OUTLAND
Desclaimer :
Naruto and the other character is not my own
Summary :
Kyuubi Uzumaki membenci adiknya itu. Menurut Kyuubi adiknya itu adalah lambang kelemahan. Dan itu sudah cukup membuat dia benci pada sosok lelaki pirang itu.
Chapter 2 :
The day when the human remember her peacefully day
Kyuubi POV
Street
Hari senin adalah dimana hari yang paling menyebalkan. Sebagai seorang pelajar sudah seharusnya mengikuti kewajiban rutin kita, yaitu ke sekolah. Sekolah adalah tempat yang menyebalkan dan membosankan. Itulah menurutku, bahkan dengan mempunyai teman populer itu tidak membuatku berkata kalau kehidupan yang ada di sekolah itu menyenangkan dan disini aku, berada di jalan menuju perkarangan sekolah.
"Yo, Kyuubi-chan! Selamat pagi!"
"ah, Ino dan.. Sakura selamat pagi" Suara cempreng itu sedikit membuatku terkejut apalagi dengan dia tiba-tiba menyentuh pundak kanan ku. Pemilik suara itu tidak salah lagi adalah Ino Yamanaka. Salah satu perempuan yang populer dikalangan sekolah. Ada juga seseorang di sebelah Ino. Dengan rambut pink orang itu tersenyum seraya melihatku dan memberi salam. Dia adalah Sakura Haruno. Perempuan pink yang juga salah satu dari siswa populer. Selain cantik mereka berdua juga berasal dari keluarga terpandang.
Dan aku tidak ingin melihat mereka.
Kenapa? Ya, itu karena ada beberapa alasan,-
"Aww Kyuubi-chan kok datar gitu sih, apa kau masih marah Sakura mengambil Sasuke dari mu?"
Perempuan blonde ini… Kalau tidak berada di public. Sudah ku retakkan tengkoraknya itu.
Kutarik nafasku dan menghembus dengan kasar.
Hari ini adalah hari sialku.
.
School
Sejujurnya aku tak peduli dengan Sakura yang mengambil cowok raven itu dariku. Dia menang dan aku kalah. Kuterima itu, tapi hanya saja aku tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Yo Ino, Kyuubi, dan Sakura" Tepat di pagar sekolah seseorang dengan jaket putih berbulu di area penutup kepala menegur. "Selamat pagi. Kalian bertiga sama seperti biasanya yah" Sambungnya. Makhluk itu bernama Kiba Inuzuka. Salah satu murid populer juga. Walau berada di kalangan Keluarga terpandang, dia juga terkenal dikalangan anak nakal yang suka ikut cari gara-gara dengan sekolah lain. Dan ketiga orang yang ada di dekatnya itu adalah Shikamaru Nara, orang yang tidak peduli sekitar dan bahkan tak tertarik dengan kehidupannya sendiri. Choji Akimichi, hmm… aku tak tertarik dengan panda itu.
Terakhir adalah Sasuke Uchiha. Laki-laki yang sangat terkenal di kalangan sekolah dan mantan pacarku.
"Selamat pagi juga kalian semua" Ino membalas sapaan Kiba seraya menepuk pundak Shikamaru. "Semangat! Semangat!" Dilihat dari respon Shikamaru menahan sakit. Kurasa itu bukan tepukan.
"Selamat pagi Sasuke-kun"
"Ya, selamat pagi juga Sakura"
Ah. Mereka berdekatan. Seharusnya aku menduga ini akan terjadi. Tapi, melihat mereka berdua sedekat itu. Entah kenapa sedikit membuatku perih. Tak lama itu. Lelaki Raven itu melihatku. Sempat terdiam beberapa detik dan berkata. "Selamat pagi" Tentu saja aku harus membalasnya.
"Ya, selamat pagi juga"
.
Classroom
"Ino Yamanaka-san"
"Hadir!"
"Kiba Inuzuka-san"
"Hadir!"
Tak kusangka pelajaran kedua telah dimulai. 64 menit waktu yang kubuang hanya untuk melihat pemandangan halaman belakang sekolah. Entah apa yang dijelaskan Kurenai-sensei tadi. Sedikit pun aku tidak mengingatnya.
"..dir!"
"Naruto Uzumaki-san"
"Tidak ada Kakashi-sensei, semenjak pelajaran pertama tadi dia gak ada"
"begitu ya.." Kulirik guru bermasker itu sebentar. Sebelum pandangan matanya ke arahku.
Yap, seperti dugaanku.
"Apa ada alasan kenapa adikmu tidak masuk hari ini Kyuubi Uzumaki-san?" Kutarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan. Ini sudah kedua kalinya aku ditanyai pertanyaan itu. "Aku melihatnya pergi terlebih dahulu dari rumah dengan pakaian sekolah… mungkin bolos?" Aku tau pandangan itu. Pandangan yang melihatku sama sekali tak percaya, kalau aku tidak peduli dengan keberadaan orang itu. Apalagi adiknya sendiri.
Ya dan itu memang benar.
"…Uzumaki-san aku harap kau sedikit… sedikit saja memperhatikan adikmu itu. Kuharap dengan mendapat bimbingan tentang nilai social kehidupan saat pulang sekolah nanti. Dapat memperbaiki perilakumu"
Benar-benar adik yang menyebalkan.
#Srekkk
"Ah!"
Tiba-tiba dari arah pintu masuk terbuka. Menampilkan sosok seorang berambut kuning. Mirip mendiang Ayahku, Minato Namikaze. Tampang paras lelaki itu aku mengenalnya. Sepasang pipih yang terdapat 3 garis luka. Mata biru bak lautan tenang yang akan menghanyutkanmu, jika kau menatapnya lebih dalam adalah...
...Naruto Uzumaki.
Adikku.
For the first time in my life.
Baru kali ini kejadian ada murid yang terlambat sangat sangat parah di jam seperti ini.
Waktu sempat terdiam beberapa detik sebelum dia memulai. "Apa aku bisa masuk?" tanya dia. Masih memandang Kakashi dari arah pintu. Tangan kekar miliknya itu masih memegang pintu yang tadi dibuka. Mungkin dia bersedia menerima penolakan, lalu segera menutup pintu.
"Uzumaki-san… kau tau jam berapa dan pelajaran ke berapa ini?"
"08:44:42 detik. Yaitu jam pelajaran kedua, yang seharusnya dimulai pukul 08:25 yang lalu berlangsung"
"…"
Guru bermasker itu terdiam. Mungkin karena penjelasan Laki-laki pirang itu. Bukan mungkin, tapi itu memang benar. Kakashi seharusnya memulai pelajaran kedua di 19 menit yang lalu. Pertanyaannya..
Bagaimana Naruto bisa tahu?
Kalau Guru ini baru saja sebentar masuk?
Teman? Tidak-tidak dia sama sekali tidak punya teman. Mungkin ada. Tapi setidaknya, aku tidak pernah melihat dia berbincang ataupun akrab dengan seseorang dari kelas ini.
Kudengar desahan pasrah Kakasih lalu kemudian berkata. "Ya kau bisa masuk Uzumaki-san. Tapi kau tahu kan.." Seraya menggesek-gesekkan belakang pulpen di kepala.
"Ya, aku akan menemui nanti"
"Bagus. Kau bisa pergi duduk sekarang"
Barisan tempat duduk Naruto tepat di hadapan ku. Namun di arah yang berlawanan. Jika aku berada di pojok belakang dekat jendela luar belakang sekolah, maka dia berada di dekat jendela ruang lorong dan kini kulihat dia duduk serta mempersiapkan buku untuk belajar.
Sesudah itu Kakashi mulai melanjutkan absen. Kembali kupalingkan pandanganku ke arah luar sekolah. Kalau di ingat-ingat kembali. Sesaat sebelum dia mengeluarkan buku dari tas. Naruto sempat mengatur rambutnya. Seperti ingin menyembunyikan sesuatu di telinganya. Sebelum rambut itu menutupi telinga.
Kulihat ada plester kecil.
Apa dia berantem?
Entahlah.
Aku tak peduli.
Hm...
Kalau dipikir-pikir... Semenjak lulus 1 bulan yang lalu. Naruto tidak pernah membolos pelajaran, apalagi terlambat. Dia selalu datang tepat waktu.
.
"Hari ini Cukup sampai disini. Naruto jangan lupa menghadap saya nanti. Ketua silahkan"
"Berdiri. Hormat."
Akhirnya selesai. Kakashi mengampuh pelajaran kimia selama 2 jam. Tak heran kalau semua murid kelas ini berwajah lesu. Sesaat guru itu pergi pertanda kalau sudah saatnya istirahat.
Mungkin aku akan memesan ramen nanti.
"Kyuubi-chan, ayo kita ke kantin"
Ah, si pirang itu lagi. Yah, mau bagaimana lagi. Dia adalah temanku, begitu juga dengan Sakura. Sebenarnya hal ini sudah seperti biasa. Makan bersama dengan mereka setiap pagi. Serta para rombongan lelaki yang tadi.
"hn, kalau begitu ayo. Ramen bakalan habis"
"heh kau ingin makan itu lagi Kyuubi-chan?"
"Belakangan ini kau suka makan itu. Kupikir tidak baik mengonsumsinya tiap hari"
Perempuan pink yang di ketahui Sakura itu kini angkat bicara. Ya, memang benar kalau dia mengambil Sasuke dariku tapi rasa pedulinya tentang ku dapat kurasakan.
"Tak apa. Hari ini terakhir…. Kuharap"
"Oh, ok. Kalau begitu ayo. Sasuke-kun ayo"
Orang-orang yang kujumpai tadi pagi kebutulan juga satu kelas denganku. Sudah sejak kecil kami bersama selalu. Ditempati dikelas yang sama, makan bersama, keluar bareng bersama. Dan semenjak menduduki sekolah menengah atas aku merasa...
...bosan.
Kulihat lelaki Raven itu menghadap kiri dan berkata. "Kiba ay,-"
#BRAK
Tiba-tiba Kiba berdiri dan memukul meja. Sasuke mengurungkan niatnya. Kelakuan Kiba sudah pasti menjadi pusat para murid. Ada yang menatapnya heran, kaget dan takut. Tentu saja aku berada di grup yang kaget. Begitu juga dengan Sakura dan Ino.
"Oi Kiba apa yan,-" Sebelum Shikamaru memprotes cara membangunin nya seperti itu Kiba meneriaki nama seseorang
"Brengsek Naruto!"
Setelah membuatku kaget barusan, laki-laki bertato sepasang di pipih ini makin membuatku terkejut. He? Naruto? Kenapa? Apa dia ingin membully nya lagi?.
Kiba terlihat sangat marah dan segera berlari ke arah Naruto yang merapikan bukunya. Lelaki pirang itu terlihat acuh meskipun brandalan seperti Kiba meneriaki namanya. Bahkan saat Kiba menarik kerahnya dengan kasar dia masih terlihat tenang.
"oh? Inuzuka-san? Ada apa?"
"Brengsek jangan pura-pura tak tahu kau bangsat" Pegangan Kiba dikerah menguat, dan lalu berteriak kembali.
"Apa yang kau lakukan pada adik perempuan temanku hah!"
"Aku sama sekali tak tahu apa yang kau bicara,-" Ucap Naruto namun dipotong dengan Kiba yang menunjukan layar handphonenya. Tepat di depan mata biru itu. Aku tak tahu apa yang diperlihatkan Kiba. Tapi beberapa detik kemudian. "Kau lihat ini kan? Ini rekaman CCTV sejak malam minggu lalu tepat didepan klub milik temanku! Barusan rekaman ini dikirim temanku. Ini kau kan! Kau yang mencekik adiknya si Tamaki kan, sialan!".
Klub? Mencekik? Adikku itu? Malam minggu lalu? Tamaki? Ya, memang benar kalau aku melihatnya pergi keluar sejak sekitaran jam 10 pada hari itu. Pada malam minggu itu aku juga keluar bersama dengan mereka mencari restoran santai untuk ngobrol. Pada waktu pulang. Aku berbarengan dengan Kaa-chan yang kebetulan pulang kerja dari perusahaan yang di wariskan tou-san. Waktu itu menunjukan jam 11 sesaat sampai di rumah.
"Kaa-chan kau terlihat sangat lelah. Tidurlah cepat sana"
"Ya, kau benar Kaa-chan sangat lelah.." walaupun berkata seperti itu Kaa-chan berjalan mendekati kulkas dan mengambil bir serta meminumnya. Dia juga mengambil 2 kaleng bir lagi lalu menutupi nya dengan kaki. "..dan anak sialan itu bahkan tak tahu jam berapa ini sekarang".
#gluk-gluk-gluk
Tegukan itu terdengar kasar. Kaa-chan benar-benar sangat lelah dan terlihat sangat marah. Aku hanya berpikir… apa aku bisa tidur nyenyak nanti.
…
Ke-esokkan harinya aku bangun dengan pulas.
Jadi begitu. Alasan kenapa aku tertidur dengan pulas kemarin, itu karena Naruto bermain kata seperti hal yang dilakukannya pada Kakashi ke Kaa-chan.
Belakangan ini memang dia sering pulang malam dan Kaa-chan tak pernah tahu. Aku juga tak pernah mengatakan Kaa-chan karena tidak ingin merepotkan. Karena aku tahu kalau Kaa-chan tidak peduli padanya. Baru kali itu juga Kaa-chan berniat memarahinya. Sedikit membuatku terkejut. Kalau Kaa-chan bisa sampai marah begitu.
Apa dia stress dengan pekerjaan kantornya? Mungkin.
Semenjak Naruto lulus dari asrama sekolah menengah pertama di desa kecil tradisional bernama Outland. Dia bersikap seperti berandalan. Dan Tamaki? Aku tak pernah mendengar nama ini sebelumnya. Tapi jika dilihat Kiba menjadi seperti ini.
Apa itu perempuan yang dibicarakannya belakangan ini? Kurasa iya.
Mata biru Naruto masih menatap layar kaca hp Kiba. Mungkin masih melihat video itu lebih jelas dan setelah beberapa detik dia membalas tatapan Kiba.
Dia tersenyum.
#Deg
"hooh, ya. Kau benar Inuzuka-san, orang berambut pirang itu terlihat seperti diriku. Itu memang diriku."
"Brengsek! Berhenti berbasa-basi. Sudah pasti itu kau!" Kerah Naruto kuyakin sangat kusut sekarang. Apalagi dengan Kiba yang lebih menariknya ke atas. "Sekarang jawab pertanyaanku kenapa kau mencekiknya!" Kemarahan Kiba dapat dilihat dengan jelas oleh murid dalam kelas. Bahkan menarik penonton dari kelas lain.
Tak ada yang berniat menghentikan Kiba. Lelaki penyuka anjing yang sekejap saja bisa memukul Naruto.
Tak ada satupun yang berniat. Bahkan diriku.
"Perempuan itu selalu mengikutiku. Walau sudahku usir… dan itu menyebalkan. Bukankah hal yang wajar jika aku mengancamnya?"
"Brengsek! Kenapa juga Tamaki mengikutimu sialan! Katakan yang sebenarnya!"
"…Itu hal yang sebenarnya.."
"Nah! Lalu kenapa Tamaki sampai bisa mengikutimu hah!" Kali ini Kiba tidak berteriak namun penuh penekanan disetiap katanya.
"Bagaimana… Jika aku bilang… aku sudah bosan padanya"
Sekejap Kiba menjatuhkan hp nya lalu segera memukul Naruto. Perkataan Naruto barusan tepat membuat Kiba naik pitam. Perkataan itu juga mempunyai banyak makna bagi Kiba yang tentu menyukai si Tamaki itu.
Kepalan Tinju itu dapat dihentikan Naruto walau berada di posisi yang tidak menguntungkan. "Kekerasan tak diperbolehkan di sekolah Inuzuka-san. Apa orang tuamu tidak pernah mendidikmu?" Itu murni membuat Kiba lebih tambah marah. Dilepas kerah Naruto lalu melakukan hal yang sama namun nihil. Serangan mendadak itu lagi-lagi dapat dihentikan Naruto.
Tak berniat berhenti sampai situ. Kiba memundurkan sedikit kepalanya sebelum menghantam kepala Naruto. Naruto juga melakukan hal yang sama. Hantaman kepala mereka kemudian bertemu. Hasilnya Kiba lah yang termundur dan hampir jatuh ke belakang.
"Si-sialan.."
"hmhm begitu.." Naruto terlihat bergumam sendiri sebelum bertanya. "Apa temanmu itu begitu penting bagimu, Inuzuka-san? Atau si adik perempuan yang bernama Tamaki itu sendiri?"
Aku sama sekali tidak tahu apa yang dipikirkan adikku itu. Baru kali ini aku melihatnya berkelahi dan orang yang di lawannya itu adalah temanku yang ditakuti di sekolah-sekolah lain karena banyak ikut tawuran dan cari gara-gara sama mafia jalanan. Kalau tak salah ingat lagi. Waktu kecil juga, Naruto begitu takut pada Kiba.
Dan laki-laki pirang ini malahan berniat memanas-manasinya lagi.
"dua-duanya penting brengsek"
"hooh"
#Deg
Mendapat balasan seperti itu. Naruto menyeringai.
Kiba mengelus kepalanya yang tadi berbenturan sambil mengatur kuda-kuda. Tampaknya dia masih ingin memukul Naruto. Kiba pun berlari menerjang Naruto. Tapi sebelum pukulan itu mengenai mulut si pirang. Hp Kiba berdenting.
Refleks dia berhenti seketika. Cukup lama Kiba terdiam, lawannya yang ada di depan itu pun berkata. "Kuharap kau mengangkat panggilan itu Inuzuka-san. Tak baik menghiraukan orang lain hanya untuk orang sepertiku , kan?" Dilihat hp nya dibawah lantai. Aku tak tahu itu siapa. Tapi melihat respon Kiba yang menurut. Itu berarti temannya yang mengirim rekaman tersebut.
Hp Naruto kemudian berdering. Tak butuh waktu lama panggilan itu diangkat setelah dia melihat sekilas layar tersebut.
Sasuke yang sedari tadi diam ditempat duduk. Kini beranjak berdiri dan berjalan ke arah Kiba yang menelepon diikuti Sakura dibelakangnya.
"h-ha? Jangan bercanda kau Sora, lalu kenapa si Tamaki di cekik olehnya?!" Wajah Kiba terkejut lalu marah saat bertanya. "he!? Be-benarkah begitu?" Kemudian membiru. "ha… aku mengerti, baik-baik. Sampai jumpa" Seiiring dia menutup hp dan memasukkan di dalam saku. Sasuke berada di belakangnya dan bertanya.
"Kenapa Kiba?"
"a-ah ti-tidak… hanya kesalahpahaman" Digaruk pipihnya yang tidak gatal dan menghadap Naruto yang membelakanginya. Kiba menunggu Naruto selesai dengan panggilannya. Tak lama kemudian Naruto mematikan hpnya dan dengan cepat berjalan keluar.
"Ayo kita lanjutkan ini nanti, Inuzuka-san" Ucap Naruto dihadapan Kiba. Tapi dibalas cepat saat Naruto berpaling. "Itu tidak perlu… Naruto. Aku salah. Itu hanya kesalahpahaman. Aku minta maaf. Aku tak tahu kalau kau yang membantu Tamaki kamis lalu. Lagipula itu salahmu karena memanas-manasiku". Setelah mengatakan itu Kiba sedikit membungkukkan badannya. Alhasil itu membuat Naruto berhenti dan menatap Kiba kembali.
"Sebagai balasannya kuharap kau memukulku dengan keras sekarang Naruto"
"Sudah kubilang tak ada kekerasan di dalam Sekolah… bagaimana kalau kita ganti itu dengan kau berhutang padaku?"
"ka-kau ingin memeras ka-kantongku?!"
"…aku tidak pernah bicara tentang uang…"
"o-oh. Ba-baik"
Setelah mendapat persetujuan. Kulihat mata Naruto melirik Sasuke sebentar lalu kemudian Sakura. Berbeda dengan Sasuke yang membalas lirikan Naruto dengan datar, Sakura malah salah tingkah dan penuh tanya saat bertemu mata Naruto.
.
2 hari berlalu sejak kejadian itu.
Kulirik bangku yang seharusnya diisi dengan keberadaan laki-laki pirang itu. Sudah 2 hari ini dia tidak kelihatan di perkarangan sekolah. Kukira dia akan terlambat lagi hari ini dan masuk sebelum istirahat. Tapi nihil.
Pada semenjak kejadian itu, setelah istirahat selesai sampai jam pulang. Naruto tidak pernah muncul. Meninggalkan tas yang akhirnya kugendong saat Kakashi-sensei datang dan menyuruhku.
Awalnya Kiba menawarkan bantuan tapi kutolak. Semenjak itu juga Sakura bersikeras melarang ku makan Ramen. Mungkin dia jengkel karena perkataan Naruto pada waktu itu.
"Setengah badanku ini terbuat dari ramen dan masih hidup serta bekerja dengan baik. Jadi, kusarankan kau tidak berpikir kalau ramen itu tak baik dikonsumsi tiap hari… Haruno-san" ucap laki-laki pirang itu sebelum keberadaannya menghilang di kerumunan siswa-siswa luar yang membukakan jalan.
…
Sejak itu ramen menjadi makanan pokok sekolahku.
Wajar saja Sakura kesal. Dia tiap hari kulihat selalu mempelajari hal-hal yang berbau kedokteran. Diberi saran oleh seorang awam malah membuatnya kesal setengah mati. Apalagi itu seorang Naruto yang dibuat babu waktu perempuan pink itu masih kecil.
Karena adik sialan itu juga entah kenapa mendorong aku menyukai ramen dan selalu makan diam-diam di belakang Sakura.
Semenjak itu juga untuk pertama kalinya dalam hidupku.
Aku memasuki kamar Naruto.
Pada awalnya aku berpikir akan melemparkannya di atas kasur dan pergi saat sampai di kamar Naruto. Tapi waktu aku membuka kamarnya.
"ra-rapi" Ini bukan pertama kalinya aku memasuki kamar lelaki. Aku sering bermain ke rumah Sasuke dan laki-laki lainnya bersama dengan rombongan. Tapi baru kali ini aku melihat kamar yang sangat sederhana, minimalis, membosankan dan terlihat serapi ini.
Di dalam kamar tersebut hanya ada kasur, 1 lemari pakaian, meja dan kursi belajar, diatas meja tersebut ada 1 buah laptop beserta rak buku yang hanya sedikit. Tidak ada stiker atau pajangan lainnya di dinding kamar. Polos semua.
Entah kenapa aku ingin sekali tidur di kasur yang terlihat empuk itu.
Ah, sial tubuhku bergerak tidur sendiri.
Semar-semar aku mencium bau dan sedikit terkejut. Baru kali ini aku mencium aroma ini. Apa ini bau Naruto? Tidak ada parfum di kamar ini, jadi ini murni bau milik Naruto? Keringatnya? Kuhirup kain seprai itu.
"A-apa-apaan ini!" Aroma ini memabukkan.
Apa bau ini memang milik laki-laki? Tidak-tidak, ini sangat berbeda dengan Sasuke serta laki-laki lain saat mereka berolahraga.
Apa itu karena mereka memakai parfum? Entahlah. Tapi… tak apa, kan? jika aku tidur sebentar… disini...
...
…..
"Apa yang aku lakukan!"
Jika Naruto melihatku seperti ini mau taruh dimana muka ku ini!
Segera aku berdiri dan pergi dari kamar itu. Tapi melihat tanganku masih memegang tas Naruto membuatku menepuk pelan dahiku lalu membuka pintu kamar tadi dan melempar tas Naruto dengan kuat di lantai lalu pergi.
.
Suara pintu terdengar saat aku menyediakan makan malam. Kulihat jam dinding. Masih larut. Jadi aku bisa menebak kalau itu siapa orang itu. Naruto. Walaupun belakangan ini Naruto pulang larut malam dan bahkan amat pagi. Dia juga kadang pulang cepat.
Dia biasanya pulang terlebih dahulu dan mengganti pakaian sekolahnya tapi hari ini pengecualian. Kenapa aku bisa tahu? Memang benar jika aku sering keluar dengan rombongan saat pulang sekolah dan tidak sempat mengganti pakaian. Aku benci mengatakan ini, tapi ini bisa disebut dengan feeling seorang kakak.
"Aku pulang"
Eh?
"Kaa-chan!?" ku balik tubuhku ke arah yang berlawanan. Tepat di pintu masuk ruang tamu Kaa-chan datang dengan membawa 2 kantung plastik.
"secepat ini?!"
"he, emang kenapa jika Kaa-chan pulang cepat?"
"ah, ti-tidak aku hanya terkejut… kukira Naruto"
"ha! Naruto belum pulang juga?!" Barang belanjanya itu di letakkan di atas meja makan dan duduk. "a-anak itu.." Kaa-chan terlihat membisikkan sesuatu dan lalu menatapku. "Hubungi dia sekarang Kyuubi".
"h-he. A-aku tidak mempunyai nomor hpnya"
"Kau kakaknya dan kau tidak punya nomor hpnya?" Kaa-chan sedikit terkejut. Kuhiraukan dia saat melihat omeletku hampir gosong. Kuangkat lalu kutaruh omelet itu dipiring dan setelah menggantung apron kuning itu ditempatnya kini aku duduk di hadapan Kaa-chan seraya bersiap makan.
"Kaa-chan tahu kan kalau aku tidak menyukainya sejak kecil"
"aduh Kyuubi, Naruto sudah bukan lagi bocah bodoh tak ada alasan lagi kau tidak menyukainya… setidaknya berikan nomor hp mu pada dia. Kalau terjadi apa-apa padamu kau akan menelepon siapa"
"Polisi sudah pasti.." sebelum Kaa-chan angkat bicara aku memotongnya. "..kalau bukan polisi aku mempunyai teman-teman kalau soal informasi.. aku sama sekali tidak membutuhkan informasi darinya" Kaa-chan terdiam dan aku memulai acara makanku.
Kulirik Kaa-chan yang menundukkan kepalanya seraya memegang jidat.
Dia kelihatan..
Kecewa?
Tapi kenapa?
"apa Kaa-chan tidak ada nomor hpnya?"
"kalau ada aku tak akan repot-repot bertanya"
Krekk.
Setelah membuatku berpikir seperti aku gagal menjadi seorang kakak. Si Ibu sialan ini juga ternyata dalam keadaan sama. Kutarik nafas ku dalam dan menghembuskannya pelan.
Sabar Kyuubi.
Sabar.
"Kenapa tidak menunggu nya seperti yang kau lakukan sabtu lalu? Lagipula tumben Kaa-chan peduli begini sama anak itu"
Kaa-chan membalasnya dengan gumaman. Sudah kuduga dia kecewa. Tapi aku sama sekali tidak tahu alasannya kenapa. Setahuku Kaa-chan juga tidak menyukai Naruto sejak kecil dan bahkan anak pirang itu di cap sebagai merepotkan sehingga di sekolahkan di asrama.
Tapi Kaa-chan tadi berkata kalau Naruto sudah tidak bodoh lagi. Apa Kaa-chan sudah mengakuinya? Mungkin. Tapi sudah 1 bulan yang lalu Naruto lulus dari asrama dan pulang.
Kenapa baru sekarang Kaa-chan mengakuinya?
"Kalau Kaa-chan khawatir pastikan kali ini jangan sampai adik bodoh itu pulang larut, Dia pandai berkata-kata"
Sudah kuduga Kaa-chan tahu maksud perkataanku. Berarti tebakkan ku benar tadi pagi kalau Naruto bisa lolos dari amukkan Kaa-chan karena bermain kata seperti yang dilakukannya pada Kakashi.
Dan juga kurasa aku bisa menebak kenapa Kaa-chan kecewa. Mungkin karena dia ingin mengakrabkan Naruto padaku. Kenapa aku berpikir seperti itu? Sudah pasti,kan? Dilihat Kaa-chan yang sangat langka pulang cepat dari kantor dan dia yang tadi menyuruhku kalau aku tidak mempunyai alasan membenci Naruto.
Sudah pasti karena itu. Mungkin menurutnya kalau hari ini adalah kesempatan yang bagus untuk memulainya.
Fufufu.
Senang bisa mengetahui segala hal.
...
Tapi kenapa wajah Kaa-chan malah memerah…
Berbicara tentang Kaa-chan. Menurutku dia cukup aneh 2 hari belakangan ini. Sehari sebelum Naruto tidak pulang dia cukup memperdulikan Naruto. Tapi setelah hari esoknya dia tidak pernah membahas Naruto lagi. Bahkan kemarin dulu dia tidak pulang ke rumah, tapi keesokannya dia pulang awal lalu pergi lagi. Dan tidak pulang.
Aku tak tahu hari ini kalau dia akan pulang atau tidak.
Begitu juga dengan Naruto.
Tak kusangka aku membahas Naruto terus menerus. Cukup sekian hal yang terjadi kemarin. Hanya itu yang terjadi.
Tidak ada hal apa-apa yang terjadi sewaktu aku tidur.
Baik-baik, ada hal yang terjadi tapi aku tak akan menceritakkannya.
Tidak akan!.
(Author dipukul tepat di selangkangan)
Hah.
Naruto Uzumaki. Aku memang membencinya dari kecil. Itu karena dia bodoh, pengecut dan lemah. Alhasil dia dibully oleh Sasuke dan yang lainnya. Tak sampai situ, saking bodohnya dia selalu mengikuti rombonganku berteriak-teriak kalau dia ingin menjadi salah satu anggota teman mereka. Pada akhirnya dia malah menjadi babu dan dibully.
Namun…
"Asalkan aku dapat menjadi teman kalian. Kurasa tak apa kalian memperlakukkan ku seperti ini"
...
A-apa yang aku…
...pikirkan sewaktu kecil…
…saat melihat senyuman polosnya itu…
...kenapa baru sekarang?
Sesuatu yang dingin jatuh di tangan ku. Tangan itu kupakai untuk bertopang sambil memandang jendela luar.
Itu air.
Lebih tepatnya air mata.
Sejak kapan aku menangis? Aku tidak pernah menangis bahkan saat Sasuke memutuskanku. Aku sama sekali tidak menangis. Apa karena ingatan sekilas itu? Cuma karena ingatan itu? Memang benar jika aku merasa kasihan sekarang.
T-tapi…
Aku benci ini.
Aku benci merasa lemah.
Aku benci kau wahai adikku.
End Kyuubi POV
.
.
.
Hidden Action
Aroma bau itu tidak akan hilang!
Entah kenapa aku bisa menciumnya kembali. Padahal aku berniat tidur sekarang. Tapi ingatan sekilas, hanya sekilas! Cuma karena posisi tidurku sama seperti yang kulakukan di kamar Naruto.
Dan sudah 2 jam ini aku tak bisa tidur. Tenang Kyuubi kalau begini trus kau bisa gila.
Kuatur pernapasanku.
Mungkin segelas air bisa menenangkanku.
.
Arghhhhh. Kenapa bisa aku berada di depan pintu Naruto!
Apa yang kau pikirkan otak sialan!
Berhenti membuang-buang waktu! Ini sudah sangat larut! Aku harus tidur besok sekolah.
Otakku kini bisa merespon. Tubuhku kini bisa digerakkan.
Dengan begini aku bisa balik ke kamar.
Kutinggalkan pintu itu tapi tak sampai beberapa langkah aku terhenti. Dan menatap pintu itu lagi.
.
"uwahh karena aroma sialan ini aku tidak bisa tidur" kuhirup kain seprei itu. Aku tak peduli dengan kasurnya yang jadi berantakan.
"tak kusangka kalau dia belum pulang juga"
Bisa jadi gawat jika Naruto datang tiba-tiba. Tapi tubuhku tak mau menjauh dari bau ini.
.
Apa sih yang kupikirkan… sampai repot-repot mengganti kain seprei ku dengan milik Naruto.
(Author's Note : Kyuubi mengambil kain seprei Naruto dan kemudian membawanya ke kamar untuk di ganti kan dengan punyanya dan saat ini dia baru mau balik ke kamar setelah memasang kain sepreinya di kasur Naruto)
"Kyuubi? Apa yang kau lakukan? Ini sudah larut malam!"
"eh? Kaa-chan kau masih bangun… kenapa dengan pakaian itu?" Kulihat Kaa-chan dari ujung rambut sampai kaki. "Apa kau ingin keluar malam begini?" pakaiannya hanya terlihat sederhana. Baju hitam ketat panjang sampai menutupi pergelangan tangan dan jeans biru yang juga ketat.
Itu sama sekali bukan baju tidur.
"a-ah ti-tidak aku…" dia terlihat berpikir. "..menunggu Naruto pulang. Aku kedinginan menunggunya jadi aku mengganti pakaian ini" alasan yang masuk diakal.
Tapi kenapa dia terlihat berpikir tadi?
Entahlah. Aku pingin cepat-cepat tidur.
(Author's Note : Maksud Kyuubi dia pingin cepat-cepat menghirup bau Na,- ghaakkk).
"Kalau begitu pastikan buat adik sialan itu kapok dan tidak mengulanginya lagi, selamat malam Kaa-chan"
"Selamat malam"
Benar-benar adik yang merepotkan.
Pada esoknya Naruto tidak pulang dan Kaa-chan tumben pergi terlebih dahulu dariku.
Hari itu aku masturbasi sebanyak 4 kali.
END Hidden Action
