Naruto belong to Masashi Kishimoto
.
Teratai Putih
.
Mempersembahkan
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
Pasangan: Hyuuga Hizashi X Haruno Sakura
Genre: Romantis, Angst
Nilai: M
Peringatan: tidak diharapkan EYD, crackpair, typo (s), OOC
Note: Akan aku jelaskan dulu. Perjalanan waktu disini tidak sama seperti yang ada di cerita kebanyakan, dimana tokoh utama bisa merubah kejadian di masa lalu. Tapi kedatangan Sakura adalah pelengkap untuk kejadian masa lalu. Jika kau bingung, kau dapat menonton time travel dari Hermione dan Harry ketika mereka menggunakan time turner . Aku ngambil referensi dari sana.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian Sakura dari laporan medis di atas meja. Melihat Neji masuk dengan anggun, Sakura mulai menegakkan tubuhnya.
"Selamat siang, Neji-san . Apa kau siap dengan pemeriksaan rutinmu hari ini?"
Sakura berdiri dan meraih laporan medis Neji di rak arsip. Kemudian berjalan menuju Neji yang telah duduk di ranjang periksa.
"Selamat siang, Sakura-san ."
Sakura tersenyum dengan tanggapan Neji. "Mari kita lihat lengan atasmu lagi. Coba angkat tanganmu, Neji-san." Neji menuruti perintah Sakura. Sakura mulai memeriksa lengan Neji dengan teliti. "Apakah ada keluhan?"
Neji menggelengkan sebuah kepala. "Tidak ada. Hanya nyeri yang kadang terjadi."
Sakura mengangguk. "Itu normal. Proses penyembuhan tidak tiba-tiba secara ajaib sembuh."
Gadis musim semi itu mengeluarkan cahaya hijau dari tangannya, melanjutkan pemeriksaan pada tubuh Neji. Dia agak khawatir pada kondisi tubuh si Hyuuga. Ketika Neji datang dengan lengan patah minggu lalu, jantung Sakura sudah seperti terasa berhenti. Kekhawatiran terkait dengan Neji sangat besar.
Dia memaksakan diri pada perawat rumah sakit untuk merawat Neji yang sedang terluka. Padahal, lukanya... yah tidak seserius pasien lain. Sakura tidak mengerti, Neji terasa sebagai pribadi yang benar-benar dia perhatikan. Ini bukan perhatian yang sama dengan kasih sayang pada Sasuke dulu. Ini bukan cinta obsesif seperti itu.
"Baiklah, tulangmu sudah mulai pulih. Hanya agak bengkak karena proses penyembuhan, itu akan menyebabkan rasa sakit untuk sementara waktu. Jadi sebisa mungkin agar jangan sampai terlalu membebani tangan kananmu." Kata Sakura sambil mencatat laporan Neji.
"Apakah aku sudah diperbolehkan berlatih?"
Sakura merenung. "Boleh. Asalkan jangan membebani tangan kananmu terlalu keras. Atau kau akan berakhir di sini dan bertemu kembali denganku," Sakura menatap Neji. "Aku tak akan berbaik hati padamu lo nanti."
Sakura tersenyum. Mengingat kejadian saat Neji menerima serangan dari Juubi untuk Naruto. Jantungnya melompat ketakutan. Tahu tubuh Neji sudah ambruk, Sakura menyelamatkan nyawa Neji yang sudah hampir ditarik oleh dewa kematian. Sakura tidak akan membiarkannya. Dia tidak menyerah meskipun banyak orang meragukan nyawa Neji akan selamat. Sakura tidak peduli. Kasih sayangnya pada Neji tidak membiarkan dia menghilang dari dunia ini.
Tuhan sangat baik. Keajaiban jika pada akhirnya Neji terbangun tiga minggu, 4 hari dan 18 jam kemudian kemudian. Bahkan Sakura mengingat detail waktu tidur Neji dengan tepat. Air mata sudah merembes keluar dari matanya ketika mata perak sang Hyuuga terbuka.
"Kau tidak perlu datang lagi minggu depan," Neji mengangguk pada kalimat Sakura. "Namun, jika kau merasa tidak nyaman atau sakit pada tanganmu, cepatlah kembali kemari."
Dengan itu, Neji berdiri. "Terima kasih, Sakura-san." Ucapnya sebelum pergi keluar ruangan.
Apa kau berpikir Sakura jatuh cinta? Tidak apa-apa, Ino juga berpikir begitu ketika gadis Yamanaka bertanya padanya empat bulan yang lalu. Tapi, tidak. Sakura tahu dia menyayangi Neji. Tapi jelas itu bukan kasih sayang itu. Malah jika Sakura berpikir untuk atau akhirnya jatuh cinta pada Neji seperti layaknya pria dan wanita, dia merasa itu hal yang sangat salah. Sangat. Sangat. Sangat salah.
Seolah itu adalah hal paling tabu yang bisa dilakukannya.
Sakura menghela napas. Mengembalikan laporan medis Neji ke rak arsip, menuju jendela. Memperhatikan Neji yang berjalan tegap dengan tatapan hangat.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Aku tidak tahu jika pada akhirnya kita harus menghadapi kekacauan ini." Keluh Sakura.
Ruang penyimpanan bawah tanah milik hokage ketiga benar-benar mengerikan. Entah apa yang terjadi. Tempat ini layaknya gudang barang tak terpakai. Banyak jutsu dan gulungan penting tersimpan di sini. Bahkan dengan kekacauan ini, mungkin saja terdapat gulungan rahasia dan terlarang tergeletak tak berdaya di lantai.
"Aku tidak bisa tidak setuju denganmu, dekorin-chan. Kurasa, alasan Tsunade- hime menyuruh kita adalah karena dia tidak mau bergabung dengan semua kekacauan ini." Ino batuk ketika mengangkat sebuah buku yang tampak lusuh.
Sakura mengangguk setuju. Memilah-milah buku di rak dengan perlahan. Menghindari debu yang bisa terbang kapanpun juga. "Aku tidak mengerti mengapa mereka menyimpan buku penting disini. Butuh waktu lama untuk menemukan buku obat yang kita cari."
Ino batuk lagi. "Kami-sama, mengapa tempat ini penuh gunungan debu?!"
Mereka berdua terus mengeluh. Memilah-milah buku dengan istilah dan kekesalan yang memuncak. Debu terus beterbangan kemana-mana tanpa mampu mereka cegah.
"Dekorin-chan ..." panggil Ino tiba-tiba.
"Hmm."
"Kau yakin tidak mau mengajak Neji keluar?" Ino memandang Sakura penasaran.
"Tidak, Buta. Tidak. Perasaanku padanya bukan yang seperti itu. Berapa kali aku harus bilang padamu?" tanyanya kesal.
Ino mengangguk lagi. "Maaf, maaf. Hanya saja ..."
"Cukup!" teriak Sakura. "Kita butuh masker atau paling tidak kain untuk menutupi hidung kita."
Ino berkedip. Terkejut dengan teriakan Sakura yang dia pikir ditujukan padanya. "Oh. Baiklah. Aku akan keluar mencari masker."
Sakura melihat Ino keluar dari ruangan. Dia jadi merasa tidak enak. Mau bagaimana lagi? Sakura lelah dengan pertanyaan berulang yang dilontarkan Ino padanya. Gadis pirang itu pasti kabur, takut dia mengamuk.
Menggelengkan kepalanya karena tak habis pikir, Sakura kembali memilah-milah buku di sana. Dia tetap mengeluh pada banyaknya debu dan berantakannya tempat ini. Kekacauan ini membuatnya malas bergerak, dan keterpaksaan membuatnya berdiri untuk menuju kardus buku lain setelah dia tidak menemukan buku obat yang dia cari.
Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya, menghindari beberapa barang yang berserakan di lantai. Tapi tetap saja, pencahayaan di bawah tanah membuatnya kurang jeli. Kakinya terpeleset botol kaca yang entah datang dari mana. Keseimbangannya langsung hancur seketika dan membuatnya jatuh terduduk setelah menabrak rak di belakang. Dia pikir itu sudah berhenti. Tapi seperti pepatah mengatakan sudah jatuh tertimpa tangga, sebuah gulungan besar meluncur dari atas rak menimpa sebuah kepala.
Jelas Sakura terkejut. Ketakutan menghampirinya ketika melihat cahaya menyilaukan menyelimutinya. Kepanikan tercipta saat merasakan tubuhnya ditarik ke bawah. Entah sejak kapan, dia merasa sedang jatuh ke dalam air hangat.
"Aduh." Ucapnya. Memegangi kepalanya. Pusing membuat kepalanya dan membuat ruangan di sekitarnya serasa berputar-putar.
"Kau ...," Sakura mendengar seseorang bersuara. "Siapa kau?!"
Sakura menyipitkan matanya. Memfokuskan penglihatannya pada pemandangan di lapangan. Seorang pria? Pria? Ah pria. Mungkin beberapa tahun lebih tua darinya. Sakura merasa, dia mengenal pria di hadapannya. Dia terlihat familiar. Dengan mata perak, Juin di dahinya dan rambut coklat itu. Ah...
"Neji-san, kenapa kau ada di sini?" tanya Sakura bingung. Belum terlalu memproses apa yang sedang terjadi.
"Neji-san?" Ucap Neji kesal . "Aku bukan Neji." Maka Neji juga sama bingungnya dengan Sakura.
Kenapa Neji belum men- jyuken nya? Errr sebentar. Neji sedang telanjang dada dengan tubuhnya terendam di bak mandi. Sakura berkedip bingung. "Neji-san, kenapa kau telanjang?"
Eh? Neji telanjang? Sakura memandang sekitarnya. Ini bukan ruang bawah tanah Hokage ketiga. Ini ... ini ... ini kamar mandi? Kamar mandi dengan bak yang menampung dirinya dan Neji. Mata emeraldnya melebar. Tiba-tiba napasnya menjadi pendek dan Sakura terserang hiperventilasi. Sadar akan terjadi apa yang terjadi.
Dia akan berteriak sebelum tangan Neji membungkamnya.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sakura duduk dengan tangan terlipat di pangkuannya. Matanya merunduk memandang. Pria Hyuuga itu telah memakai kimono tidur berwarna putih. Neji sudah duduk di hadapannya dengan tangan terlipat di dada. Mengawasinya dengan pandangan menilai.
"Ano, Neji-san," Sakura mulai membuka mulutnya. Neji mengernyit. "Maafkan aku. Aku benar-benar tidak menginginkan ada di sini. Begini ..."
"Kau siapa?" tanya Neji padanya.
Sakura mengangkat kepalanya. Memandang Neji seolah-olah itu menumbuhkan dua kepala. Pria itu tidak ingat siapa dia? Apa pria Hyuuga itu baru saja terkena amnesia? Tapi itu tidak mungkin. Jika Neji terluka, Sakura pasti akan tahu karena dia menjadi salah satu tanggung jawabnya sebagai iryo-nin . Tidak ada laporan semacam itu masuk padanya.
"Neji-san, apa kau terluka?" tanyanya khawatir. Reflek menjangkau wajah Neji.
Pria itu langsung menepis tangan Sakura dengan kasar. "Aku sudah bilang aku bukan Neji. Dan siapa itu Neji? Tidak. Tidak. Siapa kau?!" bentak pria itu.
Sakura memandangnya bingung. "Kau bukan Neji? Lalu kau siapa?"
"Aku yang bertanya dulu padamu. Siapa kau? Kenapa kau tiba-tiba muncul di kamar mandiku?"
"Eh, etto ... " Sakura menggaruk kepalanya bingung. "Aku Haruno Sakura." Merasa aman-aman saja jika menyebut identitasnya pada salah satu anggota klan Hyuuga.
Mata pria Hyuuga yang tadi dikiranya Neji menyipit memandangnya. Menilai kejujuran yang dikeluarkan Sakura tadi. Sudah jelas bahwa pria mirip Neji ini tidak percaya padanya.
"Bagaimana caramu bisa masuk ke kompleks Hyuuga?"
Sakura memegang kepalanya bingung. Masih mencoba mencerna apa yang sedang terjadi di sini. "Aku juga tidak tahu. Eh eh eh ..." dia melambaikan ke depan ketika melihat pria itu semakin waspada. "Tadi aku sedang di ruang bawah tanah hokage ketiga. Lalu ada gulungan jatuh menimpa kepalaku dan puff aku terjatuh di bak mandimu."
"Apa kau mau bilang, kau sedang di ruang bawah tanah hokage ketiga lalu tiba-tiba berteleportasi ke kamar mandiku?" Sakura mengangguk. "Kau pikir aku akan percaya padamu?"
Sakura mengernyit tak suka. Mulai menyilangkan di depan dadanya. "Terserah kau mau percaya atau tidak. Aku tidak peduli. Itu cerita sebenarnya."
Pria itu menyipitkan matanya. Sakura menebak dia tidak suka dengan jawaban yang diberikan Sakura padanya.
Sakura menghela napas lelah. "Sudahlah. Aku mau pulang." Sakura sudah akan berdiri, sebelum pria itu meraih tangannya, menariknya kembali duduk. "Apa maumu?!"
"Aku memang tidak percaya padamu, "Sakura mengernyit tak suka. "Tapi aku yakin kau tak akan mengubah pikiranmu meskipun aku memaksamu," Pria itu menghela napas lagi. "Kau tak bisa seenaknya, keluar masuk kompleks Hyuuga begitu saja. Sesuka hatimu."
"Lalu, kau ingin aku melakukan apa? Tidur denganmu?" tanya Sakura sembarangan.
Pipi pria itu langsung bersemu merah. Tampak malu dengan pertanyaan ngawur dari Sakura. Dia melepaskan tangan Sakura.
"Mungkin aku bisa pergi menemui kepala klan untuk memberitahu bahwa kau akan keluar. Uhm ..."
"Lalu, kau menunggu apa lagi? Ayo temui Tuan Hiashi. Aku ingin segera pulang."
"Hiashi?" Tanya pria itu bingung.
"Iya. Hiashi. Bukankah dia kepala klanmu?"
"Kau sedang mengigau ya? Hiashi- niisama belum menjadi ketua klan."
Hiashi belum menjadi ketua klan.
Hiashi belum menjadi ketua klan.
Hiashi belum menjadi ketua klan.
eh ...
Sakura kembali memasang wajah kebingungan. Otaknya mulai bekerja memproses kalimat pria di hadapannya. Hiashi jelas adalah ketua klan Hyuuga. Setidaknya pada masa dia hidup dan berjalan di Konoha.
Pria ini adalah seorang Hyuuga. Jadi tidak mungkin dia tidak tahu siapa ketuanya sendiri. Itu tidak mungkin!
"Sebentar, sebentar ..." Ujar Sakura. "Maafkan aku, siapa hokage Konoha saat ini?"
Pria itu memandangnya skeptis. Ya, Sakura tahu pandangan itu. Pandangan tidak percaya yang dilemparkan padanya oleh pria mirip Neji itu sangat menganggunya.
"Tuan Sarutobi Hiruzen . "
Sakura memiringkan kepalanya.
Jadi, dia ada di masa lalu.
Baiklah. Dia mulai memilah-milah informasi yang diterimanya. Ketika dia jatuh, sebuah gulungan menghantam sebuah. Lalu, cahaya menyilaukan menutupi tubuhnya. Lalu, jatuh ke dalam bak mandi Hyuuga di hadapannya. Lalu, Hiashi belum menjadi kepala klan. Lalu, Sarutobi Hiruzen masih hidup dan menjabat sebagai Hokage ketiga.
Jangan panik, Sakura. Jangan panik. Kau sudah pernah mengalami ini dulu.
Mengingatkan dirinya yang pernah jatuh bersama Naruto ke dunia terbalik.
"Maaf, kurasa jatuhku ke kamar mandimu tidak sesederhana ceritaku yang tadi." Ujarnya menggaruk kepala.
Ada kemungkinan gulungan yang jatuh bukan hanya gulungan laporan biasa. Kalau dia sampai jatuh ke sini. Kemungkinan besar gulungan itu adalah gulungan transportasi ruang dan waktu milik hokage ketiga. Saat menimpa Sakura, gulungan itu entah bagaimana aktif dan melemparnya ke masa lalu.
Siapa orang bodoh yang menaruh gulungan berbahaya seperti itu tergeletak sembarangan di atas rak?
"Apa maksudmu?" tanya pria itu.
"Sebentar, siapa namamu? Aku belum tahu namamu." Tanya Sakura pembicaraan pembicaraan.
"Hizashi. Hyuuga Hizashi."
Sakura tersenyum. Itulah alasan dia sangat mirip dengan Neji. Tidak mungkin dia tidak tahu pria di depannya. Jika Sakura memiliki perasaan sayang pada Neji, dia juga tahu siapa pria ini.
"Bisakah kau mengantarku ke hokage? Aku merasa perlu melaporkan sesuatu padanya."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Bagaimana mungkin Hizashi sangat keras kepala? Yah, tidak mengherankan. Neji juga sangat keras kepala. Sakura harus berdebat lama untuk meyakinkan pria itu bahwa dia perlu ... tidak ... Sakura harus menemui Hokage ketiga.
Hizashi menolak mentah-mentah permintaannya. Bahkan ancamannya masuk ke penjara dengan tuduhan masuk kompleks Hyuuga tanpa izin. Sakura kesal. Sakura masih tidak mau membicarakan apapun pada Hizashi, karena itu Hizashi sangat menyebalkan. Pria itu tidak mau melakukan apapun, bahkan tidak mengizinkan Sakura keluar dari kamar. Alasannya? Oh, Hizashi tidak ingin seseorang menangkapnya dan menuduh mereka melakukan sesuatu yang salah.
Lucunya, Hizashi tidak mau membiarkannya pergi sendiri. Alasannya? Sakura terlalu mencurigakan jika dibiarkan sendirian. Hizashi mengaku, dia tak pernah melihat Sakura di desa (yang memang benar adanya).
Pria ini tidak waras.
Dengan pemaksaan, Sakura baru bisa pergi setelah mengancam Hizashi. Dia mengatakan, akan tetap pergi atau jika tidak Sakura akan berteriak sesuatu seperti 'Hyuuga Hizashi akan memperkosaku'.
Hizashi berakhir berjalan dengan kesal di sampingnya. Berdua mereka berjalan mengendap-ngendap. Menghindari pandangan byakugan Hyuuga. Sakura menghela napas lega. Jujur, sulit melakukannya tanpa Hizashi di sampingnya. Keluar dari kompleks Hyuuga, mereka berjalan dalam diam. Tidak ada satupun kata keluar di antara mereka. Hanya suara napas dan suara angin malam yang mendekap mereka.
Disinilah mereka. Di dalam rumah Hokage ketiga. Sakura mendesah kesal. Ini tengah malam. Hampir pukul 01.00 dini hari. Sungguh bukan waktu yang tepat untuk bertamu, apalagi dengan pria Hyuuga di sampingnya.
Tuan Hokage menatap kedua pasangan itu dengan pandangan menilai. Sakura bisa menebak, profesor penasaran dengan alasan mereka bertamu dini hari seperti ini. Asuma masih dalam misi dan Nyonya Biwako masuk membawa 3 cangkir teh untuk mereka.
Sang profesor memandang Sakura skeptis. Penjelasan Sakura benar-benar membuatnya terkejut setengah mati. Hokage ketiga tahu gulungan mana yang dimaksud. Tidak benar-benar yakin dengan akhir dari gulungan manis itu bisa mengirim Sakura datang kemari. Tuan Hokage jadi merasa bertanggungjawab.
Bagaimana dengan Hizashi? Pria itu memandangnya seolah-olah Sakura telah menumbuhkan kepala tambahan. Mata perak Hizashi melotot padanya. Pria itu bungkam, tidak dapat membahasakan sepatah katapun.
"Mari kita buat ini sederhana, Sakura- san, " Sakura memandang Tuan Hiruzen. "Aku akan mencari cara membuatmu kembali ke masa depan. Sementara itu, kita akan mencarikan tempat untukmu tinggal. Aku menghargai pendapatmu untuk tetap berdiri rendah dan tidak menonjol. Jika demikian apa kau masih ingin menjadi shinobi?"
"Mengapa tidak, Tuan Hokage ?" Tanyanya bingung.
"Jika kau menjadi shinobi, orang-orang akan bertanya-tanya tentangmu. Aku bisa saja mengatakan jika kau shinobi yang sudah lama menjalankan misi di luar desa. Namun, dengan kemampuanmu, tidak mungkin kau tidak menonjol. Aku yakin kau berniat menahan kemampuanmu, tapi apa kau sanggup terus-menerus tetap menahannya jika kau berada di sekitar bahaya? " Jelas Tuan Hiruzen.
Sakura merenung. Dia menjelaskan kemampuannya pada Tuan Hiruzen. Tuan Hokage benar. Meskipun dia bisa menahan diri, tapi suatu saat bisa saja dia tidak terkendali. Dia harus menjauh dari lingkungan shinobi. Menjadi warga sipil untuk sementara waktu bukan hal yang sulit diterima.
"Apa anda menyarankan saya untuk menjadi warga sipil, Tuan Hokage?"
"Jika kau masih ingin tidak terlihat. Menjadi warga sipil akan membuatmu menjauh dari para shinobi." Ujar Tuan Hiruzen. "Gulungan itu tidak dapat mengubah apapun di masa lalu. Meskipun kau tidak bisa mengubah apapun di masa ini. Kurasa akan menjadi pilihan bagus untuk tetap tidak menonjol."
Sakura mengangguk. Profesor benar. Jika dia ingin tidak terlihat, Sakura harus menghindari kerumunan Shinobi. Dengan menjadi warga sipil, dia setidaknya hanya harus berpikir bagaimana menghindari kedua orangtuanya.
"Apa yang Anda sarankan, Tuan Hokage?" Tanya Sakura lagi.
"Aku memiliki seorang teman sipil yang memiliki kedai teh. Kau bisa bekerja dan tinggal di sana sementara waktu. Jarang ada shinobi datang ke sana. Kurasa dia tidak akan mempermasalahkan jika aku menjelaskan situasinya. Dia orang yang bisa dipercaya." Kata Tuan Hiruzen. Sakura mengangguk setuju.
Nyonya Biwako tidak mengatakan apapun. Hanya mengangguk setuju pada suaminya. Hizashi? Pria itu bungkam seribu bahasa. Tidak membicarakan apapun dalam pembicaraan. Otaknya jelas memproses pada apa yang sedang terjadi.
"Hizashi," Panggil Tuan Hiruzen. Hizashi mengalihkan pandangannya pada sang profesor. "Aku memiliki sebuah misi untukmu. Anggaplah ini peringkat misi S. Aku ingin kau bertanggungjawab untuk Sakura-san , aku ingin kau menjaganya sementara waktu. Dan jangan katakan apapun pada siapapun. Tetap jaga ini berada di antara kita berempat."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Selamat datang." Sapa Sakura ringan.
Bekerja di kedai teh bukan hal yang sulit diterima. Tuan Fujisaki sungguh orang yang baik. Setelah Tuan Hiruzen menjelaskan keadaan pada Tuan Fujizaki, pria paruh baya itu menerimanya dengan tangan terbuka. Tuan Fujisaki mengizinkan menggunakan ruang di lantai atas kedai sebagai kamar sendiri. Bahkan menyiapkan ranjang untuknya.
Kebutuhan makan bukan hal yang sulit. Tuan Fujisaki memberikan makan siang setiap hari, terkadang memberikan makan malam padanya. Dia hanya perlu memikirkan sarapan dan makan malam jika Tuan Fujisaki tidak memberi makanan. Itu tidak masalah.
Distrik sipil berbeda dengan distrik shinobi. Namun Sakura tidak asing. Orang tuanya adalah warga sipil. Meskipun mereka tinggal di distrik yang berlawanan dengan tempatnya tinggal sekarang. Dia tetap terbiasa dengan suasana di sini. Di mana setiap orang menyapa dengan ramah dan tidak shinobi yang tiba-tiba melompat dari atap ke atap. Atau tidak ada lemparan kunai yang tiba-tiba mengarah ke arah sembarangan. Hanya kumpulan orang-orang sipil. Yang kemana-mana harus berjalan dan memanggul beban berat dengan agak kuwalahan.
Membicarakan masalah ini. Dia jadi merindukan orang tuanya. Sakura memang sudah tinggal di rumah orang tuanya. Tapi, dengan nostalgia distrik sipil membuatnya merindukan omelan ibunya di pagi hari. Senyuman maklum ayahnya di meja makan. Atau bahkan bau masakan ibunya setiap pagi.
Suasana distrik sipil sungguh menghidupkan kembali setiap kenangan masa kecilnya. Kenangan bersama teman-teman sipilnya. Saat-saat dia belum masuk ke akademi untuk mengejar belajar bersama Ino.
"Kau melamun." Sakura mengalihkan perhatiannya kepada pria di depannya.
Hizashi melakukan perintah Hokage dengan patuh. Pria itu mengunjunginya setiap sehari. Kecuali saat Hizashi memiliki misi. Memeriksa apakah dia baik-baik saja atau tidak. Bertanya dia mendapat kesulitan atau tidak. Meskipun pria itu selalu saja cemberut dan tampak selalu kesal, Sakura tak pernah merasa terbebani dengan adanya Hizashi di sekitarnya.
Setidaknya Hizashi dapat menjadi pengingat bahwa dia masih seorang shinobi. Mengingatkannya pada Neji dan yang lainnya. Mengingatkannya pada rumah.
Pria itu biasanya akan duduk di salah satu meja dekat dengan jendela. Meminum teh hijaunya sambil memperhatikan Sakura bekerja dengan sekali-kali memandang jalanan. Dia akan tetap duduk di sana paling tidak selama setengah hingga satu jam lamanya.
"Ah, kau benar." Sakura kembali melanjutkan kegiatan mengelap meja.
"Apa yang kau pikirkan?"
Sakura terdiam. "Rumah."
Hizashi mengangguk. Menundukkan kepalanya untuk menatap teh hijau di depannya.
"Tidak apa-apa. Wajar jika kau merindukan mereka," ada jeda diantara mereka. "Tapi ketahuilah, kau bisa menganggap tempat ini rumah."
Terkadang Hizashi seperti ini. Dari sifatnya yang sangat menyebalkan dan kecenderungannya yang selalu suka membantah apapun yang Sakura katakan. Hizashi kadang-kadang mengingatkan bahwa dia tidak sendiri.
Ini sudah bukan satu minggu. Atau bukan satu bulan di masa lalu. Ini sudah berlangsung 7 bulan 2 minggu dan 2 hari. Tuan Hokage masih belum menemukan apapun. Sakura bertanya hampir tiga hari sekali di bulan pertama. Menjadi satu minggu sekali pada bulan ketiga. Pada bulan kelima, Sakura bertemu setiap 3 minggu sekali. Pada bulan keenam, Sakura mulai menyerah. Pada bulan ketujuh, Sakura mulai lelah.
Di sela-sela waktu Sakura dalam hal menunggu, Hizashi tetap datang setiap hari. Yang anehnya berpikir bahwa akan aneh jika Hizashi tidak datang. Pria itu tidak lelah seperti Sakura. Dia tetap datang. Mengawasi Sakura dari meja dekat jendela.
"Terima kasih, Hizashi." Ujarnya tersenyum.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Hari itu sudah malam. Namun masih ada 4 jam sebelum kedai di tutup. Tuan Fujisaki masih keluar untuk membeli tepung. Sepasang kekasih yang sekarang sedang melakukan pembayaran dengan Sakura di meja kasir. Mereka tampak mesra bersama-sama. Seolah tidak dapat dipisahkan. Sakura ingin tersenyum lebar pada kedua sejoli itu.
"Terima kasih. Datang lagi di waktu selanjutnya."
Sakura beranjak dari kursi kasir. Meregangkan tubuhnya yang agak kaku. Ini hari Senin. Kedai tidak terlalu ramai hari ini. Sakura jadi agak bisa bersantai.
Saat terdengar pintu kedai terbuka. Seketika pandangannya jatuh pada sosok di depan pintu. Keadaan agak gelap karena sudah malam tetap tidak ada identitas identitas itu dari Sakura. Masih dengan rambut panjangnya, Hizashi berdiri diam di sana. Sakura berjalan menghampiri pria itu.
"Hizashi, ada perlu apa?" tanyanya.
Hizashi tidak menjawab. Dia tidak berbicara apapun. Hanya diam berdiri mengawasinya. Sakura bingung. Dia mengulurkan suara, pegang lengan Hizashi. Hizashi agak tidak terganggu. Pria itu langsung meringis begitu Sakura menyentuhnya.
Sakura memperhatikan tindakan kecil Hizashi. Langsung saja, dia menarik lengan kimono Hizashi, luka memar berwarna hitam yang tampak di sikunya. Sakura mengernyit tidak suka. Dia memandang Hizashi, matanya meminta penjelasan dari pria itu. Tapi Hizashi tidak mau menjawab. Dia tetap diam.
Gadis musim semi itu menghela napas kesal. Dia menarik Hizashi ke dalam kedai. Sakura meraih kursi dan mendudukkan Hizashi di sana. Meninggalkan Hizashi sendiri setelah mengucapkan 'jangan pergi kemanapun'. Tak lama, Sakura datang membawa kotak kecil. P3K.
Sakura mendudukkan dirinya di depan Hizashi. Menggulung lengan Hizashi sampai ke pundaknya. Mengamati luka yang menurutnya buruk. Sakura mengambil antiseptik dan mulai membersihkan bengkak dan daerahnya sekitarnya. Mengabaikan pandangan bingung dari Hizashi. Setelah menaruh kapas di meja, Sakura meletakkan telapak tangannya di atas bengkak. Cahaya hijau keluar dan memberikan kehangatan pada lengan Hizashi yang bengkak.
"Tendon sikumu robek. Kenapa tidak ke rumah sakit?" tanya Sakura kesal.
"Aku merasa aku baik-baik saja. Cedera itu tidak akan menggangguku." Ujarnya cuek.
"Kau bodoh. Jika kau tidak segera memperbaiki tendonmu, tanganmu bisa lumpuh selamanya." Omel Sakura. Merasa Hizashi sangat bodoh.
Hizashi tidak menjawab. Pria itu menatap telapak tangan Sakura yang masih melakukan penyembuhan pada tendon sikunya. Rasa sakitnya berangsur-angsur pulih.
"Aku tidak tahu kau adalah iryo-nin." Ujar Hizashi.
"Kau tidak pernah bertanya."
Sakura berkonsentrasi memperbaiki tendon robek Hizashi. Tendon bagian yang penting, salah sedikit Hizashi bisa lumpuh seketika. Butuh kehati-hatian dalam memperbaiki tendon. Memasukkan cakra medis secara tepat ke dalam setiap sel tendon. Memperbaiki bagian otot yang rusak lalu melanjutkan dengan merajut jaringan baru untuk menyambung sobekan tendon harus dilakukannya dengan perlahan.
Dia baru mengangkat tangannya ketika dirasa tendon Hizashi sudah lebih baik dan mendekati sembuh. Kemudian, Sakura mengambil salep dan mengoleskan pada lengan Hizashi. Dilanjutkan dengan membungkusnya menggunakan perban. Menjaga jaringan tendon baru tidak bergeser dan tetap di tempatnya.
"Selesai." Ucapnya ceria.
Sakura mendongak. Terkejut dengan pandangan Hizashi padanya. Pria itu memandangnya begitu dalam. Mata perak itu lurus menatap pada kedua mata hijau miliknya. Membuat Sakura tenggelam di dalam kedua mata perak Hizashi. Mata pria itu tidak memiliki retina, bahkan pupil Hizashi berwarna putih. Seputih salju yang saat ini sedang turun pada bulan Desember.
"E... et...etto," Sakura mencoba bicara. "Kau tidak boleh menggerakkan tanganmu dulu," Memutus kontak mata mereka dan mengalihkan perhatiannya pada peralatan medis yang berantakan di atas meja. "Paling tidak selama satu minggu, paling cepat 5 hari. Jangan coba-coba menggerakkan tanganmu untuk melakukan pekerjaan berat."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sakura memandang jalanan dengan melamun. 8 Januari. Tahun baru telah lewat. Sudah berapa bulan Sakura di sini? Ah iya, 8 bulan 3 minggu. Lama sekali. Sakura kembali menghela napas
Tahun baru kemarin sangat sibuk. Malam tahun baru juga tidak ada bedanya. Sungguh bencana. Kedai benar-benar penuh. Festival tahun baru sungguh menyita tenaganya. Jelas, penduduk desa bertebaran merayakan tahun baru dan kedainya menjadi salah satu destinasi para pejalan kaki.
Sakura sampai tidak bisa melihat kembang api yang biasa dia nikmati setiap tahunnya. Pada saat festival tahun baru, Sakura akan menikmatinya dengan teman-temannya. Ino akan datang mengetuk apartemennya. Dia jelas datang untuk membantunya mengenakan kimono musim dingin yang tebal. Mereka kesulitan memakai kimono dan memutuskan saling membantu satu sama lain.
Mereka akan berjalan-jalan dan bergabung dengan rookie 9 yang lain. Menghabiskan malam tahun baru untuk melihat kembang api. Bahkan sudah dua tahun ini mereka lengkap. Sasuke ada di sana juga. Menikmati pertengkarannya dengan Naruto yang sepertinya tidak akan ada habisnya.
Tahun ini. Di waktu ini, dia menghabiskan tahun barunya dengan melayani setiap pelanggan di kedai. Kedai bahkan masih ramai pada tanggal 2 dan 3 Januari. Baru mulai sepi pada hari keempat. Sakura jadi bisa lebih beristirahat. Bersantai di meja favorit Hizashi. Tidak pelanggan saat ini. Sungguh sepi.
Hizashi tidak datang menemuinya sampai saat ini. Ini dimulai pada tanggal 30 Desember. Pria itu mengatakan padanya, dia akan sibuk dengan beberapa acara di klannya. Hinata juga selalu sibuk pada tahun baru.
Seminggu lebih tidak bertemu Hizashi memang tidak terasa karena kesibukannya. Tapi di saat longgar seperti ini, Sakura merasa kosong. Seperti ada yang kurang. Aneh rasanya tidak melihat mata perak Hizashi mengawasinya dari meja tempatnya duduk sekarang. Aneh rasanya tidak merasakan cakra Hizashi di sekitarnya. Sakura bukan tipe sensor, tapi dia akan dapat merasakan sedikit cakra seseorang meskipun tidak seakurat pada shinobi tipe sensor.
Lamunannya berhenti ketika sebuah kantong diletakkan di depannya. Dia mengarahkan pandangannya pada Hizashi yang kini duduk di sebelahnya.
"Kupikir kau sudah melupakanku." Katanya pura-pura sedih.
Tangannya membuka kantong yang dibawa Hizashi. Menemukan kotak bento. Sakura penasaran pada apa yang dibawa Hizashi untuknya. Dia menemukan umeboshi di dalam kotak. Matanya membulat bahagia.
"Darimana kau tahu aku suka umeboshi?" tanyanya meraih salah satu kue sebelum mengunyahnya.
Hizashi meraih satu umeboshi yang lain. "Aku tidak tahu. Bibiku yang membuatnya untuk perayaan tahun baru kemarin."
Sakura menutup matanya. Menikmati kelezatan umeboshi di dalam mulutnya. "Wah, umeboshi buatan klan Hyuuga memang selalu menjadi yang terbaik."
"Terbaik? Kau pernah makan umeboshi buatan klan Hyuuga?" tanyanya setelah menelan.
Sakura mengangguk semangat. "Salah satu sahabatku adalah anggota klan Hyuuga. Uhm dia seorang souke."
Hizashi mengangguk. Memandang umeboshi di tangannya. Terdiam. Sakura menyadari diamnya Hizashi yang tiba-tiba. Ah iya, topik souke dan bunke sangat sensitif pada kalangan klan Hyuuga. Teringat pada betapa bencinya Neji pada Hinata saat ujian chuunin berlangsung. Neji telah bersiap membunuh Hinata jika saja tidak dicegah oleh para guru.
"Hizashi, kapan ulang tahunmu?" Tanya Sakura mengalihkan topik pembicaraan.
"Hari ini."
Sakura terdiam. Memproses informasi yang diberikan Hizashi padanya. Jeda cukup lama di antara mereka.
"Hah?!"
"Kau tuli? Aku bilang hari ini ulang tahunku." Ujarnya seraya mengunyah umeboshinya.
"Kita harus merayakannya!" kata Sakura bersemangat.
.
.
Gadis itu berlari ke belakang. Hizashi hanya memperhatikan dari tempat duduknya sambil memakan kue yang dibawanya. Beberapa saat kemudian Hizashi mengernyit heran pada apa yang dibawa Sakura. Sakura membawa piring berisi manju yang ditata bertingkat. Kemudian terdapat lilin menyala di sebelah kue manju itu.
"Sayang sekali aku baru mengetahuinya. Jika lebih awal, aku akan menyiapkan sesuatu untukmu. Bukan hanya manju dengan lilin seperti ini." Ujarnya sedih.
Sakura telah kembali duduk. Hizashi memandang Sakura dengan heran. Selama ini, tidak pernah ada yang merayakan ulang tahunnya. Biasanya klan hanya akan peduli pada Hiashi, bukan padanya. Seperti hari ini, tetua telah menyiapkan makan malam untuk ulang tahun Hiashi nanti malam. Hanya Hiashi, dia tidak. Souke selalu diutamakan. Bukan bunke sepertinya.
"Hizashi, ayo tiup lilinnya!" gadis di depannya menatap penuh harap padanya. Dia sudah akan meniup lilin, tapi tangan Sakura menutup nyala lilin di depannya. "Kau harus berdoa dulu. Sampaikan harapanmu."
Hizashi menurut. Dia menurut. Memanjatkan doa ulang tahunnya yang pertama. Aku ingin terus seperti ini. Setelahnya, dia meniup lilin yang menyala di sebelah kue manju. Sakura bertepuk tangan meriah. Senyum Sakura sungguh indah. Suara tawanya sangat merdu. Matanya yang melebar karena bahagia benar-benar menjadi hijau yang sangat cerah. Wajah gadis itu menjadi sangat cantik. Singkatnya, Hizashi terpesona.
"Berapa usiamu sekarang?"
Sejak kapan Hizashi kemari bukan karena tugas dari Hokage? Sejak kapan Hizashi mulai mengawasi Sakura bukan untuk membuat laporan pada Hokage? Sejak kapan rasa melindungi Sakura bukan berasal dari misi Hokage?
"25 tahun." Jawabnya pelan.
"Wah kita selisih 5 tahun disini, aku 20 tahun sekarang," Sakura kembali terkikik. "Ah akan menjadi 21 saat 28 Maret nanti," Sakura kembali meraih umeboshi lagi. "Sayang sekali, aku tidak menyiapkan hadiah apapun untukmu. Kau sih! Kenapa kau mendadak begini sih memberitahuku." Ujarnya seraya menikmati umeboshi dibanding manju.
"Kau ingin memberiku hadiah?"
.
.
Sakura mengangguk pelan sambil menelan kuenya. Tepat pada saat itu, Sakura merasakan tangan Hizashi meraihnya mendekat. Tangan pria itu menarik lehernya. Sakura terkejut. Bibir pria itu menempel erat pada bibirnya.
Bibir Hizashi sangat lembut. Pria itu mulai menggerakkan mulutnya, mengulum bibir Sakura dengan lembut. Sangat lembut seolah Sakura terbuat dari kaca dan harus diperlakukan dengan hati-hati agar tidak pecah berantakan. Tangan Hizashi yang bebas meraih kepala Sakura, memperdalam ciuman mereka.
Setelah beberapa saat, Sakura mulai membalas ciuman Hizashi. Menikmati kegiatan yang mereka berdua bagikan. Hizashi mulai menyelipkan lidahnya ke dalam mulut Sakura. Menyusuri setiap bagian dari mulut Sakura. Hizashi pasti masih bisa merasakan rasa umeboshi di mulutnya. Sakura mulai membawa tangannya ke leher Hizashi. Menariknya mendekat dan mempererat kontak mereka.
Mereka baru memisahkan diri saat kebutuhan udara menyerang mereka. Sakura bernapas dengan cepat. Jantungnya berdebar dengan kencang. Wajahnya sudah semerah warna tomat. Tangan Hizashi berpindah dan membelai wajah Sakura yang memerah secara indah.
"Aku sudah mendapatkan hadiahku."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Kau akan pergi berapa lama?" Sakura bertanya sambil mengelap meja.
Hizashi berdiri di depannya dengan seragam ANBU. Berniat pamit pada Sakura yang sedang membersihkan meja. Kedai sudah tutup. Seperti kebiasaan Sakura setiap hari, gadis itu akan melakukan bersih-bersih pada kedai.
"Satu minggu. Mungkin bisa lebih." Jawabnya.
Sakura menghela napas pasrah. Mengangguk menunjukkan pengertian.
"Hati-hati. Kembalilah dengan utuh."
Tiba-tiba Sakura merasakan pelukan erat dari belakangnya. Pria itu membalikkan tubuh Sakura untuk menghadapnya. Menatap mata seputih salju Hizashi, Sakura masih saja sering tenggelam di dalamnya. Dia telah melihat banyak mata byakugan selama ini, namun pandangan kehangatan itu hanya Sakura temukan pada mata Hizashi. Gadis itu akan betah jika harus menatap mata Hizashi selamanya.
Hizashi menanamkan sebuah ciuman kecil pada dahi Sakura. Kemudian membelai rambut Sakura yang sekarang telah mencapai pinggangnya. Kembali dengan panjang rambutnya saat genin dulu.
"Jaga dirimu baik-baik."
Sakura tersenyum. "Kau lupa? Meskipun aku sudah lama tidak bertarung, aku tetap murid godaime hokage. Aku tidak lemah."
"Aku tahu. Karena itu, aku ingin kau menjaga dirimu sendiri sampai aku pulang."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Hari ini berbeda dengan hari-harinya yang biasa. Hizashi pulang. Anehnya pria itu datang langsung melalui jendela kamar Sakura. Sakura baru saja masuk ke kamar dan menemukan Hizashi tengah duduk di ranjangnya.
Pandangan Hizashi merunduk. Memandang tangannya sendiri, seolah itu hal paling menarik yang pernah ditemukan olehnya. Sakura mendekatinya. Hizashi masih mengenakan seragam ANBU di tubuhnya. Sakura memperhatikan detailnya, takut jika pria itu terluka atau terjadi sesuatu padanya. Tapi tidak ada yang terluka. Hanya saja, Hizashi masih terdiam.
Sakura duduk di sebelah Hizashi. Meraih pundak Hizashi yang bergetar.
"Apa terjadi sesuatu?" tanyanya perlahan.
Hizashi tidak menjawab. Namun membawa tubuh Sakura mendekat. Pria itu membenamkan wajahnya di antara perpotongan lehernya. Mendekap Sakura dengan erat. Sangat erat bahkan seolah dia ingin menghancurkan tubuh Sakura. Tubuh Hizashi bergetar.
"Aku tidak akan pernah bisa bebas, Sakura. Juin ini sungguh menyiksaku." Ucap Hizashi.
Sakura terdiam. Tangannya naik untuk memeluk tubuh Hizashi yang lebih tinggi darinya. Mengelus punggung Hizashi dengan kasih sayang yang lembut. Juin pada dahi Hyuuga. Yang menurut Neji hanya menjadikan para bunke sebagai budak dari keluarga utama.
Hizashi bicara setelah Sakura dengan sabar menunggunya tenang. Misinya kali ini adalah untuk melindungi keluarga utama. Mereka terkepung. Para tetua mengizinkan beberapa bunke mati dengan sia-sia. Mengorbankan mereka dengan dalih menyelamatkan byakugan. Hizashi marah. Menentang para tetua agar berhenti membiarkan para bunke mati dengan cara seperti ini. Ketidaksetujuan Hizashi tidak menyukakan hati tetua. Menghukumnya dengan mengaktifkan juin pada dahinya.
Gadis musim semi itu ternganga. Dia tahu jika sistem ini memperbudak bunke dan seolah-olah mengurung bunke dengan dalih melindungi byakugan. Di waktunya, Hinata, Hanabi dan Tuan Hiashi telah mencoba menghapus kebiasaan ini. Mengurangi tindakan yang tidak manusiawi dan tidak menghormati hak asasi manusia.
Dengan sigap, Sakura melepas hitai-ate Hizashi tanpa perlawanan. Mengeluarkan cakra medis dan memeriksa kepala Hizashi. Hinata pernah mengatakan padanya, ketika juin diaktifkan, juin akan bekerja merusak sel-sel otak dari penerima juin. Sakura curiga dengan keadaan otak Hizashi.
Benar saja. Beberapa sel otak mengalami kerusakan. Dia langsung mengarahkan cakranya untuk mengembalikan sel otak Hizashi. Sakura merasakan air matanya menetes. Kerusakan seperti ini pasti sangat menyakitkan. Membayangkan Hizashi disiksa seperti ini membuat hatinya pedih.
Kehangatan cakra Sakura, proses penyembuhan sel otaknya dan demam membuat Hizashi terbuai. Kantuk menyerangnya. Sakura membaringkan Hizashi di ranjangnya. Memandang pria itu dengan sedih. Sakura melepas sandal Hizashi, baju ANBU dan senjata yang sekiranya menganggu tidurnya. Setelahnya, Sakura berbaring di sebelah Hizashi, menyingkirkan rambut Hizashi yang menghalangi wajah pria itu. Sakura tersenyum. Pria ini sangat tampan baginya.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Kau harus menjaga Hiashi," datar Ucap Sakura. "Aku mengerti."
Hizashi sedang memperhatikan Sakura membuat makan malam untuk mereka berdua. 28 Maret telah lewat. Seharusnya Hizashi berada di sini bersama Sakura. Tapi apa daya. Tetua menginginkannya menjaga Hiashi ke Kirigakure untuk keperluan diplomasi. Tampaknya Sakura agak ngambek.
Sakura menaruh sup miso di depannya. Beserta dengan nasi dan tempura. Sederhana. Sakura jarang memasak sesuatu yang istimewa untuk mereka. Hanya masakan rumahan yang sangat sederhana. Bahkan ini bukan masakan terenak yang pernah dimakannya. Anehnya, Hizashi lebih suka menghabiskan waktu di sini bersama Sakura dengan makanan sederhana dibandingkan dengan masakan lezat di kompleks Hyuuga.
"Sakura." Tangannya meraih sumpit di depannya.
Gadis yang sudah duduk di sebelahnya hanya bergumam tidak jelas. Namun, Hizashi tahu, Sakura mendengarkannya.
"Apa kau berpikir untuk menikah?" tanya Hizashi ringan.
Sakura mengunyah tempuranya dengan tenang. Tidak berpikir macam-macam dengan pertanyaan Hizashi. Menganggap ini sama dengan pertanyaan-pertanyaan Hizashi lain.
"Pernah, sih."
"Kau masih ingin pulang?" Tanya Hizashi lagi.
Sakura berhenti meraih nasi. Menghela napas berat. "Aku tidak tahu. Ini sudah satu tahun. Tuan Hokage masih belum menemukan cara apapun untuk mengembalikanku pulang," Matanya menatap sedih pada mangkuk nasi di tangannya. "Aku mulai lelah berharap."
Hizashi memandangnya dalam. Sakura tahu Hizashi sedang memandangnya. Dia merindukan rumahnya. Merindukan Ino, Naruto, Sasuke, Ayah, Ibu, Tsunade-shisou, Shizune-neesan, Kakashi-sensei, Neji dan semua teman-temannya yang lain. Sasuke. Sejak kapan Sakura berhenti merasakan cinta kepada pemuda Uchiha itu?
"Ayo kita menikah." Ujar Hizashi.
Sakura menatap Hizashi tak percaya. Menikah dengan Hizashi? Menikah dengan ayah Neji? Apa dia tidak salah dengar? Bukan begini seharusnya yang terjadi. Sakura berhenti berpikir. Dia menutup matanya sebentar. Menenangkan pikiran dan hatinya.
Selama ini. Hizashi selalu ada di sampingnya. Tidak peduli betapa buruk keadaannya, Hizashi akan selalu ada di sini bersamanya. Sakura ingat mata Hizashi yang selalu memandangnya dengan penuh kasih sayang. Sakura ingat bibir Hizashi yang menyapu miliknya dengan lembut. Ciuman mereka memiliki arti. Sakura tahu itu. Hizashi ingin menjaganya, namun di saat bersamaan Sakura tahu Hizashi ingin percaya padanya untuk melindungi dirinya sendiri.
Masa depan. Apa yang ia khawatirkan? Tuan Hokage sudah mengatakan padanya, apapun yang dia lakukan tidak akan berpengaruh apapun pada masa depan.
"Neji..."
Dia pernah menyebutkan nama Neji di hadapan Hizashi. Sakura menceritakan tentang putra Hizashi pada sang calon ayah. Hizashi tahu tentang Neji.
"Jika dia adalah anakku, bukankah ada kemungkinan dia adalah anak kita?"
Sakura termenung. Hizashi benar. Ada juga kemungkinan seperti itu. Apapun yang dia lakukan tidak akan merubah apapun di masa depan. Neji akan tetap terlahir dengan atau tanpa adanya Sakura. Sakura menghela napas sekali lagi.
"Baiklah. Mari kita menikah."
Hizashi tersenyum. Mereka berdua tersenyum. Mereka melanjutkan acara makan malam mereka yang sempat tertunda dengan tenang dan tidak ada pembicaraan lagi.
"Kau tahu...," kata Sakura seraya mencuci peralatan makan mereka. Hizashi membantunya dengan membilas peralatan makan. "Kau sangat tidak romantis."
Hizashi terkekeh. "Maafkan aku," ada jeda terdiam. "Tapi bulannya indah sekali, bukan?"
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Kalian sungguh memberitahu kami dengan cara ini?"
Sakura sedang menyajikan teh pada Nyonya Biwako. Istri dari Hokage ketiga memandang Sakura penuh arti. Perempuan pendamping Hokage itu tertawa melihat tampang Sakura yang tampak memerah dengan pertanyaannya.
"Apa maksud anda, Nyonya?" tanya Sakura pura-pura tidak paham.
Nyonya Biwako kembali terkekeh. "Souta, aku pinjam pegawaimu sebentar, ya!" seru Nyonya Biwako pada pria di meja kasir. Tuan Fujisaki hanya mengacungkan jempol ke atas pada istri Tuan Hokage. "Duduklah, Sakura."
Sakura duduk mengikuti instruksi Nyonya Biwako. Jujur saja, Sakura bingung menanggapi keinginan Nyonya Biwako. Sakura tahu, istri orang nomor satu di Konoha itu ingin tahu tentang hubungannya dengan Hizashi.
"Kemarin, Hizashi datang kepada kami. Dia bilang, dia sudah melamarmu dan kau menyetujui lamarannya. Dia ingin bertanya apa langkah selanjutnya, karena kau... yah kau bukan berasal dari sini, dan tidak serta merta bisa mengumumkan pada dunia bahwa kalian akan menikah," Sakura mengangguk. Menunggu dengan sabar kalimat selanjutnya dari Nyonya Biwako. "Suamiku mengatakan akan lebih baik tetap merahasiakan pernikahan kalian. Apa Hizashi sudah mengatakannya padamu?"
Sakura mengangguk. "Hizashi mengatakan pada saya, jika hanya kami berdua, Tuan Hokage, Nyonya Biwako dan Tuan Fujisaki yang akan tahu tentang pernikahan kami," Sakura berhenti sejenak. "Mungkin juga tetangga di sekitar kedai. Mereka pasti akan tahu suatu saat nanti. Namun, akan tetap aman. Dari pengalaman saya, gosip warga sipil tidak pernah sampai ke telinga para shinobi," Sakura kembali berhenti.
"Bagaimana dengan klan Hyuuga?"
"Hizashi bilang, dia tidak akan memberitahu mereka. Sulit untuk menikahi gadis di luar klan Hyuuga. Apalagi menikahi gadis dengan latar belakang tak jelas seperti saya. Seperti yang anda tahu, saya tidak memiliki latar belakang apapun di sini," Sakura kembali terdiam. "Dia juga tidak memberi saya kejelasan, apa dia akan berubah pikiran suatu saat nanti. Tapi untuk saat ini, dia bersikeras seperti itu." Ujar Sakura lagi.
Nyonya Biwako mengangguk mengerti. Memahami apa yang akan terjadi jika klan Hyuuga mengetahui pernikahannya dengan Hizashi. Perempuan yang lebih tua kembali meraih cangkir teh miliknya. Menghirup wangi teh hijau khas dari kedai teh Fujisaki.
"Kenapa kau diam, Sakura?" tanya Nyonya Biwako memperhatikan diamnya Sakura.
"Etto, saya tahu ini tidak penting. Tapi, ini cukup mengganggu saya." Ujar Sakura perlahan.
"Tanyakan saja."
Sakura terdiam. Sibuk dengan pikirannya sendiri. "Beberapa hari yang lalu, Hizashi mengatakan sesuatu yang membuat saya bingung," Nyonya Biwako diam mendengarkan. "Dia mengatakan bulannya indah sekali, bukan? Padahal saat itu tidak ada bulan sama sekali," Sakura mengamati wajah Nyonya Biwako berubah menjadi jahil. Senyumnya menjadi sangat aneh. "Maafkan saya, Nyonya Biwako. Saya rasa, saya hanya terlalu berpikir."
Nyonya Biwako tertawa dengan puas mendengar kalimat Sakura, membuat sang empunya objek memasang wajah keheranan dan kebingungan yang sangat kental.
"Sakura, aku tanya padamu, bagaimana cara orang-orang di tempatmu mengatakan cinta kepada orang yang dia cintai?"
Sakura memiringkan kepalanya bingung. "Kami mengatakan aku mencintaimu secara langsung kepada pasangan kami. Namun, apa hubungannya dengan..."
Oh...
Wajah Sakura langsung berubah warna. Semerah tomat kembali. Tangan Sakura reflek menutupi wajahnya karena malu dengan arti sesungguhnya kalimat itu.
"Tampaknya di sana, orang-orang sangat lugas, ya. Di sini, kami lebih kuno. Mengucapkan aku mencintaimu terdengar vulgar dan tidak romantis. Jadi, kami mengucapkan bulannya indah sekali, bukan? Atau aku bisa mati dengan bahagia sekarang. Bukankah lebih romantis?"
Sakura masih mendengar tawa Nyonya Biwako. Bahkan Tuan Fujisaki ikut tertawa mendengar percakapan mereka.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sungguh pernikahan mereka tidak megah. Hanya ada Tuan Hokage dan Nyonya Biwako yang bertindak sebagai wali Hizashi, lalu Tuan Fujisaki serta istrinya yang menjadi wali Sakura. Tidak ada shiromuku, Sakura hanya mengenakan kimono putih bercorak bunga sakura dan Hizashi bahkan hanya mengenakan pakaian standar jounin. Pernikahan mereka juga hanya dilaksanakan di kantor Hokage.
Sungguh sangat sederhana. Sederhana namun sakral. Janji pernikahan yang mereka ucapkan dengan sepenuh hati, telah terdengar di telinga para dewa. Mereka tahu, mereka akan terikat selamanya. Hizashi memberikannya cincin pernikahan yang sederhana. Dua buah cincin yang sama persis bentuknya. Cincin perak dengan ukiran yang menyatu ke tengah, di mana batu permata kecil berwarna putih berada.
Malam pertama sungguh malam yang menegangkan bagi mereka. Sama-sama tidak berpengalaman. Namun, Hizashi memperlakukannya dengan sangat lembut. Hizashi sangat menghargainya.
Setiap sentuhan yang diberikan Hizashi di tubuhnya sangatlah halus. Sakura merasa sangat dihargai dan dicintai. Tidak sekalipun Hizashi memaksakan kehendaknya. Dari sentuhannya, Sakura tahu, Hizashi sangat memujanya. Mereka melantunkan nama masing-masing dengan indah.
"Sakura, bulannya indah sekali, bukan?" ucap Hizashi di sela ciumannya.
"Ya, bulannya indah sekali."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Lakukan sesukamu, Hizashi. Aku tidak peduli!"
"Apa kau sungguh marah hanya karena aku salah menaruh susu ke dalam rak bumbu?"
"Aku tidak marah. Siapa bilang aku marah?"
Hizashi menghela napas. Sakura sungguh aneh belakangan ini. Suasana hatinya mudah sekali berubah. Bahkan hanya dengan kesalahan kecil saja, Sakura bisa mengamuk padanya. Contohnya saat ini, salah menaruh susu. Hanya salah menaruh susu. Tapi Sakura sudah mengomelinya seolah-olah dia baru saja menghancurkan patung wajah Hokage.
"Baiklah, aku minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi."
Sakura memandang sinis padanya. "Untuk apa kau minta maaf? Kau tidak salah, kok."
Hizashi menutup mulutnya. Berharap ini hanya salah satu hal yang disebut PMS oleh Sakura beberapa kali. Sakura sungguh menakutkan sekarang. Perempuan itu bisa mengomel seharian dan tidak terbendung. Anehnya, sikap itu langsung berubah drastis ketika bertemu pelanggan. Atau bahkan Nyonya Biwako, Tuan Hokage atau Tuan Fujisaki.
Sakura hanya mengamuk padanya. Hanya padanya!
Apa yang salah dengan istrinya sebenarnya?
"Sakura ..," Hizashi meraih pundak Sakura yang ditepis begitu saja. "Apa kau menginginkan sesuatu?"
Sakura terdiam, tampak memikirkan sebuah jawaban. Berhenti dari kegiatan memotong wortel. Dia berbalik, menghadap ke wajah sumringah. Hizashi berkedip. Kemana perginya wajah marah Sakura tadi?
" Umeboshi. Tapi aku hanya mau umeboshi buatan klanmu." Ujarnya dengan senyum malaikat.
Hizashi menelan ludah gugup. Astaga, Hizashi jadi takut dengan perubahan suasana hati Sakura yang naik turun seperti ini.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Hizashi membuka pintu kedai dengan kunci cadangan. Tuan Fujisaki memberi Hizashi kunci agar dapat memudahkannya masuk kedai. Setelah dia menikah, Hizashi jadi lebih sering tidur di luar kompleks Hyuuga. Jelas itu membuat beberapa orang curiga. Hiashi sempat menanyakan hal itu padanya. Saudara kembarnya yang baru menjadi ketua klan itu curiga dengan sikap adiknya yang mulai aneh.
Hizashi hanya menjawab sekenanya. Seperti berlatih sendirian hingga pagi hari. Misi. Menjernihkan pikiran. Atau kadang yang paling ekstrim, dia mengatakan dia sedang belajar berjudi dan berada di rumah pelacuran. Hiashi hanya memandang tak percaya pada sang adik. Tapi Hiashi tidak mengatakan apapun.
Saat berjalan menuju kamar di lantai atas. Dia menemukan Sakura tengah duduk di meja makan yang hanya berisi dua kursi. Di depannya, tergeletak kertas tak berdaya di atas meja. Sakura memandang kertas itu dengan pandangan yang ... Hizashi tidak tahu itu pandangan jenis apa.
"Kau belum tidur?" Tanyanya sambil duduk di sebelah Sakura.
Sakura menggelengkan kepalanya. Dia menggeser kertas tadi padanya. Bermaksud agar Hizashi membaca kertas entah apa isinya. Hizashi menurut. Mata peraknya bergerak huruf demi huruf. Matanya melebar tak percaya. Hizashi langsung menatap Sakura. Istrinya sedang tersenyum hangat. Mengkonfirmasi informasi apapun yang ada di atas kertas itu.
Hizashi langsung berdiri. Mengangkat Sakura ke dalam pelukannya. Tertawa bahagia memenuhi ruang makan.
"Aku sungguh-sungguh akan menjadi ayah?" tanyanya. Sakura mengangguk dan tertawa.
Hizashi terlalu bahagia. Dia mencium Sakura dengan keras. Ciuman kebahagiaan yang dia bagikan.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Tapi, menghadapi istrinya yang sedang hamil itu tidak mudah. Suasana hatinya mudah sekali berubah-ubah. Kemarin adalah salah satu efek kehamilannya. Hizashi dengan sabar menerima setiap amarah istrinya, yang hanya ditanggapi dengan tawa dari Tuan Hokage.
Pernah, Hizashi masuk ke ruang Hokage untuk menerima misi dengan wajah lusuh. Sebelum anggota lain datang, Tuan Hokage bertanya ada apa, Hizashi hanya menjawab, Sakura mendiamkannya semalaman penuh karena dia salah membeli teh. Mendengarnya, Tuan Hokage hanya tertawa.
Lalu lagi. Tengah malam. Pukul 01.35, Hizashi ingat dengan pasti jam berapa. Sakura membangunkannya. Mata istrinya memerah. Hizashi ketakutan. Takut jika Sakura bermimpi buruk atau terjadi sesuatu yang tidak baik padanya. Tapi apa?
Sakura menginginkan anmitsu yang ada di depan apartemen Kakashi-sensei nya. Pada pukul 01.35. Hizashi membujuk Sakura untuk menahan diri hingga besok pagi. Tidak. Sakura menangis. Mengatakan kalau Hizashi jahat dan tidak mengerti perasaannya. Jadilah dia mengambil haori. Berjalan keluar menuju kedai anmitsu yang ada di depan apartemen Kakashi.
Hizashi merasa sangat bersalah pada penjual anmitsu karena harus bangun di tengah malam. Namun, sang penjual hanya terkekeh, mengatakan bahwa dia maklum setelah Hizashi menjelaskan keadaan istrinya yang tengah hamil.
"Bersabarlah, Nak. Perempuan hamil memang suka aneh-aneh." Penjual itu memberi nasihat.
Kemudian, selera makannya juga menjadi sangat aneh. Sakura pernah meminta manju dengan isian gurita, cumi-cumi, wasabi, dan saus takoyaki . Di mana tempat di dunia ini, Hizashi dapat menemukan makanan seperti itu? Jadilah dia harus datang ke koki klan Hyuuga untuk meminta manju dengan isian gurita, cumi-cumi, wasabi dan saus takoyaki. Jelas saja, koki memandangnya dengan pandangan 'apa kau masih waras, Tuan Hizashi? '
"Kau yakin akan memakan makanan ini, Tuan Hizashi?"
Hizashi hanya tersenyum ringan. Mengangguk untuk meyakinkan sang koki klan. Sakura menerimanya dengan wajah bahagia dan tampak sangat menikmati makanan aneh yang Hizashi bawa. Meskipun Hizashi langsung berlari ke wastafel , memuntahkan kembali benda yang disebut Sakura sebagai makanan. Menyesali keputusan untuk menuruti istrinya, Sakura menyodorkan manju, memaksa Hizashi memakan makanan menyeramkan itu dengan tatapan malaikat.
"Kau benar-benar lemah, Hizashi." Sakura berkomentar sambil menggelengkan kepalanya sebelum melanjutkan kegiatan menikmati manju dengan isian gurita, cumi-cumi, wasabi, dan saus takoyaki .
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Bulan Juli. Hizashi tengah tertidur lelap. Goncangan di tubuhnya membangunkannya dari tidurnya yang lelap. Dia menyesuaikan diri dengan keadaan sekitarnya. Mata peraknya menemukan Sakura dengan wajah pucat terpampang jelas di wajah cantiknya.
Hizashi sontak bangkit dari tidurnya. "Kau kenapa? Apa yang salah?"
"Tidak ada yang salah," Ujar Sakura tenang. "Sekarang aku ingin kau tenang."
"Tenang? Kau pucat, Sakura." Katanya panik.
"Hizashi!" Bentak Sakura. "Aku ingin kau tenang sekarang!" Setelah dirasa Hizashi sudah tenang, Sakura melanjutkan. "Pertama, aku ingin kau memakai hitai-ate mu," Hizashi menatapnya bingung. Tapi dia tetap melakukan perintah Sakura. "Lalu, begini. Air ketubanku sudah pecah. Anak kita akan lahir. Aku ingin kau membawaku ke rumah sakit."
Dengan kalimat itu, Hizashi mengangkat Sakura dalam pelukannya. Melompat melewati atap dan mendarat di depan rumah sakit pusat. Rumah sakit shinobi. Hizashi menemukan Nyonya Biwako sedang mengecek beberapa pasien. Sontak Hizashi menghampirinya, masih dengan Sakura di pelukannya. Sakura tertawa dalam kesakitannya.
Tingkah Hizashi sangat lucu matanya. Nyonya Biwako membawa Sakura masuk ke ruang bersalin. Hizashi terus menggumamkan kalimat yang sama.
"Tenanglah, Sakura. Anak kita akan lahir dengan sehat." Terus seperti itu sambil memegang tangan Sakura.
Sakura masih saja tertawa. Dia tetap mendorong bayinya keluar dengan diselingi tawa.
"Ya ampun, Hizashi. Aku sangat tenang," Sakura menarik napasnya. Mendorong bayinya keluar. "Malah kau yang tidak tenang," ujarnya terengah-engah. "Kau sangat lucu."
Nyonya Biwako tersenyum bahagia melihat interaksi mereka berdua. Ketika bayinya keluar, Hizashi tidak dapat lebih bersyukur. Nyonya Biwako memberikan bayi kecil mereka yang baru lahir ke pelukan Sakura. Dengan sigap, Sakura menyusui putranya.
"Apa kau tidak ingin membersihkannya dulu?" tanya Hizashi.
Sakura kembali tertawa. "Tidak, bodoh. Aku harus menyusui anak kita saat dia keluar. Asi yang keluar dari payudaraku saat ini, akan sangat bagus untuk berkembangan otak dan tubuhnya."
Nyonya Biwako mendatangi Hizashi. Menepuk lembut pundak Hizashi yang kaku. "Apa kau sudah menemukan nama untuk putra kecilmu?"
Hizashi terdiam. Mengamati Sakura yang tengah menyusui putranya dengan wajah bahagia. "Neji. Hyuuga Neji," ujar Hizashi. "Dia akan selalu menjadi pusaran dalam hidup kami. Neji akan selalu menjadi sekrup yang mengikat kami berdua."
"Jadi itu arti nama Neji? Sekrup? Kenapa kau tidak bisa kreatif, Hizashi?" keluh Sakura memandang tidak senang pada Hizashi. Kemudian barulah dia wujud pandangan pada Neji. "Selamat datang ke dunia, Neji." Mengecup pelan kening Neji.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Sakura ... Sakura ...,"
Sakura berlari dari arah dapur. "Ada apa?"
"Apa kau lihat? Neji sedang tersenyum."
Sakura melihat Hizashi dengan pandangan geli. "Ya ya ya. Neji sangat menggemaskan."
Kemudian, meninggalkan Hizashi bermain dengan putra kecil mereka. Neji membuat kehidupannya bahagia. Sakura mulai sadar dengan perasaannya. Alasan kenapa rasa sayangnya pada Neji sungguh besar. Sangat menyayanginya hingga dia memperhatikan setiap detail kecil dari sang prodigi Hyuuga.
Neji adalah anaknya.
Karena itu, Sakura sangat mencintai Neji. Cinta yang tulus dari seorang ibu untuk anaknya. Dia bersyukur tidak menuruti nasehat Ino untuk berkencan dengan Neji. Memikirkan dirinya berkencan dengan putranya sendiri terdengar sangat ... salah.
Tiba-tiba, sebuah seruan Hizashi dari dalam kamar terdengar. "Sakura ... SAKURA ..."
Sakura menghela napasnya lagi. Berlari menuju kamar mereka di lantai atas. "Hizashi, ini masih pagi. Kau akan mengganggu tetangga." Keluhnya sambil memukul Hizashi dengan sendok sayur.
Hizashi memandang Sakura dengan pandangan tak percaya. "Neji mengucapkan kata pertama."
"Hm?" Sakura mendatangi Neji yang sedang bermain di atas ranjang. "Neji, kau ingin mengucapkan sesuatu?" Sakura berjongkok.
"Katakan lagi, Neji."
Neji memandang Sakura dengan mata peraknya. Mata dengan semburat yang sama dengan Hizashi. Ya ampun, Sakura jatuh cinta pada mata perak Neji. Jatuh cinta pada putranya yang manis.
"I ... Ib .. Ibu ..."
Sakura tersenyum bahagia. Neji mengucapkan kata pertama saat berusia lima bulan? Lebih cepat dari anak-anak pada umumnya.
"Neji benar-benar anak yang jenius. Aku tidak menyangka dia bisa berbicara sekarang, dia baru lima bulan," Ujarnya takjub. "Pantas dia disebut sebagai prodigi Hyuuga."
"Tentu saja, dia putramu. Kau juga sangat cerdas, Sakura." Hizashi duduk di sebelahnya.
Sakura menatap mata perak Hizashi. Mata penuh cinta dari suaminya. Hizashi meraih wajah Sakura. Mulai mendekatkan wajahnya pada Sakura. Bibir mereka berte ...
"Ayah ..."
Neji mencegah mereka. Tangan mungilnya menarik lengan Sakura. Seolah tidak mau ibunya direbut oleh sang ayah. Sakura tertawa, mengangkat Neji dalam pelukannya.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Apa maksudmu, Tuan Hokage?"
Hizashi memandang Tuan Hiruzen tak percaya. Pagi ini, Tuan Hokage dan Nyonya Biwako kunjungi kedai teh Fujisaki. Tiba-tiba datang dan menyampaikan kabar tidak mengenakkan.
Tuan Hokage tidak berbasa-basi. Mengucapkan bahwa tidak boleh ada dua pribadi yang sama dalam waktu yang sama. Itu yang dikatakan gulungan.
"Apa artinya aku akan kembali saat aku yang kecil lahir pada 28 Maret nanti?" tanya Sakura tenang.
"Maafkan aku, Hizashi, Sakura-san. "
Sakura menatap pangkuannya. Neji sedang bermain dengan rambut panjangnya. Tertawa dengan tawa yang sangat bahagia.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sakura merapikan hakama Neji. Hizashi masih berbicara dengan fotografer yang akan memotret mereka. Selama ini, mereka tidak memiliki satu pun foto bersama.
Jadi, pagi ini. Sakura meraih pundak suaminya. Mengatakan dia ingin memiliki foto yang berisi dirinya, Hizashi dan Neji. Hizashi setuju. Setelah persiapan yang cepat, mereka beranjak ke studio foto.
Menemukan bahwa mereka harus antri setidaknya untuk tiga antrian.
Mereka setuju. Tidak keberatan jika harus menunggu. Kesabaran bukan hal asing bagi para shinobi. Sembari menunggu, Hizashi terus bermain dengan Neji yang nyaman duduk di pangkuan Sakura. Neji suka sekali bermain dengan rambut orang tuanya. Entah itu rambut Hizashi atau rambut Sakura. Neji tidak peduli, tetap menarik rambut mereka dan bermain dengannya.
Fotografer akhirnya kembali dengan Hizashi. Suaminya mengenakan seragam Jounin standar. Ketika Sakura bertanya kenapa tidak memakai hakama, Hizashi menjawab, itu adalah pakaiannya saat menikahinya. Jadi itu lebih berharga dari pada kimono atau hakama apapun.
Hizashi langsung berdiri di belakang Sakura yang duduk dengan memangku Neji.
"Satu ... dua ... tiga ..."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Hizashi ..."
"Hm?"
Mereka sedang ada di taman belakang. Hizashi sedang menggendong Neji yang berusaha menggapai rambutnya yang panjang. Tuan Hokage, Nyonya Biwako dan Tuan Fujisaki memandang mereka. Tahu jika ini adalah sebuah perpisahan.
"Aku ingin kau selalu menjaga Neji," Ujar Sakura tiba-tiba. Hizashi memandang Sakura tidak percaya. "Aku tidak ingin kau melupakan dan menelantarkan Neji. Berikan dia setiap kasih sayang yang bisa kau berikan padanya."
"Jangan katakan apapun, Sakura."
"Aku ingin agar kau mengajari Neji setiap hal yang dapat kau ajarkan. Aku ingin Neji banyak belajar darimu. Kau pria yang sangat baik, aku sangat beruntung bertemu dan menikah denganmu. Aku bersyukur Neji lahir dari rahimku. Neji adalah anak yang cerdas. Terlalu cerdas malah. Dia seorang jenius. "
Neji mulai menangis. Hizashi menatap Sakura dengan pandangan nanar.
"Jangan katakan apapun, Sakura."
"Kau tahu? Aku selalu berpikir, darimana Neji mendapatkan otaknya yang sangat jenius. Maaf agak sombong. Tapi, kurasa itu dariku," Sakura tertawa. "Kakashi-sensei dan Tsunade-shisou bilang, aku sangat mudah menangkap materi yang diberikan. Dan aku memiliki kontrol cakra yang sangat baik. Kurasa itu menurun pada Neji," Sakura merasakan air matanya menetes. Tangannya meraih pipi Neji. "Dia memiliki mata yang sangat cantik. Neji memiliki matamu. Mata yang membuatku jatuh cinta padamu. Neji akan memiliki hatimu, dimana dia akan setia pada kehendak api. Dia akan sama keras kepalanya denganmu."
"Kumohon berhenti, Sakura."
"Untukmu ...," Sakura mengangkat wajah Hizashi yang tertunduk. "Jangan menyimpan dendam pada Hiashi. Jika kau membenci ketua klan Hyuuga, tolong ... aku memohon kepadamu. Jangan membenci Hiashi. Jika kau tidak mau melindunginya sebagai ketua klan, lindungi Hiashi sebagai saudaramu. Lindungi dia sebagai kakakmu. Tidak ada salahnya bukan? Hiashi sangat peduli padamu, Hizashi. Dia mencintaimu. "
"Berhentilah! Neji mulai menangis karena kau."
Sakura tidak mau berhenti. "Lalu, aku sangat bersyukur untuk bertemu denganmu. Untuk diberi kesempatan menikah denganmu. Melahirkan anakmu. Aku benar-benar bahagia. Aku rasa, aku tidak akan jatuh cinta pada pria lain. Ketika aku kembali ke waktuku, aku akan tetap mencintaimu. Ditambah dengan Neji, tentu saja. "
Hizashi mulai goyah. "Sakura, aku ingin kau menjaga dirimu," Mata perak itu memandangnya dengan kesedihan dan penuh cinta. "Kau mengubah hidupku. Kau orang pertama yang mengucapkan selamat ulang tahun padaku. Kau orang pertama yang membuatku merasa aku berharga. Kau adalah yang pertama dan terakhir yang aku akan selalu aku cintai."
"Hizashi, bulannya indah sekali, bukan? "
Mata perak Hizashi basah. "Ya, Sakura. Bulannya indah sekali. " Sakura akan sangat merindukan mata itu. Mata seputih salju milik Hyuuga Hizashi.
Sakura tersenyum. Cahaya itu kembali menyelimutinya. Sakura menunduk. Mencium Neji yang sangat dia sayangi. Tubuhnya mulai berubah menjadi transparan. Waktunya tinggal sedikit. Tangannya meraih wajah Hizashi. Menciumnya dengan lembut. Ciuman yang sangat lembut sebagai perpisahan sebelum cahaya benar-benar menyelimutinya.
.
.
Bersambung
.
.
Sebuah:
Hai hai hai
Ini fic dengan terpanjang dalam satu chapter yang pernah aku buat. Karena ya emang cuma berencana oneshot. Tapi klo oneshot kok panjang. Akhirnya tak pecah deh hahaha
Tiba-tiba aja kepikiran sama pasangan Hizashi / Sakura. Maaf ya kalau aneh. Ha ha ha
Untuk Menambah Penjelasan masalah Perjalanan Waktu . Di film Harry Potter and The Prisoner Of Azkaban (2004), Hermione dan Harry Tidak dapat mengubah masa depan, tapi apa yang mereka lakukan akan menjadi pelengkap dari beberapa kekosongan. Seperti saat Harry melihat patronus melindungi dia dan Sirius dari dementor, yang dia pikir itu adalah patronus ayahnya, tapi ternyata itu adalah patronus dari dirinya sendiri di masa depan. Karena itu, disini prinsipnya sama dengan di Harry Potter. Hermione mengatakan jika mereka tidak boleh terlihat menonjol, maka Sakura melakukan hal yang sama. Tidak boleh menonjol apalagi terlihat oleh rekan-rekannya. Karena itu, disini Sakura melepaskan diri dari orang yang sekiranya akan dia temui di masa depan untuk menghindari kebingungan mereka.
Lalu Ungkapan "bulannya Indah Sekali, Bukan? ". Frasa itu emang digunakan orang jepang jaman dulu buat mengungkapkan cinta. Lebih tepatnya " Tsuki ga kirei desu ne? ". Mereka terlalu malu buat bilang "aku mencintaimu" dan berpikir itu terlalu terang-terangan. Lagian ini di masa lalu. Ditambah Hizashi datang dari klan yang bisa dibilang kolot? Hahaha tapi mereka sangat puitis, aku suka.
Okey, udah segitu aja.
Untuk semuanya, terima kasih untuk pembaca, yang akan memberikan tombol favorit dan mengikuti. Kalian harus tahu, aku sayang kalian ...
Arigatou, minna-san…
Tanda,
Teratai putih
