Sebatang Pocky Bercerita dan Menjadi Dua Batang

Disclaimer: DMM

Warning: OOC, typo, gaje, BL (boys love), dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan didedikasikan khusus buat grup Our Home.


#ShuuTou


Tanggal sebelas November merupakan kecantikan yang hanya mekar setahun sekali, entah itu indah dengan gebyar-gebyar promosi dari toko online, ataupun pocky day yang paling menggemaskan hati anak muda.

Bahkan koridor merasa aneh dengan Shimazaki Touson yang tumben sekali hanya sendirian, sehingga langkahnya terusir dan menjadi berkeliaran di pelataran sekolah. Jam istirahat itu sendiri masih lenggang, dan sepasang kekasih akan Touson lihat memperpanjangnya dengan saling membisikkan kasmaran. Kata siapa Touson cemburu? Justru dia lebih sibuk, ketimbang ciuman yang menyatukan dua dunia menjadi satu hati.

"Dazai mana, ya?" batin Touson yang tiada bosannya celingak-celinguk. Kata Kunikida Doppo ia melihat Dazai Osamu di sekitar sini–taman bunga warna-warni hasil mahakarya klub berkebun.

Mungkinkah Dazai sudah beranjak? Toh, yang akan berhasil membodohi teman-temannya hanyalah Touson seorang. Baru saja eksistensi Dazai dianggap nihil di taman ini, orangnya muncul yang juga menengok sana-sini. Dazai lebih dulu mendapati Touson. Berlari menghampirinya dengan layar imajiner berbentuk bunga-bunga merekah yang semerbak.

"TOUUUSONNN! TAU DI MANA AKUTAGAWA-SAN ENGGAK?! OH, ENGGAK. MAKASIH YA." Belum apa-apa sudah gila-gilaan berteriak, dijawab sendiri lagi. Bahu Dazai mati-matian ditahan. Andaikata Touson tak diam-diam membutuhkan sesuatu, ia pasti mengatakan hal kejam seperti, "Mustahil kamu menemukan Akutagawa-kun".

"Tunggu bentar, Dazai-kun. Lagian aku tau di mana Akutagawa-kun berada."

"IH. DI MANA?! KASIH TAU DONG." Air liurnya muncrat ke mana-mana. Nanti akan Touson berikan, ketika ia sukses mengambil barang yang harus lengah itu di tangan kanan Dazai.

"Pertama-tama, aku minta pocky punyamu." Tangan Touson terulur begitu saja. Bulak-balik netra emasnya memperhatikan kotak pocky rasa sakura yang ia pegang, wajah Touson, terus-menerus mempertahankan repetisi konyol seperti itu, menyebabkan Touson berbalik badan. Dazai yang kelabakan langsung menyerahkan pocky miliknya.

"Nih, ah, pocky-nya. Sekarang kasih tau aku di mana Akutagawa-san."

"Di hari Selasa dia ada di sekolah, Dazai-kun. Coba cari pada hari Selasa."

"Oh ... hari Selasa, ya? Ok deh. Makasih, ya, Touson."

Anggukan diberi sebagai jawaban. Penuh keriangan Dazai berpikir, ia dapat bertemu Akutagawa Ryuunosuke di hari Selasa, dan tidak sabar menunggunya tiba. Awal-awal Dazai masih menikmati siulannya, sampai akhirnya ia berhenti mendadak terpikirkan sesuatu. Memangnya di hari Senin, Rabu, Kamis serta Jumat, Akutagawa tak ada di sekolah apa? Merasa telah dibodohi Touson, kini dari langkahnya yang berlari Dazai seolah-olah menyemburkan api naga.

"AWAS LU TOUSON! BALIKIN POCKY AKUTAGAWA-SAN SAMA GUE!"

Di balik semak-semak Touson menertawai ketololan Dazai yang tanpa obat. Kebetulan pula Touson menemukan Tokuda Shuusei yang baru balik dari klub panah. Langsung Touson hampiri yang tanpa ba-bi-bu, menyerahkan sebatang pocky rasa sakura kepada Shuusei yang dahinya mengernyit.

"Aku penasaran dengan pocky rasa sakura. Cobalah."

"Makan sendiri aja. Aku gak apa-apa gak makan juga."

"Takutnya gak enak. Cuma satu lagian." Rasa-rasanya salah sekali Touson membodohi Dazai. Helaan napas lolos dari Shuusei. Memang seperti itulah Touson yang tak tanggung-tanggung menjadikan Shuusei kelinci percobaan, walau ia lebih penasaran dari manakah teman se-asramanya ini mendapatkannya? Namun, merasakan mata Touson lebih sayu, Shuusei akan menunda pertanyaan dan sangkaannya.

"Rasanya enak, kok. Gimana kalo kita ba–"

Ketika Shuusei sudah membelah pocky satu-satunya itu menjadi dua bagian, ternyata Touson sudah tak diam di tempatnya. Meskipun Shuusei menghela napas lagi, kali ini dadanya lebih lapang dan ia menghabiskan pocky pemberian Touson. Berniat membelikan Touson satu kotak sepulang sekolah nanti, daripada Touson mengambil punya orang lain yang kemungkinan besar korbannya Dazai.

"Permintaan maafmu kuterima. Lagi pula aku sudah memaafkanmu, kok."

Kemarin sore ketika Touson menontom video idol, ia berkata Shuusei harus bergabung, supaya ia belajar cara menjadi seseorang yang tidak membosankan. Shuusei yang biasanya sedemikian sabar mendadak marah. Ia bahkan menyuruh Touson terlelap di sofa, sampai-sampai merasa gengsi untuk menyelimuti Touson.

"Satu kotak lagi untuk Dazai, deh. Pasti dia mau merayakan pocky day bareng Akutagawa, ya."

Untuk Dazai juga, Shuusei akan menasihati Touson agar jangan mengulanginya, dan memberitahu jika Shuusei selalu memiliki maaf untuk Touson.


#AkuKume


Langkah Dazai mencak-mencak membuat lantai koridor menjadi korban keganasannya. Ketengilan Touson memang gagal dilacak eksistensinya, tetapi setidaknya pula Dazai beruntung sekali, tatakal menemukan Akutagawa turut menghampirinya.

"Akutagawa-san! Akhirnya ketemu juga." Syukurlah masih sempat, walaupun Dazai agak sibuk mengubrak-abrik isi tasnya untuk menemukan pocky cadangan. Seperti biasa tinggal satu. Ia khilaf dengan memakannya terus-menerus.

"Siang, Dazai-kun. Kebetulan aku juga nyari kamu."

Hati Dazai menjadi merah, kuning, dan hijau, di sebuah langit dalam dadanya yang bukan lagi biru, melainkan berwarna pelangi. Ramalan zodiak bahwa gemini bernasib sial di hari Rabu tampaknya wacana semata. Lupakan saja perihal Touson. Buktinya Akutagawa mencari Dazai begitu pun sebaliknya–ia sudah cukup untuk disebut sebagai manusia paling beruntung.

"Eh ... beneran? Ada perlu apa? Aku juga nyari Akutagawa-san." Malah setiap hari Dazai melakukannya, apalagi semenjak mereka beda kelas, usai naik dari tingkat satu. Akutagawa tersenyum canggung. Tangannya memberikan gestur mempersilakan Dazai.

"Duluan aja."

"Enggak. Akutagawa-san duluan aja. Serius."

"Sebenernya ini penting, sih, buatku. Aku ..." Mata Dazai yang terus berbinar-binar membuat Akutagawa kagok. Sudah pasti Akutagawa mengajaknya duluan, atau jika tidak langsung pesan hotel buat haha hihi main gim analog.

"Aku boleh minta pocky-nya, enggak? Mau dikasih ke Kume."

Telunjuk Akutagawa bertemu dan berpisah berulang-ulang. Dengan tubuhnya yang minta dikubur Dazai memberikan pocky terakhirnya pada Akutagawa, lalu mantan gebetannya tersenyum riang sambil bilang terima kasih. Melupakan Dazai yang sebenarnya stres dan ingin mabuk-mabukan, Akutagawa pergi mencari Masao Kume yang ternyata baru balik dari toilet. Kume langsung kebingungan menemukan Akutagawa mesem-mesem.

"Ada apa, Akutagawa-kun?" Sifat psikopat Akutagawa tidak kambuh, 'kan? Sudah cukup Kume trauma dengan Akutagawa yang senyum-senyum, sewaktu menonton horor di bioskop. Tanpa memahami keresahan Kume, sebatang pocky Akutagawa sodorkan. Ujungnya langsung ia gigit, dan telunjuknya menunjuk-nunjuk agar Kume mengikuti.

"Aduh. Kok dia tiba-tiba ajakin main pocky game, sih? Kiamat ini, mah."

Daripada malu tujuh tanjakan dan turunan, Kume lebih dulu menengok kanan-kiri memastikan keadaan. Merasa atmosfer cukup kondusif Kume perlahan-lahan mendekat. Menggigit ujung yang lain yang tak dilapisi cokelat, membuat bibirnya makin gemetar. Kata Kikuchi Kan, tentu saja Akutagawa bukan psikopat. Akutagawa hanya terlalu senang dengan dunianya yang dapat memiliki Kume dari dekat, ditambah lagi ia bisa sekaligus menjalankan hobinya.

"Gawat ini, mah, gawat. Mana makin deket lagi. Aku gak akan bisa melihat hari esok. Jangankan besok. Abis ini aja belum tentu napas. Hidup-matiku buat Akutagawa-kun, dong, tapi kok kesannya enggak romantis, ya. Malah serem ba–"

Saat netra Akutagawa semakin biru untuk violet yang bersiap memekarkan lembayung musim semi, dan Akutagawa membiarkan debar jantungnya terdengar dengan terus menatap Kume, bogem mentah tiba-tiba meluncur dari Kume tanpa alasan jelas. Kume berteriak, "SETAN!" memenuhi seisi koridor. Bukannya dikejar Akutagawa justru terpana, mengagumi betapa anggunnya Kume yang berlari-lari seperti itu, macam mengenakan gaun sutra ala princess.

"Ayo kita main kejar-kejaran, Akutagawa-kun. Taman Amarphopallus titanum-nya indah banget."

Begitulah kira-kira khayalan Akutagawa, membuatnya ingin berkata:

"Bener, ya, kata Ango-kun. Harusnya aku gak kebanyakan nonton horor sama baca creepypasta. Sekarang wajahku jadi horor di mata Kume."

Iya. Enggak nyambung memang, tetapi yang penting Akutagawa bahagia.

Sebenarnya pula Kume berlari ke arah kelas. Mengambil sebutir permen ceri yang langsung buru-buru dimakannya, dan buru-buru juga ingin menghabiskannya. Kume memang bego. Harusnya ia makan kapan pun, jadinya selalu siap jika Akutagawa hendak bermain pocky games. Demi tanggal sebelas bulan sebelas ini Kume sampai membeli satu kantong, seolah-olah dia sanggup dicium 25 kali oleh Akutagawa yang masih bengong di depan toilet.

Kenapa harus makan permen? Maka Kume akan bertanya balik, bagaimana jika nanti Akutagawa pingsan? Akutagawa tidak bangun-bangun saking busuknya bau mulut Kume? Seenggaknya jika wangi, Akutagawa ikutan wangi gara-gara dia malas gosok gigi.

"Masao. Apa yang kamu lakukan di–", "Tunggu sebentar, Akutagawa-kun. Akan kuhabiskan permennya lebih dulu, terus kita coba lagi," potong Kume panik. Permennya serasa mati satu tumbuh seribu. Pundak Kume ditepuk lagi yang menyebabkannya tersedak, lalu batuk-batuk kesakitan.

"Saya Fyodor-sensei. Bukan Akutagawa. Mana teman-teman kamu yang lain? Kelasnya masih sepi, padahal jam istirahat udah selesai."

"Kalo itu–", "Mereka mau nge-prank Sensei dengan gak ada di kelas, soalnya hari ini Sensei ultah," jawab Dazai enteng, sambil memakan pocky ketiga rasa teh hijau. Sebelum tanggal sebelas, Dazai membeli semua varian pocky supaya ciumannya dan Akutagawa penuh rasa. Namun, apalah daya jika nasib tinggal nasib. Lebih baik ia mabuk pocky sambil menonton youtube. Jangan lupa kakinya naik ke atas meja.

Gara-gara jawaban Dazai yang terlalu jujur seisi kelas dihukum. Pusing bukan kepalang, karena pulang sekolah justru harus mengerjakan tugas sebanyak lima puluh nomor; dikumpul besok.

"Shuusei kerjain dari nomor satu sampai lima puluh, aku nomor 51."

"Tugasnya hanya sampai nomor lima puluh. Artinya kau tidak bantu ngerjain, dong."

Percakapan itu adalah milik Touson dan Shuusei, sementara Kume dan Akutagawa ...

"Maaf, ya, Akutagawa-kun. Tadi aku refleks meninjumu. Entar aku kerjain 35 nomor, Akutagawa-kun sisanya, deh. Gak usah pun gak apa-apa. Istirahat aja."

"Enggak apa-apa. Enak ditinju sama kamu. Rasanya kayak stroberi. Kalo gitu nanti aku istirahat di bahu kamu, ya."

Setidaknya berkat ulah Dazai mereka semakin lengket, walau jadinya ia babak belur dihajar satu kelas.


Tamat.


A/N: Ini bikinnya pas sore2, dan ga nyangka bakal bikin 2 pairing wakaka. entah gimana aku kepikiran pengen ShuuTou, jadi ya langsung gaskan bikin dan nanya2 dikid ke vira. maaf kalo pada OOC di fic ini. aku suka ShuuTou, dan semoga aku bisa bikin lagi kapan2. aku juga lagi demen akukume, jadi aku bikin akukume lagi tanpa sengaja. thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. mari bertemu di fic lainnya~