Boboiboy milik Animonsta Studios

.

Saya hanya meminjam karakter dengan berusaha tetap menjaga kehormatannya

.

.

.

《Scorch》

Bab 5 : Terakhir

.

.

.

"Thorn? Saudara kembarku? Tapi selama aku melihatnya, wajahnya tidak terlalu mirip denganku..." yang Solar tahu hanyalah wajah Thorn dengan luka bakar yang selalu dia lihat, dia tidak pernah melihat Thorn dengan wajah aslinya, jadi pantas saja kalau dia tidak tau. Kalau Thorn tidak punya luka bakar di wajahnya, pasti Thorn sudah terlihat mirip dengannya.

Saat Solar sedang terdiam di tempat, ibunya tiba-tiba datang, ia heran dengan posisi Solar yang seperti itu. "Solar? Kau sedang apa?"

Solar tersadar dari lamunannya. Saat tahu ibunya sudah muncul, ia langsung menghampirinya dan menunjukkan kertas itu. "Aku sudah membaca kertas ini. Aku sudah tahu tentang Thorn."

Ibunya terkejut setelah mendengar pernyataan anaknya, dia bertanya. "Kau membongkar lemari untuk melihat ini?"

"Jadi aku bukan anak tunggal ya? Sebenarnya aku punya saudara kan?" Solar bertanya dengan penuh penekanan.

Ibunya hanya terdiam karna takut untuk menjawab, tapi Solar tahu kalau diam itu menandakan jawaban iya.

"Kenapa mama tidak pernah cerita padaku? Kenapa kau merahasiakan ini dariku?" Pertanyaan Solar dibalut oleh emosi. Dia merasa kecewa dengan ibunya yang tidak pernah cerita tentang Thorn.

"Aku.. tidak ingin membuatmu sakit hati."

"Sakit hati bagaimana?"

"Aku.. tidak ingin kau tahu bahwa saudaramu sudah meninggal, Solar."

"Tapi aku tidak suka sesuatu yang disembunyikan! Aku hanya ingin, mama memberitahuku. Aku tidak peduli apa itu akan membuatku sakit hati atau tidak. Yang aku mau hanyalah... kau memberi tahuku..." Solar berusaha menahan air matanya agar tidak keluar, ia hanya berani menunjukkan amarah.

Ibunya hampir menangis. Ia ingin memberitahu alasan lain tapi belum berani untuk mengatakannya.

Saat itu ayahnya datang dan langsung menghampiri mereka. Ia terkejut saat melihat istri dan anaknya sedang berhadapan dengan mata yang berkaca-kaca.

"Solar? Mama? Ada apa?" Dua orang itu tidak menjawab pertanyaannya. Ia pun melihat kertas yang dipegang Solar, saat itu ia langsung tahu kenapa mereka menjadi berdebat.

Solar menatap ayahnya. "Ayah, aku sudah tahu siapa Thorn, dan siapa aku sebenarnya."

Solar berdiri dan bertanya. "Aku heran, kenapa kalian tidak pernah cerita tentang Thorn dan kematiannya? Kenapa kalian merahasiakannya dariku?"

Ayahnya terdiam sebentar, tak lama ia pun menjawab. "Kami tidak ingin membuatmu sakit hati."

"Hanya karena itu?"

"Kami tidak hanya memikirkan dirimu Solar, kami.. juga memikirkan diri sendiri. Kami tidak ingin mengingat masa-masa kematian Thorn... dan insiden tragis saat kau kecelakaan," jelas ayah Solar.

Solar membulatkan matanya. "Kecelakaan...?"

Ayahnya mengangguk, ia pun menceritakan masa lalu Thorn dan Solar.


Saat itu sekolah menengah pertama Pulau Rintis sedang mengadakan karnival hari bumi. Thorn dan teman-temannya sedang mendekor tenda-tenda yang mereka bangun. Solar sedang mendekor salah satu tenda di dekat mereka, tapi ia merasa ada yang tertinggal dan lupa dibawa saat ia pergi ke sekolah. Dia pun menghentikan kegiatannya dan menghampiri teman-temannya.

"Teman-teman!" panggil Solar. Teman-temannya pun menoleh dan bertanya.

"Ada apa?" tanya Fang.

"Anu.. sepertinya ada beberapa barang yang tertinggal di rumah dan aku lupa membawanya. Apa aku boleh mengambilnya?" Tanya Solar.

"Memangnya kau boleh keluar sebentar dari sekolah?" Ying bertanya balik.

Yaya membalas. "Kalau sedang ada acara begini, biasanya kau boleh izin keluar sebentar, tapi jangan lupa kembali lagi."

Solar mengangguk. "Kalau begitu aku mau pergi sebentar, kalian lanjutkan saja beres-beresnya!"

Baru saja mau berjalan meninggalkan mereka, Thorn malah mencegatnya dan berkata, "Aku mau ikut!"

Solar menoleh ke arah Thorn. "Tidak usah. Lebih baik kau membantu mereka saja," ujarnya.

"Kau tidak mau aku membantumu?" tanya Thorn.

"Aku bisa sendiri! Kau disini saja, aku akan pergi sendiri dan kembali secepatnya." Solar mengacungkan ibu jarinya. Ia pun keluar meninggalkan sekolah dan pergi menggunakan sepeda.

Thorn kembali ke tempat teman-temannya. Dia melanjutkan kegiatan beberesnya. Setelah semuanya selesai diurus, dia mendengar suara teriakan dari dalam sekolah, terlihat beberapa orang berlari keluar dari dalam gedung.

"Ada apa?"

"Keluar!"

"Gedung sekolah mulai terbakar!"

"Api akan segera menyebar!"

Thorn membulatkan matanya. Gumpalan asap muncul dari gedung sekolah. Hampir semua orang termasuk teman-temannya menjauh dan melarikan diri, Thorn pun berlari mengikuti mereka.

Ada beberapa orang yang mencoba memadamkan api dengan alat seadanya, tapi banyak juga orang yang berkumpul di luar, salah satu dari mereka ada yang berteriak, "Aku baru saja menelpon pemadam kebakaran! Mereka akan datang!"

Walaupun begitu, masih ada beberapa orang yang sangat panik, mereka tidak melihat salah satu temannya berada di luar sekolah.

"Stanley mana? Dia tidak ada di sini!"

"Apa kalian melihat Stanley?"

Mereka menjadi berisik karna menanyakan keberadaan Stanley.

"Sepertinya Stanley masih ada di dalam sekolah!" Semua orang menjadi khawatir, mereka ingin mencari dan menolongnya, tapi itu bisa membahayakan diri mereka.

"Semuanya tenang! Lebih baik kita tetap di sini! Kita tunggu sampai pemadam kebakaran datang!"

"Pemadam kebakaran baru saja dipanggil, mereka pasti masih di perjalanan, kalau aku hanya menunggu sampai mereka datang, Stanley pasti sudah tidak selamat." Thorn sangat khawatir, ia tidak ingin diam saja dan membiarkan temannya menunggu, ia ingin menolongnya.

"Aku tidak bisa diam saja! Stanley sedang dalam bahaya, aku akan masuk dan menolongnya!" Thorn berteriak pada orang-orang di dekatnya, mereka pun terkejut saat mendengar perkataannya.

"Jangan gila Thorn! Kalau kau masuk kau akan membahayakan dirimu sendiri! Kita tunggu saja sampai damkar datang!"

"Aku tidak bisa menunggu sampai damkar datang! Stanley bisa tidak selamat!"

Thorn tidak menghiraukan perkataan mereka, ia pun berjalan memasuki sekolah. Banyak orang yang mencoba mencegahnya, tapi ia tetap masuk ke dalam sekolah.

Yaya yang melihatnya menjadi khawatir, ia pun langsung menelpon Solar untuk memberitahu keadaannya sekarang. Tanpa lama menunggu, Solar langsung mengangkat panggilannya.

"Yaya, ada apa?"

"Solar! Kau harus segera kesini! Sekolah... sedang kebakaran."

"Apa?! Kalian baik-baik saja?"

"Kami tidak apa-apa, kami sedang berada di luar sekolah, tapi Thorn... malah masuk ke dalam sekolah untuk menyelamatkan Stanley..."

"Thorn masuk ke dalam?!"

"Padahal kami sudah mencegahnya agar dia tidak masuk ke dalam, tapi ia tidak peduli. Aku harap kau bisa segera datang Solar."

"Kalau begitu aku akan segera datang!"

Setelah panggilannya berakhir, Solar pun langsung menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan sangat cepat menuju sekolah.

.

Saat Thorn sudah sampai di dalam sekolah, ia langsung mencari keberadaan Stanley. Dia mencoba menghindari api sebisa mungkin, walaupun dirinya sudah mulai batuk karna asap di sekitarnya, ia tetap berjalan dan mencari Stanley.

Akhirnya ia menemukan seseorang yang terlihat panik dan bingung di sana, orang itu adalah Stanley. Thorn langsung menghampirinya.

"Stanley!" orang yang dipanggilnya pun menoleh ke arah Thorn.

Thorn langsung menuntunnya berjalan melewati api. Jalan yang mereka lewati cukup panjang, pintu keluar masih belum terlihat. Setelah melewati jalan yang cukup panjang, Thorn berhenti dan membungkuk, sepertinya ia mulai menjadi lemas, ia terus terbatuk. Stanley mengajaknya untuk cepat keluar.

"Thorn! Kita harus cepat keluar!" seru Stanley.

Thorn masih membungkuk, ia sudah tidak kuat untuk berjalan ataupun berlari. "Stanley.. aku tidak kuat... lebih baik kau pergi sendiri..."

"Kita harus keluar bersama!" balas Stanley.

"Kalau aku keluar bersamamu, aku akan menjadi beban. Jadi... pergilah sendiri..." suruh Thorn.

"Tidak! Kau harus keluar juga!" bantah Stanley.

Thorn melihat ke atas, atap yang ada di sana akan rubuh menimpa mereka, ia melihat Stanley tidak menyadarinya. Saat atapnya mau terjatuh, ia langsung mendorong Stanley agar tidak terkena atap itu, tubuh Stanley pun terhantam keras dengan lantai. Saat itu juga atap yang ada di depannya terjatuh mengenai Thorn, tubuh Thorn tertimpa dan tertutup atap itu.

.

Solar masih mengayuh sepedanya di jalan. Dia sangat khawatir dengan keadaan Thorn, ia punya firasat buruk tentang Thorn, sepertinya terjadi sesuatu yang buruk pada Thorn, Solar merasa.. Thorn tidak bisa selamat.

Solar tak bisa fokus, ia tidak melihat jalan dengan benar, pikirannya hanya tertuju pada Thorn dan kebakaran, matanya menampilkan pandangan kosong.

Solar tidak sadar kalau ada truk dari arah sebelah yang akan melintas di dekatnya, ia tidak melihatnya. Truk itu sudah sangat dekat, sang supir yang melihat Solar ada di depannya ingin mencoba memutar setirnya, tapi apa daya, jaraknya yang sudah sangat dekat ditambah kendaraannya yang berat membuatnya tak bisa menghindar.

Saat Solar baru saja melihat truk di sampingnya, truk itu sudah cepat mengenainya, Solar terlempar ke dekat trotoar, kepalanya terbentur dengan keras, dia pun menjadi tak sadarkan diri.

.

Stanley mendekati Thorn yang tertutup atap rubuh itu, ia ingin menolongnya, tapi tidak bisa karna atapnya sudah terkena api. Stanley pun menjauh, ia menangis karna tidak bisa menolong Thorn.

Api mulai melahap lantai, mau tak mau Stanley harus pergi meninggalkan tempat itu, ia tidak bisa menyelamatkan Thorn.

"Maafkan aku, Thorn." Air matanya terjatuh seiring ia berlari melewati tempat itu.

Akhirnya Stanley sampai di pintu keluar. Damkar yang sudah datang pun langsung menghampirinya dan menanyakan keadaannya. Stanley memberitahu damkar kalau temannya berada di dalam, kemungkinan dia sudah terkena api. Beberapa damkar masuk ke dalam untuk mencari keberadaan Thorn. Orang-orang yang berada di luar menjadi lega karna melihat Stanley sudah keluar bersama damkar yang membantunya, tapi mereka tidak melihat keberadaan Thorn.

"Dimana Thorn?!" tanya Gopal.

"Kita tanya Stanley saja!" ujar Fang.

Mereka berempat pun langsung menghampiri Stanley dan bertanya, "Stanley! Dimana Thorn? Kau bertemu dengannya kan?"

Stanley terkejut, ia menjawab dengan takut. "Thorn... tidak bisa keluar..."

"Apa?!"

"Maafkan aku..." Stanley merasa sangat bersalah.

Tak lama mereka melihat beberapa damkar membawa jasad yang berasal dari dalam. Mereka yakin jasad yang dibawa itu pasti Thorn. Mereka pun langsung mendekatinya.

"Thorn!"

"Tidak..."

Damkar memberitahu kalau keadaan Thorn sudah sangat parah, tubuhnya hampir terbakar semua.

Mereka hanya bisa menangis dan terisak, menyesal tidak bisa mengubah keadaan.

.

Orang tua Thorn dan Solar mendapat berita yang sangat buruk, anak mereka mengalami kejadian yang sangat tragis, Thorn menjadi korban kebakaran, Solar kecelakaan. Mereka seperti ditusuk dengan ribuan panah dan ribuan pedang sekaligus.

Solar dilarikan ke rumah sakit, ia mengalami koma, tapi Thorn.. dinyatakan meninggal dunia.

.

Orang tua, kerabat, teman-teman dan semua orang terdekat Thorn datang ke pemakamannya, hanya ada satu orang yang tidak datang ke sana, dia adalah Solar, adik kembarnya, Solar masih mengalami koma bahkan di hari saat kakaknya sedang dimakamkan. Mereka sangat sedih akan hal itu, saudaranya sendiri, tidak bisa datang ke acara pemakamannya.

.

Sudah beberapa hari semenjak kematian Thorn. Orang tua si kembar itu datang ke rumah sakit untuk untuk menjenguk anaknya, Solar. Ia masih terbaring dalam keadaan koma, sang ibu duduk di samping ranjangnya sambil membaca buku, ia berdoa dan berharap anaknya bisa bangun secepatnya.

Beberapa menit kemudian, apa yang ia harapkan terjadi, Solar membuka matanya. Ia kaget sekaligus bahagia saat melihat anaknya sudah bangun. Baru saja ingin memberitahu suaminya, orang itu sudah dulu datang.

"Solar sudah bangun!"

Mereka berdua berdiri di samping ranjangnya sambil menatap anaknya dengan penuh kegirangan. Saat Solar sudah benar-benar sadar, mereka langsung memeluknya, si anak malah kebingungan. Mereka berdua melepas pelukannya karna ingin melihat reaksi sang anak.

"Kami sangat senang... kau sudah bangun."

Solar tidak membalas pernyataan mereka, ia merasa bingung saat melihat sekitarnya.

Orang tuanya heran, mereka pun bertanya. "Solar?"

Solar menatap mereka. "Kalian siapa?"

Mereka terkejut, bagaimana bisa Solar melupakan orang tuanya sendiri? Mereka pun bertanya pada dokter tentang apa yang terjadi pada Solar.

Dokter memberitahu kalau Solar mengidap Amnesia atau Lupa ingatan, hal itu disebabkan karna benturan di kepala yang Solar alami saat kecelakaan. Orang tuanya sangat sedih, mereka baru saja ingin memberitahu anaknya kalau Thorn sudah meninggal, tapi Solar malah mengidap amnesia.

Akhirnya mereka pun memutuskan untuk menyembunyikan kabar kematian Thorn agar Solar tidak menciptakan ingatan baru yang kelam di kepalanya.

Untuk melupakan dan menghilangkan masa lalu di pulau Rintis, orang tua Solar mengajak anaknya untuk pindah rumah. Mereka pindah ke luar kota dan menyekolahkan anaknya di sana. Teman-teman Solar sedih karna ia belum mengenali mereka, ia sudah lebih dulu pindah dari sana.

Tapi untungnya, satu tahun kemudian, Solar dan orang tuanya kembali untuk tinggal di sana. Solar sudah memasuki kelas 10 dan bersekolah di sana, ia bertemu dengan Yaya, Ying, Gopal dan Fang. Mereka sangat senang karna Solar bisa bertemu dengan mereka lagi, walaupun Solar tidak mengenali mereka sebagai teman masa kecil, setidaknya mereka bisa memperkenalkan diri sebagai teman barunya. Orang tua Solar meminta mereka merahasiakan masa lalu tentang ia dan Thorn, mereka menyetujuinya karna alasan yang jelas.

Beberapa tahun telah berlalu, mereka berhasil menyembunyikan semua rahasia itu dari Solar. Mereka pikir Solar tidak akan pernah tahu, tapi ternyata Thorn datang menjadi arwah penasaran, ia ingin memberitahu Solar, tapi apa yang bisa ia lakukan? Thorn pun putus asa dan menerima takdir bahwa ia tidak akan pernah diingat oleh Solar untuk selamanya.


Solar terdiam, ia tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar cerita dari orang tuanya. Solar tidak pernah menyangka kalau ia mempunyai masa lalu yang sangat kelam. Thorn datang padanya karna ingin memberitahu, tapi sekarang ia malah pergi tanpa menjelaskan apapun. Solar ingin bertemu dengan Thorn, ia ingin memberitahunya kalau ia sudah mengetahui semuanya.

Solar keluar dari kamar orang tuanya tanpa berbicara apa-apa, dia masuk ke kamarnya untuk mengambil kertas yang digambar Thorn, ia melihatnya sebentar, lalu pergi dari rumah. Ia berlari menuju sekolah lamanya yang sudah terbakar. Solar berharap ia bisa bertemu dengan Thorn di sana.

.

Setelah melewati jalan yang cukup panjang, akhirnya Solar pun sampai di sekolah itu. Dia berjalan melihat tembok-tembok di sekelilingnya, ia ingin tahu dimana tempat Thorn berdiri untuk terakhir kalinya.

Saat masuk ke tempat yang lebih dalam, ia bisa melihat hampir seluruh lantainya berwarna hitam karna pernah terkena api, Solar rasa itu adalah tempat yang diinjak Thorn untuk terakhir kalinya, tempat saat api melahap dirinya.

Saat melihat lantai yang ada di depannya, ia berkata, "Thorn, aku minta maaf karna tidak bisa menolongmu waktu itu, aku juga minta maaf karna tidak bisa datang ke pemakamanmu hari itu."

"Aku harap, kita bisa bertemu lagi, untuk terakhir kalinya." Solar tersenyum memandang lantai dengan pilu.

Ia keluar dari sana, berjalan dengan penuh harap agar Thorn bisa menemuinya.

Solar melihat ke depan, ia menajamkan matanya. Ia melihat seseorang sedang berdiri tak jauh darinya, sepertinya ia mengenali orang itu. Bajunya berwarna hijau, kepalanya ditutupi oleh topi berwarna hitam.

Solar membulatkan matanya. "Thorn?"

Karna orang yang dipanggil tidak menoleh, ia pun berlari mendekati orang itu. Saat tepat berada di belakangnya, orang itu menoleh.

Solar terkejut, orang itu benar-benar Thorn, tapi wajahnya sangat berbeda dari sebelumnya. Ia tidak memiliki luka bakar, wajahnya sangat mulus tanpa luka apapun, kalau begitu, wajah Thorn baru terlihat mirip dengan Solar. Solar benar-benar percaya kalau ia adalah saudaranya.

Solar berbicara dengan pelan, "Kakak...?"

Thorn membalasnya dengan senyuman. "Kau sudah tahu ya."

"Ternyata benar ya?"

Solar menunjukkan kertas yang ada di tangannya. "Kalau tidak ada gambar ini, mungkin aku tidak akan pernah ingat."

"Teman-teman kan yang memberikan gambar itu padamu? Ayah dan mama... mereka juga sudah cerita padamu. Kau harus berterima kasih kepada mereka," ujar Thorn.

"Tapi aku heran, kenapa mereka baru memberitahuku sekarang? Kenapa mereka tidak memberitahuku dari dulu?" tanya Solar.

"Mereka melakukan itu karna suatu alasan, mereka pasti tidak ingin menyakitimu," balas Thorn.

"Lalu kenapa kau tidak memberitahuku?"

"Aku punya alasan yang sama, ditambah kau pasti tidak akan percaya."

"Kau selalu mengeluarkan alasan yang sama! Bukankah aku pernah bilang, aku tidak suka sesuatu yang disembunyikan, apapun alasannya, beritahu saja aku!" Solar meninggikan suaranya. Thorn terdiam mendengarnya.

Solar menunduk. "Bodoh..."

"Aku sangat bodoh. Kenapa aku tidak bisa mengenali saudaraku sendiri, kenapa aku bisa tidak mengerti dengan semua kata-katamu..." Solar menunduk sambil menangis, ia memegang kertas itu dengan erat.

Thorn menyangkal, "Kau tidak bodoh, Solar. Pada akhirnya kan kau berhasil mengetahuinya, aku senang kau bisa mengingatku kembali." Thorn tersenyum.

"Solar... kumohon.. jangan buat ayah dan mama bersedih. Jangan salahkan mereka." Thorn memandangnya dengan serius.

Solar menegakkan kepalanya."Aku tidak marah pada mereka ataupun teman-teman."

Thorn mendekatinya dan memeluknya. "Apapun yang terjadi, jangan buat mereka bersedih, kau harus membuat mereka bahagia, tanpaku."

Solar menyesak. "Apa kau akan pergi?"

"Ingatanmu sudah kembali, karna itu.. aku harus pergi, sekarang," jawab Thorn.

Solar membalas pelukan Thorn. "Aku senang kau sudah bisa istirahat dengan tenang, tapi, aku juga sedih karna kau harus pergi meninggalkan kami."

"Aku ke sini hanya untuk menyelesaikan masalah itu. Setelah semuanya selesai, aku harus segera pergi." Solar hanya terdiam saat mendengar jawaban Thorn.

"Kalau pun kau tidak bisa melihatku lagi, kau bisa datang ke pemakamanku. Aku sangat ingin kau datang ke sana," lanjut Thorn.

Solar tersenyum walau ia yakin Thorn tidak bisa melihatnya. "Aku.. pasti datang."

Thorn memasang senyum untuk terakhir kalinya, ia mengucapkan "Terima kasih. Kalau begitu, aku bisa pergi sekarang..."

Solar memeluk Thorn dengan erat, ia semakin terisak karna air matanya terus mengalir. "Jangan lupakan aku."

Thorn membalas, "Aku tidak akan melupakanmu,"

"Selamat tinggal." ucapan yang keluar dari mulutnya itu malah menambah tangisan Solar.

"Selamat.. tinggal.."

Thorn menghilang dari pelukan Solar. Ia mulai menyeka air matanya dan memandang langit untuk merelakan kepergian Thorn.

"Thorn, aku harap... kita bisa bertemu lagi...suatu saat nanti."


Solar berada di pemakaman Thorn. Ia membawa sebuah bunga, itu adalah bunga mawar yang menjadi penyebab pertemuannya dengan Thorn di masa itu. Ia menaruh bunga itu di atas makam Thorn.

Solar tersenyum dan berkata, "Istirahatlah dengan tenang."

Solar pergi meninggalkan tempat itu. Ia lega karna sudah bisa menyelesaikan masalah Thorn, ia bahagia karna Thorn bisa istirahat dengan tenang. Ia, keluarga dan teman-temannya sudah bisa hidup dengan tenang sekarang.

"Terima kasih, Thorn."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

END

.

.

.

Terima kasih untuk semua orang yang mau membaca cerita ini sampai akhir. Maaf kalau fanfic ini kurang jelas dan terlalu cepat alurnya, karna niatnya fanfic ini hanya diketik dengan sedikit chapter, makanya cepat selesainya :"D

Buat semua yang sudah mengapresiasi ff ini, dan mau berteori untuk jalan ceritanya. Terima kasih banyak! Sampai jumpa semuanya :)