Outland
Desclaimer :
Naruto and the other character is not my own.
Summary :
Dia yang membangun kebersamaan. Dia juga yang menjadikan hari lebih menyenangkan. Tapi, dia juga yang merebut itu semua. Untuk kesuksesaan, untuk tujuan, dan untuk pembalasan. He will do anything even the worst, to achieve his goals and retaliation. He is the avanger.
Chapter 8 : The Forgotten Memories (1).
Tokyo. Ibu kota dari negara Jepang. Memiliki populasi penduduk sebanyak 10 juta umat. Banyak yang terjadi selama 3 tahun belakangan ini. Seperti teknologi yang semakin berkembang dengan pesat. Membuat pemuda yang duduk di dalam mobil sedikit takjub. Pemuda pirang yang sementara ini duduk diam dalam mobil sedang melihat pemandangan luar.
Bangunan demi bangunan yang telah dilewati di penuhi dengan televisi besar. Itulah menurutnya. Sudah sekian lama dia tidak balik ke kampung halamannya. Pemuda pirang itu juga sama sekali tidak mengira kalau dia bisa pulang dengan 'selamat'.
"Kota ini… banyak yang berubah.."
"Ah. Aku lupa mengatakan ini. Tapi, semenjak… kau 'kalian' pergi. Dunia kita semakin maju"
'Dilihat saja sudah pasti' batin pemuda itu. Orang yang tadi berbicara padanya sekaligus mengemudikan mobil adalah partner. Setidaknya itulah yang mereka katakan pada pemuda itu, dan dia menerimanya. Itulah alasan kenapa orang itu bersedia mengantarinya juga.
Melihat rambu lalu lintas menunjukan berhenti. Mobil itu pun berhenti. Tak niat memicu amarah sang penegak lalu lintas. Suasana dalam mobil kemudian sedikit canggung karena tak ada aktivitas. Berniat memecah keheningan. Orang itu berkata. "Hei, Naruto. Kau lihat 3 bangunan yang besar sana?" ucapnya sambil melirik ke depan.
Pemuda itu masih bergeming dengan bangunan di sampingnya dan tak dah niat untuk menurut. Tapi saat dia melanjutkan perkataannya. Dengan segera pemuda bernama Naruto itu ikut melihat. "Salah satu bangunan itu, punya ibumu. Kushina Uzumaki. Dengan perusahaan bernama Namikaze Corp. Kedua sisanya yaitu Uchiha Corp dan punya tuan".
Namikaze Corp. Mengingat masa lalu Naruto sewaktu kecil. Sekalipun dia tak pernah diajak mengunjungi perusahaan itu. Tidak sama sekali. "Aku dengar-dengar ibumu, Uzumaki Kushina. Sangat cantik loh. Walaupun sudah beranak 2, dia mempunyai body dan paras seperti perempuan 16 tahun. Kau harus sekali-sekali mengenalkanku sama ibumu Naruto" perkataan yang cepat dan sangat hype dari orang itu sedikit membuatnya pusing.
Memang sudah dari awal pemuda pirang itu merasakan sedikit aneh naik di mobil ini. Apa mungkin karena minyak wangi mobil? Atau pendingin? Itulah yang juga ada di pikirannya sejak dari tadi. Dan suara sangat hype orang itu mendorongnya merasakan pusing.
"Akan ku coba" ucap Naruto datar sambil memejam mata. Dia kemudian memijat kepalanya sedikit untuk meredakan pusing. Tapi malah memburuk saat nada suara itu kembali terdengar. "Eh. Be-benarkah?!".
Masih dalam memejam mata pemuda pirang itu langsung membentaknya menyuruh diam. "Hentikan teriakanmu itu. Jarak kita sangat dekat". Orang itu pun segera menurut. "a-ah.. maaf, ja-jadi,-" tapi walaupun begitu, orang itu masih berniat memastikan ucapan Naruto tadi.
"Ya. Tapi, jangan terlalu banyak berharap… tak ada sejarah yang bagus antara aku dengan dia"
Setelah mengatakan itu. Tak ada pembicaraan selama sampai di tujuan. Naruto berpikir. Apa mungkin dia menyesal karena sudah bertanya? Sampai sampai bermohon seperti itu? Ya. Itu benar. Pemuda pirang itu memang sengaja.
Melihat seseorang menyesal ataupun semacam itu. Entah kenapa membuat Naruto menikmati belakangan ini. Dia tak tahu siapa yang mewariskan sifat itu padanya. Tapi, pemuda pirang itu berterima kasih karena bisa merasakan nikmat itu.
.1
Sesudah Naruto turun dari mobil. Orang yang tadi mengantarkannya sampai tujuan, menghentikan dia dengan berkata. "Ah, Naruto. Ambil ini.." refleks, Naruto berbalik dan dengan mudah menangkap benda tersebut. Diperhatikan benda itu sebentar lalu bertanya.
"Ini… apa?"
Sebelum orang itu pergi, dia mengatakan kalau benda itu adalah smartphone. Dimana pemuda pirang itu bisa berkomunikasi serta mencari semua informasi menggunakan internet…
Dilihat mobil porsche macan itu makin menjauh dan menghilang di belokan. Naruto tak bergeming untuk beberapa detik. 'Aku tak percaya ini. Mereka meluluskanku dengan nilai rata-rata 80, di zaman yang telah meninggalkanku.' Itulah yang dipikirannya sebelum menaruh hp itu ke dalam saku 'Masih ada 3 minggu hari libur. Kurasa… bukan masalah.' Setelah itu dia berbalik kembali.
Melihat rumah yang begitu besar.
Dan masuk ke dalam rumah itu adalah tujuannya nanti. Nanti? Ya, itu karena ada pagar pembatas yang menghalangi dia masuk. Pagar dengan tinggi 4 meter yang luasnya bukan main.
Tak ingin membuang waktu. Naruto kemudian berjalan mendekati tembok. Dimana disitu ada tombol kecil. Tombol tersebut di tekan sekali, tapi karena tidak ada respon untuk waktu yang cukup lama. Pemuda pirang itu kemudian terus menekan tombol itu.
Merasa puas, dia kemudian berhenti dan berpikir kalau tidak ada orang di rumah tersebut. Mata Naruto memandang sekilas tembok tersebut. Dapat dilihat dari mata birunya itu kalau dia berniat untuk naik namun diurungkan.
"..lebih baik menunggu" gumam Naruto kemudian duduk. Punggungnya disandarkan di tembok lalu melihat pemandangan langit diatas. Sebelum memejamkan mata.
.1
Di suatu tempat, di restorant keluarga yang sederhana. Terlihat sekumpulan anak-anak muda yang menunggu pesanan mereka.
"Tempat ini lumayan nyaman"
"Ya, kau benar Ino dan hey apa-apaan yang tadi, Sasuke. Score yang kau buat tadi bahkan melewati pemain terbaik dulu…" Ucap pemuda bertato taring di sepasang pipih sambil menunjuk. "…mentang-mentang dah pacaran."sambungnya sambil tertawa. Orang yang ditunjuk itu adalah Sasuke Uchiha. Yang sekarang ini duduk berdua dengan perempuan berambut merah. Berbeda dengan kelima temannya yang duduk di satu meja.
Wajah pemuda raven itu sedikit memerah. Dia memilih mengabaikan Kiba dan mendengar perempuan dihadapannya itu berkata. "Ya, menurutku itu cukup bagus." Lalu tersenyum. "Kau terlihat keren saat melempar bowling tadi." Tambah perempuan itu malah membuat Sasuke semakin memerah. Tiga dari lima temannya yang melihat itu tertawa terbahak-bahak. Dua sisanya ada yang tidur dan ada yang hanya tersenyum.
Sampai pesanan mereka datang. Wajah Sasuke tak pernah berhenti memerah.
.1
"Hari ini menyenangkan. Ayo kita lakukan lagi,-" Ucap Kiba namun dipotong. "Tidak-tidak Kiba. Kita tak akan melakukan hal ini lagi.." pemuda berkuncir nanas itu yang tadinya selalu kelihatan malas dan sempat tertidur di restorant tampak sangat keberatan dengan ucapan Kiba. "..kalau kalian melakukan ini lagi. Aku berhenti…"
"Oh, ayolah Shikamaru. Kau harus melatih tubuhmu itu sesekali,-" lagi ucapan pemuda bertato itu di potong. Namun kali ini bukan Shikamaru melainkan perempuan blonde yang rambutnya dikuncir kuda. "Aku setuju dengan Shikamaru.." Perempuan blonde itu bernama Ino. "..memang cukup menyenangkan pergi keluar tanpa kendaraan pribadi. Tapi jangan samakan kami (perempuan) dengan kalian (lelaki)" sambungnya penuh penekanan.
"Hah.. Ino. Untuk seekor perempuan kau menyedihka,-"
"Apa katamu Kiba!?"
Kedua orang berbeda gender itu pun bertengkar. Tak tahu kalau seorang pemuda menyeringai melihat tingkah mereka. Pemuda yang menikmati kekerasan itu pun kemudian merasakan kepalanya di pukul dari belakang dengan pelan.
"duh.. apaan sih Kyuubi.." gerutu orang itu melihat kebelakang. "Kau tahu ini akan terjadi, kan? Shikamaru.." Perempuan yang dikenal Kyuubi itu menatapnya datar lalu kemudian sedikit tersenyum.
Shikamaru mengelus kepalanya dan berkata. "Kau tak berhak memukulku jika kau sendiri menikmatinya kan?" jelasnya tapi dihiraukan Kyuubi dengan berjalan melewatinya. Tak ada yang tahu kejadian itu, selain dari mereka berdua. Bahkan pacar perempuan berambut merah itu.
Kyuubi pun bergabung dengan jajaran Sasuke yang ada di depan. Memimpin jalan. "Oi kalian berdua. Cukup." Walau pemuda raven itu yang mengatakannya. Tak ada niatan dari Ino dan Kiba untuk berhenti.
Pada akhirnya. Perempuan berambut pink lah yang berhasil menghentikan mereka dengan memanggil Kyuubi dan berkata. "He-hei, Kyuubi. Siapa orang yang ada di depan rumah mu itu?" tunjuk perempuan pink itu ke arah orang yang menggunakan baju long t-shirt dan jeans hitam. Orang itu dalam keadaan duduk tak bergeming, dengan topi yang menghalangi wajahnya. Alhasil, membuat semua temannya melihat itu.
"Entahlah. Pengamen mungkin?" jawab Kyuubi tak tertarik. Belum beberapa langkah dia berjalan menuju rumah. Kyuubi dihentikan Sasuke yang memegang pundaknya. "Tunggu Kyuubi" ucap Sasuke. "Orang itu tidak terlihat seperti pengamen" katanya kembali.
Kyuubi terdiam menatap Sasuke. Pemuda raven yakni pacarnya itu entah kenapa melihat object di belakangnya itu seperti musuh. Tak ingin aksi heroik pacarnya itu dirusak. Kyuubi pun memundur. Membiarkan Sasuke dan Kiba menghampiri object tersebut.
"haha.. seperti yang diharapkan oleh sang pacar. Akhirnya akan ada kejadian menarik hari ini…" ucap Kiba dan kini mereka berdua berada di hadapan orang mysterius itu. "Oi, siapa kau?" Tanya Kiba namun tak ada respon. Mengira kalau orang itu tertidur. Kiba kemudian berniat meraih topi yang dipakai orang itu. Sebelum tangannya menyentuh topi tersebut, orang yang tadinya dikira tidur itu tiba-tiba menghentikan tangan Kiba dan kemudian berdiri.
Terkejut. Sasuke dan Kiba yakni mundur selangkah dan mendengar orang itu berkata "Apa kalian ada urusan dengan ku?". Walau sudah berdiri, topi itu masih menghalangi seperempat kepalanya.
"Oh, jadi kau pura-pura tertidur yah"
"Pura-pura? Kurasa tidak. Lalu.. ada urusan apa denganku?" tak ingin bertele-tele orang itu langsung kepermasalahan yang hanya berakhir dengan Kiba meneriakinya. "Oi, oi. Seharusnya kami yang bertanya itu!" Sasuke menghentikan Kiba dengan memegang pundaknya dan berkata "Maksudnya. Apa yang kau lakukan didepan kediaman rumah teman kami?".
Mendengar pertanyaan Sasuke, segera orang itu melihat sekitar. Lalu berhenti saat melihat perempuan berambut merah alias Kyuubi.
Menyadari dirinya dipandang. Kyuubi, yang walau masih melihat orang itu dengan datar. Lagi sedang berpikir 'suara ini… rasanya terdengar familiar' seperti itu. Tak lama kemudian bibir manis nan sexy dan perawan itu sedikit terbuka. Terkejut, karena orang itu membuka topinya lalu berkata. "Aku yakin, kalau aku adalah salah satu dari 2 anak yang bertempat dirumah ini"
"Na-Naruto?"
"oh, kau mengenalku.. jadi dengan kata lain kau Kyuub,- Aneki, kan?" Ucap Naruto lalu melirik teman Kyuubi satu persatu. "Kalian terlihat cukup familiar… tapi, Kyuu,- ahem maksudku Aneki.."sambung Naruto tak berharap jawaban dari mereka. Dia kini kembali menatap Kyuubi "…Bisakah kau membiarkanku masuk ke dalam? Sudah empat jam lebih aku menunggu disini. Jadi kuharap, aku pantas mendapatkan istirahat yang layak."
.1
Setelah menunjuk dimana kamar Naruto berada. Kyuubi kini menyeduhkan teh dan beberapa cangkir kecil di atas wajan lalu menuju ke ruang tamu. Di letakkan sesajian itu diatas meja dan berdiri serta menyalingkan tangan di bagian perut. "Jadi… berapa lama kalian berada disini?" Tanya Kyuubi menatap keempat temannya secara bergilir.
"Oho, jadi tak apa jika hanya Sasuke?" Ucap Kiba berniat menggoda. "Dia pacarku. Jadi, tentu saja." Balasan Kyuubi akan pertanyaan tadi membuat wajah Sasuke sedikit merona.
"haha, begitu ya. Aku jadi iri."
"Kalian belum menjawab pertanyaanku dan kau Shikamaru. Siapa yang menyuruhmu tidur di atas sofa? Dan Ino juga.. kau mau kemana lagi?" Tanya Kyuubi kembali namun dihiraukan. Kesal akan kelakuan temannya. Kyuubi kemudian melempar remote tv ke kepala Shikamaru dan menarik tangan Ino agar tidak menuju ke lantai atas.
"E-eh ta-tapi! aku hanya ingin melihat kamar Kyuubi-chan" rengek Ino masih bersikeras. "Sudah kubilang dari tadi. Tak ada yang boleh ke kamarku." Balas perempuan merah itu. Tak butuh waktu lama kemudian dia berhasil menyeret Ino kembali ke ruang tamu. Wajah perempuan blonde itu cemberut saat duduk di sebelah Sakura.
"Ini sudah jam 7 malam. Dengan kata lain.. kalian sudah berada disini selama 3 jam dan itu.." ditunjuk sesajian di atas meja. "..sudah kelima kalinya aku menyeduhkan teh untuk kalian. Jadi pertanyaan sekarang, kapan kalian akan pergi? Lagipula bukannya tadi kalian mengeluh kelelahan dan ingin segera pulang ke rumah?"
"Oh ayolah Kyuubi. Kami hanya ingin memastikan kalau orang itu adikmu." Jawab Kiba dan dibenarkan Ino. "Semenjak aku mempersilahkan orang itu masuk. Sudah pasti, kan. Kalau orang itu adikku." Tangan Kyuubi disilangkan kembali, namun kali ini bukan di area perut. Melainkan di bawah payudaranya. Membuat kedua gunung yang bergelantungan tersebut beristirahat dengan tenang.
"Adikmu? Si Naruto itu? Kau yakin mengatakan itu Kyuubi?" Kali ini Shikamaru yang bertanya. Pemuda berkuncir itu terlihat sedikit kesal karena telah dilempari benda dengan sangat kuat.
Tak tahu ingin menjawab apa. Kyuubi pun terdiam sesaat lalu berkata "Kalian lihat whisker di pipih orang itu kan? Jadi, mau tidak mau. Dia itu sudah pasti Naruto." Jelas Kyuubi. Perempuan Uzumaki itu tahu kalau yang di bicarakan Shikamaru itu adalah sifat. Bukan tanda lahir. Tapi mau bagaimana lagi.
People change when they need to.
Walau adiknya itu bersikap seperti biasa atau normal. Dia bisa merasakan kalau Naruto telah menjadi sesuatu yang lain. Itu terbukti, karena bukan hanya dia yang mempunyai feeling seperti itu. Kelima temannya ini juga memiliki perasaan yang sama.
"Karena itulah Kyuubi. Kami ingin berbicara dengannya secara langsung. Hanya untuk memastikan." Jawab sang pacar. Membuat dia pasrah lalu duduk di sampingnya.
"Aku tidak tahu dia akan bangun jam berapa tapi pastikan kalian pulang sebelum jam 9"
"Eh, si pirang itu tertidur?"
"Tentu saja Kiba. Tadi kan dia bilang ingin beristirahat."
"Ah, oh. Kau benar Shikamaru…"
.1
Satu jam telah berlalu. Kiba yang merasa bosan karena sejak tadi diam. Memecah suasana yang hening dengan memanggil mereka untuk bermain kartu yang kebetulan ada di saku nya. Sebelum orang-orang itu setuju ingin bermain. Pemuda pirang yang di tunggu-tunggu mereka dari awal. Datang menghampiri mereka.
"Oh. Kalian yang tadi…" Ucap Naruto saat bertatap dengan mereka. Lalu bertanya "…apa kalian biasa bermain sampai malam di rumah orang?" dengan polos dan damai. Tapi beda hal yang Kiba. Dengan sok dia menjawab balik.
"Ya. Tentu saja. Emang kenapa?"
Naruto menyadari nada bicara Kiba. Dia pun melirik pemuda bertato itu sebentar. Sebelum bertatapan dengan perempuan yang duduk di sebelah pemuda itu seraya mendekatinya.
Perempuan yang diketahui bernama Sakura itu, sedikit bingung dengan tatapan Naruto yang kini berjalan dan berhenti tepat di hadapannya. Tak sampai situ, tubuhnya pun di tunduk. Membuat jarak antara wajah mereka berdua hanya sejauh sejingkal kelingking.
Tingkah Naruto yang absurp itu, mau tak mau membakar wajah perempuan itu seketika. Tubuhnya menegang. Nafasnya tercekat, seperti lupa bagaimana cara untuk bernafas. Saphire milik si pirang itu seakan menghipnotis agar Sakura berpusat hanya untuk melihatnya.
Cukup lama mereka saling memandang dengan seksama. Sebelum Naruto di dorong tepat di wajahnya oleh pemuda bertato tadi dan berkata.
"Apa yang kau lakukan , dasar aneh"
Dilirik si pelaku tersebut lalu memejamkan mata seraya mengangguk pelan. Seperti dia paham akan sesuatu. "Sudah kuduga wajah kalian terasa familiar…" Ucap Naruto. Menghiraukan pertanyaan Kiba. Dibuka kedua matanya kembali lalu menunjuk perempuan pink itu dan berkata "…Kalau tak salah. Kau Sakura Haruno, kan?"
Tersentak mendengar namanya di panggil. Sakura menggeleng kepalanya pelan. Berusaha menghilangkan efek hipnotis Naruto. "a-ah, i-iya." Balasnya tergagap. Wajahnya yang masih merona kemudian memerah padam saat mendengar balasan.
"Tak ku sangka, kau bisa secantik ini." Kata Naruto dengan percaya diri. Dia kemudian melirik ke empat lainnya, dan sebelum seseorang berbicara. Dia dengan tak sopannya langsung memotong "…selain Aneki. Sisanya, tak ku kenal."
"Ha!? Si-siapa juga yang berharap kau mengenal kam,-"
"Bagaimana denganku Uzumaki-kun?"
Suara dan juga bersamaan dengan sapuan nafas kecil di telinganya, membuat Naruto melirik sampingnya.
"Bagaimana?..." gumam Naruto mengulang. Mata birunya memandang dengan lengkat seluruh tubuh perempuan blonde berkuncir yang kini dihadapannya.
Ino yang merasa tubuhnya di selidiki dengan ketat malah sengaja berpose sexy.
"Jika maksudmu... yah kau cantik juga, bisakah kau memberitahukan namamu?"
Senyuman yang terpampang di wajah berwhisker itu terlihat sangat natural, polos seakan menunjukan keseriusannya.
Ino yang menjadi salah satu saksi dari pemandangan tersebut menarik nafas dan mendengus.
"Hah... Aku harap kau terus berusaha mengingatku tapi yah mau bagaimana lagi, karena kau sudah bertanya..." Diulurkan tangan kanannya ke depan dan disambut dengan cepat.
"...Ino Yamanaka."
Bibir Naruto sedikit terbuka, tanda dia terkejut dan kembali tersenyum.
"Ah! Ino-sama! bagaimana mungkin aku bisa lupa."
"Tu-tunggu ja-jangan tiba-tiba memanggilku seperti itu!" Seru kuat Ino cukup kaget lelaki di depannya ini memanggilnya seperti itu.
Masih dengan tangan saling bersalaman. Naruto tertawa ringan lalu kemudian berhenti dan bertampang datar.
"Aku menikmati kok hari-hari itu. Jika kau butuh bantuan nanti. Beri tahu saja aku."
Naruto kemudian menatap 3 laki-laki tersebut dan berkata.
"Kalian juga Sasuke Uchiha, Kiba Inuzuka, dan Shikamaru Nara."
Bersamaan dengan selesainya sapaan. Tangan kanannya melepas tangan Ino lalu meraih ponselnya di saku.
#Drrrrrrr Drrrrr
"Hm.. aku masih ingin berbasa basi lagi...tapi, lain waktu bisa." Ditekan tombol merah yang muncul dilayarnya dan menatap mereka lagi.
"Kita akan bertemu lagi besok? mungkin? dan kuharap saat itu tiba kita bisa mengakrabkan diri."
Ber-iringan dengan perkataan Naruto. Lelaki itu berjalan keluar ruangan dan menuju ke arah pintu luar.
"O-oi Naruto kau mau kemana?"
Teriak Kyuubi dari tempatnya yang lelaki itu baru saja pulang dari tempat yang jauh, dan bahkan pula hanya beristirahat 1 jam saja.
"Jalan-jalan. Jangan khawatir aku bisa jaga diri dan akan kembali sebelum Kaa-sama pulang."
Suara itu berakhir dengan bunyi pintu terbuka dan kemudian tertutup.
Wajah Kyuubi yang sejak tadi santai, datar, cuek dan dingin. Menjadi kesal.
'Anak itu seenaknya saja! siapa juga yang khawatir!'
Itulah kira-kira apa yang ada di pikirannya.
Lain hal dengan kelima lainnya.
Perbincangan mereka dengan Naruto terasa lama dan juga terasa singkat.
Kenapa? yah terkecuali Ino, mereka tak sempat berbicara balik dan merasa Lelaki pirang itu tak mengharapkan balasan dari mereka.
"Hemmmm... Kyuubi, kurasa adikmu makin sangat berbeda dari yang ku perkirakan." Ucap Kiba sambil mengingat kembali masa lalu.
"Yah kau benar. Dia terlihat sangat natural mau itu dengan perkataannya, sikapnya, dan waktu dia kembali mengingat kita..."
"Apa maksudmu dengan itu Shikamaru?"
"Hm... kedengaran tidak masuk akal yah? well, sangat kompleks untuk di jelaskan. Tapi sederhana nya, adikmu itu sangat berbeda dengan yang dulu."
Kyuubi mengernyitkan kedua kening nya. Kedua tangan yang tadi mengepal dengan kuat kini melembut lalu disilangkan di depan perut.
"Ya, sangat di sayangkan ya, kalian kini tidak bisa membullynya atau menyuruhnya sesuka kalian lagi."
"Kau juga bukan Kyuubi..."
"Well, dia adikku, jadi aku punya hak untuk menyuruhnya."
Pembelaan dari perempuan merah itu direspon dengan helaan nafas Shikamaru.
"Hah... aku bahkan tidak mau mengingatnya lagi."
"hm... ada apa kiba? oh ya, kalau gak salah, kau selalu menyuruh Akamaru mengejar Naruto untuk membully nya kan?"
Wajah Kiba langsung memurung mendengar itu.
"Dan kau Sakura selalu menyuruhnya mengambil barang-barangmu dan pembelian mu di kantin."
Sadar namanya di sebut. Perempuan pink yang masih tersipu merah sejak tadi langsung memurung.
"Sasuke juga, selalu menghiraukan keberadaan dia, bahkan sekalipun tak pernah menatapnya."
"oi oi oi, Shikamaru, kau ingat sekali perlakuan kita ke Naruto. Apa kau kakaknya hah? ibunya?"
Sarcas Kyuubi datar. Menghentikan nostalgia Shikamaru yang sudah terlanjur mendetail.
"Hah, Kyuubi kau kakaknya..."
Kyuubi melirik ke kanan berniat menghindar kontak mata dengan Shikamaru.
"Ya, aku paham maksudmu Shikamaru-kun."
Tanpa memandang orang yang bersuara. Kyuubi tahu itu milik dari perempuan pink yang berada di arah berlawanan lirikan mata nya.
"Dengan kata lain kita harus meminta maaf dan berteman baik dengan Na-Uzumaki-kun ya kan?"
"ha?"
Kiba yang dari tadi disebelahnya menatap Sakura dengan mata seperti berkata 'terlihat merepotkan'.
"Ya, memang benar kalau di masa kecil
kita sedikit keterlaluan. Minta maaf itu sudah pasti. Tapi kenapa harus berteman bai,-"
"Karena kita teman baik Kyuubi-chan, Kiba-kun."
Sakura membalas tatapan Kiba dengan mantap. Lalu melirik tatapan Kyuubi yang kini melihatnya dan kemudian Sasuke.
"Ini juga untuk hubungan yang lebih baik antara Sasuke-kun dan Kyuubi-chan. Jadi, Sasuke-kun kau harus bisa melakukan nya."
Melihat tingkah Sakura yang memberikan support hubungan ke kedua pemuda itu. Membuat Shikamaru menatap intens Sakura.
Sakura menyukai Sasuke.
Itulah yang Shikamaru tahu semenjak kecil. Walaupun perempuan pink itu pandai menyembunyikan nya tapi dia bisa menebaknya. Dan itu terbukti benar.
Tapi sekarang ini... apa Sakura sudah menyerah dengan perasaannya ke Sasuke?
Itulah hal yang dipikirkan Shikamaru dan dibalik alasan kenapa dia mengernyitkan dahi.
Tanpa sepengetahuan Shikamaru. Ada juga orang yang menatap intens dan penuh tanya ke arah Sakura.
Orang itu bukan mempertanyakan apa yang di bahas Sakura. Tapi alasan kenapa dia memberi saran seperti itu.
Seperti, dia ingin mendekati lelaki pirang itu.
"Kyuubi Uzumaki-chan!"
Suara yang tiba-tiba dan sangat cempreng berhasil mendapat perhatian dari kelima orang.
Suara yang berasal dari perempuan blonde bak lelaki pirang yang tak lama pergi dari situ sekaligus menjadi topik pembicaraan. Menghampiri orang yang di panggilnya tadi dengan cepat.
Sesampainya Ino dihadapan Kyuubi. Kedua tangan miliknya di satukan di depan kepalanya seperti memohon.
Sebelum Ino memberikan penjelasan dari tingkahnya itu. Shikamaru menyahut.
"Oh, ya Ino. Diantara kita semua, aku ingat sekali perlakuan kaulah yang paling kejam ke Naruto,-"
"Kumohon! Berikan aku nomor Hp Naruto-kun!"
"Hah... akhirnya selesai."
Ucap Kyuubi sambil meregangkan kedua tangannya ke atas.
Erangan kesakitan namun nikmat itu dirasakannya setelah berhasil menyelesaikan novel bacaan yang hampir seminggu dia geluti.
Pada saat dia merapikan novel tersebut. Dering hp nya berbunyi.
'Sasuke?'
Segera dia membaca mail yang berisi salam tidur dan mimpi indah lalu membalasnya dengan serupa.
'...kau juga. Gud Nite.' Send.
Setelah berhasil terkirim. Kyuubi bersiap untuk tidur namun sebelum itu terjadi hp nya kembali berdering.
'Ino?'
Berbeda dengan mail yang sebelumnya. Kyuubi tak segera membuka mail tersebut karena dia tahu apa isi nya.
Ada 2 jawaban yang dipertimbangkan Kyuubi. Pertama jika dia tidak membaca mail Ino, si perempuan blonde itu sudah pasti akan memberikan spam tanpa ampun. Kedua adalah membalas mail tersebut dan mengatakannya mustahil...
'Ujung-ujungnya dia akan memberikan spam.'
Kyuubi menarik nafas kuat dan membuangnya dengan pelan.
Turn off.
Dengan begitu si perempuan merah bak ibunya memilih jalan alternatif untuk malamnya yang tenang.
Mata Kyuubi tanpa sengaja melihat jam kecil diatas meja nya.
"10:21? Sudah semalam ini? Dia bahkan belum pulang?"
Tatapan Kyuubi mendingin. Dia sama sekali tidak mengkhawatirkan si pirang itu. Hanya saja perasaan di dalam lubuk hatinya tak terima dengan kelakuan anak itu.
Seenaknya.
Dan disini lah Kyuubi.
Duduk di antara kursi ruang tamu yang menghadap lorong luar dimana itu jalan satu satunya untuk menuju ruangan tidur.
Dentuman detik demi detik berlalu. Bunyi yang berasal dari Jam antik tersebut terdengar nyaring.
Lama kelamaan anak panah kecil di dalam jam hampir menyentuh jam 11 seiring itu juga tatapan Kyuubi makin dingin dan kelam.
#TENG... TENG... TENG...
Tanpa melihat pun Kyuubi tahu kalau maksud dari bunyi itu pertanda jam berapa. Tapi dia tak tahan melihat pandangan di depan nya dan melirik sekilas jam antik itu.
Entah kebetulan atau apa beberapa detik kemudian. Bunyi kunci membuka pintu terdengar nyaring di telinga Kyuubi.
"Oi mau kemana kau."
Suara yang terdengar berat dan datar menghentikan bunyi seragam langkah kaki pemuda itu.
Pemuda pirang itu berhenti tepat di depan pintu yang di ujung pandangan tersebut terdapat perempuan yang duduk dengan seksinya memangku satu kaki.
"Aneki?"
Naruto menyahut mendekati suara yang memanggilnya. Lalu berhenti dijarak 1 meter di depan Kyuubi.
"hn, kau belum tidur?"
"Kau pikir jam berapa ini?"
"hmm... menurutmu?"
Nada suara seperti meremehkan membuat Kyuubi mengeraskan giginya geram.
"Hm? Ada apa aneki? Kenapa kau terlihat kesal?"
Perkataan polos yang sedari tadi Naruto katakan terdengar remehan dari Kyuubi.
"Kutanya jam berapa ini!"
Suara penuh dengan tekanan membuat Naruto yang tadi tampang polos membalas tatapan Kyuubi dingin.
"11:01:55 detik."
Balas Naruto datar jauh beda yang seperti tadi.
"Kau pikir dengan datangnya kau kemari. Kau bisa seenaknya berbuat sesukamu dengan pulang jam segini?"
"...Bukannya aku sudah bilang akan pulang sebelum Kaa-sama pulang?"
Ya. Dia mengatakan itu sebelumnya. Tidak salah. Tapi, bukan berarti jam begini.
Segera Kyuubi berdiri lalu berjalan mendekati Naruto.
Jarak diantara wajah mereka kini hanya sejingkal saja. Karena tinggi Kyuubi hampir sama dengan Naruto melakukan hal tersebut tidaklah susah.
"Dengar Naruto. Rumah ini memiliki aturan. Pertama turuti orang lebih tua darimu, kedua perkataan orang lebih tua adalah absolute dan terakhir tak ada kata maaf untuk orang yang tidak menurutinya."
"Jadi Naruto karena kau baru mendengar peraturan ini aku akan melepasmu sekarang."
Seketika itu, Kyuubi melangkah menjauhi Naruto dan berjalan melewatinya. Dia tak ada niat untuk membuang waktu lebih banyak ke orang itu.
Tapi sebelum Kyuubi sampai di lantai 2 rumah. Langkah kakinya berhenti dan membalikkan badan kebelakang.
"Peraturan itu... tak sesuai dengan logika ku... aku ingin menggantinya."
Ucap Naruto kini berada depan pintu ruang tamu dan menghampiri Kyuubi.
Seiring Kyuubi melihat Naruto yang menaiki anak-anak tangga.
Dia terdiam dan memikirkan banyak pertanyaan di benaknya.
'Logika? Mengganti? Apa dia bercanda? Memangnya dia siapa?'
"Naruto Uzumaki."
"hng!?"
Refleks terkejut Kyuubi tanpa sadar menggerakan tubuhnya dengan menarik kerah Naruto lalu berniat membantingnya.
'Ah! ga-gawat! Kita berada di tangga!'
Kesadaran Kyuubi kembali saat dia memutar tubuh Naruto dan membantingnya ke arah bawah tangga.
'T-tak bisa berhenti!'
Kyuubi memejamkan matanya kuat. Dia mengutuk refleks yang di dapatkannya dari pria-pria hidung belang dijalanan yang mencoba menyentuhnya.
Dan sekarang ini refleks itu akan menimbulkan korban yang tak diinginkan.
Tangan yang tadi menyentuh kerah dan tubuh Naruto kini tak terasa. Tinggal menunggu dentuman keras maka itu..
'Eh?'
Masih dalam pejaman. Kyuubi menunggu final blowing nya. Tapi tak kujung terdengar. Malahan suara langkah kaki yang terdengar.
'Langkah kaki?'
Segera Kyuubi membuka mata dan mendapati Naruto yang telah dihadapannya lagi.
"hng?!"
Kyuubi terkejut lagi dan refleks, dia melakukan kejadian itu kembali.
"hn.."
Tangan yang hampir menyentuh kerah baju berhasil di hentikan pemuda itu dengan tangan kirinya memegang pergelangan tangan tersebut.
Tapi tidak sampai disitu. Refleks Kyuubi masih berlanjut dengan kaki kirinya menendang lutut kanan Naruto.
Namun dapat di tangkap oleh tangan kanan Naruto dengan mudah. Tak ingin ada serangan lanjutan dari perempuan merah itu.
Naruto dengan kuat menarik tangan kanan Kyuubi ke atas dan membuat tubuh kyuubi terangkat lalu mendarat di pundak kirinya.
"ha?".
Kesadaran Kyuubi kembali. Pandangannya yang tadi melihat Naruto kini melihat anak tangga dan bergerak naik ke atas.
"A-a-apa ya-yang ka-kau lakukan?!".
Tubuh Kyuubi menegang. Dirinya seperti dipikul bak karung beras di pundak pemuda itu. Berniat keluar dari situasi itu. Kedua tangan Kyuubi berusaha meraih pundak Naruto dan bertopang.
#PLAKK
"Hiii!".
Sesuatu yang keras dan kuat dirasakan Kyuubi di area pantat nya yang nyeri.
"A-a-apa itu tadi!?".
Tubuh atas Kyuubi yang masih bertopang berusaha melihat bagian belakang nya. Dari sela-sela rambut jabrik Naruto, dia melihat tangan kanan pemuda itu yang dengan cepat bergerak ke arah belakangnya yang tak terlihat.
#PLAKK
"Hiii!".
Tubuh Kyuubi menguat. Pandangannya kini lurus kedepan. Bibirnya yang terbuka memperlihatkan deretan giginya yang berusaha menahan sakit.
"A-a-apa ya-yang kau lakukan sialan!?".
Naruto tak menjawab pertanyaan Kyuubi. Dia memilih untuk fokus berjalan.
Hasilnya Kyuubi meronta lebih liar dan memukul belakang kepala Naruto berulang-ulang.
"Le-lepas lepas lepas kau sinting, berengsek, siala,-".
#PLAK PLAK PLAK PLAK
"Kyaaaaa! Sa-sakit! Sakit! Sakit! Hentikan!".
Tamparan bertubi-tubi Naruto berhenti. Dia kemudian melirik kebelakang dan mendapati mata Kyuubi berkaca-kaca melihatnya.
"Kalau begitu berhenti melakukan perlawanan dan menurut seperti gadis pintar.".
Kyuubi mau tak mau mengangguk pelan. Pandangannya kini tidak lagi melihat ke belakang tapi lurus kedepan.
Dalam lamunan nya. Kyuubi sama sekali tidak menyangka hal ini bisa terjadi. Dia hanya berniat memperingati adiknya itu untuk menuruti peraturan buatannya sendiri.
Ya. Buatan sendiri. Bukan official.
Seharusnya rencana itu berhasil tapi dia sama sekali tak menyangkan kalau iti bumerang untuknya.
Dan juga apa-apaan dengan perkembangan Adiknya itu. Fisiknya terlalu kuat. Padahal Kyuubi yakin dengan bela dirinya. Bahkan pada saat dia memukul kepalanya tadi, sedikitpun dia tidak menahan kekuatannya.
Lamunan Kyuubi berakhir dengan pandangannya yang kini berbelok melihat tembok.
"hn, Kita sampai.".
"Kau salah kamar. Itu kamarku.".
Naruto menatap Kyuubi ke belakang.
"Memangnya untuk apa aku membawamu ke kamarku?".
Kyuubi terdiam. Dia melihat tangan kanan Naruto menyentuh pantatnya berkali-kali. Tahu apa yang maksud pemuda itu Kyuubi berkata.
"Tidak dikunci.".
Naruto terdiam. Tatapan matanya bertemu Kyuubi sekilas sebelum perempuan itu kembali menatap lurus kebelakang dan diam.
"...Kau cukup menurut ya, aneki.".
Tak berniat mendengar respon Kyuubi. Pintu itu pun di buka dan masuk ke dalam.
Naruto diam sebentar mengamati kamar Kyuubi.
1 lemari pakaian besar, 1 meja belajar medium, 2 rak buku di dinding di atas meja belajar, 1 tempat tidur sama seperti miliknya di sebelah meja, karpet kaki luas berbentuk oval di lantai, dinding yang di lapisi dengan wallpaper hangat berwarna merah tua bercorak mawar, dan 3 boneka beruang di atas tempat tidur.
Selesai itu, Naruto menuju kearah kasur dan duduk di pinggiran. Diangkat tubuh Kyuubi dengan mudah dan ditidurkan dia di atas paha menghadap kebawah.
"Sekarang mari kita berdiskusi mengganti peraturan yang ada di rumah ini.".
Seketika tubuh Kyuubi menegang. Dia menatap Naruto tak percaya.
"hm? Ada apa dengan tatapan seperti apa yang kau katakan! itu aneki.".
Kyuubi memalingkan kembali memalingkan wajahnya ke bawah lantai. Perutnya yang bertidur di atas paha Naruto menguat membuat dada nya yang bergelantungan bergerak sedikit.
"Ti-tidak... tidak apa.".
Balas Kyuubi dan diam kembali. Dia kembali mengingat ucapan Naruto di tangga tadi.
'Ya. Dia mengatakan itu tadi... huft kukira dia akan melakukan sesuatu yang lain...'
Mata gelap saphire yang masih menatap Kyuubi dengan intens menutup dan berpaling ke depan.
"Aku singkat saja ya. Ucapan dan perintah Naruto Uzumaki adalah absolute.".
"Ha?! Maksudmu kau bisa seenaknya melakukan apa saja?! Jangan main-main kau sialan!".
Naruto melirik tatapan tajam Kyuubi.
"Sejak 3 menit yang lalu aku sudah bersikap seenaknya. Ne.. katakan padaku apa yang akan kau lakukan setelah itu?".
Tenggorak Kyuubi mati rasa. Lirikkan Naruto kearahnya terlihat sangat sinis dan menakutkan.
"Hah...".
Naruto mendengus nafas pelan serta memejam mata nya sebentar.
"Aku sama sekali tak ada niat untuk memberikan sikap burukku ke kamu Aneki. Begitu juga sebaliknya.".
"Karena itulah bagaimana kalau kita tiadakan peraturan yang kau buat mendadak itu.".
Tatapan Kyuubi ternganga. Mulutnya sedikit terbuka tak percaya mendengar perkataan Naruto yang tahu kalau itu omong kosong.
"Kau membuat itu hanya untuk kepentingan harga dirimu sebagai yang paling tua atau tertinggi dari aku kan?".
"!? Ba-bagai,-"
"Sejak awal pandangan kita bertemu".
Potong Naruto. Tahu apa yang mau dikatakan Kyuubi.
Tatapan Naruto yang dingin tiba-tiba berubah melunak disertai senyuman.
"Aku ingin kita berdua dalam situasi win-win. Karena itulah aku ingin membuat perjanjian denganmu.".
Kyuubi terdiam cukup lama. Kedua tangan yang sejak awal menyentuh paha Naruto dilakukan untuk mengurangi beban perut.
Dia juga bisa saja berdiri dengan mudah karena jenjit kakinya menyentuh lantai tapi diurungkan karena hasil akhirnya akan tetap sama kalau Naruto pasti akan membuatnya tiduran lagi.
"..dengan melakukan perjanjian tersebut aku ingin agar kau tidak mencampuri urusan di luar bahasan sekolah dan hubungan. Begitu juga dengan kejadian tadi.".
"La-lalu apa untungnya untukku?"
Balas Kyuubi. Sejujurnya dia tak peduli dengan urusan Naruto.
"Kenikmatan.".
"ha?...".
Mata ruby Kyuubi membulat serta memutih. Perkataan Naruto masih dicerna dengan pelan di dalam otaknya.
"Kau bercanda denganku ha? sialan?".
Ucap Kyuubi pelan dan datar.
"Oh, kalau begitu katakan padaku Kyuubi nee-chan. Kenapa di depan pintu tadi kau berharap aku membawamu ke kamarku?"
"Dan juga apa-apaan dengan responmu tadi saat tau alasan ku membawa mu kemari? padahal aku sudah bilang sejak awal kan? kalau aku berniat mengganti peraturan yang kau buat, tapi malah ekspresi yang kau berikan seperti berkata baru pertama kali itu kau mendengarnya.".
"Ne, Kyuubi nee-chan kenapa kau tidak mengatakan sesuatu? Dari tadi kau diam terus. Jadi benar kan? kalau kau berharap kalau aku melakukan hal lain? katakan padaku apa yang kau harapkan itu?".
Kyuubi masih terdiam. Nada suara yang Naruto berubah-ubah membuat dia berpikir kalau adiknya ini sudah gila.
Bukan hanya nada suara. Ekspresi nya juga berubah-ubah. Pemuda itu seperti dirasuki setan.
Tak mau memandang Wajah itu lagi. Kyuubi kembali menunduk dan melihat lantai dalam diam.
Didalam otaknya berpikir. Kenapa bisa dia sempat terpesona dengan senyum palsu pemuda itu tadi.
Giginya digertak dengan kuat. Begitu juga dengan tanganya yang meremas paha Naruto. Kedua lutut kaki yang sejak tadi tertunduk saling di pertemukan dengan kuat bahkan jenjit kakinya menguat dilantai.
#PLAKKKK
"hnnng!".
#PLAKKKK
"hnnnnnng!"
#PLAKKKKK
"Kalau kau tak berniat mengucapkannya dengan bibirmu. Akan kubuat tubuh mu yang menjawabnya.".
"AHHHH!"
Seluruh pojok ruangan dalam kamar di penuhi dengan suara tamparan dan teriakan Kyuubi. Bahkan erangan nya itu terdengar sampai di lorong-lorong rumah.
"SAAAAKITTTT! STOPP! SAAKITT NAARUTOO!".
Kesakitan yang di rasa Kyuubi sungguh luar biasa sakit. Dia tak mau menahan sakit lebih lama lagi, dengan begitu Kyuubi berencana untuk kabur.
Walau tahu dia tak bisa lari dari situasi itu, tapi dia berusaha melakukannya.
Ya, memang wajar. Pantatnya kesakitan, sungguh sangat sakit mau tak mau refleksnya berusaha untuk kabur.
Pertama, Kyuubi berniat memundurkan tubuhnya dengan bertolak di jinjit kakinya. Tapi di hentikan Naruto dengan melakukan satu tamparan yang sangat kuat.
"AHHHHHHHHHHHH!".
Kedua, tubuh Kyuubi menggeliat tak karuan ke kiri dan kanan.
"Oh. Kau pikir bisa lari?".
Merasa tubuh Kyuubi mau jatuh ke depan. Naruto menekan pinggul Kyuubi dengan kuat. Bahkan saking kuatnya, makan malam yang ada di perutnya hampir merembes keluar.
"HHMMBBBLLGHHHRR!".
Naruto menghentikan pukulannya.
"Hm... sakit?".
Dia melihat mulut Kyuubi yang menahan muntah dan melorotkan piyama hitam yang digunakan Kyuubi.
"Cup cup.".
Dielus elus pantat Kyuubi dengan lembut.
Naruto yakin kalau di balik celana dalam merah tua yang bergambar kelinci itu dipenuhi dengan bekas merah juga. Lihat, bahkan sebagian daerah yang tidak ditutupi celana dalam Kyuubi berwarna merah dan dipenuhi keringat berlucuran.
"hhhng... hhhng.""
Nafas Kyuubi terengah-engah. Air liurnya berjatuhan dari mulutnya yang sedikit terbuka. Panglihatannya mengabur akibat air mata nya.
Tapi walau begitu perasaannya mulai membaik. Pantatnya yang nyeri menggeli setelah tangan kekar pemuda itu mengelusnya. Bahkan saat Kyuubi merasa celana dalamnya akan di turunkan dia tak berusaha bersuara menghentikan, seperti dia mendukung itu untuk lepas.
Benar saja. Saat Naruto mengelus pantatnya yang kini telanjang bulat. Dia merasa sangat kegelian akan kenikmatan.
Kyuubi bahkan tak sadar kalau dia mengeluarkan cairan dari dalam memeknya.
"Lihat ini.".
Naruto menghentikan elusannya dan menunjukan sesuatu ke hadapan Kyuubi.
"hnnnn kenapa?".
Kyuubi melihat tangan kanan Naruto yang menunjukan kekosongan.
"...Cairan... Kau liat cairan itu...".
Naruto menatap Kyuubi menyedihkan saat perempuan merah itu tidak tau apa yang di perlihatkannya.
"Kau... memperlihatkanku... cairan? kenapa dengan itu?".
Tanya Kyuubi polos. Air liurnya masih berjatuhan darinya yang masih terengah-engah.
"Cairan ini ku ambil dari selangkangan mu...".
Kyuubi melebarkan mata nya. Dia memandang cairan di telapak tangan itu dengan seksama.
Dan mengetahui kalau cairan itu bukan lah keringat seperti yang pertama kali di pikirkannya.
Cairan itu lengket.
Kyuubi terdiam dengan mulut yang terbuka. Kepalanya kemudian berputar dengan pelan ke kiri melihat wajah Naruto yang melihatnya dengan pandangan kasihan.
"Kau bahkan tak sadar kalau aku menyentuh selangkanganmu yah?".
Masih dengan tampang terkejutnya. Kyuubi melihat Naruto menjilat jari tangannya.
"Em... Nee-chan!? Kau masih... perawan?".
Tampang datar Naruto yang memaksakan seperti dia terkejut, serasa pengen di tampar Kyuubi.
"Terus kenapa? Kau pikir aku akan membiarkanmu mengambilnya?".
Ucap Kyuubi masih dalam posisi dan ekspresi yang sama.
"Kau ingin aku mengambilnya?".
Wajah Kyuubi memerah. Antara malu atau mau marah. Apapun itu, sebelum perempuan merah itu menjawab Naruto berkata.
"Tidak kok. Aku tidak ada niat tuk mengambilnya. Situasi yang seperti itu terlalu menguntungkan bagi sebelah pihak.".
"h-ha? L-lalu apa maksudmu dengan,-".
"Selalu ada banyak cara untuk memberikan kenikmatan. Jika kita berdua bercinta bukannya situasi itu terlalu menguntungkan untukku?".
"Dengan mendapat keluasan didalam rumah, itu sudah cukup untukku.".
Ucap Naruto. Tangan kanan nya bergerak mengelus pantat Kyuubi kembali.
"Tunggu, tunggu, ini aneh. Kenapa juga aku berbicara dengan orang yang barusan memukul pantatku dengan normal?!".
"...Entahlah...tapi, inti maksud dari perkataanku adalah memberikan kenikmatan padamu tanpa kita berdua melakukan seks.".
"Jangan berbicara seolah-olah aku menyetujui perjanjianmu!".
Kyuubi menggeram kesal. Kedua tangan yang menopang tubuh atasnya agar bisa sejajar dengan kepala Naruto mengeras. Jari kukunya yang tajam memberikan bekas merah dibalik jeans yang Naruto pakai.
"Bibirmu... tak berhak memutuskannya. Biarkan tubuhmu,-".
"Bodo amat! Tubuh ku sudah menjawab tidak dari tadi! Liat pantat ku!".
Kyuubi berpaling dan mengikuti perkataannya.
"Haaa! Li-liat bekas merah itu! Pa-pantatku!".
Naruto yang juga bersama-sama berpaling melihat untuk kedua kalinya pantat Kyuubi.
"Kurasa pantatmu akan merasa nyeri saat kau duduk.".
"Dan kau pikir salah siapa itu hah!?".
"Yah mau gimana lagi. Ini satu-satunya cara merangsang perempuan bertype M.".
"ha!? Type M!? Apa maksudmu bodoh!? Bagian mananya yang merangsan,-...".
Mulut Kyuubi terhenti. Kilasan ingatan yang terjadi tidak lama tadi menghentikkan perkataannya.
"hm...".
Naruto memperhatikan ekspresi terkejut Kyuubi yang terdiam menatapnya.
"Type M tsundere ya?".
Gumamnya pelan. Lalu memegang kepala Kyuubi dan mengatur posisi perempuan yang terdiam itu kembali menunduk.
"Bersiaplah aku akan segera memulainya.".
"Su-sudah kubilang jangan berbicara seolah-olah aku setuju. Pa-pantatku mati rasa, ku-kumohon, jika kau memukulnya lagi, sudah pasti a-aku tidak akan bisa duduk dengan normal lagi.".
"Tentu saja.".
"hm? eh? hnnnnnnghhh!".
Tangan Naruto perlahan-lahan dirasakan Kyuubi menurun kebawah dan berhenti di memeknya.
"hnng!".
Kyuubi merasa sangat geli. Dia bahkan membekap mulutnya dengan satu tangan hanya karena dia tidak mau Naruto mendengarnya mendesah.
Dia merasakan erutan kedua jari pemuda itu menyentuh bagian luar memeknya, sesekali di tekan-tekan.
Saat Naruto menemukan klitorisnya, tanpa ampun pemuda itu langsung mencubitnya. Membuat suara desahan Kyuubi keluar beserta klimaks.
Kyuubi menarik tangan satunya dari paha Naruto untuk membantu membungkam mulutnya. Tapi sebelum itu terjadi. Naruto dengan kasar memasukan dua jarinya ke dalam memek Kyuubi.
"Ohhhhhhh!".
Desahan Kyuubi terganti dengan auman terkejut karena keenakan. Ini kedua kalinya dia mencapai klimaks dalam waktu yang singkat. Sensasi yang dia rasakan ini berbeda jauh dengan jari miliknya yang bermasturbasi.
Kedua jari yang kekar perkasa itu saling bergerak tak karuan di dalam memeknya. Bahkan Kyuubi merasa salaput darahnya akan terbuka.
"Tu-tu-tunggu! ahhhh! ke-keperawa,- nnhhhh!".
Berusaha Kyuubi memberitahu Naruto untuk berhenti. Tapi setiap kali Kyuubi bersuara. Ada getaran layaknya vibrator di dalam memeknya yang membuat dia susah berbicara.
Kyuubi panik. Di balik ekpresinya yang kenikmatan dia kepanikan saat merasa jari Naruto masuk lebih dalam.
'Tidak! Ja-jangan bercanda! Ke-keperawananku hilang diambil jarinya? Ha-hanya jarinya?'.
Batin Kyuubi mengamuk. Dia tak terima keperawanannya hilang hanya karena jari pemuda itu.
Memang Naruto pernah bilang, kalau mereka tidak akan bercinta. Tapi, bukannya juga dia bilang kalau dia tidak akan mengambil keperawanannya? Setidaknya bukan jari. Pikir Kyuubi.
"Nah cukup.".
Kepanikan Kyuubi berhenti. Naruto menghentikan eksplorasi dalam memek Kyuubi dan menarik jarinya dengan pelan. Tubuh Kyuubi pun mengalami klimaks untuk ketiga kalinya karena itu.
"Apa kau membersihkan lubang pantatmu Nee-chan?".
Naruto menatap Kyuubi yang bermandikan keringat dengan nafas terengah-engah.
"A-aku selalu membersihkannya...".
Jawab Kyuubi sambil mengatur nafas.
"Haha, kau berkata seperti selalu siap melakukan anal sex.".
Kyuubi berpaling ke kiri melihat Naruto yang menutup matanya sambil tertawa terbahak-bahak.
"Ghhh... apa maksudmu itu hah? Bukannya wajar mengeluarkan semua kotoran dari dalam tubuhmu?".
Geram Kyuubi tak terima dia di tertawakan.
"Tidak juga kok. Di dalam pantatku aku yakin masih ada kotoran dalamnya.".
Wajah Kyuubi memucat. Selain karena ucapan jijik Naruto, dia juga shock melihat tingkah Naruto yang makin terbahak-bahak akibat ucapannya sendiri.
Kalau dipikir-pikir sejak tadi sikap Naruto tidak menentu. Setiap Naruto berbicara Kyuubi merasakan ketegangan yang berubah-ubah dari pemuda itu.
"O-oi Naruto k-kau tidak apa,-".
"Hah? Apa yang kau katakan?".
"Daripada memikirkanku bukannya kau memikirkan dirimu sendiri?".
"Seharusnya kejadian ini tidak terjadi, seharusnya aku beristirahat di dalam kamarku.".
"Ini salahmu Kyuubi-chan, kalau saja kau tidur dan tidak bersikap seperti tadi aku tidak akan melakukan ini.".
"Tapi terima kasih, karena kau, aku akan melakukan sesuka ku ke pantat lebar mu itu.".
"Akan ku lakukan semuanya. Akan kumasukkan semuanya. Pantat ini property ku.".
"ah ha, sayang sekali perjanjiannya melarangku merasa kenikmatan.".
Benar dugaan Kyuubi. Tingkah Naruto sangat aneh. Suaranya dan gaya bicaranya diubah-ubah bak orang gila berbicara sendiri. Dilihat Naruto menarik tangan kirinya dari pinggulnya lalu di tutupkan ke matanya.
Lama Naruto berdiam seperti itu. Kyuubi pun berpikir kalau jika dia ingin keluar dari situasi itu. Maka ini adalah saatnya yang tepat.
Instingnya mengatakan kewaspadaan Naruto menurun. Kyuubi juga berpikir saat dia berdiri nanti dia akan segera membuat pemuda itu tak sadarkan diri dengan menggunakan teknik judonya.
Tapi Kyuubi merenungkan itu semua. Dia melihat mulut Naruto yang menggertak kuat. Seperti dia menahan sakit.
'Apa Naruto mempunyai penyakit? Dari dulu aku sama sekali tidak tahu dengan kondisi medical tubuhnya. Tapi, kurasa dia baik-baik saja waktu masih kecil.'.
'Ah! Tidak! Kenapa juga aku mengkhawatirkannya!'.
Lamunan Kyuubi tersadar saat Naruto melepas tangan kirinya.
Memperlihatkan ekspresi kelam dari matanya.
"Ba-baik Na-Naruto a-aku paham... ka-kau bisa melakukan seenakmu di rumah ini.".
Ucap Kyuubi terbata-bata. Alasan kenapa dia berkata seperti itu karena Kyuubi tidak mau Naruto melihatnya dengan tatapan seperti itu.
Kyuubi serasa tau perasaan orang-orang yang selalu dia tatap begitu.
"Kalau begitu perjanjiannya tersetujui... akan ku akhiri ini dengan cepat.".
"Ah ti-tidak, Lu-lupakan saja perjanjian ituuuuuu! Ahhhh Ca-cabuutt! SAKITT!".
Kyuubi yang mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf malah berteriak kesetanan, saat tiga jari Naruto masuk dengan kasar ke lubang pantatnya.
"Ah! ahhhh! ahnnn!".
Anehnya walaupun sakit. Kyuubi mengalami klimaks ke empat kalinya saat jari-jari itu masuk ke dalam dan hanya berselang detik sebelum kesakitan itu berubah jadi nikmat geli.
Tubuh atas Kyuubi bergetar. Puting merah muda miliknya mengeras dari balik baju piyama dan bergesekan dengan beha membuat dia klimaks ke lima kalinya.
"Ah! La-lagi! Ah! Se-sentuh memek ku juga!".
Ucap Kyuubi tak tahan menahan gatal di selangkangannya. Dia ingin Naruto menggaruknya tanpa menghentikan permainan di lubang duburnya.
Naruto pun menuruti permintaannya dengan berniat memasuki tangan kirinya dari paha kanan Kyuubi.
Tapi Kyuubi tahu Naruto akan kesulitan jadi dia segera mengangkat tinggi paha kanannya dan menopang lututnya di atas paha Naruto.
"Woah.".
Posisi tubuh Kyuubi terlihat sangat tidak nyaman, dan karena ketidak nyamanan itu membuat Naruto berpikir itu sangat sexy.
Naruto tak perlu lagi menunduk. Tangan kirinya berhasil masuk di lubang kecil yang di buat paha Kyuubi.
"Ah! Ah! Ya! Cu-cubit le-lebih kuat biji ku itu!".
Teriak Kyuubi jatuh dalam kenikmatan. Tubuh atasnya kepanasan. Dia pun membuka satu demi satu kenop piyama nya terus dijatuhkan ke lantai. Hal yang sama dilakukan pada behanya.
Hasilnya Kyuubi kini telanjang bulat. Dada nya yang lumayan besar itu bergelantungan dan menampar paha samping Naruto.
Naruto yang merasakan daging lembut menyentuh pahanya mempercepat tempo jarinya dan membuat Kyuubi klimaks untuk terakhir kali.
Tubuh Kyuubi segera diangkat lalu dilempar layak benda ke arah kasur.
Kyuubi memandang lurus kedepan atap. Matanya melemah, tubuhnya juga, pantatnya mati rasa saat menyentuh kasur.
Tangan kirinya di letakkan ke atas dahinya dengan telapak tangan menghadap ke atas.
Kyuubi menggerakan bola matanya melihat Naruto membuka baju hitamnya.
Pada saat Naruto memperlihatkan tubuh telanjangnya Kyuubi ingin terkejut. Sangat ingin terkejut dan bertanya. Tapi dia tidak punya energi yang tersisa.
Setelah itu Naruto memegang bajunya dan menggesek kuat dada kanan Kyuubi. Lalu mengambil spidol permanen dari meja dan menulis di atas aerola pink dada kanan Kyuubi.
ナルト.
"...Pernapasan mu tak beraturan, jadinya begini..."
Tulisan Naruto tidak horizontal atau vertikal melainkan berbengkok ke bawah karena itulah dia sedikit tak terima.
"Dengan begini perjanjian tersetujui. Kau bebas memintaku melakukan hal ini lagi mulai dari sekarang.".
Keberadaan Naruto menghilang dari pandangan Kyuubi. Tampaknya pemuda itu berniat pergi dari kamarnya.
Saat Kyuubi mendengar suara pintunya tertutup. Masih dengan terengah-engah dia berpikir.
'A-apa yang si bodoh itu tulis? Be-besok pagi... ce-cermin...'
Sebelum terlelap tidur.
End Chapter 8 : The Forgotten Memories (1).
Chapter 7 masih dalam re-write lagi sorry yah data nya lupa aku save dimana. Next update yaitu ch7 dan ch9 kuusahakan bakal selesai sebelum tanggal 13. mumpung mood nulis ku datang lagi.
Jangan lupa reviews, respon senang atau buruk kalian sangat berarti untukku.
Sekian,
Papoi Out.
