Naruto belong to Masashi Kishimoto
.
Teratai Putih
.
Mempersembahkan
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
Pair: Hyuuga Hizashi X Haruno Sakura
Genre: Romance, Angst
Rate: M
Warning : tidak menjanjikan EYD, crackpair, typo(s), OOC
.
.
Cahaya yang meliputi tubuh Sakura perlahan memudar. Meninggalkan Sakura yang terduduk lesu di lantai ruang bawah tanah Hokage ketiga. Air mata telah mengalir di pipinya. Hatinya sangat sakit sehingga dia menangis tersedu-sedu.
"Dekorin-chan..." Suara Ino masuk ke dalam ruangan . "Sakura! Kau kenapa?"
Ino langsung menuju Sakura yang terduduk. Gadis Yamanaka menatap heran pada Sakura. Penampilan Sakura benar-benar berbeda dari yang terakhir kali dia lihat.
"Sakura, kenapa rambutmu jadi sepanjang ini?"
Sakura merenung. Menyentuh rambutnya yang masih panjang. Rambutnya masih panjang seperti selalu disukai oleh putranya. Airmatanya semakin mengalir ketika dia sadar, dia masih mengenakan gaun musim panas bercorak biru langit yang dibelikan oleh Hizashi untuknya. Itu bukan mimpi. Semua itu bukan mimpi.
Hizashi nyata. Pengalamannya dengan Hizashi nyata. Putranya nyata. Neji nyata.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sakura terduduk dengan lesu di ruang tamunya. Ino telah membawanya kembali pulang. Gadis Yamanaka itu juga membuatkannya teh dan sekarang duduk di sebelah Sakura. Seolah meminta penjelasan setelah menunggu Sakura tenang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Ino pelan.
Sakura menggelengkan kepalanya lelah. Hatinya hancur. Bagaimana mungkin dia baik-baik saja? Setelah sadar yang terjadi bukan mimpi, Sakura merasa lelah dan retak.
"Sakura..." Ino jarang memanggilnya Sakura. "Apa kau mau aku di sini?"
Sakura mengangkat wajahnya. Menunjukkan jejak tangisannya pada sang sahabat sebelum menganggukkan kepalanya. Ino memegang tangan Sakura, menguatkan.
"Apa kau ingin menceritakan apa yang terjadi?" tanya Ino perlahan.
Sakura kembali menundukkan kepalanya. Ino sahabatnya. Mereka telah berbagi banyak hal bersama. Hampir tidak ada rahasia di antara mereka. Tapi yang dialami hampir tidak bisa masuk ke nalar manusia normal.
"Buta..." Sakura menarik napas. "Aku sekarang mengerti tentang perasaanku pada Neji," Tidak ada tanggapan dari Ino. Sakura tahu, Ino tidak akan menyela sekarang. Atau setidaknya sampai Sakura berhenti nantinya. "Neji... dia.. dia anakku."
Tidak ada tanggapan apapun seperti yang diharapkan Sakura.
"APA?!"
Oh baru saja aku berpikir sebaliknya.
Sakura menatap Ino dengan pandangan nanar. Menceritakan awal mula kejadian yang menimpanya saat Ino meninggalkannya di ruang bawah tanah Hokage ketiga.
Tentang gulungan tidak jelas yang jatuh dengan indah ke kepalanya. Tentang jatuhnya dia ke dalam kamar mandi pria Hyuuga yang ternyata adalah ayah teman mereka. Tentang pertemuannya dengan Hokage ketiga. Tentang waktunya yang hidup sebagai warga sipil. Tentang kedekatannya dengan Hizashi. Tentang cintanya yang mulai tumbuh pada sang Hyuuga sedikit demi sedikit. Tentang lamarannya yang sangat tidak romantis. Tentang pernikahan dan tentang kelahiran Neji. Hingga yang paling menyakitkan adalah tentang fakta yang diberitahukan oleh Hokage ketiga bahwa dia tidak bisa di sana selamanya. Setelah dia merasa nyaman dan mulai menerima kenyataan dia tidak akan kembali ke masa depan.
Sakura kembali menangis ketika menceritakan kembali perpisahannya dengan Hizashi dan Neji. Ino tidak mengatakan apapun. Gadis Yamanaka memeluk erat Sakura dalam rangkulannya. Dia ikut menangis dengan situasi yang dialami sahabatnya.
Tiga tahun bukan waktu yang singkat. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk membuat seseorang beradaptasi. Waktu yang cukup untuk kasih sayang apapun berkembang menjadi begitu mekar dan merambat seperti akar pohon dalam tanah.
"Yang kualami seperti mimpi, Ino. Kupikir yang kualami hanya mimpi. Tapi, ketika aku kembali, hatiku benar-benar sakit seolah itu nyata. Ketika kau mengatakan penampilanku berbeda dan sadar rambutku menjadi panjang, aku sadar aku tidak bermimpi. Aku tidak pernah memotongnya karena rambut tidak akan menggangguku dalam bertarung. Aku tidak perlu bertarung di sana. Lagipula, Neji senang bermain dengan rambut panjang kami," Sakura berhenti untuk menarik napas. "Kemudian baju ini, Hizashi membelikannya saat musim semi. Entah kenapa dia tiba-tiba memberiku baju ini saat dia pulang. Dia membelinya karena teringat denganku saat melihat baju ini."
Hati Sakura sesak. Dia sudah merindukan Hizashi sekarang. Sangat rindu sampai dia sesak napas.
"Aku merindukannya, Ino,"Ujarnya sambil menangis dalam pelukkan Ino. "Aku merindukan Hizashi. Aku sangat merindukannya."
Sakura dan Ino tahu, rindu itu sia-sia. Di waktu ini, Hizashi telah tiada.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Seminggu. Dan Sakura masih belum terbiasa dengan kesepian yang dia alami. Dia mengalami kesulitan untuk menjelaskan pada orang-orang mengenai penampilannya yang berubah. Terutama rambutnya yang tiba-tiba menjadi panjang (bersyukur wajahnya tidak terlalu banyak berubah). Ino membantunya dengan mengatakan pada setiap orang yang mereka temui bahwa Sakura meminum obat penumbuh rambut yang sangat kuat, sangat mahal serta didapat dengan sangat sulit dan sangat terbatas. Sehingga, jika ada yang menanyakannya, mereka tinggal mengatakan, penjual tidak lagi menyediakan obat itu.
Sakura memutuskan untuk membiarkan rambutnya tetap panjang. Meskipun sulit saat dia melakukan tugasnya sebagai seorang kunoichi dan sebagai tenaga medis. Hizashi selalu menyukai rambut panjangnya. Neji juga sering bermain dengan rambutnya. Setidaknya, rambut panjangnya akan selalu mengingatkannya pada suami dan putranya.
Neji. Sakura masih belum bertemu dengan sang prodigi Hyuuga hingga sekarang yang membuatnya bersyukur. Dia belum tahu harus bereaksi seperti apa jika mereka bertemu nanti. Hingga sekarang pula, Sakura belum mengunjungi makam Hizashi. Dia masih takut untuk menghadapi nisan suaminya. Dia takut, dia tidak mampu menerima kenyataan bahwa tubuh suaminya telah terbaring di dalam tanah. Belum juga memiliki keinginan untuk menemui tuan Fujisaki di kedai teh.
Apa Tuan Fujisaki sehat?
Terkadang dia ragu apakah dia benar-benar berada di masa lalu atau di dimensi alternatif lain? Itulah yang membawanya ke sini. Ruang arsip Desa Konoha bukanlah ruang paling rapi. Debu berkumpul di beberapa tempat. Rak yang dia datangi termasuk bagian yang jarang dikunjungi. Hampir tidak ada orang yang datang untuk melihat status pernikahan mereka sendiri.
Lagipula, tidak sembarangan orang dapat masuk ke dalam ruang arsip sebebas Sakura sekarang. Menggunakan wewenangnya sebagai murid Hokage kelima, Sakura dapat dengan mudah masuk ke dalam ruangan tersebut. Dia meraih sebuah buku besar pernikahan lebih dari 20 tahun yang lalu. Keterbatasan kursi dan meja, dia mulai duduk di lantai.
Membuka satu per satu halaman buku. Hingga menemukan hari di mana mereka menikah. Hanya satu pasangan di sana. Sakura jauh lebih yakin itu bukan dunia paralel. Itu benar-benar masa lalu. Nama mereka ada di sana. Hyuuga Hizashi dan Haruno Sakura. Menegaskan fakta bahwa Hizashinya memang sudah tiada.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Kau yakin akan ke sana sendirian?"
Suara Ino jelas menunjukkan kekhawatiran. Sakura tersenyum hangat dan menganggukkan kepalanya. Belum ada yang tahu tentang apa yang dialaminya selain Ino seorang. Bahkan Hokage kelima dan orang tuanya. Sakura tidak tahu bagaimana harus menjelaskan hal semacam itu pada mereka.
"Jika kau mau, aku bisa menemanimu."
"Tidak, Buta. Kau harus menjaga toko. Jangan sia-siakan waktumu untuk menemaniku. Aku baik-baik saja."
Ino memasang wajah tidak setuju. "Itu pernyataan bodoh. Kau sama sekali tidak menyia-nyiakan waktuku."
Sakura tersenyum. "Aku ingin berdua dengannya, Ino. Aku ingin melihatnya."
Sang sahabat menghela napas pasrah. Menyerahkan karangan bunga yang telah dibuatnya khusus bagi Sakura (dan suaminya). Setangkai mawar merah besar dengan 3 camelia merah muda di sekelilingnya lalu dipeluk oleh 6 mawar kuning sebagai lapisan terluar.
Sakura telah mengenal Ino begitu lama. Membuatnya mengetahui arti dari karangan yang diberikan oleh sahabatnya. "Kau tahu, kau membuatku ingin menangis ketika aku menerima bunga ini darimu."
Ino tersenyum. "Kurasa itu karena aku tahu apa yang kau rasakan. Aku sahabatmu. Aku tahu segalanya tentangmu," Ujarnya bangga. "Sampaikan salamku pada suamimu. Kau harus membawaku menemuinya suatu saat nanti."
Sakura tersenyum. Memeluk Ino sebagai balasan sebelum meninggalkan toko bunga Yamanaka.
Jujur saja. Sakura agak tersesat ketika dia telah sampai di pemakaman. Komplek pemakaman Hyuuga sangat luas dan Sakura tidak pernah ke sini sebelumnya. Setelah bertanya pada penjaga makam, dia menuju arah yang ditunjukkan (meski dengan meraba-raba letak makam suaminya).
Makam Hizashi terletak dekat dengan pohon Sakura. Ah bukan, bahkan dia terletak di bawah pohon sakura. Dia tersenyum sedih. Apa keluarga Hyuuga sengaja menempatkannya di bawah pohon sakura? Dia berlutut di depan makamnya. Menaruh karangan bunga yang telah dirangkai Ino untuknya.
'Cinta yang begitu besar kepada suaminya, cinta yang sangat tulus dan mendalam (mawar merah). Kerinduan yang sangat dalam ia rasakan saat ini (camelia merah muda). Sakura sangat merindukan Hizashi meskipun dia tahu mereka tidak akan pernah bertemu kembali di dunia ini (6 tangkai mawar kuning).'
Ino benar-benar tahu apa yang dirasakan Sakura saat ini.
"Hizashi...," Sakura memulai. "Bagaimana kabarmu? Maaf baru datang sekarang," Dia kembali terdiam. "Pasti sangat sulit bagimu. Melihat versi muda dariku berlarian di sekitarmu." Sakura mengingat kembali kenangan masa kecilnya. Dengan seorang pria Hyuuga yang mengawasinya dari kejauhan. Dia tersenyum lagi.
"Pasti sangat sulit membesarkan Neji sendirian," Di sini Sakura mulai menangis. "Maaf. Maafkan aku yang telah meninggalkanmu. Kau tidak harus menanggung semuanya sendiri, kau tahu?" tangisnya agak mengacaukan suaranya. "Kau selalu menahan perasaanmu, kau sangat sulit terbuka pada orang lain. Sekarang aku khawatir dengan apa yang kau alami. Apa kau masih sering menahan perasaanmu?"
Setiap kenangannya dengan Hizashi membanjiri ingatannya. Kenangan indahnya. Pertengkaran mereka. Canda mereka.
"Aku merindukanmu, Hizashi," ini dua minggu kembalinya dia di masa depan. "Apa kau pernah merindukanku?"
Sakura tidak sanggup membayangkan betapa rindunya Hizashi padanya selama ini. Bertahun-tahun tidak bertemu dan hanya mampu memandang versi anak-anak dari istrinya sendiri. Hizashi pasti merindukan. Tidak mungkin tidak. Hizashi bahkan menjadi sangat manja saat dia pulang dari misi. Pria itu akan menempel seperti perangko padanya seharian penuh.
"Aku sangat merindukanmu, Hizashi."
Air matanya masih mengalir. Sakura telah kehilangan suaranya. Suaranya tercekat. Tangisannya terdengar sangat pilu bagi siapapun yang mendengarnya. Dia tak mampu berkata-kata.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Seperti biasa, dalam satu bulan, Hiashi akan menyisihkan satu hari untuk datang menemui adiknya. Sang pemimpin klan dengan tenang berjalan menuju makam adiknya di bawah pohon sakura. Namun. Hiashi berhenti saat melihat sosok seorang gadis tengah berlutut di depan makam adiknya.
Gadis itu menangis. Hiashi tetap di sana mengawasi si gadis. Penasaran dengan sosok yang menangis sepilu itu untuk adiknya. Hampir lima belas menit dia berdiri di sana hingga gadis itu bangkit dan berjalan ke arahnya. Gadis itu tampak terkejut melihatnya. Yah, Hiashi juga terkejut.
Haruno Sakura.
Murid Hokage kelima.
Anggota tim tujuh yang terkenal.
Menangis di depan makam adiknya.
Kejutan besar baginya. Untuk apa seseorang seperti Haruno Sakura ada di sana? Menangisi makam adiknya dengan tangisan pilu seperti tadi. Menangisi seseorang yang bahkan tidak dia kenal.
"Selamat sore, Tuan Hyuuga." Gadis itu menyapanya.
Hiashi tahu, Sakura berusaha keras untuk menyapanya. Terlihat jelas, gadis itu kesulitan bernapas karena tangisannya tadi. Matanya sangat bengkak dan merah. Jejak tangis itu masih ada di wajahnya yang cantik.
"Selamat sore, Haruno-san," terjadi jeda di antara mereka "Tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini."
Sakura tersenyum. "Kau benar, Tuan Hyuuga."
"Mengunjungi seseorang?"
Mata hijau itu meredup. Tampak kerinduan di dalamnya. "Iya, Tuan Hyuuga."
Hiashi ingin bertanya tentang adiknya. Menanyakan alasan Sakura ada di depan makan adiknya. Tapi dia menahannya. Jelas gadis itu tidak akan sanggup menjawab. Sakura tampak hampir rubuh dengan tampilannya saat ini.
"Saya permisi, Tuan Hyuuga."
Hiashi mengangguk sebagai tanggapan. Dia mengawasi Sakura yang melewati. Mata peraknya secara tak sengaja jatuh pada jari manis Sakura. Cincin perak. Cincin itu melingkari jari manisnya. Seolah-olah Haruno Sakura telah menikah. Hiashi terdiam sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya menemui sang adik.
Alisnya berkerut heran ketika melihat karangan bunga yang ditinggalkan di sana. Tahu pasti bahwa karangan bunga itu berasal dari gadis yang tadi menyapanya. Itu bukan bunga bakung, krisan putih, anyelir atau jenis bunga apapun yang biasa dibawa ke pemakaman. Hiashi tidak tahu arti camelia merah muda atau mawar kuning. Namun, tidak perlu seseorang yang jenius untuk mengetahui arti mawar merah besar yang ada di tengahnya.
'Cinta yang tulus dan mendalam.'
Hiashi berpikir itu bukan ketidaksengajaan. Gadis Haruno dekat dengan gadis Yamanaka. Tidak mungkin tidak tahu arti bunga itu. Jadi, kenapa Haruno Sakura menaruh karangan bunga seperti itu di makam adiknya?
Cincin.
Sebentar. Hiashi merasa pernah melihat cincin Sakura di suatu tempat. Sangat akrab meskipun telah lama tidak melihatnya. Cincin yang sama yang telah dipakai adiknya di jari manisnya.
Karena cincin pernikahan orang tuanya dipakai olehnya, Hizashi memakai cincin pernikahan paman mereka untuk pernikahannya. Hyuuga tidak pernah memiliki cincin yang pasaran. Jadi, Hiashi yakin. Cincin yang Sakura kenakan sama dengan cincin yang Hizashi kenakan. Cincin yang sama telah dititipkan Hizashi padanya untuk dia jaga.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Shift kerja Sakura benar-benar sibuk. Hampir tidak ada waktu istirahat apalagi untuk libur. Sakura telah terbiasa dengan rutinitas damai dalam tahun-tahunnya di masa lalu. Transisi untuk kembali sibuk memerlukan waktu.
Meskipun itu bukan hal yang sulit. Mengingat medis telah menjadi bagian dari hidupnya. Hanya tubuh dan ototnya yang kaku butuh pemanasan. Bangsal medis tidak pernah kehabisan pasien.
Karena sibuknya kegiatan rumah sakit, membuat Sakura sungguh menghargai waktu istirahat dan libur. Kalau sudah begini, mau tidak mau perasaan rindu pada keramaian kedai dan istirahat yang cukup selalu Tuan Fujisaki berikan.
Naruto telah menariknya keluar dari kantornya. Menghindari menu kantin rumah sakit yang tidak berubah dan cenderung hambar. Pemuda musang itu membawa ke tempat favoritnya. Ramen favoritnya. Tidak sehat sebenarnya, namun Sakura membutuhkan selingan.
Jadi, di sinilah Sakura. Duduk di salah satu meja dengan Naruto di sampingnya. Sakura memesan katsu ramen yang telah dia rindukan. Dia menyenggol Naruto berkali-kali saat pemuda itu mulai makan dengan sedikit kesopanan.
"Hei, Sakura-chan, apa kau sudah dengar kabar Neji?" tanya Naruto tiba-tiba.
"Kabar apa?"
"Dia dalam perjalanan pulang dari misi. Kudengar dia agak cedera." ujar Naruto setelah menelan telur dalam satu suapan besar.
Sakura terdiam. Ya, dia telah mendengar kabar itu. Bagaimana pun juga, Hyuuga Neji berada di bawah tanggung jawabnya sebagai petugas medis. Ketika dia mendengar kabar Neji terluka, perasaan Sakura tidak karuan. Ingin hatinya memerintahkannya lari menuju Neji dan menyodorkan ribuan pertanyaan pada putranya itu.
"Aku sudah mendengarnya. Dia akan langsung menemuiku saat tiba di Konoha. Kenapa memang?" Tanya Sakura balik.
Naruto masih sibuk untuk mengunyah ramennya. Kemudian terdiam beberapa saat.
"Tidak. Kau tahu, ada banyak gosip tentang Neji yang menyukaimu. Dan kau juga menyukainya."
Sakura langsung tersedak kuah ramen setelah mendengar pernyataan Naruto.
"Kukira kau bukan orang yang suka bergosip, Uzumaki." Ujar Sakura sembari menyipitkan matanya.
Naruto mulai menciut dengan sikap defensif dari rekan satu timnya. Sakura bisa menjadi sangat mengerikan.
"Aku tidak bergosip. Tapi gosipnya sudah ada di mana-mana, bagaimana mungkin aku tidak mendengarnya," Naruto mulai membela diri. "Tapi itu sungguhan atau tidak, sih?"
Sakura tertawa hambar. "Tidak, Naruto. Aku tidak memiliki perasaan seperti itu pada Neji-san."
"Tapi, kau selalu memandang Neji dari kejauhan. Sering melamun juga. Mereka bilang, Neji sudah melamarmu."
Astaga. Pikir Sakura. Jika orang paling tidak peka pada gosip seperti Naruto saja mendengar hal itu, sudah jelas seluruh populasi shinobi telah mengetahui gosip murahan itu. Sakura meringis membayangkan dia mengencani apalagi menikahi anaknya sendiri. Hizashi akan membunuhnya begitu dia mencapai akhirat.
"Aku hanya melihat Neji-san tanpa memiliki perasaan apapun. Melamun? Astaga, Naruto. Cuaca akhir-akhir ini buruk. Aku hanya memikirkan musim yang akan berganti?" Ujar Sakura asal. "Lalu, melamarku? Darimana pula gosip itu berasal?!"
Naruto tidak mengatakan apapun. Hanya menunjuk pada cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin pernikahannya dengan Hizashi. Sakura terdiam. Dia memang tidak melepas cincin itu. Cincin itu berharga baginya. Hal yang paling mendekatkannya pada Hizashi. Benda mati yang telah mengikat mereka.
"Ini?" Naruto mengangguk. "Ini bukan dari Neji-san." Kata Sakura sedih.
"Lalu, itu dari siapa?"
Sakura terdiam memandang cincin di jarinya.
"Seseorang, Naruto. Seseorang yang sangat berharga bagiku."
"Sasuke?"
Sakura mendongak memandang Naruto kesal. "Bukan. Aku sudah tidak memiliki perasaan itu lagi padanya."
Mata Naruto melotot terkejut. "Sejak kapan? Kenapa? Lalu siapa orang ini?"
"Aku tidak tahu alasannya ataupun tidak tahu sejak kapan. Orang ini," Sakura mengangkat jarinya. "Aku akan menceritakannya padamu suatu saat nanti."
Mereka kembali terdiam. Penjelasan Sakura tampak sulit diterima oleh putra Hokage keempat.
"Jadi, semua itu tidak benar?" Naruto memberikan pandangan tidak percaya.
Sakura menganggukkan kepalanya meyakinkan Naruto bahwa kabar itu tidak benar. Sakura kembali fokus pada ramennya. Merenung dengan menatap kosong pada beberapa ramen dan jamur yang tersisa.
"Kau tahu, Sakura-chan. Siapapun pria ini, aku akan menghajarnya jika dia melukaimu," Dia membuat tangannya terkepal. "Meskipun kau juga menyebalkan dengan membiarkanku tetap buta dengan pria ini."
Sakura tersenyum bahagia. Memberikan Naruto senyum paling tulus yang bisa dia berikan saat ini. Meskipun ironis ketika Naruto ingin menghajar Hizashi, mengingat Hizashi telah tertidur selamanya.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Berapa kali aku harus memberitahumu, Neji-san. Hati-hati dengan tangan kananmu."
Sakura hampir berteriak. Setelah mengetahui nama hubungannya dengan sang prodigi Hyuuga, perasaan sayangnya pada Neji semakin meledak dan semakin menjadi-jadi. Melihat lengan kanan Neji kembali bengkak dan tulangnya patah membuat hatinya ikut patah.
"Maaf, Sakura-san. Hal itu tidak dapat diprediksi."
Sakura menghela napas lelah. Neji sama keras kepalanya dengan Hizashi. Hampir tidak ada bedanya.
"Kau memang anak ayahmu." Gumamnya tanpa sadar. Seraya mengambil bidai untuk tangan Neji.
Dia mulai agak kesal. Karena kecerobohan (ah tidak dia tidak ceroboh) dan kekeraskepalaan yang menurun dari Hizashi, membuat tangan Neji patah dan bengkak lagi. Sakura terpaksa harus memasang gips pada lengan putranya.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" Neji memandang Sakura curiga.
Sakura bergerak kembali ke sisi Neji. Memasang bidai pada lengan putranya sendiri.
"Tidak. Aku tidak mengatakan apapun." Sakura melihat tepat ke mata Neji.
Sakura benar tentang mata Neji. Meskipun mata setiap Hyuuga memiliki warna yang sama, Sakura tetap bisa membedakan mata suaminya dengan yang lain. Mata Neji mewarisi mata Hizashi.
"Sakura-san." Panggil Neji.
Menutup matanya, Sakura melanjutkan memasang bidai pada lengan Neji. "Maaf, Neji-san. Kau mengingatkanku pada seseorang."
Mereka kembali terdiam. Suasana kembali menjadi sepi. Sakura tidak bisa memungkiri kebahagiaan yang meliputi hatinya karena bertemu Neji. Hizashi benar-benar bangga pada Neji. Putra tunggal mereka.
"Pemulihan tulangmu akan lebih lama dari yang sebelumnya. Kemarin kau sudah menghabiskan satu bulan tanpa misi karena patah tulang. Kali ini, tulangmu yang seharusnya dalam pemulihan malah patah lagi, karena itu kau tidak akan mendapat misi selama enam bulan." Ujar Sakura lancar.
"Enam bulan? Tidakkah itu terlalu lama?"
Sakura tersenyum. Bahkan cara mereka protes pun sama.
"Kau harus bersyukur. Itu termasuk cepat dibandingkan warga sipil. Warga sipil butuh satu tahun lebih untuk pulih," Sakura akan selalu betah memandang mata perak Neji. "Kembalilah kemari satu minggu sekali, kita akan melepas gips setelah empat bulan. Jika kau masih bersikeras menjalankan misi, siap-siap saja untuk kehilangan lenganmu selamanya."
Sakura menikmati wajah pucat Neji. Ketakutannya sama dengan ayahnya. Mereka selalu takut menjadi tidak berdaya.
"Terima kasih, Sakura-san," Neji beranjak dari ranjang periksa. "Ada satu lagi, Tuan Hiashi ingin bertemu denganmu. Jika kau tidak keberatan, Tuan Hiashi ingin bertemu denganmu besok siang di rumah utama Hyuuga."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sakura tidak mampu mengatakan apapun. Hiashi yang duduk di depannya jelas meminta penjelasan dari cincin di tangannya. Begitu dia sampai di ruangan Hiashi berada, kepala klan Hyuuga langsung menyodorkan kotak berisi cincin Hizashi padanya. Cincin pernikahan suaminya.
Air mata telah berkumpul di kelopak matanya. Mengingat tangan Hizashi yang memakai cincin pernikahan mereka selalu membelainya dengan kasih sayang yang besar. Sakura tahu, Hizashi begitu memujanya. Pria itu tidak pernah sekalipun kasar padanya. Tangan Hizashi selalu menyentuhnya dengan kasih dan penuh sayang. Tangan besar Hizashi yang selalu menggendongnya ketika dia tertidur di dapur atau di kedai teh karena menunggunya pulang misi.
"Bisa kau jelaskan, Haruno- san?"
Sakura menggelengkan kepalanya. Tidak tahu harus berkata apa dalam situasi semacam ini. Jawaban macam apa yang akan ia berikan pada Hiashi? Sakura tidak tahu.
Tampaknya Hiashi memahami situasi Sakura. Pria itu menghela napas berat.
"Adikku. Hizashi. Dia adik yang tidak banyak bicara. Bahkan padaku. Tapi aku tahu, dia selalu menentang perlakuan kejam souke pada bunke. Berkali-kali, Hizashi melawan tetua secara langsung. Dia tidak takut pada hukuman juin yang menyakitkan pada dahinya. Itu membuatnya menjadi menjauh dariku," Hiashi terdiam. Sakura menebak, Hiashi berusaha mengumpulkan niat untuk memberitahunya. "Suatu hari, saat ulang tahun kami yang ke 25, dia pulang dengan wajah bahagia. Hizashi tersenyum sepanjang minggu. Hampir tidak pernah aku melihat Hizashi sebahagia itu.
.
.
"Sejak saat itu. Hizashi selalu tampak bahagia. Aku selalu penasaran dengan perilakunya yang berbeda. Aku tidak tahu sejak kapan, Hizashi menjadi jarang pulang. Setiap aku tanya, apa yang dia lakukan, dia hanya menjawab dengan jawaban tidak masuk akal dan cenderung konyol," Hiashi melihat Sakura yang sedang memainkan gelas teh di depannya. "Kurasa kau tahu alasan macam apa yang diberikan Hizashi padaku. Adikku memang pendiam namun selalu mengucapkan apa yang ada di kepalanya. Anehnya, aku tidak merasa ada yang salah dengan perilakunya yang seperti itu. Aku tidak sedikitpun merasakan kekhawatiran pada adikku. Semakin hari aku semakin melihat Hizashi bahagia. Itu membuat hatiku tenang."
Hiashi berhenti. Meraih gelas teh di depannya, meminum sedikit untuk membasahi tenggorokkannya yang mulai kering. Sadar bahwa setelah ini, kejadian paling memilukan akan terucap dari mulutnya.
"Suatu hari... suatu hari, Hizashi pulang dengan seorang anak dalam pelukannya."
Pada titik ini, Hiashi dapat melihat bahu Nona Haruno bergetar. Hiashi semakin yakin pada asumsinya tadi.
"Adikku yang bodoh datang dengan penampilan hancur. Seolah-olah setiap kebahagiaan telah direnggut darinya. Dia mendapat reaksi buruk dari tetua klan dengan mengatakan anak yang bersamanya adalah putranya. Tetua menganggap apa yang dilakukan Hizashi ceroboh dan tidak bertanggungjawab. Menikah tanpa persetujuan klan, bahkan dengan gadis yang dianggap tidak nyata. Hizashi hancur saat itu. Satu-satunya kebahagiaan yang dia miliki adalah putranya, Neji. Hizashi selalu melakukan apapun untuk menjaga Neji tetap aman."
Hiashi berhenti lagi. Memperhatikan murid Hokage kelima pecah menjadi berkeping-keping. Gadis itu meneteskan air mata. Masih menunduk seraya menggenggam erat gelas tehnya sendiri. Hiashi sadar, gadis itu tidak akan sanggup mengucapkan apapun saat ini. Jadi, dia memutuskan melanjutkan kisahnya.
"Hizashi lebih kuat dariku. Ketika dia menggantikanku pergi ke Desa Kumo, dia menitipkan sesuatu. Dia tahu akhir dari kepergiannya ke Kumo. Dia mengatakan sesuatu yang membuatku membeku. Dia mengatakan 'Itu tak benar. Aku telah membenci keluarga utama, sejujurnya, aku masih membencinya. Itu sebabnya, ini bukan untukmu sebagai keluarga Utama, aku ingin mati untuk menyelamatkanmu sebagai saudaraku. Ini pertama kalinya aku memiliki kebebasan untuk memilih takdirku'. Aku mengingat setiap kata yang diucapkannya saat itu."
Sakura semakin menangis. "Dia mengingatnya, bukan? Hizashi mengingatnya." Sakura mulai bertanya pada Hiashi.
"Sebelum dia pergi, dia mendatangiku. Memberiku cincin pernikahan dan surat. Kurasa kau tahu kisah adikku yang pergi ke Kumo, bukan?" Sakura mengangguk. "Aku tak membuka surat itu. Aku tidak sanggup," Hiashi menghela napas. "Baru setelah aku bertemu denganmu di makam, aku memberanikan diri untuk membukanya. Aku terkejut. Surat itu menceritakan tentang seorang gadis. Istrinya.
"Hizashi selalu menyembunyikan segala hal tentang istrinya. Bahkan, ketika aku mencari tahu ke kantor urusan keluarga dan pernikahan, mereka tidak memberikan jawaban apapun. Hokage ketiga telah bersekongkol menyembunyikan siapa istri adikku. Di dalam surat itu berisi tentang seberapa sabar istrinya. Seberapa baik istrinya. Seberapa cantik istrinya dalam setiap pakaian yang dia pakai. Membacanya membuatku sadar, Hizashi sangat mencintai Istrinya lebih dari apapun. Lalu, tentang tempat asal istri tercintanya," Hiashi tertawa. "Kau tahu, pada awalnya aku tidak percaya.
"Sampai aku membalik foto keluarganya. Hizashi, Neji dan Istrinya. Istri Hizashi terlalu mirip denganmu untuk dikatakan sebagai saudara. Seolah kalian adalah satu orang yang sama. Fakta itu membuatku menyadari kejanggalan semula yang mulai menjadi masuk akal."
Sakura terdiam. "Anda menyadarinya, Tuan Hyuuga." Tebak Sakura.
"Ya. Tidak mungkin Hokage ketiga menyembunyikan identitas istri Hizashi tanpa ada hal krusial yang tersembunyi. Aku sadar. Hal krusial itu adalah istri Hizashi, bukan berasal dari periode yang sama dengan kami, istrinya berasal dari masa depan."
Bahu Sakura bergetar. Hiashi dapat melihatnya dengan jelas.
"Itu menjelaskan fakta tentang rumor penampilanmu yang tiba-tiba berubah. Kemudian menjelaskan fakta tentang cincin pernikahan paman dan bibiku yang melingkar di jari manismu. Apa kau tahu, cincin pernikahan Hyuuga selalu diturunkan ke keturunan mereka. Tidak ada cincin yang memiliki desain sama."
Sakura meletakkan gelas di tangannya. Beralih untuk meraih kotak terbuka yang menunjukkan cincin suaminya. Menatap cincin di dalamnya dengan penuh sayang dan kerinduan.
"Apa yang anda inginkan, Tuan Hyuuga?"
"Tidak ada. Aku hanya ingin tahu kebenarannya. Kemudian menjaga pesan Hizashi untuk menjagamu dan anak kalian," Hiashi meraih sebuah surat dari bawah meja. "Surat untukmu darinya. Terselip di bawah suratnya untukku. Juga, aku merasa kau ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada Hizashi setelah kepergianmu."
Sakura tersenyum pedih. "Satu pertanyaan, Tuan Hyuuga."
Hiashi memusatkan perhatian padanya. "Silahkan."
"Ketika dia meninggalkanmu dengan surat dan cincin, apa dia tersenyum?" Membelai surat di tangannya.
"Ya. Dia tersenyum."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Aku tahu kau mendengar pembicaraan kami, Neji."
Neji menampakkan dirinya kepada Hiashi. Hiashi menyadari kehadirannya. Hiashi baru memanggil Neji keluar ketika Sakura telah cukup jauh untuk mendengarkan pembicaraan mereka.
"Ada yang ingin kau katakan?"
"Tidak ada, Paman."
Hiashi menatap keponakannya. Pemuda itu tetap tabah. Tapi, bagi siapapun yang mengenal Neji, akan dengan mudah mendapati kekalutan hati di mata pemuda kebanggaan Hyuuga. Hiashi menghela napas. Beranjak dari tempatnya duduk. Menyodorkan selembar foto kepada Neji.
"Bicaralah dengan Ibumu ketika kau sudah lebih tenang."
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sakura...
Jika kau menerima surat ini, aku sudah tidak ada di dunia. hahaha
Maafkan aku, Sakura. Kurasa aku telah membuatmu kecewa. Aku ingin menunggumu. Aku ingin bertemu denganmu lagi. Dengan segenap napasku aku jujur aku ingin bertemu kembali denganmu.
Namun, kau bilang padaku untuk tidak membenci Hiashi. Aku ingin melindungi Kakakku dengan kehendakku sendiri untuk pertama kalinya.
Sakura, aku minta maaf. Aku meninggalkan Neji karena keinginan bodohku. Kau menyuruhku menjaga Neji, namun aku malah meninggalkannya sendiri. Tapi aku bersumpah, Sakura. Aku mencintai Neji sama seperti aku mencintaimu. Neji adalah hidupku, sama seperti kau adalah hidupku.
Ketika kau pergi, aku hampir tidak sanggup berdiri. Aku hancur. Benar-benar hancur. Tapi Neji membuatku bangkit. Dia satu-satunya kebahagiaan yang kau berikan padaku. Aku selalu ingin menjaganya.
Aku sungguh ingin tahu, seperti apa Neji di masa dewasanya. Kuharap kau memberitahuku.
Sakura, maafkan aku karena aku tidak mampu menunggumu. Aku menghabiskan hidupku dengan menjaga Neji dan menunggumu. Namun, kukira Tuhan belum mengijinkan kita bertemu.
Jangan pernah berpilkir aku menyesal bertemu denganmu. Kau adalah harapan dalam hidupku, kau memberiku kebahagiaan, kau memberiku Neji. Aku tidak pernah merasa begitu bangga sebelumnya. Aku akan dengan bangga menyebutmu istriku. Satu-satunya wanita yang aku cintai seumur hidupku.
Apa lagi yang kubutuhkan?
Sakura, aku bersumpah dengan seluruh napasku dan disaksikan oleh langit. Aku mencintaimu.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sakura menatap plang nama kedai Fujisaki dengan perasaan campur aduk. Plang nama itu tidak berubah dari terakhir kali dia melihatnya.
Bagian dalamnya pun juga tidak berubah. Hanya terdapat beberapa dekorasi tambahan di sekitar tembok. Juga beberapa pot bunga ditambahkan sebagai dekorasi. Tempat ini telah menyimpan banyak kenangan untuknya. Sakura menuju tempat duduk yang kosong. Tersenyum ketika tahu meja favorit Hizashi tidak digunakan oleh siapapun saat ini.
"Selamat malam."
Seorang gadis yang jika Sakura menebak berumur tidak lebih dari 16 tahun berdiri di dekatnya. Dia menatap Sakura penasaran. Bagaimanapun juga, jarang sekali seorang shinobi akan berkeliaraan di distrik sipil.
"Baiklah. Aku pesan teh hijau dan kue manju."
Si gadis mencatat pesanannya. "Ada yang lain?"
"Apa Tuan Fujisaki Souta ada disini?" Gadis itu agak bingung. Namun menganggukkan kepalanya. "Tolong panggilkan beliau. Katakan bahwa Hyuuga Sakura datang berkunjung."
Gadis itu kembali menganggukkan kepalanya. Tak beberapa lama, gadis yang sama menyajikan pesanannya.
"Terima kasih." Ucap Sakura.
Sakura meraih gelas tehnya. Memperhatikan setiap daun teh yang melayang di dalamnya. Jika Sakura diminta membuat teh, dia memiliki keyakinan bahwa tehnya masih sama enaknya dengan buatannya di kedai teh pada masa lalu. Kakashi sangat terkejut ketika Sakura menyajikan teh hijau padanya. Tehnya terasa berbeda dari buatan orang-orang pada umumnya.
Lamunannya terhenti ketika dia sadar kursi di depannya bergeser. Menunjukkan seorang pria memasuki usia senja. Meskipun pria itu berbeda karena termakan usia, fitur-fitur dari atasannya terdahulu masih ada. Tuan Fujisaki masih memiliki wajah seramah malaikat.
"Kau tidak berubah sama sekali, Sakura." Suara Tuan Fujisaki juga masih sama. Pria itu selalu berbicara dengan Sakura seolah-olah Sakura adalah putrinya sendiri.
"Anda banyak berubah, Tuan."
Tuan Fujisaki tertawa. "Aku tidak bisa melawan waktu, Sakura. Waktu membuatku menua dan berubah."
Sakura tersenyum. "Bagaimana kabar anda, Tuan? Apakah Nyonya baik-baik saja?"
"Istriku baik-baik saja. Hanya saja, sekarang dia mudah lelah karena faktor usia. Putra kami yang tertua mengelola kedai ini sekarang." Tuan Fujisaki menjelaskan.
"Ieyatsu? Saya tebak dia menjadi pria yang tampan. Apa dia sudah menikah?" Tanya Sakura. "Berapa umurnya sekarang?"
Tuan Fujisaku tertawa. "Dia selisih 12 tahun dengan putra kalian. Dia 33 tahun sekarang. Kenapa kau bertanya? Mau menikahinya?" Tanya Tuan Fujisaki iseng.
Sakura melotot. "Jangan bercanda dengan topik itu, Tuan. Anda menyakiti hati saya."
"Maafkan aku. Aku mendengar apa yang terjadi pada Hizashi. Aku turut berduka."
Sakura tersenyum. "Terima kasih, Tuan. Saya baru mengunjungi seminggu yang lalu. Saya masih merindukannya, Tuan."
"Sakura..."
"Anda satu-satunya saksi mata yang tersisa." Ujarnya sedih.
"Hizashi selalu datang kemari setelah kepergianmu. Hampir setiap hari. Terkadang bersama dengan putra kalian," Tuan Fujisaki menyapu matanya ke dalam kedai.
Tidak mungkin Hizashi tidak datang kemari. Kedai ini adalah rumah keduanya. Kedai ini adalah saksi perjalanan mereka. Tidak sekalipun kedai ini akan hilang dari ingatan dan kenangan mereka. Akan terus melekat hingga mereka kembali bertemu.
"Jujur, Sakura. Aku telah menunggumu datang. Aku tidak tahu ternyata butuh 20 tahun. Hiruzen tidak pernah mengatakan berapa lama waktu kalian terpisah." Kata Tuan Fujisaki mengembalikan pandangannya pada Sakura.
"Saya telah disini sejak 4 bulan yang lalu, Tuan. Saya bahkan tidak berani mengunjungi Hizashi."
"Aku paham. Kau memerlukan waktu," Tuan Fujisaki memandang penuh pengertian. "Sudah bertemu Neji?"
Sakura mengangguk. "Namun, saya tidak mengatakan apapun. Saya tidak tahu bagaimana mengatakan situasi ini, Tuan."
"Lakukan perlahan, Sakura. Aku melihatmu sebagai putriku. Bahkan, aku menjadi wali pernikahanmu. Aku tahu kau mampu," Tuan Fujisaki memandangnya sayang. "Ah iya. Istriku selalu bertanya-tanya, kapan kau akan mengunjungi kami. Kurasa, penantiannya tidak sia-sia. Jadi ceritakan padaku, apa yang kau lakukan selama ini?"
Sakura tersenyum. Berterima kasih atas perubahan topik pembicaraan yang telah dilakukan oleh Tuan Fujisaki.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Neji tidak pernah berpikir bahwa ibunya masih hidup. Ayahnya memang tidak memberitahunya dimana ibunya secara spesifik. Dia hanya memberitahu Neji, ibunya tidak ada di sini. Ibunya ada di suatu tempat yang jauh. Karena itu, dengan akal seorang anak jenius berusia 4 tahun, Neji berkesimpulan ibunya telah pergi ke surga.
Bukannya ayahnya tidak pernah bercerita apapun tentang ibunya, malah ayahnya termasuk orang yang sering menceritakan ibunya. Setiap ayahnya menceritakan sosok ibunya, Neji tahu dari nada dan mata, ayahnya sangat mencintai ibunya. Bahkan bisa dikatakan, ayahnya sangat memuja ibunya.
Setiap detail selalu diberikan ayahnya pada Neji. Dari awal pertemuan mereka hingga saat merawat Neji kecil. Ayahnya juga selalu memberikan detail tentang penampilan ibunya. Ibunya memiliki rambut merah muda panjang yang indah, sehingga Neji suka bermain dengan rambutnya.
Ketika Neji bertanya siapa nama ibunya. Ayahnya tentu memberikan nama. Hyuuga Sakura. Tidak pernah sekalipun ayahnya memberikan nama gadis dari ibunya. Neji tidak pernah tahu nama ibunya sebelum menikah dengan ayahnya.
Meskipun ayahnya selalu menceritakan detail penampilan ibunya, ayahnya juga tidak pernah menunjukkan potret apapun dari ibunya. Ketika Neji bertanya, apa ayahnya memiliki potret ibunya, ayahnya hanya tersenyum. Hal itu membuat Neji hanya bisa membayangkan bagaimana sosok ibunya.
Selembar foto yang diberikan pamannya sungguh membingungkan Neji. Neji merasa Haruno Sakura selalu cocok dengan deskripsi ibunya. Namun, dengan usia mereka yang selisih satu tahun dan dengan Neji lebih tua, dia membuang kesempatan untuk memikirkan Haruno Sakura sebagai ibunya.
Neji hanya beranggapan, Haruno Sakura memiliki hubungan kerabat dengan ibunya. Meskipun demikian, karena Haruno Sakura adalah sosok paling mendekati deskripsi ibunya, Neji menjadi sering memperhatikan Haruno Sakura. Sembari menghibur diri dengan menganggap bahwa Sakura adalah ibunya.
Neji tahu, Haruno Sakura memberikan perhatian khusus padanya. Perhatian yang tidak diberikan gadis itu kepada siapapun. Neji juga tidak pernah menggubris perkataan teman-temannya untuk mengajak Haruno Sakura berkencan meskipun mereka memaksa Neji hingga dia bosan. Kembali lagi, Neji menganggap sosok Haruno Sakura bukan seorang gadis, namun sebagai sosok ibunya. Neji menganggap perhatian yang diberikan Haruno Sakura adalah perhatian dari ibu yang tidak pernah dia dapat. Apalagi dengan penampilan mereka yang sangat mirip. Jadi, tidak bisa dipungkiri, Neji memiliki hati untuk menjaga Haruno Sakura seolah-olah dia adalah ibunya.
Ketika Neji tidak sengaja mendengar pembicaraan paman dan Haruno Sakura, Neji bingung. Neji kalut. Hampir saja dia mengamuk. Tidak percaya pada kenyataan bahwa ibunya masih hidup dan bernapas. Dia bingung harus bahagia atau sedih. Bahagia karena memiliki ibu atau sedih karena merasa dibodohi dengan kenyataan dia dan ibunya ternyata seumuran?
Neji bukan orang bodoh. Dia tidak langsung berlari menyusul Haruno Sakura. Dia mundur dari hadapan pamannya, mencari tempat yang nyaman untuk menenangkan diri dan berpikir. Neji mengumpulkan fakta yang dia miliki, merenungkannya, kemudian merangkainya.
Ya, kembali ke semula, Haruno Sakura selalu sesuai dengan deskripsi ibunya. Apalagi dengan rambutnya yang tiba-tiba menjadi panjang. Dia tidak pernah melihat interaksi ayah dan ibunya sepanjang dia bisa mulai mengingat. Namun, pandangan Haruno Sakura padanya, perhatian Haruno Sakura padanya. Itu bukan sikap seorang yang gadis jatuh cinta. Neji tidak bodoh untuk tidak bisa membedakan mana cinta platonis dan yang bukan. Perhatian Haruno Sakura bersifat platonis.
Namun, pandangan Haruno Sakura ketika melihat cincin ayahnya. Pandangan Haruno Sakura ketika pamannya menceritakan kisah ayahnya, itu pandangan yang berbeda. Itu bukan platonis. Haruno Sakura memiliki cinta untuk ayahnya. Cinta seorang pasangan hidup. Seperti pandangan cinta bibinya pada pamannya. Seperti pandangan Kurenai-sensei pada Asuma-sensei.
Neji bukan orang bodoh. Dia tidak akan termakan emosi. Dia lebih mengedepankan logika. Perjalanan waktu bukan hal yang mustahil. Dia tahu apa yang dikatakan pamannya adalah kebenaran. Neji hanya butuh waktu untuk memproses.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Sakura tidak memiliki firasat apapun. Cuaca sangat cerah hari ini. Tidak ada mendung ataupun tanda-tanda akan hujan. Ino tetap menjadi biang gosip. Naruto juga masih menyukai ramen.
Melihat Neji di depannya membuat dia cukup terkejut. Ini bukan jadwal periksanya. Bahkan ini adalah jam istirahat. Mengejutkan. Hyuuga Neji tidak pernah datang tanpa jadwal sebelumnya. Lagipula, gipsnya sudah dilepas, hampir tidak alasan bagi Neji untuk menemuinya.
"Ada yang bisa kubantu, Neji-san?" Tanya Sakura akhirnya.
Pemuda itu terdiam agak lama. Seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Sakura-san...," Lagi Neji tersendat. "Apa kau punya waktu hari ini?"
"Ya, saat ini aku sedang tidak memiliki jadwal." Jawabnya.
"Baguslah," Diam lagi. Sakura sabar menunggu. "Aku ingin bicara denganmu."
Sakura tersenyum. "Tentu."
"Tentang ayahku."
Sakura membeku. "A-apa?"
"Jika kau tidak keberatan, aku ingin bicara tentang ayahku, Sakura-san."
Jantung Sakura berdebar. Ini bukan yang dia harapkan.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Jadi disinilah mereka. Neji duduk di depan Sakura. Pemuda itu memutar gelas teh di hadapannya. Sakura memilih pergi ke kedai teh Tuan Fujisaki. Neji hanya mengikuti.
Neji tidak asing dengan tempat ini. Ayahnya sering mengajaknya kemari ketika dia masih kecil. Tuan Fujisaki juga sangat menyayanginya. Setelah ayahnya pergi, Neji masih mengunjungi kedai teh ini untuk meredakan perasaan rindunya pada ayahnya.
"Jadi, aku tebak," Sakura memulai. "Kau sudah tahu."
Neji terdiam. Haruno Sakura tidak dikenal sebagai shinobi jenius. Tapi Neji tahu Sakura bukan orang bodoh. Bahkan bisa dikatakan pintar.
"Aa."
Sakura tersenyum. "Apa yang ingin kau katakan? Jujur aku tidak dapat memikirkan apapun. Jadi, tolong pancing aku, Neji."
Sakura menghilang -san pada namanya. Neji sadar, Sakura tidak menganggap dia teman saat ini.
"Kenapa kau tidak menemuiku begitu kau kembali dari ..." Neji tidak melanjutkan.
"Aku takut. Seperti sekarang. Aku takut tidak mampu bicara apapun. Aku bingung harus memulai darimana jika aku menemuimu." Sakura memandangnya.
"Kau takut padaku?"
Sakura menggelengkan kepalanya. "Tidak, aku tidak takut padamu. Aku takut pada reaksimu. Aku takut kau tidak menerimaku," Neji melihat Sakura menundukkan kepalanya. "Aku takut kau membenciku karena aku meninggalkan kalian."
Neji terdiam. Mencerna apa yang baru dia dengar. "Apa kau sengaja meninggalkan kami?"
Sakura bergetar. "Tidak, Neji. Sama sekali tidak. Aku akan membuang segala hal yang kumiliki saat ini jika aku bisa memiliki kesempatan kembali. Aku ingin bersama Hizashi. Bukan kembali ke sini dan menemukan dia terkubur di bawah tanah. Aku ingin kembali ke sana dan melihatmu tumbuh dewasa. Bukan kembali untuk melihatmu telah tumbuh tanpa aku bisa di sisimu.
"Neji, kalian adalah hidupku. Aku sama hancurnya dengan Hizashi ketika kami berpisah. Apa kau tahu, aku harus menahan diri agar tidak berlari padamu ketika tahu kau terluka. Tuhan tahu, betapa aku sangat mencintai kalian." Sakura menangis.
"Kenapa kalian menikah jika pada akhirnya kau kembali? Kenapa kalian harus menikah jika kau akhirnya meninggalkan kami dan membuat hati kami hancur?" Tanya Neji.
"Ayahmu, Hizashi adalah orang yang selalu menemaniku. Aku retak ketika aku datang ke sana. Dia membuatku sembuh, Neji, dan dia adalah orang yang ditugaskan Tuan Hokage untuk mengawasiku. Aku takut akan masa depan. Namun, Tuan Hokage dengan jelas mengatakan tidak ada yang dapat diubah."
Sakura menggenggam tangannya di pangkuannya. "Aku datang berkali-kali pada Tuan Hokage, tapi beliau tidak dapat menemukan apapun untuk membuatku kembali. Ketika dia melamarku, aku telah merelakan fakta aku tidak bisa kembali. Namun," Sakura berhenti untuk semakin menangis. "Namun, satu bulan setelah kau mengucapkan kata pertamamu, Tuan Hokage datang dan memberitahu kami. Aku tidak bisa selamanya di sana. Tidak boleh ada dua Sakura di satu periode yang sama, aku akan kembali begitu 'aku' terlahir ke dunia. Sungguh maafkan aku. Aku tak sanggup melawan Tuhan."
Neji mencermati perkataan Sakura. Mengawasi setiap perubahan ekpresi dan perubahan suara pada Sakura. Neji tahu Sakura tidak berbohong. Perempuan di depannya tulus padanya. Itu saja sudah cukup baginya.
"Sakura-san, kita bukan lagi anak-anak. Kita adalah dua orang dewasa. Aku bukan orang yang tidak bisa berpikir. Aku hanya membutuhkan jawaban itu. Aku hanya ingin tahu, apakah kau sengaja meninggalkan kami," Neji memainkan gelasnya. Dia beranjak mendekati Sakura. Berlutut di depan orang yang telah melahirkannya ke dunia dan meraih tangannya yang mengepal. "Aku memaafkanmu. Bukan salahmu jika kau kembali kemari."
Setelah itu, Neji memeluk Sakura. Neji memeluk ibunya. Ibu yang selalu dia dambakan. Tubuh Ibunya bergetar dalam pelukannya. Sakura menangis dengan keras, hingga menyebabkan pengunjung kedai menoleh pada mereka. Mencari tahu apa yang terjadi pada dua shinobi yang duduk di dekat jendela. Baru setelah Ibunya tenang, Neji melepaskan namun masih berlutut di hadapannya.
"Aku selalu bertanya-tanya dimana ibuku. Ayah tidak pernah memberitahu aku di mana kau berada. Aku hanya tahu kau tidak ada. Aku mulai berpikir kau sudah mati meskipun ayah tak mengatakan apapun," Neji mengusap air mata Ibunya yang mengalir. "Aku iri pada Nona Hinata yang mendapat kasih sayang dari Ibunya, Nyonya Hotaru. Aku iri pada rekan-rekanku setiap mereka menceritakan Ibu mereka," Neji tersenyum. "Namun anehnya, aku merasa menemukan sosok ibu padamu sejak aku bisa mengingatnya. Aku tidak pernah menyangka kau benar-benar Ibuku."
Sakura tersenyum dengan air mata. Dia langsung memeluk Neji di hadapannya.
"Aku akan melakukan apapun untukmu, Neji. Segalanya." Ujarnya.
Neji melepaskan pelukan Ibunya dengan lembut. Dia tersenyum pada Sakura. Neji jarang tersenyum, dan Neji dapat melihat Sakura terpana melihatnya.
"Apa kau tahu?" Tanya Sakura. "Kau sangat mirip dengan Ayahmu. Senyummu, matamu," Sakura membelai wajah Neji. "Kau akan selalu mengingatkanku padanya. Meskipun begitu, Hizashi selalu setuju denganku bahwa kecerdasanmu menurun dariku. Kurasa kami benar. Jika kecerdasanmu menurun dari Ayahmu, kau akan kesulitan menemukan fakta ini. Aku harus mengakui, hatimu selalu menurun dari Ayahmu. Kalian keras kepala namun hati kalian sangat besar."
Neji terpana. Tidak pernah ada yang mengatakan itu padanya. Neji tersenyum. Dia kembali ke tempat duduknya. Menyodorkan gelas teh untuk Ibunya yang masih terisak.
"Ayah sering menceritakan tentangmu," Neji memulai setelah Ibunya lebih tenang. "Jadi, bisakah kau ceritakan tentang ayah dari sudut pandangmu?" Tanya Neji. "Ibu."
Neji melihat bibir ibunya tersenyum lebar. Neji ikut bahagia melihatnya. Ibunya yang tersenyum adalah pemandangan terindah baginya. Seperti yang selalu dikatakan Ayahnya.
"Ayahmu adalah orang paling baik yang pernah aku kenal. Dia terkadang bisa menjadi bodoh," Sakura memulai. "Malam ketika kau lahir, Ayahmu sangat panik. Dia berteriak di seluruh penjuru rumah sakit. Wajahnya pucat karena saking ketakutan. Jika kau di sana, aku yakin kau akan tertawa."
Begitulah. Neji mendengarkan setiap cerita yang Ibunya sampaikan. Tidak jarang Neji akan ikut tertawa pada kekonyolan Ayahnya yang seakan tidak ada habisnya. Mendengarkan sisi lain Ayahnya sungguh berbeda. Itu menyegarkan perasaannya.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
Orang tua Sakura jelas kaget setengah mati mendengar apa yang disampaikan putri mereka. Tidak menyangka hal seperti itu terjadi dalam kehidupan putri tunggal mereka. Namun, setelah dijelaskan perlahan, Kizashi dan Mebuki menerima dengan baik.
Mereka bahagia ketika Neji datang dan memperkenalkan diri. Kizashi langsung merangkul pundak cucunya, menyeretnya ke dalam ruang makan untuk makan bersama. Neji nyaman. Meskipun Kizashi merasa aneh, namun tidak mengurangi perhatian untuk cucu tunggalnya. Bahkan dengan lugas akan menyerahkan setiap warisan mereka pada Neji.
Keluarga Haruno memang tidak terlalu terkenal di kalangan shinobi, tapi jelas bukan keluarga pedagang biasa. Ketika Kizashi mendengar cucunya akan datang, Kizashi sudah menyiapkan satu set kunai termahal untuk Neji.
"Ayah, jangan memanjakan Neji." Protes Sakura.
Neji hanya tertunduk lesu.
"Jangan banyak bicara, Sakura. Aku mendapat cucu lebih cepat dari dugaanku. Aku tidak memiliki kesempatan memanjakannya dulu dan dia datang ketika sudah sebesar ini," Kizashi tertawa. "Lagipula aku tidak yakin akan memiliki cucu lagi. Benar, kan?" Tanya Kakeknya.
Neji mengalihkan pandangannya pada ibunya.
"Tidak, Ayah." Jawab Ibunya. "Aku tidak akan menikah lagi. Kau benar. Neji akan menjadi satu-satunya cucumu."
Senyum Ibunya sungguh mempesona. Neji mengakui alasan ayahnya menikahi ibunya. Ayahnya sadar dia jatuh cinta pada Ibunya setelah melihat senyum Ibunya yang cantik. Neji tahu, ibunya sangat mencintai Ayahnya.
.
.
Bulannya indah sekali, bukan?
.
.
"Ibu, kau sudah siap?"
Neji memanggil dari lantai bawah rumah Kakek Neneknya. Neji telah terbiasa dengan rumah ini. Bahkan mendapat kamar sendiri di dekat kamar ibunya. Tuan Hiashi sama sekali tidak mempermasalahkan Neji yang tidur di rumah kakek neneknya.
Tak beberapa lama, Sakura turun dengan gaun musim panas dengan corak biru langit. Ibunya memberitahunya, itu gaun pemberian ayahnya. Membiarkan rambutnya yang panjang tergerai.
"Ayo." Kata Neji.
Mereka berjalan beriringan. Jika orang tidak tahu, mereka akan menganggap Neji dan Sakura sedang berkencan.
"Aneh rasanya, aku memanggilmu Ibu, padahal kau lebih muda dariku."
Komentar Neji masuk ke telinga Sakura. Membuat perempuan itu tertawa lepas. Mereka menuju toko bunga Yamanaka. Yang disambut heran oleh Ino.
"Wow, kencan dengan putramu, Dekorin-chan?" Goda Ino.
Ibunya langsung memukul Ino dengan canda. "Katakan itu lagi, dan kau tidak akan tenang seumur hidupmu."
"Hahaha, maaf maaf. Aku tahu kau mencintai suamimu. Dan Suamimu akan membunuhmu jika melakukan tindakan tercela itu."
Ino mempersiapkan apa yang mereka minta. 6 mawar kuning, 3 lili putih dan 5 anyelir.
"Salam untuk suamimu, Sakura," Ino mendekatkan wajahnya pada telinga Sakura. "Jika kau mengijinkan, berikan putramu padaku, Ibu mertua." Bisiknya.
Sakura melotot dan sontak menjauhkan wajahnya. "Dalam mimpimu, Buta." Yang dibalas dengan tawa oleh Ino. Neji hanya memandang bingung pada mereka.
"Jangan lupa untuk datang makan bersama nanti, ya." Teriak Ino begitu mereka meraih karangan bunga itu. Tidak mau membebani ibunya dengan berat apapun. Mereka berjalan dalam tenang, dengan sesekali mengobrol.
Ketika mereka sampai di depan makam Hyuuga Hizashi. Mereka berlutut.
"Hizashi. Neji sudah besar. Aku menyesal melewatkan pertumbuhannya. Kau tahu, aku selalu khawatir kau akan mewariskan putramu kebiasaan burukmu seperti sulit merapikan ruangan. Kurasa Neji menurun dariku," Sakura terdiam. Neji memperhatikan senyum Ibunya. "Kau sudah menjaganya selama ini, biarkan sekarang giliranku menjaga Neji."
"Tidak, Ayah. Aku yang akan menjaga Ibu untuk menggantikanmu." Sela Neji.
Sakura menatap tak percaya. "Kau serius? Astaga tetap keras kepala dan sulit mengalah. Dia benar-benar anakmu, Hizashi." Sakura tertawa lagi.
Neji memasang wajah kesal. Menghabiskan satu jam di sana, mereka berjalan pulang. Sakura terus menggoda Neji yang tidak mau mengakui kekeraskepalaannya.
Mereka berhenti, ketika mendengar suara Naruto memanggil dari kejauhan. Neji melihat Naruto berjalan ke arah mereka dengan rekan-rekan rookie 9 yang lain. Termasuk Sasuke yang jarang pulang. Mereka telah berjanji untuk makan bersama hari ini. Sulit untuk rekan-rekannya untuk duduk bersama seperti sekarang.
Neji memilih duduk di sebelah Sakura, yang membuat seluruh rekan-rekannya heran. Bahkan Nona Hinata. Mengabaikan Sasuke yang malah duduk di samping Naruto.
"Apa kalian bersama?" Tanya Tenten begitu keras.
Neji tidak memiliki keinginan untuk menjawab. Dia mendengar ibunya menyangkal pertanyaan itu. Naruto tertawa keras.
"Neji dan Sakura tidak pacaran."Jawab Naruto.
"Kalau begitu, aku masih memiliki kesempatan melamarmu, Sakura-san." Ujar Lee.
Naruto meraih pundak Sakura. "Kau harus melewatiku, Lee. Dia saudara perempuanku."
"Naruto, lepas! Kau menyakitiku." Protes Sakura yang ditanggapi oleh tawa teman-temannya.
Neji berdiri. Langsung memuntir tangan Naruto. Menyebabkan Naruto mengaduh kesakitan. Seluruh meja menjadi diam karena aksi Neji.
"Apa masalahmu, Neji?!" Teriak Naruto.
"Jauhkan tanganmu darinya, Naruto!" Neji mendesis kesal.
Naruto mencoba melepaskan diri. Semua mata menuju ke arah mereka.
"Memang kau siapa berani melarangku, hah?!"
"Aku tidak suka kau menyakiti Ibuku, Naruto."
Diam. Yang tadi awalnya sudah tegang, kini suasana menjadi canggung dan dipenuhi kebingungan. Disusul oleh sebuah paduan suara.
"EEEHHHHHHH..."
.
.
The End
.
.
a/n:
Halohaloha
Tamat juga fic yang satu ini. Fic multichapter pertamaku yang tamat. Yuhuuuuuu
Lumayan buat ngilangin penatku ngerjakan skripsi. Lalu, cerita ini cenderung ringan menurut standarku Hahaha
Yuks balas review.
Febrichan2425, Sedih gak papa. Kalo aku di posisi Sakura aku juga bakal sedih kok
Aihime29, udah terjawab nih di sini.
Irene Cheonsa, Aku pengen Sakura bertemu dengan Hizashi. Tapi di sini, Neji dan Sakura masih akur kok. Malah Neji protektif banget sama ibunya. LOL
Guest 1, Ini udah dilanjut lo
Guest 2, Hahaha
Hiashisaku, Referensi Giniro Tsuki, nih
Michi-chan, nih udah dilanjut lo
Guest 3, makasihhhhh
Flou, Seneng ada yang tau film itu. Film lawas tapi bagus. Dan yaps, Neji akan tahu siapa Sakura. Malah Neji jadi sayang banget sama Sakura. Lalu soal bahasa, aku malah gk nyadar kalo bahasaku kayak terjemahan. Mungkin karena aku banyak baca fanfic terjemahan sama beberapa buku yang aku baca, rata-rata bahasanya kayak gini. Kebawa tanpa sadar pas nulis hahahaha ... Ps. Hiashisaku bakal updet 1-2 minggu lagi.
Aurora18, Xie xie, arigatou ...
Okey, udah segitu aja.
Untuk semuanya, terima kasih untuk pembaca, yang akan memberikan tombol favorit dan mengikuti. Kalian harus tahu, aku sayang kalian ...
Arigatou, minna-san…
Tanda,
Teratai putih
.
Omake
.
Sakura tersenyum. Dia berjalan dengan tenang menuju Hizashi yang berdiri diam menunggunya. Senyum tulus Hizashi yang Sakura rindukan benar-benar terpampang pada wajah suaminya. Dia tidak tahan, langsung berlari menuju pelukan suami tercintanya.
"Maaf sudah membuatmu menunggu begitu lama." Ujar Sakura.
"Aku orang yang sabar, Sakura." Hizashi tersenyum. "Kau melakukan pekerjaan yang luar biasa. Maaf tidak bisa menunggumu lebih lama."
Sakura semakin membenamkan wajahnya dalam pelukan Hizashi. "Tidak apa-apa. Aku juga orang yang sabar."
.
Owari
.
