Naruto milik Masashi Kishimoto
Warning : AU, OOC, Alur mainstream, Masih banyak kekurangan dsb.
SELAMAT MEMBACA!
"Putus sama Sasuke?"
Sakura mengangguk.
Ino menggeleng tidak percaya. "Kok bisa?Sudah pacaran hampir dua tahun, masa putus tiba-tiba seperti ini?" Sakura hanya terdiam. "Apa karena Sasuke melanjutkan studi belajarnya di Sunagakure?"
"Itu hanya salah satu faktor," sahut Sakura kemudian.
"Wah, sayang sekali ya."
"Lagi pula saat aku mengatakan ingin mengakhiri hubungan dia setuju kok," imbuh Sakura lagi.
"Kau baik-baik saja?" Ino memandang Sakura yang tampak biasa saja. "Kau terlihat biasa saja. Aku jadi kasihan pada Sasuke, setidaknya perlihatkan wajah sedihmu dong!"
Sakura mendendengus, ia mengeratkan pegangan tasnya. "Aku sedih kok."
"Mck, dasar."
oOo
"Sepertinya kabar mereka berdua putus benar adanya."
"Ah, sayang sekali ... padahal mereka terlihat cocok."
"Bagus bukan? Sasuke kembali menjadi pangeran bersama setelah terjerat dua tahun bersamanya."
Sakura hanya menggelengkan kepalanya mendengar sahutan beberapa siswi dari kelas 3F yang sengaja mengucapkannya dengan kencang agar bisa Sakura dengar saat melewati kelas mereka.
Menyebalkan, kenapa kabar putusnya aku dan Sasuke menjadi topik hangat sih?
Kebenaran mereka berpacaran dua tahun memang benar adanya, saat itu masih musim panas kelas satu. Lalu pada pertengahan semester kelas tiga ini Sakura memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Sasuke.
Awal mula pertemuan mereka juga karena tidak sengaja satu tempat karaoke yang masih berada di sekitar sekolah. Ino membujuknya untuk ikut, setibanya di sana beberapa teman Sai (kekasih Ino) juga datang. Saat itu Sakura tersadar jika Sasuke adalah lelaki paling tampan diantara empat pria lainnya.
Meski lelaki itu terlihat menujukkan ekspresi datar dan irit bicara. Sakura selalu mendapati Sasuke melihat ke arahnya. Lalu hari berikutnya Sasuke menunjukkan pribadi yang berbeda.
Lelaki itu mendekati Sakura dengan senyum mempesonanya. Tentu saja Sakura tidak sadar jika Sasuke tengah memberikan sinyal jatuh cinta, hingga Sasuke gemas dan mengutarakan secara jelas alasan ia mendekati Sakura. Awalnya Sakura tidak menyukai Sasuke karena lelaki itu mempunyai banyak sekali penggemar dan membuatnya agak risih, namun pada akhirnya mereka resmi menjadi sepasang kekasih. Perasaan tulus dan kejujuran Sasuke yang membuat Sakura luluh.
"Sakura apa kau membawa catatan yang kemarin kau pinjam?"
Sakura menengadah, Sasuke datang menghampiri kursinya ditemani Sai. Tangannya merogoh tas miliknya dan mengeluarkan buku yang diminta Sasuke, menyerahkan ke arah lelaki itu.
"Terima kasih."
"Hn, kau sudah selesai menyalin semuanya kan?"
Sakura mengangguk. "Hampir ... tapi kau ambil saja."
"Oke," balas Sasuke singkat, lalu berlalu pergi.
Sakura menatap punggung Sasuke yang perlahan menjauh. Sai masih di kelasnya karena mengobrol dengan Ino. Lalu Ino mendekati Sakura dan berbisik di telinga gadis merah muda itu. "Kalian beneran putus?"
Sakura melirik Ino dari sudut matanya. "Ya. Aku sungguh putus dengan Sasuke, Ino."
"Baiklah, aku hanya masih tidak percaya saja." Ino terkekeh pelan, ia kembali mendekati Sai dan melanjutkan obrolan mereka.
Mendesah pelan, pikiran Sakura kini melayang pada ingatan di mana ia masih berpacaran dengan Sasuke. Setelah putus rasanya rindu mengetuk keras relung dadanya hingga ia tidak bisa berkonsentrasi. Ini adalah kemauannya, kenapa sekarang menjadi gelisah seperti ini?
Empat jam setelah selesai menyelesaikan mata pelajaran, bel sekolah tanda waktu pulang berbunyi. Membereskan beberapa buku dan pensil ke dalam tas, Sakura segera beranjak pergi meninggalkan kelas. Mengabaikan panggilan Ino yang mengejarnya dari belakang.
"Setidaknya tunggu aku bodoh!" gerutu Ino kesal.
Sakura hanya tertawa, namun tak membalas ucapan Ino. Mereka berjalan bersama hingga Karin menghampiri dan mengajak mereka berdua untuk makan di kedai terdekat. Ino setuju, namun Sakura menolak. Tetapi tidak berangsur lama akhirnya Sakura menyetujui setelah terbujuk ajakan Karin.
Tidak sampai sepuluh menit untuk tiba di kedai makan, melangkah masuk ke dalam Sakura hampir membeku melihat Sasuke tengah mengobrol dengan Naruto dan Sai di salah satu meja yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ketiga lelaki itu asik dengan dunia yang mereka buat sendiri hingga Naruto mengalihkan ekstensi ke pintu masuk dan berseru keras melihat kedatangannya.
"Hei kalian sudah datang ternyata—oh hei Sakura!"
Karin melambaikan tangannya dengan semangat, Ino tersenyum lebar sembari menghampiri Sai yang memberi kode untuk datang ke tempat duduknya.
"Hei Naruto," sapa Sakura.
"Aku tidak tahu kalau kau akan ikut juga," celetuk Sai sembari menatap Sakura yang mengambil tempat duduk di samping mantan kekasihnya. Hei~ ini karena tidak ada kursi kosong lagi jangan gugup begitu!
"Aku dipaksa, kau tahu sendiri pacarmu itu dan si merah ini," balas Sakura sembari melirik Ino dan Karin.
"Hei aku dan Karin begitu karena kau juga di rumah terus tahu! Bukan begitu Karin?"
Karin mengangguk. "Ya! Apa kau tidak bosan di kamar seharian? Oh, ayolah kau harus menikmati masa mudamu seperti kata mutiara Guy-Sensei!"
Naruto tertawa keras menyetujui.
Sakura hanya mendengus pelan. "Aku cinta ketenangan, kalian juga tahu."
"Benarkah? Aku hanya tahu kau cinta Sasuke tuh," goda Ino. Karin langsung terkikik geli.
"Hei!" tegur Sakura cepat. Pipinya mulai bewarna kemerahan.
"Ck, padahal kalian itu pasangan romantis sampai ada fansclub-nya. Kabar putus kalian bahkan menggemparkan sekolah seperti dua tahun yang lalu," timpal Naruto sembari mengaduk jus jeruknya.
Sasuke hanya tersenyum, sedangkan Sakura mengalihkan pandangannya. Suasananya mendadak menjadi canggung.
"Hahaha, jadi canggung ya?" Naruto kembali bersuara. "Baiklah lupakan yang kubicarakan tadi, kalian mau pesan apa? Ramen saja bagaimana? Aku yang traktir!"
"Tumben, apa ada sesuatu yang membuatmu bahagia?" celetuk Karin penasaran.
"Dia berhasil menyatakan perasaannya setelah diam selama setahun ini," timpal Sai dengan senyum miringnya.
"Oh ya? Sial sekali gadis itu siapa dia?" canda Ino. Naruto memberikan Ino tatapan kesal.
"Hinata."
"Wow, aku tidak menduganya!" seru Karin bersemangat. Lalu melirik Sasuke. "Kau dipaksa kemari, huh?"
"Hn," balas Sasuke. Lelaki raven ini sekarang malah sibuk bermain ponselnya.
"Jadi kalian mau ramen apa tidak?" ulang Naruto lagi. Merasa diabaikan niat baiknya.
"Boleh," sahut Ino cepat. Disusul anggukkan kepala dari Karin dan Sakura.
"Sai kau bagaimana?" tanya Naruto.
"Ramen juga tidak masalah," sahut Sai masih menunjukkan senyumnya. Naruto menganggukkan kepalanya, lalu melirik Sasuke. "Teme kau mau apa?"
Sasuke menyimpan ponselnya di kantung jaketnya. "Apa saja."
"Oke biar aku saja yang pesan," ujar Naruto sembari bangun dari kursinya.
Menunggu ramen tidak akan selama menunggu kepastian yang bisa bertahun-tahun. Cukup dua puluh menit menunggu, ramen akan segera tiba di atas meja dengan uap panas mengepul.
Sakura mencari botol sambal yang biasanya terletak di tengah meja. Saat Emerald-nya bergulir ke kanan ia menemukan keberadaan sang botol yang berada di dekat siku Sasuke. Niatnya ia mau meminta tolong Sai untuk mengambilkannya karena mereka berdua berhadapan, tapi Sasuke tanpa di duga memindahkan botol sambal itu ke dekat Sakura tanpa bicara apa-apa.
Sakura terdiam sejenak, tindakan kecil lelaki itu membuatnya bergeming. Ia tak mengerti kenapa Sasuke masih memperlakukannya dengan baik meskipun ia sudah memutuskan lelaki itu. Sakura menjadi terbawa suasana dengan sorot mata yang tidak bisa di jelaskan ia bergumam terima kasih.
Sasuke mendengarnya, ia menoleh dan memberikan senyum miliknya yang selalu berhasil memikat kaum hawa manapun. Ditatap sedemikian dekat oleh sang mantan membuat Sakura merasa jantungnya berdetak tidak wajar lagi. Buru-buru Sakura memutuskan kontak mata dan memilih menyantap ramen miliknya itu, tingkahnya mengundang seringai di wajah Sasuke.
Menghabiskan waktu hampir dua jam lamanya ternyata tidak begitu terasa. Senja sudah menunjukkan ekstensinya, pamit pulang karena tidak baik sampai rumah terlalu malam, Sakura akhirnya diantar Sasuke setelah berdebat cukup lama.
Kini mereka duduk di kursi bus paling belakang dan bersebelahan. Sakura memandang jalan raya dari kaca jendela sedangkan Sasuke menatap lurus ke depan. Tak banyak obrolan yang mengisi kecanggungan mereka dan sepertinya mereka memang tidak ada niat untuk saling mengobrol.
Dalam diam Sakura terhempas jauh ke memori masa lalunya. Masa di mana berangkat ke sekolah dan di antar pulang oleh Sasuke. Rindu kembali mengusik hati, Sakura tidak mengerti kenapa ia merasa tidak tenang seperti ini.
Apa ia menyesal meminta putus dengan Sasuke?
Menggeleng pelan, Sakura bergumam tak jelas hingga Sasuke menatapnya bingung.
"Kau kenapa?"
"Huh? Tidak, aku tidak apa-apa."
Sasuke mengernyit bingung dengan sikap Sakura yang seperti menyembunyikan sesuatu. Ingin bertanya lebih lanjut, suara pemberi informasi dari speaker bus terdengar. Memberitahu halte selanjutnya akan segera tiba tidak lama lagi, Sakura segera bangkit karena itu halte tujuannya.
Namun langkahnya terhenti, ia berbalik dan memandang Sasuke bingung. "Kau tidak turun?"
Satu alis Sasuke terangkat mendengarnya. "Aa, aku masih boleh mengantarmu ya." Lalu ia berdiri. "Baiklah."
Sakura bergeming, rona merah dengan cepat timbul di kedua pipinya. Ia berseru dengan gugup. "Lu-lupakan saja! Aku bisa pulang sendiri!"
o0o
Hari ini jadwal mata pelajaran olahraga. Kelas Sakura mendapatkan latihan belajar bola basket. Teriknya sinar matahari membuat para siswi mengeluh karena panasnya terpapar langsung.
Sakura yang sedang latihan men-dribble bola berhenti sejenak karena perlahan pandangannya memburam. Ia menatap sekeliling mencari keberadaan Ino. Namun ia hanya menemukan Sasuke yang sedang berjalan menghampiri dirinya dengan langkah besar.
Kenapa Sasuke terlihat tergesa-gesa? batin Sakura.
Sakura menunduk, ia mulai merasa sakit disekitar kepala dan perutnya. Kegelapan perlahan menyambut dan sebelum ia kehilangan kesadaran suara keras Sasuke berhasil menyelinap.
.
.
.
"Kau baik-baik saja?"
Saat Sakura tersadar, ia tahu bahwa dirinya berada di UKS. "Sasuke?"
"Kau seharusnya izin jika sakit."
Sakura tersenyum tipis. "Kenapa kau harus khawatir? Seharusnya jangan peduli lagi padaku."
Membelakangi Sasuke, Sakura kembali bersuara. "Pergilah ... aku sudah baik-baik saja."
"Kau ingin aku pergi?" tanya Sasuke menatap punggung Sakura. "Kau serius menginginkan aku pergi?"
Sakura mengigit bibirnya.
"Alasanmu memutuskanku karena studiku kan? Baiklah, lupakan itu. Jika kau tidak menginginkannya aku tidak akan pergi."
Emerald-nya membulat, ia berbalik cepat dan menatap Sasuke dengan sorot sedih. "Kau harus pergi!"
"Kupikir akan baik-baik saja." Sasuke mengantung kalimatnya. "Aku tidak bisa pergi dengan perasaan kacau seperti ini Sakura."
Air mata Sakura jatuh begitu saja membuat Sasuke terperangah. Tak menduga jika Sakura akan menangis di hadapannya. Sakura kemudian mendudukan tubuhnya di ranjang dengan kepala menunduk, gadis itu mengucapkan hal yang sebenarnya ia pendam. "Sebenarnya ... aku masih mencintaimu. Aku hanya tidak ingin menjadi kekasih posesif jika kau jauh dariku nanti, itu akan menyulitkan kau di sana.
"Lalu aku berpikir jika lebih baik kita putus saja. Tapi kemudian hari aku merasa menyesal telah melakukannya. Aku aneh sekali bukan?"
Sasuke terdiam, tapi tubuhnya tergerak mendekati Sakura untuk memeluk gadis itu. Memberikan ketenangan batin untuk Sakura.
"Menjadi posesif sesekali tidak masalah agar tidak merasa terlalu bebas," ucap Sasuke kemudian. "Kau tidak akan menyulitkanku, Sakura. Sekarang berhentilah menangis kau terlihat sangat jelek sekarang," lanjut Sasuke dengan canda.
Sakura terkekeh sembari melepas pelukannya. "Aku selalu cantik setiap waktu tahu!"
"Hn, kau memang selalu cantik."
"Lagi pula aku gengsi kalau bilang cemburu padamu!" seru Sakura tiba-tiba.
Sasuke mendengus, ia mengacak surai merah muda Sakura. "Kau tahu Sakura, aku ingin segera lulus menyelesaikan studiku dengan cepat, lalu mencari pekerjaan dan mengumpulkan banyak uang untuk bisa membawamu bersamaku."
Pipi Sakura merona. Sasuke jadi gemas melihatnya. Masih dengan jarak dekat, Sasuke kembali mendekatkan kepalanya hingga ujung hidung mereka bersentuhan. Sakura yang mengerti ikut mendekat dengan mata terpejam hingga merasakan bibir Sasuke menyapu kulit bibirnya lembut.
"Aku mencintaimu," bisik Sasuke diakhir ciumannya.
Kegelisahan yang mengganggu Sakura akhirnya sirna begitu saja, pemikirannya selama ini untuk berpisah dengan Sasuke ternyata bukanlah pilihan tepat. Beruntungnya Sasuke memahami kenapa Sakura bersikap demikian, dan memilih kembali melanjutkan hubungan mereka yang sempat kandas.
"Aku juga mencintaimu Uchiha Sasuke!"
-END-
