Boboiboy ️milik Animonsta Studios
.
Saya hanya meminjam karakter dengan berusaha tetap menjaga kehormatannya
.
.
.
《Scorch》
Bab 1 : Duri
.
.
.
Malam itu, Solar masih sibuk dengan percobaannya. Melakukan uji coba ilmiah memang sudah menjadi kebiasaan untuknya, tak kenal waktu mau siang ataupun malam, dia bisa melakukannya sampai waktu tidurnya tidak teratur. Kali ini dia menggunakan bunga mawar sebagai objek percobaannya. Bunganya belum terlalu mekar, karna itu dia ingin mencoba menumbuhkannya dengan cairan buatannya.
Setelah beberapa lama, bunga itu mulai tumbuh dan menjadi mekar sepenuhnya. Senyum Solar juga langsung mengembang saat melihatnya.
"Bunganya sangat cantik..."
Solar terkejut dan menoleh ke belakang. Matanya melihat-lihat ke sekeliling kamarnya. Bukan, bukan Solar yang mengatakan itu tadi. Sepertinya itu suara orang lain, tapi Solar yakin kalau dia hanya sendiri di kamarnya.
Solar mencoba meyakinkan kalau itu hanya khayalannya saja, dia memilih mengabaikannya.
"Bunga mawar itu kesukaanku. Maukah kau membuatnya lagi?"
Suara itu terdengar jelas. Sekarang Solar yakin kalau itu bukan khayalannya.
"S-siapa yang bicara sih?" Tanya Solar.
"Aku."
"Ah!" Solar terkejut dan hampir saja jatuh dari kursinya.
Seorang anak laki-laki tiba-tiba muncul di hadapannya dengan senyum lebar tanpa merasa bersalah.
"S-siapa kau?" Solar mencoba berbicara walau tubuhnya masih bergetar.
"Namaku Thorn." Orang itu memperkenalkan dirinya.
"Kenapa kau ada di kamarku? Kau penyusup ya?!" Solar mulai merasa kesal.
"Eh bukan, aku hanya ingin melihat bunga mawarmu, tidak ingin berbuat jahat kok," jawab anak yang bernama Thorn itu.
Solar memasang muka heran. "Tapi tetap saja, masuk ke rumah orang tanpa permisi itu tidak baik!"
Thorn terdiam. "Ohh begitu ya, aku kira kau tidak bisa melihatku."
Solar mengernyit. Orang yang ada di depannya ini sangat aneh. Bagaimana tidak, penampilannya lusuh, di wajahnya ada beberapa luka bakar, bajunya robek dan kotor, tapi tingkah lakunya seperti anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Solar mulai berpikir, apa dia itu gelandangan?
Solar mencoba tetap tenang. "Kau ini darimana? Kenapa bisa tiba-tiba ada di sini?" Tanyanya.
Thorn terdiam sebentar. "Kalau aku memberitahunya padamu, kau pasti tidak akan percaya."
"Hah?"
"Ah, yang penting, kau harus melakukan eksperimen dengan bunga lagi, kalau bisa jangan bunga mawar saja, tapi bunga yang lain juga!" Thorn malah mengalihkan pembicaraan dan menunjukkan senyum lebarnya.
Solar terdiam sambil mencerna perkataan Thorn. "Baiklah, aku akan melakukannya besok. Pulang sana, aku mau tidur." Solar melangkah menuju tempat tidurnya.
"Oke." Thorn tersenyum melihat Solar yang sudah membaringkan tubuhnya.
Saat Solar tertidur, senyum Thorn jadi memudar. "Kau sudah lupa ya..."
.
.
.
"Wahh! Bunganya benar-benar mekar! Kau hebat!" Seruan Thorn di pagi hari membuat kamar Solar seolah-olah menjadi ramai.
"Yah... keinginanmu sudah terpenuhi kan. Sekarang, aku ingin pergi main." Solar mengambil jaketnya lalu melangkah menuju pintu.
"Eh? Kau mau main ke mana? Aku ikut!" Seru Thorn.
"Aku mau main dengan temanku. Kau tidak kenal mereka." Solar membuka pintu kamar.
"Tunggu Solar! Aku juga ingin jadi temanmu!"
Langkah Solar terhenti. Dia menoleh ke arah Thorn. "Kau tau namaku darimana? Seingatku aku belum pernah memberitahumu."
Thorn mulai kebingungan. "Ah... aku lihat di sini, ada namamu tertulis." Dia memasang senyum kikuk.
Solar terdiam sebentar. "O-ohh..." Solar melanjutkan langkahnya dengan keluar dari kamar.
"Tunggu!" Thorn mengikuti Solar sampai keluar rumah.
.
.
.
"Hei Solar!" Panggil pemuda bertubuh gemuk sambil melambai ke arah Solar. Solar segera menghampirinya. Teman-temannya yang lain juga ada di taman itu.
"Kenapa kau baru datang? Kami sudah lama menunggumu tau!" Keluh pemuda itu.
"Maaf Gopal, seperti biasanya, tadi aku eksperimen lagi," jawab Solar.
"Hmm... kebiasaan," timpal salah satu perempuan dengan rambut dikuncir dua, namanya Ying.
"Kau itu rajin sekali sih," sindir pemuda berambut ungu yang bernama Fang.
"Aku melakukannya bukan karna keinginanku, tapi... untuk temanku," jawab Solar. Thorn senang mendengarnya, Solar sudah menganggapnya seperti teman. Yah, walaupun belum tentu.
"Eh? Teman? Siapa temanmu itu?" Tanya Gopal.
Solar menunjuk ke arah Thorn yang ada di sampingnya. "Ini orangnya."
Teman-temannya terdiam dan heran.
"Hmm... kau menunjuk ke arah siapa Solar?" Tanya Yaya, perempuan yang memakai kerudung merah muda.
"Loh? Kalian tidak lihat? Dia kan ada di sampingku," balas Solar.
Mereka masih diam dan semakin bingung karna mendengar perkataan Solar.
"Dah gila dah budak ni," gumam Gopal.
"Tidak ada siapa-siapa di samping mu tau," balas Fang.
"Hah?"
"Kau halu ya?" Tanya Ying.
Solar masih tidak mengerti, kenapa teman-temannya berkata seperti itu. Yaya mencoba berpikir dengan baik dan bertanya pada Solar.
"Seperti apa temanmu itu?"
Solar memandangi Thorn dari atas sampai bawah. "Dia... memakai topi, bajunya robek, di sekujur tubuhnya banyak luka bakar," jelas Solar.
Perkataan itu membuat teman-temannya semakin heran. Mereka curiga, temannya Solar itu baik atau tidak, dari penjelasannya saja sudah terdengar aneh.
"S-siapa.. namanya?" Tanya Yaya lagi.
"Hmm..." Solar mengingat-mengingat perkataan Thorn saat memperkenalkan dirinya semalam. "Namanya Thorn."
Jawaban Solar membuat teman-temannya terkejut dan bisu seketika.
"Tuh kan halu," Fang masih mencoba berpikir positif.
"Thorn? Bukannya dia sudah..." batin Ying.
"Solar, apa dia memakai baju berwarna hijau?" Tanya Yaya lagi.
"Iya," jawab Solar.
Gopal bergidik ngeri setelah mendengar perkataannya itu.
"Kau ini kenapa sih? Thorn itu sudah meninggal! Tidak usah halu deh!" Timpal Fang dengan nada tinggi, itu membuat Solar kaget.
"Hah? Maksudmu..." Solar terdiam mencoba mencerna perkataan Fang.
"Iya, Thorn sudah meninggal," balas Ying.
"Kenapa kalian bilang begitu? Memangnya kalian tahu dia? Tapi darimana?" tanya Solar.
"Kami tau, pokoknya dia kan sudah mati."
Solar semakin terkejut. "Tapi, aku benar-benar melihatnya! Aku yakin dia bukan halusinasi!"
Daripada membiarkan temannya berdebat, Yaya mendekat pada Fang, Ying dan Gopal untuk membisikkan sesuatu. Mereka langsung paham dengan perkataan Yaya.
"Oy Solar, lain kali, kau harus hati-hati dalam memilih teman..." ujar Gopal.
"Memangnya kenapa?" Tanya Solar yang tidak mengerti.
"Kau tahu tidak? Di dekat sini ada sekolah terbengkalai yang pernah terbakar sekitar 3 tahun yang lalu," kata Gopal.
"Lalu?"
"Kabarnya, sekolah itu memiliki hantu yang berwujud seorang siswa dengan beberapa luka bakar di sekujur tubuhnya. Dia bukan hanya menghantui sekolah, tapi tempat-tempat di sini juga," Gopal memberikan isyarat kalau Thorn adalah orang yang dia maksud.
Solar bingung, tapi mungkin orang yang diceritakan Gopal adalah Thorn, jadi dia mencoba menebak. "Apa maksudmu, hantu itu adalah Thorn?"
"Kalau aku dengar dari rumor sepertinya dia itu hantunya, soalnya ciri-cirinya sama. Jadi jaga-jaga saja," ujar Gopal.
"Jadi kalian tahu dia dari rumor?" Mereka semua mengangguk.
Solar malah dibuat semakin bingung.
.
.
.
Sore mewarnai langit dengan warna jingga, menandakan bahwa matahari akan terbenam.
Solar melempar jaketnya ke tempat tidur lalu menatap Thorn dengan tajam.
"Ini apaan sih? Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kau adalah hantu! Aku hampir tidak percaya kalau aku bisa melihat hantu."
Thorn memandang Solar dengan santai dan berkata. "Habis kalau aku beritahu, kau tidak akan percaya."
Solar menepuk jidatnya pelan sambil menghela nafas. "Tapi kau tidak bisa menyembunyikannya terus kan?"
Thorn tersenyum kikuk.
"Mereka bilang kau itu hantu sekolah, apa itu benar?" Tanya Solar mencoba meyakinkan.
Thorn mengangguk. "Tapi aku bosan di sekolah terus, makanya aku ke sini, untuk mencari teman," terang Thorn.
Solar menatap Thorn dengan datar. "Dasar orang aneh."
"Kalau mau cari teman tidak usah menyusup ke rumah orang juga! Mentang-mentang hantu."
Thorn membalasnya dalam hati. "Itu hakku juga kan."
Solar penasaran, kenapa Thorn ingin berteman dengannya? Kenapa tidak dengan orang lain?
.
.
.
Semakin lama Thorn semakin aneh, dia jadi sering ke kamar Solar tanpa alasan yang jelas. Ya Solar tau sih dia itu hantu, bisa masuk ke rumah orang tanpa mengetuk pintu, tapi tidak sampai segitunya kan?
Walaupun begitu, Solar tidak pernah marah pada Thorn. Sebenarnya, Solar cukup terhibur dengan adanya Thorn, dia itu lucu-tapi aneh. Solar berpikir kalau dia punya saudara mungkin seperti itu rasanya, tapi dia tetap tidak tahu pasti karna dia anak tunggal.
Tapi terkadang, Solar agak terganggu dengan penampilan Thorn yang sangat lusuh, luka bakar itu membuat Solar ngeri melihatnya, ya dia mungkin agak jahat karna sudah memandang orang dari penampilannya, tapi setidaknya dia sudah berusaha untuk tidak mengutarakannya kan.
Orang-orang tahu kalau Solar sangat baik dalam memperhatikan penampilan, karna itu dia ingin memperbaiki penampilan Thorn yang lusuh itu, tapi mau bagaimana? Thorn itu hantu, berbeda dengan manusia.
Thorn membaringkan tubuhnya di dekat Solar yang sedang membaca buku. "Hhh... Solar... kasurnya enak sekali. Aku ingin tidur di sini. Boleh tidak?" Dia menggerak-gerakan tangannya di kasur dari bawah ke atas, seolah-olah membaringkan diri di rumput.
"Tidak boleh. Nanti aku tidur dimana?" Solar melarangnya, tapi matanya tetap saja memandang buku dengan lekat.
Thorn menjadi murung. "Lah... aku ingin coba sekaliii saja."
"Sekali apa? Nanti dikasih sekali malah mau lagi."
"Hmm.." Thorn menggembungkan pipinya.
"Memangnya kau tidak punya rumah apa? Kau kan sudah meninggal, kenapa tidak istirahat saja sih?" Solar memang jarang berpikir kalau ingin bicara, jadi bisa saja perkataannya membuat orang terluka.
Thorn terdiam. "Aku ingin, Solar. Tapi.. banyak hal yang harus kuselesaikan."
Solar juga ikut diam.
Thorn membuka pembicaraan lagi. "Solar, kau... punya saudara tidak?"
"Tidak," jawab Solar.
Ada perasaan aneh di diri Thorn saat mendengar jawaban dari Solar. Dia mencoba tetap tersenyum walaupun terlihat masam.
"Aku... punya adik, tapi... dia sudah melupakanku." Senyum Thorn memudar.
"Kok bisa?" Tanya Solar.
"Mungkin karna aku sudah mati." Thorn terkekeh.
"Masa cuma karna itu dia melupakanmu. Jahat sekali," balas Solar.
"Tidak, dia tidak jahat, dia memang tidak tahu apa-apa."
Solar menatap Thorn sebentar. "Aku tidak mengerti dengan masalahmu, rumit sekali."
Thorn tersenyum kembali. "Kau akan tahu kok."
.
Langit menjadi malam sepenuhnya. Semua orang mulai terlelap di tempatnya.
.
Mata silver milik Solar terbuka, dia melihat keadaan di sekitarnya. Terdapat bangunan bertingkat dengan koridor panjang dan pintu-pintu yang berjejer.
Dia menyusuri tempat itu sambil bertanya-tanya itu tempat apa, kenapa dia bisa ada di sini. Setelah melihat dengan teliti, dia tahu itu apa.
Sekolah.
Suasana di malam hari membuat bangunan besar manapun terlihat menyeramkan, Solar jadi tidak nyaman, dia ingin segera keluar dari sini. Tapi dia bingung, tujuannya hanyalah mencari pintu keluar, tapi dia belum juga menemukannya, mungkin karna sekolah itu cukup besar.
Kakinya malah mengantarkan dia ke ruangan yang penuh dengan peralatan listrik. Solar ingin pergi dari situ, tapi kakinya tidak bisa bergerak, dia seperti sedang membatu.
Suatu keanehan terjadi, tiba-tiba saja ada api yang muncul entah darimana dan apa penyebabnya, namun api itu menjadi besar dan membakar seisi ruangan. Api itu mendekati Solar, tapi anehnya dia tidak kena sama sekali.
Suara bising mulai terdengar di luar. Solar segera keluar. Dia melihat bangunan sekolah yang sudah dilahap api, cahayanya sampai menyinari langit di malam hari.
Solar langsung berlari mencari pintu keluar. Tapi saat pintu keluar sudah ditemukan, dia melihat seorang pemuda yang malah berlari ke dalam sekolah. Solar mencoba menghentikannya.
"Hei! Jangan masuk! Sekolahnya sudah terbakar!" Teriaknya.
Orang itu tidak mendengar teriakannya, dia tetap berlari ke dalam sekolah. Tubuhnya pun dilahap oleh api dan berubah menjadi hitam.
Solar merasa diseret dari belakang, pandangannya langsung jadi gelap seketika.
.
.
.
Solar terbangun, hidungnya mengeluarkan nafas tidak teratur. Dia sangat kaget, dia takut kalau itu menjadi kenyataan, tapi untungnya itu hanya mimpi.
Solar menenangkan dirinya. Saat itu juga Thorn datang mendekatinya.
"Solar, kau kenapa?" Tanya Thorn.
Solar menoleh. "Thorn? Kau masih ada di sini?" Thorn mengangguk.
"Aku... mimpi buruk," jawab Solar.
"Mimpi.. seperti apa?" Tanya Thorn.
"Itu sangat aneh. Aku berada di sebuah sekolah dan tempat itu langsung terbakar. Aku tidak mengerti." Jawaban Solar membuat Thorn kaget dan heran.
"Kau bisa menafsirkan mimpi tidak?" Tanya Solar.
Thorn terdiam sejenak. "Aku... tidak bisa menafsirkan mimpi," dia menjawab dengan ragu.
Solar merasa nada bicara Thorn seperti orang yang ingin menghindar dari topik pembicaraan, bukan karna dia tidak tahu.
Solar menunduk. "Tak apa, aku bisa tanya pada Gopal."
Thorn langsung memandang Solar. "Gopal... kurasa dia pasti tahu," batinnya.
.
.
.
Di luar itu...
"Solar bicara dengan siapa?" Seorang wanita bertanya kepada suaminya yang juga menempelkan telinga di depan pintu kamar milik Solar.
"Tidak tahu. Solar kan selalu sendiri di kamar. Wah, bahaya ini..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
First story dari author amatir, maaf kalau jelek :(
Kalau ada kesalahan, bisa berikan kritik atau saran. Terima kasih!
