disclaimer: standard disclaimer applied
please check author's note di bawah ya, hehe. xoxo.
"Bagi kita, para pemburu iblis, mencintai itu tidak mudah."
"Aku tahu," tukas Shinobu, tawa kecilnya bergema bagai lonceng kecil.
"Dan kau masih ingin mencintaiku?"
Shinobu memang tak henti tersenyum, tetapi senyum yang tertuju pada Giyu kala itu, adalah senyum yang paling lembut, paling sabar, paling menawan—seakan-akan Shinobu sedang memandang dunia dan semestanya. Jemari kecil anak perempuan itu kemudian meraih telapak tangannya yang mengapal dan kasar, kemudian digenggam erat, seolah tidak ingin melepaskan. "Aku pikir mencintai bukan sebuah pilihan, Tomioka-kun," kata Shinobu lagi.
Giyu terdiam.
"Jika mampu mencintai orang lain, aku akan memilih laki-laki yang tidak akan mati kapan saja." Giyu memperhatikan bagaimana kedua mata Shinobu yang gelap sewarna bunga fuji, berkilat-kilat, dan di sana, ia bisa melihat pantulan wajahnya tanpa banyak bicara. "Jika mampu, aku tidak akan memilih untuk mencintai sama sekali, karena siapa pun itu, kau tidak akan bisa menghindari kematian," kata-kata Shinobu terpulas apik, begitu rapi dan tidak gentar karena bagi mereka, hidup dan mati adalah sesuatu yang sama-sama harus dijalani; mereka tidak akan pernah bisa menghindar.
"Aku tidak memilih untuk mencintaimu, tapi aku memilih untuk tetap tinggal dan menerima perasaan ini."
Genggaman tangan Shinobu semakin erat terasa, dan dari sana, Giyu mulai mengerti, tidak ada masing-masing dari mereka yang memilih debaran jantung ini berpacu ketika pandangan mata saling bertemu, maupun munculnya semburat kemerahan pada wajah ketika mereka duduk berdampingan di bawah sinar bulan pada satu hari di musim panas. Giyu dan Shinobu tidak memilih untuk saling mencintai, tetapi saat genggaman tangan Shinobu berbalas, dan pemuda ini mendekatkan wajah untuk mencari kecup pada bibir mungil Shinobu, mereka berdua sama memilih untuk tinggal.
.
.
.
Hanya saja, memilih untuk tinggal bukan berarti mereka bebas dari takdir.
Kadang Giyu ingin tertawa pada garis nasib yang menggelikan ini. Mereka memutuskan untuk tinggal, tetapi mereka juga yang tidak bisa memilih untuk benar-benar [i]tetap tinggal[/i]. Ia mengerti betul ini adalah harga yang dibayar untuk sebuah pengorbanan; miliknya adalah seharga dengan satu lengan, dan pengorbanan Shinobu adalah dengan seluruh hidupnya.
Tiada lagi iblis, tiada lagi ketakutan pada wajah-wajah manusia di malam hari, sampai korps pemburu iblis pun dibubarkan. Mereka benar-benar menyambut kehidupan normal, yaitu kehidupan tenang yang terasa seperti mimpi.
Giyu berjalan pada satu malam setelah tanabata* selesai ketika udara semakin hangat. Haori miliknya menggantung di bahu, dan dia menyusuri aliran sungai yang jernih dengan pantulan langit malam yang berbintang berada di permukaannya. Pemuda ini memutuskan untuk berhenti setelah beberapa lama berjalan, kemudian meletakkan sebuah kapal kecil dari daun bambu yang mengering pada pinggir sungai. Membiarkannya terbawa aliran air yang tenang, seolah-olah kapal kecil itu sedang melintasi sungai berbintang di sana. Senyumnya merekah tipis, melihat kapal sederhana itu kemudian menghilang terbawa arus.
"Aku tidak sanggup menulis apa pun dalam tanzaku** dan menggantungkan permohonanku. Jadi aku hanya bisa mengarungkan kapal tadi…" Tidak ada siapa pun yang bersama Giyu maupun menemaninya. Ia seorang diri memandangi kapal kecilnya yang tak terlihat lagi, tetapi kata-kata yang lolos dari lisannya seolah seperti sedang bicara kepada kekasihnya. "Aku rasa, aku sudah tidak bisa mengharapkan apa pun lagi…" Giyu kemudian berdiri, menjauh dari pinggir sungai dan berjalan menuju jembatan yang paling dekat, coba melintasinya sambil memandangi langit berbintang dengan dua titik yang paling terang.
"Mereka seperti kau dan aku." Tangannya yang tersisa kemudian menunjuk dua titik bintang yang paling terang—Orihime dan Hikoboshi—tetapi terpisahkan oleh aliran bintang lain yang lebih kecil dan menyerupai sungai, amanogawa. Giyu kemudian tertawa kecil, sebelum berujar kembali, "Tapi Orihime-sama dan Hikoboshi-sama pun diperbolehkan bertemu satu tahun sekali. Kadang ini tidak adil."
Air matanya telah kering, Giyu tidak lagi menangis maupun meratapi siapa pun lagi, termasuk menangisi Shinobu.
"Kau bilang dulu kau tidak memilih untuk mencintaiku." Karena perasaan itu ada dan tumbuh sendirinya, tidak ada yang memaksakan, tidak ada pula yang mengharuskan mereka untuk saling mencintai. "Tapi kau memilih untuk tinggal." Dan nyatanya, tidak pernah ada yang benar-benar tinggal. Pahit rasanya jika ia mengingat ini, tetapi Giyu coba menerimanya. "Kau ingat? Waktu aku tidak mengatakan apa pun pada hari itu—jadi…"
Giyu terdiam, matanya menatap langit berbintang yang kini bisa dilihat dari pantulan air sungai yang jernih. "Sekarang aku memilih untuk tetap mencintaimu—"
—walaupun kau tidak lagi tinggal.
Rindu yang ditahan tanpa disadari mulai meluap. Samar ia mencium aroma bunga yang manis, begitu cepat dan sekelebat, mengingatkannya akan aroma rambut dan ceruk leher Shinobu.
.
.
.
end.
a/n:
* tanabata: festival bintang saat bintang altair (Hikoboshi) dan vega (Orihime) terlihat paling terang, tetapi terpisah oleh galaksi bima sakti (amanogawa) dan hanya bisa bertemu satu hari dalam setahun, sewaktu perayaan tanabata
** tanzaku: kertas permohonan yang ditulis dan digantung di pohon bamboo kemudian diarung ke sungai atau laut, kalau jaman dulu kertas ini dari bambu
ditulis waktu lagi senggang, dan kangen sama giyushino. maaf kalau agak berantakkan dan nggak rapi, but i hope you guys like it. seperti biasa, komen/fav is appreciated!
anyway aku nggak tahu apakah ini lapak yang tepat, tapi aku lagi jobless dan butuh kegiatan dan sedikit pemasukan, jadi sekalian mau promosi ya... aku buka fanfic commission khusus buat fandom kny/bnha/haikyuu, yes i'll write your favorite prompt/pairs, buat sfw/nsfw segala pair dan genre asal masih buat tiga fandom itu. buat fandom lain bisa sih, tapi mungkin harganya agak beda :D oh iya, untuk rate-nya bisa kirim PM/komen ya atau hubungin lewat twitter shunkanshuto.
