Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji

Kissing Habit © Aiko Blue

Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini


Ciuman itu terlepas ketika Kazuya menarik diri. Ia membuka mata, menatap lekat wajah Eijun yang melayangkan ekspresi protes karena durasi ciuman mereka terlalu pendek. Harus diakui, ekspresi itu cukup menggemaskan, tapi Kazuya justru mendorong kening Eijun tegas ketika pemuda bermanik emas itu memajukan wajah untuk meminta ciuman lagi.

"Kau ini kenapa?!" Eijun mundur satu langkah, menatapnya dengan marah.

Kazuya balas tersenyum culas. "Kau yang kenapa, Eijun." Kata Kazuya. Tangannya kemudian bergerak, jarinya menunjuk tepat ke arah kepalanya sendiri. "Lihat ini," Pintanya, dan Eijun menurut meski masih terlihat sangat kesal. Satu detik kemudian, Eijun terbahak keras, mengamati sekacau apa rambut Kazuya. Memang, biasanya rambut Kazuya bergaya agak messy, tapi kali ini jauh lebih berantakan, seperti baru dihempas badai.

"Kau kelihatan baru kena tornado!" Sementara Eijun terkikik geli, Kazuya hanya merotasikan bola mata jengah.

"Yeah, bagus sekali. Jelas-jelas kau yang membuatku begini."

Eijun berhenti tertawa, menatap sengit. "Aku?!"

"Kau tidak sadar? Tanganmu selalu bergerak ke kepalaku setiap kita ciuman, dan bukan cuma itu, kau bahkan mengacak-acak rambutku."

Eijun berkedip lugu. "He?" Memiringkan kepala ke satu sisi seolah benar-benar tak terpikir dengan konklusi yang barusaja Kazuya katakan. "Benarkah?"

Kazuya menghela napas, merapikan rambutnya dengan jari. Sejak awal, dia memang memiliki tipe rambut yang sulit diatur, kesan berantakan meski sudah berkali-kali dirapihkan, dan kebisaan Eijun itu malah makin memperburuk kondisi. "Kau pikir aku berbohong?"

Eijun membeliak, kemudian menatap kedua tangannya sendiri dengan tatapan tak percaya. "Tidak mungkin."

Kazuya menyerah untuk merapikan rambutnya, kedua lengannya kini terlipat di dapan dada. "Itu benar." Kazuya meyakinkan. "Bahkan Kuramochi saja sadar." Ia mendengus kecil. "Tiap kali melihat rambutku berantakan dia akan berkata, bisakah kau ikat saja tangan Sawamura saat kalian berciuman? Melihat rambut kacaumu itu sungguh menganggu."

Kali ini Eijun terbengong memandangnya. Wajahnya shock mutlak, dan Kazuya tahu dengan pasti bahwa Eijun tidak akan pernah sadar jika Kazuya tak memberi tahunya. "Aku tidak keberatan dengan sentuhanmu." Kata Kazuya lagi, ia harus memilih kata-katanya dengan hati-hati. Karena meski kekasihnya itu bodoh, ia bisa jadi sangat sensitif jika Kazuya salah bicara. "Tapi serius, Eijun. Kau kadang juga harus lihat situasi. Aku harus presentasi setengah jam lagi, dan gaya rambut seperti ini sama sekali tidak membantu."

Kazuya hanya menghela napas selagi melihat wajah Eijun berkerut dalam, tanda bahwa pemuda itu sedang berpikir serius. Kazuya sendiri menyadari kebiasaan ini sekitar dua bulan setelah mereka resmi berpacaran. Sebenarnya Kazuya tidak masalah Eijun menyentuhnya, malah Kazuya mengaggapnya cukup manis. Tapi seperti yang sebelumnya ia katakan, bahwa kadang harus sadar situasi. Dua minggu lalu, ia terpaksa presentasi di depan kelas dengan rambut kacaunya. Dan sepanjang presentasi Kazuya tidak bisa lari dari tatapan semua orang yang memandangnya geli akibat gaya rambutnya. Bahkan selesai presentasi, sang Professor memberinya tatapan geli seraya berkata, Seperti biasa, Miyuki, kau selalu mengesankan. Tapi sedikit saran, gaya rambut itu terlihat konyol untukmu. Praktis, ia ditertawakan satu kelas.

Eijun akhirnya menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia menegakkan kepala dan menatap lurus ke mata Kazuya. "Oke." Ia berkata bulat. Tegas seperti hakim. Membuat Kazuya justru menyipit curiga. "Sudah diputuskan. Kita tidak akan ciuman lagi kalau tidak hari libur."

"Hah? Apa?"

"Aku sendiri tidak sadar kapan tanganku mulai bergerak mengacak-ngacak rambutmu. Jadi, mau dicegah bagaimanapun juga susah. Apalagi aku sama sekali tidak bisa berpikir lurus saat kita berciuman. Jadi, cara paling efektif adalah tidak usah ada ciuman."

Kazuya mengangkat tangannya, menggeleng tidak mengerti dengan keputusan Eijun. "Tunggu, tunggu, kenapa jadi begini?"

Eijun menatapnya cemberut. "Lalu mau bagaimana? Kau serius mau mengikuti saran You-chan untuk mengikat tanganku? Memangnya kau pikir ini Fifty Shades of Grey?"

Kazuya berkedip. Sekali, dua kali, tiga kali. "Aku hanya bilang kau harus perhatikan kondisi, Eijun. Dan kenapa kau bisa tahu Fifty Shades of Grey? Dengan siapa kau menonton film itu?"

Tapi Eijun justru melempar pandangan ke arah lain, rahangnya memerah selagi bibirnya mengerucut lucu. "Tidak penting aku nonton dengan siapa. Pokoknya solusi terbaiknya cuma satu. Jangan ciuman. Titik."

Kazuya merasa seluruh tulangnya berubah jadi jelly. Ia tidak bisa mengeluarkan kalimat apapun, sedangkan Eijun kini bersidekap di depannya. Berdiri tegak dengan mata tak tergoyahkan. "Kita libur Sabtu dan Minggu. Tapi kau sendiri bilang masih ada urusan dengan dosen hari Sabtu. Dan aku akan berangkat ke Osaka untuk acara Jurusanku pada Minggu pagi. Karena sekarang hari Senin, maka kita baru boleh ciuman lagi sekitar... sebelas hari dari sekarang."

Glek.

Sebelas hari.

Sebelas hari, katanya?!

"Kalau begitu masalah selesai." Kata Eijun ceria. "Selamat presentasi, Kazuya. Semoga berhasil!" kemudian ia pergi begitu saja, masih dengan tawa kekanakan dan wajah riang seperti biasa, sama sekali mengabaikan Kazuya yang berdiri terpaku di tempat.

.

see you next chapter..


a/n: gomen, saya tahu harusnya mereka kencan di chapter ini :" tapi jujur aja saya gak nyangka kalian punya beragam ide perihal mereka kencan, sampai saya bingung mau ikut ide siapa/alesan kamu! Jadi, selagi saya dilema, mohon bersabar, episode kencan akan menyusul di chapter-entah-berapa, tunggu aja *kabur menjauh*