Outland
Desclaimer :
Naruto and the other Character is not my own.
Summary :
Berita menghebohkan. Seluruh dunia meratapi seluruh siswa kelas 1-A yang menghilang secara mysterius.
Chapter 3 :
The Disappering Classroom
Pagi yang sejuk. Seorang perempuan berpakaian baju sekolah terlihat berlari dengan tergesa-gesa. Karena suatu alasan, blazer abu-abu yang di pakainya tidak di kunci. Membuat payudaranya naik turun tak karuan dari balik kameja putih. Perempuan itu kemudian melompat dan tiba-tiba memeluk seseorang, menghiraukan celana dalam biru pekatnya itu terlihat dari balik rok mini hitam.
"Kyuubi-chan! Ohayowww"
"Hentikan Ino"
Korban yang diketahui bernama Kyuubi itu kemudian berusaha mendorong si pelaku dan menjaga jarak darinya. Setelah terlepas. Perempuan merah itu melihat wajah Ino yang mengkelap-kelip lalu bertanya.
"Ada apa dengan kau?"
"Hmm.. ada apa dengan aku?"
"Kau terlihat… sedikit berbeda"
"Berbeda?"
Dengusan nafas terdengar. Pertanyaan yang di jawab dengan pertanyaan itu membuat Kyuubi memilih meneruskan aktivitas berjalannya dan meninggalkan Ino. "Oh, Ayolah. Kyuubi-chan, kau seharusnya memaksaku berbicara." Rengek Ino.
"Baiklah. Kalau begitu kenapa?"
"hmmm, kenapa ya?"
#BLETAK
"aduh!" Diketuk tepat di ubun-ubun membuat Ino kesakitan dan segera memegang kepalanya dengan kedua tangan. "Apa-apaan sih Kyuubi-chan!" Bentaknya tak terima. Kedua tangan itu masih memegang kepala seraya berjalan cepat menyusul Kyuubi.
"Kau menyebalkan"
"Eh! Kau yang menyebalkan"
"Hah. Jadi, kenapa?"
"Hem-hem" Gerutu Ino. Memalingkan wajahnya. Ngambek. "Baik-baik. Aku minta maaf. Lalu, Apa yang terjadi padamu hari ini Yamanaka-san?" nada Kyuubi sengaja dibuat semenyesal mungkin. Hanya agar supaya perempuan pirang itu berhenti menjadi lebih menyebalkan.
"Hm. Baik" angguk Ino lalu menatap Kyuubi disela-sela mereka berjalan. "Partner,- ehem maksudku Pacarku, akhirnya melakukan kontak tubuh denganku setelah sekian lama. Yah, walaupun dia melakukan itu karena hadiah atas hasil kerja kerasku. Da-dan lihat apa yang di berikannya padaku" Aktivitas berjalan Kyuubi terhenti karena Ino melompat pelan di hadapannya seraya memperlihatkan benda yang ada di jari perempuan pirang itu.
"Tada~ Ini cincin. Bukankah ini sangat cantik!" Ucap Ino histeris lalu mencari cahaya matahari dari balik pohon yang mereka diami. "Ini bahkan berkilau!" Ucapnya lagi dengan bangga.
Kyuubi terpaku melihat cincin tersebut. Perempuan merah itu, entah kenapa serasa familiar dengan benda tersebut. Seperti…
…Benda itu…
…Seharusnya. Milik dia.
Menyadari temannya itu terdiam cukup lama. Ino bertanya "Ada apa Kyuubi?" dengan senyuman. Lalu di balas dengan gelengan pelan dan berjalan kembali. Melewati dirinya.
Dilihat punggung Kyuubi dari belakang sebentar. Lalu menyeringai… kemenangan.
.
.
.1
.
.
Sesampai di kelas. Seluruh murid yang ada di dalam. Di hebohkan dengan hadiah pemberian pacar Ino. Bahkan ada seorang temannya yang pakar tentang batu-batuan mineral. Mengatakan kalau baru kali ini dia melihat material cincin yang seperti itu.
Dan apa jawaban Ino? "Well, it's because, this is not from our world" Seperti itu.
Pada saat Kiba bertanya siapa pacarnya tersebut. Perempuan pirang itu menjawab. "Ehm. Walaupun aku ingin. Tapi, dia melarangku mengatakan pada siapapun." Yang mendapat respon kecewa dari seluruh temannya.
Ino kemudian memilih duduk diam serta berbinar-binar memandang cincin di hadapannya. Mengabaikan tatapan ke-empat teman kecilnya (-Kyuubi) yang sangat penasaran dengan siapa pacarnya.
"Lalu bagaimana kabar Ibumu Kyuubi?" Ucap Shikamaru menghadap belakang bangkunya. "Kemarin dia pulang pagi, tapi hanya sebentar lalu tidak balik lagi." Balas Kyuubi singkat.
"Pertama adikmu. Kedua Ibumu. Apa kau tak curiga?"
"Tidak, aku tidak peduli. Well, kalau itu Ibu. Aku rasa dia sedang fokus dengan perusahaannya. Lagipula, setidaknya dia pernah pulang saat tak ada kabar 2 hari…"
"Bukannya adikmu menghilang di hari yang bersamaan dengan Ibumu?"
"Ya. Itu benar. Apa yang kau harapkan dari pertanyaan itu Shikamaru? Apa kau berpikir si pirang itu di bekap penjahat dan meminta tebusan uang pada Ibuku?"
"…aku tak berpikiran seperti itu. Tapi… itu terlihat seperti nyata"
"…Kau benar."
"Let's stop this conversation, ok?"
.
.
.1
.
.
"Oi, Pirang bodoh. Berhenti melihat jarimu dan perhatikan jalanmu."
Sensitif dengan kata itu. Ino pun menjambak rambut si pelaku dan berteriak. "Siapa yang kau panggil bodoh sialan!." Kiba yang tak ingin memukul perempuan hanya bisa meringis kesakitan dan berusaha meminta maaf.
"Hentikan kalian berdua"
"Ta-tapi Sakura-chan.."
"Ino. Kiba hanya ingin memperingatimu saja. Lagipula, tidak cukupkah kau memandangi pemberian kekasihmu itu sejak tadi pagi sampai sore ini?"
"Oh, apa-apaan ini. Kalian mau main keroyokan yah? Kau benar Sakura, itu tidak akan cukup! Sasuke, kau sesekali coba kasih sesuatu yang berharga pada kekasihmu itu. Agar supaya dia tahu bagaimana perasaanku!" Jelas Ino menunjuk-nunjuk perempuan pink itu.
Wajah Sakura memerah dan berniat mengatakan sesuatu namun di hentikan oleh nada dering Ino. "Ah, ini partner,- pacarku. Tampaknya aku diperlukan lagi. Maaf tak bisa pulang bareng kalian. Aku pergi dulu."
Kelima temannya melihat kepergian Ino yang tiba-tiba di jemput mobil porsche macan hitam. "Apa.. kalian dengar? Dia tadi mengatakan kalau dia diperlukan lagi… apa maksudnya itu?" ucap Kiba bertanya-tanya.
"Entahlah"
.
.
.1
.
.
"Kyuubi. Kau yakin mempunyai nutrisi dan protein yang cukup?"
"Ya. Aku yakin Kaa-chan"
"Apa kau bisa lari sejauh 1 km tanpa berhenti?"
"Ya. Aku yakin… eh, apa? Pertanyaan apaan sih itu Kaa-chan? Ada apa denganmu?" tanya Kyuubi sambil memasak. Perempuan merah acak-acakan itu sedikit aneh dengan Kushina yang tiba-tiba pulang dan melancarkan beberapa pertanyaan.
"Ah.. Tidak. Hanya saja.. ehm…"
Ya. Inilah yang dimaksud Kyuubi saat mengatakan ibunya itu cukup aneh beberapa hari ini. Dan ibunya itu malah berdiri dan pergi. Tapi sebelum itu dia berkata. "Akan kujemput kau saat pulang sekolah Kyuubi. Dan pada saat itu… kau akan mewarisi perusahaan Namikaze Corp"
Kushina pun pergi keluar entah kemana. Meninggalkan Kyuubi dengan sejuta pertanyaan. Dia bisa saja mengejar ibunya itu. Tapi diurungkan saat hp nya mendapat 1 notifikasi dari Ino.
Dibuka 1 notifikasi tersebut.
I talk with my boyfriend about my childhood friend's who want to know him. He rejected it, but agree with just a small part of his body inside my selfie. So, here it is.
Betapa terkejutnya Kyuubi saat melihat foto selfie Ino yang tiduran di atas kasur. 70% bagian tubuhnya itu tertutupi dengan selimut dan sedang memeluk tangan seseorang.
Dan tangan seseorang itu…
…terlihat sama dengan Naruto.
Jantungnya berdetak dengan cepat. Entah kenapa dia terasa kecewa. Matanya sedikit berkaca-kaca. Segera dia menghentikan acara memasaknya dan segera berlari ke kamar.
Kyuubi tak tahu kenapa. Sangat-sangat tak tahu kenapa. Dirinya sesak untuk bernafas. Berusaha dia berteriak untuk tenang. Namun tak bisa.
Seakan-akan ada sesuatu yang menghilang. Direbut dan berusaha melawan. Kesenangan. Alasan. Ciuman. Ingatan. Pengkhianatan. Absurp.
Tak lama itu. Kyuubi terdiam. Menatap langit kamarnya dengan hampa. Lalu tertidur.
Keesokan harinya perempuan merah itu terbangun. Matanya terlihat berat. Seperti habis bangun dari mimpi buruk. Dia kemudian berjalan ke arah dapur dan mengambil 1 bungkus roti tawar tersebut lalu memakannya dengan lahap.
Kyuubi lalu segera bersedia ke sekolah. Setelah membuka hp nya dan melihat beberapa percakapan di media sosial. Hanya satu percakapan yang membuatnya penasaran. Yaitu Ino.
Perempuan pirang itu memanggil mereka untuk segera datang cepat ke kelas. Jadi dengan cepat Kyuubi bergegas pergi.
Karena dia juga ingin menanyakan sesuatu yang teramat penting.
.
.
.1
.
.
"Oh Kyuubi kau yang terakhir!" ucap Ino saat melihat seseorang membuka pintu kelas. Perempuan pirang itu tidak terkejut dengan tatapan mematikan dari Kyuubi dan malah mendekatinya dan menyuruh memakai kalung pemberiannya.
"Ini adalah pemberian part,- pacarku. Jadi kumohon pakailah." Mata merah pekat bak kucing itu masih menatap Ino dengan tajam. Namun pada akhirnya dia memakai benda tersebut.
"Apa kalian semua sudah memakainya dengan benar?"
"Ino. Entah kenapa ini menyebalkan. Kenapa juga pacarmu itu memberikan kita hadiah?"
"Sudah pasti karena dia baik, Kiba. Jadi apa kau sudah memasangnya dengan baik?"
"Ya, Sudah."
"Bagaimana dengan yang lain?"
Tanya Ino menatap ke-empat sisanya secara bergilir lalu di jawab dengan mereka yang memperlihatkan leher mereka. Mata birunya itu berbinar-binar kesenangan dan menunjukan juga lehernya. "Dengan begini kita berlima serasi".
"Oh jadi itu alasannya" ucap Sakura. Ikutan senang. Begitu juga dengan Sasuke, Shikamaru dan Kiba. Terkecuali Kyuubi.
Perempuan merah itu kini menatap Ino yang kesenangan itu dengan hampa. Lalu berkata "Ino, ada yang ingin ku bicarakan berdua denganmu." Dan di jawab dengan cepat "Tentu.. Bagaimana kalau nanti?" seperti perempuan pirang itu menduga kalau dia akan bertanya seperti itu.
Anggukan Kyuubi. Malah membuatnya menyeringai.
Karena…
…tidak ada yang katanya nanti.
.
.
.1
.
.
Di suatu ruang yang bertempat di puncak atas gedung ketiga tertinggi di kota. Milik perusahaan Namikaze Corp. Terdengar suara tv yang menampilkan berita yang menghebohkan.
BREAKING NEWS
Sekolah elite yaitu Konoha High School.
1 jam yang lalu. Seluruh siswa kelas 1-A menghilang secara mysterius. Para guru terkejut saat menerima laporan murid karena kelas di sebelah mereka yaitu kelas 1-A terdengar sangat berisik seperti ledakan dan teriakan beberapa siswa. Saat dilihat. Seluruh isi kelas kosong. Tak terkecuali dengan bangku dan kursi mereka.
Para guru mengaku pada saat mereka sampai. Ada sebuah gambar menyerupai symbol yang sangat besar berada di lantai yang berkedap-kedip menyala sebelum menghilang.
Para orang tua siswa yang mendengar berita,-
#CEET
Seseorang mematikan tv tersebut dan berkata. "Sudah kubilang kan… Kaa-san?" Laki-laki pirang yang diketahui Kyuubi telah menghilang beberapa hari itu. Terlihat sementara duduk di kursi yang begitu mewah serta melihat seseorang di bawah meja.
Seorang wanita yang diketahui sebagai Kushina Uzumaki.
Berada di bawah meja miliknya dan sedang menghisap penis Lelaki itu dengan tekun.
"Dengan begini, sesuai perjanjian. Perusahaan ini menjadi milikku, kan?"
END Chapter 2 : The Disappering Classroom
