Naruto by Masashi Kishimoto.
Highschool DxD by Ichiei Ishibumi.
Pairing: Naruto x Raynere/Yuuma Amano.
Warning: OOC, AU, Typo, Non-Lemon/Non-Smut.
...
...
Yang Naruto ketahui adalah, sosok gadis yang berada di depannya itu hanyalah seorang malaikat jatuh yang disuruh untuk membunuh para manusia, dia tahu bahwa hawa nafsu untuk berperang dari para Malaikat Jatuh ini sangatlah tinggi, mungkin menyamai para Iblis dengan keserakahan mereka.
Naruto Uzumaki, salah satu Jenderal Malaikat Jatuh dengan posisinya sebagai Cadre. Sosok pemuda yang bisa dibilang kuat dalam beberapa bidang, dan mempunyai kemampuan dalam mengelola para anak buah yang tak membangkang.
Dia menjadi salah satu Malaikat Jatuh yang ditakuti oleh para bawahannya serta dihormati oleh beberapa petinggi fraksi lain.
"Jadi kau menjadi bawahan Kokabiel?"
Gadis di depannya mengangguk, air matanya keluar menuruni pipi putih itu. "Kokabiel-sama menjanjikan sesuatu padaku, beliau berkata akan menaikkan jabatan saya jika saya menjadi bawahan serta membunuh para manusia yang diberikan anugerah."
Naruto melirik Rias Gremory yang kebetulan juga datang di gereja kosong itu, Naruto sendiri menyuruh Heiress dari Gremory itu untuk menghentikan Pawnnya membunuh Raynare. "Maafkan aku Rias Gremory, bawahanku memang sulit sekali untuk di atur, terutama Kokabiel." Rias mengangguk kecil, dia mengenal Naruto saat Kakaknya yang notabenya adalah pemimpin Fraksi Iblis menemui Azazel serta Naruto di sebuah gedung di kota Kuoh. "Untuk Sekiryuutei, Hyoudou Issei, aku minta tolong padamu untuk memaafkan Raynare atau Amano Yuuma, Fraksi Malaikat Jatuh sendiri tak ada sangkut pautnya dengan kejadian di Gereja."
Issei menatap lekat Raynere yang sedamg menundukkan kepalanya seolah bersiap menerima semua hukuman yang akan diberikan. "Aku memaafkanmu Raynare, aku juga bersyukur saat kau membunuhku waktu itu, jika kau tak membunuhku, maka aku tak bisa mengeluarkan potensi kekuatanku ini."
Raynare yang mendengarnya langsung bersujud tepat di hadapan mereka semua, dia menangis kencang saat itu juga. Naruto sendiri berjongkok mengusap kepala gadis itu.
Setelah prosesi pembangkitan Asia selesai, mereka semua pamit tak terkecuali Naruto dan Raynare. Keduanya pergi menemui Azazel di sebuah dermaga yang menjadi tempat Azazel berada.
Di sana Naruto memberitahukan semua informasi yang di dapatkannya.
"Kokabiel ya." Naruto mengangguk kecil. "Mungkin kita serahkan itu pada Vali, dia akan membereskan Kokabiel."
"Ya, aku tahu." Naruto bersiap untuk pergi dari tempat tersebut.
"Ngomong-ngomong, apa kau benar-benar ingin keluar dari Grigori? Dan menjalankan kehidupan normal seperti manusia?"
Naruto menghela napas panjang. "Seperti yang kau ketahui Azazel, aku sendiri sudah tak peduli dengan peperangan, lalu konflik antara tiga fraksi, dan lainnya. Aku sudah lelah, Ayah sendiri juga lelah, kita semua lelah Azazel.
Bayangkan saja kau berperang selama ribuan tahun tanpa tahu siapa yang menjadi pemenang? Tak akan ada hasilnya Azazel, kau harus tahu itu."
Azazel tertawa renyah. "Sebenarnya aku ingin kau menggantikanku Naruto, tapi kau sendiri sudah membulatkan tekadmu."
"Ya, aku mengerti akan hal itu, kau akan menjadi pemimpin grup yang akan menjaga dunia ini kan? Serta mendamaikan ketiga fraksi."
"Tentu, kau tahu semua rencanaku."
"Masih ada Shamehazai atau Baraqiel di Grigori, kau bisa memberikan jabatan itu pada mereka."
Azazel menghela napas pasrah akan hal tersebut. "Baiklah, kau boleh pergi, aku izinkan kau untuk keluar, Naruto. Lalu dia?" Azazel menunjuk ke Raynare.
"Aku akan membawanya, sebagai jaminan untuk mengawasiku."
"Hah? Pengawasmu? Bukannya terbalik, kau harusnya mengawasi dia?"
"Anggap saja begitu, sampai jumpa Azazel!"
Naruto dan Raynare meninggalkan Azazel yang kembali berurusan dengan pancingannya, dia menghela napas saat salah satu Jendralnya keluar dari organisasinya. "Semoga kau menemukan kebahagiaan diluar sana."
...
..
...
Beberapa minggu kemudian.
Jauh di pedalaman hutan di pulau Hokkaido, terlihat sebuah rumah yang sederhana terbuat dari kayu yang telah disusun rapih hingga menjadi sebuah tempat huni yang nyaman untuk ditinggali. Naruto dan Raynare tinggal di sana, Raynare sendiri kembali memakai nama Yuuma Amano untuk menyamarkan nama mereka.
Kehidupan keduanya jauh dari hiruk-pikuk perkotaan serta makhluk supranatural. Kejadian-kejadian mistis pun dilewati oleh keduanya, dan yang Naruto dengar terakhir dari kota Kuoh adalah penyerangan Kokabiel terhadap kedua pewaris keluarga Iblis yang ada di tempat tersebut.
Yuuma baru saja menyelesaikan kegiatan mandinya, dia berjalan dengan hanya menggunakan handuk yang menutupi tubuhnya. Kesempatan keduanya ini dia gunakan untuk berbuat baik, dan mengabdi pada Naruto yang telah menyelamatkannya dari amukan Hyoudou Issei dan Rias Gremory.
Yuuma sendiri merasa bersalah telah membunuh orang-orang yang mempunyai Sacred Gear seperti Issei dan Asia. Tapi Naruto sendiri tak menyalahkannya, dia hanya bilang jika Yuuma hanya salah mengambil keputusan saat ingin mencari perlindungan.
"Tak akan aku sia-siakan kesempatan ini," gumamnya, namun langkah kakinya terhenti saat kakinya tergelincir air bekasnya mandi, kebetulan Naruto juga akan berjalan ke kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Yuuma yang tak bisa menyeimbangkan dirinya pun terjatuh kedepan, tepat saat Naruto berjalan ke arahnya. Sebuah posisi yang membuat banyak gadis malu seketika pun di dapatkan oleh Yuuma, dia dipeluk oleh Naruto yang kebetulan ingin ke kamar mandi.
Beberapa saat berlalu, Yuuma masih dalam posisi memeluk Naruto membuat wajah gadis itu merona saat tubuhnya ditangkap oleh pemuda mantan Jendral Malaikat Jatuh itu.
"Kau bisa melepaskannya Yuuma."
"Ma-maafkan saya Naruto-sama!"
Yuuma langsung menarik dirinya dan memalingkan wajahnya ke arah lain saat itu juga, dia benar-benar malu saat ini. "Tak apa kok, lain kali berhati-hatilah." Naruto pun pergi dari hadapan Yuuma.
Gadis itu merasakan jantungnya berdegup kencang saat dia mendengar suara serak milik pemuda itu, wajahnya sudah sangat merah saat ini, dia tak tahu harus senang atau takut pada Naruto.
Di lain sisi rona merah yang tipis terlihat di wajah Naruto, pemuda itu langsung membasuh wajahnya, dia berencana untuk mencari makan di perkotaan Sapporo, bersama Yuuma tentunya.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua keluar untuk pergi ke kota, Naruto mengajak Yuuma keluar untuk makan serta membeli beberapa keperluan yang bisa diletakkan di lemari pendingin rumah mereka.
Keduanya berjalan dalam diam, tak ada yang bersuara sedikit pun. Naruto adalah orang yang pendiam, dia akan berbicara jika lawannya berbicara, Yuuma sendiri tipe gadis yang sedikit cerewet, tapi kali ini dia hanya diam tak bersuara, wajahnya masih merona setelah kejadian tadi pagi.
Dan keduanya pun melewati hari itu dengan diam.
...
..
...
Hari minggu, mereka memutuskan untuk tinggal saja di rumah kayu itu, mereka sendiri sudah menyiapkan beberapa kaleng Bir untuk diminum dan beberapa camilan yang bisa dimakan, televisi menyala seharian dan Yuuma mabuk setelah meneguk sekaleng Bir.
Gadis itu tak kuat dengan yang namanya Alkohol, suara cegukan terdengar oleh Naruto, sayup-sayup dia juga mendengar Yuuma mengoceh beberapa hal aneh. Seharian mereka memang berada di ruang tamu bersama dengan beberapa kaleng bir dan sebuah Jus Jeruk yang diminum saat siang hari, lalu malamnya mereka makan serta meminum Bir. Naruto sendiri tak terpengaruh dengan alkohol sama sekali, dia terlalu kuat hanya untuk meminum Bir itu.
"Yuuma?"
"Hah? Kau! Naruto-sama! Kau... Uhhh... Kau Jendral yang sangat baik padaku, tak seperti Kokabiel itu! Dia akan langsung menyik hic saku dan yang lain... Hic..."
Naruto menaikkan sebelah alisnya, dia menatap jam yang tertempel di dinding kayu, sudah hampir tengah malam, dia juga tak mungkin membereskan semua sisa makanan mereka saat ini, Naruto terlalu mager untuk melakukannya, ditambah Yuuma yang mabuk.
Dengan segera, Naruto menggendong Yuuma yang mabuk dan membawanya ke kamar. "Kau harus tidur, gadis bodoh." Naruto mengusap rambut hitam Yuuma, dia menatap lembut gadis yang sudah mulai berubah, tekad dari gadis itu membuatnya kagum, dia mungkin akan melindungi Yuuma dari marabahaya yang ada.
Naruto pun beranjak dari kamar Yuuma untuk kembali ke ruang tengah dan membereskan semuanya, namun dia dihentikan dengan sebuah genggaman tangan di pergelangan tangannya, pemuda itu menoleh dan melihat Yuuma yang menatapnya sayu, bibirnya terus mengeluarkan napas yang tak beraturan, tubuhnya berkeringat seolah dia sedang demam tinggi.
"Naruto-sama... Naruto..."
"Kau sekarang berani memanggilku tanpa embel-embel ya?"
Yuuma tersenyum tipis, dia mulai bangun dari rebahannya lalu duduk di pinggiran kasur. "Kumohon, temani aku disini."
"..."
"Aku mencintaimu Naruto..."
Dan malam itu adalah malam panjang bagi keduanya.
...
...
Yuuma terbangun di pagi yang cerah, dia memegangi kepalanya yang terasa sakit saat ini setelah semalam minum beberapa kaleng Bir. Yuuma segera mengambil pakaiannya dan beranjak untuk keluar kamar.
Di luar kamar, dia melihat sosok pemuda berambut pirang yang sedang bertelanjang dada, dia menata beberapa makanan untuk sarapannya bersama Yuuma. Gadis itu menatap mantan Jendral itu dari atas hingga bawah, wajahnya merona melihat tubuh atletis itu.
"Na-naruto-sama."
"Oh pagi, malam yang indah bukan? Kemarilah, kita akan sarapan."
Yuuma mulai mengingat beberapa kejadian yang di alaminya tadi malam. Wajahnya langsung merah padam saat mengingat kejadian tersebut, jujur saja dia mulai mencintai mantan atasannya itu sejak dirinya di ajak ke Sapporo. Tapi dia tak tahu Naruto akan membalas perasaannya atau tidak.
Yuuma pun mulai mengatur dirinya, dia berjalan mendekat ke meja makan dan mulai sarapan bersama Naruto, pemuda yang diketahuinya pendiam pun mulai mengoceh beberapa hal, termasuk kelakuan Azazel yang mesum pada Gabriel saat masih di surga.
Yuuma tertawa mendengarkan cerita Naruto tentang kekonyolannya dan Azazel, mantan atasannya itu punya hubungan yang sangat dekat dengan Azazel, mereka seperti kakak beradik saja.
Sekarang, Yuuma sedang mencuci piring setelah keduanya sarapan, tapi Naruto tiba-tiba datang dan memeluknya dari belakang, bibirnya mendekati telinga Yuuma, serta perut datarnya itu di peluk oleh Naruto.
"Aku tak mengerti apa yang disebut cinta, tapi kupikir ini adalah cinta."
Wajah Yuuma merona, kegiatannya membersihkan piring terhenti. "Naruto-sama..."
"Kau pasti mengerti, jantungmu akan berdegup kencang saat ada seorang gadis yang membuatmu nyaman. Aku tak tahu apa yang terjadi, tapi aku berasumsi jika itu adalah cinta.
Ayah tak pernah memberitahuku tentang hal tersebut, tapi aku bersyukur menjadi Malaikat Jatuh yang bisa seenaknya jatuh cinta." Naruto menjeda penjelasannya. "Ya Yuuma, aku mencintaimu."
Yuuma memegang tangan lebar Naruto yang tengah memelu perutnya dengan erat, dia tersenyum dalam hati saat Naruto juga merasakan apa yang sama dengan apa yang dirasakannya. "Naruto-sama, aku juga merasakan hal yang sama kepadamu."
"Kehidupan ini membuatku mengerti arti mencintai seseorang sepertimu Yuuma." Naruto tersenyum, dia mengarahkan wajah cantik Yuuma kepadanya. "Tuhan membuatku jatuh cinta padamu Yuuma." Pemuda itu mencium bibir Yuuma dengan lembut, tak ada nafsu saat keduanya saling berciuman.
Yuuma sendiri menikmati ciuman kasih sayang yang diberikan oleh Naruto padanya, dan itu membuatnya merasakan kebahagiaan yang tiada tara.
...
..
...
Setahun berlalu, di Kuoh Academy. Seorang gadis berambut raven berjalan ke sebuah kelas, di depannya ada sosok guru yang akan mengantarkan dirinya ke kelas tersebut.
Di dalam kelas terlihat gaduh dengan Issei dan kedua teman mesumnya yang bertingkah diluar batas, saat guru masuk pun mereka mulai diam tak ada yang mengatakan apapun.
"Selamat pagi! Kita kedatangan seorang siswi baru yang akan menemani kita semua di kelas ini. Uzumaki-san silahkan masuk!"
Gadis berambur raven itu masuk ke dalam kelas dan membuat Issei serta Asia terkejut bukan main, mereka tak menyangka jika gadis yang pernah merrka temui itu berada satu kelas bersama mereka.
"Silahkan perkenalkan dirimu."
"Namaku Yuuma Uzumaki, salam kenal semuanya. Mohon kerja samanya!" Yuuma menundukkan kepalanya, gelagatnya begitu anggun membuat Issei dan Asia pangling dengan gadis itu. "Argento-san, Hyoudou-kun kita bertemu lagi!"
"Kau kenal dengan mereka?" Yuuma mengangguk kecil. "Baiklah, kau bisa duduk di dekat mereka." Yuuma pun berjalan menuju ke bangku kosong di dekat keduanya. "Baik kita lanjutkan..."
"Raynere?" Issei bertanya pada gadis itu. "Kenapa kau disini?"
"Nama itu sudah kubuang jauh-jauh Hyoudou-kun, aku saat ini memakai nama Yuuma Uzumaki, dan jika kau ingin memasukkan ku dalam Haremmu itu, sudah tak bisa."
"Tunggu dulu?!"
"Karena aku sudah menjadi istri Naruto Uzumaki-sama." Yuuma menunjukkan sebuah cincin yang menjadi kalung di lehernya.
Issei sangat terkejut saat Yuuma mendeklarasikan dirinya sebagai istri dari seorang Jendral Malaikat Jatuh yang dihormati fraksi lain. "Tak mungkin!"
Asia juga tak kalah terkejutnya dengan Issei.
"Mohon kerjasamanya ya."
...
...
Dilain sisi, Naruto harus mengurus beberapa hal yang ada di klub penelitian ilmu ghaib, saat ini dalam masa damai setelah melalui perang panjang dengan Khaos Brigade.
"Begitu ya, Azazel mengorbankan diri untuk disegel bersama yang lain."
"Ya Naruto-dono, Oniisama dan yang lain juga ikut membantu."
Naruto menghela napas lelah, dia kembali ke Kuoh untuk menerima panggilan dari beberapa petinggi lainnya, Naruto kembali ke Kuoh untuk menjadi guru di Academy dan Yuuma menjadi murid di sana.
"Well, aku tak masalah sih, aku akan membantu kalian jika ada masalah yang menghadang, sampai nanti Rias-kun."
"Ya sampai nanti sensei."
Keduanya pun berpisah, Naruto keluar dari ruangan itu dan berjalan ke gedung sekolah untuk mengajar salah satu kelas yang ditempati Yuuma.
"Kehidupan Normal, aku datang!"
...
..
.
End!
Endingnya ambigu, bisa saja lanjut, bisa saja nggak. Kalo kalian ada yang mau mengadopsinya, silahkan saja sih. Gw nggak keberatan.
Adios!
