Outland
Desclaimer :
Naruto and the other character is not my own.
Summary :
"...Ja-jadi maksudmu jika aku tidak meminta ciuman tapi yang lain kau akan menurutinya tanpa ada sangkut paut dari perjanjian yang kit,- kau buat?" Ucap Kyuubi. "Tentu.". Wajah Kyuubi memerah. Kini dia dalam perjalanan ke rumah. Disampingnya ada DIA dan kekasihnya yang berbincang tanpa tahu apa yang ada di isi benaknya nanti saat di rumah. WARNING. INCEST. 18+.
Chapter 10 : The Forgotten Memories (Part 3) The smiling aggrement.
"Selamat pagi Kyuubi.".
Mendengar ada panggilan. Kyuubi tak segera membalas ataupun melihat siapa orang tersebut.
Dirinya dalam keadaan duduk sembari melihat ke luar jendela. Dimana sekumpulan siswa berdatangan dari depan gerbang sekolah.
"Selamat pagi Sasuke.".
Kyuubi menatap sekilas pemuda yang duduk lalu kembali melakukan hal serupa.
"Apa ada sesuatu yang menarik perhatianmu?".
Sasuke berjalan ke dekat jendela setelah meletakan tasnya.
Mata onyx miliknya kemudian menatap arah pandang kekasihnya itu.
Dari arah gerbang. Ada seorang lelaki yang menguap malas. Lelaki tersebut berhenti di depan gerbang dan tak bergerak.
"Dia...".
Gumam Sasuke. Matanya menyipit.
"...tampak berpikir sesuatu.".
Kyuubi berpendapat sama. Lelaki dengan rambut nanas tersebut pasti merencanakan sesuatu.
"Hn... pasti bolos.".
Dan benar.
Setelah Kyuubi berkata begitu. Lelaki yang mereka kenal yaitu Shikamaru Nara terlihat berbalik 60.
Nampaknya Shikamaru ingin segera menyingkir dari tempat itu sebelum seorang lelaki berlarian dari luar gerbang dan menarik kerah miliknya.
"Kasihan... gagal.".
Ucap Kyuubi bersimpati.
Dari arah Lelaki yang berlari tadi. Terdapat dua perempuan yang mereka kenal.
Kedua perempuan tersebut tampak berbincang seru.
Mata ruby dengan pupil tajam vertikal milik Kyuubi. Melihat gaya berjalan salah satu dari kedua perempuan itu secara seksama.
Wajah yang tadi datar kini tak dapat di ketahui lagi karena rambut tajam miliknya menutupi area mata.
#TENG TENG TENG
.
"Baiklah ada pemberitahuan untuk kalian.".
Ucap pria berambut putih dengan masker di mulutnya. Pria tersebut berdiri menghadap sekumpulan siswa yang duduk.
"Kalian kedatangan murid baru.".
Kedua mata miliknya terlihat malas melihat ketidaktertarikan dari wajah para murid.
"Murid baru? Kakashi-sensei kelulusan kita baru seminggu loh.".
"Ya memang agak aneh Yamanaka-san tapi hahhh...".
Pria yang di panggil Kakashi tersebut menarik nafas dalam-dalam sambil berpaling ke arah pintu.
"Kau yang di luar. Masuklah.".
Ino menggerutu. Reaksi gurunya tersebut membuat dia kesal. Di dalam lubuk hatinya yang dalam. Ingin sekali dia berkata kasar. Tapi sekejap sirna begitu saja saat melihat siapa murid baru tersebut.
Mata saphire. Rambut kuning jabrik. Kulit tan serta sepasang tiga garis di pipih.
Tidak salah lagi.
"Naruto Uzumaki. Salam kenal.".
.
"Naruto-kun!..."
Pelukan tiba-tiba dari belakang membuat murid baru tersebut melihat siapa gerangan.
"...Ayo ke kantin!".
Ino Yamanaka. Salah satu primadona di sekolah elit ini. Dari balik tampilan yang seperti bich. Dia ternyata orang baik.
Ya. Baik.
Seminggu lalu. Tepat saat hari penerimaan siswa. Sekian banyak lelaki yang membuat pengakuan padanya. Diterima semua.
Awalnya tak ada yang tahu. Tapi saat di hari kencan di putuskan. Kenalan, teman, bahkan sahabat saling melongo satu sama lain. Ada terjadi baku hantam disitu.
Untuk memastikan kebingungan mereka. Semua lelaki tersebut sepakat menunggu Ino dan mendengar kepastiannya.
"Pacar? Oh ya tentu. Ayo kita berbelanja.".
Perkataan itulah yang keluar dari bibir peach nya.
Tak ada satu batang hidungpun yang menolak. Tidak saat mendapat senyum manis dihadapan mereka.
Pada akhirnya kesadaran mereka kembali saat berada di rumah. Keesokan harinya mereka di putusin Ino secara serentak.
Banyak yang trauma akan kejadian tersebut. Tapi tak ada satupun yang membenci perempuan manis itu.
Kejadian tersebut di kenal sebagai Red Dating.
"Aku tak merasa lapar.".
Kedua tangan yang tadinya melengkung di leher pria tersebut kini terlepas saat Naruto berdiri kemudian berjalan pelan kearah pintu.
"Kalau begitu biar kutemani.".
Seakan tak kenal nyerah dan tahu pria itu hendak kemana. Ino mengikuti langkah Naruto dari belakang.
Langkah kaki yang hampir menyentuh lantai luar berhenti.
"Hm... Aku tak ingin terlihat terlalu mencolok."
Walaupun hanya sekilas. Naruto dapat melihat pandangan menusuk dari para lelaki dikelasnya saat dia balik melihat Ino ke belakang.
"Apalagi dihari pertama.".
Naruto memperlihatkan senyuman perdamaian ke arah sekumpulan lelaki yang dia tahu nantinya akan menjadi 'teman sekelasnya'.
"Hah... mau bagaimana lagi...".
Dari ujung arah berlawanan. Tepatnya di dekat jendela. Suara dencitan bangku bergeser sengaja diperjelas.
"Aku akan menemani mu.".
Ucap Kyuubi. Dirinya bergumam kata merepotkan beberapa kali secara pelan sembari dirinya berdiri.
"Lagipula aku yang ditugaskan memperkenalkan lingkungan sekolah.".
Ya. Memang benar. Sewaktu perkenalan murid baru. Kakashi menyuruh Kyuubi yang di ketahui sebagai kakak perempuannya untuk melakukan hal tersebut.
Tapi sebelum perempuan merah itu melangkahkan kakinya.
"Ah tidak. Aku bisa sendiri.".
"Anggap saja hari ini murid baru 'belum' ada.".
Setelah berucap begitu. Naruto segera melangkah keluar dan pergi.
"Kalau sudah, mampir ke kantin ya?".
Teriak Ino pelan. Dari pandangan lorong luar kepalanya sedikit nongol dengan dirinya bertopang di gagang pintu.
Dia bisa saja ikut dengan Naruto mumpung dia juga mau ke kantin.
Tapi Naruto malah memilih ke arah yang berlawanan.
Setelah mendapat balasan lambaian sekali. Ino berbalik kebelakang.
"Well, ayo aku lapar.".
Shikamaru yang dengan tampang bodoh amat dengan situasi tadi. Berdiri dan segera keluar.
Diikuti Kiba dari belakang seraya melihat ke arah berlawanan kemana Naruto pergi.
Sebelum Sakura menghampiri Ino. Dia melihat sekilas Kyuubi yang terdiam dengan tampang melongo.
Bibirnya sedikit terbuka. Mungkin karena shock pikir Sakura.
"Ayo Sakura-chan.".
"Ah Ino,-".
Kyuubi masih dalam tak bergeming. Pandangannya masih lurus kedepan. Gambaran Ino tiba-tiba menarik lengan Sakura dapat dilihat.
Tapi bukan itu yang menjadi objek pupil mata melihat.
Setelah beberapa detik kepergian sahabatnya. Mulut yang sedikit terbuka ditutup.
Wajahnya kembali datar seperti sediakala.
"Kau ke kantin?".
Tanya Sasuke yang kini disampingnya.
Tampaknya lelaki raven tersebut masih tinggal karena sibuk mengatur beberapa berkas di meja nya.
Wajah Kyuubi yang tadinya melongo bahkan tak sempat di lihat.
"...Tentu.".
"Kau yakin mau memakan semuanya...".
Tampak raut suara yang berbicara terdengar khawatir dikala melihat berbagai macam roti di atas meja makan mereka.
Yakisoba, Melon, Anpan, Dorayaki dan masih banyak lagi.
Jika itu seorang lelaki maka sedikit wajar. Tapi, semua rerotian tersebut menumpuk bak gunung di depan seorang perempuan yang sementara bersemangat mengunyah kedua roti di sepasang tangan.
"...Ino-chan?".
Sakura menatap heran kearah perempuan blonde. Isi mulutnya penuh dengan makanan. Dia terlihat berusaha menelan apa yang di tuai demi segera membalas pertanyaan sang teman.
Dan dengan modal tekad.
Ino berhasil dan tersenyum.
"Tentu saja. Tenaga ku terkuras akibat aktivitas kemarin malam..."
Ino sengaja memelankan suaranya pada saat perkataan akhir.
"...bahkan aku hampir kesiangan tadi pagi dan gak sempat sarapan.".
Tak berniat menunggu respon. Ino kembali melahap roti nya. Setelah tak bersisa, dia segera membuka yang baru.
"Ha? Emang kamu ngapai,-".
Perkataan Kiba terhenti saat mendengar suara seretan bangku.
"Kemana?".
"Kamar mandi. Perut ku mendadak mules.".
Tak ada yang bisa melihat wajah perempuan merah itu. Helaian rambut yang panjang sengaja menyembunyikan raut wajahnya.
Bahkan lelaki raven yang bertanya yang duduk berseberangan di hadapan perempuan tersebut tak dapat melihat dengan jelas.
"Apakan ku bilang? Tak sehat memakan ramen di siang hari Kyuubi-chan.".
Kyuubi mengabaikan perkataan Sakura dan berbalik arah. Satu dua langkah dia mulai menjauh. Tapi saat langkah ketiganya suara seseorang yang tadinya duduk di samping menghentikan langkah kakinya.
"Apa darahku enak?".
Kyuubi kembali berjalan setelah dua detik dia sempat terdiam.
Helaian rambut yang menutup wajahnya berayun dikala kakinya berhentak kuat di setiap langkah.
Pupil mata bak serigala menajam, raut wajah datar dan dingin seolah-olah bisa menerkam makhluk yang berjalan ataupun melewatinya sekejap mata.
.
.
.
"Hmmm...".
Naruto berdiri menatap lapangan sekolah. Lalu ke halaman taman yang luas dan beberapa rumah kecil yang dia yakin itu sebuah tempat kegiatan club.
Setelah puas. Naruto kini melihat di depan. Lebih tepatnya ketiga gedung yang ketinggiannya bukan main.
Matanya menajam. Tangan kirinya merogoh sesuatu di kantung celana dan sebelum dia mengeluarkan benda tersebut.
Dia merenungkan niatnya. Lalu berbalik melihat ke arah satu-satunya pintu masuk dan keluar.
Tak lama kemudian bunyi pintu terbuka. Menampilkan sesosok perempuan berambut merah elegan.
Kyuubi Uzumaki. Beloved Sister.
Kedua kakak adik tersebut hanya saling menatap. Suasana yang sejak tadi hening masih tetap hening (:v).
Masih dalam keadaan diam. Naruto sedikit mengerucutkan bibirnya kebosanan.
Setelah Naruto memalingkan penglihatannya kearah depan. Kyuubi yang dari pojok kiri depan pintu mulai berjalan mendekat.
Sesampainya. Tangan kanan Kyuubi refleks bergerak ke wajah Naruto.
"Ouh.".
Tapi Naruto tak kalah cepat dan menahan tangan Kyuubi agar tak sampai tujuan.
"Tidak menampar tapi menonjok?".
Naruto sekilas melihat apa yang ditangkap oleh telapak tangan kirinya dan langsung membanting Kyuubi ke pagar berkawat wajik.
"Hm? Tak ada perlawanan?".
Dibanding dengan malam pengeratan ikatan keluarga. Kyuubi sempat memberikan perlawanan walau dirinya dalam posisi terdesak dan tidak menguntungkan.
Bahkan diri Naruto sendiri sedikit terkejut yang menyebabkan dia kewalahan dan di banting oleh kakaknya.
"Ahn...".
Pekik Kyuubi. Payudara serta pipih kiri Kyuubi kesakitan akibat di tekan kuat oleh Naruto dari belakang. Dia yakin kalau bakal ada bekas kawat pagar wajik ini di tubuhnya.
#plakk
"AHHHN..".
Sakit yang tiba-tiba dirasa di pantatnya membuat sekujur tubuhnya mendelik tajam. Rasa yang familiar mengingatkan Kyuubi pada malam pertama mereka.
Bibir bawahnya di gigit kuat seraya memejamkan mata serta menahan nafas.
Dan dengan begitu.
Kyuubi Uzumaki siap menerima tamparan selanjutnya.
Tapi serangan itu tak kunjung datang.
Malahan Kyuubi tiba-tiba di lepas bak sampah kotor.
Kakinya kewalahan menahan tubuh bagian atas akibatnya Kyuubi bergantungan di pagar wajik dengan kedua tangannya yang jadi topangan.
"Tak mencerminkan perkataan para murid terhadap seorang Kyuubi Uzumaki.".
Pose memalukan serta erotis tersebut. Mampu membuat rumor jalang terhadap Kyuubi.
"Hmph..".
Kyuubi berusaha merangkak keatas untuk kembali berdiri. Lalu merapikan baju nya yang tersingkap.
"Sudah tenang?".
Ucap Naruto yang sudah berada disampingnya.
"hn.".
Kyuubi yang sudah kembali seperti biasa melirik Naruto sekilas.
"Apa yang dia belum lakukan kepadamu?".
Naruto mengernyitkan matanya. Pria tersebut terlihat bingung dan berpikir sebentar.
Naruto tak tahu siapa dia yang di maksud Kyuubi. Tapi mengingat apa yang tidak dirinya perbuat kepada beda gender yaitu.
"Cium?".
"Kalau begitu lakukan kepadaku.".
Respon yang cepat membuat Naruto malah tambah heran. Tapi sesudah itu, dia tersenyum paham.
"Kau pikir aku lelaki apaan dan dengan mudahnya..."
Naruto memutar tubuh Kyuubi lalu meraih dagunya.
"...bibir ini menginginkan bibir yang lain?".
"Lagipula ciuman hanya untuk orang lema,-".
"Ini perintah Naruto.".
Naruto terdiam. Raut wajahnya terlihat berkata 'masuk diakal' dimata Kyuubi.
Dengan pelan Naruto mendekati bibir Kyuubi dan berkata.
"Ho oh kau pikir beneran?".
Mata Kyuubi yang sudah di pejam sejak melihat kepala Naruto mendekat kini terbuka kasar.
Kedua mata mereka saling melihat dengan jelas serat warna pupil masing-masing.
"Walaupun itu perjanjian. Aku adalah seseorang yang mempunyai banyak hasrat. Dan ciuman tidaklah termasuk dalam bagian tersebut.".
"Tu-tunggu jadi ma-maksudmu apapun perintahku selama kau tidak berhasrat melakukannya, kau tidak akan melakukannya!?".
Nada suara Kyuubi naik pitam. Dari awal dia sudah menduga kalau perjanjian adiknya itu omong kosong dan ternyata benar.
"Apanya yang tak akan menguntungkan sebelah pihak. Kau malah selalu di untungkan! Di kamar tidurku! Di kolam renang pu-publik! Semua itu hasratmu! Semuanya menguntungkanmu!".
Ucap Kyuubi penuh penekanan. Pupil matanya mengecil akibat amarah. Seharusnya dengan tatapan begitu Kyuubi sudah bisa membuat lotoy sang lawan.
Tapi Naruto malah membuat wajah aneh.
"Oi kau pikir siapa yang mengiyakannya hah?".
Ucap Naruto memberi kilasan kejadian kemarin malam.
"Pada awalnya aku mulai bisa beradptasi dengan perjanjian yang dibuat. Tapi permintaanmu tadi malam malah berlawanan. Jadi kupikir apa yang kita berdua lakukan sejak awal itu hanyalah perkataan omong kosong,-".
"Tu-tunggu...".
Wajah Kyuubi seketika terkejut.
"...Ja-jadi maksudmu jika aku tidak meminta ciuman tapi yang lain kau akan menurutinya tanpa ada sangkut paut dari perjanjian yang kit,- kau buat?".
"Tentu.".
Wajah Kyuubi merona seketika.
"Ja-ja-jadi hu-hubungan kita ini tidak lagi paksaan akan perjanjia,-".
Mulut Kyuubi terhenti. Sejak awal raut wajah Naruto terlihat aneh saat dia berbicara. Hidungnya terasa berhendus-hendus mulutnya.
Dan akhirnya Kyuubi paham kenapa.
"a-ah maaf ta-tadi aku makan ramen.".
Kyuubi merutuki dirinya yang mencampur bawang putih banyak ke dalam makanan berkuah tersebut. Akibatnya dia kini malu karena bau mulut.
"Ramen?".
Tak kuat bersuara. Kyuubi berpaling menjawab pertanyaan Naruto dengan anggukan.
Tapi Naruto langsung menangkap dagu Kyuubi untuk kembali menghadapnya.
Detik kemudian Mata Kyuubi terbelalak.
Naruto dengan tiba-tiba mencium bibir Kyuubi.
Walau telah meyakinkan ciuman itu hanya untuk orang lemah. Naruto malah leluasa memasukan lidahnya ke dalam mulut Kyuubi dan bergulat dengan lidahnya.
Dibutakan dengan keterkejutan serta pusing akan darah yang naik ke kepala. Kyuubi tak tahu apa yang mendadak terjadi pada Naruto dan malah mengikuti apa yang di lakukan.
Dengan begitu atap sekolah menjadi saksi akan suara saliva mereka.
"hmppph hohmmm.".
Naruto dengan lahapnya mengemut apa yang tersajikan ke dalam mulutnya. Hisapan suara yang keras pertanda nafsu nya yang sangat bergairah.
"hmm!".
Tubuhnya berhenti sejenak dan fokus memainkan lidahnya secara lihai.
.
.
.
"Gimana?".
Melihat si pirang dengan elegan dan sopan melakukan aktifitasnya. Membuat pemuda bertato taring penasaran apalagi dengan si pirang itu tiba-tiba diam tak berkutik.
"Enak?"
Tanya Kiba berpangku tangan di atas meja.
Naruto melirik Kiba sekilas.
"Tentu saja.".
"Jika tak keberatan. Bisakah aku menghabiskan nya?".
Lalu menatap perempuan merah yang duduk di sampingnya.
"Mie nya sudah membengkak. Biar ku pesan lagi.".
Kyuubi berniat berdiri dari tempatnya tapi tak jadi.
"Eh? Bukannya kau akan memesannya lagi Kyuubi-chan?".
Gerutu Ino.
Suara cempreng perempuan blonde di sebelahnya menjadi alasan kenapa Kyuubi merenungkan niatnya.
"Padahal aku ingin menyuapi...".
Jemari Ino berada di bibirnya takala melihat Naruto yang kembali memakan sesajiannya. Jaraknya dengan Naruto terasa dekat tapi juga terasa jauh kalau bukan ada halangan yang memisahkan mereka.
"...Tapi sapa yang mengira kalau Naruto-kun bisa bertemu dan kembali ke kantin bersama-sama.".
"Apa ada sesuatu yang terjadi di 20 menit lamanya kau di toilet..."
Ino tersenyum kecil dan dengan tampang polos melihat perempuan di sebelah.
"...Kyuubi-chan?".
"Kebetulan...".
Kyuubi merespon cepat tanpa melihat Ino. Dirinya melihat Naruto menggapai topping yang ada di atas mangkuk mie dan dengan nafsu memasukannya ke dalam mulut.
"...hanya kebetulan berpapasan.".
"Heee benarkah?".
Bibir Ino mengerucut. Respon santai Kyuubi membuatnya kecewa.
"Kalau memang benar tentang Kebetulan berpapasan ini. Kau tahu kan apa kata siswa yang melihat kau jalan dengan pria lain?".
"Hm? Kurasa itu hal biasa Ino-chan.".
"Tidak-tidak Sakura-chan. Kalau itu Karin atau Ryuzetsu mungkin wajar. Tapi personality Kyuubi-chan berbeda sangat dengan mereka.".
Sakura tak dapat berkata lagi. Mata yang terpejam menandakan kalau dia membenarkan perkataan si pirang.
Sepanjang history hidup. Sakura sekalipun tak pernah melihat Kyuubi berpapasan dengan orang lain selain squad mereka.
Jika memang ada seseorang yang mau dekat dengannya. Kyuubi akan membalas semampu lalu pamit pergi.
Jika memang ada seseorang butuh saran atau membahas sesuatu. Kyuubi akan menentukan tempat mereka akan berdiskusi nanti lalu pamit pergi.
Selalu pamit. Tak pernah Kyuubi berpapasan dengan siapapun mau itu lelaki atau perempuan. Meski begitu banyak yang terpengah dengan charisma miliknya.
"Y-yaa memang benar. Tapi kan Naruto-kun adiknya,-".
"Bukan itu permasalahannya Sakura-chan. Gosip tentang Kyuubi-chan dan Sasuke berpacaran sudah menyebar secepat kilat. Bahkan di hari pertama.".
"Jika gosip itu cepat menyebar. Berarti informasi Naruto adiknya Kyuubi pasti juga begitu.".
Kali ini Kiba angkat bicara.
"Ya. Itu memang benar. Karena itulah Naruto mengetahuinya dan memberi waktu informasi kalau dia adiknya Kyuubi menyebar sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.".
Ujar Ino panjang lebar mencoba menjelaskan pemahaman dia ke yang lain.
"Hm, begitu ya? Untuk menjaga nama baik dan menjauh dari tindakan merepotkan fans fanatik kalian.".
Tunjuk Kiba berganti-ganti ke ketiga gadis tersebut.
"Tapi ada satu yang kurang kupahami.".
Kening Kiba mengerut.
"Bagaimana Naruto mengetahui status kalian di sekolah?".
Matanya melirik ke arah Ino dan Naruto yang makan.
"Kau lupa? Naruto-kun memberi kontaknya ke aku. Terus kuhubungi dia kemarin.".
"Oh pantas respon mu tadi tak terkejut melihat kedatangan murid baru.".
Ucap Kiba mengangguk paham. Sakura yang di sebelah juga kini mengerti kenapa tingkah Ino waktu pagi hari tak henti-hentinya cengar cengir.
"Terus kau memberinya informasi apa,-".
"Eh? Kalau Ino-chan tahu dari awal kenapa malah membuat pusat perhatian tadi di kelas?".
Pertanyaan masuk diakal. Membuat Kiba tak masalah perkataannya di potong Sakura.
"E-eh...".
Gelagapan. Wajah Ino memucat.
"Jadi meskipun kau tahu. Kau sengaja kan?".
"A-ah ti-tidak pe-pernyataan Naruto-kun barusan yang membuatku paham... N-naruto-kun tak pernah memberitahu aku kemarin.".
Ucap Ino jujur.
"Tapi seharusnya Ino-chan mengetahui maksud apapun yang kalian perbincangkan kemarin.".
Tuduhan demi tuduhan bertubi-tubi dilancarkan Sakura dan Kiba terhadap Ino. Tapi meski begitu pembicaraan mereka masih terkontrol dan tak menganggu orang-orang sekitar.
Seperti orang-orang ini tahu kalau itu adalah kebiasaan mereka.
Ya. Kebiasaan di kantin.
Perdebatan Kiba dan Ino tapi kali ini di tambah Sakura.
Shikamaru yang tetap ketiduran sehabis makan.
Kyuubi melahap makanan nya serta menikmati perdebatan mereka tapi kali ini beda dengan dirinya terus-terusan melihat si anggota baru melahap makanan.
Sasuke yang seharusnya membawa kertas-kertas penting miliknya untuk diperiksa kembali sambil makan malah merenungkan niatnya dan berencana melihat pacarnya makan.
Ya, tepat. Seperti yang Kyuubi lakukan.
Lama Sasuke memperhatikan mata Kyuubi lalu mengikuti arah pandangnya.
Naruto Uzumaki.
Sewaktu kecil. Sasuke Uchiha sama sekali tak peduli dengan keberadaan makhluk tersebut. Alasan kenapa dia mengetahui nama si pirang itu juga karena dirinya penasaran dengan kakaknya.
Seiring waktu berjalan. Sasuke Uchiha dan Kyuubi Uzumaki berteman. Lalu diikuti oleh Ino Yamanaka dan Sakura Haruno. Sasuke mengamati ketiga perempuan itu sangat dekat.
Dan sewaktu ditanya apa mereka sudah lama berteman. Kyuubi menurunkan alis matanya.
"Teman? Sejak kapan?".
Ucapan polos tersebut sempat membuat Sasuke kecil kaget. Bahkan Ino sendiri tak sadar kalau dia menjatuhkan vas bunga yang di belinya untuk mengganti yang menurutnya udah usang di kelas tanpa sepengetahuan guru.
Pada akhirnya Sakura lah yang membersihkan semua.
Naruto Uzumaki.
...
Bahkan tak ada ingatan yang ketrigger di kepala. Namun hanya lah masa kecilnya suram.
"Hm?".
Sadar dari lamunan. Sasuke mendapati dirinya telah di tatap Naruto.
"Sasuke Uchiha...".
Naruto melepas pegangan tangan kirinya dari mangkuk lalu menempelkan kepalan tangan ke pipih berpangku.
"...Anak bungsu dari Fugaku Uchiha. Yakni pemimpin dari keluarga besar Uchiha dan Company."
Mulut Naruto bergerak. Tampak mengunyah makanan.
"Mereka bilang. Menjadi satu dengan keluarga Uzumaki kau akan memiliki kejayaan. Dengan Hyuuga kau akan memiliki ketenaran dan kemakmuran.".
"Tapi dengan Uchiha. Kau bisa mendapatkan semuanya.".
Selesai berkata. Naruto menelan isi mulutnya.
"Oh. Kumohon jangan menatapku dengan tatapan seperti itu.".
Naruto melepas pangkuan nya dan berdiri tegak.
"Aku sudah berjanji kalau tak akan menjadi penganggu aktivitas sekolah Nee-san.".
Melirik Kyuubi sekilas. Naruto mengambil sapu tangan di saku celana.
"Dia juga menceritakan kamu kekasihnya, Sasuke-kun?".
Naruto melihat pandangan Sasuke terhadapnya masih risih.
"Tidak?".
"Hn. Kalau begitu bagaimana dengan Sasuke-Niisan?".
Wajah Sasuke kini terpanah. Melihat respon begitu. Naruto membersihkan bibirnya dan kedua tangan.
"Sudah di putuskan. Lagipula cepat atau lambat mungkin kita bisa menjadi brother-in-law.".
Selain Kyuubi yang memerhatikan kedua orang tersebut. Yang lain masih sibuk dengan kesibukkan mereka yang masih berlanjut.
Tanpa sepengetahuan kalau anak bungsu Uzumaki menyodorkan tangannya kedepan anak bungsu Uchiha.
"Mohon kerjasamanya.".
End Chapter 10 : The Forgotten Memories (3).
Maaf telat ada kejadian tak terduga yang terjadi desember tahun lalu. Dan saya sangat sangat sedih dan berduka.
Mohon maaf kalo chapter 7 masih dalam proses terhenti. Seharusnya chapter 10 part 3 ini jadi akhir flashback dan lanjut ke masa dimana Kyuubi dkk dalam kerajaan.
Mohon maaf. Tapi sya usahakan januari ini selesai flashbacknya di part 4. Soalnya februari dah kuliah lagi cuk.
Sekian.
Papoi3rd. Out.
