Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji

shall we break up? © Aiko Blue

Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini


Kazuya mengernyitkan kening dan melirik ke arah jam dinding saat mendengar pintu apartemennya dibuka dari luar. Hanya satu orang yang tahu password apartemennya, Sawamura Eijun, tapi tidak biasanya Eijun datang pada jam-jam segini, terlebih lagi sama sekali tak memberi kabar lebih dulu.

"Kenapa tidak mengabari dulu kalau— Eijun?" Kazuya berkedip bingung, ia mendapati Eijun kini berdiri tepat di depan pintu apartemennya yang terbuka. Kepalanya tertunduk dalam, rambut berantakan, dan aura gelap memancar dari sekujur tubuhnya.

"Kau tidak—ugh." Kazuya limbung, ia nyaris jatuh terjungkal andai tak sigap menjaga keseimbangan. Eijun tahu-tahu menerjang ke arahnya, memeluknya kelewat erat dan membenamkan wajah di sebelah bahunya. Kazuya menjadi kian yakin, bahwa ada yang tak beres. Ia buru-buru menutup pintu di belakang Eijun lalu menarik pemuda itu masuk ke dalam. Pelukan Eijun tak melonggar sedikitpun.

"Hey, ada apa?"

Kepala Eijun bergerak, menggeleng di bahunya, tapi bibirnya tetap bungkam.

Kazuya mencoba rileks, tangannya kini bergerak balas memeluk Eijun, mengusap pungungnya hati-hati. Ia belum pernah melihat Eijun seperti ini, sebenarnya di samping khawatir Kazuya juga berpikir bahwa Eijun lumayan menggemaskan saat memeluknya erat dan manja begini. Tapi firasatnya mengatakan bahwa ini bukan saat yang tepat untuk menggoda pemuda Sawamura itu.

"Ayo duduk di dalam."

Dengan hati-hati ia membimbing Eijun untuk duduk di sofa. Telapak tangannya memberi tepukan-tepukan ringan di punggung dan kepala Eijun, berharap tindakannya mampu membuat Eijun merasa lebih tenang. Eijun masih mendekapnya erat, dan masih belum bicara bahkan setelah sepuluh menit berlalu.

"Kau mau kuambilkan air?" Tawar Kazuya hati-hati, ia menuduk untuk melihat wajah Eijun, tapi yang bisa ia lihat hanya sebatas puncak kepala pemuda itu dan rambut coklat gelapnya yang mencuat berantakan. Lagi-lagi, Eijun menjawab tawarannya dengan gelengan kepala.

Kazuya membuang napas perlahan. "Eijun, ada apa?"

"Mereka meningalkanku."

Kazuya berkedip, ia lebih terkejut karena Eijun akhirnya menjawab alih-alih terkejut atas jawabannya yang hanya berupa gumam serak. "Mereka?"

"Teman-temanku."

Kazuya menyipitkan mata. Ia harus berpikir keras untuk menyatukan kepingan informasi ini sendirian. "Apa maksudmu?"

Eijun menarik napas, bahunya bergetar dan Kazuya langsung tahu ia sedang menahan tangis. "Mereka tahu soal hubungan kita."

Suaranya serak dan samar dimakan kepahitan—dan meski Kazuya menolak untuk merasa, namun sayangnya perasaan tak menyenangkan itu tetap muncul ketika Eijun melafalkan kata hubungan kita. Kazuya paham, lebih dari siapapun, bahwa keadaan mereka berdua lebih kompleks dari pasangan lainnya.

Maka Kazuya menghela napas, mengusap halaian rambut Eijun dengan hati-hati, menyisir dengan jari-jariya. "Mereka membullymu?"

Eijun menggeleng tipis. Sebuah bentuk sanggahan kecil yang membuat Kazuya sedikit lega. "Mereka mengatakan bahwa aku menjijikkan, mereka tidak bisa menerimanya. Mereka menjauhiku, dan bersikap seolah tidak pernah mengenalku."

"Semua temanmu bersikap begitu?"

Eijun tidak menjawab, ia diam cukup lama, dan Kazuya berharap ia bisa menyelami isi kepala pemuda itu, mencari informasi tanpa harus menunggu dalam momen kebimbangan seperti ini. Karena bagi Kazuya sekalipun, kadang Eijun terasa seperti enigma yang sulit dipecahkan.

"Mungkin… setengahnya."

"Kalau begitu setengah dari mereka yang bertahan baru pantas kau sebut teman. Sisanya cuma sampah, tidak pantas kau pikirkan."

Eijun menangkat wajah, melepaskan pelukan, matanya memandang Kazuya dengan sakit hati. Tatapan mata itu menusuknya lebih tajam, lebih menghakimi, dan lebih menuding dari yang Kazuya bayangkan.

"Kau tidak mengerti, Miyuki Kazuya." Suara Eijun mendeis seperti cairan asam kuat. "Kau tidak mengerti perasaanku—"

"Benar, aku memamg tidak mengerti." Potong Kazuya cepat. Ia manatap Eijun lurus ke manik mata. Keras. Meraka bertatapan seperti dua peluru yang siap meletus. "Aku tidak mengerti perasaanmu, karena aku memang bukan seseorang yang punya banyak teman sepertimu. Aku tidak akan membantahnya."

Eijun membuka mulut, tampak ingin menyanggah, tapi Kazuya mengangkat tangannya, menyuruh Eijun tetap diam. Ia sendiri bahkan tidak sadar sejak kapan hatinya ikut merasa terbakar.

"Aku tidak bisa paham bagaimana perasaan seseorang yang punya banyak teman sepertimu, juga sehancur apa hatimu ketika sebagian temanmu memilih pergi meninggalkanmu. Tapi aku tahu satu hal, jika mereka tidak bisa menerima keadaanmu, jika mereka memilih pergi hanya karena kau berbeda, itu artinya mereka bukan benar-benar temanmu. Teman seharusnya bisa ikut senang dan menerima kita apa adanya, kan?"

Rahang Eijun terkatup rapat, bibirnya membentuk garis getir sementara matanya berubah redup. Kazuya benci ketika Eijun bereskspresi demikian, tapi ia lebih benci kenyataan bahwa ialah yang membuat Eijun menjadi seperti itu.

"Aku minta maaf, Eijun." Kazuya berkata, suaranya melembut.

Eijun tidak menyahut.

"Dari awal, seharusnya aku juga memperhitungkan hal ini. Hubungan kita bukan hanya soal kita berdua saja jika mengingat seperti apa keperibadian sosialmu. Kau selalu dikelilingi banyak orang, kau punya banyak teman, dan selalu bersikap serta menunjukkan aura positif terhadap orang-orang di sekitarmu. Memiliki hubungan khusus denganku, pasti akan berimbas dengan kehidupan normalmu." Ia menghela napas berat, memaksakan senyum kecil di bibirnya. Sementara sebelah tangannya kembali bergerak mengusap rambut Eijun. "Aku selama ini menganggap bawa hubungan kita hanya mendatangkan dampak positif karena gadis-gadis sudah tidak mengerecokiku lagi. Tapi tampaknya itu pemikiran yang egois, aku benar-benar tidak berpikir dari sudut pandangmu. Aku minta maaf."

Eijun mengigit bibir, menunduk dan bicara dengan parau. "Aku datang ke sini bukan untuk mendengar permintaan maafmu."

Kazuya tersenyum kosong. "Lalu untuk apa? Untuk putus?"

Eijun mendongak cepat, melotot padanya, reflek menepis tangan Kazuya dari rambutnya. "Apa maksudmu?"

"Kau barusaja menyampaikan keluh kesahmu padaku. Dan aku paham betapa kau terguncang karena kehilangan sebagian temanmu akibat hubugan kita. Barangkali jika kita putus, teman-temanmu akan kembali padamu, dan kau bisa kembali hidup normal sebagai Sawamura Eijun yang selalu disukai banyak orang. Jadi, haruskah kita putus saja?"

"Bangsat!" Eijun menarik kerah bajunya, memaksa wajah Kazuya mendekat, dan menggertakkan gigi dengan penuh kemarahan. "Putus, kau bilang?" Ia menggerit sakit hati, tak terima dan terluka. "Apa kau hanya main-main denganku?!"

"Pikir, Sawamura Eijun, untuk apa aku sampai melawan ayahku sendiri kalau hanya ingin main-main denganmu?"

"Lalu kenapa mengungkit kata putus?!"

Kazuya menggertakkan gigi, jutaan emosi kacau balau menggempur dalam dadanya dan ia membiarkan jantungnya hangus terbakar. Pemberontakan, egoisme, kemarahan, ketidakberdayaan, yang kesemuanya hanya mengantarnya pada jalan buntu.

"Kau mau tahu kebenarannya? Baik, akan kuberitahu." Kazuya menekan dada Eijun dengan jari telunjuknya setiap menyelesaikan satu kata. "Aku tidak mau melepaskanmu. Bahkan sekalipun kau menjerit, memohon-mohon atau bersujud di kakiku, keegoisanku ini tetap menolak untuk melepasmu. Aku-tidak-mau-kita-putus. Aku benci melihatmu sedih. Tapi lihat yang terjadi? Sejak kau bersamaku, kau justru kehilangan banyak orang. Kau ditinggalkan teman-temanmu. Aku hanya membawamu pada masalah, Eijun. Jadi kalau bersamaku hanya membuatmu menderita, untuk apa?"

Cengkraman di kerah baju Kazuya terlepas, Eijun memandanginya dengan tatapan mata lebar, ia tak bicara apa-apa seakan semua pembendaharaan kata telah lenyap dari kepala dan lidahnya.

"Aku ini orang yang egois. Meski aku berkata merelakanmu pergi, meski bahkan aku membuka pintu untukmu, tapi yang sebenarnya adalah aku selalu ingin merantai kakimu, Sawamura Eijun. Kau mungkin bisa hidup dan tetap baik-baik saja tanpa aku. Tapi aku pasti jadi gila jika kau sungguh pergi."

Eijun tertegun bisu. Ia bahkan tidak mengerti kenapa pembicaran mereka berubah ke arah ini. Tapi lagi-lagi ia disadarkan pada kenyataan bahwa Miyuki Kazuya telah membuka celah di hadapannya. Miyuki Kazuya yang saat ini sedang memberinya tatapan tak berdaya terlihat begitu rapuh, dan membutuhkan kedua tangannya. Miyuki Kazuya yang jauh dari kata sempurna ini membuat Eijun ingin sekali menelanjanginya, mengupas habis kulitnya, hingga ia bisa mencabuti duri-duri dari hatinya.

"Aku sudah seperti lubang hitam yang menyerap semua cahayamu. Jadi, mungkin memang lebih baik aku melepasmu agar kau bisa kembali bercahaya dan dikelilingi semua orang." Suara Kazuya bergetar. Penuh keraguan, kebimbangan, dan kegentaran.

"Kazuya…" Eijun memanggil pelan, meraih tangan Kazuya dan mengganggamnya kuat-kuat. "Peluk aku sekarang."

Dan meski sadar ucapan itu hanya akan memperparah keegoisan di hatinya, Kazuya tetap menurutinya tanpa banyak bertanya. Ia melingkarkan kedua lengannya di sekitar tubuh Eijun, mendekap pemuda itu erat-erat, membiarkan wajah Eijun terbenam di dadanya, segala gerit luka dan rasa kecewa Eijun tumpah ruah dalam bentuk gelombang demi gelombang kepedihan saat mereka berbagi pelukan satu sama lain.

"Aku tidak mau putus." Eijun berbisik serak.

"Aku juga." Kazuya balas berbisik, menghirup aroma di rambut Eijun, dan mengecup sisi kepalanya dua kali lalu memejamkan mata dan memeluk tubuh Eijun semakin erat.

Satu jam kemudian, Eijun sudah tertidur lelap di pangkuan Kazuya. Jejak air matanya mengering di kedua pipi, tapi ekspresi tidurnya tampak tenang dan damai. Kazuya mengusap wajah itu hati-hati, memandangi dengan seksama garis wajah Eijun, dan berakhir dengan membelai rambutnya dengan sentuhan lembut yang ia bisa.

"Kau terlalu berharga untuk ditinggalkan, Eijun." Kazuya berbisik kecil. "Suatu hari nanti, mereka akan menyesal karena telah meningalkanmu. Mereka akan sadar bahwa kau tidak tergantikan. Kau terlalu baik, kau tulus, dan tak layak diperlakukan seperti ini. Aku sangat ingin tertawa saat melihat mereka kembali padamu sambil mengucapkan beribu maaf, aku sangat ingin menampar mereka semua. Tapi aku yakin kau tidak akan mengizinkanku melakukannya, kan? Karena kau pasti akan tetap menerima mereka yang telah berbuat jahat padamu dengan tangan terbuka, kau tetap akan menyambut mereka dengan senyuman lebar, dan kau tetap akan memaafkan mereka seolah tak pernah terjadi apapun."

Kazuya mengulas senyum lemah. Menarik selimut hingga menutup sampai ke bawah dagu kekasihnya. Ibu jarinya mengusap pipi Eijun perlahan. "Sifat naifmu ini, Eijun, aku benar-benar tidak tahu harus menanggapinya dengan cara apa."


see you next chapter…


a/n: drama banget kan ya? Lol, entahlah tapi jangankan pacaran belok, pacaran lurus pun kadang temen ada aja yang nggak suka sama pasangan kita dan jadinya malah… gitudeh. Meski gak ninggalin, tapi nyinyirin/heh.

Kalian pernah punya pengalaman serupa mungkin? :v

Well, sebagai teman menasehati itu boleh sih, toh kita pengen teman kita dapet yang baik. Tapi ada kalanya kita juga harus sadar, bahwa kita nggak tahu perasaan mereka—yang pacaran—gimana, apa aja yang mereka lalui, dan sedalam apa rasa sayang mereka satu sama lain :)

Jadi kesimpulannya…. JANGAN LUPA REVIEW! :*