Outland

Desclaimer :
Naruto and the other character is not my own.

Summary :
Pertarungan antara kedua belah pihak terjadi. Padahal belum beberapa lama mereka dipergikan ke dunia lain. Mereka terpaksa harus melihat seberapa horror kekuatan yang dimiliki oleh para musuh. Sehingga perempuan yang dinyatakan sebagai salah satu yang terkuat, tak memiliki pilihan lain selain mengorbankan dirinya. Dan cara itu adalah yang paling terampuh apalagi tuk mengalahkan kakaknya yang telah menjadi abadi. Warning Mature Content Inside. (Update : Perbaikan kata).


Chapter 6 :

The Hero they know (Part 1)

Suatu tempat. Di padang rumput hijau. Dimana tidak ada bebatuan, semak, dan pepohonan di jangkauan yang sangat luas. Hanya rerumputan yang tergoyang di tiup angin.

Di pagi hari itu. Sebuah symbol pentagram muncul dan merusak rerumputan di daerah yang cukup luas. Seperti habis terbakar dan hangus di pada saat symbolnya bercahaya dengan sangat terang lalu kemudian menghilang.

Menampilkan ke-enam orang yang dalam keadaan tengkurap. Tak selang beberapa detik berlalu. Ke-enam orang tersebut mulai bergerak dan bangun. Orang pertama yang bangun adalah perempuan dengan rambut blonde. Ikat rambut yang 5 menit lalu di pakainya tadi. Entah kemana telah menghilang dan kini rambutnya di biarkan tergerai seraya celingukan sendiri. Melihat sekitar sebelum seseorang bersuara.

"a-apa yang terjadi?" Tanya lelaki bertato. Kepalanya dipegang seraya di ucak. Lalu mengedarkan pandangan ke sekitar. "D-dan… dimana ini?" Kiba nama lelaki itu kemudian berdiri. Begitu juga dengan Sasuke dan Shikamaru.

Mereka bertiga terpaku kemudian. Terpesona karena keindahan pemandangan. Diikuti juga dengan dua perempuan yang berdiri di belakang. Yakni Kyuubi dan Sakura.

Cukup lama mereka terdiam. Sebelum, seorang perempuan blonde berkata. "Sebaiknya kalian para lelaki tidak melihat perempuan di belakang kalian". Walau telah di peringati. Ketiga lelaki tersebut, refleks melihat kebelakang.

"Ha? Emang kena,- blff!"

Seketika, wajah Kiba merona. Pemandangan yang menurutnya sangat indah itu. Membuat dia tak bisa menyelesaikan ucapannya.

Itu karena penampilan dari kedua perempuan tersebut. Dengan pakaian yang terobek-robek. Isi pakaian dalam dari para perempuan tersebut dapat bisa dilihat dengan mudah.

Mau tak mau membuat para lelaki menatap badan mereka dengan intens. Kedua perempuan itu belum menyadarinya, dan pada saat mereka menyadarinya. Refleks tangan mereka segera menutupi badan, terutama di bagian kebanggan mereka.

"Kyaa!"

Teriakan itu berasal dari Sakura. Membuat Sasuke sadar, dan langsung menutup mata kedua lelaki di sebelahnya. "Oi, tutup mata kalian sialan." Ucap Sasuke. Walau dia mengatakan seperti itu. Kedua matanya masih melihat tubuh Sakura yang sedang menutupi bra dan cd pink itu. Lalu melihat ke arah Kyuubi.

Jujur. Kalau mau bilang. Menurut, pengamatan yang di lakukan Sasuke. Lelaki raven itu, meneliti kalau dada Kyuubi lebih besar dibandingkan dengan pacarnya. Si Sakura. Buktinya, walau telah di tutupi dengan kedua tangan. Dada yang di tutupi dengan bra biru pekat itu. Masih saja berboing-boing. Saat perempuan merah itu berjalan mendekat Sasuke.

"Kau juga, Sialan"

#BUAGH

.

"Berbeda dengan kita.. keadaanmu terlihat sangat baik, Ino." Ucap Sakura. Membandingkan penampilan mereka dengan penampilan Ino yang seperti tidak kurang satu apapun.

Setelah mengambil dan memakai blazer milik Sasuke. Blazer miliknya yang compang-camping dilingkarkan ke pinggulnya. Walau tak bisa menutup semua bagian tubuhnya. Perempuan pink itu harus puas hanya dengan pakaian dalamnya yang tertutupi.

Melihat ketiga lelaki yang dibuat tertidur di rerumputan. Ino kemudian memalingkan wajahnya ke samping. Menatap Sakura dan berkata. "E-entahlah. A-apa kalian mengingat apa yang terjadi pada kita?".

Dengan pose berpikir, Sakura berkata. "Aku rasa tadi kita sedang menunggu Kakashi-sensei di kelas.. lalu tiba-tiba dari lantai timbul cahaya.. ughh! Ke-kepalaku sa-sakit"

"K-kau baik-baik saja Sakura-chan?"

"a-ah. T-tidak. Hanya saja ingatan ku terasa samar"

"hmm, begitu ya. Lebih baik kau istirahat, Sakura-chan…" Ucap Ino prihatin. "…dan untuk kau Kyuubi. Berhenti menatapku seolah-olah kau ingin memakanku…" setelah melihat perempuan pink itu duduk. Ino yang merasa ditatap tajam oleh seseorang. Berbalik kebelakang.

"…Kalau kau ingin mengatakan sesuatu… katakanlah, Kyuubi-chan." Kedua perempuan itu kini bertatapan. Satunya dengan senyuman. Satunya lagi dengan penuh kebencian. Tapi, dia sama sekali tidak ingat. Kalau kenapa dia bisa bersikap seperti itu. Semakin perempuan merah itu ingin mengingatnya kembali. Semakin sakit kepalanya.

Mendapati Kyuubi tak dapat berkata-kata. Membuat kedua sudut bibir Ino melebar. "Sebaiknya kau, segera menutupi tubuhmu, Kyuubi-chan. Aku dan yang lain tak mau kau masuk angin 'terutama dia'."

"Kalau begitu berikan padaku bajumu." Balas Kyuubi.

"Eh? Bagaimana dengan cara Sakura? Kau tidak ingin mengikutinya?"

"Kau ingin aku memakai…" Ucap Kyuubi menggantung. "…pakaian mereka?" berpaling dari Ino dan melihat rerumputan. Dimana ketiga lelaki tersebut tertidur.

Ino kemudian mengikuti pandangan Kyuubi. "Benar, kalau blazer Shikamaru terlihat sudah tak layak di pakai. Begitu juga dengan Kiba. Tapi setidaknya, walau sedikit, itu dapat menutupi tubuhmu." Lalu melirik perempuan pink yang duduk sekilas. "Seperti Sakura-chan."

"Tidak. Aku tidak mau."

Penolakan Kyuubi membuat Ino mendesah. "Bagaimana dengan Sasuke? Dia terlihat memakai kaos dari balik kamejanya. Jadi kurasa kau bisa mengambil kame,-"

"Tidak."

"Kalau begitu… kau memilih berpenampilan begitu?"

"Tidak. Aku tidak akan. Karena itu… berikan padaku blazer mu." Tolak Kyuubi lagi. Masih menginginkan blazer Ino. Dia kemudian mendengar helaan nafas panjang dan diikuti dengan ucapan menggantung.

"Aku tidak akan membe,-"

Diperhatikan wajah Ino yang kini diam. Walau tubuhnya sudah terasa dingin di tiup angin sejuk. Kyuubi memilih menunggu keputusan dari si pirang yang berdiri tidak jauh dari 2 meter di hadapannya.

INO POV

Kyuubi-chan memang selalu keras kepala kalau sudah memutuskan sesuatu. Cukup menyebalkan kalau mengetahui ternyata dia adalah kakaknya.

Walau begitu, aku tidak ingin memberikan blazerku.

"Aku tidak akan membe,-"

"Give her what she want"

'Ha?' Suara seseorang tiba-tiba mengejutkanku. Bukan dari suara sekitar. Melainkan suara yang datang dalam kepalaku.

Aku kenal suara ini. Sangat mengenalnya.

Apa ini yang dia bicarakan kemarin?

Telepati?

Kurasa iya.

'Tidak. Aku tidak mau!' ucapku dalam hati. Penuh dengan penekanan.

'Why?'

Suara balasan itu terdengar sangat polos. Membuatku sedikit menggeram.

'k-kau… lupa dengan tadi pagi?'

Terdiam sebentar. Aku pun menunggu balasannya. Kuyakin dia sedang mencoba mengingatnya. Sedikit membuatku kesal, tapi mau bagaimana lagi.

'What?'

'Kau merobek pakaian dalamku!'

'…and you used my clothes. So, I think it's not a problem.'

Balasannya yang cepat membuatku bungkam.

'What's wrong, Ino?'

Aku tak dapat membalas pertanyaannya dengan cepat. Tampaknya dia mengetahui jika suara ku tadi terkesan marah.

Tentu saja aku marah. Setelah tadi memberikan waktu untuk dia berpikir. Malahan dia balik bertanya padaku.

Aku pikir dia lupa dengan kejadian semalam.

'ti-tidak.. tidak apa-apa. Aku..' ucapku dengan lesu. 'akan kuberikan blazer ku pada Kyuubi'.

'Yes. Of course… but that's not what I asking for…'

Disela-sela pergerakanku melepas blazer. Aku memilih diam dan mendengar.

'…why you sound like your angry?'

'Kupikir, kau lupa dengan kejadian semalam'

'So that's the reason why you upset?'

'Ya.'

Balasku. Sembari menyerahkan blazerku ke Kyuubi.

Mata berwarna merah dengan pupil seperti kucing itu masih terdiam sebentar melihatku.

Bukan kearah blazer yang kuangkat. Melainkan ke tubuhku.

Ya, itu wajar.

Mungkin dia bertanya-tanya kenapa bisa, aku memakai 3 lapis baju.

"Terima kasih…"

Ucapnya setelah mengambil pakaian yang kuberi. Walau begitu matanya masih menatap kaos hitam yang kupakai.

'W-well..nnghhh i-im sorry then…'

'T-tidak-tidak. Aku yang salah paham. Seharusnya aku yang minta maaf'

Balasku cepat. Sama sekali tak menyangka kalau dia akan meminta maaf. Tapi itu membuatku senang.

Tidak.

Tunggu dulu.

Apa dia baru saja…mendesah?

'Ja-jangan katakan kalau kau sedang melakukan itu sewaktu kita bicara Naru,-'

'Gah! D-did this woman just bite my dick's head?!'

Aku kembali di buat bungkam. Dia terdengar sangat marah.

'…I'll observe you later, Ino. Just keep the plan and you all will be safe'

Perkataan itu adalah akhir dari percakapan kita. Meninggalkanku ternganga ditempat. Bahkan dia tak membiarkanku menyelesaikan pertanyaanku tadi.

Bukannya aku marah. Hanya saja merasa kesal dan iri.

END INO POV

Sambil mengenakan blazer. Kyuubi mengernyitkan matanya melihat Ino.

"Ada apa dengan kau? Kau sakit?"

Wajah Ino terlihat sangat memerah saat menatapnya.

"Ti-tidak, tidak apa. Emang kenapa?"

Balasan yang sangat cepat itu malah menambah rasa aneh Kyuubi terhadap Ino.

"Wajahmu sangat merah dan kau mengenakan 3 lapis baju. Apalagi dengan kaos itam itu…" Ucapan Kyuubi sengaja menggantung. Perempuan merah itu kemudian melirik kaos long t-shirt hitam yang digunakan Ino dibalik kameja putih sebentar. "…terlihat sedikit besar dari tubuhmu."

Suara helaan nafas terdengar. Ino memejamkan matanya. Berusaha untuk menurunkan suhu derajat di wajahnya.

Pada saat ia membuka mata perlahan. Senyum terukir dibibir peachnya.

"Masa sih? Aku rasa ini pas untukku." Kedua jari Ino memainkan lengan kaos yang sedikit berkaret itu. "Kelihatan besar, mungkin karena melonggar? Kurasa hal ini tidak penting untuk di bahas sekarang. Dimana tempat kita berada adalah hal yang seharusnya kita bahas."

"Tapi sebelum itu. Kita harus membangunkan mereka." Jelasnya melihat ketiga lelaki yang tertidur. Lelaki yang paling dekat dengan dia adalah Kiba.

Segera dia membungkukkan badannya dan bersiap menampar sebelum terdiam mendengar perkataan Kyuubi.

"Itu kaos milik Naruto, kan?"

Wajah Kyuubi menggelap. Terutama di bagian mata yang tertutupi dengan rambut.

Begitu juga dengan Ino yang kini berdiri.

Rambut mereka berdua tersapu-sapu angin. Namun walau begitu, wajah mereka masih menggelap.

Ino yang sejak tadi membelakangi Kyuubi kini menghadapnya.

"Naruto? Adikmu? Kenapa bisa kau berpikir seperti itu Kyuubi-chan?"

"Ya. Aku pernah mencuci bajunya, jadi aku tahu kaos itu miliknya 'dan juga bau yang melekat di blazer ini'"

"Jangan bilang kau berpikir jika hanya adikmu yang mempunyai kaos ini, Kyuubi-chan"

"Kau hanya perlu menjawab tidak atau iya. Apa kau memiliki suatu hubungan dengan adikku?"

Ino terdiam sesaat. Bibirnya sedikit mengerucut lalu bergantikan dengan senyum.

"Entahlah." Jawaban yang diberikan sama sekali tidak membuat Kyuubi puas. Perkataan singkat itu mempunyai 2 arti. Tapi setelah apa yang terjadi kemarin. Kyuubi pasti memilih iya.

"Bagaimana jika iya?" Sambung Ino.

"Tidak. Tidak apa. Aku hanya terkejut kalau kau berpacaran dengan pecundang itu"

Kyuubi kemudian berjalan meraih kaki Shikamaru lalu menyeretnya menuju ke arah Sakura.

"Pecundang?" gumam Ino pelan. Entah kenapa dia agak risih mendengar perkataan itu. "Adik yang kau katakan pecundang itu baru saja membuatku kenikmatan, semalam"

Kyuubi terhenti. Badannya terlihat menegang. Tangan yang tadinya menyeret kaki Shikamaru dilepas.

"dan itu tidak hanya sekali." Bibir yang tadi mendecih tak suka kini berganti dengan senyum saat melihat respon Kyuubi. "Pecundang yang kau maksudkan tadi, bahkan terus membuatku kenikmatan walau aku sudah tidak sadarkan diri."

Mata yang tadinya masih menatap tanah sekarang menatap Ino. Datar dan dingin. Itulah yang dirasakan perempuan blonde itu yang malahan lebih membuatnya tersenyum.

Campuran dingin dan datar itu terasa seperti hampa bagi Kyuubi. Dia pun melanjutkan aktifitas menyeretnya yang membuat Ino kembali mengerucut. Dan seperti peristiwa itu tidak pernah terjadi.

Ino menampar Kiba.

.

"Jadi…. Dimana kita sekarang?" Ucap Kiba. Sembari mengelus pipihnya yang memerah. "Tempat ini, seperti di pedesaan.." jawab Shikamaru setelah memperhatikan sekitar. "..bahkan udaranya lebih jernih dan segar." Sambungnya lagi menghendus.

Kepala Kiba mengangguk setuju saat mendengar pernyataan akhir itu. Dia yang tadinya duduk, kini berdiri mengikuti 2 lelaki tersebut.

"Entahlah. Tapi, mari kita beranggapan kalau kita berada di sekitar pedesaan." Gumam Sasuke datar masih menatap arah hutan dan pegunungan. "dengan begitu 1 pertanyaan telah terjawab. Lalu…" sengaja dia menggantung untuk mengambil jarak yang dekat dengan teman-temannya yang lain. "…bagaimana bisa, kita yang tadinya di kelas, sekarang berada disini?"

Pertanyaan itu berhasil membuat kelima temannya melihat dia. "hmm. Tidak. Aku sama sekali tidak tahu…" suasana yang tadinya menegang di pecahkan oleh Kiba. "…tapi bukannya ini terlihat seru? Ini, seperti kita berada di filem-filem."

"Hentikan, Kiba. Tiap kali kau mengatakan itu. Kau melibatkan kami berdua ke dalam masalahmu." Shikamaru mengingat saat dia dan Sasuke di panggil keluar dengan alasan untuk membunuh waktu. Pada akhirnya, Kiba malah membawa mereka berdua ke dalam konflik yang mereka duga pertama kali adalah kebetulan.

"Haha, ayolah Shikamaru. Bukannya itu menyenangkan? Kan, Sasuke?" Mengetahui Kiba akan menyentuhnya. Refleks Sasuke menghindar. "Kurasa ada yang salah dengan kalian berdua." Ucap Kiba mendecih. Kedua tangannya di salingkan di dada.

Saling pandang. Shikamaru dan Sasuke hanya bisa menggeleng kepala mereka. Tak berniat meneruskan perbincangan itu.

"Ada apa Kyuubi?" Tanya Sasuke mendekat. Perempuan merah itu, melirik sekilas saat mendengar namanya di panggil.

"Apa?"

"Sejak tadi kuperhatikan, kau selalu memandang Ino." Sasuke kemudian melihat balik Ino saat mengetahui nama perempuan blonde itu di libatkan. "Apa kalian berdua bertengkar, atau semacamnya?"

Kyuubi memalingkan wajahnya. Tak ada niat tuk menjawab. Matanya dipejam seraya memeluk perutnya sendiri.

"Aku dan Kyuubi? Entahlah. Dia begitu semenjak aku memberikan blazerku. Apa blazerku kebesaran yah? Terutama di bagian dada…" Lihat Ino ke arah blazernya.

"Kalian berdua mempunyai Size yang sama kurasa. Jadi, kurasa bukan itu yang membuat Kyuubi memandangmu seperti itu." Jelas Sasuke. Bersikeras ingin mencari tahu. "Benarkah? Setelah di ingat-ingat kembali, kami berdua pernah membicarakan ini dengan Sakura. Kukira hanya kami bertiga saja yang tahu ukuran kami, tapi... Sasuga dari sang mantan." Ino meniru gaya Kyuubi sekaligus menggeleng-geleng kepala.

"O-oi, a-apa yang kau katakan. A-aku sama sekali belum menyentuh Kyuubi saat kami pacaran!"

"Hee~~" Ino tersenyum nakal sebentar lalu menyipitkan matanya. "Begitu yah…" menatap Sasuke dengan menyedihkan. "...Handsome for nothing."

Tak terima di olok-olok. Sasuke berkata "Kau tak berhak berkata begitu padaku, pinguin!" lalu menunjuk wajah Ino.

"Pinguin?" Menduga itu karena penampilannya. Ino mengangkat kedua tangan, guna memperlihatkan lebih jelas. "Kaos ini milik pacarku. Dan entah kenapa, tanpa sadar aku sudah menggunakannya." Bohong Ino sengaja.

"Alasan macam apa itu! Mana mungkin kau tak sadar memakai kaos yang 2x lebih besar darimu." Kiba tiba-tiba masuk kedalam perbincangan mereka.

Ino melirik Kiba. Dia sedikit terkejut, dan tak menduga kalau Kiba yang membalasnya. Dia kembali melihat Sasuke dan menyeringai. "Setelah berhubungan dengan pacarku… kurasa aku berhak virgin-kun." Memilih mengabaikan Kiba.

Sasuke menggeram dalam diam. Rasa ingin membungkam perkataan Ino tadi, menutup ia berpikir jernih.

Bagaimana bisa, dia melupakan hubungan Ino dengan pacarnya. Padahal baru semalam perempuan blonde itu menunjukan seberapa jauh hubungannya itu.

"K-kau, tak bisa menentukannya hanya dari itu."

"Hooh, jadi di klub mana keperjakaan mu diambil?"

Ino kemudian berjalan melewati Sasuke lalu Kyuubi dan berhenti di belakang perempuan pink.

Sakura yang sejak tadi tidak bergabung dalam pembicaraan itu sedang menatap di arah yang berlawanan dari mereka. Sebelum tangan seseorang memegang pundaknya.

Walau telah di sentuh dan di panggil pelan. Tak ada respon dari perempuan itu.

"Sakura-chan, ada apa?"

Pertanyaan Ino lagi-lagi di hiraukan. Sasuke yang tadinya mulai berkeringat di pelepis dahinya. Berjalan mendekati Sakura.

Begitu juga dengan yang lain. Mereka khawatir sekaligus penasaran dengan apa yang terjadi pada perempuan pink itu.

Pertanyaan Ino untuk yang ke tiga kali akhirnya mendapat respon.

"Sakura-chan?"

"Hutan…" Kata Sakura menggantung. Setelah Ino mengambil tempat di sebelahnya dan mengikut arah pandang Sakura. Dia melanjutkan "…itu, semakin dekat menjadi hitam."

"Ah, kau benar Sakura." Ucap Kiba yang mengambil tempat di sebelah Sasuke.

Keenam siswa itu memperhatikan hutan yang cukup jauh di hadapan mereka dengan tampang penuh tanya.

Tapi tidak dengan Ino.

Wajahnya memucat. Detak jantungnya mulai berdetak tak karuan.

"Apa kita harus memeriksan,-"

"Tidak, kita harus pergi!"

Shikamaru yang baru saja berniat menghentikan usulan Kiba. Malah di duluin Ino.

"Kita harus pergi dari sini, sekarang!" Teriak Ino kearah Shikamaru yang berniat mengeluh.

Dengan segera. Dia membalikan badannya dan menarik Sakura serta Kyuubi yang kebetulan ada di belakangnya.

"Oi Ino kau mau kemana?"

"Kenapa kalian masih disitu! Cepat lar,-"

Bentakan Ino ke Kiba terdiam. Saat ia melihat kebelakang, tanpa sadar dan kebetulan. Sebelah matanya dapat melihat dengan sangat jauh di dalam Hutan.

Dan seperti waktu yang terasa memelan, yang dilihatnya pertama kali adalah sesosok yang diduga manusia berzirah biru kehitaman.

Sesosok itu, terlihat sedang memegang panah yang lumayan besar.

Dan lebih parahnya lagi. Sesosok itu sedang bersiap untuk memanah.

Hal itulah yang membuat Ino bungkam. Setelah anak panah itu diluncurkan. Dengan perlahan menuju ke arah Sakura yang ada di belakangnya.

Waktu yang dirasakan Ino masih memelan. Mungkin itu karena kekuatan mata dari sang pemilik sebelumnya. Sejak tadi paradoks waktu memelan, sebelah mata yang tidak kuat menahan tekanan ruang waktu serta hukum realitas. Automatis tertutup.

Walau dia bisa melihat anak panah itu dengan sangat jelas dan terasa pelan. Tubuhnya 50x lebih lambat dari anak panah tersebut.

Sebelah matanya yang melihat anak panah itu semakin mendekat. Mulai mengeluarkan air mata.

'Tidak, tidak, tidak. Ku-kumohon, jangan sampai kena!'

Ino masih terus berusaha memaksa tubuhnya menarik Sakura tuk keluar dari jalur tuju panah.

Air matanya mulai merembes dengan sangat banyak. Saat melihat anak panah itu mulai menyentuh kulit pundak Sakura.

'Tidak!' Jerit Ino dalam hati. Sebelum dia menutup matanya pasrah. Pupil matanya menangkap sebuah tangan yang muncul dari atas dan memegang anak panah itu.

Sesosok perempuan yang berlimpahkan zirah hitam biru di seluruh tubuhnya.

Sesosok tersebut. Mempunyai kulit wajah yang pucat dan tanduk merah gelap menyerupai kambing pemanjat di dahi. Di belakang pundaknya juga terdapat cahaya biru gelap menyerupai Halo.

Pada waktu kedua mata Ino melihat mata dari sesosok itu, sesosok tersebut balik melihat mata Ino dan sebelum kedua kaki itu menyentuh tanah, dengan kecepatan gerakan yang sangat berbeda dengan waktu mereka. Ia melemparkan anak panah itu 3x lebih kuat ke arah sebaliknya.

Dengan berakhirnya hal yang di takutkan Ino. Ruang waktu kembali seperti semula.

Tekanan angin bak pesawat yang meniup. Berasal dari saat sesosok itu datang. Membuat kedua perempuan itu menutup rok mereka yang diringi dengan teriakan Sakura.

"Kyaaa!"

Berniat ingin melihat asal dari timbulnya angin ribut tersebut. Dengan satu tangan yang menahan rok dan satu tangan menghalangi angin. Kyuubi tak sengaja melihat sesuatu dari balik rok Ino saat tak tahan matanya terkena angin.

Itu boxer biru milik adiknya.

.

Setelah angin berhenti. Kiba mengangkat kedua tangannya setinggi dan sejajar dengan dadanya, bersiap tuk berantem. "A-apa yang terjadi?" tanya Kiba sebelum dia melihat samar-samar wujud dari balik debu.

Dari sebelah Kiba, Sasuke berteriak khawatir seraya berlari menghampiri Sakura.

"Sakura!"

"Sa-sasuke-kun"

Mata Sakura berkaca-kaca. Setelah angin berhenti. Rasa sakit yang ada di pundaknya mulai terasa. Sasuke yang tak tahu apa yang terjadi pada Sakura, berniat bertanya tapi diurung saat suara dari dalam kepulan asap debu terdengar.

"Aku menemukan mereka"

Nada suara itu terdengar feminim, namun juga terdengar dingin. Sesosok dalam kepulan debu tersebut terlihat menyingkap 1 tangannya ke udara lalu menghepaskan dengan pelan.

Akibatnya angin ribut kembali terjadi, dan menghapus jejak debu dengan seketika.

Semua yang melihat wujud sesosok itu menganga.

"A-aa,-"

"Pergi dan lari secepat mungkin."

Mereka terdiam. Masih mencoba mencerna perkataan makhluk dihadapan mereka. Pada waktu sesosok itu menoleh kebelakang. Dia melihat Ino lalu berteriak.

"Sekarang!"

Terpekik. Ino kemudian menggeleng kepalanya lalu balik berlari kebelakang. Tangan Kyuubi yang sejak tadi tak di lepas, ditarik. Sehingga membuat perempuan berambut merah itu berlari dalam diam dengan wajah yang menggelap.

Walau sudah di beritahu dengan detail, apa yang ada di dalam dunia ini. Ino Yamanaka sama sekali tidak menyangka bisa lengah.

'wa-walau di-dia sudah mengatakan ini, ba-bagaimana mungkin,, padahal,-'

Digigit bibirnya kuat lalu sedikit menoleh kebelakang. Melirik sesosok yang meneriakinya tadi.

Rambut merah panjang. Tinggi yang diperkirakan hampir menyerupai dia. Serta juga sesuatu yang bercahaya di belakang punggung(dibelakang rambut juga) dan tanduk di kening yang menyerupai kambing gunung.

'Magia, kah? Ti-dak-tidak, memang kalau kulitnya terlihat pucat dan rupawannya terlihat agung. Tapi, dia memiliki tanduk, dengan kata lain… Bestrec?'

Segera Ino menepis segala pertanyaan yang datang ke dalam kepalanya. Karena pada saat ini, yang harus dipikirkannya adalah menjauh dari tempat ini, sekarang.

Namun di pada saat perempuan pirang itu berniat kembali menghadap ke depan.

Matanya membelak.

Kedua tangan yang seharusnya mengenggam tangan kedua orang malah hanya satu.

'Sa-sakura!?'

Raut wajah Ino memucat, panic, ketakutan, bercampur menjadi satu. Karena diantara mereka hanya dialah yang sangat mengerti dengan situasi ini, hanya dialah yang mengetahui akan terjadi apa nasib dari teman-temannya.

"Kenapa kalian diam! Cepat pergi dari sana!" Teriak Ino kearah kedua orang yang lagi berpelukan. Dapat dilihat kalau raut wajahnya menunjukan kekesalan tak terhingga. Bahkan setelah apa yang terjadi bagaimana mungkin teman-temannya itu masih belum menyadari segawat apa situasi yang mereka miliki sekarang itu. Tapi, saat mereka melihat matanya yang seperti ingin menangis.

Sasuke segera menggendong Sakura dan mengikuti Ino. Begitu juga dengan Shikamaru dan Kiba.

Dan yang tersisa di tempat itu yaitu sesosok yang terlihat agung.

Di dalam perspektif dari sesosok tersebut. Dia sedang memperhatikan para makhluk berpakaian aneh itu berlarian. Raut wajah tanpa ekspresi selain datar. Memperhatikan makhluk lemah yang bisa mati hanya dengan jentikan jarinya, memasuki area hutan dimana arah itulah tempat dia datang.

"Sara, jelaskan situasi disana!"

Suara yang keluar dari dalam kepalanya hampir sama seperti yang terjadi pada Ino. Bedanya, teknik itu bisa terdengar ke dalam suatu kelompok secara bersamaan. Dengan kondisi mereka harus berbicara, dan segala pembicaraan atau dugaan dalam benak/batin seseorang, tidak dapat terdengar oleh orang kedua ataupun ketiga.

"6 orang. 3 laki-laki. 3 perempuan." Singkat sesosok yang di kenal dengan panggilan Sara.

"e-enam… Ba-bagaimana dengan penampilan mereka? Dan lihat apa ada yang aneh dengan tanah di sekitar area itu!"

Suara dari seberang benaknya terdengar penuh harap dan tergesa-gesa.

"Penampilan mereka… aneh…" Dia kemudian berbalik arah dan melihat 3 meter di bawah tempat kakinya berpijak. "..Symbol pentagram."

"a-aahh… kondisi! Bagaimana dengan kondisi mereka, Sara!"

Dia bisa merasakan seberapa senang walau terisak dari suara beberapa orang disana. "Baik. Tapi tidak untuk yang rambut pink. Baju compang-camping. Tapi tidak untuk yang rambut blonde. Mereka sekarang tengah berada di hutan. Berlari ke arahmu." Setelah cukup menjawab. Diapun memandang ke arah hutan yang telah menggelap sepenuhnya.

Hutan dimana anak panah itu dipanah.

"Apa?! Ke-kenapa kau tidak menggunakan teleport untuk me,-"

"Sayang sekali. Itu tidak bisa."

"A-ap,-"

"Mereka disini…"

Seiring dia bicara. Diangkat tangan kanannya setinggi dan sejajar dengan kepala, kemudian dikepalkan tangannya dengan kuat. Dari dalam kepalan tangannya keluar cahaya berwarna hitam membentuk mirip seperti pedang.

"…perempuan berambut pirang… prioritas kan dia…"

"Jangan bercanda Sara, kau tinggal menghancurkan mereka dan kembali ke,-"

#bzzzt

.

Jauh di utara, tempat di arah sesosok atau Sara datang. Terdapat sekelompok makhluk berlari dengan cepat, memasuki wilayah hutan lebat.

"…prioritas kan dia…:

"Jangan bercanda Sara, kau tinggal menghancurkan mereka dan kembali ke,-"

#bzzzt

Sebelum salah satu seseorang dalam kelompok tersebut selesai bicara. Sambungan telepatinya terputus.

",-kerajaan…" Seseorang dengan berzirah hitam biru terdiam. Wajahnya menggelap. Walau begitu, itu tak menghentikannya tuk berlari.

"Sara! Laporkan, seluruh situasi yang ada disana!"

Salah satu lainnya menimbrung, ikut memastikan. Orang itu memiliki tampilan zirah mirip seperti orang yang tadi. Setelah 2 detik dia menunggu tak ada balasan, dia melirik ketiga orang yang mengikutinya dari belakang.

"Fu! Shizuka! Uta! Diantara kita berlima kalianlah yang tercepat! Tak usah menahan diri! Dimuka sana, ada sekawanan orang yang sangat penting! Dengar ini baik-baik, walau Sara berkata seperti itu, pastikan keselematan mereka sampai ke dalam kerajaan! Semua dari mereka!"

Teriakannya menggelora dan menggema di penjuru hutan.

Ketiga orang yang di panggil. Segera melewati dari kedua samping sang pemimpin. Pada waktu mereka telah melewati, dengan serempak mereka berkata.

"Dimengerti!"

Dengan hitungan detik, keberadaan dari ketiga orang itu memudar, meninggalkan sang pemimpin dengan satu orang yang tertunduk.

"Siapa yang memerintahkan mu menunduk Jugo!"

"…ta-tapi…Sa-Sara…"

"Kau pikir siapa dia hah? Dia adalah salah satu makhluk terkuat yang pernah ada. Kau lupa dengan rasnya? Hah, Sialan."

Kata-kata tersebut terdengar sangat menyakinkan. Walau begitu, orang yang di panggil Jugo itu tak bergeming. Membuat sang pemimpin menggertakan giginya dengan kuat.

"Ya, mungkin benar kalau Sara telah terputus dari telepati milikmu. Tapi, bukan berarti dia sudah mati. Kekuatan dari rasnya adalah absolute. Kalau cuman cecunguk undead atau Fallen knight atau bahkan lebih parah dari itu. Sangat tidak mungkin dia akan mati!"

"…"

"Teman baikmu itu mungkin hanya sengaja mematikan telepatinya. Jadi tegakkan dadamu kembali! Kau ingatkan, Sara pernah mengatakan kalau dia tidak akan mati sebelum dia melihat sang penyelamat kalian berdua dulu!"

Seketika itu, tubuh Jugo menegang. Langkah kakinya tiba-tiba berhenti. Meskipun begitu, sang pemimpin tidak memperdulikannya dan terus berlari kedepan. Meninggalkan Jugo sendiri.

Tapi tak lama kemudian, sang pemimpin dapat terkejar dan bahkan melewatinya.

Sebelum keberadaan Jugo menghilang dari pandangan sang pemimpin.

Sama seperti ketiga anggota lainnya dia berkata.

"Dimengerti!"

Dengan begitu. Tersisa sang pemimpin sendiri.

"Hn. Dasar anak-anak muda." Dari balik helmet yang dia pakai. Nampak dari suara tua terdengar terkekeh.

"Sara… semoga saja memang benar kalau dialah yang memutuskan sambungannya."

Ada terdengar keraguan di dalam gumamannya. Sebagian besar pikirannya berharap kalau hal itu benar, dan sisahnya penuh dengan keraguan.

Tentu saja.

Karena kekuatan telepati tidak dapat di putuskan sebelum kontrak dari sang pembuat(server) terwujud atau puas. Tapi ada juga beberapa kondisi yang dapat membuat itu terputus. Yaitu, jika sang pengguna itu mati atau sang pembuat(server) lah yang mati.

Dengan kata lain. Teknik dan kondisi itu mutlak, sehingga bagi sang pengguna lain dan sang pembuat(server) mau tak mau harus menyatakan sang pengguna yang kehilangan kontak itu, mati.

Namun ada satu hal yang membuat Jugo sebagian besar setuju dengan ucapan sang pemimpin tua tersebut.

Itu karena sesosok atau makhluk yang di panggil dengan nama Sara. Mempunyai kekuatan di luar nalar dari mereka semua.

Dengan kata lain, kekuatan makhluk tersebut, yaitu bisa melanggar segala aturan.

"Taichou, apa kau mendengarku?"

"Ya, ada apa Uta?"

"Ada kabar buruk, kuulangi, ada kabar buruk"

.

"Hn… Tak kusangka, kita bisa bertemu kembali… Nii-san." Ucap Sara sambil menodong pedangnya ke arah makhluk yang serupa dengan dirinya.

Makhluk yang di panggil kakak tersebut, berdiri jauh di ujung padang rerumputan yang di belakang nya dekat dengan pepohonan/ hutan. Yang hanya membedakan kedua makhluk tersebut adalah dadah yang sedikit menonjol di armor Sara serta bentuk tanduk serta kulit mereka yang berbeda(Kulit Undead biru pucat).

"Bagaimana rasanya di kalahkan oleh manusia? Dan bahkan menjadi undead… menyedihkan."

Tak ada ekpresi selain datar yang dikeluarkan serta diberikan dari kedua makhluk tersebut.

"Hm… bodohnya aku berbicara dengan makhluk mati… mah setidaknya, aku bisa membalaskan dendamku. Bersiaplah kau, Zedshin!"

Setelah mengatakan itu. Sara menekuk kuda-kuda kakinya lalu menerjang kedepan dengan kekuatan yang sangat kuat. Membuat pijakannya yang berada di atas bukitan tinggi kecil terbang menerjang makhluk bernama Zedshin.

Melihat serangan kuat yang di keluarkan Zednit. Tak ada cara lain, selain menangkis serangan tersebut dengan kedua pedang ungu yang di pegang Zedshin.

Tapi, Zedshin sama sekali tidak bergeming dan dengan mudahnya dia dapat menghindar dari serangan mematikan tersebut. Dengan hanya selangkah ke kiri.

"Hm, Lumayan." Ucap Sara saat mereka berpapasan.

Kekuatannya berhasil merusak pepohonan dengan jangkauan yang cukup jauh dan lebar, dimana disitu terdapat sekumpulan pasukan undead dan fallen knight.

'Cukup banyak juga mereka' batin Sara sambil bangkit berdiri. Diperhatikan pasukan-pasukan undead yang baru saja dibunuh bangkit kembali. Terlebih lagi, para undead yang bermunculan dari dalam hutan yang tak terkena dampak dari kerusakan.

'Ah, tidak, walau shin telah menjadi makhluk tanpa jiwa, bukan berarti kalau aku boleh lengah.'

Pada saat dia memalingkan pandangannya. Musuh yang mempunyai kekuatan kurang lebih mirip atau setara dengan miliknya, menghilang.

Segera perempuan merah itu membuat kuda-kuda serta menaikkan tingkat kewaspadaan.

Matanya dengan gesit mencari keberadaan musuh.

Para pasukan Undead berlarian menuju ke arahnya, meski begitu, dia mengabaikan mereka.

Dua detik terasa sangat lama untuknya dan dia sama sekali tak dapat menemukan keberadaan sang musuh.

Sebelum matanya terbelalak.

'Jangan bilang!'

Pupil matanya menajam bak serigala, melihat hingga sampai ke dalam hutan yang sangat jauh.

Ada 3 hal yang dia lihat. Pertama, yaitu enam manusia berpakaian compang-camping. Kedua, sekelompok Undead kelas Fallen Knight mengejar mereka dari kedua sisi dan terakhir adalah tiga orang yang dia kenal.

Melihat dari jarak tiga temannya yang tak lama lagi bertemu dengan ke enam manusia terlebih dahulu. Dia kembali lega dan kembali fokus ke tujuannya.

Jika seluruh daratan telah dia cari. Maka dia pun mengganti arah pandangnya ke atas langit dan binggo.

'Ketemu.'

Para pasukan Undead yang telah berada di dekatnya dan mengelilinginya. Mengayunkan pedang, tombak, kapak, dan ada yang hanya menggunakan kepalan tinju ke arahnya.

Tapi, sebelum serangan itu mengenai Sara. Dia kembali melompat sekuat yang tadi.

Sayap yang menyerupai Halo di belakang, mendukungnya lebih melaju cepat.

"Berani-beraninya mayat sepertimu mengabaikanku!"

Pedang ungu yang di ubah menjadi tombak dan siap di lemparkan ke arah Ino dkk, memaksa musuh tersebut mengganti target ke arah Sara dengan tingkat refleks yang sangat cepat.

#DUUAARR!

Kepulan awan ledakan besar terjadi. Sara menggunakan kepulan itu tuk menutupi keberadaan nya dan dalam sekejap, dia kini berada di atas musuh.

Tebasan kejutan miliknya entah bagaimana bisa dapat di tahan dengan mudah. Tebasan kedua, ketiga, keempat, dst.

'Ba-bagaimana mungkin! Pa-padahal… ti-tidak! Ja-jangan bilang dengan dirinya menjadi Undead kekuatannya malah bertambah?! Ti-tidak itu tidak mungkin! Seharusnya kita setara!'

#SLASH!

"GHAAKK!"

Serangan musuh berhasil menebas dada Sara. Begitu juga dengan tebasan kedua mengenai area lengan.

Misalkan saja dia tidak mundur, mungkin tangannya pasti terpotong.

"Kau bebas sekarang."

Tubuh Sara menegang. Seluruh luka di tubuhnya sembuh. Entah kenapa, kilasan balik terlintas di pikirannya. Ingatan dimana dia bebas dari pebudakkan yang mengunci seluruh tubuhnya dengan rantai-rantai yang tebal dan berat.

"Namaku? kurasa itu tidak penting. Sekarang kau harus keluar dari sini. Diluar kau akan menemui yang lain."

Dia lalu tersenyum.

Sekilas dia melirik ke bawah dan bertatap mata dengan teman seperjuangannya. Lalu, kemudian menatap musuh sambil mengangkat kedua tangan yang mulai di penuhi kumpulan energi hitam dan sekejap menerjang dengan sangat kuat ke arah lawan.

Sara memeluk perut lawan dan membawa lawan tersebut sejauh mungkin dari tempat itu. Tapi, lawan tersebut tidak bodoh. Walau mereka para undead tidak mempunyai akal sehat dan jiwa. Insting perang sewaktu mereka hidup tertinggal di dalam fisik mereka.

Dengan begitu, dua pedang ungu muncul di setiap telapak tangan lawan dan lalu memberi tusukan yang sangat fatal ke arah punggung Sara.

"Ghkkkk!"

Banyak darah mulai keluar dari bibir perempuan itu. Meski begitu, dia sama sekali tidak berniat menghindar ataupun mengurangi kecepatan serta kekuatan pelukannya.

"Nee..Jugo."

"Apa?"

Kumpulan energi hitam menjadi banyak dan lebih besar. Sehingga menutupi seluruh tubuh Sara dan lawan.

"Menurutmu kita bisa berteman dengan dia?"

"Tentu saja."

"Ke-kenapa bisa kau berkata seyakin itu."

"Mudah saja, dia menyelamatkan kita dari neraka."

"Ha? Terus?"

"maaa… kau belum dapat juga ya? Baiklah, biar kutanyakan padamu…Kenapa dia menyelamatkan kita?"

"e-ehhh… i-itu karena dia baik!"

"Nah, itu kau tahu. Dengan kata lain, justru karena dia baik, dia pasti akan menerima kita!"

"Wooahh"

"GHHAAAAAAAAA!"

Merasa diambang batas. Sara berteriak menahan rasa sakit yang luar biasa. Tubuh di area belakang punggungnya, tanpa ampun menerima berbagai tusukkan dari lawan. Serta, energy hitam yang dikeluarkannya memiliki efek menguras seluruh stamina dan merusak mental pikirannya.

Walau begitu.

Sara malah menambah kecepatan, kekuatan, dan tekadnya.

Lalu menuking kebawah dan menyambar tanah.

Sepersekian detik sebelum energy hitamnya menyebar dan ketarik menjadi kecil lalu meledak.

Matanya di pejam pelan dengan senyuman kecil.

'Wahai, makhluk yang berasal dari tempat lahir beliau. Kumohon, sampaikan rasa terima kasihku.'

#DUARRRRRRR!

.

Dari tempat Ino dkk. Terdengar Ledakan yang sangat kuat dari arah tempat mereka lari. Seluruh daratan yang mereka pijaki bergetar sangat kuat dan retak.

"SARAAAA!"

"Jugo! Kita harus pergi sekarang! Kekuatan itu sama seperti pertarungan kedua belas pahlawan dengan ras Zednit! Itu akan meluas sampai dengan 80km!"

Teriak sang pemimpin setelah berhasil membunuh 2 pasukan Fallen Knight.

"Kalian semua cepat masuk ke dalam teleport ku!"

Dengan cepat Fu berlari lalu menggendong Kiba beserta Shikamaru saat berhasil melumpuhkan beberapa undead dan Fallen Knight. Sama hal dengan Shizuka yang langsung berlari dan menggendong Sakura dan Sasuke.

Sedangkan Ino dan Kyuubi, telah berada di dalam rune teleport semenjak lelaki bernama Uta itu membuatnya.

Yang tersisa Sang pemimpin dan Jugo.

"Si,sialan! Kau ingin menyia-nyiakan pengorbanan Sara, hah!"

"Ta,tapi!"

"Diam dan segera masuk ke dalam!"

Sang pemimpin kewalahan menahan kekuatan Jugo yang mana lebih kuat darinya, tapi dengan menggunakan sekuat tenaga yang dimiliki. Sebelum jangkauan ledakan itu mencapai mereka, Sang pemimpin berhasil mendorong masuk Jugo ke dalam rune.

Mereka pun hilang dalam sekejap.

.

.

.

INO POV

10 menit berlalu semenjak kejadian menegangkan terjadi dan disini aku duduk di bawah batu besar dekat sungai yang tidak jauh dari ledakan yang tak pernah berakhir itu.

"Taichou. Teleport untuk balik ke dalam kerajaan sudah selesai dan siap di gunakan kapan saja."

"Uta, kau bisa melakukannya sekarang."

"Baiklah, berikan aku 10 detik tuk merapalkan mantranya."

"Bahkan kau yang mempunyai sihir yang tinggi bisa memakan waktu 10 detik yah.."

"Yah mau bagaimana lagi, soalnya tempat kerajaan sangat jauh."

Teleport yah… ini memang mirip seperti yang dia katakan. Hanya saja, teknik itu mempunyai keterbatasan. Yaitu, hanya dapat kembali ke dalam kota yang telah di tanami penanda rune. Singkatnya, jika aku menggambar rune mirip dengan yang dimiliki di kota A maka dengan instant aku bisa sampai disana.

Tapi, dalam kasus kenapa bisa kita berada tidak jauh dari tempat ledakan tersebut, karena orang berambut emo yang di mereka panggil Uta itu. Melakukan quick teleport, yang dimana kita akan berteleport di random tempat.

Misalkan, jika aku berada di tengah-tengah kota A, B dan C. Maka salah satu kota tersebut lah yang akan menjadi tempatku terpindah. Tapi, jika hanya terdapat 1 kota yang terdekat. Maka sudah pasti disitulah tempatku terpindah.

Contohnya, tempat dimana aku berada sekarang ini. Walau terlihat seperti tidak ada kota di seluruh mata terpandang, tapi sebenarnya tempat yang kududuki ini adalah kota. Lebih tepatnya lagi dulu.

Terdapat Kota dulu disini, dan meskipun kota itu sudah menjadi puing dan debu bahkan terlihat seperti lenyap dari peradaban. Selama terpasang rune disini, maka rune itu tidak akan menghilang. Karena konon, rune tersebut adalah buatan para Dewa yang sengaja membuatnya agar mereka dapat mengunjungi dunia.

Tapi, daripada itu, dia sama sekali tidak pernah berbicara padaku kalau…

"Kau bebas sekarang"

""Ah, cukup. Berhenti sampai disitu. Aku tak ingin berkenalan dengan perempuan manis sepertimu di tempat ini…"

"…Kerena itu hiduplah dan nikmati kehidupan yang telah di berikan, kau mempunyai hak untuk itu."

…dia bisa tersenyum hangat seperti itu…

…Aku tak tahu bagaimana ingatan ini masuk ke dalam benakku. Tapi, ingatan sekilas seperti ini, terasa sangat indah dan hangat…

'Wahai, makhluk yang berasal dari tempat lahir beliau. Kumohon, sampaikan rasa terima kasihku.'

…akan ku sampaikan…

…pasti…

…karena itu, terima kasih karena telah menyelamatkan Sakura, diriku dan yang lainnya…

…dan kumohon beristirahatlah dengan tenang…

"Sara..."

END INO POV

"I-Ino-chan! ke-kenapa kau menangis?!"

"Ah, tidak, tidak apa."

"Persiapan sudah selesai, maaf telah membuat kalian menunggu. Masuklah ke dalam jangkauan rune sama seperti yang kita lakukan tadi. Semua pertanyaan dan kebingungan kalian akan terjawab di dalam kerajaan. Yaitu, satu-satunya pertahanan yang terkuat dan tersisa di dunia ini.

END Chapter 6 : The Hero they know (Part 1)

.

.

.

.


Side Story : 2 months ago
The return of the long lost child (1)

Outland. Desa yang bertempat jauh dari perkotaan dan jauh dari laut. Dengan memiliki penduduk tidak lebih dari 200 orang. Desa ini adalah desa Independen. Desa yang jauh dari akses pemerintahan dan bersikeras menolak mereka masuk. Kenapa? Itu karena rahasia yang ada di dalam desa ini.

Rahasia yang tak bisa…

…tak akan bisa…

…diketahui orang luar.

Desa itu juga mempunyai sekolah. Sekolah khusus untuk anak menengah pertama. Yang dibuat semenjak 3 tahun lalu. Di dalam sekolah itu hanya terdapat satu kelas. Kelas dimana ada seorang lelaki berambut pirang di dalamnya.

Lelaki pirang itu tengah duduk di pojok belakang kelas. Bertopang dagu memandang langit biru. Jari telunjuk di tangan yang satunya mengetuk-ngetuk meja. Ketukan itu terdengar… lelah? Tidak, mungkin Sedih? Mungkin juga, marah? Atau mungkin.. semuanya? Entahlah. Hanya dia yang tahu.

Ya.

Hanya dia.

Karena…

...3 menit yang lalu…

…Dia baru saja…

…Membunuh Dewa.

Berarti semua menjadi jelas. Kenapa? Ya, itu karena penampilan lelaki itu. Pakaian yang digunakan lelaki itu robek-robekan. Seperti terkena barang tajam tapi tak sampai melukai tubuhnya.

Lelaki tersebut sempat bertanya-tanya 3 tahun lalu. Kenapa desa ini mempunyai nama yang sama dengan dunia lain itu. Saat dia dan teman-temannya dipanggil ke dunia lain. Pertanyaan itu kemudian terjawab tak lama setelah dia dipanggil ke dunia lain.

Mata biru pekat lelaki pirang tersebut melirik sekilas pemandangan bawah.

.

.

.

.


Momento : Sara (Zedskin)

"Kau bebas sekarang."

Saat itu. Untuk pertama kalinya aku merasa, bingung.

Bebas?

Apa yang dia katakan?

Makhluk cacat sepertiku? Bebas?

"Hm? Ada apa? Kau tak bisa membuka matamu?"

Ha?

Apa lagi maksudnya itu?

Memangnya aku berhak untuk menggerakan mataku?

"Setidaknya bicaralah atau gerakan tubuhmu atau semacam itu…"

Aku…

…sama sekali tidak tahu apa maksudnya…

…monster cacat seperti diriku…

"…tak berhak melakukan semua itu."

Eh?

Bibirku… bergerak?

"aaaaaaaaaaaaaaaAAAAAAAAAAAAAAA"

Mulutku bergetar? Tu-tunggu, jangan bilang itu suaraku?

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA….A!"

Na-nada itu sama seperti perintah otakku!

Ja-ja-ja-jangan bilang kalau aku bi-bisa membuka mataku!

Untuk pertama kalinya di dalam hidupku yang menyedihkan ini…

…aku melihat sesuatu selain kegelapan…

"oho, kau bisa berbicara ternyata"

…hal pertama yang ku lihat…

…Makhluk yang mempunyai senyuman terhangat yang kurasakan…

Senyuman?

Tunggu dulu, apa itu?

Kenapa bisa terbesit kata itu?

Memangnya, senyuman itu apa?

Apa itu karena dia menggerakkan bibirnya? Membuka mulutnya?

Aku tak tahu

Tapi, entah kenapa. Ada sesuatu yang mengalir dari matakku.

"Oh, ah, ja-jangan menangis. Ku-kumohon."

"Mo-monster, cacat, ke-kenapa? Kenapa? Bebas? Tidak berhak… hiks…"

Kulihat dia terdiam sesaat, memandangiku dengan kehangatan yang mencapai lubuk dadaku.

Aneh..

Ada yang aneh…

Apa ini?

"Monster cacat? Aku sama sekali tidak mengerti maksudmu… bagaimana mungkin monster semanis ini bisa dikatakan cacat."

Ah…

a-a-aku… a-aku…

ta,tapi…

ma-manis?

a-aku?

"Ah, jangan menunduk tiba-tiba seperti itu. Nanti kepalamu akan,-"

"Huaahhh… a-akuu… aaaakkkkkuuu… ti-tidak maani,-"

"Kau manis"

"Ti-tidak, tidak, aku, monster, caca,-"

",-Manis. Kau monster yang manis."

Ah…

Jantungku serasa terhenti.

Tak henti-hentinya mataku mengeluarkan sesuatu.

Kulihat dia bergerak mendekatiku.

Aneh…

Dia bergerak mendekat tapi, kenapa tak sampai-sampai?

Aneh…

Kenapa?

Padahal dia bergerak mendekatiku…

#Cling-cling

Bunyi apa itu?

Besi?

Tu-tunggu dulu…

Tu-tu-tubuhku bisa bergerak?

Ta-tapi, i-itu tak mungkin.

Kulihat dia berhenti.

Agak sedikit terasa sesak di dalam dadaku saat melihat itu...

Aneh…

Setelah dia berhenti.

Penglihatanku padanya menjauh dan makin hari makin jauh.

Tidak…

Aku tidak ingin…

Aku tidak ingin dia perg,-

#Buk

Eh?

Terasa sesuatu di belakang punggungku.

Dinding?

Ah, jadi begitu rupanya…

Bukan dialah yang menjauh, melainkan diriku…

a-aku… bodoh…

Kulihat dia kembali tersenyum dan lalu…

…merentangkan kedua tangannya kedepan…

…kenapa?

Apa maksudnya itu?

Tapi…

Entah kenapa, aku serasa ingin berada di tengah kedua tangan itu…

Ah…

Tanpa kusadari, aku sudah berada di tenga,-

#Puk

"Haha,Tak apa-tak apa. Tubuhmu tidak memakai sesuatu, jadi kupikir kau pasti kedinginan bukan?"

Tubuhku dipaksa menempel dengannya…

Apa-apaan dia ini?

Kenapa?

Ta-tapi…

Perasaan ini…

a-aku…

…tidak membencinya.

"Tak ada rantai yang akan berani mengikatmu lagi."

Tubuhku kemudian di dorong dengan pelan…

…ada sedikit terasa sesak di dalam dadaku, saat dia melakukan itu…

…kenapa?

"Aku ingin memberimu pakaian tapi, sayang sekali. Aku tak bisa memberikanmu punyaku yang sekarang ini."

Sambil berkata seperti itu. Wajahnya menegang.

Dan aku, tidak ingin melihatnya seperti itu…

"Na,nama,mu..."

Aku tak tahu kenapa bisa mengatakan itu…

Kulihat wajahnya kembali.

"Namaku? kurasa itu tidak penting. Sekarang kau harus keluar dari sini. Diluar kau akan menemui yang lain."

Tidak. Tidak…

Aku tak mau…

Aku ingin berada,-

"Sudah kubilangkan. Kalau aku akan mengakhiri ini semua. Jadi, kau tak bisa berada disini lebih lama lagi."

…Urusan?

Akhiri?

Kalau tak salah. Dia pernah mengatakan itu tadi.

Tapi…

"T-tidak, ka-kau, tak bisa, Nii, sa-sangat kuat"

Wajahnya terlihat sedikit terkejut saat ku berkata seperti itu.

"Hm.. begitu ya. Jadi dia kakakmu?"

Atas pertanyaannya, kuberi dia 2 anggukan.

"Aku tak tahu namamu siapa, tapi dengarkan aku baik-baik…"

Kulihat dia mengangkat kedua tangannya di hadapanku.

"…Kakakmu itu, akan dikalahkan dengan kedua tangan ini."

"Tidak,tidak,tidak,tidak. Ka-kau, tidak, tidak, akan, bisa."

Berusaha aku mengatakan tidak berulang-ulang kali.

Dan berharap dia tak melakukan hal tersebut.

Aku memang tak pernah melihat kakakku.

Semenjak aku di lahirkan, aku sama sekali tidak dapat bergerak, apalagi melihat.

Tapi, aku…

Sering dikunjungi seseorang yang mengatakan kalau orang itu adalah kakakku.

Dan aku mempercayai itu…

Kakakku berkata kalau aku adalah monster yang sangat cacat dan tak berhak untuk mati atau merasakan sesuatu…

Dan aku mempercayai itu…

Kakakku selalu memberiku kesakitan serta ketakutan dengan mengeluarkan energi kekuatannya.

Karena itulah aku bisa membedakkan batas kekuatan dia dengan kakak…

Tubuhku merinding mengingat perlakuannya...

Kurasakan tangannya memegangku, lalu memimbing ku tuk keluar.

"Aku tak tahu apa yang telah kau alami. Tapi…"

"…cukup tahu saja. Aku tidak akan kalah! Tidak dengan orang seperti dia. Percayalah."

Setelah mencapai depan pintu tempat dimana aku rantai.

Dia lagi-lagi tersenyum ke arahku.

…hangat…

…sangat hangat…

"Ya, ampun. Kau sangat cengeng yah…"

"Nama, mu? Namaku,-"

"Ah, cukup. Berhenti sampai disitu. Aku tak ingin berkenalan dengan perempuan manis sepertimu di tempat ini…"

"…tapi, kita akan melakukannya nanti. Karena itu hiduplah dan nikmati kehidupan yang telah di berikan, kau mempunyai hak untuk itu."

Setelah mengatakan itu.

Kulihat dia semakin menjauh…

… dan sebelum keberadaanya menghilang dari pandanganku.

Aku berniat mengejarnya.

Namun, entah kenapa tubuhku tak bisa menurutinya.

Seperti pundakku di pegang sesuatu…

"Oi, kau. Kita harus pergi dari tempat ini sekarang."

Suara seseorang kudengar dari belakang. Refleks aku terkejut dan panik.

"Ah, Oi. Tidak apa, aku bukan musuhmu. Namaku Jugo, sama sepertimu. Aku juga diselamatkan oleh orang itu..."

"…padahal aku berniat berterima kasih padanya."

Tanganku tiba-tiba di tarik olehnya dan berlari berhalaun dari arah yang ingin kutuju.

Terima kasih?

Apa itu?

Orang itu mengatakan kalau dia juga telah di selamatkan…

…apa aku juga, terselamatkan?

Ka-kalau begitu aku juga harus berterima kasih pada,-

"…mah tapi, itu dapat di lakukan nanti. Soalnya dia mengatakan padaku kalau, setelah ini berakhir. Dia akan memberikan kita ramen, aku tak tahu itu apa, tapi, aku sangat menantikannya…"

Ah, benar.

Dia juga mengatakan hal yang sama padaku.

Kecuali, ramen tersebut.

Apa itu?

Benda?

Makhluk?

Aku tak tahu. Tapi, aku juga menginginkan itu.

Namun pada ke-esokkannya.

Esoknya lagi…

…dia tak pernah datang…

…tapi, aku pasti akan bertemu dengannya suatu hari…

…dan akan ku beritahukan tepat dihadapannya kalau aku…

…sangat, sangat, sangat berterima kasih…

END Momento : Sara(Zedskin)


Maaf lama update. Soalnya saya tak menyangka kalau bisa sesibuk ini.

Seharusnya ini menjadi chapter yang sangat panjang. tapi, sayang harus di jadikan beberapa bagian(part) dan tentu saja, ada side story yang nanti akan tersambung di chapter flashbacknya.

Mohon review nya yah, mungkin masih ada perbaikan kata. Maklum, setiap pelajaran saya dari sd sampe sma selalu di beri nilai rata-rata. Dan saya curiga kalau itu di kasihani :'(. menerima juga sesi tanya kekuatan para ras, nanti di jawab kalau ada yang kebingungan.

Sekian,

Papoi out.