Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji

Kencan © Aiko Blue

Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini


Satu hal yang Eijun pahami tentang menjalin hubungan bersama Miyuki Kazuya adalah, sebaiknya tidak perlu pergi ke luar untuk kencan. Jangan. Atau itu akan jadi bencana besar.

Eijun sendiri tidak begitu ingat bagaimana detailnya sampai mereka berdua pada akhirnya sepakat untuk mengisi akhir pekan dengan berkencan ke luar, padahal biasanya hanya berdiam diri di apartemen. Maraton series Netflix, anime, menonton film-film action, masak sendiri atau memasan pizza, makan, sampai akhirnya sama-sama ketiduran di sofa. Eijun menemukan fakta bahwa dengan cara seperti itu mereka berdua bisa jadi pasangan yang mendekati kata normal. Berdebat kecil tapi kemudian akur lagi setelah sama-sama menikmati alur cerita dari film yang diputar.

Tapi kali ini entah mengapa mereka justru keluar dari rutinitas dan memutuskan untuk kencan ke taman hiburan. Klise, dan membawa bencana.

"Ini kiamat."

Kazuya berkomentar dengan datar, Eijun menoleh padanya, memasang wajah tak suka.

"Bukan kiamat, ini taman hiburan."

Kazuya balas menoleh, mengangkat satu alis dengan mimik wajah menghakimi. "Taman hiburan di hari Minggu." Kata Kazuya. "Seperti yang kubilang, ini kiamat."

Eijun mendengus sebal, membuang muka dan menatap berkeliling. Antrian panjang di semua wahana. Dan diam-diam dalam hati ia sepakat pada kazuya bahwa ini memang kiamat.

Kazuya mengela napas panjang, menararik satu tangan Eijun. "Ayolah, kita pulang saja."

Eijun dengan sigap menarik tangannya kembali. "Enak saja! Rugi tiketnya, mahal." Ia benci mengakui ini, tapi ia memang baru saja terdengar seperti kaum ibu-ibu yang mengomel perihal menghambur-hamburkan uang.

"Lalu kau mau naik wahana apa?" Tantang Kazuya, matanya melirik pada antrian di wahana roller coaster, seorang petugas berseragam merah-kuning memegang papan bertuliskan antri minimal 2 jam. Kazuya meneguk ludah. "Melihat antriannya saja aku sudah mau pingsan."

Eijun merengut. Ia mengamati antrian di wahana lain, para petugas yang bergaja di sekitar antrian rata-rata memang membawa papan bertuliskan hal yang sama, malah ada juga yang 3-4 jam. Mata Eijun kemudian bertemu dengan seorang pemuda berkaus abu-abu yang berada di tengah-tengah antrian kora-kora. Kausnya basah akan keringat, rambutnya lepek, dan ia memasang wajah merana. Eijun tersenyum simpul, sementara pemuda itu menanggapinya dengan senyuman pahit seraya menggeleng dengan lemah. Jangan kesini, matanya berkata demikian, lalu perhatian si pemuda berkaus abu-abu teralihkan karena seorang gadis di sebelahnya menarik kausnya dan memasang wajah merajuk, pemuda itu tersenyum dengan sabar lalu melepas topinya dan menggunakannya untuk mengipasi sang pacar. Sungguh interaski yang manis di tengah himpitan antrian panjang dan banjir keringat.

"Jangan bilang kalau kau berharap aku melakukan hal itu padamu."

Suara Kazuya membuat Eijun menoleh padanya. Pemuda itu kini memandanginya dengan satu alis terangkat tinggi. "Huh?"

Kazuya tersenyum miring. "Kau tadi melihat mereka juga, kan? Jangan bilang kau berharap aku akan mengipasimu saat kau mengeluh di tengah antrian yang sumpek. Mimpi sana."

Eijun menarik napas, memaksakan untuk tersenyum sebelum sebelah kakinya menginjak Kazuya sepenuh hati. Tanpa memudarkan senyumnya ia berkata. "Tentu saja, Sayang. Aku tahu kau bukan orang yang romantis."

Kazuya memasang wajah kesakitan, namun ia berhasil menahan diri untuk tidak menjerit, sebaliknya ia menggenggam satu tangan Eijun lalu memasang wajah bersalah. "Sakit, sumpah." Ia meringis, dan Eijun dengan bangga mengakui bahwa ia suka sekali melihat Kazuya memohon padanya. "Sial, Eijun. Jari kakiku bisa remuk."

"Masa?" Eijun memasang senyum semanis malaikat. Kazuya mungkin lebih berkuasa saat mereka hanya sedang berdua, tapi di tempat umum begini Kazuya benar-benar tidak suka menarik banyak perhatian, jadi Eijun bisa puas mengerjainya.

Bugh!

Sebuah guncangan dari tubrukan kecil di tubuh Kazuya akhirnya terpaksa membuat Eijun melepaskan kakinya. Kazuya buru-buru meringis sakit, mengoyangkan kakinya seolah memastikan bahwa tidak ada jarinya yang copot. Eijun sendiri baru membuka mulut untuk lanjut berdebat ketika sebuah suara lebih dahulu mengintrupsi.

"Hisk,"

Baik Eijun dan kazuya sama-sama tercengang akan suara itu, mereka menoleh dan saling bertatapan, kemudian memutar tubuh dan melihat ke belakang. Seorang bocah laki-laki berusia sekitar empat tahun berdiri dengan wajah memerah dan penuh air mata. Ia mendongak menghadap Eijun dan Kazuya dengan mata bulat berkaca-kaca. Belum sempat otak mereka memproses apa yang terjadi, bocah itu sudah membuka mulutnya lebar-lebar—

"HUWAAAAAAAA!"

menangis keras.

Eijun membeliak lebar, sedangkan Kazuya bersikap bijak dengan memasang wajah bengong yang rupawan. Eijun buru-buru berjongkok untuk menyamakan tingginya dengan bocah itu, ia berusaha menenangkan sebisanya di tengah-tengah kepanikan.

"Hush, hush, ada apa adik kecil? Di mana orang tuamu?"

"HUWAAAAAA! Kaa-chan, hisk… huhuhu.."

Eijun membuka mulutnya lalu menutupnya lagi, ia celingukan mencari tanda-tanda keberedaan orang tua atau wali si bocah atapi tidak menemukan clue apapun. "Hei, jangan menangis, oke? Kita cari ibumu bersama!"

Anak itu tetap menangis. Dan beberapa pengunjung lain mulai mengamati mereka dengan tatapan curiga. Eijun mengacak rambutnya depresi lalu melirik pada Kazuya yang masih memasang wajah terbengong. "Teme! Bantu aku!"

Kazuya mengerjap. "Hah?" Ia berkedip pada Eijun, memandangan si bocah yang masih menangis. "A-apa? Ada apa ini? Aku tidak mengerti."

Di antara semua hari dimana otak jenius seorang Miyuki Kazuya bisa berubah lemot, mengapa harus hari ini? Eijun menggerutu, lalu menarik-narik celana jeans kazuya dengan tidak sabar. "Lakukan sesuatu! Atau kita bisa dicurigai sebagai penculik anak!"

Mendengar suara bernada kesar dari Eijun, anak itu justru menangis makin keras. Eijun gelagapan. Reflek ia mememuk bocah itu lalu menggendongnya, mengusap-usap punggungnya berusaha menenangkan.

"Hush, jangan menangis yaa. Kami bukan orang jahat, kami akan membawamu ke pusat informasi, oke?"

Yang Eijun lupakan, anak umur empat tahun mungkin belum mengerti apa itu pusat informasi, jadi alih-alih diam, ia justru makin keras menangis. "Aduh, jangan nangis." Eijun berusaha untuk tidak membentak, seingatnya mengurus Keiko dulu tidak serepot ini. Ia menoleh lagi pada Kazuya, berharap pemuda itu punya solusi cerdik, tapi kazuya justru memasang wajah terperangah seolah-olah kaget Eijun bisa menggendong bocah.

"Miyuki Kazuya, bantu aku!"

"Aku harus apa?" Kazuya bertanya balik. "Aku tidak tahu apaun soal anak kecil."

"Argh, pokoknya lakukan sesuatu agar anak ini diam."

Kazuya memasang ekspresi berpikir serius, dan untuk sesaat Eijun merasa optimis bahwa Kazuya punya solusi brilian. "Oke," Kata Kazuya akhirnya, suaranya terdengar percaya diri. Ia sudah dapat ide. "Kau bawa sapu tangan?"

Eijun sedikit terkejut dengan pertanyaan itu. "Eh?" Ia tidak menyangka Kazuya punya sisi lembut untuk membantu mengusap air mata di wajah sang bocah dengan sapu tangan. "Ah, ada di saku celanaku, sebelah kiri."

Kazuya mengangguk mengerti lalu merogoh saku celana Eijun, mengeluarkan sapu tangannya. Tapi alih-alih maju untuk mengusap air mata yang menggenangi wajah bocah dalam gendongan Eijun, Kazuya justru membuntal sapu tangan itu menjadi bola, kemudian maju perlahan.

"Tunggu!" Eijun memekik, mundur defensif. "Mau apa kau?!"

"Menyumpal mulutnya."

"WHAT?!"

Kazuya kembali maju. "Sini, aku jamin dia akan langsung diam."

Gerak tubuh Eijun bekerja lebih cepat dibanding sel otaknya, ia mundur dan mendorong dada Kazuya menjauh. Menjaga bocah laki-laki itu dari jangkauan pacarnya yang berubah sinting. "Gila apa?!" Eijun membentak. "Menjauh!"

Kazuya mengerutkan alis, menatapnya tidak terima. "Kau suruh aku mikir solusi tadi." Ia mengajukan protes, dan suaranya nyaris teredam oleh jeritan dan tangisan balita dalam gendongan Eijun. "Kalau disumpal, pasti dia diam."

Eijun mencoba menarik napas, menahan diri untuk tidak melayangkan sebuah tendangan maut ke selangkangan Kazuya. "Lupakan saja aku pernah minta solusi padamu. Tidak ku sangka kau bisa jadi setolol ini, Miyuki Kazuya."

Kazuya menyilang tangan di depan dada dan memberi Eijun tatapan menantang. "Lantas apa? Kau punya solusi lebih baik, Sawamura-kun?"

Eijun mendadak bisu. Bocah dalam gendonganya tidak berhenti menangis, dan pakaian Eijun mulai basah karena air mata dan lendir dari hidung si bocah. Eijun kembali mengusap-usap punggungnya, mencoba membuat anak itu tenang namun tidak berhasil. Ia lalu mencoba berpikir, lalu memandang wajah si bocah dan tersenyum ceria.

"Hei, aku bisa menari, kau mau lihat?"

Anak itu diam sebentar, isakannya mulai memelan. Matanya yang basah memandang Eijun penuh rasa penasaran. Eijun mulai optimis. "Benar, kau malu lihat aku menari?" Ia bertanya lagi, sementara sebelah tangannya mengisyaratkan pada Kazuya untuk mengulurkan sapu tangan. Kali ini untungnya Kazuya sadar dengan cepat, Eijun pun mengusap hati-hati wajah bocah itu.

"Nah, aku akan menari untukmu. Setelah itu kita, eng…. Anu, pikirkan solusi lain."

Anak itu diam lama memandanginya, kemudian memberi anggukan kecil yang membuat Eijun merasa lega. "Kalau begitu, kau sama dia dulu ya," Eijun menunjuk Kazuya, yang balik menunjuk dirinya sendiri dengan bingung. Eijun memberi tatapan galak, dan Kazuya dengan canggung membalas dengan cengiran.

"Ahaha, iya, oke. Ayo?" Ia mengulurkan kedua tangannya, meminta si bocah laki-laki berpaling ke gendongannya. Selama satu menit bocah itu memandangi Kazuya seolah berusaha menilai, kemudian ia menglurkan kedua tangan. Sepakat untuk berpindah ke gendongan Kazuya.

Eijun menarik napas panjang, ia tidak yakin akan ide ini. Tapi ketika menatap kembali bocah itu, Eijun jelas tahu bahwa anak itu berharap padanya. Memandanginya tanpa berkedip seolah ia mengharapkan Eijun bisa lepas landas seperti Superman, bersalto, atau teleportasi.

"Eijun, lalukan apapun itu idemu. Karena aku punya firasat anak ini akan mulai jerit-jerit lagi jika sampai lima menit kau hanya memasang wajah sok mikir begitu."

Untunglah Eijun ingat bahwa ia tidak boleh mengumpat atau menghajar Kazuya di depan seorang anak dibawah umur. Sambil berusaha menahan tangannya untuk tidak meninju, Eijun mundur dua langkah. Suasana di sekitar mereka agak renggang, ia mengamati sekeliling, pengunjung lain tampaknya asyik sendiri. Mungkin satu atau dua gerak tarian tidak masalah.

Lalu Eijun mulai menari.

Ia sudah lama sekali tidak menari, meski kemampuannya hanya freestyle yang ia dapatkan di awal semester saat kuliah. Saat itu Eijun tergabung dalam sebuah project bakti sosial bersama teman-temannya dan mereka memutuskan untuk mempersembahkan sebuah tarian saat tampil di panti asuhan. Setelahnya Eijun sama sekali tidak pernah menari.

Eijun melirik dari ekor mata sementara ia mulai melakukan gerakkan yang lebih sulit, ia bisa melihat bukan hanya bocah itu yang menatapnya antusias tapi kazuya bahkan memandanginya tanpa berkedip. Eijun tersenyum kecil, setidaknya anak itu berhenti menangis. Ia melakukan beberapa gerakan lainnya dengan lebih bersemangat, memainkan musik di dalam kepalanya sendiri dan menari dengan lebih agresif. Saat selesai, Eijun baru sadar banyak orang telah menontonnya, mereka berdiri berkeliling, dan bertepuk tangan heboh.

Wajah Eijun merah padam.

"Kerja bagus, Dancer-kun." Kazuya menyeringai, sebuah seringai menyebalkan yang selalu sukses membuat Eijun ingin merobek mulutnya.

"Hebat sekali!" Seseorang berseru, lalu tepukan tangan menggema lebih nyaring. Eijun salah tingkah, memasang cengiran bodoh kepada semua orang, sementara Kazuya hanya memberinya tatapan geli.

"Apa kau penari?"

"Eh, bukan."

"Apa onii-chan trainee dari agensi besar itu?"

"Trainee apa?"

"Onii-chan pasti seorang Idol!"

"Hah?"

Lalu muncul lagi banyak pertanyaan yang delapan puluh persen tidak bisa Eijun pahami maknanya. Tapi hikmahnya, berkat keramaian yang ia ciptakan, sepasang suami istri tahu-tahu menyembul dari keramaian, wajahnya panik dan berkata. "Kalian lihat anakku?"

Dan dari sanalah Eijun tahu, bahwa bocah laki-laki yang selama ini menangis di depannya dan kazuya ternyata bernama Segawa.

"Sejak kapan kau bisa menari?"

"Bukan urusanmu."

"Kenapa kau tidak pernah cerita?"

"Tutup mulutmu."

"Kau bagus juga tadi."

"Diam."

"Kau lumayan keren dengan showcase dadakan begitu."

"Kubunuh kau, Miyuki Kazuya."

Kazuya tertawa senang, lalu mengangkat tangan tanda menyerah. Saat ini ia dan Eijun sudah masuk kedalam sebuah café untuk makan siang. Setelah atraksi cukup menghebohkan yang Eijun lakukan tadi, juga setelah menghalau kerumunan orang, sekumpulan bocah yang bersorak penuh semangat, melompat dan bertepuk tangan meminta Eijun menari lagi, mereka akhirnya bisa duduk dengan tenang dan menunggu makan siang di dalam café berpendingin ruangan.

Tapi sungguh, ia benar-benar tidak menyangka Eijun bisa menari. Eijun memang pernah bilang tubuhnya lentur, dan Kazuya sudah bisa melihat kebenaran itu saat mereka olahraga, tapi menari? Ini hal baru. Kazuya penasaran ada kejutan apalagi yang tersimpan dibalik pribadi seorang Sawamura Eijun? Ia ingin lihat semuanya.

"Anno… selamat siang."

Dua orang menghampiri meja mereka, bukan pelayan yang membawakan makanan, tapi justru dua orang gadis yang tidak Kazuya kenal. Ia menoleh pada Eijun, memberi tatapan bertanya, tapi Eijun sama bingungnya.

"Iya?" Eijun memandangi kedua gadis itu dengan panasaran.

"Ah, apa kalian sedang menunggu orang lain?" Tanya si gadis yang rambutnya dicat pirang mencolok.

Kazuya menngerutkan alis, lalu menggeleng. "Kami hanya berdua."

Kazuya bisa melihat bahwa dua gadis itu seperti baru dapat hadiah ekstra, mata mereka sontak berbinar-binar.

"Ada apa ya?" Eijun melempar pertanyaan, rupanya ia binbung total.

"Ah, begini," gadis yang satunya menjawab. "Keberatan kalau kami berdua bergabung?"

"Hah?"

"Aduh, ini memalukan." Si gadis pirang mengipasi wajahnya dengan tangan. Lalu tersenyum malu-malu. "Daritadi kami berdua mengamati kalian, dan um… kalian cukup menarik, jadi kalau tidak keberatan, boleh kami bergabung?"

Kazuya nyaris terpingkal melihat ekspresi melongo yang Eijun tunjukkan. Namun ia berusaha untuk tidak lepas kendali. Alih-alih tertawa, ia justru memasang senyum penuh pesona. "Kalian mengajak kami kencan buta?"

Anggukan malu-malu menjawabnya, di sebrang meja Eijun sepertinya belum bisa memutuskan untuk marah atau kaget.

Kazuya tersenyum lagi. "Maaf, tapi aku sudah punya pacar."

"He?"

Kazuya mengangguk, dari sebrang meja Eijun berkedip seolah baru sadar. Kazuya menyeringai ke arahnya. "Yep, dan pacarku sangat pencemburu." Eijun melotot galak, Kazuya tersenyum manis. "Aku tidak mungkin mengkhianatinya."

"A-aa, benarkah? Tapi kenapa kau tidak jalan dengan pacarmu?"

Kaki Eijun menedangnya dari bawah meja. Matanya berkata dengan tajam, Awas kau! Tutup mulutmu! Tapi kazuya justru merasa ini jadi semakin menyenangkan. "Tapi saat ini aku sedang bersama pacarku."

Dua gadis itu berkedip, bingung. Saling menatap dan mengangkat alis tanda tak mengerti.

Kazuya berdeham, lalu menunjuk Eijun dengan jarinya. "Dia pacarku."

Ada keheningan selama beberapa lama sebelum akhirnya pekikan tak percaya bergema nyaring. Dua gadis itu menutup mulut dengan kompak, membeliak menatap Eijun dan Kazuya bergantian.

"Kalian—"

"Benar." Kata Kazuya. "Kalian gadis yang menarik, tapi maaf sekali, aku sangat menyanyangi pacarku."

"Ka-kalian… jadi maksudmu—"

"Benar."

Di sebrang meja, wajah Eijun semerah tomat. Ekspresi yang manis.

"Tunggu," Kata gadis itu. "Jadi, maksudnya kalian ini—"

"Benar."

Dua gadis itu tetap terbengong sampai pesanan mereka tiba, membuat pelayan yang mengantar pesanan menatap kebingunan, tapi kemudian pergi begitu saja setelah menyelesaikan tugasnya.

Kazuya tersenyum sekali lagi pada dua gadis itu. "Maaf, tapi bisa kalian pergi sekarang? Aku butuh privasi untuk makan siang romantis bersama pacarku."

Dan kaliamatnya sukses membungkam mulut mengangga dua gadis itu, sekaligus juga membuat Eijun uring-uringan padanya selama dua jam penuh.

Pada akhirnya mereka memutuskan untuk mencoba beberapa wahana dengan antrian yang tidak terlalu panjang. Menjelang senja, mereka memutuskan untuk mencoba satu wahana lagi sebelum pulang. Bianglala.

Kincir raksasa dengan tiga puluh gondola mungil yang dicat dengan warna pastel. Mereka sama-sama menghela napas lega begitu gondola mulai naik perlahan-lahan, suasana di dalam kabin mungil yang mereka tumpangi sejenak sepi. Hanya mereka berdua, berasama samar keceriaan di luar sana, lampu-lampu taman hiburan yang mulai menyala, berkerlip warna-warni, dan langit yang mulai mengabur dalam warna jingga di penghujung hari.

Saat gondola yang mereka tumpangi semakin tinggi dan hampir mencapai puncak, akhirnya Kazuya buka suara. "Dulu, ini wahana favoritku."

Eijun menoleh padanya, memasang perhatian lebih. Menyadari bahwa kini Kazuya tengah memandang langit senja yang memerah bersama seulas senyuman. Sebuah senyum yang menusuk jantung Eijun dengan cara yang ganjil.

"Sekarang tidak?"

Kazuya mendengus kecil, balik menatapnya. Wajahnya dibayangi oleh warna langit. "Sekarang jarang naik. Ini pertama kalinya sejak aku kelas tiga SMP. Waktu itu aku nekat naik sendirian."

Eijun mengernyitkan alis. "Apa kau sebegitu tidak punya temannya?"

Kazuya memasang senyum kecut. "Iya, aku memang tidak punya teman. Senang kau?" Katanya sarkas. Dan Eijun menyemburkan tawa geli.

"Kenapa favorit?" Tanya Eijun akhirnya begitu berhenti tertawa.

Kazuya diam sebentar, matanya berkilat ragu-ragu, lalu ia mendelikkan bahu dan kembali menatap ke luar. "Ayahku sangat sibuk, media mengikutinya kemanapun ia pergi. Menjadi mustahil baginya untuk menghabiskan waktu bersamaku menaiki semua wahana tanpa diikuti paparazzi. Tapi di sini, di bianglala, adalah kabin kecil kami." Kazuya tersenyum getir. "Begitulah sebelum dia berubah menjadi Monster Otoriter."

Eijun mengigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu berapa banyak lagi cerita memilukan yang Kazuya simpan. Tapi tiap kali membicarakan tentang keluarganya, Eijun selalu merasa suara Kazuya membuat hatinya tersayat-sayat.

"Aku, ibu dan ayah sering menyewa satu kabil bianglala sampai berjam-jam. Hanya berputar-putar memang, tapi itu sangat menyenangkan. Memandangi wahana-wahana lain sambil berkhayal bahwa kami bisa menaiki semuanya."

Eijun ingin bangkit dari tempatnya duduk, berpindah ke samping Kazuya lalu memegang tangannya, memeluknya, atau apapun, karena sungguh tiap kali Kazuya menceritakan keluarganya, semuanya jadi begitu dramatis dan emosional.

"Sejak ibuku pergi, kami tidak pernah lagi naik bianglala. Dan semua kenangan itu terkubur perlahan-lahan lalu mati dibawah tembok dingin hubunganku dan ayahku." Suara Kazuya tajam dan getir, senyumnya pias dibawah bayang-bayang.

"Kazuya…"

Kazuya balas tersenyum lebih netral. "Boleh aku duduk di sampingmu?"

Eijun diam sebentar, lalu mengangguk. Ia bergeser sedikit untuk memberi Kazuya celah. Kabin oleng sedikit akibat berat yang tak imbang di kedua sisi. Tapi itu bukan masalah, wahana ini aman.

Kazuya menarik napas panjang, berada tepat di sebelah Eijun. Dari kacamata Kazuya, Eijun bisa melihat bayangan wajahnya menampilkan ekspresi khawatir maka jelas saja Kazuya tertawa gemas dan mengacak rambutnya.

"Argh, hentikan!"

"Kau mengasihaniku lagi, Sawamura-kun."

"Aku tidak mengasihanimu!"

"Yep, ekspresi di wajahmu itu jelas berkata; Miyuki Kazuya anak yang malang… Oh, betapa merananya hidupmu.."

"Ck, kamu bukan anak malang! Kau anak yang menyebalkan!"

"Haha, thanks."

"Aku tidak memujimu!"

"Hm-mm, thanks."

"Geh! Sudahlah!"

Mereka sampai di puncak. Titik tertinggi dari bianglala itu. Lalu mereka sama-sama terdiam memandangi gradasi langit yang berpadu dari warna-warna berbeda, jingga, merah, lalu semakin gelap menuju malam. Dengan remang cahaya, dan suasanya taman yang mulai sepi, sementara dua insan terjebak dalam satu ruang kecil di mana mereka bisa mendengar deru napas satu sama lain.

"Eijun?"

Suara Kazuya memecah keheningan.

"Apa?"

"Boleh aku menciummu?"

Eijun berharap pekatnya cahaya senja bisa menyamarkan rona di pipinya. Kenapa Kazuya selalu berhasil membuatnya merona dengan hal-hal sederhana begini? Eijun meneguk ludah gugup, memasahi bibirna sejenak, lalu menatap Kazuya, matanya tidak bisa fokus sementara kazuya bisa dengan mudah mengunci pandangan padanya. Sepasang iris karamel yang berkilat tajam dan pesona lebih kuat dari bilah manapun. Eijun lagi-lagi menemukan bahwa ia luluh lantak di bawah tatapan itu.

"Eijun?"

Kazuya kembali bertanya, meminta persetujuan.

Eijun menggerutu. "Sialan, memangnya kau pernah minta izin?"

Dan kekehan tawa geli Kazuya yang meluncur dengan begitu ringan, juga gelengan kepalanya dan genggaman hangat di tangannya, adalah sudah lebih dari cukup untuk membuat Eijun berpikir gila.

Bahwa ingin terjebak di sini selamanya bersama Miyuki Kazuya.

.


see you next chapter!


a/n: pertama-tama izinkan saya konfes karena merasa sudah terlalu berdosa kepada kalian, Wahai Para Pembaca yang Baik dan Sabar..

Jadi, anu, soal kencan...

LAH SAYA NGGAK TAU KENAPA TIAP KALI NYOBA NGETIK CERITA MISAWA KENCAN, BARU JUGA 4-5 PARAGRAF, SAYA MALAH CENGENGESAN SENDIRI DAN UJUNGNYA NGEBLANK/pundung (-_-||)

Dan akhirnya saya beneran sadar, kalau saya itu payah banget dalam menyusun acara atau usulan sebuah kencan. Makanya setelah sekian lama mikir MiSawa kencan, tetep aja ampas gini, ampuni aku Reader-sama :')

Pokoknya makasih banget udah sabar ngikutin cerita ini yaa :"

Big lav 3