Ace of Diamond /ダイヤのA© Terajima Yuuji
Sepeda © Aiko Blue
Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini
"Kita naik itu?"
Eijun menoleh ketika mendengar pertanyaan bernada ragu-ragu dari Kazuya. "Kenapa ekspresimu begitu?" Tanyanya spontan, pasalnya air muka Kazuya saat ini cukup terlihat ganjil di matanya. "Dan, benda ini namanya sepeda. Se-pe-da, bukan itu."
Kazuya menatapnya sebentar, lalu mendengus, memutar bola mata. Serangkaian ekspresi yang menampilkan sisa-sisa sifat jebolan aristokrat dan kesombongan khas kaum elit. Rupanya, untuk kebiasaannya memandang remeh itu memang sulit dihilangkan. Lalu mereka kembali bertatapan, Kazuya menatapnya dengan keras, menyampaikan secara implisit rasa keberatannya kalau harus naik sepeda. Sedangkan Eijun berusaha mati-matian mempertahankan egonya agar tak kalah saing. Kalau posisi mereka sedang di Tokyo, mungkin Eijun akan mengalah dengan senang hati, tapi mereka di Nagano! Demi Tuhan, apa pergi ke toko sembako saja harus naik Audi?
Kazuya memutus kontak mata lebih dulu. "Lupakan saja." Katanya lugas. "Ayo, naik mobil." Ia membalikkan badan, dan berniat masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil kunci mobil. Tapi Eijun cepat-cepat menahan tangannya, membuat Kazuya berbalik dan mata mereka kembali bertatapan.
"Heh, Miyuki Kazuya, si anak kota yang sombong!" Eijun berusaha sebaik-baiknya membuat suaranya terdengar seperti ejekan kelas satu. Sedangkan mata Kazuya mulai menampilkan sorot tak senang. "Apa kau sebegitu gengsinya untuk naik sepeda?"
Kazuya menepis tangannya. "Bukan begitu."
"Lalu apa?" Tantang Eijun, tangannya bersidekap di depan dada, dagunya terangkat. "Takut kepanasan?"
Kazuya berdecak. "Berhentilah berdeduksi dengan konyol."
Eijun menggeram tertahan. "Apa lagi kalau begitu, hah? Jarak yang akan kita tempuh tak lebih dari satu kilometer! Apa kau sebegitu cintanya pada mobilmu sampai-sampai ingin membawanya kemanapun kau pergi?"
Ada seling jeda beberapa detik sebelum Kazuya mulai terkekeh mendengar sarkasmenya. Pelipis Eijun berkerut negatif, sementara Kazuya kembali tersenyum menyebalkan, memandanginya dengan kepala miring dan seringai lebar di bibir. "Biar aku yang bertanya, Sawamura-kun. Jujurlah, kau mengajakku naik sepeda supaya kita bisa berboncengan sambil berpelukan, bukan?"
Bisakah seseorang merasa marah dan malu secara bersaamaan? Eijun sendiri tidak yakin, tapi kalau memang situasi itu memungkinkan, ia pasti sedang mengalaminya sekarang. Wajahnya mulai panas, sedang jantungnya berdentum ribut di balik sangkar iganya. Eijun bukan orang mesum yang berniat berpelukan di atas sepeda, tapi karena Kazuya terlanjur mengucapkannya, ia malah membayangkan hal itu jika sampai benar terjadi. Sama sekali tak baik bagi kerja jantungnya.
"Kau merona, Sawamura-kun~"
Persetan dengan Kazuya dan nada suaranya yang menjengkelkan juga tatapan mata penuh kemenangan itu. Persetan karena meski sedang menyeringai jahat ia tetap terlihat tampan dan mempesona. Persetan, kenapa Eijun harus jatuh hati pada iblis ini?
"Berisik!" Eijun berusaha membentak sekasar mungkin, ia mengambil napas. Lalu melirik ke arah pintu gudang, dan kembali memandang Kazuya lekat. "Kami punya lebih dari satu sepeda. Kita tidak akan berboncengan, jadi hentikan pemikiran kotor itu dari kepalamu, Kazuya-teme!"
Selama sepersekian sekon lamanya, Eijun sempat merasa kalau Kazuya tak berkutik dan berusaha berpikir. Tapi sejurus kemudian pemuda itu kempali tersenyum miring, menggeleng. "Tidak, kita naik mobil saja."
"Koso Teme! Sebenarnya kau itu kenapa? Berhentilah bersikap sombong!"
"Aku tidak sombong."
"Kau sombong!" Tuding Ejun berkeras. "Kau orang paling sombong di muka bumi!"
"Sudah ku bilang bukan begitu, Eijun."
"Kau dulunya anak bisbol! Kenapa kau sekarang takut kepanasan?!"
Kazuya menghela napas, mencoba sabar. "Sudah ku bilang bukan itu masalahnya. Kenapa kita selalu ribut karena masalah sepele begini, sih?"
"Karena kau yang mulai! Kau selalu mendebatku dalam tiap keadaan! Kau benar-benar tidak mau menghargai ideku!"
"Eijun, dengar—"
"Kau hanya suka mengendalikan segalanya! Termasuk aku—"
"Eijun—"
"Memangnya kau pikir aku ini boneka—"
"AKU TIDAK BISA NAIK SEPEDA!"
Setiap kata maki yang semula siap meluncur keluar, kini tertahan kaku di bibirnya. Kazuya bernapas terengah, matanya menampilkan sorot kesal, sedang rahangnya mengatup kaku. Eijun melongo, berkedip, berpikir, mencerna kembali. Aku tidak bisa naik sepeda. Aku tidak bisa naik sepeda, katanya? Seorang Miyuki Kazuya tidak bisa naik sepeda? Apa itu masuk akal?
"Kazuya, jangan bercanda."
Kazuya membuang napas kasar. "Aku tidak bercanda. Aku memang tidak bisa naik sepeda, kau puas?"
Informasi ini terlalu kocak dan terasa absurd sampai-sampai Eijun lupa untuk tertawa. "Bagaimana bisa kau tidak bisa naik sepeda? Anak umur lima tahun saja bisa."
Kazuya memberinya tatapan tersinggung. "Saat pertama kali belajar naik sepeda, aku meluncur jatuh dan tercebur ke dalam kolam renang di rumahku. Aku nyaris mati tenggelam. Dan karenanya, ayahku marah besar lalu mematahkan sepeda itu dengan tangannya sendiri. Sejak saat itu sepeda adalah barang haram."
"Hah?!" Hanya sebatas itu yang mampu Eijun katakan. "Tunggu, tunggu, tunggu… Kau jatuh ke kolam renang, tenggelam dan hampir mati." Ia menyimpulkan. "Logikanya juga seharusnya kau tidak diperbolehkan berenang lagi, bukannya tidak boleh naik sepeda."
"Tanya ayahku sana."
Kali ini Eijun tertawa. Geli memegangi perutnya. Ia membayangkan Kazuya kecil cemberut dengan seragam rumah sakit dan menelan bulat-bulat rasa kecewanya karena tidak lagi diizinkan belajar bersepeda. Tapi kemudian Eijun berhenti tertawa ketika menyadari sebuah fakta lain di baliknya. Dulunya ayah Kazuya begitu peduli dan sangat menyanyanginya. Seorang ayah yang mematahkan sebuah sepeda karena telah membuat Kazuya celaka, pada akhirnya juga menjadi seorang ayah yang dengan tega mematahkan mimpinya.
Eijun buru-buru menggeleng untuk menepis pemikiran muram itu. Ia berdeham keki. Tersenyum kecil pada Kazuya dan berkata. "Tidak ada kata terlambat untuk belajar. Kau mau aku ajari sekarang?"
—o0o—
Mereka berakhir di sebuah jalan setapak yang sepi, diapit oleh petak sawah luas dengan padi hampir siap panen. Kazuya tidak mengerti mengapa ia bisa sepakat begitu saja ketika Eijun mengajukan diri untuk jadi tutornya. Ia mungkin bisa lebih dari sekedar mati tenggelam jika dibina oleh pemuda itu.
"Pelajaran dasar," Kata Eijun, suaranya terdengar sok menggurui, dan senyumnya lebar terkulum dengan bangga. "Cobalah kau berjalan sambil menuntun sepedanya. Posisi badanmu berada di sebelah kiri sepeda."
Kazuya mengernyit, Eijun menyerahkan kendali stang kepadanya. Kazuya menerima dan memandangi sepeda itu dengan skeptis. "Pentingkah itu?"
"Tentu saja penting." Sahut Eijun lugas, tersenyum lebar lagi. "Kau harus mempelajari bobotnya. Mengenal keseimbangannya. Biarkan tubuh dan syaraf sensorikmu bekerja dan menyatu dengan si sepeda."
Kazuya mendengus. "Bahasamu tinggi sekali." Ia berkata, namun tetap menuruti kata-kata Eijun dan memposisikan dirinya di sisi kiri sepeda. "Jadi bagaimana? Aku cuma harus menuntunnya?"
Eijun mengangguk penuh semangat. "Cobalah tuntun bolak balik sebentar, lalu berputar."
Kazuya menarik napas, membuangnya perlahan dan menuruti intruksi Eijun. Ia menuntun sepeda, membawanya berputar sementara Eijun mengamati dengan gaya berkecak pinggang yang lumayan angkuh. Andai matanya tidak berbinar cemerlang, dan cengirannya tidak selugu itu, Eijun pasti akan tampak seperti guru olahraga yang galak.
Setelah dirasa cukup, Kazuya kembali ke hadapan Eijun. "Sekarang apa?"
Eijun tersenyum ringkas. "Naiklah," Ia berkata, dan Kazuya mulai berpikir betapa kegiatan ini terasa memalukan baginya. "Duduklah di sadel, dan coba lektakkan kakimu di pedal."
Satu tarikan napas panjang, dibuang cepat melalui mulut dan Kazuya mulai duduk dengan ragu-ragu di sadel. Kaki kirinya naik ke pedal, sementara kaki kanan masih menapak tanah dan menjaga keseimbangan. Setelah mengambil napas dan menguatkan tekad, Kazuya menginjak pedal dengan kaki kanannya.
Dan sepeda tidak bergerak kemanapun.
Ia justru hilang keseimbangan dan nyaris mengasruk tanah andai tak sigap menurunkan kakinya dari pedal untuk memijak tanah. Kazuya merasa jantungnya nyaris copot, rupanya tubuhnya masih bisa mengingat sensasi trauma jatuh dari sepeda bertahun-tahun silam.
"Hey, bukan begitu!" Eijun membentak, lalu menarik stang sepedanya hingga kembali berdiri tegak.
Kazuya balas melotot. "Aku menjalankan semua intruksi yang kau berikan!"
"Kau mengayuh mundur, BAKA-zuya!"
Sabar, Kazuya. Sabar… tidak perlu marah atau berkecil hati, hanya dalam hal ini saja Sawamura Eijun lebih ungul darimu. Kazuya mencoba memasukkan kalimat-kalimat itu ke dalam otaknya guna mengendalikan emosi. "Oke, jadi bagaimana, Sawamura-sensei?"
Eijun menghela napas, dan menampilkan raut wajah berpikir sekilas kemudian melenggangkan bahu. "Kita cari landasan yang agak lereng untuk belajar meluncur."
Mereka berpindah tempat. Tidak terlalu jauh dari tempat awal, namun kali ini jalan sedikit menurun, mereka berdiri di puncak. "Kau akan meluncur ke bawah. Tidak perlu mengayuh dulu, yang penting letakkan kakimu di pedal dan jaga keseimbangan."
Kau akan meluncur ke bawah. Kazuya mengulang kalimat itu dalam benaknya dengan ngeri. Ia menelan ludah memandangi landasan menurun di depannya. Bagaimana bisa ia meluncur di atas dua roda dan tidak jatuh atau hilang keseimbangan lalu berbelok ke sawah berlumpur?
Satu tepukan kuat di balik bahunya membuat pikiran Kazuya seketika buyar. Ia menoleh dan langsung disambut oleh senyum cemerlang Eijun. "Ayo, cobalah! Usahakan tidak patah tulang ya." Kata-kata yang sungguh memotivasi.
Kazuya mulai duduk di sadel. Namun ia masih belum meluncur, ia mencoba membaca situasi landasan di depannya. Kosong. Hanya jalan setapak yang diapit sawah, beberapa pohon berdiri rimbun di sudut-sudutnya. Ia mulai menganalisa, andai ia meluncur turun, lalu oleng, kemungkinannya ada tiga, menabrak pohon dengan hantaman keras, meyerempet ke jalanan, atau terbenam di dalam sawah penuh lumpur. Kazuya memilih terbenam di lumpur, setidaknya menjadi kotor dan bau mungkin lebih bagus daripada harus patah tulang lagi.
"Oi, tidak usah pakai insting Catcher-mu!" Eijun memperingatkan tegas. Kazuya melirik padanya, bagaimana bisa dia tahu aku sedang berpikir? Eijun memutar mata. "Tidak ada pemukul, tidak ada runner, tidak ada base yang terisi, kau hanya perlu meluncur dengan bahagia."
"Dengan bahagia." Kazuya mengulang. "Tolong jelaskan bagaimana caranya aku bisa meluncur dengan bahagia sementara kepalaku terus saja memutar gambaran horror saat wajahku mencium lumpur atau menabrak pohon?"
Eijun menarik napas dalam-dalam. Kazuya bisa mengerti bahwa Eijun sedang berusaha bersabar, tapi Kazuya bisa melihat Eijun mulai stress, terbukti dengan mata kirinya yang berkedut ketika mereka bertatapan.
"Oke, tidak apa-apa." Tegasnya. "Akan kucontohkan padamu kalau begitu." Ia berkata, lalu mengambil alih sepeda dari Kazuya dan duduk di sadel. "Perhatikan ini." Katanya menegaskan, Kazuya mengamati dengan ketelitian sejuta persen. "Posisi tubuhmu harus rileks, jangan kaku. Tatapan mata ke depan, tangan tetap pada stang untuk menjaga keseimbangan, rasakan bobot sepedanya, dan satukan pikiranmu dengan sepeda."
"Rileks. Ke depan. Menyatu dengan sepeda."
"Betul," Sahut Eijun. "Kaki kananmu harus berada di pedal bagian bawah. Lalu mulailah menjalankan sepeda dengan menjejalkan kaki kiri di tanah. Seperti ini." Ia menjejalkan kaki kirinya ke tanah untuk mendapat momentum, lalu mulai meluncur bebas tanpa hambatan. Ia meluncur dengan mulus, kaki kiri menggantung tanpa menginjak pedal, lalu mulai menapak pedal saat sampai di bawah. Lantas dalam gerakan kilat ia berbelok tajam seratus delapan puluh derajat seperti seorang atlet. Ia berputar dan mengerem dengan bunyi decit halus nan profesional. Sepedanya condong ke bawah, dan Kaki Eijun yang sebelah menapak ke tanah, satu kaki lainnya tetap di pedal. Rambutnya terhempas angin bak iklan shampo membuat keningnya terbuka. Pose yang mengesankan. Lalu ia mendongak untuk menatap Kazuya dan berkata. "Gampang, kan?"
Kazuya tersenyum sarkas. Ia menolak bertepuk tangan. Eijun mengayuh sepeda dan kembali ke sebelahnya. "Nah, giliranmu."
Kazuya kembali duduk di sadel. Menarik napas, mencoba rileks, ia memperbaiki letak kacamatanya sejenak, lalu mengumpulkan segenap tekad dan kesungguhan. Eijun berdiri di sebelahnya, sedikit membungkuk kemudian berkata. "Ini akan asyik, percayalah."
Kazuya mendenguskan senyum geli, ia balik menatap lekat mata emas Eijun dan berkata. "Cium aku kalau aku berhasil." Katanya tegas. Eijun mebeliak kaget, membuka mulut tapi Kazuya buru-buru mengintrupsi. "Di bibir." Eijun merona, Kazuya menyeringai. "Deep kiss."
Eijun gelagapan dan Kazuya merasa kepercayaan dirinya naik, kaki kanannya menginjak pedal dengan posisi di bawah, sedang kaki kiri mengambil ancang-ancang. Satu tarikan napas, Kazuya mulai meluncur.
Selama tiga detik, Kazuya lumayan percaya diri. Angin mendesing di telinganya. Tubuhnya terasa rileks dan luncurannya ringan. Kemudian roda bagian depan tergelincir kerikil, stang oleng, ia panik, arah luncuran mulai kacau, tubuh Kazuya kaku dan bergerak berlawanan dengan sepeda. Kazuya yakin ia sempat mendengar Eijun berteriak menjeritkan namanya, sebelum ia jatuh menghantam tanah berlapis rumput di pinggir jalan dengan posisi wajah mendarat lebih dulu.
Kazuya meringis. Ia mencoba membaca kondisi, rasanya lututnya tergores, tapi tak ada luka serius. Kacamatanya miring, tapi tidak pecah ataupun retak. Eijun berlari ke arahnya, dan mengangkat sepeda, lalu mengulurkan tangan dan menariknya berdiri.
"Kau baik-baik saja?" wajahnya panik, matanya memindai Kazuya dari ujung kaki hingga ujung rambut. Tapi Kazuya hanya memberi cengiran usil. Eijun langsung menendang tulang keringnya, cemberut. "Kau menyebalkan!"
"Kau menggemaskan." Balas Kazuya culas dan iseng. Ketika Eijun melotot padanya, Kazuya justru cengengesan dan menggerakkan tangannya untuk mencubit pipi Eijun.
"Gwah! Saakiitt!"
Kazuya terkekeh lucu sebelum melepaskan pipinya, lalu menarik napas. "Ku rasa, kita bisa langsung belajar mengayuh. Bisa kau perlihatkan caranya?"
Eijun masih menggerutu sambil mengusap-usap pipinya. Lalu ia mendelik sinis sekali lagi, sebelum membuang napas panjang dan mengangguk, kemudian meraih sepeda. Ia duduk di atas sepeda, lalu mulai mengayuh dengan lihai, ia berputar-putar dengan sangat mudah, dan melirik Kazuya sambil tersenyum cerah.
"Ini asyik, kau tahu?" Eijun berkata. Dengan senyum cemerlang, skill bersepeda, rambut coklat lebat melambai tertiup angin, helai daun-daun kecil berterbangan di sekelilingnya, juga derai tawa yang renyah, dan sinar matahari menghujani tubuhnya, Eijun persis bintang vidoe klip untuk lagu-lagu ceria. Kazuya terpaku. Untuk ke sekian kalinya, ia menyadari betapa ia telah jatuh ke dalam pesona tak wajar seorang Sawamura Eijun serta dunia penuh warna yang dibawa pemuda itu ke dalam hidupnya yang monoton.
"Kazuya, perhatikan ini!" Eijun berseru, dan Kazuya cepat-cepat tersadar lalu memasang atensi penuh. Eijun nyengir lebar, dan mulai mengayuh dengan kedua tangan terlepas dari stang sepeda. Ia tetap bisa menjaga keseimbangan. Mengayuh dan melaju di atas dua roda tanpa beban. Ia menatap Kazuya sambil menengadahkan kedua telapak tangannya ke atas, mendelikkan bahu dan berkata. "Lihat? Enteng!"
Kazuya mendengus, memaksakan seulas senyum dengan enggan, dan mengangkat satu jempol setengah hati. Eijun tertawa ceria kemudian kembali menempatkan tangan di stang dan mengayuh ke arahnya. Mengerem tepat di depannya, lalu nyengir lebar. "Ayo, cobalah!"
Kazuya kembali mengambil napas dalam-dalam. Berdoa semoga Dewi Fortuna berbaik hati padanya. Sebelum menginjak pedal, ia kembali melirik ke arah Eijun. "Jangan lupa," ia berkata. "Deep kiss."
Setelahnya, Kazuya luput menghitung berapa kali ia terjatuh. Menabrak pohon atau mengasruk tanah. Berapa kali ia dan Eijun saling berteriak sampai akhirnya ia benar-benar bisa mengayuh dan menjaga keseimbangan di atas sepeda. Yang pasti, langit telah berubah jingga ketika Kazuya coba-coba melepas tangannya dari stang dan mengayuh dengan percaya diri sampai akhirnya ia hilang kesimbangan dan tercebur ke sawah berlumpur.
Eijun tertawa keras, tentu saja. Pemuda itu berdiri dengan dada membusung sombong di tepi sawah, menunjuk padanya dengan geli. Wajahnya merah karena tertawa keras, sedangkan Kazuya merasa sekujur tubuhnya lengket.
"Butuh waktu sampai kau bisa bersepeda sepertiku!" Seru Eijun ribut. "Astaga, Miyuki Kazuya, apa yang kau pikirkan memangnya sampai nekat lepas tangan begitu?" Ia kembali tertawa geli. "Semua ada prosesnya, Kazuya. Kau harus mulai dengan lepas satu tangan dulu, baru dua."
Kazuya menyingkirkan senoktah lumpur dari dagunya, lalu mengulurkan tangan ke arah Eijun. "Sudah puas? Bantu aku ke luar."
Eijun masih tertawa geli, tapi kemudian maju mendekat dan menyambut tangannya, saat itulah Kazuya memberi gaya tarik sebesar-besarnya dan membuat tubuh Eijun ikut limbung hingga berakhrir tercebur ke dalam lumpur.
"TEME!" Eijun membentak marah, wajahnya tercoreng noda lumpur, dan sehelai daun padi mencuat dari rambutnya. Kazuya tertawa keras.
"Kau lucu." Ia berkata. "Kau mirip bocah yang sedang main perang-perangan."
Eijun menerjang ke arahnya, menarik kausnya tapi Kazuya sudah siap. Ia mencengkram tangan Eijun kuat, membalikkan gaya dorong, mengunci pergerakan laki-laki yang lebih muda, dan menciumnya tepat di bibir.
Eijun mungkin sudah memekik kaget andai Kazuya tak mengunci bibirnya. Ciuman itu terlalu tiba-tiba, dan Eijun tak punya persiapan. Tapi Kazuya bergerak dengan lembut, mencoba membuatnya rileks, meletakkan satu tangan di balik pungungnya dan memberi usapan kecil. Napas Eijun terasa hangat, bibirnya lembab dan lembut seperti biasa, tubuh Eijun sekaku batang pohon. Kazuya memejamkan mata, membuai bibir Eijun dengan sentuhan lembut dan hati-hati sampai ia merasa Eijun tak lagi kaku. Saat napas Eijun mulai teratur, berubah rileks, dan membalas ciumannya, tangan Kazuya melepaskan cengkraman, membebaskan tangan Eijun, lalu bergerak ke tengkuknya, membuat wajah Eijun sedikit mendongak untuk memperdalam ciuman mereka.
Dan pelajaran bersepeda hari itu ditutup dengan beberapa ciuman mesra di bawah matahari terbenam.
Mereka pulang ke rumah dengan tubuh berlapis lumpur, sepeda kotor, dan cengengesan sepanjang jalan. Lupa sama sekali soal pergi ke toko sembako seperti yang diminta nyonya Sawamura.
see you next chapter…
a/n: terima kasih buat yang sebelumnya sudah mereview :* saya juga pingin bikin mereka nge-date cuma masih belum tau pasangan absurd ini cocokya kencan ke mana :v punya ide? Ayo berbagi saran di kolom review ^^
terima kasih sudah membaca, tinggalkan jejak yaa~
