Boboiboy milik Animonsta Studios
.
Saya hanya meminjam karakter dengan berusaha tetap menjaga kehormatannya
.
.
.
《Scorch》
Bab 3 : Rahasia
.
.
.
"Apa yang kalian sembunyikan?"
Suara dan bunyi langkah kaki itu membuat Fang dan Gopal terkejut. Raut wajah mereka berubah menjadi panik.
"S-Solar? Sejak kapan kau ada di situ?" Tanya Gopal.
"Sejak kalian bicara tentang itu," jawab Solar.
"Katakan, apa yang kalian sembunyikan dariku?" Tanya Solar dengan penuh penekanan.
"Fang nih! Sukanya main rahasia! Tanya saja sama dia!" Gopal berpindah ke belakang Fang lalu memegang pundaknya.
"Kenapa aku pula? Kau kan juga..." Fang membalasnya dengan pelan.
"Fang?" Solar menatap Fang dengan tajam.
"Ah, itu tidak penting, hanya hal biasa." Fang mencoba mengalihkannya.
Solar menatap mereka dengan ragu. Dia merasa mereka memang tidak mau menjawab karna dia tidak boleh tahu. Solar tau bagaimana cara agar mereka mau menjawab.
"Kalian kan tahu rumor tentang sekolah ini sejak lama, pastinya kalian tahu dong bagaimana sekolah ini bisa terbakar?" Solar mendekati kedua temannya.
"Kami tidak tahu sejauh itu," jawab Fang.
"Oh ya? Mungkin saja... insiden kebakaran itu terjadi karna korsleting listrik," Solar memasang wajah berpura-pura menebak.
"Eh?! Bagaimana kau bisa tahu?!" Karna teriakannya, Gopal langsung mendapat senggolan pelan dari Fang.
Mendengar jawaban Gopal, Solar jadi tambah semangat untuk memancing mereka berdua. "Kalau soal hantu sekolah bernama Thorn, kalian pasti sudah mengenalnya dari lama, bahkan jauh lebih kenal daripada rumor yang ada."
"Mestilah! Kita memang kenal dia!" Gopal berteriak lagi, Fang jadi tambah geram dengan teriakan temannya itu.
"Kau ini...!" Fang menatap Gopal dengan tajam, orang yang ditatap jadi tambah panik.
"Eh? Betulkah? Padahal aku hanya asal tebak..." Solar tersenyum asal.
"Huh... kurasa kau memang pintar," kata Fang dengan nada pasrah.
"Sepintar apapun kalian menyembunyikan rahasia, aku masih lebih pintar untuk mengetahuinya," Solar berkata dengan nada bangga.
Kedua temannya hanya memasang muka datar saat mendengar perkataan Solar.
"Sempat-sempatnya bicara begitu..." Gopal memasang wajah datar.
"Kalau begitu, ayo kita pergi."
Solar berjalan mendahului mereka, Fang dan Gopal berjalan di belakang Solar sambil mengobrol dengan pelan.
"Aku kira dia tahu semuanya. Kalau begitu aku tarik lagi ucapanku, dia tidak terlalu pintar," kata Fang.
"Benar, padahal masih banyak yang tidak dia ketahui... kkk," kekeh Gopal.
"Aku tau apa yang kalian bicarakan."
Fang dan Gopal langsung mematung. Mereka tidak berani bicara lagi setelah mendengar ucapan Solar.
"Orang ini susah sekali ditebak..." batin Gopal.
"Kurasa ini percuma, kita tidak bisa mendengarnya," ujar Ying pada Yaya yang masih bersikap optimis.
"Benar juga. Sepertinya kita tidak akan bisa bertemu dengannya lagi." Yaya menjadi murung. Ying juga memasang raut wajah yang sama.
"Lebih baik kita pulang saja." Mereka berdua berjalan menuju pintu.
"Eh? Tunggu!"
"Apa kalian tidak mendengarku? Tolong, untuk kali ini... aku ingin bicara dengan kalian..." Thorn mencoba mencegah Ying dan Yaya dengan berteriak.
Langkah mereka terhenti. Ying terdiam, dia membulatkan matanya.
"Yaya.. apa kau mendengar sesuatu?" Tanya Ying dengan serius.
"Dengar? Dengar apa?" Yaya bertanya balik.
"Suara itu! Suara yang tidak asing..." Ying memegang bahu Yaya.
"Kau mendengarku! Kau tahu aku Thorn kan?" Thorn memasang wajah berseri-seri.
Yaya terdiam, dia sangat terkejut.
"Thorn? Apa aku tidak salah dengar...?" Mereka menoleh ke belakang. Saat itu juga mereka sangat kaget.
"Thorn...?"
Si pemilik netra berwarna hijau melemparkan pandangannya ke arah Yaya dan Ying, senyum yang khas darinya juga tak lupa melekat di wajahnya.
"A-apa aku tidak salah lihat..." Yaya mengucek-ngucek matanya.
"Apa Solar memang menyimpan hantu di kamarnya?" Ying masih tidak percaya.
Dalam pandangan mereka, Thorn bukanlah orang yang asing. Mereka pernah melihat mata hijaunya, senyumnya dan juga sifatnya, tapi orang itu sangat berbeda sekarang, penampilannya kotor, ada luka bakar di wajahnya, mungkin mereka hampir tidak mengenalinya.
"Ini benar kan? Aku kira kami tidak akan bisa melihatmu lagi," ucap Yaya.
"Harusnya aku sudah pergi, tapi entah kenapa, aku kembali lagi ke sini karna ada beberapa hal," jelas Thorn.
Ying mencoba berpikir dengan tenang. "Itu berarti, kau masih memiliki masalah yang belum terpecahkan selama hidupmu." Thorn mengangguk.
"Kalau begitu, apa kalian mau membantuku menyelesaikan masalah itu?"
Solar, Fang dan Gopal sudah sampai di tempat biasa mereka berkumpul, tapi mereka tidak menemukan Ying dan Yaya di sana.
"Dimana Ying dan Yaya? Apa mereka belum kembali?" Solar melihat-melihat ke sekeliling taman.
"Padahal cuma kembalikan buku, tapi lama sekali..." celetuk Gopal.
Fang yang tidak mengerti akhirnya berbicara. "Maksud kalian apa? Memangnya mereka kemana?"
"Yaya dan Ying pergi ke rumah Solar untuk menaruh buku," jawab Gopal.
Solar tidak suka menunggu karna itu akan membuatnya bosan, dia ingin pulang ke rumah.
"Kalau begitu, aku ingin pulang saja." Dia membalikkan badan dan berjalan dengan pelan.
Gopal yang melihatnya langsung mendekat dan berkata, "aku ikut!"
Fang juga ikut dengan dua anak itu.
"Baiklah."
"Thorn, kau harus meletakkan itu di tas Solar."
"Untuk apa?"
"Pokoknya ikuti saja."
Suara dari kamar itu terdengar oleh ibu Solar yang niatnya mau mengetuk pintu. Dia mengernyitkan alisnya karna penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan oleh Ying dan Yaya. Dia pun mengetuk pintu.
Percakapan mereka langsung terhenti, Yaya pun membuka pintunya dengan pelan.
Ibu Solar menunjukkan senyumannya. "Apa kalian mau makan?" Tanyanya.
"Tidak. Kami hanya sebentar kok," jawab Yaya.
Ying mendekatinya dan membalas. "Kami sudah mau pulang, maaf kalau merepotkan."
"Baiklah."
Saat mereka keluar dari kamar, tiba-tiba ada Solar, Gopal dan Fang yang datang.
"Eh? Gopal dan Fang? Kalian ada mau apa ke sini?" Tanya ibu Solar.
"Sebenarnya aku mau bertemu Ying dan Yaya.." jawab Gopal.
"Kami sudah mau pulang," balas Ying.
"Kalau begitu, kita ikut pulang saja," ujar Fang.
"Kalian mau langsung pulang?" Tanya Solar yang langsung dibalas anggukan oleh mereka.
"Kalau begitu aku antarkan ke bawah ya," usul ibu Solar.
Mereka menuruti perkataan ibu Solar. Anaknya tidak ikut karna memilih untuk istirahat di kamar.
Sampai di lantai 1, ibu Solar teringat dengan sesuatu yang dibicarakan oleh Ying dan Yaya. Dia ingin menanyakan itu pada mereka. "Ying, Yaya."
Orang yang dipanggil menoleh.
"Maaf, aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian di kamar tadi. Kalau aku tidak salah dengar, sepertinya.. kalian sedang membicarakan Thorn, ya?"
Yaya dan Ying terkejut, Fang dan Gopal yang mendengarnya menjadi penasaran.
"Aku ingin bertanya. Apa ada sesuatu tentangnya?" Tanya ibu Solar.
Mereka terdiam sebentar sampai akhirnya menjawab dengan perasaan ragu.
"Sebenarnya..."
Yaya memandang ke arah teman-temannya.
"Kematian Thorn sudah berlalu 3 tahun yang lalu, kami memang sudah melupakannya, tapi... dia datang lagi," ungkap Yaya.
Ibu Solar masih kurang mengerti dengan apa yang dibicarakan Yaya.
"Maksudmu?" Tanyanya.
"Jadi maksudnya, Solar kan tidak ingat apapun tentang semua itu, makanya Thorn datang untuk memberitahunya," sahut Ying.
"Thorn... datang kembali?" Ibu Solar terkejut sekaligus bingung.
"Maksudnya Thorn menjadi arwah penasaran," ucap Gopal dengan nada santai.
Teman-temannya langsung memandang tajam ke arah Gopal.
"Eh? Aku benar kan?"
Raut wajah sang ibu berubah menjadi sendu. Dia teringat dengan Solar yang waktu itu sedang berbicara dengan seseorang yang tidak dia ketahui di kamarnya.
"Thorn menjadi arwah penasaran dan mencoba memberitahu sesuatu pada Solar? Pantas saja akhir-akhir ini aku sering mendengar Solar berbicara sendiri di kamarnya."
Mereka senang mendengarnya karna ibu Solar sudah mulai percaya, berarti masalah itu akan lebih mudah diselesaikan.
"Kita mencoba menyembunyikan ini selama bertahun-tahun, tapi sepertinya Thorn tidak akan tenang dengan hal itu," terang Fang.
"Solar bahkan bermimpi tentang insiden di sekolah itu, dan kami pergi ke tempat itu tadi," sahut Gopal yang langsung dibalas oleh anggukan Ying.
Ibu Solar membulatkan matanya. "Apa Solar... mulai tahu..?"
"Sepertinya begitu. Bagaimana kalau kita memberitahunya tentang Thorn dan insiden itu?" Yaya memberikan pandangan serius ke ibu Solar.
Sang ibu tersenyum kepada mereka.
"Kalau apa yang kalian katakan benar, lakukan saja. Mungkin sudah waktunya bagi Solar untuk mengetahui semua ini agar kita semua bisa tenang. Aku... tidak mau menjadi orang tua yang buruk, lagi."
Mereka melemparkan pandangan ke satu sama lain dan membalas senyuman wanita itu.
"Cepat atau lambat kami pasti akan memberitahunya."
Langit diselimuti oleh warna hitam yang berisikan bulan dan bintang. Thorn bisa melihat benda-benda langit yang bersinar pada malam hari melalui teleskop milik Solar. Dia tak bisa berhenti berdecak kagum saat melihat benda langit yang selama ini tidak bisa dijangkau oleh mata telanjangnya.
"Solar, kau tidak mau lihat langit yang indah ini? Ini keren tau!" Thorn mengalihkan pandangannya dari teleskop ke arah Solar.
"Tidak, aku sudah pernah memakainya," jawab Solar yang tengah asik membaca buku.
"Apa teleskop ini masih baru?" Tanya Thorn.
Solar mengangguk. "Aku akan memakainya untuk projek sains."
"Kalau aku jadi kamu, aku akan sering memakai ini untuk melihat langit, bintang, bulan, dan benda lainnya, tapi mungkin tidak akan bisa karna aku sudah tidak hidup." Thorn melihat ke arah langit dengan mata telanjang, dia menatapnya dengan kesedihan.
Solar mengalihkan pandangannya ke arah Thorn, dia merasa iba setiap kali melihat orang itu. Kenapa dia selalu bercerita tentang hal-hal yang sedih pada orang yang baru saja ia kenal? Kenapa Thorn tidak pernah bercerita tentang keluarga dan identitasnya? Solar hanya berharap Thorn bisa 'mati' dengan tenang walaupun hanya dibantu olehnya.
"Kau memang tidak hidup, tapi ingatanmu akan tetap hidup dalam diri orang yang menyayangimu, seperti keluargamu." Solar berharap Thorn bisa menjadi tenang dengan kata-kata yang dilontarkan darinya. Tapi nyatanya keadaan malah menjadi terbalik, Thorn bukannya menjadi tenang, dia malah semakin sedih lalu membalas kata-kata Solar.
"Tapi keluargaku sudah tidak ingat aku lagi."
Solar termenung saat mendengar jawaban Thorn. Dia mencoba menenangkannya lagi.
"Kalau begitu pergi ke keluargamu dan beritahu mereka. Tinggalkan saja aku," ujar Solar.
Thorn tersenyum dan melihat bintang di langit.
"Solar, kau pernah melihatnya tidak? Banyak bintang yang berjejer di langit, tapi kadang salah satu dari mereka menghilang atau tidak terlihat. Itu seperti kita yang selalu bersama, seperti keluarga, tapi salah satu anggotanya menghilang seperti bintang."
Solar mengernyitkan alisnya. "Aku tidak mengerti." Dia mendekati Thorn.
"Kalau begitu lihatlah," ujar Thorn.
Solar menuruti perkataannya dan mengarahkan pandangannya pada langit. "Wah.. benar katamu. Bintangnya indah sekali, mungkin kau adalah bintang itu Thorn, kau pasti akan bertemu dengan keluargamu lagi."
Solar rasa Thorn masih tersenyum sekarang, tapi saat dia menoleh kebelakang Thorn sudah tidak ada di dekatnya.
"Thorn?" Dia melihat sekeliling kamarnya, tapi tidak mendapati Thorn di sekitarnya.
"Thorn! Kau kemana?"
"Aku masih bisa melihatmu kan?"
Solar menyerah dan tidak bergerak mencari Thorn lagi, dia melihat ke arah langit.
"Apa kau sudah bertemu keluargamu?"
Solar merasa ada perasaan aneh di dalam hatinya, padahal dia tidak pernah merasakan ini sebelumnya.
"Harusnya itu bagus." Solar merasa ada sedikit air yang membasahi matanya.
"Tapi aku sudah menganggapmu seperti keluargaku sendiri, Thorn."
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
.
.
