Boboiboy milik Animonsta Studios

.

Saya hanya meminjam karakter dengan berusaha tetap menjaga kehormatannya

.

.

.

《Scorch》

Bab 2 : Sekolah

.

.

.

"Kali ini kau jangan ikut, aku mau pergi sendiri saja."

"Hmm.. oke."

Seorang pria menempelkan telinganya di pintu kamar Solar dengan sang istri yang menemaninya, mereka harap rasa penasaran mereka bisa terpecahkan.

"Tuh kan, anak ini kumat lagi."

"Lebih baik kita tanya saja."

Mereka membuka pintu kamar itu, di dalamnya ada Solar yang sedang duduk sendirian.

"Hai Solar."

"Ayah? Mama? Ada apa?" Tanya Solar.

"Seharusnya kami yang tanya padamu." Ayah Solar mendudukkan dirinya di samping sang anak.

"Belakangan ini kami sering mendengar kamu berbicara sendiri di kamar," kata ibunya.

Solar kaget saat mendengar perkataan orang tuanya, dia takut mereka akan berpikir macam- macam.

"Apa kamu sering membawa teman ke sini?" Tanya ibu.

"T- tidak," jawab Solar dengan agak gugup.

"Benarkah? Kamu tidak melakukan hal-hal yang aneh kan?" Sang ayah mendekatkan kepalanya ke arah Solar sambil menatapnya dengan tajam.

"I-iya." Solar menjauhkan dirinya sedikit dari ayahnya.

"Lalu apa? Kamu halusinasi?"

"Tidak. Mungkin kalian salah dengar." Solar membangkitkan tubuhnya dari kasur dan mengambil topi kesayangannya yang biasa dipakai saat bepergian.

"Eh? Kau mau ke mana? Ayah belum selesai bicara!"

"Mau pergi main!" Solar meninggalkan kedua orang tuanya lalu pergi dari kamar.

"Aish! Anak ini..."

"Sudahlah, mungkin ada hal yang harus dia sembunyikan. Lama- lama juga kita akan tahu kok," kata sang istri sambil menenangkan suaminya .

"Hmm. Bocah itu memang sudah besar ya..."

Mereka berdua meninggalkan kamar tanpa menyadari ada sepasang mata yang memandangi mereka dari tadi.

"Ayah, Mama..."

.

.

.

"Nih, bukunya." Gopal memberikan sebuah buku kepada Solar, si pemilik pun langsung menerimanya.

"Hmm, sama-sama. Lain kali kerjakan pr sendiri..." Solar memutar bola matanya dengan maksud menyindir, Gopal hanya terkekeh mendengarnya.

"Eh? Kau menyontek pr punya Solar?" Tanya Yaya pada pemuda bertubuh gemuk itu.

"Hehehe, iya."

"Hm, dasar pemalas!" Ejek Ying.

"Ngomong-ngomong, Fang di mana?" Tanya Solar.

"Entahlah, mungkin ada urusan dengan kakaknya," sahut Gopal.

Solar baru ingat kalau dia ingin cerita tentang mimpi buruk yang dialaminya tadi malam.

"Oh ya, aku ingin cerita sesuatu," kata Solar.

"Jadi semalam aku mimpi buruk. Aku sedang berada di sebuah sekolah, tapi tiba-tiba tempat itu langsung terbakar tanpa sebab dan saat aku ingin keluar dari sana, ada seseorang yang masuk ke dalam, dan saat itu juga tubuhnya jadi hitam karna terbakar..." terangnya.

Raut wajah ketiga temannya langsung berubah menjadi serius sekaligus terkejut.

"Mengerikan! Aku jadi ingat dengan sekolah terbengkalai itu. Ceritanya mirip, sama-sama terbakar." Gopal bergidik ngeri.

"Sekolah terbengkalai? Kau tau arti mimpiku, Gopal?" Tanya Solar yang tak sabar ingin mendengar pernyataan dari Gopal.

"Kalau dipikir-pikir, bisa jadi mimpimu ada hubungannya dengan sekolah itu," sahut Yaya.

"Memangnya apa yang ingin kau lakukan Solar?" Tanya Ying.

"Aku ingin cari tahu apa maksud dari mimpiku, makanya aku tanya pada kalian," jawab Solar.

"Ah!, itu kan cuma mimpi, lupakan saja!" Timpal Gopal.

"Iya sih, tapi entah kenapa aku penasaran dengan mimpi itu. Aku ingin tahu saja," balas Solar.

Solar melihat langit dengan perasaan tak tenang. "Hei Gopal, bagaimana kalau kita ke sekolah itu?" Matanya memasang ekspresi serius dengan penuh harap ke arah sahabatnya.

Gopal yang merasa takut menjadi panik dan pura-pura tak tahu. "Hah? Maksudmu sekolah yang tertinggal itu?"

Solar mengangguk. "Aku ingin tahu apa saja yang ada di dalamnya, kenapa dia datang di mimpiku."

Mereka kaget sekaligus khawatir mendengarnya.

"Kau mau ke sana? Kalau terjadi sesuatu denganmu bagaimana?" Tutur Yaya.

"Tak usah khawatir! Aku akan pergi bersama Gopal kalau kalian tidak mau." Solar mengalihkan tatapannya ke arah Gopal yang masih enggan untuk menurutinya.

"Jadi kami tidak dianggap ya." Ying menyilangkan tangannya di bawah dada dengan memasang wajah ketus.

"Kau yakin ingin ke sana Solar?" Gopal mencoba memastikan Solar dengan nada bicara yang mulai pasrah.

"Kalau kau tidak mau, aku bisa pergi sendiri." Solar melangkah satu kali dengan maksud meminta perhatian.

"Eh! Iya aku ikut!" Gopal mencegah langkah Solar dengan memegang pundaknya.

"Ok. Tapi aku harus ke rumah dulu untuk menaruh buku," ucap Solar.

"Tak usah! Minta tolong saja sama mereka..." Gopal mengambil buku yang ada di tangan Solar dan memberikannya pada Ying dan Yaya.

"Eh? Kenapa harus kami?" Tanya Yaya.

"Tolong taruh buku ini di kamar Solar, kami tidak ingin bolak-balik," Gopal terkekeh sambil berjalan mendorong Solar.

Ying memasang wajah kesalnya dengan mengejek. "Hm, memang pemalas!"

.

.

.

Sekolah terbengkalai itu terbilang cukup dekat dari tempat tinggal mereka, hanya saja kawasan di sekitarnya sepi karna tidak ada lagi yang mengunjunginya. Sekolah itu memang terlihat mengenaskan, bangunannya besar tapi semuanya terbakar habis. Pantas saja tidak ada yang berani melewati tempat itu. Solar bahkan tidak pernah melewati sekolah itu sebelumnya, makanya dia tidak pernah tahu, padahal jaraknya agak dekat dengan tempat tinggal mereka.

"Sekolah ini terlihat mirip seperti sekolah yang ada di mimpiku..." mata Solar tidak bisa lepas dari bangunan yang ada di depannya itu.

"Kau tidak takut apa? Dari luar saja sudah terlihat seram, apalagi di dalamnya..." Gopal memandang sekolah itu dengan tatapan ngeri.

"Lagipula... kenapa bangunannya tidak dihancurkan saja sih? Ini kan sudah bertahun-tahun, kenapa tidak ada yang peduli?" Gopal melanjutkan omongannya dengan ucapan protes yang hanya bisa diutarakan ke diri sendiri.

"Kalau dihancurkan 'kan butuh biaya juga, mungkin karna itu orang-orang tidak mau mengurusnya," balas Solar.

"Tetap saja, kalau ada hantu berkeliling bagaimana..."

"Seperti Thorn maksudmu?" Sahut Solar.

Gopal hanya diam dan tidak mengeluarkan kata-kata lagi.

"Aku ingin masuk ke sana." Solar berjalan semakin dekat dengan sekolah itu.

"Eh? Kau gila ya? Kita kan sudah lihat dari luar! Sekarang kita pulang saja!" Teriak Gopal.

"Tujuanku ke sini kan untuk memeriksa lebih dalam lagi. Kalau kau tidak mau ikut tidak apa, aku bisa pergi sendiri," balas Solar.

Gopal yang mendengarnya jadi berubah pikiran. Entah kenapa kata-kata yang dikeluarkan Solar malah terdengar seperti ancaman baginya. Dia pun mendekati Solar dan membuntutinya dari belakang. Mata Gopal tidak berhenti melihat sekelilingnya dengan perasaan takut, sungguh, bagian dalam sekolah sudah tidak asing lagi baginya, hanya saja, wujudnya sudah berbeda.

"Ini... benar-benar mirip dengan apa yang ada di mimpiku..." Berbeda dengan Gopal, Solar melihat sekelilingnya tanpa rasa takut.

"Huh... Solar, kenapa kau membawaku ke sini sih... itu kan cuma mimpi," protes Gopal.

Solar mengabaikan perkataan Gopal dan memasuki dirinya ke sebuah ruangan.

"Eh Solar! Kau mau ke mana?" Teriak Gopal yang masih ada di tempat dia berdiri. Solar tidak menjawabnya.

Tiba-tiba terdengar suara hentakan di dekatnya, Gopal terkejut. Dia menoleh ke belakang tapi tidak menemukan apa-apa. "S-siapa itu?"

Hentakan kaki itu semakin terdengar jelas, lama-lama jaraknya makin dekat dengan Gopal. Gopal merasakan suatu sentuhan dipundaknya, tubuhnya menjadi bergetar seketika.

"GYAAAA!"

.

.

.

Ying dan Yaya sudah meminta izin pada orang tua Solar untuk masuk ke kamar anaknya dengan tujuan menaruh buku. Mereka sudah menaruh bukunya. Bukannya langsung pergi dari kamar itu, Yaya malah menghampiri meja yang ada di dekatnya karna dia melihat sebuah bunga tertanam di atasnya.

"Lihat! Bunganya indah sekali!" Yaya memasang wajah kagum saat melihatnya.

Ying berjalan ke sampingnya. "Iya. Tapi kita harus keluar dari sini, ini kan kamar orang," ujarnya.

Yaya ingin menuruti perkataan Ying, tapi matanya tak bisa lepas dari benda-benda yang ada di sekitarnya, dia jadi ingin di sana lebih lama.

Ada sebuah kertas bergambarkan 6 orang sahabat yang tengah berpose di depan sekolah, dua di antara mereka sama-sama memakai topi.

"Ada Thorn..." Yaya memegang kertas itu, Ying ikut melihatnya.

"Apa Solar yang menggambarnya?" Tanya Ying.

Yaya hanya menaikkan bahu pertanda tak tahu, tatapannya tetap menempel pada kertas itu. "Apa mungkin... Thorn yang menggambarnya?"

Ying yang mendengarnya agak kaget dan tidak percaya. "Apa Thorn ada di kamar ini?"

"Thorn! Apa kau ada di sini? Kau bisa dengar kami tidak?!" Mereka melihat sekeliling kamar tapi tidak menemukan apa-apa.

"Yaya, Ying!"

.

.

.

"Kau ni! Kalau datang bilang-bilang dulu dong!" Gopal memarahi Fang yang ada di depannya.

"Ya maaf. Habis aku penasaran kenapa kalian ke sini, jadi aku ikuti saja..." jawab Fang dengan santai. Iya, orang yang mengagetkan Gopal tadi adalah Fang.

Gopal masih memasang wajah kesalnya.

"Eh tapi benar. Kenapa kalian ke sini?" Tanya Fang pada Gopal. Solar masih belum kembali dari tempatnya.

"Itu si Solar. Katanya dia bermimpi pernah ada di sekolah ini, makanya dia pergi ke sini untuk memecahkan rasa penasarannya," terang Gopal.

"Mimpi? Kau tidak memberitahu apa yang terjadi pada sekolah ini kan?" Tanya Fang lagi.

"Tidak. Dia malah meninggalkanku."

"Kalau dia tahu, dia pasti akan sangat terkejut, apalagi kalau kau cerita tentang bocah itu," Gopa mengangguki ucapan Fang.

"Pokoknya, kita sembunyikan saja dulu sampai waktunya tiba," ujar Fang.

Dari jauh Solar bisa mendengar apa yang dikatakan kedua temannya tanpa disadari oleh mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

.

.

.

.

.

Maaf ya kalau alurnya terlalu cepet, aku emang ga mau bikin ceritanya lama-lama, jadi pengen cepet-cepet ending. Maaf juga kalo updatenya lama/plak!

Tolong berikan review jika ada saran dan kritik.

Terima kasih dan sampai jumpa di chapter berikutnya!