Boboiboy milik Animonsta Studios
.
Saya hanya meminjam karakter dengan berusaha tetap menjaga kehormatannya
.
.
.
《Scorch》
Bab 4 : Terungkap
.
.
.
Pagi yang cerah melengkapi hari Solar dalam beraktivitas layaknya pergi sekolah. Kegiatan itu selalu terjadi setiap hari, sama seperti biasa, hanya saja, ada yang berbeda dari pagi ini, bukan pada kegiatan sekolah, tapi pada Thorn yang tidak hadir di kamarnya. Pagi ini memang cerah, tapi tidak secerah senyum Thorn yang selalu hadir di depan Solar.
Solar memandang bunga mawar yang ada di meja, bunga yang menjadi penyebab mengapa Thorn dan Solar bisa bertemu. Solar penasaran, Thorn ada di mana sekarang? Kenapa Thorn pergi begitu cepat? Dia bahkan tidak berpamitan dulu sebelum pergi. Solar pikir sudah waktunya ia melupakan Thorn dan membiarkannya pergi sekarang. Solar harus fokus sekolah dan jadi anak tunggal seperti dulu.
Pintu yang ada di depannya dibuka oleh ibunya, dia masuk ke kamar sambil membawa segelas susu dan roti untuk anaknya.
"Jangan lupa sarapan." Dia meletakkan benda itu di depan Solar.
"Kenapa dibawa ke sini? Aku kan bisa makan di bawah," kata Solar.
"Makan saja, ada sesuatu yang ingin kubicarakan," ujar Ibu Solar.
Solar segera melahap sarapannya agar cepat habis.
Sebenarnya ibunya agak ragu untuk berbicara, tapi mau bagaimana lagi, dia harus bicara tentang itu secepatnya. "Apa belakangan ini terjadi sesuatu padamu? Kalau ada, cerita saja," tanya ibunya dengan penuh harap.
Solar menatap ibunya sebentar sebelum menelan makanannya, lalu dia menjawab pertanyaan sang ibu.
"Terjadi sesuatu? Aku baik-baik saja."
Ibunya belum yakin dengan apa yang dikatakan si anak, dia pun bertanya lagi.
"Aku merasa ada yang aneh denganmu, Solar. Cerita saja, tidak usah ragu."
Solar tidak menjawab karna sibuk menggigit roti terakhirnya. Setelah sarapannya habis, dia langsung melihat jam tangannya.
"Aku.."
"Aku akan telat! Harus berangkat sekarang juga!" Dia mencium tangan ibunya dengan postur setengah berdiri, lalu keluar dari kamar.
Ibunya hanya bisa pasrah dengan perilaku sang anak, dia masih penasaran dengan Solar yang tidak bercerita apa-apa.
"Pasti berat jadi anak tunggal..."
.
.
.
Solar menjalani sekolahnya seperti biasa, semua berjalan lancar dari masuk sampai pulang. Sekarang waktunya pulang sekolah, Solar mengajak Gopal dan Fang untuk pulang bersamanya jalan kaki. Di tengah perjalanan, Fang hanya terdiam mendengar Gopal berceloteh panjang lebar, sementara Solar tidak menghiraukannya karna pandangannya kosong seperti sedang melamun.
Gopal yang menyadarinya jadi kesal, dia pun berteriak kecil di samping Solar. "Hey!"
Solar tersadar dari lamunannya dan menoleh ke arah Gopal. "Kenapa?"
Gopal memasang raut wajah kesalnya. "Dari tadi aku berbicara tapi kau tidak mendengarku!"
"O-oh, maaf."
Gopal memandang temannya heran, tidak biasanya dia jadi begini. "Kau kenapa sih? Dari tadi melamun terus. Memangnya kau sedang memikirkan apa?"
Solar terdiam sejenak. "Aku... aku penasaran dengan keadaan Thorn sekarang. Semalam dia pergi dan tidak kembali," jawabnya.
"Hah? Thorn pergi? Pergi ke mana?" tanya Gopal lagi.
Solar menghela nafas. "Aku tidak tahu. Baru saja semalam dia pergi dan sekarang tidak kembali lagi, tidak seperti biasanya."
"Ah..! Itu kan baru sebentar! Masa begitu saja dipikirkan sih?"
"Iya aku tahu. Tapi semalam dia sempat berbicara hal serius padaku, itu agak aneh. Nah setelah itu dia menghilang begitu saja, padahal aku belum sempat berbicara padanya."
Gopal terdiam setelah mendengar pernyataan Solar. Dia ingin berbicara sesuatu, tapi agak ragu untuk mengatakannya.
"Memangnya dia bicara apa?" kali ini Fang yang bertanya.
"Ah, kalau tidak salah ingat.. dia pernah bilang begini, 'Banyak bintang yang berjejer di langit, tapi kadang salah satu dari mereka menghilang atau tidak terlihat. Itu seperti kita yang selalu bersama, seperti keluarga," jelas Solar.
Fang terkejut, dia melanjutkan pertanyaannya. "Lalu kau jawab apa?"
"Aku bilang aku tidak mengerti. Tapi mungkin maksudnya dia menganggapku seperti keluarga? Kalau begitu sih, aku juga menganggapnya seperti keluarga," terang Solar.
"Hah? Kau hanya menjawab seperti itu? Kau tidak mengerti maksudnya?" tukas Gopal.
Solar memasang wajah heran. "Ya... memangnya kenapa?"
"Dia memang keluargamu!" ucap Gopal.
"Hah?" Solar semakin tidak mengerti. Gopal mengusap wajahnya pasrah.
"Kau itu memang pintar dalam pelajaran ya, tapi dalam masalah seperti ini.. tidak!" ejek Gopal. Fang hanya mengangguk mendengar ejekannya.
Mereka terdiam lagi dan fokus berjalan.
Keheningan mereka pun berakhir saat seseorang memanggil mereka dari kejauhan.
"Solar! Gopal! Fang!" orang yang memanggil mereka adalah Ying, dia ditemani oleh Yaya yang juga ikut berlari mendekati mereka.
"Ying? Yaya? Bukannya kalian sedang ada ekskul?" tanya Solar.
"Ekskulku dibatalkan secara tiba-tiba, makanya aku pulang lebih awal," jawab Yaya. Ying mengangguk dan mengikuti jawabannya.
"Baguslah, kita bisa pulang bersama." Solar membalas tanpa menghentikkan langkahnya.
Yaya menatap Ying seolah ingin bertanya tentang niatnya, Ying memberikan tatapan meng-iyakan.
"Mm.. Solar!" Solar langsung menoleh saat dipanggil oleh Yaya. "Kami ingin.. memberitahumu sesuatu."
"Beritahu apa?"
"Kurasa ada sesuatu yang sangat penting di tasmu, maukah kau menunjukkannya?" tanya Yaya.
Solar mengernyit heran, tapi dia tetap menuruti perkataan Yaya dan membuka tasnya itu. Dia menemukan suatu kertas yang terselip di antara buku-bukunya. "Apa ini?" dia tidak merasa pernah memasukkan sebuah kertas ke dalam tasnya.
Di kertas itu terdapat gambar 6 orang anak dengan sebuah sekolah di belakangnya. Solar membulatkan matanya, dia seperti teringat sesuatu, kepalanya menunjukkan bayangan tentang masa lalu yang sekarang sedang diputar.
.
"Kau sedang menggambar apa Thorn?" seorang lelaki berbaju putih muncul di samping Thorn yang tengah menggambar di kertas.
"Nih!" Thorn menunjukkan gambarnya ke orang itu. "Ini aku, kau, Yaya, Ying, Fang dan Gopal. Di belakangnya ada sekolah kita," lanjut Thorn.
"Jadi ini kita dan teman-teman? Kenapa kau menggambarnya? Kita kan bisa berfoto!" kata orang itu.
"Tak apa lah! Ini kan hasil tanganku, aku menggambarnya agar kau tidak lupa dengan aku dan karyaku," jelas Thorn.
"Aku ingin memberikan ini padamu, kau lebih pantas untuk menyimpannya." Thorn memberikan kertas itu pada lawan bicaranya.
"Eh, kenapa?"
"Anggap saja ini hadiah dariku. Kau selalu memberiku bunga, sekarang aku ingin membalasmu dengan memberi ini." Thorn menunjukkan bunga mawar sekaligus memberikan kertas itu pada lelaki yang ada di depannya.
"Terima kasih. Aku tidak akan melupakannya."
.
Bayangan di kepala Solar berhenti berputar, kepalanya menjadi agak sakit karna mengingat kejadian itu, dia meringis sambil terus memegang kepalanya.
"Hei, kau kenapa?" tanya Gopal.
Solar memberikan kertas itu kepada Gopal. "Tiba-tiba saja kepalaku menjadi sakit saat terlintas bayangan memori yang aneh."
Gopal menatap kertas itu dengan kaget. Dia melihatnya selama beberapa lama, sampai tidak sengaja melepaskan kertas itu terbang ke arah depan.
"Eh? Kertasnya lepas!" Solar mengejar kertas itu ke arah manapun benda itu pergi, Fang, Gopal, Yaya dan Ying pun mengikutinya.
"Kenapa kau melepasnya?!" Ying memarahi Gopal pada saat mereka sedang berlari.
"Aku tidak sengaja! Kenapa kalian bisa tau ada kertas itu di tasnya?" tanya Gopal.
"Kami menyuruh Thorn untuk memasukkannya ke tas Solar, kami ingin Solar ingat kembali dengan memori itu," jelas Ying.
"Hah? Jadi tadi itu disengaja?" Ying tidak menjawab pertanyaan Gopal karna fokus mengejar kertas itu.
Setelah berlarian agak lama, kertas itu pun terjatuh di suatu tempat. Mereka berhenti dengan napas yang terengah-engah. Solar mengambil kertas itu lalu melihat bangunan yang ada di depannya, ia terkejut.
"Sekolah itu..." Solar melihat kertas yang sedang dipegangnya, lalu melihat sekolah itu lagi.
"Sekolah itu.. mirip seperti yang ada di gambar ini," Solar masih bisa mengetahui bentuk sekolah itu walau bangunannya sudah agak rusak dan berwarna hitam.
"Benarkah?"
"Hei lihat! Ini gambar aku, kalian dan Fang kan? Bahkan Thorn juga ada! Apa kalian dan Thorn memang pernah dekat?" Solar menunjukkan kertas itu ke teman-temannya.
"Sekolah ini! Bukannya mirip seperti yang ada di gambar?" Solar mencoba meyakinkan mereka dengan menunjuk ke arah sekolah.
Gopal tersenyum kikuk. "Tapi sekolah ini kan sudah terbakar..." perkataannya menunjukkan keraguan.
"Kalau begitu aku ingin lihat lebih dekat." Solar masuk ke gerbang sekolah dan berjalan lebih dekat ke arah pintu. Dia mencocokkan gambar itu dengan yang asli.
"Ini memang sama." Solar menatap sekolah itu hampir tidak percaya.
"Teman, tolong jelaskan apa maksud dari gambar ini. Aku percaya Thorn berasal dari sekolah ini, tapi bagaimana dengan kalian?"
Mereka merasa masih ragu dan takut untuk berbicara pada Solar, tapi mau bagaimana pun, mereka harus bicara. "Kita.. memang pernah sekolah di sini, bersama Thorn, bahkan kau juga."
Solar kaget dan tidak menyangka dengan jawaban mereka, dia kembali bertanya. "Aku? Tapi aku tidak pernah ingat kalau aku pernah sekolah di sini, bahkan aku tidak tau."
"Kalau selama ini kau tidak tau, lalu.. kenapa kau tidak pernah bertanya tentang kehidupanmu di masa lalu?" tanya Ying.
Solar membulatkan matanya. "Aku... tidak pernah memikirkan tentang itu."
Yaya angkat bicara. "Solar, setelah melihat gambar itu, apa kau menyadari sesuatu?"
Solar berpikir keras. "Kita dan Thorn pernah sekolah di tempat yang sama, sepertinya waktu smp."
Yaya mengangguk, tak lama setelahnya Solar menyadari satu hal lagi. "Tunggu! Bagaimana kita bisa satu sekolah waktu smp, padahal aku kenal kalian pertama kali saat kelas 10?"
"Kau hanya ingat saat kita kelas 10, padahal sebenarnya, kami sudah mengenalmu jauh sebelum masa itu," ungkap Yaya.
Solar menjadi bingung, kenapa tiba-tiba temannya membicarakan sesuatu yang tidak pernah ia tahu. Fang mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sesuatu kepada Solar.
"Kami selalu merahasiakan ini darimu, tapi kali ini aku akan menunjukkan beberapa foto padamu." Fang memperlihatkan handphonenya kepada Solar. Di sana ada beberapa foto yang menunjukkan keakraban mereka saat masih kecil, bahkan ada Thorn juga.
Foto pertama : Solar, Thorn dan Gopal sedang duduk di kedai coklat.
Foto kedua :Solar, Thorn, Gopal, Fang, Yaya dan Ying sedang bermain di taman.
Foto ketiga : Mereka berfoto bersama orang lain saat masa kelulusan sd.
Foto keempat : Potret mereka saat pertama kali masuk smp.
Foto kelima : Potret mereka saat sekolah sedang mengadakan karnival.
Solar terkejut, ia tidak pernah menyangka kalau ia sudah dekat dengan mereka dari dulu, ia bahkan tidak ingat dengan foto-foto itu, dengan semua memori itu. Kalau itu semua benar, lalu kenapa ia tidak pernah ingat? Kenapa ia tidak pernah penasaran dengan kehidupannya di masa lalu? Kenapa ia tidak ingat dengan sekolahnya yang dulu? Kenapa orang tuanya tidak pernah menceritakan apapun tentang masa lalunya?
"Mungkin banyak memori yang kita lupakan di masa lalu, tapi mau bagaimanapun, kita pasti akan berusaha untuk mengingatnya."
Tiba-tiba terputar bayangan seperti tadi di kepala Solar.
.
"Solar, bagaimana kalau kita sudah tua nanti? Atau salah satu dari kita terkena amnesia? Apa kita akan benar-benar lupa dengan diri sendiri dan orang lain?"
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Aku bahkan tidak pernah memikirkan masa tua dan penyakit parah seperti itu."
"Aku sering menonton film yang dimana karakternya mengidap amnesia karna pernah mengalami kecelakaan. Bahkan aku pernah bertemu dengan orang yang mengidap amnesia secara langsung, dia tidak ingat dengan masa lalunya dan orang-orang yang ia temui waktu dulu. Ada juga yang menjadi lupa ingatan karna dia sudah semakin tua."
"Lalu apa masalahnya?"
"Aku hanya takut kalau kita melupakan kenangan yang pernah kita lalui bersama. Mau bagaimanapun, semua orang pasti akan mengalami yang namanya masa tua, saat dimana daya ingat bisa menurun."
"Kalau aku mengalami hal itu, aku pasti akan berusaha mengingat hal-hal yang pernah aku lupakan. Kau, aku dan kita semua. Mungkin banyak memori yang kita lupakan di masa lalu, tapi mau bagaimanapun, kita pasti akan berusaha untuk mengingatnya."
"Aku harap kita akan bisa mengingatnya, cepat ataupun lambat, yang penting kita sudah berusaha untuk mengingatnya."
.
"Solar? Kau kenapa?"
Solar tersadar kembali dari bayangannya, dia langsung menjawab. "Kalau itu semua benar, lantas.. apa yang terjadi pada Thorn dan aku?"
Pertanyaan Solar membuat teman-temannya saling memandang. Mereka sudah siap untuk memberitahu banyak hal.
.
.
.
Solar sudah pulang ke rumahnya, dia memanfaatkan kesempatan untuk masuk ke kamar orang tuanya yang sedang kosong dan membuka lemarinya diam-diam. Di dalam lemari itu terdapat laci kecil yang berisikan file-file penting. Dia mencari sebuah kertas yang bertuliskan "Kartu Keluarga". Saat kertasnya ditemukan, dia langsung membaca nama-nama keluarganya.
Alangkah kagetnya ia saat mendapati nama Thorn berada di atas namanya. Dia terdiam dan tidak bisa berkata apa-apa, ia seperti tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.
.
"Thorn, dia siapa?"
"Namanya Solar, dia saudara kembarku. Kata mama, aku lahir 6 menit lebih dulu darinya," terang Thorn.
"Tapi dia sangat berbeda darimu. Dia terlihat pendiam."
"Ah, kalau di luar dia memang begitu kok, tapi kalau sudah kenal, dia tidak diam lagi," balas Thorn.
.
"Thorn? Saudara kembarku...?"
.
.
.
tbc
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
maaf kalau updatenya lama banget.
semenjak sekolah mulai saya jadi makin sibuk, soalnya tugas terus berjalan tiap hari :(
btw, gimana yang tebakannya benar?
