Hari sudah menjelang malam ketika Bakugou pulang ke apartmentnya. Rasa lelah baik sikis maupun psikis menjadikannya sulit untuk berkonsentrasi. Hampir saja dia menabrak pot bunga di depan apartmentnya jika tidak ada orang yang menariknya menjauh.

Dia memeriksa keadaan sekitar, memastikan tidak ada orang yang mencurigakan. Terutama setelah kejadian yang terjadi padanya tadi. Lebih baik waspada daripada celaka kan?

Pintu tertutup kencang dari dalam. Menghasilkan struktur didalamnya bergetar.

Sembari mengerang, dia menjatuhkan dirinya ke sofa. Kakinya diangkat keatas meja, menjatuhkan sesuatu dengan tak sengaja kelantai marmernya. Dari suaranya, setidaknya dia tidak menjatuhkan barang berbahan kaca, jadi dia tidak terlalu mempedulikannya.

Tangannya menarik paksa tas yang dia duduki dan merogoh ponselnya.

Ponsel baru yang dipaksa beli oleh temannya dengan alasan ponselnya yang lama sudah tidak layak untuk di pakai. Pesan untuk dirinya: Berhenti membanting ponsel saat kamu sedang marah. Sebaiknya banting ponsel orang lain.

Bakugou menyipitkan matanya melihat daftar nomor yang dapat dia selamatkan di ponselnya. Tak ada nama pada setiap nomor tetapi setidaknya dia dapat mengingat nomor telephone temannya itu. Ataukah mungkin? Dia mengharapkan panggilannya akan dijawab oleh temannya, setidaknya dia bisa meninggalkan ocehannya lewat voice mail.

Sungguh perasaan lega langsung di rasakannya saat Kirishima mengangkat telepon.

"Hel-"

"Sungguh sangat berterima kasih, kamu tidak akan mempercayai apa yang terjadi denganku tadi." Dan di keluarkanlah semua unek-unek yang sedari tadi dia tahan. "Jadi, aku sudah siap-siap untuk pulang kan? Shiftku untuk bekerja sebagai barista hingga jam 7 malam dimana kedai kopi itu tutup. Jadi aku cepat-cepat membereskan semuanya agar dapat pulang ke rumah. Lampu-lampu sudah kumatikan, sudah kuganti tanda 'Open' menjadi 'Closed', seharusnya sebagai pertanda jika tempat itu sudah tutup. Tidak menerima tamu lagi. Dan sungguh kampretnya! Ada sepasang remaja masuk dengan santainya kedalam. Dengan polosnya mereka bertanya dengan nada kaget, 'Oh, apa sudah tutup?!' Ingin sekali aku menjambak rambut mereka berdua dan menariknya menuju papan pemberitahuan. Menjedotkan kepala mereka beberapa kali.

"Tapi ya tuhan! Puji kerang ajaib! Seandainya aku bisa melakukan kejahatan tanpa dijerat pasal yang berlapis-lapis, di jadikan gosip emak-emak yang baru tahu apa itu social media dan dimasukan ke sel penjara pasti sudah kulakukan tadi!" Dia tertawa renyah, mengeluarkan suara hewan sekarat. "Jadi, aku izin untuk masuk kedalam ruang karyawan. Dan, disitu semua kata-kata binatang keluar dari mulut tanpa bisa di rem. Untung saja aku tidak melempar ponsel baruku ini dan digantikan melempar barang-barang yang dapat aku jangkau... Dan aku baru menyadarinya sekarang, sepertinya aku merusak tanda pengenal seseorang yang tertinggal disana.."

"Setelah aku sudah mengeluarkan semua emosiku. Aku membetulkan kembali baju dan merapihkan rambutku yang sudah tak karuan dan berjalan keluar. Aku pikir mereka sudah pulang mendengar suara-suara yang kubuat dari balik pintu. Ahaha... menyedihkannya, ternyata mereka masih disana, duduk manis sambil tersenyum kearahku. Jadi, ya mau bagaimana lagi akhirnya aku melayani mereka. Aku dapat pulang dua jam setelahnya karena pasangan monyet itu asik bermesraan."

Bakugou menyisir rambut dengan jemarinya sembari mendesah kesal. Saat mendengar nafas yang tersentak dari ujung telephone, Bakugou menggeram, menyela temannya untuk berbicara. "Tapi itu bukan alasan kenapa aku meneleponmu! Jadi, dengar, saat aku diperjalanan pulang disitu aku benar-benar sudah lelah. Yang ada dipikiranku hanyalah tidur dikasur dan melupakan dunia! Ugh.. Jarak apartmentku sudah sangat dekat sampai aku dapat melihat gedungnya dari jauh. Tapi tiba-tiba seorang perempuan mendekatiku dan menarik lenganku."

"Jadi tentu saja saat itu aku seperti, Apa-apaan ini?! Aku tidak mengucapnya kencang-kencang sih, jadi aku tidak membuatnya tersinggung, and that's a good sign, karena saat aku menatap wajahnya, terlihat wajah yang begitu pucat, jadi aku seperti, holy shit she's looks so freaking terrified!"

Dia berhenti sejenak untuk menarik nafas sementara orang yang mendengarkannya hanya terdiam. "Aku tidak tahu bagaimana hal itu bisa terjadi? Situasi apa yang sebenarnya terjadi padaku saat ini?I don't fucking know! jadi aku berfikir mungkin ini adalah situasi buruk yang memang sedang terjadi pada perempuan ini. Jadi aku hanya balas menatapnya dan mencoba untuk menampilkan wajah yang membuatnya untuk tidak ketakutan. Dan sepertinya berhasil karena dia tidak melihatku dengan aneh atau berlari menjauh.. Mungkin? Setelahnya, Perempuan itu mulai berbisik sesuatu."

Dia berhenti untuk mengambil nafas lagi, "Dia berkata, 'aku diikuti seseorang, mereka tidak mau meninggalkanku dan aku sangat takut. Aku seorang turis jadi aku benar-benar buta arah. Jadi maukah kamu membantuku dengan berpura-pura jika kamu mengenalku?' Aku sangat terpukul pada titik itu, tapi aku mencoba untuk tenang membalikkan wajahku dan benar saja, ada tiga orang pria berjarak 6 meter dari trotoar dan mereka menatap kita dengan intense! Kejadian itu benar-benar membuatku merasa baru saja dijatuhkan oleh batu beton yang besar."

Ada jeda beberapa waktu dari seberang telepon. Bakugou memijat pelipisnya, mencoba untuk meredakan sakit kepala yang tiba-tiba muncul. Lalu, orang itu menjawab. "Wow."

"Yah." Bakugou tertawa dengan nada datar. "Wow. Maksudku, apa kamu pernah mengalami hal seperti ini? Apakah kejadian ini biasa terjadi dimalam hari dan di persimpangan jalan?"

"Well.." orang itu berfikir sejenak, dan disitulah Bakugou baru menyadari jika orang diteleponnya bukanlah Kirishima. "Aku bekerja di perpustakaan dekat dengan kampusku, dan kami biasanya tutup pada pukul 7 malam. Jadi aku pikir hal itu biasa terjadi saat malam hari, terutama untuk seorang turis seperti yang kamu ceritakan tadi."

Yup, sudah dipastikan jika orang ini bukanlah Kirishima. Pertama, dia tidak pernah bekerja di perpustakaan. Kedua, suaranya tidak secempreng ini?!

Dan kalau tidak salah temannya bahkan tidak bisa membaca.

"Haah?! Ini siapa?!"