu ia tidak membutuhkan apa-apa lagi.
End
Terima kasih yang sudah mampir! Semoga suka dengan cerita dan ending-nya! :)
