Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji
Palette © Aiko Blue
Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini
.
didedikasikan untuk #MiyukiBirthdayParty #御幸一也生誕祭2020 #DaiyafessMiyukiFanficAU
Tak ada lagu dalam hujan November
Selain diksi di ujung pena yang coba kutuang dalam lembaran-lembaran kertasku
Kupinjam ingatan tentang senyummu dari tanggal-tanggal pada kalender tua, pada kenangan kita
Kutulis ulang, kukenang-kenang, sembari menggigil dalam rindu
Adalah sepenggal sajak yang Eijun tulis tiga tahun lalu ketika mereka berdua harus berpisah selama enam bulan penuh akibat pekerjaan masing-masing. Kazuya ingat terbangun pada jam tiga dini hari dan mendapati satu pesan masuk dari Eijun berisi kalimat-kalimat romantis itu di ponselnya.
Kazuya perlu berkedip beberapa kali untuk memastikan bahwa ia tak salah lihat. Pasalnya, tak peduli betapa hebat seorang Sawamura Eijun dalam berpuisi, pria itu tak pernah satu kalipun mau menulis untuk Kazuya, atau juga tentang hubungan mereka.
Kita sama-sama bukan orang yang terbiasa bersikap romantis—adalah bagaimana Eijun membela diri ketika satu kali Kazuya pernah memintanya menulis puisi cinta. Dan Kazuya mampu menerima itu dengan mudah, ia paham hubungan mereka tidaklah seperti itu.
Barangkali empat baris kalimat yang ia terima tiga tahun lalu akan menjadi satu-satunya karya yang Eijun ciptakan untuknya. Pria itu terlalu sibuk menulis untuk seisi dunia, meneriakkan keadilan dan menodai reputasi baik nan memuakkan. Sawamura Eijun tak punya waktu untuk menulis sajak romantis bagi kekasihnya sendiri.
...
Sudah terlalu tipis, Eijun membatin selagi matanya mengamati kaus putih yang kini melekat di tubuh Kazuya. Kazuya sendiri sedang sibuk menorehkan kuasnya di atas kanvas. Mata Eijun menyapu figurnya dari belakang, mengamati tiap sapuan dari kuas yang terbuhung ke jari-jari, meliuk di siku, sampai ke bahu, dan tertarik ke belikat.
Eijun hanya berdiri di sana bersama secangkir kopi di tangannya. Tiga langkah di balik punggung Kazuya, mengabaikan waktu, mengabadikan pesona Sang Pelukis. Terkesima dengan cara Kazuya memadukan setiap warna, menghubungkan tiap garis dan lengkungan, membentuk bayang-bayang, menimpa satu warna dengan warna lainnya hingga menghasilkan efek yang berbeda, segalanya begitu menakjubkan.
Cara Kazuya menatap kanvasnya, memperhitungkan komposisi, mengambil langkah mundur sedikit atau ke samping hanya untuk memastikan bagaimana lukisannya terlihat dari sudut-sudut tertentu. Eijun tak pernah benar-benar bisa memahami semua itu. Tapi saat melihat senyum bahkan juga seringai puas terpatri di bibir Kazuya, Eijun tahu pasti; bahwa bagi Kazuya, lukisan itu sempurna.
"Kopimu." Eijun berkata saat akhirnya berjalan mendekat.
Kazuya menoleh, melempar sebongkah senyum miring yang cukup nakal. Kemudian pria iu meletakkan palet dan kuasnya, meraih serbet untuk mengapus cat basah yang menempel di tangannya. Walau sebenarnya upaya itu tak terlalu berhasil, cat-cat itu terlanjur mengering, tercoreng menjadi beragam warna yang menghias telapak tangan sampai ke kulitnya yang kecoklatan.
"Trims." Kazuya menyahut, dan mengambil alih cangkir kopi dari tangan Eijun. Jamarinya dengan sengaja menyapu permukaan kulit Eijun main-main. Eijun memberinya tatapan galak, meski sebenarnya tak benar-benar menolak.
Sementara Kazuya mulai meminum kopinya perlahan-lahan, perhatian Eijun kini sepenuhnya jatuh pada lukisan yang sedang Kazuya kerjakan. Menilai dari bagaimana gambarnya tampak lebih nyata, serta warna-warna yang sudah tegas, Eijun menduga lukisan itu hampir selesai.
Pada umumnya setiap lukisan memang megandung dinamika yang hebat, baik tata warna maupun komposisi yang bebas dan energetik; ditambah dengan ungkapan yang hidup, serta makna yang tersirat di dalamnya. Akan tetapi lukisan-lukisan Kazuya selalu terlihat lebih, mengesankan seolah-olah ada mahluk yang hidup dan bergerak di dalamnya.
"Kau suka?" Tanya Kazuya ringan, pria itu sudah kembali memandang pada kanvasnya. Senyumnya menukik miring ke sisi kiri, sepasang mata karamelnya memancarkan cahaya yang berbeda. Kepuasan, harsat, suka cita. Andai Kazuya tahu betapa seksinya dia terlihat saat sedang seperti itu. "Kali ini aku membuatnya agak berbeda dari lukisan-lukisanku sebelumnya."
Alis Eijun terangkat tipis. "Berbeda?"
"Mm, kupikir sudah saatnya keunggulan bentuk-bentuk konvensional neoklasikal yang sangat teliti digantikan oleh pencapaian-pencapaian yang lebih kasar."
Eijun selalu mencoba meresapi setiap makna dari kata-kata yang Kazuya gunakan untuk mendeskripsikan lukisannya. Beberapa di antaranya bisa diterjemahkan dengan mudah, yang lain kadang terlalu sulit ditangkap olehnya. Kazuya bicara dengan kuas dan warna, sementara Eijun terjebak dalam tinta dan diksi. Mereka sering tak sepakat terhadap segala sesuatu, tetapi mampu bertahan dan tetap menghargai bentuk keindahan bidang masing-masing.
"Lukisanmu kali ini terlihat liar." Eijun berkomentar, mengerutkan kening pada sesosok perwira dalam lukisan yang menunggang kuda di antara tumpukan mayat, api, darah, juga panji-panji yang sobek. Mata Sang Perwira menyala dalam warna kuning seperti lampu neon, ekspresinya keras, dan wajahnya tercoreng darah serta jelaga. Ada kegilaan dalam ekspresinya, senyum tak masuk akal di mulutnya yang terbuka, dan kengeringan di deretan giginya. Semakin lama dilihat, Eijun semakin merasa bahwa Sang Perwira justru menikmati saat ia berdaa di tengah mayat-mayat dan kekacauan. "Agak mengerikan."
Kazuya terkekeh geli, bergerak mendekat hingga bahunya menyikat bahu Eijun. Kazuya berbau seperti cat kering dan kopi, binar di matanya menghangat seperti jilatan api yang membakar tungku perapian. Gairah itu… Kazuya hanya memakai tatapan yang sama pada dua hal.
"Bukankah kau suka sesuatu yang seperti ini? Lebih bebas, liar, penuh energi yang berisi perlawanan serta hal-hal menakutkan? Puisi-puisimu, Eijun, bukankah kebanyakan juga seperti ini?"
"Aku tidak menulis puisi yang mengerikan, Miyuki Kazuya. Aku menulis untuk melawan ketidakadilan, memberontak terhadap segala hal yang mapan."
"Ya, kau dan semua kata-kata yang berani itu." Kazuya balas menyeringai. "Tapi aku lebih suka kau menulis puisi secara khusus untukku, sesuatu yang romantis seperti tahun lalu saat kau merindukanku."
"Berisik!"
Kazuya tertawa geli, meletakkan cangkir kopinya di meja. Selanjutnya, pria itu meraih tangan Eijun, menggengamnya hangat sampai Eijun balik menatapnya. "Maaf," Suara Kazuya melembut, ibu jarinya mengusap permukaan kulit Eijun dengan cara yang membuat hatinya meleleh. "Akhir-akhir ini aku sepertinya terlalu sibuk melukis."
Eijun balas tersenyum. "Aku juga sering mengabaikanmu saat sedang menulis."
"Ya, tapi tetap saja." Kazuya meringis. "Seharusnya aku meluangkan waktu khusus untukmu, terutama hari ini."
"Nah, sejujurnya aku lebih suka kau lebih dengan lukisanmu hari ini. Karena aku punya firasat kau pasti akan minta ini-itu seandainya menghabiskan waktu denganku. Kau selalu memakai hari ulang tahunmu sebagai tiket untuk minta apa saja."
Kazuya tertawa renyah, renyah sekali. Ia meremas tangan Eijun selagi menatap lekat ke matanya. "Aku akan menagihnya begitu menyelesaikan lukisan ini. Untuk sekarang, bagaimana dengan sebuah ciuman?"
Eijun memutar mata, tapi tidak menolak saat Kazuya membelai pipinya, meraih tengkuknya lalu maju untuk mencium bibirnya. Matanya telah terpejam saat ia merasakan satu tangan Kazuya menahan lehernya. Kazuya melumat bibirnya dalam gerakan yang begitu menghipnotis. Tangan Eijun terangkat untuk menangkup wajah Kazuya. Suaranya teredam ketika Kazuya menggerakkan ibu jarinya untuk membelai tonjolan jakun di leher Eijun.
Tubuh mereka menempel seerat bibir mereka saling berbagi. Penuh kehausan dan hasrat yang tak terbendung. Ciuman itu berubah panas, rapat, dan menagih. Mereka saling melumat. Tak bisa memutuskan mana yang lebih penting antara mengambil napas atau berusaha meraup bibir satu sama lain. Tidak mengenali lagi jantung siapa yang berdentum-dentum di dada masing-masing. Mereka melupakan segalanya, dan memlih untuk hanyut tergilas ciuman panjang.
Ciuman itu berakhir ketika Kazuya menarik diri dari Eijun dengan napas bergetar di mulutnya. Eijun menelan ludah, menyempatkan diri untuk menyelipkan secarik kertas yang ditarik dari sakunya ke telapak tangan Kazuya sebelum kemudian mengecup pipi pria dan berbisik, "Hadiah kecil untukmu." Lantas ia memilih untuk mundur, menjauh, dan masuk ke dalam kamar demi memberi Kazuya waktu untuk menyelesaikan lukisannya.
Namun tak sampai lima menit, Kazuya langsung menyusulnya. Mendekapnya dari belakang dan bicara tepat di ceruk lehernya. "Kau licik, Eijun. Menurutmu aku bisa fokus melukis setelah membacanya?"
Eijun tertawa dan perlahan mulai berbalik untuk membalas pelukan Kazuya. Bersama, mereka berdua tenggelam dalam badai kasih sayang dan gairah. Sementara di ruangan lain, secarik kertas tergeletak, terbuka ke udara, berisi baris-baris kalimat yang ditulis dengan tinta hitam pekat:
melukislah sesukamu, berkaryalah sebanyak yang kau mau
teruslah tenggelam bersama jutaan sketsa hitam-putihmu itu
garis-garis samar yang kau untai dengan sepenuh jiwa sampai membentuk seni yang indah
aku tidak keberatan ketika bajumu kotor
tercoret cat sana-sini, sama sekali tak keberatan
asal aku bisa melihat binar hidup di matamu, jiwa api yang membara
ekspresi ceria di wajahmu, dan senyum puas di bibirmu
aku tak akan melarangmu melakukan hal-hal yang kau suka
meski aku berkali-kali harus cemburu
pada noda pensil di ujung jarimu,
pada cat-cat kering di tanganmu,
yang bahkan sesekali menempel genit di pipimu
mereka hanya benda mati
tapi seringkali berkesempatan hidup lebih dekat denganmu
dibanding aku
Sayangku, Miyuki Kazuya…
Selamat ulang tahun.
fin
a/n: entahlah ini apa, semoga masih masuk ke dalam tema :)
