Outland

Desclaimer :

Naruto and the other character is not my own.

Summary :

Hubungan kakak adik memanglah cukup kuat. Maka dari itu lelaki pirang tersebut mencoba untuk mengakrabkan diri dengan kakaknya. Si kakak sendiri perlahan-lahan luluh. Eh? Atau dengan seketika luluh? Entahlah. Ngantuk nulis summary. Typo. Rate M. Alert.

Chapter 9 : The Forgotten Memories (2).


"To Ru Na~".

Ucap Kyuubi pelan. Tubuh yang sengaja tidak diselimuti satu helai pakaian, berdiri tak bergeming didepan cermin satu badan.

Bibirnya bergerak mengeja bentuk tulisan buruk yang menempel di dada kanannya dengan datar.

"Na Ru To~".

Ejanya dari arah berlawanan. Lalu memutar pinggulnya.

"Sialan...".

Gumam Kyuubi pelan merutuk perbuatan si jabrik pirang kemarin malam. Beruntung bekas merah di pantatnya memudar hanya tinggal menaruh sedikit balsem dan itu akan terlihat seperti semula.

Dia pun kemudian berjalan ke arah lemari dan mengambil beberapa pakaian disana sebelum kembali kedepan cermin lagi.

.

.

.

"Kyuubi aku berangkat dulu.".

"Tunggu Kaa-san! Bento mu ketinggalan!".

Dengan berjalan cepat dia sampai ke pintu luar.

"...Sudah kubilang kau tak perlu repot-repot membuatnya...".

Sesampainya di depan. Wanita tersebut terlihat segan oleh apa yang disodorkan kepada nya.

Dengan berpakaian rapi ala pekerja kantoran. Wanita dengan style rambut merah lurus kebawah sampai menyentuh bokong. Menatap tampang polos Kyuubi yang seakan tak ada yang salah dari makanan yang dia buat.

"...Terima kasih.".

Tapi karena cinta Ibu ke anak. Tanpa berkata lagi. Wanita bernama Kushina Uzumaki itu mengambilnya dan segera masuk ke mobil.

"Hati-hati di jalan.".

Merasa tujuannya sudah selesai. Kyuubi kembali masuk ke dalam tanpa membuang waktu menunggu mobil ibunya itu keluar dari gerbang rumah.

.

"Seperti biasa. Hari minggu Kaa-san sibuk.".

Di kunyah roti tawar dalam tempo lambat. Butuh waktu 10 menit untuknya menghabiskan satu buah roti. Dan ini adalah roti ketiganya.

"Dia belum bangun juga?".

Tampaknya ada alasan kenapa Kyuubi bertingkah begitu.

Dipejam kedua mata miliknya saat mengunyah roti ke empat, mulutnya sempat berhenti mengunyah dan kembali bergerak lagi dan berhenti dan bergerak, seperti sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.

Pada saat roti pada genggamannya habis. Kyuubi tiba-tiba berdiri dan berjalan pergi dari ruang makan.

.

"Na,-".

Kyuubi terdiam. Mulutnya yang tadi bersuara tercekat. Dirinya kini berdiri di depan salah satu dari sekian banyak pintu dari rumah miliknya.

Dulunya dia mempunyai akses untuk bisa masuk ke dalam tapi sekarang tak lagi bisa. Soalnya dia sudah tak lagi memegang kunci dari pintu tersebut.

Tapi Kyuubi bahkan tidak tahu kalau pintu dihadapannya ini sedang terkunci. Dia bahkan belum mencoba tuk membuka nya. Jadi ada suatu halangan yang membuatnya seperti ini.

Privasi.

Sebagai seseorang yang telah mempelajari nilai sosial semenjak dini. Kyuubi terikat oleh aturan tersebut. Tapi bukan cuman itu. Untuk seorang wanita seperti dia, alasan itu belumlah cukup menghentikan dia.

Lalu apa lagi?

Dominasi.

Semenjak kemarin beragumen tentang kekuasaan. Sebagai pihak yang kalah. Kyuubi merasa sedikit patuh. Mungkin tidak pada pikirannya, tapi tubuhnya sama sekali tidak berkompromi.

Kalau begitu kenapa Kyuubi melakukan hal ini? Apa yang mendorong dia bisa ada di hadapan pintu yang di baliknya kamar adiknya itu?

Ego.

Tak terima.

Kesal.

Kesiangan.

Marah.

Kepribadian milik Kyuubi biasanya tak peduli dengan sekitar, dia cukup pandai dalam mencuri hati orang-orang meskipun sikapnya yang datar, tak mau repot dengan hal yang menurutnya tak penting, tak tertarik mengetahui orang lain selain teman dan ibunya.

Tapi lihat saja dia sekarang ini.

'Tu-tunggu... apa menyuruh dia sarapan mengekang dia berbuat seenaknya?'

Jarinya menyentuh dagu seperti sedang berpikir.

'Ti-tidak kan? Eh? Tunggu dulu...'

'Ke-kenapa aku seolah-olah menyetujui perjanjiannya itu?'

Wajahnya memerah. Tangan kanannya di kepal kuat kedepan.

'Ka-kalau aku setuju. Be-berarti dia pu-punya kewajiban me-muaskanku.'.

"Aghhh.".

Kyuubi menutup muka nya dengan dua tangan. Dia tak tahan dan merasa pingin meneriaki orang yang ada didalam.

Dan dia melakukannya.

"Na-Naruto! Wa-waktunya sarapan! Cepat ke ruang makan dan makan bekalmu yang kubuat!".

Bohong Kyuubi tak sadar kalau dia hanya membuat satu bekal dan itu hanya untuk Ibunya saja.

"O-oi ja-jawab aku!".

Walau sudah di gembor-gembor. Tak ada respon dari pintu akan terbuka ataupun balasan dari Naruto.

Sangat kesal Kyuubi berteriak.

"B-Baka!".

Lalu menendang pintu tak bersalah itu dan pergi.

.

.

.

.

.

"Yo. Kyuubi kau datang juga.".

Pemuda bertato taring di sepasang pipi miliknya melambaikan tangan dari balik seberang jalan.

Pemuda bernama Kiba tersenyum ke arah Kyuubi yang berjalan kearahnya sebelum melihat ke arah samping.

"Apa kalian siap?".

Pertanyaan Kiba segera dijawab oleh perempuan pink yang ada di depan.

"Tunggu Kiba. Shikamaru belum datang.".

"Ya ampun anak itu.".

Kyuubi yang baru saja sampai. Mendengar gerutuan dari perempuan berkuncir kuning yang meregangkan kedua tangannya di belakang leher.

"Sasuke apa dia memberi kabar padamu?".

Dengan berpakaian santai tank top putih dan lapisan tank top hitam. Ino melakukan stretching di tempat publik seraya bertanya tanpa melihat tatapan orang yang disebut.

"Tidak.".

Balas pemuda raven bernama Sasuke. Pemuda tersebut merona saat dia membalikkan pandangannya dari Ino ke arah Kyuubi.

"Hi, Kyuubi. Kau terlihat cantik.".

Merasa di sebuti. Kyuubi menatap kebawah melihat baju nya. Memastikan kembali apa yang di pakainya.

T-shirt biru muda dan short pants longgar.

Berasa biasa aja.

"Terima kasih Sasuke-kun.".

Kyuubi menatap balik Sasuke dan melihat apa yang dipakai nya.

Pakaian santai seperti Kiba hanya saja Kiba memakai jaket abu-abu tipis.

"Kau juga... kurasa.".

Melihat wajah Sasuke yang tersenyum. Sakura melihat Kiba yang kebetulan juga melihatnya.

Mereka berdua tampak terlihat sedikit risih akan pemandangan itu.

"Oi cukup kalian berdua.".

Seolah mewakili perasaan Kiba dan Sakura. Ino berseru di sela-sela kegiatannya dan dengan absurp Kiba melangkah ketengah menghalangi tatapan Kyuubi dan Sasuke.

"Shikamaru memberi kabar padaku kalau dia sudah berada di tempat kolam renang.".

"Apa?!".

Ino menghentikkan stretching nya dan berjalan mendekat Kiba.

"Tampaknya dia menggunakan mobil nya.".

Ucap Kiba segera.

"Kalau begitu seharusnya aku berenang di kolam rumah ku sendiri!".

Ya. Memang benar Ino mempunyai kolam renang sendiri. Kiba dan yang lainnya juga ada. Tapi bukan di rumah utama mereka.

"Kemarin kita sudah sepakat untuk tidak menggunakan kemewahan orang tua kita kan?...".

"...Dan si kuncir sialan itu mengingkar,-".

Sambung Ino kesal.

"Shikamaru mendapatkan mobilnya dengan uangnya sendiri Ino.".

"Ah... Ia. Aku lupa.".

Dengan berkata seperti itu. Kiba berusaha menenangkan Ino dan itu berhasil.

"Kalau begitu suruh dia menjemput kita sekarang!".

"K-kau ini...".

Mata Kiba di pejam dengan kuat. Pada saat dia membuka nya. Dia seharusnya memarahi Ino dan menyuruhnya menunggu bus.

Tapi pemandangan di depan toko roti yang ada di pojok seberang jalan membuat dia merenungkan niatnya.

"Kyuubi. Bukannya itu adikmu?".

"!?".

Tubuh Kyuubi bergedik ngeri. Segera dia melihat arah pandang Kiba.

'Kuning kuning kuning'.

Mata nya dengan tekun melihat rambut orang berlalu lalai di hadapannya.

"Dimana nya!?".

"h-ha? D-di dekat toko roti perancis itu.".

Kyuubi merutuki kebodohannya. Pandangan yang dilihatnya dari tadi kurang jauh.

Dan dengan sekali lihat. Dia mendapatkannya.

'Siapa perempuan berjas hitam itu?'.

Mata merah miliknya melihat gerak gerik pergerakan Naruto yang sedang melakukan kontak mulut dengan perempuan dihadapannya.

"Benar itu Naruto, Kyuubi-chan!".

Kyuubi mengabaikan suara Ino.

Tak lama itu. Perempuan yang berbicara dengan Naruto berjalan menjauh dan masuk ke dalam mobil porsche hitam.

Perempuan itu kemudian mengeluarkan sesuatu berupa koper hitam di dalam mobil lalu kembali melakukan kontak mulut.

Tak lama kemudian Naruto menunduk lalu meraih tangan perempuan yang terkejut atas perlakuannya. Si perempuan tersebut terlihat berucap sebelum terdiam dengan lolipop milik Naruto.

Tangan kiri Naruto dengan cepat meraih lolipop di mulutnya dan memasukan nya ke dalam mulut perempuan tersebut.

Masih dalam keadaan begitu. Naruto balik berbicara sebentar sebelum menarik koper hitam dari tangan si perempuan yang kemudian beranjak pergi dari situ.

"Oi Naruto-kun!".

Teriakan dari Ino membuat Kyuubi segera membuang mukanya.

Tampaknya perempuan merah itu tahu kalau si blonde itu akan memanggil adiknya.

.

.

.

.

.

Naruto membalas lambaian tangan Ino dan menghampiri mereka.

"Yo. Kalian.".

Setelah Naruto cukup dekat dengan sekumpulan siswa SMA itu. Ino berlari menghampirinya.

"Berikan aku nomor hp mu!".

"Oke.".

"He! Asik! Aku memintanya ke kakakmu kemarin tapi dia tak mau repot bertanya padamu!".

Mendengar gerutuan Ino membuat Naruto tertawa.

Kyuubi mengepalkan kedua tangannya dengan kuat saat mendengar ucapan suara Ino yang memang sengaja di kuatkan untuk didengarnya.

"Yo. Kiba Inuzuka dan Sasuke Uchiha.".

"Hm? Kau tahu nama kami?".

Mata Kiba menyipit. Setelah pertukaran kontak nomor Ino dan Naruto. Sepasang blonde itu bergabung dengan mereka.

"Melihat kalian untuk kedua kalinya. Tiba-tiba teringat begitu saja.".

"Selamat siang Naruto..-san?".

Wajah Sakura merona saat Naruto berhenti dihadapannya.

"Siang juga cutie.".

"Hn? Ada apa Kyuubi?".

Tingkah Kyuubi yang aneh membuat Sasuke keheranan. Semenjak mendengar nama adiknya itu. Dia melihat Kyuubi seperti kehilangan sikap coolnya.

"Ti-tidak. A-aku tidak apa-apa. Kenapa?".

Suara Kyuubi yang terbata-bata malah menambah kecurigaan Sasuke. Apalagi dengan wajah perempuan itu yang masih memalingkan kepalanya ke samping.

"Apa ada yang terjadi saat kami pergi dari rumahmu?".

"Tidak. Tidak ada.".

Nada Kyuubi kembali normal seperti biasa namun walau begitu. Kepalanya masih tak bergeming sedikit pun.

"Ah, soal kemarin yah?".

Seketika tubuh Kyuubi bergedik. Suara yang familiar di dengarnya kemarin malam membuat tubuhnya sedikit bergetar.

Terutama di bagian bawahnya.

Tapi bukan suaranya yang menjadi alasan kenapa dia mengurungkan niatnya untuk tidak bertatapan dengan Naruto.

Tapi apa yang dibahaskan nya.

"Kemarin? Memang apa yang terjadi Naruto-kun?".

"Kemarin aku pulang sedikit malam dan aku dimarahi aneki. Ada adu mulut jadi aku,-".

"Kenapa kau tidak menjawab panggilan ku tadi pagi?".

Naruto menghentikan penjelasannya dan berpaling dari Ino. Suara dingin yang dibuatnya mendesah nyaring kemarin malam dengan berani memutuskan perkataan nya.

Apalagi dengan tatapan mematikan yang di tunjukkannya sekarang ini.

"Wow. Baru kali ini aku melihat ekspresimu seperti ini Kyuubi".

Ucap Kiba kagum.

"Ya. Aku juga baru kali ini.".

Sambung Sasuke. Di angguk setuju Sakura.

"A-aku tak tahu Kyuubi-chan bisa seseram ini kalo marah. Pa-padahal sikap normalnya aja sudah seram.".

Ucap Ino sembari bersembunyi di belakang Naruto.

"Ya, kalian benar, aneki terlihat seram. Ini ketiga kalinya aku melihat ekpresi itu dalam kurun waktu 14 jam.".

Seperti konten yang trending topic. Naruto ikut masuk dalam keterkejutan ketiga orang itu.

"Yosh yosh. Kau tangguh bisa bertahan Naruto-kun.".

Ino mengusap kepala Naruto yang kemudian tertawa.

"Hahaha.".

"O-oi Na-Naruto. Ku-kurasa kau harus menjawab Kyuubi dulu.".

Tubuh Kiba sedikit mundur kebelakang melihat wajah Kyuubi yang menggelap.

"Panggilan? Aku tak mendengarnya. Jam berapa kau memanggilku?".

Naruto berhenti tertawa.

"...Sekitar pukul 7.".

"Oh. Aku sudah keluar dari jam 5.".

"Ha? Terus kenapa kau tak bilang,-".

"Aha, padahal setelah kita membuat perjanjian kemarin kau masih saja marah denganku. Tampaknya aku dilahirkan hanya untuk di benci.".

Tenggorokan Kyuubi serasa tercekik. Ucapan tentang perjanjian mentrigger ingatan Kyuubi semalam.

Bukan cuman itu. Tubuhnya menegang saat Naruto memindahkan koper hitam nya ke tangan kiri lalu mengangkat tangan kanannya dan di renggangkan dengan tempo yang pelan.

"Aha, kopernya cukup berat.".

Gumam Naruto pelan.

'Hiiii!'.

Tubuh Kyuubi bergedik lagi seperti tadi tapi suasana nya yang sekarang berbeda. Tadi tak ada yang memperhatikan tingkah Kyuubi yang bergedik.

"Ky-Kyuubi? Ken,-".

"Aku tidak apa. Busnya sudah tiba ayo pergi.".

Entah itu beruntung atau tidak. Situasi Kyuubi diselamatkan oleh bus.

Segera dia naik kedalam bus dan duduk di kursi paling belakang. Sasuke pun ikut dan duduk disebelahnya.

"Naruto-kun ikut kami ke kolam renang! Ayo!".

Dalam hati terdalam. Kyuubi mengutuk perempuan blonde yang menarik-narik tangan Naruto.

Tampaknya tiga dari empat temannya masih belum naik ke bus.

Ino, Sakura dan Kiba terlihat berusaha mengajak Naruto.

"Jika kau free Naruto. Kenapa tidak ikut dengan kami berenang?".

"Ya. Naruto-san ikutlah dengan kami.".

"Tidak juga. Ada sesuatu yang harus kulakukan.".

"Hehhh. Ayolah Naruto-kun! Ada bikini bagus yang kubawa sekarang!".

"...Sexy, kah?".

"Tentu saja. Apalagi di gunakan di tubuhku.".

'Si bodoh itu, terlalu kuat! Ke-kenapa juga Naruto bertanya seperti itu?!'.

Suara cempreng Ino jadi pusat perhatian orang yang berlalu lalang. Bahkan para penghuni bus yang duduk dekat jendela melirik-lirik Sasuke dan Kyuubi.

"Sedikitpun. Kita tidak mengenal mereka.".

"Kasar sekali Sasuke. Kasar sekali.".

"Anda salah orang.".

"Ya, ya. Minggir sedikit.".

Kiba yang sudah masuk ke dalam bus duduk di sebelah Sasuke.

"Sini sini Naruto-kun.".

Di dalam Bus. Ino menarik-narik tangan Naruto agar duduk berduaan dan duduk di kursi baris depan Kiba.

Sedangkan Sakura yang mengikuti mereka dari belakang duduk di sebelah Kiba.

"Ne Naruto-kun. Siapa wanita tadi?".

"Wanita? Oh yang tadi?".

Naruto meregangkan tangan kirinya di belakang kursi Ino setelah melepas koper hitamnya di dekat kaki.

"Hanya partner bisnis.".

"Bisnis heh? Tapi kayaknya lebih dari itu deh.".

"Hm benarkah?".

"Ya. Melihat perlakuan mu tadi. Kau terlihat dekat dengan wanita itu.".

Sambung Kiba dari belakang. Tampaknya dia tertarik dengan pembicaraan mereka.

Masih dari arah Ino. Naruto melirik sekilas orang di belakangnya dan kebetulan bertatapan dengan Sakura.

Perempuan pink itu juga tampak penasaran.

"Kurasa sudah hal yang wajar untuk mengakrabkan diri dengan partner bisnis...".

Senyum Naruto lalu berpaling kesebelah melihat Sasuke dan terakhir ke Kyuubi.

"...Terutama dari segala aspek kebutuhan.".

Saat tahu Naruto akan melihat dia. Kyuubi dengan cepat membuang pandangannya ke arah jendela.

"Kau terdengar seperti playboy Naruto-kun.".

Hanya tawa pelan yang diberikan Naruto.

.

.

.

.

.

"Gedung? Bukannya tadi kalian bilang kolam renang?".

Setelah hampir 15 menit perjalanan. Naruto kini berdiri di depan gedung yang sangat luas dan tinggi.

"Eh? Te-tentu saja kita kolam renang.".

Ino yang sejak awal nempel di samping Naruto keheranan lalu bertatapan dengan Sakura.

"Kolamnya berada di dalam gedung itu Naruto-san.".

"...oh...".

Balas Naruto singkat. Kiba yang ada di belakang menepuk pundaknya.

"Apa kau belum pernah ke kolam renang sebelumnya?".

Mata Naruto masih tak bergeming melihat gedung tersebut.

"...Tidak.".

"Tapi aku pernah melihatnya di koran... dulu. Kupikir ditempat terbuka seperti taman bermain begitu.".

Kyuubi berjalan melewati mereka. Setelah berada jauh dua meter di depan mereka dia berhenti.

"Mau berapa lama lagi kalian berdiam seperti orang bodoh disitu.".

"Tak perlu repot menjelaskannya. Cukup masuk kedalam lalu semua terjawabkan.".

"Ara Kyuubi-chan. Apa kau cemburu adikmu kudekati? Gak boleh gitu dong. Kau kan udah ada Sasuke.".

Kyuubi menghela nafas nya pelan. Matanya di pejam sebentar lalu lanjut berjalan.

"Ayo Sasuke.".

Sasuke yang sejak tadi berada di sampingnya mengikutinya.

#Syalala~~

Ringtone Hp Naruto tiba-tiba berbunyi. Saat melihat nama yang tertunjuk di layar hp nya dia langsung melihat Ino dkk.

"Kalian bisa masuk terlebih dahulu.".

"Heee tap,-".

"Setelah panggilan ini selesai aku akan segera menyusul kalian.".

Sakura yang mengerti situasi Naruto. Menarik Ino yang memberontak ke dalam gedung diikuti Kiba dari belakang.

"Di dalam cukup luas loh Naruto. Kalau kau tersesat jangan segan hubungi kami.".

.

.

.

Setelah melakukan pembayaran tiket masuk. Kedua orang beda gender sekaligus pasangan berjalan menghampiri pemuda berkuncir yang tiduran di kursi santai.

"Yo Kyuubi dan Sasuke... Kalian lama sekali.".

Mengetahui siapa yang mendekat. Shikamaru bangkit duduk di tepian kursi.

"Yang lain?".

"Dibelakan,-".

Teriakan kuat dari arah belakang menutup suara Sasuke.

"Shikamaruuuu!".

Ino berlari dengan cepat lalu menendang perut depan nama orang yang dia teriaki.

"Berani-beraninya kau menggunakan mobilmu!".

Setelah berhasil membuat Shikamaru tersungkur kebelakang. Ino menggapai leher pemuda tersebut seraya mencekiknya.

"hah... Padahal Shikamaru tidak salah juga sih.".

Kiba yang sudah ada di belakang Sasuke melepas barang miliknya di meja kecil samping Ino.

"Kau benar Kiba-kun. Seharusnya kemarin kau menambahkan untuk tidak menggunakan mobil Shikamaru.".

Sakura yang tidak jauh disamping Kiba menepuk dahinya pelan melihat tingkah Ino.

"Ya. Aku lupa kalau Shikamaru punya mobil yang di dapatkannya sendiri.".

Ucap Kiba ikutan menepuk dahinya.

"Ha?".

Mendengar suara pacarnya berkata sesuatu. Sasuke memalingkan wajahnya.

"Ada apa Kyuubi?".

Sasuke melihat ke arah Kyuubi memandang kebelakang.

"...Dimana si pirang satunya?".

Setelah menunggu beberapa detik. Sedikit pun tak ada penampakan rambut pirang diantara orang-orang yang berlarian ke tepi kolam.

"Oh benar juga. Kalian sudah masuk terlebih dahulu.".

Kyuubi kemudian menatap Kiba yang masih melihat Ino.

"Apa maksudmu?".

"Hp Naruto-san tadi berdering. Jadi dia menyuruh kami masuk dan nanti dia akan menyusul.".

Bukan Kiba yang menjawab melainkan perempuan yang ada di sampingnya.

"Panggilan? Dari siapa?".

Kyuubi kini menatap Sakura.

"Enggak tahu. Tapi kayaknya sangat penting.".

Sakura balik menatap Kyuubi dan sekaligus memperhatikan tubuhnya.

Sepasang Bikini biru gelap.

Bh string yang di gunakan Kyuubi berbentuk segita menutup seluruh belahan dada nya sampai di bagian bawah leher.

Dulu dia pernah sekali mencoba type yang seperti itu di toko baju, tapi karena 'size' punya dia yang kecil. Dia tak jadi membeli nya. Karena inti kenapa bikini itu tidak menonjolkan belahan dada adalah karena untuk menunjukan side boobs nya.

Seperti yang dilihatnya sekarang ini.

Dada Kyuubi yang lumayan besar yaitu D-cup menunjukan Side boobsnya yang putih mulus ke dunia.

Apalagi dengan celana bagian bawah Kyuubi yang sedikit berenda dan ketat terutama di bagian pantat.

"Ngomong-ngomong bukannya bikini Kyuubi terlihat bagus, kan? Sasuke-kun.".

Disiku perut Sasuke pelan.

"Y-Ya. Aku juga berkata seperti itu tadi.".

Wajah Sasuke merona melihat tubuh Kyuubi. Tampaknya ini kedua kali dia memperhatikan tubuh Kyuubi sejak di depan ruang ganti.

Sakura yang melihat tingkah Sasuke terdiam dan berbalik melihat Ino lagi.

"O-oi Ino-chan kurasa sudah cukup.".

"Hah... Baiklah. Aku tak mau menghabisi energi ku.".

Ino dengan dua lapisan bikini polos hitam di dalam dan biru muda di luar segera berdiri dan menjauh dari tubuh tak bernyawa Shikamaru.

"Naruto-kun sangat lama... Apa dia tersesat ya?".

Ucap Ino melihat ke arah dia datang tadi dengan tatapan bosan.

"Aku sudah bilang untuk menelepon kita tadi.".

Balas Kiba berniat mengambil sesuatu di dalam drybag. Tapi sebelum dia melakukan hal tersebut. Ino terlebih dahulu merogoh sesuatu dari tas gendongnya.

"Kalau begitu biar aku meneleponnya. Hehe.".

Setelah menemukan apa yang di cari. Ino langsung menghubungi kontak yang tertulis dengan nama Love di dalam layarnya.

Tapi tak diangkat.

Berusaha dia menghubunginya terus tapi tak kunjung juga diangkat.

"Hehhhhhhh...".

Walau mengeluh kuat. Ino masih berusaha menghubunginya lagi.

"Mungkin dia sudah pergi?".

Ucapan polos Sasuke membuat mereka semua melihatnya. Minus Shikamaru masih tak sadar.

"Maksudku, bukannya tadi Sakura bilang dia mendapat panggilan penting?".

"Ya, terus?".

Seru Ino tak kenal nyerah menekan-nekan tombol hijau di layar hp.

"Bagaimana jika dia dipanggil? Lagipula dari awal dia pernah berkata kalau dia tak bisa ikut karena ada sesuatu yang harus dia lakukan.".

"Lagipula dia tak terlihat membawa baju renangnya.".

Bibir Ino menguat. Alasan Sasuke terdengar sangat logis.

"Itu... bisa terjadi. Dari awal dia setuju ikut karena cuman mau lihat-lihat.".

Wajah Ino terlihat kesal. Saking kesalnya dia. Matanya bergerak kesamping kiri melihat sudut atap gedung yang tertutup dengan kaca itu tanpa menggerakan kepalanya ke atas.

"Tapi seharusnya dia mengabari salah satu dari kita kalau dia mau pergi.".

Setelah berkata begitu. Ino memasukkan kembali hp nya ke dalam tas.

"Ino... ini hanya pendapatku saja..."

"Jangan bilang kalau kau suka si pirang itu.".

Kyuubi kini angkat bicara. Melihat Ino gelisah seperti orang sulit bernafas membuat dia berjalan mendekati Ino dan berhenti dihadapannya.

"Entahlah.".

Jawab Ino singkat. Dia melirik sekilas perempuan didepan lalu mengambil duduk di tempat Shikamaru tadi.

"Anak itu berengsek.".

Ucapan itu tiba-tiba keluar dari bibir peach Kyuubi.

"Woah. Kurasa kau terlalu berlebihan ke adikmu.".

Seru Kiba mendekat.

Lelaki yang berniat memegang pundak Kyuubi terhenti saat Sasuke memegangnya terlebih dahulu.

"Kiba-kun benar Kyuubi-chan. Kau seharusnya tak menghakimi Naruto-san yang baru saja tiba kemarin.".

Kali ini Sakura yang berucap. Membuat Kyuubi bertatapan dengannya.

Situasi menjadi makin berat.

Kiba dan Sasuke masih dalam posisi tadi dan saling bertatapan tak jelas.

Ekspresi Ino tak lagi diketahui saat tertutup dengan poni.

Shikamaru masih tak sadarkan diri.

"Bukannya kalian yang berkata sendiri kalau dia playboy?".

"Kemarin juga dia pulang larut malam. Memang tak ada bau alkohol di mulutnya. Tapi memangnya ada alasan apa lagi seorang anak muda yang baru saja sehari di kota ini pulang larut malam begitu?".

"Bukannya mereka juga sering pulang larut malam?".

Lirik Sakura ke ketiga lelaki di depannya.

"Ya. Mereka punya alasan untuk nongkrong bareng teman. Tapi dia? Tak mungkin.".

Jelas Kyuubi seraya melepas tas gendongnya bersebelahan punya Ino.

"Kalau tak salah tadi dia pernah bilang partner bisnis bukan? Bisnis? Padahal baru sehari dia datang. Bukannya itu aneh?".

Mereka semua terdiam sebentar.

Sakura menatap Kyuubi khawatir.

"Kyuubi-chan sebenarnya apa yang terjadi kemarin malam kau dan Naruto?".

Tentu saja ada hal mencurigakan yang terjadi pada teman merah yang satu itu. Sebab Kyuubi yang mereka kenal yaitu elegan, selau tenang dan singkat perkataan tapi tidak se aktiv ini.

Apalagi dengan dirinya yang memojokkan perasaan Ino. Padahal dia pandai mengamati situasi dan menemukan solusi yang baik untuk temannya.

"h-ha!?".

Pekikkan yang untuk pertama kalinya mereka dengar dari mulut Perempuan Uzumaki itu terkejut.

Tenggorokan Kyuubi serasa mati. Untuk suatu alasan pantatnya tiba-tiba mengeras saat mendengar 'kemarin malam'.

"Ha-hanya a-adu mulut. Ka-kami bertengkar hebat... malam itu. Tidak lebih.".

Ucapannya sedikit terbata-bata. Kedua mata di biarkan tertutup helaian poni seperti Ino saat kepalanya berguncang.

"Y-Ya i-intinya si pirang itu,-".

"Berengsek dan menjengkelkan.".

Kyuubi menatap ke bawah. Dia cukup terkejut respon Ino yang cepat setuju dengan perkataannya.

Ino kemudian berdiri dan memegang kedua tangan Kyuubi.

"Lupakan dia. Kita datang ke sini untuk bersenang-senang.".

Tersenyum lebar. Ino menatap balasan senyum Kyuubi.

Kecil.

Situasi makin membaik. Sakura merenungkan niatnya untuk membela Naruto.

Memang juga sih Sakura merasakan ada sesuatu yang tidak mengenakkan dari pemuda pirang itu semenjak kedua kali mereka bertemu.

Tapi ya sudahlah. Niat awal Sakura yaitu pengen mereka berbaikkan dengan Naruto karena masa lalu.

Namun melihat Naruto yang fine fine aja, Sakura rasa sudah tidak apa.

"Ayo Sakura kita harus mencoba Tube slide yang itu.".

Mata Ino berbinar menunjuk wahana luncur yang super panjang dan berkiluk-kiluk di depannya.

"Kalau begitu kita kesana dengan berenang.".

"Okay.".

Setuju Kyuubi mulai melakukan posisi gras start. Sakura mengikut dari samping sementara Ino merenggangkan lengannya kebelakang. Lekuk pinggang, paha ketat namun berisi, dan Ketiak terpampang jelas ke seluruh ruang sumbu x,y,z. Tampaknya si blonde tersebut menyukai stretching berlebihan.

Karena tidak mau menunggu dia selesai. Kedua teman yang memang menduga Ino akan melakukan ritualnya. Terlebih dahulu pergi tapi segera di susul Ino.

"Mood perempuan cepat berubah yah.".

"hn.".

Kiba dan Sasuke menatap bayangan air kepergian ketiga perempuan.

"...".

"...".

"Mau berapa lama lagi kita berposisi seperti ini Sasuke?".

.

"Yayy.".

Dua dari tiga perempuan yang histeris kesenangan. Terlihat menaiki ban pelampung tiga lubang dan meluncur dengan kecepatan tinggi.

Saat menyentuh ujung akhir sorotan. Ketiga perempuan seketika hanyut tertutupi dengan pancaran air yang kuat.

#BYURRRR

"Lagiiii!".

Tidak sampai hitungan detik. Ino menuju ke tepian kolam lalu menunjuk keatas.

"Eh? Tu-tunggu Ino-chan wahana itu.".

Terlambat. Keberadaan Ino yang tadinya di tepi kolam bersisa angin setelah Sakura mengikuti arah tunjukkan Ino.

"Ya, ampun, ayo Kyuubi-chan.".

Ucap Sakura seraya berenang ke tepian kolam lalu kemudian berjalan menaiki anak tangga diikuti Kyuubi dari samping.

Setelah berjalan tiga menit lamanya. Sakura dan Kyuubi akhirnya melihat penampakan keberadaan Ino.

Perempuan blonde itu terlihat menghalangi jalan masuk dengan dirinya yang tak bergeming di batasan gerbang.

"Oi Ino. Kita tak bisa meng,-".

"Apa maksudmu aku tak bisa melakukannya sendiri?".

"Maaf tuan tapi syarat untuk menggunakan wahana ini yaitu min empat orang.".

"Hah? Sudah kubilang aku bisa sendiri!".

"E-eh ta-tapi nanti keseimbangan saat meluncur akan berat sebelah. Kemungkinan buruk anda akan terjun keluar jalur peluncuran.".

"Jangan khawatir soal itu. Jatuh dari ketinggian ini tak akan membuatku mati semudah itu.".

"Eh!? I-itu pasti akan membuatmu mati tuan!".

Wahana perosotan tertinggi serta menjadi symbol kebanggaan tempat ini disuguhi perdebatan antar dua penjaga dan satu pelanggan di puncak pelucuran.

Sakura yang baru saja mau mengajak Ino turun kebawah malah tertular tak bergeming. Kyuubi juga sama.

Dibalik tatapan datar dari pupil bak merah. Dia sangat sangat terkejut.

Kenapa?

Ya. Itu karena si pelanggan tersebut.

"Naruto?".

Gumam Kyuubi pelan. Sudah pasti tak terdengar apalagi mereka masih berdebat

"Kalau begitu kenapa kalian berdua tidak ikut naik denganku?".

"Eh, Itu mustahil tuan. Kami disini untuk berjaga.".

"Tugas kalian yang lain juga adalah memberikan kepuasan pelanggan kan? Jadi ka,-".

"Naruto-kun!".

"hm?".

Si pedebat yang merasa namanya di panggil. Menoleh ke kiri arah teriakkan.

Tiba-tiba lengannya dipeluk dengan kuat.

Si pedebat yang diketahui si pirang atau adik kyuubi a.k.a Naruto yang di duga sudah pulang. Ternyata tidak benar.

Naruto melihat lengan kirinya lenyap di antara belahan dada Ino seraya berucap.

"Oh kebetulan sekali. Ayo naik ke dalam sini.".

Naruto terlihat tak ingin membuang waktunya lebih lama. Segera dia menaiki banen besar yang terdapat tempat duduk di sekitaran lubang.

Dia kemudian melihat dua perempuan yang masih diam di tempat mereka.

"Kenapa dengan kalian berdua? Cepat kemari.".

"A-ah, i-iya.".

.

.

.

"Haha tadi itu mendebarkan bukan?".

Ucap Naruto tertawa setelah menghabiskan Yakisoba keduanya.

Usai meluncur. Naruto mengajak mereka ke stand makanan.

Dan disinilah mereka sekarang.

Duduk mengelilingi meja bundar yang diatas meja tersebut terdapat banyak Yakisoba yang masih belum dibuka.

Naruto kemudian membuka Yakisoba keempatnya setelah membuang bekas styrofoam Yakisoba ketiganya ke tempat sampah.

"Hm? Kalian tidak lapar?".

Tanya Naruto melihat makanan mereka tak tersentuh.

"A-ah se-selamat ma-makan.".

Ucap Sakura terbata-bata. Tangannya yang bergetar hebat berusaha memasukan sumpit itu kedalam mulutnya.

"hn?".

Naruto melihat wajah Sakura yang pucat, tidak, bukan hanya Sakura. Kyuubi dan Ino juga serupa.

Tampaknya kejadian tadi membuat mereka trauma.

"Ne Naruto-kun. Kami pikir kau sudah pulang.".

Ucap Ino duduk di sebelah Naruto. Didepannya Sakura yang seharusnya sudah duduk berhadapan dengan Naruto.

Tapi di geser Kyuubi.

Terlihat jelas dari sikap perempuan merah itu kalau dia tak dah niat duduk dekat dengan Naruto.

"Ah maaf. Saat masuk ke dalam gedung. Aku terkesan melihat tempat ini. Jadi yah begini lah.".

Balas Naruto bertatapan dengan Ino.

Posisi duduk Ino yang memegang kedua pegangan benen dan kaki yang mengekang cukup lebar. Memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya.

"Bikini itu cocok untukmu. Kau terlihat sexy dengan warna hitam.".

"Be-benarkah!?".

Mata Ino berbinar. Wajahnya merona.

"Ya. Kau juga Sakura. Motif bunga mawar itu membuatmu terlihat manis.".

"Te-terima... kasih.".

Gumam Sakura pelan menundukan wajahnya yang memerah.

"Gombalan murah.".

Mendengar suara sinis dari depan. Naruto memalingkan wajahnya.

Kyuubi yang kini bertatapan mata dengan si pirang sedikit menekukkan alis matanya melihat tingkah pemuda itu.

Setelah dilihat tubuhnya dari ujung kaki sampai berakhir di kedua mata.

Naruto terdiam tak berkata satu pun.

Lelaki dengan baju renang berwarna hitam panjang mirip diving menutup 90% tubuhnya. Rambut yang biasanya dilihat jabrik menurun karena basah.

Akhirnya situasi saling bertatapan diam berakhir saat banen mereka menyentuh titik menurun.

"Kyaaa!".

Teriak Sakura menutup mata. Dilain sisi Ino tertawa kesenangan. Sedangkan Kyuubi tak berekspresi apa-apa.

Kyuubi yang masih melihat Naruto. Melihat ekspresinya seperti tak tertarik.

Mata biru yang tadi bertatapan dengannya kini melihat jalur depan banen melaju dengan bosan.

Setelah kejadian berdebat tadi. Si pirang itu terlihat sangat antusias ingin mencoba perosotan ini.

Tapi sekarang...

Apa ekspestasinya tak seperti yang diharapkan?

Pikir Kyuubi sebelum bibir lelaki itu tiba-tiba terangkat tajam ke atas.

"Hehe"

'D-dia..'

Kekehan Naruto tak terdengar jelas telinga Kyuubi akibat teriakan kedua temannya.

Tak lama sedetik berlalu.

Pandangan Kyuubi memblur.

Entah bagaimana. Banen yang mereka naiki itu tiba-tiba melaju dengan sangat cepat.

Saking cepatnya.

Perosotan yang sekali dilihat Kyuubi mencapai panjang lebih dari 1000 meter mengelilingi sebagian besar gedung renang berakhir hanya dalam hitungan dua detik.

#SREKK

Mendengar kursi bergeser. Ino melihat Kyuubi berdiri.

"Ke-kemana?".

Mata biru seperti milik Naruto melihat lesu wajah Kyuubi yang tertutup helaian rambut. Mata yang tadi secerah masa 'depan ku sama dia' dan semangat seperti 'besar nanti mau punya anak berapa?'.

Berubah sangat drastis.

Ino terlihat sangat lesu seperti 'melihat doi di atas pelaminan' akibat teriakannya tadi yang tidak karuan.

"Kamar mandi.".

F

.

C

.

K

Di dalam kamar mandi. Kyuubi membasuh wajahnya dengan kasar.

Berulang-ulang kali dia melakukan hal serupa. Sampai akhirnya berhenti.

Dia kemudian melihat pantulan bayangannya di depan cermin.

Wajahnya yang datar sedikit merona saat mengingat sekilas kejadian tadi.

Kejadian dimana mukanya berada di kontol Naruto.

Ya.

Di kontol.

Kontol.

Mantan kontol*.

ah maaf*.

Kyuubi merutuki dirinya yang lengah berpegangan di banen. Alhasil badannya tersandung kedepan dan mendarat ke tubuh Naruto.

Lebih tepatnya lagi di samping selangkangan lelaki itu.

Bahkan dia masih bisa merasakan sentuhan kontol Naruto di hidungnya.

Apalagi dengan refleksnya yang langsung memeluk paha kanan Naruto kuat.

Tampaknya lelaki tersebut tak sadar kalau ada kejadian itu. Pikir Kyuubi.

Dia kemudian menghembus nafas kuat dan memutuskan untuk kembali.

Baru tiga-empat langkah dia keluar dari pintu kamar mandi perempuan. Tepat di saat dia keluar dari dinding pembatas.

Lelaki yang menjadi topik ingatan barusan. Berdiri di hadapan Kyuubi.

"Yo.".

"Apa?".

Melihat Naruto bergerak mendekat. Kyuubi pun ikut melangkah kebelakang.

Disetiap langkah Naruto. Kyuubi terus kebelakang sampai tubuhnya menyentuh dinding.

"Berbalik dan taruh tanganmu di dinding.".

Kyuubi terdiam sebentar lalu menurut.

"Kau sejak tadi selalu dingin ke aku Aneki. Aku sedih.".

Dia tak bisa melihat ekpresi Naruto yang dia belakangi. Tapi dia bisa merasakan kalau lelaki itu sedang berjongkok.

"Kau yang bilang untuk tidak mencampuri urusanmu.".

"Ah benar.".

Disela-sela pembicaraan. Kedua kakinya dibuka lebar.

"Aku kira kau menaruh kebencian terhadapku.".

Rasa hangat dari tangan yang tiba-tiba menyentuh kulit pantatnya. Membuat wajah datar miliknya merona.

Celana dalamnya disisipkan ke samping. Tak lama kemudian lubang pantatnya terasa dingin saat jari itu melemuri sesuatu.

"A-apa itu!?".

Pekik Kyuubi berusaha melihat kebelakang.

"Lotion.".

Dia tak dapat melihat lebih jelas apa yang di lakukan Naruto terhadap lubang pantatnya tapi lelaki pirang itu memang terlihat sedang melumuri.

Kyuubi menggigit bibir bawah saat dirasa dua jari masuk kedalam lubang pantatnya.

"Ahn!".

Tak dapat menahan desahan hanya dengan bibir. Kyuubi menarik tangan kirinya dari dinding dan segera membekap mulutnya.

"Ngh!".

Detik demi detik berlalu. Jari-jari Naruto bergerak makin liar.

Air liur nya sedikit demi sedikit berkeluaran dari sela-sela jari Kyuubi dan jatuh ke lantai.

"Kurasa cukup.".

Naruto menarik jarinya keluar dengan kasar membuat desahan Kyuubi keluar.

"Ahn!".

Kyuubi keheranan. Padahal sedikit lagi dia akan mencapai klimaksnya.

Diapun membalikkan kepalanya kebelakang dan melihat Naruto yang ternyata belum ada niat untuk berhenti.

'Eh apa itu?'

Ekspresi Kyuubi berubah horror.

Di tangan Naruto terlihat memegang sesuatu.

"Tu-tunggu!".

"Hn?".

Pergerakan Naruto terhenti. Matanya melirik ke Kyuubi.

"Ka-kau berniat memasukan benda murahan itu kedalam tu-tubuhku!?".

"Murahan?".

Kening Naruto mengerut.

Definisi murahan maksud dari perempuan itu apa?

Apa dalam segi dia mempunyai benda yang lebih mahal dari punyanya?

Bagaimana dia tahu kalau ini murahan atau tidak?

Pertanyaan itulah yang Kyuubi liat dari mata Naruto.

"Be-benda itu di buat orang bukan? Ja-jadi kau berniat memasukan benda ciptaan orang lain itu kedalam tubuhku? A-apa kau gila?".

Jelas Kyuubi cepat.

Mata Naruto makin berkerut. Alasan tak masuk akal perempuan itu membuatnya terkekeh.

"Oho... jadi kau tipe perempuan yang menjunjung tinggi harga dirimu?".

"Biar ku perjelas. Benda ini tak kubeli malahan kuambil dari orang lain... Jadi dengan kata lain... Ini bekas.".

Wajah Kyuubi kembali horor. Rasa jijik dan tak terima benda itu masuk ke dalam dubur. Bergejolak di tubuhnya.

"Ti-tidak! Ini tak masuk akal! Dimana juga kau mengambil lotion dan benda itu! J-Jangan! Ahhhhhh!".

Mendengar Kyuubi mengaum kuat. Naruto mendorong cepat anal beads itu masuk kedalam.

Setelahnya dia membenarkan celana dalam Kyuubi lalu membawa perempuan merah yang bergetar hebat pergi dari situ.

"Kita harus masuk ke dalam kolam dulu aneki. Vaginamu berkeluaran cairan lengket.".

Bisiknya yang di balas anggukan lemah.

.

.

.

Kembali di tempat makan.

"Mereka berdua lama.".

"Mau nyusul, Ino?".

"Ya. Aku juga mau ke toilet.".

Ino dan Sakura berdiri dari tempat duduk. Sampah di atas meja di kumpul jadi satu lalu di buang.

"Oi Ino, Sakura.".

Sebelum kedua perempuan itu beranjak pergi. Suara dari belakang menghentikan mereka.

"Ah kalian...".

"Apa-apaan dengan sikapmu itu hah?".

Kiba agak risih dengan tatapan Ino. Tampang perempuan itu seperti lupa kalau mereka ada disini.

"Dimana Kyuubi?".

Ucap pemuda raven di belakang Kiba.

"Kyuubi tadi pamit ke toilet Sasuke-kun.".

"Toilet?".

"Ya. Bareng Naruto.".

"Naruto?".

Sambung Kiba terkejut.

"Bukannya dia sudah pergi?".

"Tidak. Kami berpapasan dengannya tadi saat naik wahana itu.".

Sakura menunjuk perosotan yang tadi mereka naik.

"Lah? Lalu kenapa dia tak mencari kita dulu?".

Geram Kiba melipat tangan di dada.

"Haha katanya dia terpesona saat masuk ke dalam gedung jadi...".

"...dia menyewa baju renang dan begitulah.".

Jelas Sakura tertawa pelan karena alasan kekanakan Naruto.

"Heh. Jadi mau kemana kalian?".

"Toilet. Kau mau mencari pacarmu kan Sasuke?".

Kali ini Ino yang berbicara. Tanpa menunggu balasan Sasuke. Dia berbalik dan lanjut berjalan.

Mereka semua pun mengikut dari belakang. Terkecuali seseorang yang tak berbicara sejak tadi.

"Naruto?".

.

.

.

Sesampainya mereka di toilet. Kedua lelaki yang menunggu dari balik dinding melihat Sakura keluar.

"Tidak. Kyuubi tak ada didalam.".

Sasuke melirik sekilas mata Sakura lalu mengedarkan pandangannya ke kolam sekitar.

"Naruto tak ada di dalam.".

Kali ini Kiba yang keluar dari sebelah. Lalu tak lama kemudian Ino yang keluar dari arah Sakura tadi.

"Menurutmu kemana mereka berdua Shikamaru?".

Ino berkata seolah-olah dia mendengar perkataan Kiba dari dalam toilet.

"Ha? Kenapa aku?".

"Sekali-kali gunakan otak pintar mu itu dan analisis perkiraan kemana Kyuubi dan Naruto.".

"Kalian bahkan tidak menjelaskan kenapa Naruto bisa ikut dengan kalian. Jadi bodoh amat.".

Ino menggeram mendengar balasan Shikamaru. Dirinya serasa pengen segera menerkam makhluk nanas itu.

"Ketemu.".

"Eh dimana!?".

Ino mengikuti arah pandang Sasuke. Dia kemudian langsung berlarian ke arah objek yang ditemukannya.

"Narutooooooo!".

Tak tahu malu. Semua orang yang di lewatinya memberi dia tampang seperti melihat orang gila.

Perempuan berkuncir blonde itu masih berteriak di setiap langkahnya sebelum berhenti di pinggiran kolam lalu melompat ke arah Naruto.

"hn?".

Naruto yang merasa namanya di panggil. Menoleh ke samping dan mendapati seorang perempuan yang terbang ke arahnya.

Sigap. Naruto menangkap tubuh Ino dengan mudah sambil berputar sekali untuk mengembalikan momentum tubuh Ino seperti semula.

"Kau bernyali juga ya. Tadi bahaya loh.".

Lepas Naruto dari axilla Ino.

"Walau langsing begini aku cukup atletis loh.".

"Lagipula ini salah mu juga Naruto-kun.".

"Kau seharusnya mengabari kami dulu kalau mau bermain bola voli di kolam renang.".

Jelasnya hanya dibalas tawa Naruto. Ino kemudian melihat sang lawan.

"Kau juga Kyuubi.".

Kyuubi yang di panggil tak merespon tatapan dan perkataan Ino. Dia sibuk berlari dalam air mengejar servis Naruto yang sengaja di pukul jauh ke atas.

Setelah merasa cukup di posisi jatuh. Kyuubi melompat dan memberikan servis kuat ke arah kepala Naruto.

Dalam hati Kyuubi. Dia menyeringai melihat lelaki itu lengah. Di dalam benaknya berteriak kata kena berulang kali. Tapi semua pupus tak sesuai yang diharapkan.

Naruto mengangkat satu tangannya ke arah bola melaju lalu memberikan passing lemah.

"25-0.".

Kekeh Naruto kemudian tertawa saat wajah Kyuubi kembali datar.

Walau hanya sekilas lirikan. Kyuubi merona saat kakinya menyentuh lantai kolam saat melakukan servis.

Dan Naruto tahu kenapa.

"Eh Kyuubi 0?".

"Sudah tiga kali aku menang.".

"Heh!?".

Ino ternganga menatap wajah datar Kyuubi.

"Oi Naruto.".

Panggil Kiba dari pinggiran kolam.

"...Kelihatannya asik boleh bergabung?".

Dia terlihat ingin mendengar penjelasan dari Naruto sendiri soal kejadian tadi. Tapi direnungkan.

"Hn boleh, tapi aku sudah mau pergi.".

Urat perempatan Kiba muncul di kepala. Perkataan Naruto membuat dia geram. Sebelum dia berucap kata bertanya.

Perempuan blonde yang berusaha naik ke pundak Naruto bertanya.

"Eh!? Kenapa!?".

"Aku bosan,- Ada sesuatu yang harus kulakukan. Sudah kubilang tadi kan?".

Naruto memberi bantuan Ino naik ke atas pundak dan setelah mendapat posisi enak.

Ino memegang kedua pipi Naruto.

"Sasuke! Pacarmu kalah telak dari si pirang ini. Tolong balas dendam.".

Ucap Ino menuntun arah kepala Naruto ke Sasuke.

Kiba dan Sakura membuat ekspresi terkejut seperti Ino tadi. Sedangkan Sasuke menjatuhkan dirinya ke dalam kolam seraya berjalan mendekati Kyuubi.

Shikamaru yang sama sekali tak bergeming. Masih bergelut dengan pikirannya sendiri. Mencari tahu sendiri apa yang terjadi tanpa mau repot bertanya.

"Apa itu benar?".

Kyuubi menjawab dengan anggukan pelan. Matanya masih melihat ke arah dua blonde di balik net di depannya.

"Pacar?"

Naruto mengangkat kepalanya ke atas.

"Ya. Kakakmu berpacaran dengan Sasuke kemarin. Emangnya dia tak bilang?".

Kedua gunduk besar Ino menutup pandangannya saat perempuan itu menunduk.

Naruto terdiam. Dibalik wajah yang 100 persen tertutup tetek Ino. Dia menyeringai.

"...Balas dendamnya nanti aja ya. Sasuke.".

Naruto berjalan cepat ke pinggiran kolam. Setelah menurunkan Ino. Dia langsung naik ke atas.

"Yang tadi itu menyenangkan.".

Ucap Naruto berlalu pergi tanpa melihat salah satu dari mereka.

"Telfon aku nanti yaa!".

Teriak Ino dan di balas lambaian Naruto.

"Yay!".

"Hah... Adikmu itu jelas sangat berbeda Kyuubi.".

Kiba mendengus kuat melihat belakang Naruto sebelum menghilang dari pandangan matanya.

"Tapi dia bukan orang jahat kok.".

"Benarkah itu?".

Kali ini Shikamaru angkat bicara. Dia berjalan ke depan Sakura tapi menghadap ke arah Naruto pergi.

"A-apa maksudmu Shikamaru-kun?".

Suara Sakura terbata. Mengenal Lelaki nanas sejak kecil. Dia sangat tahu kalau Shikamaru tak pernah asalan dalam berucap.

Pasti ada sesuatu yang ada di dalam benaknya.

"Jahat atau tidak terus kenapa? Dia masih tetap type ku lagipula sikap mysteriusnya membuat dia terlihat jauh keren.".

Ino mengangkat dirinya keluar dari kolam lalu berkata.

"Hehe karena kau sudah bangun Shikamaru ayo kita naik wahana itu.".

Wajah Sakura menghorror seketika. Dia mengikuti arah jari Ino ke arah perosotan yang tadi mereka naiki.

"Hoh menarik.".

Kiba bersemangat atas rekomendasi Ino. Tak tahu kalau si blonde menyeringai dari balik helaian rambut.

"Terlihat merepotkan.".

"Apa maksudmu Shikamaru. Ayo ku temani kalian naik, kau juga Sakura.".

"E-eh!? Ti-tidak aku,-".

Ino berlari dan dengan cepat menutup mulut Sakura sambil menyeretnya.

Diikuti Kiba bersemangat dari belakang dan Shikamaru yang menguap.

Meninggalkan Sasuke dan Kyuubi sendiri.

"Tampaknya Ino merencanakan sesuatu.".

"Hn..".

Kyuubi menjawab singkat ucapan Sasuke. Dirinya menatap Ino yang makin menjauh dengan lekat.

Layaknya Shikamaru yang curiga dengan Naruto. Kyuubi juga melihatnya seperti itu tapi berbeda.

Yang pasti hanya Kyuubi yang tahu.

"Kau ingin ikut mereka?".

"...Tidak. Mari hindari wahana yang berguncang, Sasuke.".

.

.

.

.

.

Jam 23:04 malam.

Seharusnya dia sudah pulang jam begini.

Pikir Kyuubi.

Tak selang semenit berlalu. Suara pintu terdengar di telinganya.

"Hn? Kau masih bangun?".

Kyuubi tak menjawab. Dirinya sibuk dengan masakan nya.

Namun walau begitu. Dia penasaran apa yang terjadi di belakangnya.

Suara langkah kaki Naruto tak terdengar. Sedikitpun tak terdengar. Bahkan keberadaan nya tak terasa.

Kalau bukan karena suaranya atau bunyi bukaan pintu. Kyuubi tak tahu kalau ada seseorang yang masuk ke dalam rumah tanpa melihatnya.

"Hm bau ini...".

Badan Kyuubi bergelik kejut. Nafas Naruto membuat telinganya geli.

Kyuubi melirik matanya ke kanan dan mendapati wajah Naruto setengah jingkal dekat dengan wajahnya.

Detik kemudian Naruto menjatuhkan dagunya ke pundak dia dan berkata.

"...tercium menjijikan.".

"Kau bahkan belum merasakannya.".

Walau wajahnya datar santuy. Dalam hati Kyuub. Dia kesal mendengar penuturan si pirang.

Ya.

Memang benar kalau dia punya reputasi buruk dalam memasak. Tapi bukankah sangat kasar membuat pernyataan tanpa belum merasakannya?.

"Jadi ini untukku?".

Kyuubi terdiam. Tangan yang lihai menggerak-gerakan spatula tersebut berhenti.

"Ja-Jangan bodo,-".

"Buka celanamu.".

Ucapan Kyuubi terpotong. Sekali lagi dia melirik Naruto yang entah kenapa sedang memejam matanya.

Masih dalam posisi begitu. Kyuubi akhirnya mematikan kompor dan memilih menuruti perkataan Naruto.

Kyuubi bahkan tak bersuara atau melakukan suatu pergerakkan yang mengatakan iya.

Tapi lelaki itu seakan bisa membaca pikirannya.

Kyuubi kemudian langsung meloroti pakaian bawah beserta celana dalamnya. Diapun melihat Naruto dalam keadaan berjongkok dibelakangnya.

"Masih tertancap di dalam.".

Naruto tersenyum melihat penampakan bola ungu di lubang pantat Kyuubi.

"Kau tak melakukan hal yang tidak diinginkan kan?".

Tatapan yang berkata oh dia tidak mungkin tahu kalau aku mencabut benda menjijikan ini sekarang.

"Bodoh. Terus bagaimana aku buang air besar?".

Naruto tertawa. Tanpa membalas pertanyaan Kyuubi. Dia meraih anal beads itu lalu menariknya secara pelan.

"Hn...".

Desah Kyuubi berpegangan di stovel. Ada 7 butir bulat yang terdapat di benda tersebut. Dia tahu karena dia pernah mengeluarkan benda itu sekali.

Tapi anehnya pada saat itu. Kyuubi sama sekali tidak mendesah. Bahkan libido gairahnya tak naik.

Karena itulah Kyuubi menatap tajam dinding dihadapannya dengan gigi yang menguat.

'Aneh. Sangat tak masuk akal.'

"Dan ini yang terakhir."

"Ngh..".

Setelah berhasil keluar semua. Naruto segera berdiri dan berjalan pergi.

"Ha? Mau kemana kau?".

Pertanyaan Kyuubi menghentikan Naruto.

"Istirahat?".

Mata Kyuubi melebar. Mulutnya sedikit ternganga.

"Tu-Tu-tunggu ini aneh! Kelakuanmu sejak di kolam tadi aneh! K-Kau seenaknya saja berbuat sesukamu dan bahkan tak sesuai dengan perjanjian!".

Kyuubi tak berteriak melainkan menekan kata-katanya.

"Tak sesuai? Dimana nya? Aku melakukan hal normal sebagai laki-laki di luar rumah kan?".

Balasan itu membuat Kyuubi terdiam. Dia tak tahu mau berkata apa. Apa memang laki-laki normal berbuat mesum dengan perempuan seperti yang dilakukannya di kolam tadi? Pikir Kyuubi.

"Bukannya dikolam tadi kau horny?".

"H-Hah!? Apa maksudmu!?".

Kyuubi kaget setengah mati. Pertanyaan Naruto membuat dirinya berpikir kalau lelaki dihadapannya itu bisa membaca pikirannya.

"Jangan kau pikir aku tidak tahu. Bahkan sekarang ini aku tahu kenapa kau bersikap seperti ini.".

Wajah Naruto yang tadi santai berubah datar.

"Katakan apa yang harus kulakukan?".

Kyuubi tak menjawab. Matanya di pejam kuat sembari menggigit kecil bibir bawahnya.

"Kalau kau tahu seperti di kolam tadi kenapa kau,-".

"Katakan padaku apa yang harus dilakukan?".

"...".

"Ucapkan dengan bibir kecilmu itu.".

"...".

"Hm? Kau tak punya mulut? Kemana bibir yang tadi cerewet?".

"...".

Pertanyaan serta ejekan bertubi-tubi dilayangkan ke Kyuubi. Naruto mirip seperti kemarin yang kesetanan. Dan dia sama sekali tidak menjawab. Sampai dia mencapai rasa jengkelnya.

"Lihat keadaanmu! Kau bahkan tak mau repot memakai celanamu kembali memangnya apa yang kau harapkan dalam keadaan setengah telanjangmu itu? Kau memuak,-".

"Diam dan buka celanamu.".

Mulut Naruto tertutup. Nada suara Kyuubi cukup menyeramkan.

Tanpa berbasa basi lagi Naruto segera menurut.

"Sajikan masakanmu.".

Naruto berjalan kearah meja makan untuk duduk. Tak lama itu Kyuubi datang meletakkan piring dan segelas air dihadapannya lalu berlalu ke bawah meja.

"Sudah kuduga tak enak.".

Kyuubi mengigit kecil pucuk kulit penis Naruto saat mendengar gerutuannya.

"Oi sakit.".

Tapi walau Naruto berkata begitu. Kyuubi tak mendengar bunyi garpu bersentuhan dengan piring berhenti diatas meja.

Dia tahu betul kalau makanannya tidak enak. Hanya mendengar lelaki itu memakan lahap hidangannya membuat bibirnya terangkat ke atas.

Berniat membalas kebaikan. Kyuubi menatap hidangan dihadapannya.

Penis Naruto agak aneh. Tidak. Bukan aneh. Melainkan tidak ereksi.

Baru kali ini Kyuubi melihat penis secara langsung apalagi sedekat ini.

Dia tak tahu bagaimana cara membuatnya ereksi. Jadi dia biarkan instingnya yang bekerja.

"Hooh blowjob? Menarik.".

Kyuubi tak tahu istilah apa itu tapi mendengar nada suara Naruto seperti keenakan.

Hisapannya dipercepat.

Dari dalam mulut Kyuubi. Dia bisa merasakan penis Naruto membesar. Bahkan sampai kedalam tenggorokannya dan masih membesar.

"Ghluk ghook!".

Kyuubi segera mencabut mulutnya dari penis Naruto.

"Uhuk uhuk.".

Wajah Kyuubi penuh keringat. Segera dia menghirup nafas sebisa mungkin. Hampir aja dia mati tersedak.

Merasa mulai tenang Kyuubi menganga melihat benda yang hampir membuatnya mati.

'A-apa-apaan ini!?'. Batin Kyuubi berteriak.

Penis yang tadinya hanya panjang 4 inchi kini menjadi 10 inchi. Lebarnya juga bukan main.

Dia mendekatkan hidungnya dipenis Naruto dan masih mendekat sampai bersentuhan.

Wajah Kyuubi yang tadinya ngiler keluar menjadi datar seketika saat dia menghirup kuat bau penis itu.

'Bau darah dan bau dia...'.

Kyuubi menggeleng pelan kepalanya. Dia sudah berjanji untuk tak mencampuri urusan Naruto.

Dikocok penis itu dengan kedua tangan. Biji yang terayun-ayun dibawah di isapnya dengan kuat sambil dijilat.

Lima menit Kyuubi melakukan hal serupa. Penis yang tegang ke atas di bengkok kan kebawah.

"Slurp slurp.".

Dihisap sedikit sperma yang keluar lalu menjilat dari pangkal bawah sampai ke atas sebelum mengulumnya.

Maksimal jauh Kyuubi mengulum hanya 4 inchi. Tapi dia masih berusaha memasukannya lebih dalam dengan teknik maju mundur.

Delapan menit dia terus berusaha. Dan itu membuahkan hasil. Senang bercampur bangga mencapai 7 inchi.

Sampai Naruto memegang kepalanya dan dengan paksa menarik ke dalam.

"Blghhh!".

Seketika Mata Kyuubi memutih. Hanya dalam sedetik. Seluruh penis Naruto masuk sampai ke tenggorokannya dan detik kemudian cairan hangat berkeluaran.

Perutnya merasa penuh. Dirinya merasa sesak. Pandangannya mengabur. Diraih kedua lutut Naruto dan berusaha bertolak kebelakang.

"Huft...".

Erang Naruto nikmat.

#PUK!

Kyuubi terjatuh kuat kebelakang. Kesadarannya kembali terang. Kalau bukan pegangan Naruto melunak mungkin dia sudah pingsan.

Dia kembali melihat kedepan saat merasa rambutnya semproti sesuatu.

Alhasil wajahnya kini langsung dipenuhi dengan sperma Naruto yang masih berkeluaran.

#CklekSuara bukaan pintu membuat tubuh Kyuubi menegang. Segera dia berganti posisi dengan Naruto secepat mungkin.

"Oh Kyuubi kau masih bangun?".

Jantungnya berdetak kencang. Dia menyadari kalau dia tidak memakai celana. Serta juga celana Naruto tergeletak di dekat pintu.

Kyuubi berusaha setenang mungkin. Dia harap wanita yang mirip dengannya itu tidak menyadarinya.

Lama mereka saling menatap sebelum wanita itu beranjak pergi.

"Jangan begadang besok sekolah, okay?".

"Ba-baik.".

Kyuubi lega. Hampir saja ketahuan. Beruntung ibu dari mereka berdua itu selalu pulang kelelahan abis kerja.

"Oi kau pikir apa yang kau lakukan?".

Suara dingin dari bawah meja membuat Kyuubi melihatnya. Tampaknya lelaki tersebut tak tahu alasan kenapa dia di sembunyikan ke dalam kolong meja.

"Kau pikir melihat seorang anak lelaki ada dirumah yang cuman berisi dua perempuan tidak akan membuat kehebohan?".

"Dua perempuan dan satu laki-laki.".

"Ibu bahkan tak tahu kau pulang bodoh.".

Naruto terdiam. Perkataan Kyuubi benar adanya.

"Kalau begitu akan ku jelaskan.".

"Dengan keadaan adik dan kakak tak memakai celana?".

Naruto lagi-lagi terdiam. Matanya berpaling dari Kyuubi. Lelaki itu tampak berpikir sesuatu.

"Ada apa Naruto?".

"Tidak.".

Naruto meraih paha Kyuubi dan keluar dari bawah meja.

"Apa nama Itachi Uchiha terdengar familiar untukmu?".

Kyuubi menaiki alisnya. Dilihat Naruto berjalan mengambil celananya.

"Ada apa dengan Kakak perempuan Sasuke? Kenapa kau bertanya?".

"Kau tahu apa profesi dan latar belakangnya?".

Mata Kyuubi tak lepas dari Naruto. Lebih tepatnya bagian bawah tubuh Naruto. Dia melihat tajam kulit tan tersebut sebelum tertutupi celana.

"Dia bekerja di kepolisian hanya saja aku tak tahu pasti dimana devisinya. Tapi Sasuke pernah berkata kalau kakaknya itu banyak menuntaskan kasus-kasus berbahaya.".

"Hm begitu ya.".

"Berbicara tentang Sasuke. Aku tak tahu kau berpacaran dengannya.".

Naruto melirik Kyuubi sekilas dan berlalu pergi.

"Well good luck with that... dan juga bersihkan wajahmu itu.".

Kyuubi menatap datar kepergian Naruto. Lidahnya keluar saat Sperma mengalir dibibirnya.

"Asin.".

Kursi yang diduduki Naruto tadi kini di penuhi cairan vagina miliknya. Dia pun melihat jam dinding didepannya.

Jam 00:11.

Selama 67 menit berlalu. Dia mencapai klimaks sebanyak 9 kali.

End Chapter 8 : The Forgotten Memories (Part 2).


BACA PENTING!

Buat kalian yang merasa bingung di chapter 8 mungkin karena adanya typo atau tidak jelas atau karena chapter 7 nya di skip! Nanti di perbaiki.

Dan chapter 7 itu singkatnya berbicara tentang Ino dkk berada dalam castle berbincang dengan ratu berbicara sedikit ttg Naruto Latihan sebentar Ketemu perempuan bertopeng ingatan mereka yang disimpan naruto terbuka flashback chapter 8.

Chapter ini mungkin ada banyak typo dan tak jelas jadi nanti aku check lagi. Fast Update berlaku hanya sampai tanggal 17 agustus. Soalnya mulai kuliah cuk dah smester 9 aku ini tapi cuti setahun jadi anggaplah smester 7. Doain aku biar segera selesai ya :)))).

NEWS:

Nanti di lanjut lagi desember, sibuk ngampus, ini update ad sedikit tmbhn cerita gegara setelah ku sempetin baca dan gak taunya kek kurang jelas, well aku orngnya kebiasaan mnghyl kukira udh ku ketik eh gk taunya belum. Lain kali sebelum update crita bakal ku baca" lagi, msih ad tmbhn juga di chapter ini (ada beberapa gk smpet lanjut gegara tubuh dah gk kuat bekas selesai ngerjain tugas dan gk bisa tidur gegara sisa kopi) dan mungkin chapter sebelumnya (nnti ku baca lagi).

Akan sangat membantu kalo klian mmbntu membenarkan dalam hal tulisan ataupun ketidakjelasan (ad yg memang sengaja tdk di jelaskan tpi gpp gk dah salahnya mncoba sapa tau benar) kolom reviews ato pm.

Intinya aku update cmn mo blng aku masih hidup dan aktip. Kalian juga, stay healthy untill this story completed.

Sekian,

Papoi Out.