Thou Shalt Not Die doesn't Work for No Longer Human

.

All Bungou Stray Dogs Characters belong to Kafka Asagiri and Sango Harukawa.

.

Story by RyuuzakiAoi

.

I don't take any profit from this work

.

Dazai Osamu

Yosano Akiko


Nyatanya, 'Kematian tak akan menyentuhmu' tak bekerja padanya. Padanya yang selalu mengejar kematian. Pada seseorang yang menanggung kutukan 'Tak lagi manusia'.

Yang berhak menentukan hidup mati seseorang adalah Tuhan, bukan manusia. Sekalipun dia memiliki keistimewaan.

Yosano hampir kehilangan setengah dirinya saat ini.

Ia seperti terjebak dalam lubang hitam, dengan suara-suara yang terus bersahutan di telinga. Tangannya masih cekatan menahan rembesan cairan berwarna merah yang mulai menodai tangan hingga pakaiannya. Guncangan yang diakibatkan ketika ban mobil beradu dengan jalan yang berlubang menyadarkannya. Sontak berteriak pada sang pengemudi untuk lebih memperhatikan jalan.

Beberapa saat lalu, mereka berpencar untuk mengejar Fukuchi yang melarikan diri ke hutan. Kesialan bagi Dazai yang menemukannya pertama kali. Meskipun terluka parah, kemampuannya masih bisa bekerja. Material yang diciptakan Fukuchi berhasil menimbulkan luka tusukan fatal pada organ vital hingga Dazai berakhir seperti ini.

Bahu Yosano di tepuk sekali.

"Tenanglah, Yosano-sensei."

Yosano ingin seperti itu. Seharusnya memang seperti itu. Apabila seseorang terbaring sekarat di depannya, Yosano tak pernah merasa sefrustrasi ini. Ketika seseorang berada di ambang kematian dan berhadapan dengannya, takdir bisa saja sedikit dibelokkan.

Namun, orang ini berbeda. Keistimewaan yang dianugerahkan pada Yosano tak bisa membuatnya mencurangi takdir. Di tengah kekacauan dalam kepala Yosano, tangan kekar berbalut perban itu menggenggam pergelangan tangan sang dokter.

Sekeras apapun Yosano mencoba untuk menggunakan kemampuannya, semua sia-sia.

"Hentikan … Yosano-sensei …."

"Diamlah! Jangan banyak bicara! Kita akan sampai, kumohon bertahanlah."

Dazai tertawa pelan. Namun, rasa nyeri yang menguasainya membuat pria itu berhenti. Beberapa kali ia terbatuk, memicu kekhawatiran Yosano.

Yosano membungkuk dan menggenggam tangan Dazai, lalu mengarahkannya untuk menahan pendarahan di bagian perut bawah kiri. Derasnya aliran yang keluar menandakan bahwa luka itu berasal dari organ vitalnya.

Selama kita memiliki Yosano-sensei, kita bisa bertarung tanpa khawatir akan mati. Sekarat bagi Detektif Bersenjata artinya kembali pulih.

Ia benci ketika kata-kata itu bergaung dalam kepalanya. Karena kata-kata yang seharusnya benar setiap saat itu, kali ini keliru. Tak ada yang bisa ia lakukan selain berpegang teguh pada harapan. Harapan yang berwujud seutas tali yang rapuh dan bisa putus kapan saja.

Yosano tak pernah berharap kembali terjebak di saat seperti ini. Saat di mana ia tak merasa berguna sama sekali. Mereka selalu berkata saat-saat paling menjengkelkan dari menjadi seorang dokter adalah ketika kau mampu dan menguasai segala yang ada dalam tubuh manusia tapi tidak dapat melakukan apa-apa. Inilah yang ia rasakan saat ini.

"Kumohon … bertahanlah …," lirih Yosano.

Ia menumpukan kepalanya pada tubuh Dazai. Terdengar samar detakan yang semakin melemah di dalam sana, menandakan bahwa sedikit demi sedikit, energi kehidupan Dazai telah menghilang. Namun, Yosano masih berusaha menolak.

Dia akan bertahan. Itulah yang ada di pikirannya.

Dazai telah banyak mencurangi kematian bahkan menantangnya. Kali ini dia akan bertahan lagi.

Yosano sadar serapuh apa harapan yang ia pertaruhkan. Namun, meskipun tahu, ia tetap akan menggenggam tali rapuh itu dengan erat. Tanpa sadar genggamannya pada jemari Dazai mengerat. Ketakutan semakin menelannya dalam suasana kacau ini.

Keheningan mengudara dalam van yang melaju kencang tersebut. Kunikida menoleh ke arah jendela untuk mengalihkan pikiran yang kacau. Ranpo hanya membisu di jok depan. Tanizaki tetap berjuang agar bisa memangkas jarak lebih banyak lagi. Namun, ketiganya sadar akan tragedi yang menanti beberapa saat lagi. Hanya saja untuk mengatakan dan mengakuinya sangatlah sulit dilakukan.

Dengan sisa-sisa tenaganya, Dazai mengangkat tangan yang satunya dan menghinggapi puncak kepala Yosano.

Sesaat ia seperti terbawa ke masa lalu saat mengusap rambut berwarna gelap milik Yosano ketika terbangun di pagi hari. Mentari telah menginvasi ruangan dengan sinarnya, tetapi dua sejoli itu masih menolak untuk beranjak dari tempat tidur. Yosano menggeliat pelan, membuat Dazai menarik tangannya. Terdengar gumaman malas yang berasal dari perempuan berusia 25 tahun itu.

"Are? Sudah pagi? Kenapa tidak membangunkanku?"

Dazai mendengkus geli.

"Soalnya Yosano-sensei kalau tidur galaknya hilang. Jadi enak dipeluk," ungkal Dazai terang-terangan.

"Dazai, jika aku membunuhmu sekarang kau benar-benar akan mati," balas Yosano sarkas.

Dazai menanggapinya dengan kekehan kecil. "Benar juga, ya? Kemampuan 'Kematian Tak Akan Menyentuhmu' milik Yosano-sensei tidak bekerja padaku. Tapi akan menyenangkan jika Yosano-sensei bersungguh-sungguh ingin membunuhku."

Yosano mengganti pukulan yang hendak ia layangkan dengan gumaman mengumpat yang disusul kekehan kecil. Sang dokter balik menatap sepasang mata yang berwarna cokelat itu. Kemudian, ia mendengkus geli. Bisa-bisanya hanya dengan menatap sepasang mata yang kerap memancarkan sinar jenaka itu membuat jantungnya berdegup kencang. Ia lalu mengubur diri di dalam selimut, membuat Dazai bingung sesaat kemudian terkekeh kecil.

Dan lagi, Dazai kembali. Merasakan momen itu meski hanya dalam khayalan berhasil mengembangkan senyum Dazai. Namun, senyuman itu memudar ketika isakan Yosano menjadi pengisi hening di samping deru mesin. Pria itu tertegun. Mendengar perempuan yang ia anggap kuat itu menangis seperti gadis kecil membuatnya terluka pelan-pelan. Terus memohon agar dirinya tetap hidup dan bertahan.

Dazai menarik kepala Yosano dengan pelan hingga rapat di dadanya. Ia mencium puncak kepala perempuan itu dalam durasi yang cukup lama, mengendus aroma yang mengisi malamnya agar bisa terus mengingatnya sampai saat di mana seluruh memori dalam otaknya akan dikosongkan bersama jiwa. Dari celah kelopak mata yang tertutup, sebulir air mata mengalir mengarungi wajah sang mantan mafia.

"Arigato, ne, Yosano-sensei," bisiknya pelan.

Dazai merasa kesadarannya berangsur-angsur menghilang. Kelopak matanya terasa sangat berat diikuti rasa lemas di sekujur tubuh. Mungkin inilah yang selama ini Dazai cari. Sensasi kematian. Meskipun gagal mengalami sekarat tanpa rasa sakit, setidaknya Yosano berada di sini, di dalam dekapannya. Dalam jangkauannya.

"Selamat tinggal." Dazai berucap dengan nada yang terlampau samar. Bahkan Yosano mungkin tak mendengarnya. Ketika tangan Dazai meluncur, terkulai di sisi brankar dan Yosano tak lagi mendengar suara detak jantung, ia bangkit spontan. Sepasang mata magenta itu menatap nanar sosok yang terkulai tak bernyawa di depannya.

Yosano tak bisa mempresentasikan dengan jelas apa yang ia rasakan kala itu. Ia hanya tahu satu hal. Satu hal berharga dalam hidupnya kembali dibawa jauh ke tempat yang tak terjangkau lagi. Dan orang itu membawa serta setengah dari dirinya.

"Ayolah, Yosano-sensei, 'Kematian Tak Akan Menyentuhmu' itu tidak berguna untuk 'Tak Lagi Manusia'. Kalau aku mati, jangan sampai menangisiku, ya?"

Dazai mengacak rambut Yosano yang lebih pendek darinya. Yosan tentu saja menepis tangan pria itu kemudian bersidekap.

"Memangnya kaubisa mati?"

"Tentu saja. Aku, 'kan manusia. Walaupun terkena kutukan dari 'Tak Lagi Manusia'."

Yosano terkekeh. "Ya … setelah semua percobaan bunuh dirimu itu kurasa aku setuju kau benar-benar dikutuk."

Perkataan Dazai menjadi nyata. 'Kematian Tak Akan Menyentuhmu' masih tidak cukup mematahkan kutukan 'Tak Lagi Manusia'.

End

Ending macam apa ini?!