"Siapa ini?!" Desaknya, tiba-tiba merasa kesal karena harus mengulangi semua pembicaraan ke temannya nanti.

"Uhm.. aku, namaku Izuku." Orang itu menjawab dengan ragu-ragu.

"Hah, Deku? Aku tidak mengenalmu." Wajah Katsuki seketika menjadi datar. Suaranya berubah tanpa intonasi. "Dimana orang bodoh itu?"

"Izuku.. Dan aku tidak tahu siapa yang kau maksud." Katsuki bisa mengetahui jika laki-laki yang sedang berbicara dengannya berusaha untuk terdengar sopan, sebagai latihan saat nanti berhadapan dengan orang asing yang memiliki sifat yang sama.

Katsuki tidak terlalu peduli, apalagi setelah dia meluapkan semua emosinya ke orang asing. Dia tidak tahu menahu tentang siapa orang ini, bahkan berani sumpah dia belum pernah berkenalan dengan orang bernama Deku, lebih pentingnya orang ini bekerja di perpustakaan, seperti kutu buku. Sebaliknya, orang ini sudah pasti mengenal sedikit tentang dirinya. Meskipun itu bukan 100% kesalahannya sendiri, dia sangat kesal.

"Sepertinya… ini salah sambung?" Orang itu berkata dengan suara pelan.

"Oh, ya ampun aku baru tahu!" sarkas Katsuki, memutar bola matanya. "Aku tutup."

"Bentar!"

Keheningan terjadi.

"Apa?" Geramnya setelah beberapa saat.

"Uh, anu.." terdengar keraguan pada perempuan itu, jujur dia benar-benar sudah tak tahan untuk langsung mematikan teleponnya sampai orang itu mengatakan suatu hal yang membuatnya tertegun tidak percaya. "Apa yang terjadi setelahnya? Pada wanita itu?"

"Kenapa aku harus memberitahumu?" Geramnya, dia benar-benar cape pada titik ini.

"Karena..?" Izuku mencoba mencari alasan yang bagus. Dan tak berhasil. "Aku tidak tahu. Hibur aku?"

"Ga." Jawabnya cepat. "Beri aku alasan yang bagus."

"Itu karena.. Karena aku suka mendengar orang bercerita, dan yang tadi kamu ceritakan-"

"Ya, itu yang kamu lakukan." Katsuki menyela. "Kamu mendengar semua yang kuceritakan bukannya memberitahuku jika aku menelepon ke nomor yang salah seperti yang biasa orang lain lakukan."

"Ka- karena aku akan kehilangan kesempatan yang langka jika aku memberitahumu ditengah-tengah cerita!" Izuku tergagap. "Lagipula kamu terus berbicara tanpa jeda jadi aku tidak tahu apa yang harus aku katakan! Jadi, maksudku.." orang itu terdiam sejenak, terdengar dia menghela nafas. "Maafkan aku? Aku hanya ingin tahu apa yang terjadi."

"Kenapa."

"Karena aku mendapatkan ide untuk bukuku!"

"Kenapa."

"Karena-"

"Kenapa."

Izuku terdiam sejenak. Pada percobaan keduanya, dia bertanya tak percaya. "Apa kamu terus mengucapkan kata 'kenapa'?

"Kenapa."

"Apa yang sebenarnya ingin-"

"Kenapa."

"Kenapa kamu terus mengucapkan kata Kenapa?!" Teriak Izuku dengan frustasi, dan Katsuki harus meredam tawanya saat menyadari betapa malunya orang itu rasakan.

"Kenapa kamu peduli?" Tekan Katsuki.

"Aku pun tidak tahuu! Mungkin karena aku khawatir dengan perempuan itu?!" Jawabnya putus asa. "Jadi.. Biasakah kamu memberitahuku? Tolonglah?"

Alis matanya terangkat keatas. "Kamu itu orang yang aneh, kau tahu itu?"

"Aku merasakan sentiment itu."

"Huh?"

"Orang-orang memberitahuku-"

"Aku tahu apa yang ingin coba kamu katakan, kutu buku." Katsuki mengusap mukanya, menghela nafas panjang. Pegas di sofa berderit saat dia merubah posisinya menjadi berbaring. "Jadi kamu benar-benar ingin tahu apa yang terjadi?"

"Banget, tolonglah?"

"Baiklah.." Jawabnya menyerah. Dia menjauhkan ponselnya saat mendengar orang itu berkali-kali mengucapkan kata terima kasih padanya. Disaat akhirnya dia tidak mendengar suara cemprengnya lagi, dia mendekatkan kembali ponselnya ke telinga. "Jadi tadi berhenti dimana ceritanya?"

"Seorang turis perempuan yang diikutin oleh 3 orang asing memintamu untuk berpura-pura jika kamu mengenalinya. Jadi.. apa kamu membantunya?" Izuku berkata dengan antusiasme layaknya anak kecil baru saja mendapatkan kabar jika dia akan pergi ke Disneyland. Entah mengapa Katsuki dapat memberikan gambaran samar dengan wajah dirinya sendiri melompat-lompat diatas kursi saat kecil dulu.

"Haah?! Tentu saja aku membantunya. Kau pikir aku menyuruhnya untuk pergi?" Katsuki merengut menatap langit-langit.

"Bukan begitu, aku belum terlalu mengenalmu, aku tidak-"

"Hanya karena sifatku yang pemarah bukan berarti aku seseorang yang benar-benar bajingan."

"Itulah yang aku harapkan. " Jawab Izuku, dan langsung mengoreksi ucapannya, "Maksudku, aku tahu kalau kita jangan menilai hanya dari penampilannya saja. Dan, um-, ucapan, dan… tindakannya..."

"... apakah menutup mulut adalah hal yang bisa kamu lakukan?"

"Aku- Iya."

"Bagus." Dengusnya. "Jadi lakukan."

Ketika sepertinya Izuku menempati janjinya, dia melanjutkan ceritanya.

"Jadi, aku melihat si bajingan mengikuti perempuan itu dan menyadari jika omong kosong ini bukanlah sebuah lelucon, jadi aku menganggukkan kepalaku dan mulai berjalan dengannya. Kita berada cukup jauh dari mereka untuk mendengar suara kita asalkan dengan suara yang kecil. Dia bilang kalau dia diikuti oleh mereka kurang lebih empat puluh lima menit yang lalu, merayu dengan kata-kata kotor padanya."

Selama dia berbicara, Izuku mengeluarkan suara 'humm' menandakan jika orang itu mendengarkan. Sebenarnya itu tidak mengganggunya, tetapi diwaktu yang sama, itu juga tidak sepenuhnya sesuai dengan definisinya untuk tutup mulut.

Walaupun begitu, dia hiraukan.

"Dia bilang sudah terbiasa mendapatkan cat calling oleh pria yang tak dikenal jadi tidak begitu masalah baginya, tetapi sampai diikuti oleh mereka sangatlah menakutkan untuknya. aku yang berada disana seperti, eh anjir? Aku memang orang yang kasar dan bisa kurang ajar kepada siapapun, tetap aku bukan orang yang suka merayu perempuan dengan begitu rendahnya. Dan sekarang, yang jadi pertanyaannya kenapa kebanyakan pria melakukan hal menjijikan seperti itu. Apa yang akan mereka dapatkan setelah mengatakannya? Mereka pikir berteriak 'Hey sayang lihat burungku.' akan membuat para wanita berlutut dengan mata berbinar seakan hal itu adalah paling berharga?! Ya tuhan." Katsuki berguling kesamping, menyeimbangkan telepon di pipinya. "Maksudku, Aku tidak pernah berteriak tentang bagian badan pribadiku ke orang lain."

Izuku tertawa kecil, dan suara itu yang Katsuki langsung kaitkan dengan kata lucu, meskipun dia langsung menyangkalnya dengan cepat.

"Uhuh, disitu aku berjalan dengan perempuan itu selama kurang lebih empat puluh menit. Pada saat itu kami berada sekitar dua mil dari apartmentku berada, dan aku baru menyadarinya kalau aku harus berbalik arah menjauh dari apartment. Karena mau bagaimana pun, aku tidak akan mengajak orang untuk masuk kedalam ruanganku. Untuk membantu orang sekalipun. Jadi kuputuskan untuk berbelok menjauh, melewati pom bensin. Jalanan sudah sangat sepi, tak terlihat adanya orang lain selain kita dan ketiga bajingan itu. Dan saat itulah mereka memutuskan untuk bertindak."

"Apa yang terjadi?" Izuku bertanya, secara terang-terangan merasa takjub.

"Satu orang mendekatiku sementara yang lainnya berdiri sekitar 4 meter dari posisiku layaknya seorang pengecut. Pria itu tidak terlalu besar tetapi dua senti lebih tinggi dariku. Intinya dia berkata padaku 'Kami tahu kamu tidak tahu siapa dia, jadi lebih baik mundur dan berhenti menjadi seorang kesatria.'" Izuku terkesiap, dan Katsuki menyeringai lebar. "Dan sekarang aku benar-benar marah. Aku, seorang kesatria?! Aku bahkan tidak tahu apa itu kesatria! Bacotan apa itu! Dengar, aku mengalami hari yang begitu panjang, dan aku cape. Jadi maklumi saja tanpa pikir panjang aku langsung meninju tenggorokannya, sambil berteriak 'mati kau, bajingan! Karena, kau tahu, itu adalah kata-kata yang biasa aku gunakan. Dan, ibuku berpesan, kalau aku harus menjadi diriku sendiri.. so yeah. I become myself. A beast."

"Oh tuhan." Izuku tertawa kencang. Katsuki mengira struktur bangunannya yang bergetar sebagai balasan dari tawa kencang orang itu, hingga dia menyadari jika dialah yang terguncang. Suara yang keluar dari mulut Izuku menggelitik badannya, menjalar bawah keatas menyentuh ubun-ubunnya. Membawa sensasi yang aneh.

"Huh.. perasaan apa ini?"