A World in Violet Balloon
Disclaimer: Asagiri Kafka & Harukawa Sango.
Warning: OOC parah, typo, gaje banget, dll.
Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk ultah Fyodor Dostoevsky (11/11/2020)
Happy Birthday Fyodor Dostoevsky (11/11/2020
Apa yang Fyodor Dostoevsky lakukan hanyalah duduk pada tepi air mancur yang menjadi jantung kota, ketika matanya luruh oleh keriangan yang pekat di jarak tiga meter.
Dari tempatnya duduk ia menyaksikan sesosok badut modern beraksi. Jaketnya yang sebagian besar hitam menjadi keisengan favorit anak-anak yang menarik-nariknya. Celana panjang bergaris hitam-putih tersebut merupakan salah satu yang nyentrik darinya, ditambah dengan top hat bercorak berlian. Namun, Fyodor tahu itu lebih baik ketimbang pakaian warna-warni berjenis norak, apalagi dipadukan wig super keriting yang berlebihan.
"Sampai jumpa, Piero-san. Besok kami mampir lagi, ya!"
Anak-anak yang lebih pendek dari tubuh jangkungnya itu melambaikan tangan. Tersenyum lebar, sebelum gerak ekspresif itu menjadi sesuatu yang lamat-lamat kelihatan. Mata kirinya menemukan Fyodor yang masih bergeming. Pemuda yang dipanggil "piero-san" tersebut menghampiri
"Tadi kau melihat pertunjukanku, bukan? Akan kuberikan hadiah untuk anak baik." Dari selembar tisu ia mengeluarkan setangkai mawar. Tiada tepuk tangan atau sirat kekaguman yang Fyodor lukiskan. Sang badut memainkan bola warna-warni. Memutar-mutarnya yang dengan sengaja salah satunya mengenai kepala, tetapi sama saja akhirnya.
"Trik murahan," jawab Fyodor sinis yang kendatipun demikian, ia tetap menerima pemberian piero-san. Bukannya kebingungan ia justru tertawa. Duduk di samping Fyodor begitu saja, tanpa meminta izin yang bersangkutan.
"Kelihatan sekali, ya, kau beda dari anak-anak yang barusan."
"Setelah dewasa mereka akan sadar telah menyukai hal bodoh. Misalnya seperti menyatukan dua klip kertas di udara."
"Pertama-tama kau melipat uangnya menjadi huruf Z. Salah satu klipnya dipasang agar menjepit bagian tengah serta atas, lalu lainnya untuk lapisan bawah dan tengah. Kau pun menggunakan gaya teatrikal untuk–", "Bukannya itu sudah cukup? Yang paling penting itu semua orang bahagia, bukan?" potongnya setengah panik. Fyodor diam. Lagi-lagi senyuman lebar yang kelewat tolol diperlihatkan sang badut.
"Ya ampun. Samar-samar kau mengingatkanku pada seseorang, tetapi siapa, ya?"
Telunjuknya mengetuk-ngetuk dagu. Tentu Fyodor tahu siapa yang Nikolai Gogol ini maksud, dan di dalam konklusi yang Fyodor tarik tersebut campur tangan kegeniusannya nyaris nol persen. Nikolai bekerja sebagai badut keliling. Setahun sekali ia pasti ke Yokohama untuk beraksi di taman kota, barulah ke Shibuya usai menginap seminggu penuh di motel murahan.
Di mana ini adalah hari terakhir Nikolai tinggal di Yokohama. Fyodor mendeskripsikannya seolah-olah mengenali betul Nikolai, dan dia memang tahu, karena seseorang yang hendak Nikolai temui ialah Fyodor.
"Omong-omong apa yang bocah kecil sepertimu perbuat di sini?"
"Menunggu teman." Seharusnya ia bertemu Dazai Osamu dan Shibusawa Tatsuhiko di sini. Namun, tampaknya mereka (sengaja) terlambat, lalu Fyodor yang (bepura-pura) sabar menunggu mereka
"Mau main ke mana? Yokohama Park Land asyik, lho. Apalagi bianglala-nya. Aku ingin terjun dari sana." Tangannya menukik memperagakan maksud yang Nikolai coba sampaikan. Sayangnya setiap benar-benar mencoba melancarkan kebodohan tersebut, salah seorang staf pasti menghentikan Nikolai.
"Akhirnya kau melakukan sesuatu tanpa trik, ya." Senyuman milik Fyodor adalah sesuatu yang jahat, tetapi sewaktu bocah sembilan tahun itu menyunggingkannya, Nikolai justru menepuk-nepuk punggungnya seolah-olah Fyodor telah menunjukkan hal yang baik yang ia miliki.
"Bagaimana kalau kita menjadi flying man bareng-bareng? Kau boleh meminjam jaketku."
"Siapa juga yang sudi?"
"Aku sudi. Jika itu tidak menghiburmu, bagaimana kalau pertunjukan membuat balon?"
Balon ungu Nikolai tiup dalam-dalam, lalu kelihaian tangannya menciptakan aneka bentuk seperti kucing, pistol, bunga, angsa, dan lain-lainnya, seolah-olah balon menjadi kehebatan nomor satu di dunia. Meski tidak sekali pun Fyodor terkagum-kagum, Nikolai menikmati pertunjukan yang masih dipertontonkannya untuk Fyodor ini. Sampai akhirnya tersisa satu balon saja, malah Nikolai yang bertepuk tangan sebelum menyambut acara utamanya.
"Selamat, karena telah menonton pertunjukan ini sampai akhir! Sebagai satu-satunya penonton, kau boleh meminta bentuk apa pun."
"Memangnya aku terlihat tertarik?" Bahkan daritadi pandangan Fyodor cenderung ke depan. Sebenarnya lama-kelamaan Fyodor iritasi dengan tingkah laku Nikolai. Jelas-jelas ia berpura-pura tidak kenal. Untuk apa Nikolai memaksakan sandiwaranya, ketika ia sendiri tahu gelagatnya basi? Mungkin Nikolai adalah satu-satunya orang yang tidak takut, apabila dibenci anak-anak.
"Tidak tahu mau bentuk apa? Aku tahu yang cocok denganmu, lho."
Cocok dengannya? Keyakinan dalam kalimat tersebut tidak Fyodor sangka-sangka, dan sekelumit . Matanya yang sejak awal sebenarnya menyaksikan kepiawaian Nikolai, kini terpaku secara utuh sambil merasakan sesuatu yang deras mengalir dalam dirinya. Balon ungu itu membentuk tikus. Sebelah tangan Fyodor diangkat agar kali ini ia menerimanya.
"Kenapa tikus?"
"Harusnya kau sudah tahu, 'kan, kenapa aku bikin tikus?" Mata Nikolai mengerjap-ngerjap. Helaan napas lolos dari Fyodor yang pandangannya jatuh pada balon ini–entah kenapa tidak bisa lepas, walaupun ada seribu musim gugur yang mekar dalam sebentuk helai bunga.
"Aku ingin dengar pendapatmu."
"Berdasarkan teori Yin dan Yang, tikus melambangkan kekayaan, kecerdasan, kesuksesan dan kebijaksanaan. Menurutku kau cocok."
"Ternyata otakmu ada isinya juga." Selama ini Nikolai hanyalah badut modern dari pakaiannya, pemilik senyuman paling tolol sedunia, dan selalu kehabisan akal 24 per jam. Nikolai terang-terangan manyun. Walaupun Fyodor tersenyum, tetapi garis lengkungnya itu lebih lembut tanpa kerikil-kerikil yang biasanya membuat orang tersandung, apabila melihat senyumannya.
"Sebelumnya aku baca dulu. Jadinya tahu."
"Buat apa kau mengakuinya coba?" Dengan cepatnya pula senyuman Fyodor justru luntur. Baru pernah bagi Nikolai, merasa bodoh seperti sekarang sangatlah meresahkan badan terutama jiwa–Nikolai hanya berhasil ketika usaha-usahanya harus kesakitan dan menekuni kegagalan lebih dulu, tetapi Nikolai juga yang justru menghancurkannya secepat kilat, bukankah mengecewakan?
"Iya juga, ya. Buat apa aku bilang?"
"Kenapa pula kau membaca sesuatu seperti itu?"
"Hmm … mau tahu saja atau mau tahu banget?" Perempatan siku-siku yang tak kasatmata sudah menghias pelipis Fyodor. Tiba-tiba tawa Nikolai membahana. Dibandingkan sebelumnya ia menepuk punggung Fyodor lebih keras lagi. Seperti berusaha melepaskan selubung yang
"Hari ini ada temanku yang berulang tahun. Dia masih kecil, tetapi sangat pintar dan sulit dihibur. Memang, sih, sandiwaraku udah ketahuan duluan. Namun, apa salahnya mencoba menghibur sahabatku sendiri? Marah pun termasuk menghiburnya, kok, daripada dia datar terus-terusan."
Selembar kartu pos Nikolai taruh di atas paha Fyodor. Kali ini adalah senja di pantai yang lautnya biru dan keperak-perakan. Seulas lambaian tanpa melihat ke belakang Nikolai perbuat. Bersiap-siap pergi menjemput langit di belahan dunia lain, walau ia masih memilki sisa waktu untuk menemani Fyodor. Sepasang bocah lelaki menghampiri Fyodor tergesa-gesa. Napas yang sama-sama terengah-engah menambah warna di sekitarnya, dan sayang sekali Nikolai telanjur pergi–ia belum melihatnya.
"Cieee~ Dapat banyak balon lagi. Para pelayan udah mengamuk, tuh. Ayo cepat pulang." Bocah dengan rambut cokelat dan mata yang senada itu adalah Dazai. Di sampingnya Shibusawa mengangguk-angguk. Namun, yang dituju justru memiliki dunianya sendiri.
"Fyodor-kun? Jangan-jangan kerasukan."
"Pfttt … masa setan merasuki setan? Aneh-aneh aja Shibusawa i–", "Tahun depan kalian ke sini bareng aku, paham? Nanti kita pikirkan lagi rencana buat menghentikan para pelayan," potong Fyodor tanpa ba-bi-bu apa pun lagi. Ia turun dari bangku taman. Shibusawa dan Dazai berpandangan heran, tetapi ujung-ujungnya mengidikkan bahu. Berjalan di belakang Fyodor yang sedari tadi menahan batuk-batuk.
"Kartu pos gambar senja, ya, tahun ini. Omong-omong pulang nanti minum obat, lho. Batuk melulu jadinya." Tumben pula Fyodor membiarkan kartu pos dari Nikolai diambil oleh Shibusawa. Benda yang tiba-tiba berganti kepemilikan itu biasa bagi mereka. Namun, Fyodor biasanya sekadar mengizinkan Shibusawa serta Dazai membawakan balon kreasi Nikolai, dan sudah begitu sejak tahun lalu.
"Bagus banget. Meski enggak bisa ke pantai, setidaknya ada gambaran dari kartu pos. Jangan lupa juga, ya, imbalannya. Menghentikan para pelayan itu melelahkan, lho."
Puas melihat-lihat kartu pos tahun ini, Shibusawa mengembalikannya pada Fyodor yang masih batuk. Mereka bertiga pulang ke mansion keluarga Dostoevsky, dan dimarahi pun tetap riang. Pesta kecil-kecilan pasti diadakan, misalnya adu cepat mengisi TTS atau berhitung. Merayakan ulang tahun Fyodor, sekaligus pula Fyodor yang diam-diam bersyukur telah diculik keluar oleh kedua sahabatnya tahun lalu.
"Karena sebenarnya kamu adalah anak baik yang menonton pertunjukanku, akan kuberikan balon."
Tahun lalu balonnya masih bulat biasa, meskipun sangat warna-warni. Meskipun Fyodor penyakitan dan umurnya sesingkat daun gugur, ia bersyukur dapat melihat dunia setahun sekali, yaitu Nikolai Gogol–badut baik hati sekaligus aneh yang pandai merangkaikan rasa.
Tamat.
A/N: Yha ide ini sebenernya udah lama dan gak begini eksekusinya. lain waktu aku bikin deh versi angst-nya, itupun kalo gak kapok bikin NikoFyo karena ya ... mereka berdua ini masih susah ku-mengerti sih. thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat doang. sekali lagi maaf jika gaje dan OOC parah. kalo aku niat lain waktu kuperbaiki deh.
