Ace of Diamond /ダイヤのA (c) Terajima Yuuji

SON (c) Aiko Blue

Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini

.

didedikasikan untuk #MiyukiBirthdayParty #御幸一也生誕祭2020 #DaiyafessMiyukiFanficAU


Toku mendesis tak suka begitu pematiknya padam dan gagal menyulut rokok yang terselip di bibirnya. Hidung bangirnya berkerut, dan tiga gelombang muncul di masing-masing ujung mata. Indranya menangkap figur Kazuya yang kini menatapnya datar tanpa garis dosa. Remaja tiga belas tahun itu mendudukkan diri tepat di sampingnya, dan Toku masih cukup awas untuk dapat menangkap buku skor yang dijinjing Kazuya di tangan kanannya.

"Kau meniup apinya."

"Ayah tidak menjawab panggilanku tadi siang."

Satu alis Toku terangkat sedikit, mencoba menyimak sahutan Kazuya yang tidak berhubungan dengan kalimatnya. "Ponselku kehabisan baterai." Ia menjawab pendek, menekan pematiknya hingga api kecil kebiruan kembali menyembul dan siap menyulut ujung rokoknya. Tapi Kazuya dengan sigap berhasil meniupnya lagi, menyisakan padam dan samar panas di ujung lubang kecil pematik.

Toku mendesah, "Kazuya, itu tidak sopan."

Bahu Kazuya berkedik kecil, mulai membuka bukunya dan membaca baris-baris kalimat yang tersusun di sana. "Besok hari Kamis."

"Belajarlah di kamarmu."

"Belilah power bank."

"Di sini dingin, ambil jaketmu."

"Aku mau ganti pengharum ruangan untuk kamarku."

"Kau mulai menggigil."

"Jam di ruang tengah rusak."

Toku mendesah, kenapa obrolan mereka jadi semakin tidak nyambung? Ia menarik rokok yang semula terjepit di antara dua belah bibirnya, memasukkannya kembali ke dalam kotak rokok di kantungnya. "Kau merancau, mungkin karena terlalu banyak main bisbol."

"Aku benci asap rokok."

Toku mendengus kecil. "Rambutmu coklat tuh."

Kazuya kini balik menatapnya dengan kilat tak suka. "Tidak ada hubungannya dengan rambutku."

Toku tersenyum miring, "Lihat? Siapa yang mulai?"

Kazuya balas mendengus kasar, membuang kembali atensinya ke buku skor di pangkuannya. Di sebelahnya, Toku memilih untuk tetap diam dan menjadi pengamat. Menelusuri garis-garis waktu yang mengukir pahatan dalam sosok Kazuya saat ini. Seingatnya beberapa waktu lalu Kazuya masih anak laki-lakinya yang berbinar bahagia saat mendapat mitt catcher pertamanya. Sekarang, dia sudah tumbuh menjadi salah satu pemain andalan di timnnya. Kazuya bahkan tak segan berkomengar buruk soal peforma rekan satu tim, dan juga para kakak kelasnya. Pubertas benar-benar mengerikan, batin Toku. Putranya yang kecil dan manis kini bermetamorfosa menjadi remaja bermulut sadis dan jenius bisbol. Bahkan suaranya yang dahulu terdengar cempreng nan lugu kini mulai berubah menjadi berat. Anaknya yang manis dan lucu perlahan mulai terkikis oleh pemuda pintar, dan menyebalkan.

"Jadi apa yang mau kau bicarakan?" Pancing Toku.

Kazuya berhenti membaca, namun tetap membiarkan halaman pada bukunya terbuka. Bibirnya masih terkatup rapat, setelah berapa lama, ia menarik napas, menoleh kembali untuk betemu dengan kedua mata Toku.

"Besok pertandingan babak final." Kazuya akhirnya buka suara. Keluar dalam taraf rendah dan halus hingga terkesan seperti sedang membaca kalimat tak kasat mata yang melayang di atas kepala Toku.

"Final?"

"Turnamen Musim Gugur."

"Ah," Toku bergumam pendek. "Jadi sekarang sudah sampai final?"

Kazuya mendengus, lekas melempar seringai. "Ayah terlalu keras bekerja sampai-sampai tidak menyadari waktu yang berlalu. Sungguh laki-laki menyedihkan"

"Hey!" Toku memekik spontan. Kenapa anaknya itu jadi semakin berani menantangnya? "Jaga bicaramu, Kazuya."

"Aku bicara jujur, oke? Ayah sendiri yang mengajariku untuk selalu jujur."

Toku mendengus gusar. "Kembalikan anakku yang manis dan lucu. Kau sudah menculiknya, dasar remaja mengerikan." Toku menghardik dengan nada gemas, tak menahan tangannya yang melayang begitu saja menuju helaian rambut coklat Kazuya dan mengacaknya asal.

"Ck, hentikan itu!" Kazuya berusaha menepis. Kebisaan lama itu mulai terkesan memalukan bagi usianya. Bukan berarti ia tidak suka juga, sebenarnya. "Aku bukan anak kecil."

Toku balas tertawa renyah, mengacak gemas sekali lagi sebelum menarik tangannya kembali. Meski jaringan otot di tubuh Kazuya masih belum terbentuk dengan sempurna, namun ia tak ragu bahwa anaknya itu sudah mampu mematahkan tulang hidungnya seandainya benar-benar marah.

"Jadi, ada apa dengan pertandingan finalnya?" Toku kembali membuka topik, mengabaikan Kazuya yang masih menggerutu sambil merapikan rambutnya.

Tiga detik berselang, jawaban Kazuya terbit. "Ayah bisa datang?"

Toku ganti menatap Kazuya lurus ke bola matanya. Ia bisa membaca kilatan pengharapan di sana, meski samar namun tak dapat ditepis adanya. Sudut hatinya berdesir ngilu. Ia tak pernah datang ke pertandingan Kazuya sebelumnya. Pekerjaannya tak pernah mengizinkan. Dan tahu-tahu saja saat ini Kazuya mengumumkan bahwa ia telah berhasil mencapai babak final. Rasa bangga dan sengatan perih menyulut hatinya secara bersamaan. Menyadarkannya, bahwa ia semakin jarang meluangkan waktu untuk berada di sisi Kazuya.

"Jam berapa?"

Kazuya berkedip. "Apa?"

Toku tersenyum tipis. "Jam berapa pertandinganmu?"

"Oh, jam sembilan."

Otak Toku berputar, karyawan baru akan datang ke bengkelnya sekitar pukul delapan. Sementara jarak antara rumah mereka ke stadium memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Tidak mungkin Toku melepaskan tanggung jawab urusan bengkel hanya setelah tiga puluh menit karyawan memulai pekerjaan mereka.

"Tidak usah merasa tertekan begitu." Kazuya berkata. Agaknya memahami dengan jelas wajah berpikir Toku. "Aku sama sekali tidak masalah kalau memang tidak bisa."

Toku menarik napas, membulatkan tekad. Satu tangannya beralih pada bahu Kazuya, memberi cengkraman cukup erat. "Ayah akan datang." Ia berkata begitu lugas, hampir seperti janji seandainya tak ada detak ganjil dalam jantungnya ketika mengucapkan.

Kazuya tertawa kecil. "Jangan membuat janji yang tak bisa Ayah penuhi."

Toku mengernyitkan alis tanda tak suka. "Pubertas benar-benar mengubahmu, ya? Sejak kapan kau berani ceramah pada ayahmu?"

Kazuya angkat bahu. "Setiap hal berubah seiring waktu. Itulah proses yang dinamakan kehidupan."

"Astaga," bahkan dia mulai bicara seperti petuah.

"Yah," Kazuya mendesah panjang, menatap Toku dengan dagu terangkat sombong. "Kecuali beberapa hal di antaranya." Matanya menatap Toku lurus-lurus. "Ada yang sama sekali tidak berkembang."

"Maksudmu, aku tidak berkembang?"

"Wah, aku tidak bilang begitu."

Toku berdecak kesal, namun sang anak justru mulai kewalahan menahan tawa. Sampai akhirnya mereka hanya tertawa lepas tanpa maksud yang pasti. Memecah keheningan malam dan membekukan aliran waktu yang menyisip di antara hembusan angin.

Setelah beberapa lama akhirnya Toku membuka suara. "Ayah akan datang."

Kazuya hanya menggelengkan kepalanya dari satu sisi ke sisi lain, lalu bangkit berdiri. "Tidak usah menjanjikan apapun." Ia berkata, membalikkan badan dan mengulet kecil. "Lebih dari itu, berhentilah merokok, dasar Pak Tua!" Ujung bukunya sukses mendarat di bahu Toku, dan sebelum Toku sempat protes atau mengomel, remaja itu sudah buru-buru tertawa dan berlari ke dalam rumah.

.

Toku tersenyum tanpa sadar mengigat kejadian itu. Nyaris satu bulan berlalu, tapi ingatan itu masih amat segar di kepalanya.

"Kenapa Ayah tersenyum seperti itu?"

Toku balas menatap Kazuya yang kini sedang mengeryit memandangnya. "Ayah sedang mengingat bagaimana bulan lalu kau merengek agar Ayah menonton pertandinganmu."

Alis Kazuya berkerut tak sepakat. "Aku tidak pernah merengek." Bantahnya.

"Kazuya, kau tak perlu malu jika memang ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama."

"Oh, ya? Dan coba lihat semua ini." Kazuya melambaikan tangannya ke atas meja. "Ayah bahkan menyiapkan makanan sebanyak ini untuk hari ulang tahunku. Ayah juga membeli kue padahal jelas-jelas tidak satupun dari kita berdua suka memakannya. Jadi, siapa sebenarnya yang ingin menghabiskan waktu lebih banyak?"

Toku berdecak, lebih memilih untuk membuka kaleng birnya daripada melayani ocehan menyebalkan sang putra yang kini terkekeh puas. "Aku mulai takut ibumu akan menuntutku di surga karena tidak berhasil mendidik anak dengan baik."

"Oh, kedegarannya menarik! Aku penasaran apa Ibu akan menjewer telinga Ayah?"

"Sudahlah!" geram Toku akhirnya. "Cepat tiup saja lilinnya dan kita bisa mulai makan. Jangan lupa buat permohonan. Meski aku tahu permohonanmu selalu sama. Kau ingin tumbuh tinggi, kan?" Godanya, sukses membuat wajah Kazuya memerah.

"Terserah." Kelakar remaja itu, kemudian memejamkan mata dan merapal doa sebelum meniup lilin berbentuk angka 14 di atas kuenya.

Toku tersenyum segera setelah api pada. "Selamat ulang tahun, Kazuya."

Kazuya balas menyeringai. "Ayah akan merindukanku tahun depan saat aku menghabiskan hari ulang tahunku di asrama."

"Ah, benar juga. Jadi tahun depan kau sudah SMA, ya?"

Kazuya menghela napas panjang. "Aku mulai khawatir Ayah tidak mengenali wajahku saat aku pulang nanti. Ayah benar-benar terlalu sering berhadapan dengan mesin!"

"Kazuya, makan saja kuemu."


FIN


a/n: saya rasa jarang ada yang menggambarkan hubungan Toku dan kazuya sebagai pasangan ayah dan anak yang dekat, hehe. Jadi saya coba buat bikin, walau kayaknya malah jadi ooc sih, tehe.