Outland

Desclaimer:
Naruto and the other character is not my own.

Summary:
Kushina Uzumaki. Pewaris perusahaan sekaligus pemimpin dari perusahaan Namikaze corp yang ditinggalkan mendiang suaminya adalah seorang janda berumur 34 tahun. Sifat pekerja kerasnya berhasil membawa kesuksesaan dalam perusahaan yang bahkan diakui menantu orang tuanya. Tapi apakah dia sukses dengan profesinya sebagai seorang Ibu? Dia bahkan menyekolahkan Naruto di asrama yang jauh hanya karena anak itu merepotkan dan menurutnya bodoh. Warning Inside. Summary will changes every new chapter update.


Chapter 4 :
The Brat who stole her sanity

Kushina POV

Namikaze Corp. The Director's Office.

"i-ini.."

"Ya, itu benar. Dengan begini Namikaze Corp akan lebih sukses kedepan,-"

"Lebih sukses nenek moyang lu!"

"e-eh?"

"Ini bahkan tidak akan menaiki harga jual saham sepeser pun!"

"ta-tapi Uzumaki-sam,-" Kutatap dia tajam. Laporan yang tadi kubaca kulempar ke wajahnya. "Never in my life I seen that… mess! Now get out of here and do your job well!" Dia memunguti laporan itu segera lalu menuju pintu dengan tergesa-gesa. Aku tahu dia kesal. Mana juga ada orang yang tidak marah dibentak dan diperlakukan seperti itu. Namun sebelum dia menutup pintu itu aku berkata "Remember Hayate. Next time, There is no second chance for you" dan dia pergi.

Hari sabtu. Hari dimana laporan perusahaan di serahkan padaku. Pria yang tadi berada di depanku itu bernama Hayate. Dia mempunyai tampang yang cukup keren untuk seorang yang telah menjadi salah satu manajemen bulan lalu. Yang berarti akulah yang menaiki jabatannya tersebut.

Laporan yang tadi diberikannya itu sudah bagus tapi ada satu kesalahan. Hanya satu. Walaupun hanya satu, itu bisa membuat harga saham turun dan membuat perusahaan lain yang menjalin kerja sama kecewa terhadap Namikaze Corp.

Namikaze Corp adalah nama yang diambil dari marga mendiang suamiku dan salah satu prestasi tinggi yang kucapai adalah duduk di kursi ini. Kursi yang menjadi simbol bahwa akulah pemilik perusahaan. Kantor yang bernuansa elit ini adalah kantorku. Tempat yang berada di puncak gedung tertinggi ketiga sebelum Uchiha dan Hyuuga.

Yah mau bagaimana lagi, perusahaan ini murni usaha dariku dan mendiang suamiku. Kami membangun rencana ini dari nol. Walaupun ada sedikit bantuan yang diberikan dari orang tua kita.

Kunci kesuksesan yang kubanggai yaitu ketegasan. Dimana ada ketegasan di situ ada kedisipilinan. Dimana ada kedisiplinan disitu ada kebijakan. Dimana ada kebijakan disitu ada kepintaran. Dimana ada kepintaran disitulah ada kesuksesan.

Motto itu selalu terngiang-ngiang di kepalaku sejak Minato meninggal.

Ada alasan kenapa aku tidak memakai marga suamiku. Aku berjanji pada diriku sendiri, kalau aku akan menjadikan perusahaan ini sukses dan bertahan lama sampai pada akhir dunia. Aku pastikan itu. Dengan kata lain marga Namikaze ini akan selalu diketahui.

Namun bagaimana dengan margaku? Dengan begitulah aku menggantinya dengan Uzumaki. Begitu juga pada anakku.

Kyuubi Uzumaki adalah anak perempuanku. Anak itu mempunyai prestasi yang bagus di semua bidang. Mempunyai banyak teman. Bahkan banyak anak-anak terpandang yang ingin berteman dengannya. Seperti anak dari Fugaku Uchiha. Sasuke Uchiha.

Kyuubi mempunyai potensi yang bisa membuat orang lain mengikutinya. Yaitu Kharisma. Potensi yang bisa melebihi diriku suatu hari nanti jika diasah dengan baik. Dia juga pandai bergaul yang menjadi salah satu kunci untuk menjalin kebersamaan.

Salah satu potensi yang tidak kupunya tapi ada pada Minato.

Sudah pasti dia akan mewarisi perusahaan ini.

Hmm apa?

Aku melupakan sesuatu?

Satu yang tersisa?

Ha? Apa yang kau bicarakan?

Ah, Naruto?

Aku.. hampir lupa dengannya (Author's note : boong lu! Lu benar-benar lup,- ghaaakkkkk!).

Naruto Uzumaki adalah adik laki-laki dari Kyuubi. Dia sama sekali tidak mempunyai prestasi yang bagus. Tidak pandai berteman dan bahkan sering di bully. Anehnya lagi dia ingin berteman dengan si bully tersebut itulah yang kudengar dari Kyuubi waktu mereka sekolah dasar… pernah juga suatu hari dia memperlihatkan serangga yang di dapatinnya itu padaku.

Dan itu menjijikan.

Hari itu adalah hari liburku. Hari libur satu-satunya dan sekarang aku sedang menikmati cahaya matahari di halaman belakang rumah yang kubuat ada kolam. Dengan menggunakan bikini ungu sepasang. Aku tatap benda di atas pangkuanku. Walaupun hari ini adalah hari liburku. Aku masih sempat membuka laptop guna memper-erat ikatan dengan para klien.

Jelang beberapa jam berlalu kudengar suara anak kecil datang menyapaku. "Kaa-chan! Kaa-chan, Mitte~ Mitte~ Naru menangkap serangga yang teman-teman sekolah katakan kalau ini sungguh susah di tangkap!" Aku diam menatapnya di balik kacamata hitam. Kedua tangan kecil miliknya itu digerak-gerakkan seolah mengatakan lihat aku. Kulihat apa yang di sodorkannya itu.

"Buang itu cepat Naru serta cuci tanganmu dan jangan ganggu aku. Aku sibuk"

"ta-tapi Kaa-chan,-"

"Lakukan perkataanku!"

Nada suaraku membuatnya terkejut. "Hii!" Ketakutan lalu segera membuang serangga itu kebelakang. Kulihat matanya berkaca-kaca dan bibirnya yang menguat.

Apa dia berusaha menahan tangis? Kurasa begitu.

Kutarik nafas dalam-dalam dan menenangkan pikiran. Tak lama lagi dia akan menangis dan pada saat itu terjadi.. akan sangat merepotkan.

Ah, aku ingat pagi tadi Kyuubi menyerahkan raportnya padaku.

"Ambil raportmu aku ingin melihatnya.." desahku pelan.

.

I-i-ini!

"A-apa-apaan dengan nilai ini Naruto!" Bentakku meminta penjelasan. Buku raport yang kupegang kuperlihatkan tepat dimuka wajahnya. Bahkan dijamanku, satu pun tidak ada jiwa yang mempunyai angka seperti ini.

Dia tersenyum lebar yang malah menambah keherananku. "Hehe! Naru berhasil membuat angka 47 disetiap pelajaran. Keren, kan? Tahun lalu Naru juga membuatnya menjadi 46" heh? Tahun lalu? Dengan kata lain bukan hanya kali ini nilainya yang sangat hancur? Aku memang tak pernah melihat raportnya dan hanya melihat raport Kyuubi. Itu karena dia selalu menunjukkanya padaku saat pagi-pagi sebelum aku pergi kerja. Dan karena melihat nilai Kyuubi yang seperti dugaanku. Aku percaya kalau aku mempunyai anak-anak yang pandai.

Dijamanku. Aku adalah seseorang yang bahkan membuat kepala sekolah mengakui keberadaanku. Mau itu kepala sekolah dasar sampai atas tak terkecuali juga dengan perkuliahaan. Aku bertemu dengan Minato di umur 15 yang begitu juga senasib denganku.

Membuat kita berdua adalah mahasiswa termuda.

Pernah suatu hari yang lalu. Kyuubi mengatakan kalau Naruto itu bodoh dan suka di bully disekolah, serta tak ada yang mau berteman dengannya. Tapi kubantah semua itu dengan beranggapan kalau Kyuubi terlalu berlebihan.

Da-dan ini…!

Kutatap anak itu yang masih cengengesan sendiri.

Keesokkannya, kukirim dia ke asrama.

Mau bagaimana lagi. Dia bisa membuat Kyuubi terjangkit dengan… kebodohannya. Ah, berbicara tentang sekolah. Sudah sebulan semenjak kelulusan Kyuubi, aku tak menyangka dia sudah sebesar ini.

Kupegang bingkai foto kecil yakni salah satu benda yang diatas mejaku. Foto itu adalah foto kelulusan Kyuubi bulan lalu dan aku terlihat sedang memegang pundaknya. Kelulusan adalah hari penting. Jadi tak mungkin aku melewatkannya.

Ada juga foto kelulusan Kyuubi sewaktu sekolah dasar. Tapi sudah ku ganti 2 minggu yang lalu. Aku tak tahu harus menyimpannya dimana jadi foto itu ku simpan di dalam dompet.

Ah, soal Naruto. Dia pulang kerumah sebulan yang lalu dan aku tak tahu sama sekali kabarnya. Apa dia lulus dari asramanya? Tidak, aku tidak tahu. Tapi kalau memang dia sudah balik ke rumah. Berarti dia telah lulus.

Lalu pertanyaan berikutnya.

Sekolah mana yang dia masuk?

Akan ku sempatkan bertemu dengannya hari ini. Mudah-mudahan aku tidak lupa.

Aku belum pernah bertatap muka dengan anak itu semenjak dia kupindahkan ke asrama. Begitu juga dengan waktu dia kembali.

Aku tidak tidur di rumah?

Ha? Tentu saja setiap hari aku tidur dirumah. Biasa jam pulang kerjaku yaitu setengah satu jadi sudah pasti, kan. Kalau dia dan Kyuubi sudah tertidur.

Aku biasa bangun jam 6 pagi setelah Kyuubi. Serta tak butuh waktu lama bersiap ke kantor. Seharusnya dia mencotohi kakaknya itu.

Kulihat jam tanganku. Sudah waktunya makan siang. Aku penasaran isi bento yang dibuat Kyuubi. Ku raih isi dalam cotton bag yang disediakan Kyuubi tadi pagi.

Kelihatan enak seperti biasanya. Kuambil cumi itu…

…dan seperti biasa…

…tidak enak…

…benar kata pepatah kalau buah tidak jatuh jauh dari pohon.

.

.

.1

.

.

Office Hall. 2nd Floor.

Buruk.

Itu buruk sekali.

Mereka selalu melakukan hal itu lagi dan lagi

Siapa? Siapa lagi kalau bukan karyawanku. 15 menit yang lalu sedang diadakan rapat besar dan semua manajer dari perusahaanku maupun perusahaan yang menjadi sukutu. Ingin menekuni strategi yang telah dipakai 2 bulan yang lalu.

Strategi itu masih kita gunakan sampai hari ini dan itu masih berhasil. Iya masih. Tapi sampai berapa lama? Hanya masalah waktu saja sampai perusahaan lain mengetahui dan akan memikirkan lebih baik. Dan pada saat itu terjadi saham perusahaanku akan menurun.

Aku tak percaya ini! Aku memperkerjakan orang yang bodoh! Mau itu mereka (karyawan) mau itu mereka juga (perusahaan sekutu) semua tidak berguna! Hah!.

Bunyi suara menggema mengelilingi lorong yang sudah sangat sepi. Suara itu berasal dari sepatuku. Karena sedari tadi aku menghentakkan nya dengan sangat kuat.

Itu berarti aku tidak main-main jika marah.

Huh. Aku berhenti di salah satu pintu dan mengatur nafasku. Tenang Kushina. Tak baik untuk mentalmu.

"Hah" dengus ku pelan. Setelah kupikir sudah cukup tenang. Tepat sebelum berjalan melewati pintu tersebut. Semar-semar suara seseorang kudengar.

"Wanita itu! Aku tahu kalau dia memang sangat tegas. Ta-tapi, aku tak menyangka dia sampai bisa mengatakan karyaku berantakan dan malah mengikuti strateginya dulu! Malah laporan yang kususun berminggu-minggu di buang seperti sampah di hadapanku."

"Tenang bobby. Tenan,-"

"Kau tidak tahu perasaanku Hayate! Dia mempermalukanku di muka orang-orang selaku rapat tadi!. Apa kau tidak melihatnya?!"

"O-oi aku juga tahu perasaanmu. Tapi marah bukan suatu pilihan sekarang."

"Tidak-tidak! Ini sesuatu yang harus kau lepaskan! Padahal aku hanya ingin membuat strateginya itu menjadi lebih bagus dan bagus untuk bisa terus digunakan. Bahkan banyak yang setuju dengan strategiku"

"he-hei tenang, memang ada yang aneh dengan director belakangan ini. Dia tampak seperti banyak pikira-"

"Wanita sialan! Padahal dia cantik gitu, meski dia sudah janda dia masih mempunyai body yang bagus. Tapi ku bantah itu sekarang! Dilihat dari kepribadiannya itu dia sama sekali tidak cantik. Pantas saja dia menjanda sampe sekarang. Bahkan kucing ku saja lebih menawan daripada dia! Dan aku yakin kalau payudaranya yang besar itu adalah hasil dari operas,-"

#BRAKKK

"Bicara terus dan kuhancurkan tulang tengkorakmu itu"

"g-gyaaaa!" Kaget tiba-tiba pintu ku tendang kasar kedalam. Mereka terdiam sebentar sebelum berpelukan melihat sesosok diriku yang masuk kedalam. Badan kedua orang itu bergetar hebat sebelum mati rasa mendengar suaraku.

"Lanjutkan perkataanmu…"

"a-a-a-a-a-a-a-aa-a-h"

"Berhenti membuang waktu. Bicara"

"a-a-ah… a-aku ya-yakin o-ope-operasi…."

"Hm?"

"Hii! O-o-ope..O-pe..p-pa-para wanita yang bahkan telah beroperasi iri dengan tubuh director yang begitu perfect dan natural!" Ucapnya dengan cepat.

Sarung tangan yang baru saja kupakai kulepas kembali. Tadi aku berniat menggunakannya untuk tidak mengotori tanganku saat menyentuh kulit dan memegang (mencengkram) kepalanya.

Kupejamkan mataku sebentar dan menatap mereka berdua kembali. Alhasil membuat mereka terkejut kembali.

"Hiii!"

"Berhenti berteriak. Kurasa kalian sudah tahu kalau dilarang berbuat keributan pada malam hari"

"Y-yes maam!"

"Lalu kenapa kalian masih saja berteriak"

"a-ah ma-maaf"

Jawab mereka kali ini dengan pelan.

Hayate dan… Bobby.

Kedua orang ini adalah salah satu dari sekian banyak karyawan yang kumarahi hari ini.

"Apa yang kalian bahas tadi? Sampai-sampai terdengar sampai diluar" ucapku penuh penekanan. Nasib pekerjaan mereka dipertaruhkan disini. Aku yakin mereka paham maksud serta tatapan ku ini.

"a-ah anu.. Ku-kushina-sama" Kutatap tajam pelaku pembuka suara itu. Hayate terlihat panik dan bingung. Mukanya membiru lalu segera berpaling melihat Bobby. Kali ini kutatap pelaku sebelah.

"Bobby. Jelaskan"

Nafasnya tercekat. Badannya menegang.

Dan aku menikmati ini.

"Ki-kita… ta-tadi hanya bicara…" Dia bergetar dan gugup saat menjawab.

Melihat mereka yang berada di ujung tanduk keputusasaan serta situasi seperti ini sangat membuatku nikmat.

"ka-kami membahas sebetapa cantiknya dirimu Ku-Kushina-sama.."

Ha? Apa-apaan yang dia katakan?

"kan, Hayate?"

"a-ah.."

Kulihat dia menyenggol Hayate yang melihat teman seperjuangannya itu dengan horror.

"Jangan bercanda,-"

"Aku tak bercanda Kushina-sama! Aku Bobby J Pierce semenjak melihat Kushina-sama langsung terpukau"

Aku terdiam. Dia berpose dengan tangannya di pukul ke atas. Sangat konyol.

"Wajahmu. Pinggulmu. Ba-bahkan payudaramu… semua begitu natural dan perfect!"

Ehkk! Perkataan vulgar itu harus dihentikkan!

"Berhenti sampai disitu Bobby J Pirate!"

"Pierce,-"

"Diam! Kau tak tahu dalam situasi apa kau sekarang ini hah? Dan lebih parahnya lagi kau berani merayu didalam perusahaan! Apa kau sadar sudah berapa banyak peraturan yang kau langgar? Dasar ka,-"

"I-itu bukan rayuan Ku-Kushina-sama!"

Aku terkejut. Bobby terkejut.

Kulihat Hayate. Begitu juga dengan Bobby. Wajahnya memerah. tapi

"Ta-tapi itu fakta.."

Aku terdiam. Bobby juga terdiam.

Pandangan kami masih tertuju pada Hayate. Tak lama kemudian aku memilih pergi dari tempat itu.

"A-Akan kucatat nama mereka.."

.

.

.1

.

.

Highway.

Sengaja aku pulang lebih cepat dari hari biasa. Bekerja di ruang kantor membuatku tak tahan. Apalagi dengan mengingat kejadian rapat tadi. Aku berencana membuat strategi yang lebih bagus. Percuma mengandalkan mereka (karyawan). Setelah strategi itu berjalan lancar. Akan ku rombak kembali mereka nanti.

Kenapa tidak besok saja? Tidak. Itu keputusan yang bagus, namun tidak bijak. Jika aku membuktikan kalau kerja mereka tidak becus tepat dihadapan para makhluk yang ikut rapat tadi serta dimuka media. Masyarakat akan tahu kalau Namikaze Corp tidak main-main dalam mencari bakat para pekerja dan itu akan menaikkan reputasi perusahaan. Begitu juga dengan namaku.

Mungkin hanya akan sedikit yang melamar nanti. Tapi pelamar-pelamar itu pasti akan lebih baik daripada sekarang ini. Heh, pertukaran yang bagus.

Dengan begini masalah satu dapat teratasi.

Selanjutnya…

"Jangan bilang kau begini setiap malam minggu Kyuubi!"

"Tentu saja tidak. Dengar, Kaa-chan. Aku diseret teman-temanku"

"W-wha..-teman-temanmu? K-kau mempunyai teman yang buruk?!"

"Mereka teman-teman sewaktu aku kecil Kaa-chan. Aku yakin kau sudah mengenal mereka"

"ha?! Maksudmu si mereka itu?"

"Ya. Mereka yang Kaa-chan pikir itu"

Aku tak menyangka ini. Teman Kyuubi yang kuketahui anak-anak terpandang semenjak kecil dan kubanggai itu adalah anak nakal?.

Arghhh!

Aku tak ingin berdebat dalam keadaan mengendarai mobil seperti ini. "Kyuubi akan kudengar alasanmu nanti! Dan itu akan menentukan nasibmu besok!" Dia menjawab dengan desahan pasrah.

Keputusan yang bagus. Dia memilih diam daripada bersikeras menjelaskan. Kebanyakan anak-anak muda kurasa akan berpikir sebaliknya. Tapi tidak dengan Kyuubi. Dia seakan bisa membaca moodku.

Pengamatan yang bagus.

.

Uzumaki Palace.

"Jadi seorang perempuan pirang atau Ino itu bilang kalau ini adalah gairah masa muda saat kalian masuk ke tempat karaoke yang Kaa-chan tahu kalau tempat itu juga bisa menjadi motel. Begitu?"

"Dan pada saat itu aku berniat pulang.."

"Tidak-tidak. Dengar nona, kau keluar dari tempat itu karena muntah. Sejak tadi kau memilih diam karena tidak ingin aku mencium bau mulut alkohol kan?"

Tak ada pembelaan. Dia menundukkan kepalanya sedikit.

"Aku tak bohong.. sedikit. Tapi percaya padaku. Tak ada niat aku berlama-lama disana"

"hah Kyuubi. Kau lihat ini jam berapa. Ini Jam 11 malam! Anak sekolahan mana juga yang belum pulang sekarang kecuali kau dan teman-temanmu yang nakal itu! Coba saja kalau Kaa-chan pulang di jam seperti biasa! Kau pasti sudah terjadi apa-apa!"

"Aku bukan anak kecil lagi Kaa-chan. Tapi baik, itu memang kesalahan ku. Aku minta maaf dan menyesal. Baru kali ini teman-temanku bersikap seperti itu. Jadi kumohon jangan salahkan mereka terus. Sudah kubilang tadi kan. Mereka juga penasaran"

Alasannya sama sekali tak memuaskan rasa amarahku. Namun karena dia sudah meminta maaf. Tak ada guna meneruskan pembicaraan ini.

"Masuk ke kamarmu sekarang dan cepat tidur" Kataku penuh penekanan. Masih kupandang dia naik ke atas tangga. "ah Kaa-chan.." ucapnya sembari berbalik.

"hmm?"

"Naruto belum pulang…" Belum beberapa detik yang lalu aku berpikir semua masalah sudah teratasi. Masalah lain pun datang. Aku tak tahu sudah berapa kali aku marah seharian ini. "…dia memang selalu pulang rumah sebelum kau Kaa-chan".

"Apaa!?"

Dia pulang malam sebelum aku? Naruto? Selalu? Berarti itu sejak sebulan yang lalu dia datang. A-anak itu! Sudah beberapa tahun aku tak melihatnya dia malahan menjadi anak berandal.

"Kaa-chan tenanglah.."

Tenang? Bagaimana aku bisa tenang! Aku mempunyai keturunan yang gagal dan dia menyuruhku tenang? Hell no!.

"Kaa-chan kau terlihat sangat lelah. Tidurlah sana cepat"

"Ya, Kau benar Kaa-chan sangat lelah.." aku berjalan ke arah kulkas. Kuambil sekaleng bir dan meneguknya. Kuambil 2 kaleng bir lagi. Kuharap ini mampu menenangkanku… "..dan anak sialan itu bahkan tak tahu jam berapa ini sekarang"

…Setidaknya menenangkanku sampai si pirang itu pulang.

.

#PLAKK!

"Hiii!"

#PLAKKK!

"He-hentikan,- gyaaa!" pukulan demi pukulan kurasakan. Bagian tubuh yang dari tadi menjadi target pemukulan itu aku yakin sudah sangat merah. Aku tak tahu sudah berapa banyak tangan kekar itu memukulnya.

#PLAKKKK!

"Hiiiii! Sa-sakit! He-hentikan! Pa-pantatku m-mati rasa. A-aku sudah tak bisa merasakan pantatku la-lagi…" ucapku lesu. Dia berhenti. Pukulan itu berhenti. Apa ini sudah berakhir,-

#PLAAKKKK!

"GYAAAA! ANAK BRENGSEK,-" Tangan kirinya tiba-tiba membekap mulutku. Seraya berbisik "sssssttt… Kaa-chan" Aku tak menurutinya. Teriakan-teriakanku ditutup dengan sangat sempurna hanya dengan satu tangan kirinya itu.

Tak mau hanya mulut yang bekerja. Badanku yang sedari tadi diam kini terus-terusan menggeliat. Cara ini sudah kucoba tadi dan gagal. Maka itu aku menggantinya dengan cara lain. Tapi malah tak bekerja. Meskipun begitu aku menolak memohon.

Tidak.

Tidak untuk anak berengsek yang bahkan mengikat kedua tanganku di belakang. Serta membaringkan tubuhku secara terbalik di pangkuannya.

#PLAAKKKK!

Dia membekap mulutku dengan tangan kiri dan lagi-lagi memukul pantatku. "HMPHHHHH!" Tak sampai situ juga. Sebelum dia tadi memulai memukul pantatku. Gaun tidurku di naikkan sampai sepinggang.

Dasar anak sialan!

Kalau begini caranya memperlakukan Ibunya sendiri. Aku menyesal telah melahi,-

#PLAAK!-PLAAK!-PLAAK!-PLAAK!-PLAAK!-PLAAK!

'HIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII! SA-SA-SAKIIIT! KU-KUMOHON! KU-KUMOHON HE-HENTIKAN!'

Aku menggeliat tak karuan. Tangan itu masih membekap mulutku membuat suara yang kukeluarkan hanya berupa erangan. "hooh… ada apa Kaa-chan?" Pandanganku melurus menahan sakit. Sebelum menatap dengan lesu ke arah kiri atas dimana suara itu berasal. "Ah! Bodohnya aku.." Tangan yang tadinya membekapku dilepas. Lalu memegang bibirku yang telah dipenuhi dengan saliva. Begitu juga dengan tangannya. "..Nah sekarang kau bisa berbicara. Lakukanlah".

Aku tak bisa berpura-pura kuat lagi. Pukulan-pukulan itu sangatlah menyakitkan. "A-a-aku mi-minta maaf… ku-kumohon jangan… sa-sakit.. se-sekali.. a-ampun.." Aku benci mengatakan itu. Tapi mau bagaimana lagi. Selain menyakitkan ada juga perasaan nikmat disetiap pukulannya itu… aneh.

E-emang Ke-kenapa bisa terjadi seperti ini…

Pa-padahal… seharusnya aku yang…

Kudengar suara pintu yang terbuka dan tertutup. Tak butuh waktu lama pelaku itu terlihat berjalan kearah anak tangga. Pelaku yang kuketahui Naruto itu berjalan mengabaikanku. Sudah pasti karena aku sedang duduk di spot yang gelap. Jauh dari lampu tangga. Sebelum dia menginjak anak tangga. Kunyalakan lampu disebelah.

"Pulang juga kau, Naruto" Ucapku membuat dia berbalik dan menatapku. Tatapan kami saling bertemu. Dia tidak nampak terkejut. Malahan akulah yang terkejut.

Dia… Naruto, kan? Naruto Uzumaki?

Dia… tumbuh menjadi seorang pria. Ma-maksudku, aku tahu kalau dia menyimpan sesuatu yang keras di balik bajunya itu (Author's Note : Bilang yang jelas. Nanti ada yang salah paham). Otot, maksudku ototnya.

Apa asrama yang kutempatkan memiliki property gym? Aku yakin, sudah membaca semua persyaratan sekaligus apa yang tersediakan dalam asrama itu. Jadi tidak mungkin. Tapi bagaimana bisa tubuh,-

Duh.

Paan sih.

Kuhilangkan wajahku yang sedikit merona itu dengan menggeram. Mungkin karena efek alkohol tadi. "Kemari dan berdiri sekarang di hadapanku Naruto Uzumaki" Ucapku kemudian.

Dia terlihat ragu untuk merespon panggilanku. Tapi tak lama kemudian dia menurut.

Ah, tinggi. A-apa dia lebih tinggi dariku sekarang? Ku-kurasa iya.

Merasa cukup dekat dia berhenti. "Ada apa…. Kaa..-san?" Ucapnya kaku. Mungkin karena pertemuanku dengannya kembali semenjak dihalaman belakang pada waktu itu.

Kalau diingat kembali. Orang yang mengantarkannya ke asrama adalah asisten yang kusuruh. Mungkin karena alasan itu yang membuat dia terlihat ragu tadi….

Apa dia marah pada waktu kuperintahkan asistenku itu untuk membawanya diam-diam? Mu-mungkin.

Tapi sekarang akulah yang harus marah.

"Kau tahu ini jam berapa tuan Naruto Uzumaki"

Dia tak langsung menjawab pertanyaanku. Mungkin dia sedang mencari alasan dengan berpikir. Tapi akan kutunggu. Anggap saja ini adalah kebaikkanku semenjak kita tidak bertemu sangat lama.

.

Cukup!

Sudah cukup!

Sudah cukup aku bersabar memberikannya waktu dan anak ini malah membuat amarah ku datang kembali. Sudah dari tadi dia mendiamiku. Dan itu membuatku muak. "Sekali lagi aku bertanya Naruto. Kau tahu jam berapa ini?" ucapku penuh penekanan.

"Kau bisa melihatnya sendiri, kan?" liriknya ke arah jam dinding.

#KREK

Refleks aku segara aku berdiri dan mendekatinya. Sudah kuduga dia tinggi. Tapi itu tak dapat menghalangiku menatap tepat di matanya dengan dingin.

Apa dia baru saja membalasi pertanyaanku dengan pertanyaan?

"Jawab sialan!" dia menarik nafasnya terlebih dahulu dan menjawab "00:39 a.m". Ya itu adalah jawaban yang tepat. Tapi ada apa dengan balasannya yang datar itu. "Dengar bocah.." kutunjuk serta kutekan ke arah dadanya dan berkata "..Aku sama sekali tak pernah membesarkan seorang berandalan.." Kututup mataku sebentar lalu menatapnya lagi. Kali ini dengan sinis.

"..Jadi Naruto. Aku bertanya… apa kau seorang berandalan?" Hanya satu jawaban yang dimiliki anak ini. Yaitu untuk tetap tinggal dan menjadi salah satu dari Uzumaki atau… heh, mari berharap dia tak sebodoh itu.

Aku tak tahu apa yang terjadi padanya selama ini. Namun kurasa kepribadiannya menjadi jauh berbeda dari terakhir kali ku lihat. Itu tidak masalah sekarang. Yang kubutuhkan sekarang adalah jawaban.

Saa, Naruto. Apa jawabanmu…

"Tentu saja tidak"

Pilihan yang bagus. Selanjutnya…

"Kalau begitu berikan alasanmu sekarang. Kenapa bisa kau selalu pulang malam?"

…tahap terakhir. Dengan begini pembicaraan kita akan selesai. Just give me the good reason and it's done. But, of course he will get a punishment.

Saa…

"Menyelamatkan dunia"

Begitu ya…

…Anak ini dari awal…

…bermain-main denganku.

Kukeraskan tanganku lalu menampar pipinya kasar.

#PLAAKK

"Cukup main-mainnya berengsek. Sekarang angkat kakimu dari rumah ini!"

Ah. Aku mengatakannya.

Tapi walau begitu aku tak menyesal. Kehilangan seseorang yang hampir mirip dengan gen Minato entah kenapa tidak membuatku menyesal.

Apa aku telah menjadi Orang tua yang buruk?

Aku…

..tidak..

..mungkin itu benar.

Naruto terpaku ditempat. Tak bergerak. Kepalanya menghadap di lain arah karena aku menamparnya. Dan dia masih terdiam seperti itu.

"Apa yang kau tunggu lagi idio,-"

"Diam"

!

Tiba-tiba saja alih tubuhku diambil olehnya. Badanku tak bisa kugerakkan. Semua seakan mati rasa. Dia menatapku. Mata biru yang dingin dan menusuk itu adalah penglihatan terakhirku sebelum menghitam. Dan mendengar…

"Sial. Aku tak menyangka dia menamparku sesakit ini"

...sebelum hilang kesadaran.

…Kesadaranku kembali saat merasa sesuatu yang kuat menampar pantatku. Saat bangun dan melihat sekitar. Aku terkejut sudah berada dalam posisi seperti ini. Entah apa yang dia lakukan padaku sampai hilang kesadaran.

"Itu bagus. Cara memohonmu itu cukup bagus, Kaa-san" ucapnya kemudian mengelus pantatku. "biar ku hilangkan rasa sakitnya" Sambungnya lagi. Cara dia mengelus itu membuatku geli.

Perih sih tapi geli.

Ini menyebalkan.

Apa aku menikmati perlakuan ini?

Tidak-tidak.

Itu mustahil! Aku sama sekali,- "hiiii!"

"Ah, apa yang baru saja kusentuh tadi itu... Maaf. Kurasa aku mengelus ditempat salah" Nada suara itu terdengar menyesal. Tapi itu tak bisa menipuku.

Aku tahu dia sengaja! Tangannya sedari tadi turun dan turun sampai ke daerah intim ku!

"hiii!"

Bahkan dia masih saja mengelus sekitaran vaginaku!

"He-henti,-.. thiiikan! A-aku ibumu b-brengsek!"

"Kaa-san. Languange! Please"

Geli.

Sangat geli.

Ni-nikmaatt…

Hnnghh!

"Katakan Kaa-chan. Kapan terakhir kalinya kau melakukan… sex?" A-apa yang baru saja anak ini katakan. Be-beraninya dia bertanya seperti itu padaku.

Ibunya sendiri.

"I-i-itu bu-bukan urusan mu breng,- hiii! ,- Se-semenjak dirimu lahir!"

"heh"

A-a-a-a-a-a-a-apa yang.. Ke-kenapa aku malah menjawabnya!. "15 Tahun yang lalu, ya… Itu cukup lama" ada nada meremehkan saat dia berkata itu. "Kau tidak boleh begitu Kaa-chan. Maksudku, tidak baik loh menahan hasrat untuk berhubungan. Kau bisa stress nanti" sambungnya.

"Be-berisik.."

Ini batasku. Aku kelelahan menahan sakit sedari tadi dan kini aku harus menahan rasa geli di area luar vaginaku. Dari balik celana dalam hitam yang kupakai. Jarinya mengelus-ngelus layak dia ahli dalam hal seperti itu.

"hah.. Bagaimana kalau sekarang Kaa-chan?"

Aku tahu apa maksud dari perkataan itu. Tapi tak bisa kuterima begitu saja.

"A-a-apa maksudmu..." tanyaku dengan lemas. "Aku tahu kau tahu maksudku…" Dia mendekatkan kepalanya di dekat telingaku dan berbisik "…Kaa-chan".

Hiiii! Udara yang keluar dari mulutnya mengenai kuping dan leherku. I-itu.. sangat nikmat. Tidak. Ma-masih belum.. aku tidak aka,- Hiiiiiiiiiiiiiiiiiii!

Dia tiba-tiba menjilat kupingku kemudian ke leher lalu balik kembali. "Aku hanya membersihkan keringatmu. Tak ada maksud lain" Seluruh badanku menguat. Mulutku mengeras. A-aku.. mencapai klimaks. Perlakuannya tadi tak bisa kubantah kalau itu tidak nikmat.

A-a-a-aahhhh ba-bagaimana ini! Ba-barusan saja aku mencapai klimaks.

Ka-kalau dia tahu,-

"woah apa ini. Banyak sekali kencingmu Kaa-san.." Hah, syukur dia tidak tahu. Setelah apa yang dilakukannya. Dia masih tetap seorang bocah yang bahkan tidak tahu,- "..bercanda"

Eh?

"Gyaaaa!" Sesuatu masuk tiba-tiba di liang vaginaku. Segera kutatap kebelakang. Seperti yang kuduga "Ke-keluarin Na-Naruto! Keluarin jari-jarimu sekarang!" Naruto mengacuhkanku dengan memasukan 2 jarinya di dalam vaginaku. "Ahhh!" Sensasi ini begitu nikmat namun begitu salah.

Layaknya vibrator kedua jari-jari itu bergerak tak karuan di dalam vaginaku. Aku berteriak sekaligus memohon ampun padanya. Namun tak ada pengampunan. Dia malah menambah masuk 1 jarinya. Membuatku yang masih memberontak berganti mendesah.

Aku mendesah. Mendesah. Dan mendesah lagi. Sudah tak ada tenaga bagiku tuk bertahan. Lagipula jika aku mampu bertahan lalu apa? Aku tak bisa melepas dasi yang dililitkannya ini dari tanganku.

Walaupun bisa, bagaimana aku menghadapinya. Dia laki-laki dan aku perempuan. Kekuatan kami sangat beda jauh.

Alasan aku berani tadi itu karena status kita. Ibu dan anak. (Author's Note : Boong lu aanjirr, lu gk ingat apa yang lu lakuin pada salah satu pintu perusahaan,- uhk!). Tapi kalau dia bahkan sampai berbuat ini. Dia tak memandangku sebagai seorang Ibu lagi.

Melainkan seorang wanita.

.

.

.1

.

.

Bergerak. Diurut. Bergerak. Diurut.

Dia mengulang teknik itu lagi dan lagi. Sampai dimana tubuhku dibuat jatuh dalam kenikmatan. Tak sampai itu juga dia menyuruhku menghisap jari tengah dengan tangan yang tadi membekapku. Tapi tak kuturuti.

"Ayo Kaa-san. Hentikan sikap tsundere mu itu…" Tsundere kepala pirang lu. "…atau kupukul pantat mu lagi" Hiii. Menegang mendengarnya. Refleks langsung ku emut jari itu. Lalu menatap matanya dengan pandangan menusuk dan pasti akan membalas atas perbuatannya ini.

Dia membalas ekpresiku dengan senyuman meremehkan. Sudah pasti aku marah. "Ah. Kaa-san, kau terlalu kuat menjepit jari-jariku" kurutuki kebodohanku. Aku sama sekali tidak tahu kalau efek kemarahanku akan membuat dinding vaginaku menyempit. Alhasil aku termakan pancingannya.

Dia tahu baik kalau aku tidak suka diremehkan. Apalagi dia yang kini menatapku dengan pandangan menyedihkan. Seperti mengatakan "aku tak tahu aku mempunyai Okaa (ibu) yang jalang".

"Ah, Kaa-san. Kau bisa menghancurkan ketiga jariku ini kalau kau terus seperti itu"

Lagi-lagi aku termakan pancingannya.

.

"hnnnnngh! Ah! Ah! Ah!"

"Ya. Begitu. Jangan ditahan. Lepaskan stress mu Kaa-san"

"Ah! Ah! Ah!" Empat jari telah dia masukkan. Dan pada saat itu desahanku makin menjadi. Sedikit lagi. Sedikit lagi aku akan keluar.

Klimaks ku untuk yang kedua kali!

Hnnnnng,-

#Syalala itsu,-

Eh? Apa ini?

Kuliat arah kiriku. Dan melihat Naruto. Jari-jari tangan yang beberapa detik lalu berada di dalam vaginaku itu. Kini sedang berada di dekat telinga Naruto memegang benda konyol bernama hp itu.

'A-aku tak percaya ini. Dia menghentikanku yang sedikit lagi akan klimaks. Hanya untuk mengangkat hp bodohnya itu? Aku tak percaya ini.'

Aku berniat mengatakan sesuatu. Tapi sebelum itu terjadi. Dia menambah 1 jari masuk ke dalam mulutku. Kulihat tatapan Naruto yang seperti mengatakan "Aku akan mengurusmu nanti. Diamlah".

Hii! Di-dia bahkan percaya diri kalau aku akan memprotesnya karena tiba-tiba berhenti. Serta berpikir kalau aku ingin dia melanjutkan aktifitas itu lagi…

…a-anak ini. Apa dia beneran manusia? Dari tadi pikiranku dengan mudah dibaca olehnya. Atau akunya saja yang mudah dibaca. "Jangan bercanda. Sialan" Ah. Dia marah.

Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Tapi makhluk atau si pemanggil yang tidak kuketahui apa gendernya itu berhasil membuat Naruto marah dari sebrang telepon. Jarinya dapat kurasakan menegang didalam emutan ku.

"Diam. Aku akan menelepon mu nanti" Naruto mematikan lalu memasukkan hp itu di saku dengan cepat. Apa yang dilakukan selanjutnya membuatku kaget.

Tiba-tiba ia mengangkatku dan membawaku ke dalam kamar.

Sudah kuduga kamarku.

'Dia ingin melakukannya disini? Apa dia yakin? Kamar ini adalah kamar yang dulu pernah kulakukan dengan ayahnya.' Itulah yang dibenakku. Sebelum dia melempariku kearah kasur dengan kasar.

Setelah apa yang terjadi padaku sejak tadi. Tidak lagi membuatku terkejut. Bisa dibilang aku sudah terbiasa. Anehnya… ini menambah rangsanganku.

Dilepas ikatan dasi dari tanganku seraya berkata. "Kurasa sudah cukup. Tidur. Kau kelelahan sejak tadi". Aku terkejut sedikit bingung dengan ucapan nya. Sebelum aku bersuara. Sekali lagi pandanganku menghitam.

.

.

.1

.

.

Kubuka mataku perlahan. Yang kulihat pertama adalah atap dinding. Yang kedua aku merasakan tembusan cahaya luar dari jendela. Dan yang terakhir adalah tubuhku yang merasa lega. Khususnya di area bawah. Seperti beban hidupku telah dipulihkan.

Aku berdiri dari kasur dan pergi keluar kamar.

'hmm, bau ini' Kuberjalan ke arah ruang makan. Sudah kuduga itu Kyuubi. Kulihat dia sedang berada diruang dapur, memasak.

"Kenapa tak memesan saja?" Ah, ucapanku keluar begitu saja. Dia hanya sebentar melihatku lalu kembali berbalik badan. Melanjutkan memasak. "Tumben Kaa-chan masih dirumah jam segini.." dilirik jam tangannya dan melanjut "..biasa sudah sampai di ruang kantor dan memeriksa laporan".

Aku sudah tahu. Dari awal aku bangun aku tahu jam berapa ini. Walau tak kupastikan. Aku yakin aku pasti benar.

Karena dia mengabaikan pertanyaanku tadi. Akan ku abaikan dia sekarang.

Ada hal penting yang harus kupikirkan sekarang. Yaitu, kenapa Naruto berhenti. Sepenting itukah mengobrol dengan makhluk yang meneleponnya itu?.

Sampai-sampai meninggalkanku?

Ah! Tidak-tidak… hampir saja aku tertipu.

Naruto sengaja berhenti. Dia tahu kalau aku tak puas dan pasti akan meminta dia melakukannya lagi. Aku tahu itu! Uh, sialan. Hampir saja aku terpancing. Mungkin ini juga salah satu rencana nya. Yaitu membuatku berpikir.

Si-sialan.

Kapan anak itu bisa jadi pintar begini.

Eh..

..tunggu-tunggu. Tadi malam kalau tak salah. Naruto berkata kalau dia akan melepas stressku.

A-apa aku masih stress sekarang? Ku-kurasa tidak. Aku yakin setelah selesai memikirkan ini. Aku dapat menyelesaikan tugas kerjaku dengan mudah. Dengan kata lain tugasnya telah selesai.

Entah kenapa ini membuatku sedih. 'Apa Naruto tidak akan…' Dih! Apa yang kupikirkan sampai sedih begini. Lalu kenapa jika dia tidak akan melakukan itu lagi! A-aku hanya perlu menyewa pria lain kalau memang aku butuh hasrat pelampiasan.

Kenapa juga aku harus melakukan dengan anakku…

Ta-tapi, tadi malam itu sangat nikmat. Bahkan itu hanya jarinya saja…

.

.

.1

.

.

…a-apa Naruto akan melakukan itu padaku? Ta-tapi, i-itu sangat nakal. Me-melihat sikapnya semalam. Di-dia pasti akan melakukannya.

Sejumlah pikiran-pikiran nakal terbayang dikepalaku. Walaupun sebagian diriku menolak. Sebagian diriku yang lain seakan meminta hal itu terjadi. Bahkan hanya dengan membayangkan perlakuan apa yang akan diberikan Naruto nanti membuatku sedikit basah.

Ta-tapi bagaimana jika dia memang tidak akan melakukannya denganku. Apa aku harus berpura-pura stress dengan memarahinya lagi? Itu patut dicoba.

Aku akan menemuinya sekarang.

"Kaa-chan. Berhenti melamun di meja makan!"

#BANG

"ah! A-apa itu?!" Kaget. Refleks aku mencari asal dari suara itu datang. Hah, Kyuubi. Kutopang daguku seraya mendengus pelan. "apa yang kau lakukan dengan spatula serta panci itu, Kyuubi?" kuurung niatku bertemu dengan Naruto. Aku lupa kalau Kyuubi ada dirumah. Bahkan beberapa saat yang lalu aku berbicara dengannya. Bagaimana aku bisa lupa…

Desah ku pelan. Kecewa. Perempuan serupa dengan genku itu kemudian bertopang pinggul dan menjawab. "Menyadarkan seseorang".

"…emang apa yang aku lakukan tadi sampai kau menyatukan kedua benda itu dengan kekerasan"

"Kau melamun sangat lama Kaa-chan. Dan sepanjang hari ini aku bernapas. Baru kali ini aku melihatmu berekspresi selain datar dan marah 'Walaupun cuma beda nada suara'. Dan semua ekspresi itu aku melihatnya hari ini. Wajahmu terlihat lesu kemudian sedih lalu memerah terus membiru and over and over again. Itu menakutkan"

Eh? Benarkah itu terjadi? Tidak mungkin.

"Jangan berlebihan Kyuubi. Aku baru saja melamun"

"Baik kalau begitu. Katakan padaku terakhir kali apa yang kau dengar dariku sebelum melamun"

Aduh nih anak keras kepala sekali. "Tumben Kaa-chan bangun jam segini. Biasanya sudah berangkat sekarang. Seperti itu" dia terdiam. Aku terkekeh. Seharusnya dia tak meremehkanku,-

"Astaga Kaa-chan. Itu ucapanku satu jam yang lalu! Tak kusangka kau beneran melamun. Kukira kau sedang berpikir sesuatu!" Tunjuknya dengan spatula kearahku.

Sejam yang lalu? Be-benarkah? Jujur aku terkejut. Kyuubi tak mungkin berbohong cuma karena hal sepele.

"Y-ya aku memang melamun, tapi aku juga sedang berpikir" Bela ku melindung diri. Dia menarik nafas pelan serta duduk dihadapanku.

"Baik. Katakan padaku apa yang Kaa-chan lamunkan? Aku siap membantu"

"Ha? Emang apa yang bisa kau bantu?"

"Just try it.."

Kutopang kepalaku di atas meja dan melihat ke bawah. Hahhhh, anak ini. Bagaimana bisa aku berkata kalau aku ingin "Naruto" memperkosaku. Upss. A-apa yang baru…

"N-Naruto ehhh? Apa Kaa-chan cukup memarahinya tadi malam? 'soalnya aku tertidur dengan pulas' Jika ia. Kenapa Kaa-chan memikirkannya? Tumben. Apalagi dengan… beberapa ekspresi absurp tadi"

Kyuubi pandai melihat situasi dan akan mengetahuinya dengan beradptasi. Jadi pilihanku sekarang harus tenang. Dan datar seperti semula.

Jika memang benar apa yang di katakan Kyuubi sejak awal. Maka sikapku benar-benar sangat konyol. Aku mungkin tidak bisa berkelakukan seperti diriku yang lama lagi.

Ini semua gara-gara Naruto.

"Cukup Kyuubi. Sekarang bangunkan Naruto dan panggil dia untuk sarapan" Kataku sedatar mungkin. Aku hanya perlu bersikap se normal mungkin seperti biasa. Dengan begitu segala hal yang dicurigai Kyuubi akan melemah lalu membuatnya berpikir 2 kali.

"Naruto. Sudah pergi semenjak 3 jam yang lalu"

Refleks. Kupukul meja makan itu sembari berteriak. "Ha!?" Entah apa yang merasuki tubuhku. Kutatap Kyuubi yang ternganga. Dirinya terdiam menatapku. "Dia pergi 3 jam yang lalu? Di hari minggu ini? Kemana dia Kyuubi!"

Kulihat dia menurunkan sendoknya. "e-eh… uhm. Te-tenang Kaa-chan. Aku tak tahu anak itu kemana.. tapi jam pergi Naruto biasa emang jam begitu. Tak terkecuali hari libur" Jelas Kyuubi.

'Ke-kebiasaan…?' Jadi dari awal. Alasan kenapa aku tidak pernah bertemu dengan Naruto setiap pagi. Itu karena dialah yang terlebih dahulu pergi…

…a-aku…

..hmm..

"K-kau bisa makan kembali Kyuubi. Kaa-chan mau bersedia ke kantor"

"e-eh! Ba-bagaimana dengan makanan,-"

.

.

.1

.

.

Namikaze Corp. The Director's Office.

#Tok-Tok

"Masuk"

Hayate dan Booby. Aku memanggil mereka tak lama tadi. Kedua wajah mereka sedikit memerah. 'ada apa dengan mereka?' batinku heran.

"Kenapa wajah kalian?"

"a-ah ti,-"

"Hn. Cukup. Aku tak ingin berbasa-basi dengan kalian" potongku cepat. Kututup laporan yang barusan kubuat tadi. Lalu menyerahkan ke Hayate. "Baca laporan ini baik-baik Hayate" dia menuruti.

"i-ini kan!.. la-laporanku..?"

"Ya itu laporanmu. Aku membuatnya kembali dengan memperbaiki kesalahan yang ada. Dan itu sudah sangat bagus" kulihat dia sedikit senang dan bangga. "Selamat. Jabatanmu kunaiki menjadi kepala manajemen" sambungku. Sebelum orang di sebelahnya yaitu Bobby bersuara.

"ta-ta,-"

"Dan kau Bobby. Jabatanmu sebagai Kepala Manajemen. Kuturunkan menjadi asisten Kepala Manajemen. Sekian. Keluar sekarang"

Tubuh besarnya itu kulihat menegang. Tak ada kata yang keluar. Bobby begitu shock. Kulirik Hayate sebentar. Lalu mengangguk, seakan tahu apa yang kupikirkan. Dia pun menyeret asisten barunya itu keluar.

Untuk orang yang telah turun jabatan. Responnya cuku bagus.

Saat perombakkan karyawan nanti…

Kurasa aku akan menikmatinya…

Kulihat jam tanganku. Setelah berdiri dan menatap pemandangan luar yang mendung. 'Sudah mau malam..' aku tak menyangka secepat ini. Sejam lagi akan diadakan pesta acara di kediaman director Uchiha Corp dan aku diundang kedalam pesta itu.

Kesempatan yang bagus untuk memulai jalinan hubungan antar kedua perusahaan. Begitu juga dengan keluarga-keluarga ternama yang lain.

Tapi..

'Aku ingin segera pulang kerumah..' ucap batinku. Ku tempelkan sudut bagian atas hp yang tak lama tadi kuambil kebawah bibirku. Sambil berpikir. Tak lama kemudian seseorang menghubungiku.

Mabui. Dia adalah asistenku yang bertahan lama. Dan dia jugalah perempuan yang kusuruh untuk mengantar Naruto ke asrama. "Ya, Nyonya?"

Baru kali ini aku mempercayakan kejadian penting kepada orang lain. Itu karena aku tidak mempercayai orang lain selain diriku. Aku seperti merasakan kalau mereka akan menjadi suatu kegagalan. Tapi, untuk melangkah semaju kedepan. "Pulang dan cepat persiapkan dirimu, Mabui. Malam ini adalah malam yang penting bagimu" Ucapku dengan cepat.

"E-eh? Ma-maksud,-"

"Informasi selengkapnya nanti kukirim ke emailmu" Segera kututup panggilan itu dan mulai menyentuh mencari email untuk dikirimkan. Ada arahan yang kutambahi di dalam email undangan tersebut. Jadi, kurasa tidak ada masalah.

.

.

.1

.

.

Uzumaki Palace

Akhirnya sampai. Semua pekerjaan selesai. Tak terkecuali masalah yang berdatangan. "Aku pulang" teriakku. Kutunggu respon seseorang. Tak ada.

'a-apa dia keluar malam begini?' kini aku berada di tangga dan menuju kamarnya. "Kyuubi?" panggil ku tak lupa mengetuk. Pintunya tidak ditutup dengan baik jadi itu terbuka saat kuketuk.

Seorang perempuan terlihat berbaring diatas kasur dengan tubuh yang menghadap kebawah. 'Ah, dia tidur' kumatikan lampu kamarnya. Aku tak tahu kalau Kyuubi bisa ceroboh seperti ini.

Setelah kamar Kyuubi. Berikutnya kamar Naruto. Kamar mereka berdua berdekatan jadi tak butuh waktu lama aku sampai.

#Cklek

Hmm. 'Dikunci?'

#Cklek-clek-clek

Apa dia berada di dalam? Kurasa tidak. Kyuubi mengatakan kalau Naruto selalu pulang sejam sebelum aku pulang. Ini masih jam 8 malam. Jadi sudah pasti dia belum ada.

Kuambil tasku yang tadinya kutinggalkan di meja lantai bawah ruang makan. Lalu kembali. "kalau tak salah kuncinya yang ini" gumamku pelan. Beberapa kunci duplikat rumah ada bersamaku. Jadi mana mungkin, aku sebagai tuan rumah tak dapat mengakses apapun.

Ah, kebuka.

Segera aku masuk kedalam. 'a-apa-apaan dengan kamar ini..' batinku terkesan. Kamar yang sangat-sangat minimalis. Begitu juga dengan suasana yang terasa berbeda. Kasur yang entah kenapa terlihat empuk serta ingin kutiduri. Padahal kasur itu kubeli sama seperti milik Kyuubi.

Dia juga mempunyai laptop yang sama sekali tak pernah kubelikan. Ku coba membuka laptopnya tersebut. Tapi nihil. Ada terdapat password di dalamnya.

Setelah kumatikan. Aku berpindah tempat duduk dari kursi ke tepian kasur. Sebelum aku mencoba berbaring. Suara seseorang menghentikanku.

"Apa yang kau lakukan?"

"Eh!? A-ah Na-Naruto!" Saking terkejut refleks aku langsung berdiri. Aku yakin wajahku memerah sekarang ini. Tapi untuk menjaga sikapku. Aku menatapnya dengan datar dan bertanya.

"Pu-pulang juga kau anak sialan"

"Ha? Aku pulang di jam yang masih aman"

"Aman? Ini sudah jam 8:23 p.m. kau pikir ini masih aman?" Dih. Apa yang kukatakan. Tentu saja jam ini masih aman untuk seorang lelaki. Namun kenapa aku malah membentaknya.

Mata sebiru laut itu menatapku lebih dalam sebelum terpejam. "Hn. Baik terserah. Aku… minta maaf. Tapi bisakah kau keluar sekarang?" ucap Naruto masih memejam mata. Ada yang beda dengan sikapnya. Kemarin dia seperti… angkuh. Namun sekarang…

Kedua mata biru itu terbuka. "bisakah kau cepat?" pinta Naruto. Aku pun menurut. Saat aku mencapai pintu itu. Aku yakin dia akan menghentikanku sebelum aku keluar. Itu sudah past,-

#Cklek

Eh? Di-dia menutup…

'Si-sialan! A-aku tidak dihentikannya?!' jeritku. Segera aku berbalik dan mengetuk. Pintu itu terbuka. "hm ada apa?" tanya dia malas. "Ka-kau! A-apa yang kau lakukan!" terkejut dengan aku yang tiba-tiba marah. Dia melihatku dengan tampang penuh tanya sebelum. "ha?" aku terdiam. Namun menatapnya dengan tajam sekaligus menggeram.

Aku tak tahu permainan apa yang dia pikirkan terhadapku. Tapi, setelah membuang kesempatanku bertemu dengan para tokoh-tokoh penting dan berpengaruh. Dan membuatku memakai strategi laporan karyawan, karena tak ingin membuang waktu. Dan lebih terutama nya lagi, Pria ini selalu berada di benakku sejak pagi. Dan malah respon ini yang kudapatkan.

Ucapannya yang berikut malah membuatku makin tak terima…

"Oioi. Cepatlah aku mengantu,-"

#PLAKK!

…Kutampar dia.

.

#PLAKK!-PLAAKK!-PLAAAKKK!

"GYAAAA! SA-SAKIT! HE-HEN,-"

#PLAAKKK!-PLAAKKK!-PLAAAAKKK!

"AHHHH! NA-NA-NARUTO! I-INI TERLALU SAKIT!"

Sekuat tenaga aku berteriak. Sekuat tenaga aku memohon. Sekuat tenaga aku menjerit kesakitan. Semua dihiraukan. Ini benar-benar sudah keterlaluan. Memang benar ini yang kuharapkan. Awalnya terasa enak.

Saat dia mengangkat lalu melemparku kekasurnya. Kunikmati. Apalagi bau kasurnya yang lebih mendorong gairahku. Bahkan aku sedikit klimaks. Dan pada saat dia mendekat. Badanku dibungkuk kasar sehingga pantatku mengarah padanya. Rok kantoranku tiba-tiba di robek sampe ke pinggang.

Dan inilah yang terjadi.

"Aku tak peduli"

#PLAKK!

"Yang kubutuhkan permintaan maaf. Bukan desahanmu"

#PLAAKK!-PLAKKK!-PLAAKK!

"AAAAAAAAAAKU MMINTA MAAFF!" teriakku cepat tak peduli jika Kyuubi terbangun.

Mendengar perkataanku Naruto berkata. "hm, bagus" kemudian mengelus-elus pantatku. Sama seperti kemarin. Tak lama itu dia membuatku berjanji kalau. Aku tidak akan pernah melakukan kekerasan dimulai dari sekarang.

Dan aku setuju.

Badanku yang dari tadi membungkuk. Diangkatnya dan sekarang kami berdua saling berhadapan.

"Baik. Kau bisa pergi sekaran,-"

#PLAKK!

Sadar dengan perbuatanku. Aku membungkuk dengan sendirinya. Baru 3 detik perjanjian itu dibuat dan aku melanggarnya.

Setelah terdiam lama. Kurasakan tangan kekar itu memegang pantatku. Tak ada suara orang terdengar. Pergerakan itu dilakukan dengan kesunyian. Kulihat kain kecil yang barusan dia lempar kesebelahku. Thong hitam.

Aku tak tahu bagaimana bisa. Tapi, kain atau lebih tepatnya celana dalamku. Begitu saja terlepas tanpa sepengetahuanku. Kupalingkan kepalaku saat mendengar suara resleting terbuka.

Aku terpaku. Sekumpulan daging berotot itu mengacung gagah sesaat dia menurunkan boxernya. Dalam hati aku menjerit tidak percaya apa yang kulihat.

'Tak mungkin. Ini sama sekali tidak mungkin! Ukuran sebesar itu takkan mungkin beneran!' seperti itu. Kesadaranku kembali saat dia dengan kasar menarik pantatku. Tahu apa yang akan diperbuatnya, aku panik.

"TUNGGU NARUTO! CO-CONDOM!" melihat teriakanku diabaikan. Aku mencoba meraih tas di hadapanku. Namun tak bisa. Sekuat tenaga aku mencoba tetap tak bisa. Padahal sudah kukorbankan harga diriku sebagai director ternama dengan sempat singgah di supermarket kecil hanya untuk membeli pengaman itu. Dan dia membuat pengorbananku itu…

"T-T-TIDAK! T-TIDAK MUNGKIN BE-BENDA ITUU BISA MASUK! SE-SETIDAKNYA BIARKAN AKU MELICINKANNYA,- GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!" teriakku menggila. Rasa sakit ini sungguh luar biasa. Penisnya itu di keluar masuk dengan cepat dalam vaginaku. Aku pasrah. Kupejam mata dengan kuat. Serta ku tutup kuat suaraku dengan gigi. Masih ada desahan kesakitan yang keluar. Namun itu cukup.

Aku tak ingin Kyuubi melihatku dalam keadaan seperti ini.

Tak kuat menahan sakit. Tanganku melemas sehingga membuat bagian atas tubuhku jatuh terbenam di kasur. Kucium bau kasur Naruto. Anehnya, itu berhasil membuatku sedikit tenang. Segera kutarik kasurnya itu mengelilingi kepalaku. Beberapa menit kemudian pingsan.

.

Saat aku bangun. Dia masih mengentot ku. Namun dengan gaya missionary. Aku tak tahu seberapa lama aku hilang kesadaran. Rasa sakit yang kurasakan tadi berganti dengan kenikmatan. Aku pun mendesah dengan penuh kenikmatan.

"ah ah ahhnn!" desahku capai klimaks. Beberapa menit telah berlalu, dan sudah kedua kalinya aku dibuat keluar. Mataku tiba-tiba ditutup olehnya saat bangun tadi. Apa dia tidak ingin melihatku? Entahlah. Kurasakkan penisnya tiba-tiba berdenyut dan sedikit membesar.

"Ah ah ah. Ja-jangan di dalam.." ucapku lemas. Pandangan mataku terbuka. Tangan yang tadi menutup mataku kini dimasukkan ke belakang lutut kakiku lalu menindisku. Membuat penis panjang dan besar itu menggali lebih dalam rahimku.

Aku yakin lubang vaginaku murni menjadi pas dengan penis Naruto. Dan mainanku (dildo) tak akan lagi memuaskanku. Aku yakin itu.

Wajah kami berdua sudah sangat begitu dekat. Namun pandangannya mengarah ke arah bawah. Kesal, kucium dia. Lalu dibalas balik. Dalam sela-sela ciuman itu sebelum dia memasuki lidahnya ke dalam mulutku. Aku terlebih dahulu merembas masuk.

Takkan kubiarkan dia berkuasa. Setidaknya tidak di bagian mulut.

Kurasakan lidahku di emut-emut di dalam mulutnya. Selama 3 menit kami berada dalam posisi seperti itu dan hp Naruto berbunyi.

Kupikir dia akan berhenti seperti kemarin. Sebelum aku berniat menahannya. Naruto malah lebih mempercepat gerakannya. "ja-jaaana,- ughh!" desahku. Sperma nya yang hangat masuk tepat ke rahimku.

Cairan putih itu kemudian ikut keluar seiring Naruto mencabut penisnya. Aku mendesah pelan. Tak kusangka sangat banyak.

Lama Naruto berbincang. Waktu itu ku manfaatkan untuk mengumpul tenaga. Kuraih isi dalam tasku dan mengambil suplemen. Suplemen itu untuk menambah tenaga. Begitu juga dengan botol kaca kecil yang di tanganku ini.

Waktu aku meminumnya aku melihat Naruto dan dia melihatku balik. "heh, jadi bukan cuma condom yang kau beli.." ucapnya meremehkan. Dilepas hp nya ke atas meja dan membalikkan kursi. Dia yang tadi membelakangiku kini berhadapan.

"Apa kau ingin… aku melanjutkannya.. Kaa-san?" ucapnya lagi namun terdengar sensual saat dia memanggilku. Aku tak menjawab. Kuacuhkan dia dengan terus meminum obat di botol.

Dia tertawa. "haha.. baik-baik. Tapi sebelum itu.." lalu menjadi serius.

"..Kaa-san, ada yang ingin kubicarakan padamu"

.

.

.1

.

.

Setelah perkataannya kemarin. Tak kusangka dia berbohong. Kemarin Naruto berkata, kalau dia akan membicarakan hal penting. Dan dia malah "hm, setelah dipikir-pikir. Besok saja…" membuatku lebih penasaran.

Mah. Tapi setidaknya, malam itu kita bercinta sampai pagi. Jadi kumaafkan.

Tapi, lagi-lagi ini sudah keterlaluan..

Ini sudah pukul jam 12 malam. Bahkan telah berganti hari. Dan dia belum pulang-pulang juga.

Kyuubi mengatakan kalau Naruto menghilang entah kemana serta tak balik saat istirahat sekolah. Itu berarti, itu disekitaran jam 10. Mana nomor hpnya tak kutahui lagi. Begitu juga dengan Kyuubi.

Kutarik nafas dalam-dalam.

Apa ini ada hubungannya dengan kemarin? Mungkin. Naruto terlihat serius saat itu. Mungkin sedikit lagi dia akan pulang.

Hp ku berdering setelah beberapa menit berlalu. 'Unknown..?' gumamku pelan. Langsung kutekan reject. Tak lama hp ku berdering kembali. Kali ini aku abaikan.

Tapi, betapa bodohnya aku saat mendengar voicemail yang ditinggalkan. "aku tak akan pulang hari ini" itu suara Naruto. Kuambil hp ku lagi dan kembali menghubungi.

"Telepon yang anda tuju tidak dapat dilakuk,-" operator sialan. Kucoba menghubunginya lagi dan lagi. Tapi tak berhasil. Terakhir kali aku mencoba, 1 pesan masuk.

Naruto.

.

Huft…

Hampir saja ketahuan…

Kenapa juga Kyuubi belum tidur di jam seperti ini…

Dengan berpakaian baju keluar. Aku memasuki kamar Naruto. Dan mengambil beberapa barang. Dia menyuruhku mengambil laptop beserta tasnya.

Kuperhatikan kamar Naruto sebelum keluar.

Kasurnya berwarna pink? Kemarin malam sampai pagi aku yakin itu masih berwarna putih. Ah tidak-tidak. Aku disuruh Naruto cepat.

.

.

.1

.

.

Highway

'kalau tak salah lokasinya disini' Kutatap layar hpku. Memastikan kembali. Setelah yakin, aku segera turun. Tak lupa dengan barang yang disuruh.

"Aku tak percaya anak itu menyuruh ibunya menunggu disini" gerutuku. Gang ini sangat sepi. Apalagi sudah jam begini. Apa Naruto tak khawatir jika aku terjadi apa-apa? Ugh. Awas saja nanti.

Baru saja aku berpikir begitu. Kulihat 2 orang berpakaian jas berjalan kearahku. Mereka terlihat seperti orang penting. Jadi kupikir mereka bukanlah orang yang seperti ingin memerkosaku.

Tapi itu tak membuatku lengah. Walaupun aku wanita, aku juga adalah orang pemegang perusahaan Namikaze Corp. Dengan kata lain salah satu orang terkaya di dunia.

Jadi ada 2 hal yang kuwaspadai. Harga diriku sebagai wanita dan pemimpin perusahaan. (Author's Note : Dan kedua hal tersebut telah di hancuri Naru,- ba-baik-baik.. a-aku minta maaf..).

Dengus ku pelan melihat kedua orang itu lewat. Lagi betapa bodohnya aku. Aku sedikit lengah saat beberapa detik yang lalu. Kupikir mereka tidak akan berbuat macam-macam. Malah sebaliknya.

Mereka tiba-tiba berlari lalu membekapku. Tak terima badanku disentuh. Kulepas semua benda yang kupegang lalu melawan balik.

Pertama kuinjak kaki mereka sekeras mungkin (2). Kedua, saat mereka mundur incar kemaluan mereka (1). Jika ada yang tidak mundur maka aku hanya perlu mendorongnya saat dia menahan sakit (2).

(Author's Note : jumlah korban = (angka))

Tak kusangka mereka selemah ini. Malah hanya sampai 2 aturan lagi. Kulihat mereka memegang kesakitan di bagian benda menjijikan. Tendangan tadi sangat kuat. Jadi, benda menjijikan mereka itu pasti ada yang hancur.

'Tidak-tidak. Aku tak puas! Tubuhku seenaknya di pegang mereka!' Kesal tak terima dan bercampur marah. Mungkin akan menenangkanku saat kubuat mereka amnesia."Tu-tu-tunggu! Nona!" Kuabaikan. Balok kayu yang kutemukan disamping mereka. Kubuat menjadi bat baseball. "e-eh?! Tu-tunggu! Na-naruto menyuruh,- Hiiii!" ucapnya dengan cepat. Balok kayu itu hampir saja mengenai kepalanya. Kalau saja nama seseorang itu tidak ku dengar. Mungkin sudah hancur seperti semangka.

"Bicara"

.

.

.1

.

.

Unknown

Kini aku berada di dalam mobil dengan tubuh terikat. Kepala ditutupi dengan karung hitam kecil. Begitu juga dengan pendengaranku. Setelah kalah beragumen dengan mereka. Aku dipaksa menuruti.

Mereka mengatakan kalau semua aturan itu adalah buatan Naruto. Saat kutanya. "Kalian siapanya Naruto?" mereka hanya saling berpandang. Dan mengatakan kalau mereka itu bukan anak buah Naruto. Melainkan orang yang kebutulan mempunyai tujuan yang sama.

Aku bersikeras menolak aku diikat. Apalagi mereka memegangku. Tapi, saat mereka berkata. "Naruto menduga hal ini terjadi. Jadi dia katakan kalau kau menolak. Maka kami hanya perlu membawa kedua barang di tanah itu" aku terdiam dan menyutujuinya.

Setengah jam berlalu.

Badanku tiba-tiba dipegang. Terkejut, aku langsung histeris. Tapi mereka mengabaikanku dengan terus memaksaku keluar dari mobil. Karena pendengaranku ditutup, jadi aku tak tahu kalau sudah sampai. Mereka kemudian memaksaku berjalan dengan kepala yang masih di tutup.

.

Akhirnya. Setelah cukup lama mereka membawaku. Aku bertemu dengan dia. "Baik. Kalian bisa pergi sekarang" Ucap Naruto setelah mereka melepaskan semua penghalang. Mereka! Dan bukan dia!.

"Tunggu!" teriakku. Kulihat mereka berdua terhenti. Wajah mereka berbeda dari yang tadi kutemui sejak awal. Langsung aku menuju dihadapan mereka dan kutendang. Tepat di uluh hati. "Kalian sengaja menyentuh dadaku tadi, kan? Di mobil. Sialan" ucapku dingin bercampur kesal. Sangat sangat kesal.

Tak puas dengan tendangan sekali. Kuambli vas bunga diatas meja. Vas bunga ini terbuat dari kaca bening. Begitu juga dengan meja… tidak. Melainkan semua benda-benda dalam ruang ini terbuat dari kaca bening.

Sebelum aku memecah kepala mereka. Naruto menghentikanku dengan berkata "Cukup". Tapi aku tak mau. "Tidak-Tidak Naruto. Aku tak akan.. tidak sebelum mereka amnesia!" Walaupun aku berkata begitu. Aku tak bisa berbuat apa-apa. Tidak sebelum Naruto mengijinkan. "Mereka partner yang penting buatku… Jika kau ingin melampiaskan kemarahanmu pada seseorang. Aku yakin itu aku" Ya. Itu memang betul. Kalau saja Naruto tak ada di tempat ini, tapi berada di rumah. Kejadian ini tak akan terjadi.

Naruto mengusir mereka setelah mendapat ijin dariku. Tapi, wajah mereka masih kuingat. Awas kalau ketemu nanti.

"Kau bisa duduk disini Kaa-san"

"Tidak. Aku tak ingin berlama-lama di tempat… menakutkan seperti ini" kuedarkan pandangan ku di sepenjuru ruang. Selain benda-benda yang terbuat dari kaca. Dinding, lantai, dan atap nya juga terbuat dari cermin. Mana mungkin ini tidak menakutkan. "Ayo pulang Naruto" sambungku datar melihatnya.

"hmm… kau yakin?"

"Iya"

"Bagaimana dengan minum terlebih dahulu, Kaa-san" dituangkan botol yang kelihatan mahal itu ke dalam gelas. Merek botol itu tidak dapat kuketahui dan terlihat sangat asing. Aku bahkan tak tahu kalau itu anggur atau apa.

Tidak-tidak.

Kenapa aku malah seperti mengiyakan semua situasi ini.

"Sebelum itu Naruto.. katakan. Siapa kau? Dan kenapa kau terlihat seperti memegang suatu organisasi? Lalu jawab aku sekarang! Apa kau biasa minum alkohol?"

"Oioi tenanglah. Aku ya aku, Naruto Uzumaki. Anak bungsumu. Organisasi? Ya, kurasa seperti itu. Katakan saja ada hal yang harus di pertahankan. Untuk yang terakhir, itu mungkin." Jawabnya semua dengan santai. Aku ingin bertanya lebih banyak lagi, dan lebih mendetail. Tapi, dia berjalan mendekatiku sambil berkata.

"Ini bukan Alkohol. Melainkan seperti yang tadi malam… efeknya"

Wajahku memerah. "Si-sialan. A-apa kau ingin melakukan d-disini?!" penjelasannya itu langsung tertangkap di otakku. Refleks aku mundur selangkah namun di tahan.

"Tergantung dari jawabanmu. Kaa-san.. berikan perusahaan Namikaze Corp padaku,-"

#PLAAKK!

Dengan begitu kutampar dia.

Aku pun dihukum olehnya. Seperti biasa.

END KUSHINA POV

.


.

Hidden Conversation

"Sebentar, Kyuubi" Kuhentikkan perempuan merah itu sebelum naik tangga. Dia berbalik dan bertanya "Hm. Ada apa Kaa-chan?". Wajahku sedikit memerah dan sebelum aku bertanya. Kubuat itu sedatar mungkin. "A-apa kemarin malam… kau mendengar sesuatu?".

"Mendengar sesuatu? Kemarin malam? Maksudmu hari minggu kemarin?"

"hmm"

"Tidak. Emang kenapa?"

"He?! Be-benarkah?"

"Iya, Kaa-chan"

"Ka-kalau begitu… kau bisa pergi sekarang"

A-aku tak tahu kalau Kyuubi mempunyai… kebiasaan yang buruk.

END Hidden Conversation