Ace of Diamond /ダイヤのA © Terajima Yuuji
first love © Aiko Blue
Saya tidak mendapatkan keuntungan komersil macam apapun atas pembuatan fanfiksi ini
Tiga pasang mata itu kompak menatap dan mengamati detail ekspresi yang dibuat Eijun ketika mengunyah natto. Ryousuke tampaknya senang-senang saja menikmati pemandangan itu sambil menopang dagu dan tersenyum misterius. Youichi mengernyit dalam. Kazuya menyipitkan mata dengan sensitif.
"Gugh!" Tangan Eijun otomatis maju dan membekap mulutnya agar tidak kelepasan muntah. Air mata mulai merembes di sekitar pelupuk matanya, dan wajahnya mulai memerah, tapi ia tetap memaksakan diri untuk mengunyah. Mengunyah. Mengunyah. Dan terus mengunyah.
"Bodoh, cepat ditelan! Jangan dikunyah terus!" Youichi tak tahan untuk mengomel.
"Biarkan saja." Timpal Ryousuke kalem, tersenyum simpul dan tak berpaling sedikitpun dari ekspresi tersiksa Eijun. "Jika kali ini kau sanggup menelannya, maka ini akan jadi rekor baru untukmu."
Eijun membuat ekspresi seolah baru dipelintir. Egonya jelas tak bersedia menyerah, tapi tubuhnya menunjukan penolakan besar-besaran. Ia baru mulai menelan sedikit demi sedikit ketika rasa mual naik cepat dari tenggorokannya. Pipinya menggelembung sekarang, wajahnya merah padam dan ia benar-benar hampir menangis.
"Ganbatte, Sawamura-chan." Ryousuke tersenyum manis, ucapannya menyemangati, tapi senyumnya lebih mirip iblis yang mendambakan sebuah kematian.
Mata Eijun berkaca-kaca. Satu tangan mulai bergerak ke mulutnya, tapi Youichi menahan tangannya. "Cepat telan saja."
Eijun menatap memelas. Wajahnya kini apadah perpaduan dari ungu dan hijau. Kazuya memgawasinya selama beberapa detik sebelum berdecak, dengan sigap ia menarik beberapa lembar tissue, lalu memposisikannya di depan mulut Eijun. "Cepat muntahkan."
Eijun tidak repot-repot untuk menolak, karena ia memang sudah tak tahan lagi. Maka dengan cepat ia membuka mulutnya, lalu memuntahkan kunyahan natto itu ke tangan Kazuya yang berlapis tissue.
"Yep, kalah lagi." Ujar Ryousuke ringan, lalu menyesap minumannya dengan begitu elegan. Nampaknya Ryousuke manjadi satu-satunya orang yang tahan bersikap biasa saja dan menikmati kejadian ini seolah-olah ia sedang bersantai dan mentonton kartun pada Minggu pagi.
Youichi mendengus sarkas sambil memandangi Kazuya yang menangkup muntahan Eijun, lalu berlanjut mengusap sisa-sisa natto di bibirnya dengan tissue. "Rasanya aku sedang melihat pasangan ayah dan anak, alih-alih sepasang kekasih."
Kazuya mengabaikan, sementara Eijun buru-buru meraih segelas air dan meminumnya dengan rakus. Kazuya membuang kepalan tissue berisi muntahan di tangannya ke tempat sampah, lalu mengelap tangannya. Matanya tak lepas memandangi gerak-gerik Eijun.
"Haaah~" Eijun menghela napas panjang, mengusap bibirnya dengan punggung tangan. "Aku benar-benar tidak bisa makan yang satu itu!"
"Aku sudah bilang berkali-kali, kau tidak seharusnya bertindak gegabah dan memaksakan diri begitu, Baka." Pelafalan pada kata baka itu diucapkan dengan segenap kesungguhan juga penjiwaan penuh. Menegaskan bahwa Kazuya benar-benar menikmati secara lepas ketika mengatai kekasinya bodoh. Youichi bertanya-tanya akan seperti apa jadinya jika ia berani menyebut Ryousuke bodoh? Kemudian ia memutuskan untuk tidak mencari tahu jawabannya.
"Cih!" Eijun mencebik, wajahnya berubah sinis. "Kau tahu yang namanya laki-laki itu selalu ingin menantang! Itu naluri alami!"
"Jadi naluri alamimu adalah bertindak bodoh?"
"OI!"
"Atau mungkin lebih tepatnya suka cari masalah? Membahayakan diri sendiri? Ceroboh dan sembrono?"
"TEME—"
"Tapi aku jadi kepikiran." Potong Ryousuke tiba-tiba. Suaranya kalem, namun bisa membungkam mulut berisik Eijun seketika. Pemuda berambut jambu itu berhasil membuat semua perhatian tertuju padanya. Tapi Ryousuke justru menyeringai kecil, tak langsung melanjutkan kalimatnya, ia tampak senang menjadi pusat perhatian dan ditatap dengan raut wajah penasaran.
"Ryou-san…?" Youichi berhasil memanggil dengan hati-hati, Ryousuke menolaeh padanya sekilas, tersenyum tipis, lalu kembali memandangi Eijun dan Kazuya penuh minat.
"Ku pikir, interaksi kalian terkesan sangat natural. Miyuki bahkan tak canggung melakukan hal seperti tadi, seolah-olah kalian sudah saling kenal sejak sangat lama." Ia menjelaskan, lalu tersenyum misterius dan menatap penuh selidik. "Atau jangan-jangan kalian sudah terbiasa dengan hubungan seperti ini sebelumnya? Berapa banyak mantan pacar masing-masing dari kalian?"
Youichi menatap horror ke arah Ryousuke. Pertanyaan itu terlalu gamblang untuk menjadi topik perbincangan di tengah-tengah mereka. Ia paham betapa hal-hal sepele dan remeh kerap menjadi masalah dan diperdebatkan oleh Eijun dan Kazuya, apalagi soal mantan? Bisa-bisa tembok apartemen yang memisahkan kamar Youichi dan Eijun ikut jebol setelah ini. Youichi baru berpikir untuk mencari topik baru ketika Kazuya dengan lugas berkata,
"Aku tidak pernah pacaran sebelumnya."
Ryousuke mengembangkan senyum yang malah jauh lebih misterius. "Oh ya? Lalu bagaimana dengan cinta pertama? Apa Sawamura adalah cinta pertamamu?"
"Ah, itu…" Kazuya mulai tampak salah tingkah, ia menggaruk belakang kepalanya dan mengalihkan pandangan dari tatapan menyelidik Ryousuke. "Sebenarnya—"
"Jelas bukan." Potong Eijun lugas. "Aku bukan cinta pertamanya. Aku tahu persis hal itu. Bahkan sampai sekarang Kazuya masih mengejar cinta pertamanya. "
"He?" Youichi mengerjap bingung. "Kau bisa bersikap setenang itu? kau tidak ada masalah dengan itu?"
Kazuya mendengus kasar. "Tentu tidak. Dia sendiri juga masih menyimpan obsesi besar pada cinta pertamanya."
Eijun tidak membantah, yang artinya ucapan Kazuya memang benar adanya. "Lagipula cinta pertama itu sangat berkesan." Kata Eijun, mendelikkan bahu ringan. "Sangat sulit dilupakan."
"Mustahil." Timpal Kazuya. Dan Youichi merasa percakapan ini jadi ganjil.
"Ah, benar! Apalagi jika mengingat betapa setiap hari dulu aku selalu berusaha mengejarnya."
"Sampai lupa waktu."
Eijun terkekeh geli. "Aku bisa bayangkan."
"Tunggu," Youichi mengangkat tangan, mencoba mencerna kembali percakapan sebelumnya. "Maksudnya, kalian berbagi cerita tentang cinta pertama? Kalian saling mengenali cinta pertama masing-masing?"
"Tentu saja!" Kelakar Eijun ceria, nada bangga terselip dari bagaimana ia mengepalkan tangannya lalu melepaskan tinju kosong ke udara. "Aku kenal dengan baik cinta pertamanya Kazuya!"
Kazuya tersenyum miring. "Itu karena kau juga mencintainya."
"Apa?!" Youichi memekik tanpa sadar. Mereka mencintai orang yang sama?! "Dan itu sama sekali bukan masalah?!"
"Kenapa harus jadi masalah?" Tanya Eijun polos, mata bulatnya berkedip lugu menatap Youichi.
"Tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Kami sama-sama mencintainya." Timpal Kazuya.
Youichi melirik kaku ke arah Ryousuke, meyampaikan pertanyaan nonlisan bermakna, Apa mereka waras? Dan Ryousuke hanya membalasnya dengan mengelengkan kepala dengan lemah dari satu sisi ke sisi yang lainnya. Sedangkan Eijun masih sibuk menetralkan mulutnya dengan soda, sementara Kazuya lebih memilih untuk mendelikkan bahu dan menyesap minumannya dengan santai. Mereka berdua sama sekali tidak terlihat cemburu, saling memusuhi, canggung dan yang lainnya. Begitu rileks dan santai seolah-olah membagi-bagi cinta dan perasaan kepada satu cinta pertama yang sama adalah sesuatu yang normal. Youichi melirik lagi ke arah Ryousuke, memberinya tatapan minta tolong, ku mohon, katakan sesuatu..
Ryousuke menghela napas. "Dia pasti sangat spesial sampai-sampai kalian memilih untuk tetap menyimpan perasaan padanya dan tak saling cemburu satu sama lain." Ia menyimpulkan, lalu memandangi pasangan di depannya secara bergantian. "Jadi, siapa sebenarnya cinta pertama kalian?"
Eijun dan kazuya diam sebentar, saling lirik, kemudian menyeringai bersama sebelum kembali memandang Ryousuke dan berkata dengan kompak. "Baseball."
"Base—WHAT?!"
"Baseball adalah cinta pertamaku!" Seru Eijun antusias. "Aku suka sekali pada baseball, dan Kazuya pun demikian. Baseball adalah cinta pertama kami berdua, kami sudah sepakat dengan hal itu. Tidak bisa diganggu gugat!"
"Absolut." Kazuya menegaskan.
Kemudian mereka berdua saling tatap dan mulai cengar-cengir seolah sepasang bocah yang memiliki sebuah dunia imajiner yang sama.
Butuh beberapa detik bagi Youichi sampai akhirnya memilih untuk mengambil sumpit dan melahap rakus makanannya guna melenyapkan rasa gusar di hatinya karena bisa-bisanya termakan rasa penasaran dan terjebak dalam ligkaran kebodohan pasangan absurd ini. Sedangkan Ryousuke mampu bersikap lebih tenang dengan mengukir senyum manis di bibirnya sebelum meraih sendok dan menghantamkannya ke puncak kepala Eijun dan Kazuya secara bergantian.
"Kali lain, tolong ingatkan aku kalau kalian benar-benar pasangan yang bodoh dan abnormal."
see you next chapter…
a/n: cinta petama gak harus orang kan ya? Hehe.
betewe, kok kangen bikin hurt yaa/gubrak
Makasih sudah baca, review please?
