Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji

kimi ga iru nara © Aiko Blue

Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini


Sejak awal, Eijun tahu bahwa mencintai Miyuki Kazuya bukanlah perkara yang mudah.

Sudah kuputuskan

Kalimat sederhana itu bertengger manis di layar ponselnya. Dua kata, tanpa kalimat pembuka, penjelas, apalagi penutup. Jika selera humornya sedang bagus, barangkali ia akan membalas pesan itu dengan kalimat-kalimat konyol seperti, Memutuskan apa? Untuk megobati keperibadian absurdmu itu ke psikolog? Tapi entah mengapa, ketika sepasang matanya menemukan kalimat itu, otaknya bekerja melambat, waktunya tidak lagi berputar, dan napasnya berhenti, mejauh dari paru-parunya selama beberapa sekon yang terasa abadi. Selera humornya memudar.

Ia hanya diam. Membaca kalimat itu berulang-ulang.

Sawamura Eijun, di antara detak-detak jam yang membunuh, juga layar ponsel yang telah berkedip padam karena terlalu lama tak mendapat respon, mendadak merasa kosong. Tersesat dalam labirin yang tak ia mengerti datang dari mana. Gumpalan besar yang menyumbat kerongkongannya, tembok tebal menyekat ruang paru-parunya. Ia memejamkan mata sesaat, menarik napas panjang, dan segera mengetik dengan cepat.

Omedetou! Tim mana yang kau pilih?
Kapan berangkat?

Kata-kata itu tulus, sungguh. Namun ia tak akan menampik bahwa ada kepedihan yang berbaur janggal dengan rasa tak rela di dalamnya. Dan tiap detik itu terasa lama sekali sampai ponselnya kembali berkedip dan bergetar, membawa pesan yang sejatinya membahagiakan namun mematahkan hatinya hingga ribuan keping.

New York Yankees
Aku berangkat bulan depan
kita punya satu bulan tersisa, kemana kau ingin kencan?

Dan ajakan kencan itu hadir sebagai pembuka—sebuah gerbang menuju hubungan jarak jauh yang harus mereka lalui. Entah sampai kapan.

.


.

"—Kazuya? Apa-apaan kau… ugh, geli.."

Kazuya bernapas di tengkuknya, memeluknya dari belakang, tangan kekar itu melingkar erat di pinggang dan perutnya. Napas hangatnya menggelitik sebelah telinga Eijun dan bibirnya yang terasa agak dingin menyapu di sekitar kulit sensitifnya.

Kazuya meniupkan udara dari mulut ke kulitnya, membuat Eijun merinding. "Geli!" Ia memprotes, meremas tangan Kazuya erat-erat dan berusaha melepaskan diri. Tapi sebagain kecil dari dirinya mulai bereaksi atas sentuhan mengoda Kazuya.

"Hei, aku banyak PR! Dan kau harus mandi—hhaaah…"

Lidah Kazuya yang hangat menyapu area paling sensitif di lehernya, lalu mengecup lama, dan berlanjut menggigit ujung cuping telinganya dengan godaan ringan tapi tak tertahankan.

"Serius, Miyuki Kazuya! Aku tidak punya waktu—"

"Tinggal satu minggu." Potong Kazuya telak. Suaranya terdengar serak dan kaku. "Tinggal satu minggu." Kazuya mengulang, gamang.

Eijun tak bergerak. Mendadak merasa takut, gelisah, kecemasan tak berdaya. Ia tahu satu minggu yang dimaksud adalah hitungan Kazuya untuk menantikan sesuatu, sesuatu itu amat penting, dan buah dari yang dinanti itu bisa jadi adalah sebuah kebahagiaan tak terkira bagi seorang Miyuki Kazuya... juga perpisahan bagi mereka berdua. Untuk poin yang pertama, Eijun bisa ikut bahagia, sementara poin kedua… ia tak yakin.

"Kita hanya punya satu minggu sebelum aku terbang ke Amerika, Eijun. Berikan semua waktumu untukku. Aku memaksa."

Eijun menekan bibirnya menjadi garis keras. Tiba-tiba merasa jengkel karena Kazuya justru melisankan ketakutannya hingga terasa kian nyata. Eijun berusaha bernapas normal, cengramannya pada Kazuya berubah menjadi genggaman penuh sokongan sekaligus meminta sandaran. Kazuya membalikkan tubuhnya, memaksa mereka berhadapan tanpa melepaskan pelukan. Kazuya menatap lurus ke matanya, tajam, posesif, dan penuh kuasa. Eijun tak akan mampu lepas dari sepasang mata coklat karamel yang telah menjeratnya selama bertahun-tahun itu, tidak ketika Kazuya dengan sengaja maju, mendekatkan wajah, memejamkan mata, lalu mengunakan lidahnya untuk menjilat bibir Eijun dengan pesan kuat ingin memonopoli. Lalu ia mundur sedikit untuk memberi jarak tipis, sebelum berbisik di atas bibirnya.

"Eijun…"

Eijun membuang napas, menyerah. Ia mengalungkan kedua tangannya di leher Kazuya lalu menarik pemuda itu lebih dekat. "Persetan dengan PR-ku yang menumpuk! Cium saja aku dan lakukan apapun yang kau mau!"

Kazuya megulas senyum, dan sebuah ciuman panas menjadi awal dari kegiatan intim mereka hari itu.

.


.

Mereka bilang sejauh-jauhnya jarak, adalah yang tidak mampu lagi dijangkau ingatanmu. Tapi Eijun masih bisa mengingat semuanya. Dengan sangat jelas. Ia masih bisa mengingat tatapan matanya, aroma Kazuya, dekapannya, telapak tangan kasar pemuda iu ketika menyangga tengkuk dan rahangnya selagi ia menarik bibir Eijun ke mulutnya untuk berciuman. Deru napasnya yang berat, mengaung di telinganya, jaringan otot di lengan dan bahunya, tarikan serta dorongan kuat dan penuh gairahnya tiap kali mereka bercinta, juga kulitnya yang akan mengkilap karena keringat tiap kali mereka bermain tanpa henti sepanjang malam.

Eijun bisa mengingat semua itu, tapi jarak tak berubah. Kazuya tetap jauh. Terpisah samudera dan benua darinya. Terpaut perbedaan zonasi waktu. Dan terbengkalai oleh kesibukannya mengejar mimpi dan ambisi. Membuat komunikasi di antara mereka kerapkali terbunuh oleh pukulan home run yang berupaya Kazuya masukkan sebanyak-banyaknya untuk mengisi statistik profilnya.

.


.

Dua tahun setelah keberangkatan Kazuya, akhirnya mereka punya waktu untuk bertemu kembali. Tak banyak, hanya sepanjang sisa musim dingin. Kazuya benar-benar mengurung Eijun dalam belengu cintanya. Membatasi ruang gerak pemuda itu agar tak terlalu jauh dari jangkauannya. Menandai sekujur tubuh Eijun dengan ciuman dan gigitan tanpa ampun untuk membayar ratusan hari dimana ia tak bisa memandangi tubuh sang kekasih.

Eijun tak menolak. Ia membiarkan dirinya terjerat, terperangkap dan terjebak bersama sangkar yang Kazuya ciptakan untuknya. Mengikatnya di bawah kuasa rindu dan hasrat tak ingin melepaskan barang beberapa jam saja. Meski Kazuya tahu, sekeras apapun ia berupaya mengurung Eijun di pelukannya, kebersamaan mereka tetap akan menjumpai garis yang memaksa mereka kembali terpisah.

Dan malam ini adalah puncaknya.

Malam terakhir Kazuya berada di Jepang sebelum besok pagi berangkat kembali ke Amerika. Eijun berbaring memunggunginya. Pemuda itu seolah berupaya membangun spasi sejauh mungkin dari Kazuya, ia tidak tidur memeluk Kazuya seperti malam-malam sebelumnya, ia bahkan menghindar habis-habisan sepanjang hari. Meolak menatap matanya, bicara singkat dan seperlunya, berubah dingin begitu bangun tidur. Kazuya hanya menghela napas berat sambil menahan gejolak maskulinitas-egoismeyang menggebu dalam dirinya.

Kazuya menatap punggung ramping Eijun dengan perasaan tak tentu. Sampai kemudian ia menarik napas panjang, membuangnya cepat. Lalu mulai maju dan mendekat, memeluk Eijun dari belakang, dan menempelkan wajahnya ke tengkuk pemuda itu.

"Eijun," Bisik Kazuya pelan, mengeratkan dekapannya untuk menghalau segala jarak yang sebentar lagi akan bertambah, kian melebar, penuh asa. "Kau tidak mau memelukku, hm?"

Eijun tak memberi respon apapun sampai dua menit berlalu. Membiarkan pertanyan Kazuya mengantung kesepian di tengah-tengat detikan jarum jam. Kemudian, Eijun menggelengkan kepala. Sebuah reaksi kecil berupa jawaban, Tidak. Aku tak mau memelukmu.

Kazuya menghela napas, sel neuron dalam otaknya berusaha mencari-cari ingatan apakah seharian ini ada tindakan khusus yang membuat Eijun marah padanya. Tapi tidak ada, Eijun sudah seperti ini bahkan saat pertama kali Kazuya bangun dan membuka mata.

"Kau kenapa, Eijun?"

Dan Kazuya menyerah untuk menebak. Adalakanya Eijun terlampau sulit diterjemahkan.

Kazuya bisa merasakan punggung Eijun bergerak seiring tarikan pada diagfragmanya yang mengembang. Tanda bahwa pemuda iu sedang mengambil napas dalam-dalam, lalu ia diam, mengambil jeda beberapa waktu yang tiap milisekonnya membunuh Kazuya dalam lautan kegelisahan.

"Aku tidak ingin melihatmu." Eijun berbisik kecil, Kazuya mengatupkan bibir rapat. "Dan aku tidak ingin kau melihat wajahku." Suaranya terdengar setajam kaca yang pecah.

"Karena saat kita berhadapan dan memandang satu sama lain, aku pasti akan langsung menangis—teringat ini malam terakhir kita sebelum berpisah lagi." Kazuya membeku. Tak tahu harus melakukan apa. "Aku tidak mau kau melihatku menangis." Suaranya keluar dalam bentuk bisikan lemah yang dipaksa kuat serta ikhlas, tapi Kazuya bisa mendengar semua kepedihannya.

"Kita masih bisa bertemu lagi." Kazuya berjanji. Berusaha keras terdengar yakin, tapi suara yang muncul justru cekatan pilu di tenggorokan.

"Ya, tapi tidak tahu kapan pastinya." Desis Eijun.

Kazuya tidak bisa membantah. Ia berpikir, tapi otaknya macet. Perasaan sendu dan melankolis Eijun menular cepat dan merambati hatinya. Sesak. Andai bisa, ia tentu ingin menghentikan waktu. Menjadikan malam ini sebagai malam abadi. Tanpa matahari terbit. Tanpa tanggal di kalender yang bergulir. Tanpa esok hari. Tanpa perpisahan…

Tapi ia tidak bisa.

Maka Kazuya menarik napas, menghirup dalam-dalam asap-asap kerinduan yang mulai menjadi polusi beracun di hatinya, lalu ia kembali memeluk Eijun erat-erat, menempelkan bibir ke rambut coklat gelapnya, berbisik penuh kesungguhan.

"Aku ingin melihat wajahmu, Eijun…" Napas Kazuya bergetar. "Ku mohon, aku tahu ini melukaimu. Tapi apakah kau tahu kalau ini membunuhku?"

Ada jeda waktu sebelum Eijun akhirnya membalikkan badan. Mata mereka bertemu, berbagi lara dan derita, bertukar cemas dan asa. Mata Eijun basah, dan hati Kazuya teriris memandanginya.

Mereka bertatapan lama. Lalu jari-jari Kazuya mulai bergerak halus dan mengusap air mata Eijun dengan sentuhan paling lembut sekaligus paling memilukan. Lantas mereka memejamkan mata, menghapus jarak, wajah mendekat, pucuk hidung bersentuhan, napas bertukar dan bibir saling berbagi. Ciuman itu lembut, namun pahit adanya. Tulus, namun menyakitkan.

Eijun membenamkan wajahnya di dada Kazuya, memeluknya erat tak mau lepas. Dan Kazuya membalsnya dengan tak kalah Erat, ia tak ingin ada jarak sedikitpun. Biar dada mereka saling menginmpit, merasakan sesak yang sama, gerit napas yang tersengal, selagi bibir mereka terkunci rapat dan mata mereka terpejam. Meresakan esensi satu sama lain sebelum pagi menjemput membawa mereka kembali pada perpisahan.


Harus berapa lama lagi sebelum kita dapat bertemu kembali?
Jika kau punya seribu alasan, aku bersedia mendengarkannya hingga besok pagi
Karena aku ingin kita selalu terhubung
Aku tak ingin melihat wajahmu lagi malam ini
Karena sampai kapanpun,
tak ada tanggal yang pasti tentang kehadiranmu

Jika yang tersisa untukku hanya kata selamat tinggal
Akan lebih baik jika aku melewatkannya…

Aku ingin selalu dekat…
Tapi gelombang mendorongmu entah kemana
Dan aku, pada akhirnya, semakin jauh darimu lagi


a/n: ini bukan side story. Dan, ya, ceritanya mereka LDR :')