Outland
Desclaimer :
Naruto and the othe character is not my own
Summary :
Setelah apa yang terjadi padanya 3 tahun yang lalu. Seorang anak kehilangan kepribadiannya yang dulu. Entah yang mana kepribadiannya yang baik. Tapi, saat anak itu berkata. "Kuharap kau tak memilih aku yang dulu". Sang anak itu seperti mengancam dengan maksud… Kepribadian inilah yang terbaik.
Chapter 5 : The man who sees them as his goals
"Dengan begini perusahaan Namikaze Corp menjadi milikku" ucap Naruto menyeringai. Arah matanya menatap berita yang ada di tv sambil mengelus-elus kepala seseorang yang berada di bawah meja.
Seorang Wanita. Yang terlihat sibuk mengulum penis si pirang itu sebelum berhenti dan berkata. "B-brengsek, ka-kau yang melakukan itu kan?" Yaitu Kushina Uzumaki. Wanita berambut merah halus bak bulu domba. Sekaligus sang pemilik ruang mewah sekaligus perusahaan yang ditempat.
"Ehm? Apa maksudmu?" balas Naruto polos menghiraukan tatapan tajam wanita itu. "Sudah kubilangkan.. kalau ada dunia lain selain dunia kita." Sambung pemuda itu santai. Masih menatap tv di dinding yang cukup jauh dari kursinya. Kedua tangan pemuda itu berniat mengunci retsleting celana. Namun dicegah oleh wanita itu dengan cara duduk di atas pangkuannya.
Memaksa Naruto bertatapan dengannya. "Bagaimana aku bisa tahu kalau mereka hilang karena di kirim ke dunia lain?" tanya Wanita itu dengan dingin.
"Oh. Dengan kata lain… Kau berpikir mereka bukan dikirim? Melainkan hilang karena... mati?" Walau terdengar ragu di suara Naruto saat mengatakan itu. Kushina yakin pasti, kalau pemuda itu memang sengaja. "Kau yakin berpikir begitu pada Aneki?"
"a-a-aku tidak berpikir begitu!"
"haha… bercanda kok." Dicium wanita itu sebentar lalu menatapnya menyeringai. "Ya. Memang benar akulah yang melakukannya. Akulah yang mengirim mereka. Tapi, bukan itu permasalahannya Kaa-san." Jelas Naruto menggantung.
Wajah Kushina memerah saat tiba-tiba dicium. Padahal dia seharusnya marah karena perkataan Naruto terhadap anak perempuannya.
"Permasalahannya bukan siapa yang mengirim mereka.. melainkan bukti kalau ada dunia lain"
"Dan kau mengirim kakakmu sebagai bukti?"
"Itu bukti paling kuat untuk menunjukanmu.. jadi, Ya. Tentu saja. Dengan begitu kau tahu, kalau seberapa seriusnya aku ini." Mereka berdua terdiam sebentar. Saling bertatapan. Satunya dingin, dan satunya menyeringai dari balik matanya yang menggelap di tutup rambut. Si pemuda yang menyeringai tersebut kemudian berkata.
"Well, kalau kau sudah tak berniat menggunakan bendaku. Kau sebaiknya membiarkanku untuk menutupnya." Jelas pemuda itu berniat menyingkirkan Kushina dari pangkuannya. Wanita yang keadaan setengah telanjang itu menolak dia disingkirkan. Namun saat Naruto berkata. "Oh. Tidak-tidak, Kaa-san. Kita harus menghentikan ini sekarang juga. Serta aku sarankan agar kau segera memakai bajumu. Karena beberapa karyawanmu akan segera masuk ke dalam ruangan ini… kau lupa? Kalau Aneki menghilang?" Wanita itu pun segera menyingkir. Lalu dengan cepat mengambil baju yang ada di atas karpet.
Saat Kushina berusaha memakai seluruh pakaiannya. Naruto duduk menikmati setiap pemandangan tersebut sambil berkata.
"Hitam bagus untukmu. Btw."
…
And thus she will wearing only black.
.
.
.1
.
.
"Aku tak menyangka perkataan anak itu benar!"
Teriak seorang pria sambil memukul meja di hadapannya. Terlihat di dalam ruangan itu kalau ada sejumlah orang yang sedang duduk melingkari meja bundar. Mereka semua terdiri dari perusahaan-perusahaan terkenal dan tokoh-tokoh terpenting.
"Tenang Fugaku! Pertama kita harus menghubungi pihak kepolisian agar,-"
"Kau lupa kalau anak itu mengatakan jangan pernah mengatakan ini pada siapapun kan? Nara-san" potong pria berambut panjang. Pria itu bernama Hiashi Hyuuga. Pemilik perusahaan Hyuuga Corp.
"Hyuuga-san. Ini mengenai anak kita! Mereka tiba-tiba saja menghilang! Apa kau yakin? Perkataan anak itu benar? Kalau ada dunia lain selain dunia kita? Jangan bercanda! Aku tak tahu bagaimana dia melakukannya! Tapi aku yakin dia menyembunyikan anak kita disini! Di dunia ini!" jelas Shikaku menatap Hiashi marah.
Pria bernama Shikaku Nara itu adalah seorang asisten Prime Ministry. Walau begitu, dia diancam untuk tidak mengatakan pada siapapun sejak 3 hari yang lalu. Awalnya dia berpikir kalau itu hanyalah keisengan anak muda. Tapi, ternyata pria itu salah.
"Pokoknya kita tidak akan melaporkan ini pada siapapun. Kau tidak tahu dengan apa yang kau lakuka,-"
"Kau yang tidak tahu Hyuuga-san! Coba saja ini terjadi pada anakmu!"
Sang Hyuuga terdiam. Teriakan itu berasal dari seorang Ibu bernama Mikoto Uchiha. Istri dari Fugaku. Yakni ayah Sasuke. "Kau tidak tahu bagaimana perasaan kami! Kalau benar apa yang anak itu katakan. Kalau mereka dikirim ke dunia lain. Lalu ba-bagaima,-"
"Su-sudah Mikoto. Kau harus tenang." Potong Fugaku memeluk istrinya. Hiashi Hyuuga yang melihat itu memejamkan matanya dan bersikeras. "Informasi ini hanya kita yang tahu. Selain kalian. Tak ada siapapun yang akan tahu hal ini."
Suasana langsung menjadi ricuh selama beberapa jam. Sebelum seorang pemuda pirang datang ke dalam ruangan dan berkata. "Tenanglah kalian." diikuti wanita merah di belakangnya.
"Apa maksudmu dengan tenang sia,-"
"Shh. Languange please."
Potong Naruto tajam ke arah Fugaku. Pemuda tersebut kembali berjalan dan meraih satu-satunya kursi kosong yang tersisa. Lalu mempersilahkan wanita yang tadi mengikutinya itu untuk duduk.
Setelah itu. Dia mulai berjalan. Memutari ruangan tersebut sambil berkata. "Aku dengar kabar dari Hyuuga-san… kalau kalian berniat membeberkan ini ke public… dan yang lainnya berniat menelepon polisi karena aksi penculikan anak dan biar kutebak.. penculiknya itu aku? Kan?" Kemudian berhenti sesaat dan melihat beberapa orang. Lalu kembali berjalan. "Sebaiknya kalian tidak melakukan itu. Aku mempunyai orang didalam kepolisian. Bukan pemimpin melainkan hanya bawahan saja. Dan pecaya atau tidak… perempuan itu sangat ahli dalam menyembunyikan dan menghilangkan jejak."
Pemuda kembali berhenti di belakang kursi Mikoto dan menatapnya dari belakang dengan penuh artian. Seluruh orang yang berada dalam ruangan menegang. Entah kenapa mereka serasa tak berkutip. Semenjak si pirang itu menegur si pemilik perusahaan Uchiha Corp. Ruangan tersebut seakan di penuhi dengan aura mengancam.
"Tenang saja. Anak-anak kalian telah ku kirim ke dunia lain dengan selamat sentosa." Ucap Naruto kembali berjalan. "Ka-kalau memang benar dunia yang kau bicarakan itu ada… lalu kenapa kau mengirim mereka ke tempat berbahaya itu!" Kata seseorang. Yang tak lain adalah Kushina Uzumaki. Wanita yang tadi dipersilahkan untuk duduk.
"Untuk membuktikan kalian. Kalau apa yang ku katakan benar. Tentu saja." Balas Naruto santai. Pemuda tersebut sekarang telah berada di belakang kursi wanita itu seraya menyandarkan kedua tangannya di kepala kursi.
"Maksudmu mengancam kami agar memaksa kami bekerja untukmu? Begitu?" ucap Fugaku dengan dingin.
"hmm... Aku membutuhkan dukungan dari kalian untuk membawakan seluruh benda dan apa yang kuperlukan ke suatu tempat. Dan itu dibutuhkan intel, persetujuan, modal, dan anggota yang banyak. Walau pun aku memiliki partner. Itu tidak akan cukup." Jelas Naruto panjang lebar.
Sebelum ada yang mencoba berkata. Pemuda itu melanjutkan. "Setelah semua terlaksana. Lalu rencanaku berjalan dengan baik. Disitulah seperti yang kujanjijikan akan memberikan kalian batuan mineral sejuta manfaat yang tidak ada di dunia ini. Dengan jumlah yang sangat banyak, tentu saja. Jadi situasi ini bisa di katakan win-win kan?" dengan senyuman.
"Seharusnya kalian bangga anak kalian terpilih menjadi pahlawan 'sementara' untuk dunia yang telah kehilangan penuntun mereka 'sang dewa'." Tambah Naruto. Tapi perkataan itu malah menjadi minyak bagi wanita Uchiha itu.
"Jangan bercanda! Kau berniat membahayakan nyawa anak kami hanya untuk batuan itu!? Lalu siapa yang peduli dengan keadaan dunia itu!"
Tak terima anaknya ditukar layak benda. Mikoto membentak Naruto yang sedikit terkejut kemudian tertawa. "Haha. Respon dan jawaban yang sangat bagus.. sasuga dari Uchiha-san. Memang benar. Siapa juga yang peduli dengan dunia itu. Tapi, apa kalian yakin? Setelah dunia itu jatuh kedalam keputusasaan atau hancur…" tarikan nafas pasrah di dengar mereka.
"…Dunia kita adalah selanjutnya. Lalu pada saat itu tiba, mereka akan datang dan kita terpaksa melawan mereka…" dilihat wajah-wajah orang itu secara bergilir dan lanjut bicara.
"A mortal who just have a technology vs an Immortal who have ability to rise a dead people and use it as a destructive weapon. Well, susah untuk menjelaskan seluruh kekuatan musuh itu pada kalian. But please, just believe me, when the day those enemy come here. It will be the end of our world."
"Tapi, kenapa harus anak kami? Bukankah kau berjanji kalau kau tak akan melibatkan mereka?!" balas Mikoto mengungkit masa lalu. "Ya. Aku memang pernah mengatakan itu. Namun, ada banyak sekali alasan kenapa mereka kupilih. Tenang saja, aku mempunyai mata sekaligus pendengaranku bersama mereka. Keamanan anak kalian sudah pasti aman. Lagipula aku mengirim Aneki ku sendiri ke sana… maksudku, mana juga ada adik yang menginginkan kakaknya untuk mati, kan? Haha." Jelas Naruto lagi, sekaligus tertawa. "Di saat mereka telah menjadi sangat kuat dengan kekuatan yang ada di dunia sana. Aku akan membawa mereka kembali pulang kesini. Seperti yang di rencanakan."
Seluruh orang yang mendengar itu terdiam lalu saling berbisik. Entah kenapa mereka lega saat mendengar si pirang itu berkata anak mereka aman.
"Dunia yang kau katakan bernama Outland itu… kenapa mempunyai nama yang sama dengan desa yang ada,-"
"Kukira aku sudah pernah mengatakan ini dulu kan? Kalau aku tidak akan pernah mengatakannya." Potong Naruto menghentikan Shikaku. "Keluarga Hyuuga dan leluhur kami. Melarang orang luar untuk tahu desa Outland. Itulah perjanjian yang kami pegang." Tambah Hiashi. Semua pun terdiam.
"Masih ada yang ingin bertanya?"
"Aku dengar. Perusahaan Namikaze Corp telah dijual ke beberapa Investor luar. Seseorang mengatakan padaku kalau itu telah disetujui oleh seorang anak. Apa itu kau?" Ucap seseorang. Yaitu Inoichi Yamanaka. Naruto melihat orang itu kemudian tersenyum. "Oh. Seperti yang di harapkan oleh seseorang yang mempunyai mata dan telinga di seluruh pelosok dunia... apa kau keberatan karena perkataanku tadi? ah, tidak-tidak. Seharusnya pemula sepertiku tidak... ehm" Puji pemuda itu lalu kembali berkata. "Ya, memang benar itu aku. Sebelum aku kemari, Kaa-san memberikan perusahaannya padaku. Lalu aku langsung menjualnya pada seseorang yang telah kujanjikan dari jauh hari. Alhasilnya, wanita yang duduk ini…" liriknya pada Kushina yang ada di bawah. "…menggigit kepalaku 'yang lain'. Itu sangat sakit." Walau mata onyx nya menatap datar ke depan. Wajah Kushina sedikit merona mendengar itu.
"Kalau ada yang ingin tahu kenapa aku menjual perusahaan Namikaze Corp. Itu karena aku menukarnya dengan pulau. Yaitu tempat yang tadi kubicarakan agar kalian membantuku. Pulau tersebut akan menjadi pusat pertahanan dunia kita dari dunia lain…"
"…Karena itu Nara-san. Aku ingin kau mengatakan keputusan yang kita bahas ini pada wanita berdada besar itu. Aku pernah mengatakan padanya. Tapi, aku malah di usir. Bantuan pemerintah akan sangat membantu… Kurasa semua sudah jelas, kan? Jadi dengan ini, kalian bisa bubar sekarang dan lakukan apa yang harus kalian lakukan." Ucap Naruto lalu berjalan pergi yang di ikuti Kushina dari belakang.
Sebelum kedua orang itu menghilang dari balik pintu. Naruto berkata "Oh. Ada sedikit kabar dari anak kalian. Mereka sekarang ini sedang duduk dan mendengar cerita." Lalu pergi.
Setelah cukup jauh dari ruangan. Naruto dan Kushina mendengar seseorang yang berlari ke arah mereka seraya berteriak memanggil. Kedua orang itu pun berhenti berjalan dan melihat kebelakang.
"Ke-kenapa kau tak membawa ku pergi kesana..hah hah" Ucap pria itu mengatur nafas. Pria itu bernama Hiashi Hyuuga. Yang tadi berlari dan berhenti di hadapan Naruto. "Topik itu telah kita bicarakan semenjak aku tiba di dunia ini, Hiashi. Jangan membuatku menjelaskannya lagi. Kalau tak ada gunanya orang tua seperti kalian kesana" Kata Naruto datar lalu kembali berjalan.
"Tu-tunggu! La-lalu bagaimana dengan putri ku!"
Diantara kedua orang yang berjalan membelakangi Hyuuga itu. Hanya Kushina yang memalingkan kepalanya kebelakang. Melihat tingkah pria itu yang terdengar sangat memohon. Jujur, di dalam hati Kushina. Wanita itu cukup prihatin melihat keadaan pria itu. Serta juga bertanya-tanya. Apa maksud dari perkataannya itu.
"Oh. Si pengkhianat.. Tenang saja Hiashi. Kau telah banyak membantuku sejak awal. Pada hari dimana aku datang ke dunia sana untuk menjemput mereka. Akan ku bawa si pengkhianat itu... cukup tahu saja. Jika dia melawan… tak apa kan? Jika hanya sebagian tubuhnya yang kembali?"
Kedua orang itu pun menghilang di belokan lorong dan pergi keluar dari gedung tersebut. Meninggalkan seorang ayah yang ternganga tak percaya dengan perkataan barusan.
.
"Aku berpikir… seberapa sukanya sih kau terhadap bendaku. Kaa-san" Ucap Naruto seraya mengelus-elus kepala wanita yang sedang memberikannya emutan. Kepala wanita tersebut di naik turunkan dengan cepat sebelum berhenti mengulum.
Kushina kini bertatapan dengan Naruto dan bertanya. "Siapa putri orang tadi itu?" Pemuda pirang itu segera mengganti pandangannya tak suka. Dalam hati Kushina. Wanita itulah yang seharusnya menunjukan ketidak sukaannya pada Naruto saat mendengar banyak perempuan yang dia kenal.
Tapi. Karena respon yang di keluarkan Naruto barusan seperti itu. Wanita itu berpikir kalau apapun hubungan special Naruto dengan si putri Hyuuga itu. Kini sudah berakhir. Kushina cukup senang akan itu.
"Dia adalah salah satu alasan yang mendorong ku menjadi seperti ini"
"Menjadi seperti ini? Maksudmu Naruto yang dulu ku kenal?"
"Ehm. Ah, ya. Kau benar, Kaa-san. Naruto yang dulu." Ucap Naruto memejam mata sebentar dan kembali berkata. "Jika aku bertanya... kau akan memilih aku yang mana.. kuharap kau tidak memilih jawaban yang satu itu Kaa-san."
Di buka sedikit matanya dan menatap Kushina dengan tatapan... seperti ingin melukai. "Karena… mungkin saja… jika aku masih mempunyai kepribadian itu… aku bisa…" di pejam kembali mata itu dan berkata. "hmm let's stop here."
"Aku malas berbicara tentangnya."
"Hm. Ok." Angguk pelan Kushina. Menghiraukan sikap Naruto dan bertingkah soalah-olah itu tidak pernah terjadi. Diapun bersiap mengemut benda dihadapannya. Namun disuruh berhenti lalu berbalik dan menunjukan bokongnya. "Ini benar-benar indah" Kedua tangan kekar Naruto memegang bokong tersebut lalu meremas-remasnya.
"Setelah kita sampai di pulau sana. Aku ingin mencoba lubang yang satunya. Bisa, kan? Kaa-san."
Segera wanita itu berbalik dan menamparnya. Namun dapat dihentikan dengan mudah. "Oh. Kau ingin melakukannya sekarang? Kuharap kau tidak melakukannya Kaa-san. Ini masih di dalam limosin." Jelas Naruto dan menarik dengan kasar tangan wanita itu untuk duduk di sebelahnya.
Pada akhirnya Kushina hanya bisa puas dengan satu tangan Naruto mengelus-elus dadanya dari balik baju. Sampai tiba di bandara.
.
.
.1
.
.
Di suatu tempat yang berada di dalam ruangan yang cukup luas. Sangat-sangat luas. Bahkan atap dindingnya sangatlah tinggi. Seperti ruangan yang bernuansa kerajaan. Di dalam ruangan itu ada meja yang cukup besar dan beberapa orang yang duduk mengelilingi meja tersebut.
Orang-orang yang duduk itu ternganga menatap seorang yang sedang berdiri. Yaitu wanita berpakaian seperti khas bangsawan kerajaan. Mereka ternganga bukan karena kecantikan wanita tersebut. Melainkan ceritanya yang mengatakan.
"Naruto Uzumaki adalah salah satu dari 20 pahlawan yang di panggil ke dunia ini. 3 tahun yang lalu. Dan 2 bulan yang lalu dia menghilang tanpa jejak."
END Chapter 5 : The man who sees them as his goals
Extra Action :
"Naruto.. ayo kita lakukan disini.." Ucap Kushina dengan sensual. Wanita merah yang hanya berpakaian dalam itu. Terlihat berusaha mencoba merayu pemuda pirang yang lagi duduk serta melihat pemandangan yang ada di luar jendela.
Dalam hati wanita itu. Hanya dengan menampar si pirang itu. Dia seharusnya sudah mendapatkan apa yang di inginkannya. Tidak dengan cara bermohon seperti pelacur seperti ini. Tapi, mau bagaimana lagi. Setiap tamparan yang di berikan. Selalu dapat di tahan Naruto semenjak 2 hari yang lalu.
Kebingungan, Kushina pun hanya bisa berpikir seperti sekarang ini. "Naruto.." ucapnya lagi memohon. Dia yang tadi duduk di sebelah Naruto. Kini berada di bawah pemuda pirang itu. Menjongkok seraya meraih retsleting dengan gerakan pelan dan berniat menariknya.
"Hentikan Kaa-san. Kau terlihat seperti pelacu,-"
"Tapi aku menginginkannya!" Potong Kushina. Wanita merah itu tampak cukup kesal saat Naruto mengatakan kata yang tidak seharusnya dipanggil untuk wanita terhormat sepertinya. Dengan menggunakan kekerasan. Kushina berusaha menyingkirkan satu tangan kekar yang menutupi retsletingnya.
"Ah. Oi apa yang kau lakukan? He-hent,- Baik-baik aku paham!" Kata Naruto cepat. Menghentikan mulut Kushina yang sedikit lagi menyentuh kulit tangannya.
Pasrah. Naruto kemudian berkata "Sekarang berdiri dan menghadap kemuka" yang dituruti wanita merah itu dengan cepat. Setelah Kushina melakukan tersebut betapa senangnya dia mendengar suara retsleting terbuka. "Hm, sebentar. Aku akan membuatnya berdiri" Penasaran perkataan Naruto seperti itu. Kushina curi-curi pandang melirik kebelakang tanpa berputar. Dilihat Pemuda pirang itu yang kini memegang penisnya dengan tangan kanan.
Aksi mengocok itu. Mau tak mau membuat Kushina terangsang. Apalagi dengan pemuda pirang itu dengan seenaknya. Menjadikan bagian tubuh belakangnya sebagai alat untuk membuat milik si pirang itu berdiri.
Beberapa detik berlalu. Pantat Kushina tiba-tiba di pegang lalu kemudian mengarah ke celana dalamnya. Tak pake lama. Celana dalam berenda hitam itu di robek. Kushina tidak akan terkejut lagi. Sudah 3 hari belakangan ini Naruto merobek semua celana dalamnya. Total yang di robeknya ada 9(+1). Yaitu 3 untuk bh dan 6(+1) untuk cd.
Kalau saja Naruto tahu betapa mahalnya dan dibutuhkan pengorbanan yang sangat lama untuk Kushina memilih sepasang pakaian dalam itu dengan teliti. Mungkin pemuda itu akan sedikit menghargainya. Tapi, Kushina tak peduli. Malahan dia makin terangsang dengan perlakuan itu.
Naruto kemudian memegang pinggul Kushina lalu menariknya ke bawah secara kasar. Alhasil. Kushina duduk di pangkuan Naruto. Yang pangkuan itu tersebut, terdapat benda besar yang berdiri dengan kokohnya ke atas. "GYAAAAAA!" Teriakan Kushina menggila. Tanpa ampun, pinggul pemuda itu di naikkan dengan sangat kuat dan cepat. Sehingga merusak isi dalam vaginanya.
Desahan-desahan Kushina menguasai isi pesawat. Sebelum Naruto memasukkan jarinya ke dalam mulut. "Hm, hm. Slurp, slurp." Dihisap kedua jari pemuda itu serta menaik turunkan pinggulnya. Berniat membantu Naruto agar dapat merasakan kenikmatan yang lebih.
Beberapa menit mereka melakukan itu, sebelum Kushina mengatakan dia akan segera klimaks. Segera Naruto mengangkat kedua kakinya lalu mendempetkan dengan sangat keras ke arah tubuhnya.
Sudah 2 kali gaya sex ini, Naruto lakukan padanya. Tapi, Kushina sama sekali tak dapat terbiasa. Bukan berarti ini tidak enak. Justru sebaliknya. Gaya sex ini sangat menyakitkan dan tidak nyaman. Membuatnya lebih bergairah. Apalagi dengan Naruto yang menaik turunkan pinggulnya dengan cepat dan bertenaga ke dalam lubang vaginanya.
"ah! ah! ah! ah! ah! ah!" desah Kushina di setiap tusukan Naruto. Beberapa detik kemudian mereka berdua klimaks. Kushina menatap langit pesawat pribadinya dan mengerang. Wajahnya menguat seperti menahan sesuatu yang sangat geli. "UHHNNNNNG!". Beriringan dengan desahannya itu. Cairan putih kental menyembur menghiasi rahimnya. Cukup lama Kushina mendesah, lalu berhenti saat dirasa tak ada lagi semburan yang akan datang.
Naruto melepas kaki Kushina dan menyuruhnya untuk berdiri. Walau enggan. Kushina menurut. Kedua kakinya terlihat gemetaran saat berdiri.
"hm.. tak kusangka sebanyak ini" ucap Naruto kagum melihat cairan putihnya berjatuhan ke lantai. Dia pun memasukan 1 jarinya di lubang pantat wanita itu. "Ahh!" Kejut Kushina hampir rubuh. Kedua tangan wanita itu berusaha memegang bangku pesawat di hadapannya. Berniat membantu kakinya agar tidak rubuh.
Ini pesawat pribadinya. Jadi sudah pasti tidak ada orang yang ada disini. Kecuali 2 pilot yang ada. "Na-naruto.. k-kau bisa memasukannya disana.." ucap Kushina menderuh.
"Aku sudah berjanji akan melakukannya setelah tiba di pulau" balas Naruto. Tangan pemuda itu mengambil cairan putih yang berjatuhan dari dalam vagina lalu di masukan ke dalam lubang pantat Kushina. "Ta-tapi.. kau bisa melakukannya sekarang." Paksa wanita itu.
Menduga akan berkata itu. Naruto menghentikan aktifitas memasukannya lalu menyeringai. Dipegang pinggul Kushina dengan kuat. "Baiklah kalau kau memaksa Kaa-san" Lalu menariknya dengan sangat kuat dari yang tadi.
Seperti hewan buas. Kushina berteriak. "GYAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!". Wanita itu sudah tak peduli lagi kalau desahannya terdengar oleh kedua pilot. Sekarang ini, yang dipikirkan wanita itu ialah. Menyingkirkan penis itu dari lubang pantatnya. "Sa-sakit! Sakit! Sakit sekali! Na-Naruto! cabut! Cepat ca-cabut! Sekarang!" mohon Kushina dengan cepat. Mata onyx miliknya berkaca-kaca.
"Hm? Cabut? Bukannya tadi kau ingin,-"
"Ti-tidak! A-aku tidak tahu kalau sesakit ini! Ku-kumohon ca-cabut!" mohonnya lagi. Air mata mulai berjatuhan. Di area lubang pantatnya sangat kesakitan. Sangat sulit untuk menjelaskan seberapa sakitnya benda besar itu menggali secara paksa serta membesarkan lubang pencernaannya. "Apa maksudmu Kaa-san? Kau tinggal berdiri saja kan?" balas Naruto tak berniat membantu.
Dengan gemetaran. Kushina memegang pinggiran bangku di hadapannya. Badan serta lututnya bergetar hebat seraya dia dengan sangat pelan berdiri. Ya, harus dengan sangat pelan. Itu karena untuk mengurangi rasa sakit di lubang pantatnya dari penis besar itu. Pada saat wanita itu berpikir tinggal sedikit lagi dan penis itu terlepas. Naruto menyentuh siku kaki Kushina dengan lutut kakinya. Pelan. Hanya pelan. Hasilnya...
Kushina terjatuh dan lagi-lagi penis pemuda itu menusuk tepat di lubang pantatnya. "OOOOH!" Mulutnya kemudian di buat menyerupah O. Sebelum menjadi horor saat Naruto berkata tepat di belakang telinganya. "Masih ada 4 jam untuk sampai ke tujuan Kaa-san… biarkan aku menikmati pantatmu." Kushina yang masih ingin berusaha memohon lagi. Dihiraukan, dengan kedua tangan kekar memegang kedua dadanya lalu diremas dari balik bra.
Naruto kemudian memegang kedua dada Kushina dan meremasnya dari balik bra. Lalu berkata di belakang telinganya "Masih ada 4 jam untuk sampai ke tujuan Kaa-san… biarkan aku menikmati pantatmu." Horor mendengar perkataan itu. Kushina berusaha memohon kembali namun dihiraukan.
"hi! Ti-tidak, Gyaaa! Uhnng! AH!"
Setelah 20 menit di paksa bermain. Wanita itu akhirnya pingsan. Namun bangun kembali setelah setengah jam berlalu. Walau begitu, Naruto, sejak tadi masih tak berniat menghentikan kegiatan menusuknya. Di dalam lubang pantat dan sampai di perut. Kushina dapat merasakan cairan putih kental, dengan jumlah yang sangat banyak berada di dalam situ. Tampaknya, selama wanita itu pingsan. Naruto sempat klimaks sekali dan setelah 3 menit berlalu sejak wanita itu bangun. Gelombang kedua, datang menyembur isi dalam perut Kushina. Dengan begitu, perutnya kembali menghangat. Ekspresi wajah Kushina terlihat menguat. Mulutnya lagi-lagi dibuat menjadi O bersamaan dengan Naruto yang meremas dada kanannya dari belakang dan meraih puting itu dengan mulut. Lalu digigit dengan kuat.
"OOOOHHHHHH!"
Pada akhirnya, suara desahan Kushina berhenti saat mereka sampai tujuan.
END Extra Action
Saya sedang belajar bahasa inggris. Tolong di koreksi yah, kalau ada kesalahan. Btw, jaringan rumah saya sedikit bermasalah. Untuk beberapa hari ini mungkin akan sedikit susah untukku menulis fic/ melanjutkannya. Karena perkuliahan saya sudah akan dimulai dalam beberapa hari lagi. Dan saya harus sibuk untuk mengurusi berkas-berkas pendaftarannya lagi.
Sekian,
Papoi Out.
