Disclaimer: Haikyuu! adalah karangan Furudate Haruichi. Author tidak mengambil keuntungan materiil.
Warning: oneshot, Daichi x Suga.
.
.
Pengalaman
by Fei Mei
.
.
Walau keduanya mengambil jurusan bahkan akademi yang berbeda, Daichi, Asahi, dan Suga masih ketemuan setidaknya seminggu atau dua minggu sekali. Biasanya, sih, janjiannya saat Sabtu malam, atau malah Minggu siang. Hari ini pun, pada Sabtu malam, mereka bertiga sudah janjian untuk makan malam bersama, tetapi sepuluh menit sebelum waktu yang ditetapkan, Asahi mendapat klien mendadak dari salon tempatnya bekerja. Karena memang Daichi dan Suga belum makan malam juga, jadilah malam itu keduanya makan tanpa si mantan Ace tim voli putra SMA Karasuno.
Tidak begitu seru kalau tidak ada Asahi, rasanya ada yang berbeda. Iyalah, biasanya si mantan kapten dan wakil kapten itu bakal cengin atau isengin Asahi, tapi karena sekarang si Korban sedang tidak bisa ikut, ya sudah, deh.
"Mulai Senin nanti aku sudah mulai jadi guru magang," sembur Suga saat mereka menunggu makanan mereka diantar.
"Oh? Cepat juga, ya …" gumam Daichi. "Aku masih belum, masih gagal ujian praktik untuk dapat izin magang."
Suga menyengir. "Sekolah Kepolisian, mau magang aja pakai ujian?"
"Bukan ujian, sih, lebih seperti, eh, gurunya akan menilai kalau peserta didiknya sudah siap turun ke lapangan walau untuk magang."
"Tapi kalau begitu, enak, dong, jadinya kalian lebih siap. Beda denganku, siap atau tidak, harus langsung berhubungan dengan bocah."
Daichi mengangguk. "Bagaimana pun, bahaya kalau seorang polisi tidak siap sedia di posnya." Lalu mantan kapten itu menyengir. "Kalau soal bocah, zaman SMA di klub juga kamu udah biasa ngurus Noya, kan? Belum lagi Tanaka, Hinata, Kageyama, Tsukishima … bocah-bocah itu."
Suga tertawa. "Iya, ya!"
Cengiran Daichi berubah menjadi tawa lepas bersamaan dengan tawa temannya, kemudian ia menghela. "Pembimbingku bilang aku kurang pengalaman, makanya sering salah dalam menilai perkara saat praktek."
"Kurang pengalaman?"
"Yah, mungkin karena selama ini kerjaanku hanya main voli, jadi cara berpikirku berpusat pada olahraga itu. Semua disambunginnya kesana. Jadi katanya, aku kurang hubungan antar-manusia di luar pertandingan voli," jelas Daichi.
Si Setter mengangguk pelan. "Masuk akal, sih … terus, di akademi juga, ketemunya sama calon polisi juga, kan? Jadinya hanya ketemu orang-orang sejenis?"
Daichi membalas anggukannya. "Makanya aku sebenarnya semangat kalau kita ketemuan begini, sama Asahi juga, kupikir bisa sekalian mengasah kemampuanku yang itu."
"Hm, mungkin kamu harus coba jalan sama yang lain juga? Ada banyak tipe manusia di muka bumi ini, Daichi."
"Iya, sudah kok," jawab si calon polisi. "Aku pernah minum bareng Kuroo dan Bokuto, pernah gak sengaja makan semeja bareng Aone dan Futakuchi, iseng main ke Karasuno …"
"Hmmm, gimana kalau cari pacar?"
Daichi mengerjap. "Maaf?"
"Pacar," ulang Suga. "Berinteraksi dengan manusia itu bukan hanya dengan keluarga, rekan kerja, teman, saingan. Hubungan romantis pun bisa jadi pembelajaran."
Berpikir sejenak, Daichi mengangguk pelan, lalu menyengir karena mendapat ide untuk modus.
.
.
Selesai makan malam, keduanya berjalan sebentar sebelum nantinya akan pisah arah. Disitulah Daichi berniat menjalankan kemodusannya.
"Suga, kamu bilang hubungan romantis bisa jadi pembelajaran, kan?" tanya Daichi.
Suga mengangguk. Sambil menyengir, Daichi mengenggam lembut tangan sahabatnya semasa SMA itu. Jelas saja temannya kaget. Jika genggaman itu tidak erat, mungkin akan segera terlepas saat Suga menyibak tangan tanda terkejut. "D-Daichi!?"
"Aku kurang pengalaman," tutur Daichi, masih menyengir. "Makanya aku berusaha untuk mencari pengalaman."
" … aduuuh, kejombloanmu jangan ditularin ke aku, dong," kata Suga, agaknya menganggap temannya hanya bercanda.
"Eh, tapi beneran, aku pengen sekalian cari pengalaman, mumpung sekarang sedang sama sahabat terdekatku."
"Iya, deh, terserah. Kalau masih dalam batas wajar, aku mau bantuin."
Seringai Daichi tidak berubah. "Kalau begitu, pelukan, yuk."
Suga mendelik. "Jalanan sini masih ramai, Daichi, gak malu, apa?"
"Yaudah, mojok kesana, yuk," ujar Daichi, menunjuk suatu gang dengan dagunya, lalu menarik pelan tangan temannya yang masih ada di genggamannya.
Suga terkekeh dan menurut saja. Saat sudah di tempat yang tidak begitu banyak orang lalu-lalang, Daichi benar memeluknya. Itu bukan pelukan pertama mereka. Keduanya sudah beberapa kali mendekap tubuh satu sama lain kok, tapi itu karena mereka memenangkan suatu pertandingan. Dan pelukan itu biasa berakhir dengan pelukan besar tim. Tetapi kali ini berbeda, karena hanya ada Daichi dan Suga saja. Si Setter merasa mungkin ia minum terlalu banyak tadi, karena wajahnya terasa hangat terutama saat tubuh mereka begitu menempel.
"Hmmm, mungkin kalau dalam posisi begini, seorang pembunuh bisa menikam ke punggung korban, ya," gumam Daichi.
Sontak saja Suga mencibir. "Jangan bayangin yang serem begitu, ah. Kalau gak kenal, aku pasti udah langsung buru-buru melihat ke tanganmu di belakangku ini."
"Hehe, sori-sori. Tapi memang hubungan antar-manusia membuatku lebih bisa memvisualisasikan sesuatu lebih baik. Mungkin kalau ada contoh kasus nanti, ini akan berguna."
"Daichi, jangan peluk lama-lama, pengap, nih."
Yang memeluk mengangguk, lalu melepaskan pelukannya. "Berikutnya, hmm … Suga, ciuman, yuk."
…
…
"Elu ngajak ciuman kenapa kaya ngajak main lompat tali, sih?" dengus Suga sebal.
"Ya habisnya, kalau langsung cium, kamu mungkin langsung gaplok aku."
Suga facepalm. "Kamu beneran harus cari cewek, Daichi."
Daichi menyengir. "Buat apa cewek kalau aku punya kamu?"
" … gak usah bikin aku baper, deh."
Entah Daichi serius apa tidak, ia masih menyengir. "Aku butuh pengalaman, siapa tahu kalau sedang berciuman, pelaku bisa melakukan sesuatu tanpa sepengetahuan orang yang sedang diciumnya. Kita berteman dekat banget, gak masalah kan?"
Terkutuklah Daichi dan pembimbingnya yang bilang dia kurang pengalaman!
Akhirnya Suga mengangguk juga, Daichi bersorak girang dalam hati karena bisa modus terang-terangan di malam gelap.
Jadi Daichi agak menunduk, karena memang rekannya lebih pendek. Suga masih memasang wajah sebal, tapi matanya sudah mulai tertutup. Si Kapten mendekatkan wajahnya, berpikir bahwa wajah Suga tampak cantik di bawah sinar rembulan, sebelum ia menutup mata dan menempelkan bibirnya pada bibir lembut temannya.
Suga agak terlonjak kecil, mungkin kaget saat bibir Daichi benar menempel padanya. Bibir temannya agak bergetar, mungkin karena tak menyangka Daichi akan melakukan yang lebih dari sekedar menempelkan bibir masing-masing. Kembali si calon polisi mendekap tubuh Suga, kali ini ia sambil mengisap kecil bibir temannya.
Terlena, Suga pun mulai membalas ciuman Daichi, dan tangannya merengkuh tubuh temannya yang lebih besar itu. Suga bahkan bisa merasakan berat tubuh sang rekan saat Daichi menciumnya lebih lagi, mungkin senang karena si Setter mau ikut bermain dalam kegiatan ini. Telinganya merona mendengar suara aneh dari mulutnya sendiri saat lidah Daichi menerobos masuk ke mulutnya, mengobrak-abrik disana. Tidak bohong, Suga pengap bukan main.
Tidak kuat, Suga merasa ia sudah sangat membutuhkan oksigen sekarang. Jadi dengan tenaga seadanya yang sudah tidak banyak, ia memukul pelan dada Daichi, tanda untuk time-out.
"Suga …" gumam Daichi, ikut terengah walau tidak separah Suga.
Korban ciuman ganas Daichi itu merasa panas sekali wajahnya. Hatinya berdesir saat tangan besar si kapten mengelus pipinya, serta tatapannya begitu lurus padanya. "D-Daichi …?"
"Buat apa cewek, kalau aku punya kamu?"
Suga mengerjap pelan. Daichi telah mengatakan kalimat itu sebelumnya, tetapi kali ini terasa berbeda. Pertama kali, ia mengatakan itu dengan nada usil, bahkan wajahnya menyengir. Tetapi kali ini, suaranya begitu tegas dan dalam, seakan ia sedang berbicara langsung pada hatinya.
"D-Daichi—"
.
.
Selesai
.
.
A/N: Gak nyangka nimbus 1k words, dan gak nyangka juga ujungnya Daichi jadi serius. Orang tadinya Fei cuman mau bikin Daichi modusin Suga karena butuh pengalaman, makanya Fei sendiri kaget kenapa malah ngetik adegan ciumannya kayak gitu, mungkin karena Daichi lapar /hus. Dan niatnya fict ini mau diunggah kemarin, batal gara-gara tetiba ngebet pengen bikin TsukiHina, wkwkwk.
Review?
