Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji

Drunk © Aiko Blue

Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini


Desah napas lega muncul begitu Kazuya menggeser pintu.

"Datang juga kau akhirnya." Youichi menyambutnya dengan seringai tipis namun sorot mata penuh rasa terima kasih. Kazuya mengedarkan pandangan ke sepenjuru ruangan. Selain Youichi, ada empat orang lain di tempat itu. Di antaranya Kominato bersaudara, Furuya Satoru, dan... Kazuya mengernyitkan alis, sosok Eijun tertunduk di sudut ruangan, kepalanya terkantuk pada meja, dan kedua tangannya tergeletak lunglai.

"Jadi, apa masalahnya?" Tanya Kazuya, memutuskan untuk menutup kembali pintu dan berjalan mendekat.

"Tch," Youichi berdecak kesal, "Kau tanya apa masalahnya?!" Sahutnya jengkel. "Kau lihat saja pacarmu!" Ia berseru gemas, sebelah tangan menunjuk antusias tepat ke arah Eijun yang sama sekali tak bergerak, hanya tampak getar halus dari napasnya.

Sebelah alis Kazuya terangkat naik, perlahan, ia maju mendekati Eijun. Mencoba menguncang barunya perlahan, kemudian kembali memandang ketiga orang lain di dalam ruangan. "Dia mabuk?"

"Eijun-kun minum sebelas botol."

"Sebelas?" Pekik Kazuya tak percaya, lantas kembali melirik ke arah Eijun dan mengernyit. Astaga, apa yang kau pikirkan?

Setengah jam yang lalu, Kazuya mendapati ponselnya dipenuhi dengan belasan panggilan tak terjawab juga pesan masuk yang memintanya segera datang ke sebuah kedai sake tak jauh dari persimpangan Shibuya. Youichi hanya mengatakan situasinya gawat, dan Kazuya harus datang secepat mungkin. Kazuya baru sempat mengecek ponsel begitu semua pekerjaannya beres, ia langsung mengebut ke sini, dan inilah yang didapat. Eijun mabuk berat.

"Maaf, Miyuki-senpai, kami sudah mencoba semaksimal mungkin, tapi Eijun-kun yang sedang mabuk benar-benar di luar kemampuan kami."

Kali ini, kening Kazuya berkerut dalam. Ia mengamati Eijun, kemudian kembali menatap semua orang di ruangan itu satu persatu. "Apanya yang susah dari menangani orang mabuk yang tak berdaya begini?" Karena sungguh, Eijun bahkan sama sekali tak tampak mengerikan, ia hanya tertunduk lemas, mata terpejam, deru napas teratur, dan sama sekali tidak mengamuk.

Dan ucapannya itu sukses mendatangkan empat pasang mata yang memandangnya dengan keji, hasrat ingin menghajar kuat. "Miyu-chan," Kali ini Ryousuke akhirnya buka suara, senyum di wajahnya tipis namun mengerikan. "Jangan bilang kau tidak pernah melihatnya mabuk."

Kazuya menggaruk belakang kepalanya sekilas. "Kami kadang minum, tapi tidak sampai sebanyak itu." Jawabnya jujur. "Biasanya kalau wajahnya mulai merah, atau dia mulai bicara melantur, aku langsung menghentikannya. Lagi pula, dia lebih kuat minum daripada aku."

Senyum di wajah Ryousuke justru bertambah dingin. "Kalau begitu kami perkenalkan, inilah kondisi pacarmu yang mabuk berat."

Kali ini Youichi tertawa. "Yeah, selamat! Kami tidak mau ikut-ikutan. Dia sepenuhnya tanggung jawabmu!"

Belum sempat Kazuya bertanya, Ryousuke, Youichi, Satoru, bahkan Haruichi sudah mengangguk kompak, mengambil posisi menjauh darinya dan Eijun. Mereka berempat berkumpul di sudut ruangan yang bersebrangan dengan Kazuya. Seolah sengaja menghindar dan berusaha membangun jarak sejauh mungkin.

Menyerah untuk bertanya, Kazuya hanya menbuang napas perlahan, beringsut mendekat ke arah Eijun, dan memutuskan untuk mencoba membangunkannya. "Hei, Eijun? Kau bisa berdiri?"

Tak ada jawaban, hanya ada gerung napas yang berat. Kazuya memposisikan tangan di kepala Eijun, menyentuhnya dengan hati-hati untuk melihat wajahnya.

"Eijun?" Kazuya mencoba menyentuhnya dengan lembut. Ia bahkan menjaga suaranya tetap tenang dan tidak membentak kasar. "Kau bisa dengar—Aakh!" Kazuya reflek memikik, tangannya berusaha ia tarik kembali, namun sengatan rasa sakit itu mengunci kuat dan tak hilang.

Eijun mengigitnya.

Benar-benar mengigit, secara harfiah. Gigi-giginya menjepit lengan Kazuya kuat-kuat seolah berusaha mencabik. Kazuya meringis, ini menyakitkan.

"Kyahahaha!" Youichi tertawa puas melihat Kazuya kesakitan. "Nah, Miyuki, pelajaran baru untukmu, pacarmu berubah jadi manusia serigala ketika sedang mabuk."

Kazuya balas mendelik, masih meringis kesakitan, ia yakin Eijun sungguh bisa merobek dagingnya jika terus dibiarkan. Ia butuh bantuan, tapi keempat orang lain dalam ruangan seolah menempel di lantai tempat mereka berpijak, tak mau bergerak. Youichi justru sibuk tertawa puas, Ryousuke setia mengamati dengan senyum jahatnya, Haruichi bahkan hanya tersenyum minta maaf dan Satoru berpura-pura tidak melihat.

"Asshh...Eijun, ini sakit.." Lirih Kazuya, berusaha mendorong kepala Eijun hati-hati. Tapi gigitan Eijun justru makin kuat, seolah enggan terlepaskan, matanya setengah terpejam, tapi kekuatannya penuh. Kazuya merintih lagi, dengan cepat ia menggerakkan jemarinya untuk menjepit hidung Eijun. Tak berapa lama, Eijun mulai sulit bernapas, hingga melonggarkan gigitan, dan saat itulah Kazuya berhasil meloloskan diri.

Kazuya mengelus tangannya, ruam merah dan jejak gigi Eijun tertinggal jelas di sana. Tak diragukan lagi, semenit saja ia terlambat, kulitnya pasti sudah terkoyak. Masih sambil mengelus tangannya, Kazuya menoleh kembali pada Eijun sambil menggeleng tak habis pikir. "Kau benar-benar bisa merobek kulitku—Whoaaa!"

Kazuya sigap menahan, kedua tangannya menjadi penghalang tepat di dada Eijun, menahan kekutan pemuda itu ketika tiba-tiba kembali menerjang ke arahnya, siap mengigit lagi. Kazuya memandangi mata pemuda itu yang tampak tak fokus, namun begitu berambisi untuk melancarkan serangan sejuta gigitan. "Serius, ada apa denganmu?"

"Kalian manusia tidak berperasaan!" Eijun tahu-tahu berteriak murka, matanya berkilat penuh kemarahan. "Kalian merusak lingkungan, membuat kekacauan, dan membuat banyak hewan punah!"

Kazuya berkedip-kedip memandangnya, berpikir, dan masih berusaha menahan kekuatan Eijun yang bernafsu ingin menyerangnya.

"Manusia serakah! Kalian terus menyebabkan bumi rusak dan menangis. Mengambil habitat alami hewan-hewan dan mengancam kehidupan mereka!"

"Oke, jadi sekarang kau malah menyembrurkan pidato demo lingkungan?"

"Gwaaarrgghh!" Eijun balas mengertakkan gigi, menggeram seperti hewan buas dengan mata berkilat keji ke arahnya. Kazuya bersumpah, dia bisa mendengar keempat orang lain di sudut ruangan menikmati adegan ini dengan senyum tak lepas. Menjadikan Kazuya dan Eijun sebagai tontonan gratis yang menghibur.

"Kalian manusia tidak punya hati! Jahat! Jahat! Jahaaaat!" Tenaga yang Eijun keluarkan semakin kuat, membuat Kazuya heran bagaimana bisa orang mabuk jadi sebertenaga ini? Kazuya nyaris kepayahan menahannya. "PENJAHAT!"

"Eijun, ini aku!" Kazuya berusaha menyadarkan, menatap lurus ke sapasang netra emas kekasihnya. "Kau tidak ingat aku?"

Sejenak, mata Eijun berubah. Sorot kemarahannya meredup, dan ia lurus menatap mata Kazuya seolah berpikir. Kazuya mencoba tersenyum, berkata dengan tenang. "Ini aku." Katanya hati-hati, mendorong perlahan hingga Eijun kembali duduk dan tidak menekannya. Kazuya kemudian mengganggam tangan Eijun lembut, mengusapnya perlahan-lahan guna memberi ketengangan.

"Kau..." Eijun menatapnya, berkedip lugu, memiringkan kepala seolah berusaha mengingat.

"Ya, ini aku." Kazuya tersenyum. "Kau ingat aku, kan?" Ia mulai optimis, jemarinya masih mengusap punggung tangan sang kekasih dengan hati-hati.

"KAMU!" Wajah Eijun seketika berubah cerah, matanya membulat dan berbinar-binar senang. "TANUKI!"

"He?"

"Tanukiiiii!" Eijun berseru riang, menerjang kembali ke arah Kazuya dan memeluknya erat. "Kamu harus dilindungi! Tenang saja, semuanya man, aku akan menjagamu!"

"Ta-tanuki?"

"Ppffttt!"

Tawa meledak saat itu juga, Youichi adalah yang paling terpingkal puas hingga jatuh tertunduk dan memegangi perutnya. Kazuya hanya sanggup terbengong, membiarkan Eijun mendekapnya erat-erat dan menyebut-nyebut tanuki tanpa henti. Pasrah ketika harga dirinya merosot jauh hanya dalam kurun waktu satu menit.

"Oke, kau sudah berhenti jadi manusia serigala sekarang, hm?" Kazuya mencoba mengesampingkan rasa malunya, fokus pada Eiijun sambil berusaha melonggarkan pelukan agar bisa menatap wajahnya.

Eijun balik menatapnya, tersenyum lebar hingga matanya menyipit kecil. "Tanuki sehat! Aku senang kamu sehat!" Kelakarnya ceria, wajahnya menampilkan ekspresi kebahagiaan seperti anak-anak.

"Yeah, aku sehat." Kazuya memilih untuk tak melawan, membiarkan Eijun mendusel di antara dadanya dengan gestur menggemaskan. "Kau baik-baik saja? Tidak mengamuk lagi?" Tanya Kazuya lembut, dan saat Eijun menggeleng manja di dadanya, Kazuya bisa merasakan tatapan glare menusuk dari empat pemuda lain di sudut ruangan.

"Dasar modus."

"Otak Kriminal."

"Mencari kesempatan dalam kesempitan."

"Senyumnu, kendalikan senyummu, bangsat!"

Kazuya mengabaikan, sebelah tanganya bergerak mengelus helai rambut Eijun dengan sentuhan hati-hati, membiarkan Eijun bersandar nyaman dalam pelukannya hingga pemuda itu mulai tenang, perlahan-lahan terpejam damai, dan jatuh tertidur—

"Ukh—!"

—setidaknya hampir.

"Ukkh!"

"Eijun?"

"Ukkh—hk!"

Eijun terbatuk, membungkuk, jari-jarinya mencengkram kaus Kazuya erat, matanya kini terpejam dengan gurat sangat tegang. Kazuya mengelus bahunya perlahan, "Eijun, kau baik-baik sa—"

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Eijun sudah muntah di baju Kazuya. Kazuya terlalu kaget hingga tak bisa berkata apa-apa, Eijun masih terbatuk-batuk berusaha akur dengan isi perut dan rasa mualnya sementara baju bagian depan Kazuya sudah dipenuhi muntahannya, cairan asam lambung, sake, dan makan malam Eijun kini menjadi hiasan baru di baju Kazuya.

"Ugh—gh!"

Muntahan lain datang. Serangan kedua ini lebih banyak dari yang pertama. Kazuya tersadar cepat, ia menggerakkan tangannya untuk mengurut pelan tengkuk Eijun. Dan gerakan sederhana itu berhasil mendatangkan serangan ketiga.

Youichi adalah yang pertama kali tertawa. Disusul dengan tiga orang lain setelahnya. Kazuya ingin membasnya dengan sebuah tinju keras, tapi perhatiannya kini sepenuhnya tertuju pada Eijun. Kazuya menahan kedua bahu Eijun saat pemuda itu melemas dan kembali hendak merosot ke genagan muntahannya sendiri.

Kazuya membimbing tubuh lemas Eijun untuk bersandar ke bahunya. Ia melirk sekilas ke bajunya yang dipenuhi muntah, kemudian melirik Eijun hanya untuk memastikan kondisinya. Kazuya menggerakkan tangannya untuk mengusap punggung Eijun perlahan. Gerakan menjalar di sepanjang tulang belakangnya. "Kau masih ingin muntah?" Ia bertannya dengan sabar. "Muntahkan saja, jangan ditahan."

Eijun menggesekkan kepala di bahunya. Sebuah gelenggan kecil sebagai jawaban, dan Kazuya menghela napas melihatnya. Ia masih mengusap halus punggung Eijun, berusaha membuatnya merasa lebih baik. Kazuya menunggu dan memastikan bahwa Eijun benar-benar sudah tidur pulas. Tubuhnya mulai terasa pegal karena Eijun sepenuhnya membebankan berat tubuhnya pada Kazuya, kakinya kesemutan akibat ditindih. Tapi Kazuya tidak mengeluh, sebaliknya ia justru tersenyum geli mendapati Eijun kini semanis anak kucing dalam pelukannya.

"Aku akan membawanya pulang." Kazuya memutuskan setelah sepuluh menit berlalu. Ia menatap pada keempat pemuda lain yang kini sudah kembali duduk mengelilingi meja.

Youichi hanya menjawabnya dengan dengus sebal, Ryousuke mengangguk kecil, Satoru menatapnya tiga detik kemudian bergumam sepakat, dan Haruichi balas tersenyum maklum, mengangguk kecil. "Kalau begitu mohon bantuannya, Miyuki-senpai, tolong jaga Eijun-kun."

Kazuya mengulas senyum miring, menggeser posisi Eijun dengan hati-hati. Berpindah ke punggungnya untuk digendong. Ia berdiri perlahan, merasakan napas hangat Eijun menyapu permukaan tengkuk dan lehernya. Melahirkan sensasi geli yang sukses mengaduk isi perutnya.

"Nah, aku permisi." Pamit Kazuya, tersenyum sekilas.

"Tch, aku heran dengan keberuntungan Sawamura yang tidak ada habisnya." Youichi menyahut ketus, lalu meraih gelas sake dan meneguknya cepat. Ucapannya membuat langkah Kazuya terhenti, ia berdiri tepat di depan pintu dan kembali menoleh dengan dahi berkerut.

"Benar," kali ini Satoru menyahut. "Dia bodoh tapi selalu dilimpahi keberuntungan."

Mata Kazuya menyipit bingung. "Huh?"

Haruichi tersenyum padanya. "Meraka sedang membicarakanmu, Miyuki-senpai." Katanya kalem. "Sebelum mabuk, kami tadi sempat membahas bahwa Eijun-kun sungguh bertuntung karena bersama denganmu."

"Aku?"

"Mau sampai kapan kau tidak mengerti, Miyu-chan?" Kali ini Ryousuke bahkan angkat bicara. "Aku tidak suka mengakui ini, tapi kau nyaris punya segalanya, dan kenyataan bahwa kau memilih Sawamura Eijun, adalah keberuntungan besar untuknya."

Haruichi mengangguk sepakat. "Miyuki-senpai benar-benar rela meninggalkan segalanya demi Eijun-kun. Dan tadi Eijun-kun sendiri bilang, kalau ia bahkan tidak tahu kenapa senpai bisa memilihnya di antara semua orang."

"Dia mengalami krisis kepercayaan diri."

"Yang membuatnya terpaksa berpikir keras."

"Dan berujung frustasi,"

"Kemudian minum sampai sebelas botol."

Pelipis Kazuya berkerut negatif. "Jadi dia mabuk karena memikirkan hal tolol begitu?" Kazuya mendengus kasar, "Dan kalian tidak berusaha menghentikannya?"

Semua orang ganti memandangnya terpana. Pertanyaan yang Kazuya ajukan barusan terasa sedingin es, sepahit racun, sepekat kutukan, membuat semua orang mendadak beku dan diliputi kebingungan apa gerangan yang membuat Kazuya sampai semarah itu.

"Oi, Miyuki… kenapa kau marah?"

"Ck," ia berdecak, membalikkan badan dan bersiap melangkah keluar. "Mendengar kalian mengatakan keberuntungan besar untuknya karena bersamaku sangat membuatku muak." Sahut Kazuya dingin. "Aku permisi."

...


Kazuya selesai memasang sabuk pengaman Eijun, menyisir helai rambut brunetnya perlahan, dan mengusap sisa alkohol yang mengalir di sudut bibirnya. Kegusaran dalam hatinya masih terasa meski ia sudah berkali-kali menarik dan membuang napas panjang. Maka alih-alih menyalakan mesin mobil, pemuda itu justru bersandar pada kursi, menatap wajah Eijun lekat-lekat.

"Beruntung, huh?" Ia mendengus. "Justru akulah yang paling beruntung di sini, Baka." Katanya, berbisik lemah, menyentil pelan kening Eijun yang terbuka, kemudian tersenyum lemah. "Kau punya segalanya, Eijun. Hidupmu normal dan baik-baik saja. Kau punya keluarga yang hangat dan menyanyangimu sepenuh hati, menerima bagaimanapun keadaanmu, kau punya banyak teman, dan semua orang menyukaimu. Hidupmu persis matahari, hangat, dan menyinari di manapun kau berada."

Menarik napas panjang, Kazuya membuangnya perlahan-lahan. Tangannya bergerak lagi, kali ini membingkai hangat rahang Eijun. Ibu jarinya mengusap pipi Eijun hati-hati. "Dan aku?" Ia bertanya retorik. "Aku cacat. Keluargaku beratakan, karirku berantakan, tidak ada yang tersisa di hidupku sebelum kau datang. Aku membangun tameng dingin dari semua orang, meski dalam hati aku menjerit-jerit memohon petolongan. Aku munafik, kasar, kata-kata yang keluar dari mulutku praktis menyakiti siapapun, mereka hanya memuji parasku, kemampuanku, tapi tak satupun menyukai keperibadianku." Kazuya menarik napas panjang, membuangnya perlahan.

"Aku mungkin dipuja setinggi langit, tapi kau dicintai dari lubuk hati yang terdalam."

Kazuya mengulas senyum, menatap kelopak mata Eijun yang terpejam rapat. "Jadi kalau dihitung-hitung, akulah yang paling beruntung di sini. Dan pertayaan yang seharusnya adalah, kenapa kau mau menerimaku dan semua kerusakan dalam diriku?"

Kali ini ia maju perlahan, membelai wajah terlelap Eijun dengan begitu lembut sebelum meniggalkan sebuah kecupan panjang di keningnya. "Jangan pernah berpikir macam-macam lagi. Akulah yang paling beruntung karena mendapatkanmu."

...


a/n: Ugh, entahlah :'D

Balasan Review (gomen telat banget)

Oto Ichiiyan: wkwk, nggak sengaja sih jadi malah kesannya ngelamar :v Tapi sama, aku juga bahagiaaa~/udah. Aduh, pingin sih, banget, tapi tiap kali bayangin mereka nge-date tuh malah lawak mulu wkwk. Alright thanks, Rin-san.

kuroshironekore: mereka bisa kok romantis tanpa berantem, tapi privat banget itu, Aiko juga boleh liat :v Eh, houto? Beneran ga bisa naik sepeda? Wkwk, sana berguru sama Sawamura-sensei, lumayan sekalian modus/heh. Hmm, festival yaa? Terus mereka nanti bikin rusuh/woi. Ugh, NTR aja tega apalgi LDR/gubrak.

MiminSaritem: uwuwuwu, seneng deh bisa bikin kamu senyum. Maksih juga udah baca dan review, ikuti terus cerita ini yaa/promosi dasar. Hmm, kencan yang normal tapi ala MiSawa gitu yaa? Nonton apa yaa yang cocok? Komedi? Drama? Horror? Thiler?

Valkyrie Ai: gapapa mending sakit pipi daripada sakit gigi, apalagi sakit hati/gak gitu. Kuburan ya? Heee…. Angst? Ah, gak jago, kamu tau hatiku lembut, gak akan kuat bikin yang sedih-sedih gitu :)

kyunazunami: Aaw, makasiiiih, senang juga bisa bikin kamu senyum *kedip-kedip*

latteamour: Ah, iyaaa sama-sama, terima kasih juga sudah baca dan bersedia mampir di kolom review, jangan bosen-bosen yaw/modus kamu. Camping? Ah, terus terus nanti mereka diculik beruang, terus jadi tarzan dan ngasuh anak macan/NGGAK!

Guest: Wkwkwk, pacar alay. Gapapa sih, asal sayang mah/heh. Aduh, maaf hehe. Sesekali kasih bumbu lain kalo manis mulu takut diabetes soalnya :"

Dyulia971: Hehe, ia ini udah diupdate kok. Keep reading and don't forget to review yeaaa *hug*

nymphs: Hehehe, biar variasi. Ada manis ada kecutnya juga gitu… Gomen kalo gak kasih peringatan sebelumnya. Thanks anyway.

terima kasih bagi semua yang sudah baca, fav, follow, dan review :* Jaa na~