"Masuk ibun-mama."
Pintu terbuka dan wanita yang mengetuk pintu tadipun masuk ke dalam ruangan.
15.21
"Halo Naruto. Apa yang sedang kalian lakukan?" sapanya dengan senyuman manis, seperti biasa. Ia sangat senang dengan adanya Naruto yang selalu menjaga putri tercintanya ini.
"Hana-san, kami hanya sedang err oh Hinata em em." Naruto tiba-tiba kehabisan kata-kata hingga membuatnya berpikir keras. Keringat membasahi kening dan punggungnya. Mengapa susah sekali mencari alasan?
"Kami hanya sedang bergosip haha iya gosip." Hanya inilah alasan yang bisa Naruto pikirkan beberapa menit kemudian, berharap semoga Hana-san tidak curiga.
"Pakaian apa ini? Mengapa berserak di lantai?" Hana mencoba memungut gaun berupa kain berwarna keemasan yang ia lihat di lantai tapi Naruto memungutnya terlebih dahulu.
"Aaa ini Hinata yang beli. Untuk pajangan." Jawab Naruto melirik ke arah Hinata. Ia sungguh berharap gadis yang tengah duduk manis di atas kasur itu tak berbuat sesuatu yang mencurigakan. Akan sangat tak lucu ketika wanita ini panik karena tahu anak gadisnya hilang entah kemana.
"Iyakah? Itu terlihat mahal?" Hana menaruh curiga saat Hinata yang ia tatap tak kunjung bersuara. Lihatlah tatapan bingung dan gayanya yang terasa berbeda, aneh? Auranya membuat piyama beruang di badannya terasa sangat mewah.
"Aaa sedang ada diskon besar-besa"
"Hinata, kau kenapa? Apa kau ada masalah?" Hana mendekat dan membelai lembut surai indigo Hinata, ia cukup khawatir meski ia yakin Hinata akan baik-baik saja karena Naruto selalu menjaganya.
"Tidak ib-mama, say-a...ku hanya lelah." Hinata terbata-bata, ia berusaha berbicara menggunakan kata-kata yang Naruto katakan meskipun ia lupa kalau ia harusnya menggunakan kata Ibu bukan mama ataupun Ibunda.
Meski kurang percaya akan alasan Hinata tapi Hana tak berniat memaksa putrinya untuk menjawab, "Oke kalau begitu, ibu tak mau mengganggumu, istirahatlah." Jawab Hana yang kemudian langsung melangkah keluar dari dalam ruangan.
"Jaga dia baik-baik, Naruto."
"Terima kasih, mama."
Klik
Pintu tertutup, langsung membuat Naruto bernafas lega. Apapun yang terjadi, sebaiknya jangan sampai ada yang tahu soal ini. Naruto tak mau masalahnya tertambah rumit. Lagipula bagaimana caranya menjelaskan kejadian tak terduga seperti ini?
.
"Apa yang terjadi? Kamu berjanji untuk menjelaskannya kalau saya membantu kamu." Gadis itu menuntut jawaban dan juga janji Naruto untuk menjelaskan. Ia juga termasuk salah satu yang binggung di sini.
"Akupun bingung untuk menjelaskannya!" Naruto mengacak surai pirangnya, frustasi. Ia sungguh tak bisa berpikir jernih. Fokusnya saat ini hanyalah pada bagaimana dengan Hinata?!
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Different
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Different by Authors03
Romance/Fantasy
Please.. Dont like dont read thanks.
Chapter2
.
.
.
"Apa kamu benar-benar menolakku?" Kepala Hinata terangkat, menatap lelaki yang entah sejak kapan masuk dan berdiri di depannya yang terduduk di bagian bawah kasur king size.
"AKU BAHKAN TAK TAHU SIAPA KAMU!" pekik Hinata frustasi. Ia sedang tidak dalam mood untuk diganggu. Sungguh, ia pusing, sangat pusing saat ini.
Bukan lagi soal bagaimana ini bisa terjadi tapi bagaimana caranya kembali?
"Rambut perak dan lihat tatapanmu itu. Kau terlihat sangat menyebalkan!" marah Hinata menunjuk menantang wajah putih lelaki tadi dengan ibu jari.
Grap
Lelaki itu mencengkram jari yang menunjuk wajahnya, "Sampai segitu, kamu menolakku hingga membuatmu bersikap seperti ini?" ada sedikit raut kekecewaan di sana. Bagaimana tidak? Lihatlah gadis ini, berubah...
"AKU TAK MENGENALMU! APA KAU DENGAR ITU?! Lepaskan aku!" Hinata menarik tangannya secara kasar tapi tetap saja tak bisa terlepas. Tarikan kasar Hinata tanpa sengaja membuat matanya bertemu mata putih itu, meski singkat tetap saja mata yang ia lihat membuatnya berdigik ngeri. Auranya menakutkan tapi ini Hinata. Ia terlalu bodoh untuk bisa mengerti apa arti tatapan itu.
"Harusnya kamu berterima kasih padaku karena telah membawamu ke sini. Kamu kira seberapa banyak perempuan seberuntung dirimu?." Ia melanjutkan, "Hanya satu, kamu Hime." Ia akui, ia mencintai gadis bermata bulan ini. Gadis sebatang kara tapi dia berbeda dari gadis lain. Gayanya yang sudah bak seorang putri terhormat dan juga cantik dan lembut tapi lihat dia sekarang. Apa dia sengaja bersikap seperti ini hanya karena menolak lamarannya? Ia bahkan membawanya ke istana dan menjamunya dengan layak tapi lihat dia sekarang. Seolah tak mengingat kebaikannya selama ini dan bersikap kasar.
"Tanya sendiri jawab sendiri! Menyebalkan! Aku tak peduli lepaskan aku!" Hinata mencoba menggigit tapi sebelum ia sempat melakukannya, tangannya terlepas.
"Dayang akan segara mengganti pakaianmu dan kamu akan makan malam bersamaku." Ia baru sadar Hime-nya memakai pakaian yang aneh.
"Tak mau! Aku gak mau titik! Kau dengar itu hah?!" teriak Hinata memastikan lelaki menyebalkan yang baru saja melangkah pergi, mendengarnya.
Langkah lelaki itu terhenti di dekat pintu kamar. "Toneri Osutsuki, Raja dari Kerajaan Bulan ini dan panggil aku, Yang Mulia. Kalau saja kamu lupa." Ini bukan pengenalan tapi terdengar seperti ancaman kalau saja Hinata terus meneriakinya tanpa adab.
Klik
Pintu emas tertutup setelah Toneri keluar.
"Aku Toneri bla bla raja dari bla bla panggil aku bla bla" Hinata mengulangi ucapan lelaki yang mengaku bernama Toneri dengan nada mengejek tapi kemudian ia malah terkejut sendiri.
"Ehm apa dia baru saja bilang raja?"
?
!
.
.
.
.
"Ok, jadi kau bukan Hinata?" yang diajak bicara mengangguk kecil. Ini sudah cukup menjelaskan kalau tak ada lagi yang bisa di ragukan. Yang terduduk di atas kasur di sebelah Naruto ini bukan sahabatnya, Hinata. Dia hanyalah mirip dengan Hinata. "Benar, saya bukan Hinata." Jawabnya yakin.
Setelah keduanya tenang, mereka memulai percakapan.
"Em mari kita mulai menjelaskannya dari pengenalan. Semua selalu dimulai dari sana." Naruto menggatakan apa yang ada di pikirannya.
"Aku Naruto dan siapa namamu?" tanya Naruto.
"Yang mulia memanggil saya, Hime." jawabnya dan Naruto mengangguk mengerti.
Tapi tunggu!
"HIME?! Yang mulia?" tanya Naruto terkejut, "Maksudnya apa?" Jangan bilang gadis ini sungguh dari keluarga kerajaan.
"Orang tua saya sudah meninggal. Suatu hari saya bertemu dengan Yang mulia dan beliau membawa saya ke Istana. Yang mulia memperlakukan saya dengan layak tapi baru saya ketahui dibalik semua itu, Yang mulia ingin meminang saya, itu terjadi tepat pada siang hari tadi di mana saya tiba-tiba muncul di sini." Satu hal lagi yang berhasil membuat jiwa Naruto hampir meloncat keluar dari badannya. Betapa syok ia mendengarnya.
"Kau bercanda..." Komentar Naruto tak percaya. Ini seperti dongeng, mustahil. Tapi bagaimana bisa ia tidak percaya? Lihat bukti sebesar ini. Tak ada alasan untuk ragu.
"Beliau masih muda, begitu hebat dan juga tampan tapi beliau suka memaksa. Kadang ketika beliau tidak dalam suasana hati yang baik, beliau akan bersikap kasar. Karena itu, saya menolaknya." Lanjutnya menjelaskan.
"Aku benar-benar tamat." Naruto memijit pangkal hidungnya berharap segara menemukan jalan keluar atas masalah ini. Cerita barusan membuatnya semakin khawatir. Bagaimana jika Hinata dalam masalah? Bagaimana jika dia dipaksa menikah? Bagaimana jika dia dikasari?
Tapi dari semua itu, yang terpenting adalah bagaimana caranya mengembalikan Hinata?
...
"Bisakah saya bertanya?" gadis yang mengaku dipanggil Hime bertanya.
"Ya tentu saja tanya apa saja." Jawab Naruto cepat.
"Bisakah saya pergi berjalan-jalan?" tanyanya berharap.
"Ya, tentu saja. Kenapa tidak?" Jawab Naruto aneh. Apakah seorang Hime tak boleh berjalan-jalan?
"Ah itu bagus, di Istana saya tidak di izinkan kemana-mana."
"Hinata akan menangis."
"Maaf?" pendengaran sang Hime melewatkan suara kecil Naruto.
"Dia akan menangis kalau saja tak bisa melakukan apa yang dia mau." Dan ini cukup membuat Naruto semakin merasa gila.
Umur mereka sudah 18 tahun tapi Hinata sangat suka bersikap layaknya anak kecil. Manja dan egois.
"Dan yang paling beliau tidak sukai adalah perempuan tanpa tata krama." Bagus, satu lagi kabar baik haha.
.
.
.
.
"Apakah dayang tidak memberimu perawatan wajah? Wajahmu terlihat lebih jelek dari terakhir kali aku melihatmu." Kata-kata yang lebih dari berhasil membuat kening Hinata berkerut. Meski terdapat sedikit humor di sana tapi apa yang Hinata yakini adalah orang ini baru saja menghinanya.
"Jelek! Jelek! tapi tetap saja kau memaksa menikahiku!" jawab Hinata dengan suara berteriak. Kalau saja tak dipaksa, ia bahkan tak mau duduk dan makan dengan lelaki menyebalkan ini. Sok dingin, sok keren!
"Memaksa?" Toneri mengulum senyum sebelum kembali melahap makanannya menggunakan sendok dan garfu emas.
"Melihat sikapmu begitu membuatku marah tapi kamu terlalu menggemaskan." ucap Toneri tapi kau pikir itu lucu hah?! Hinata tak merasa itu adalah pujian!
"Aku mau pergi." Hinata berdiri, memilih mengabaikan Toneri. Ugh! Gaun ini menyebalkan. Apa dia pikir Hinata adalah karakter Princess Disney sampai ia harus memakai pakaian seperti ini?!
"Tidak boleh. Hari sudah gelap, kamu tidak diizinkan untuk pergi."
"Bodo amat!" Hinata memukul meja kaca di depannya dan beranjak pergi.
"Hei lepaskan!" tapi belum dua langkah, dua pengawal yang sentiasa berdiri di belakang, menangkapnya. Apa mereka di sini memang untuk selalu menangkapnya? APA MEREKA TAK ADA KERJAAN LAIN?!
"Ugh!" Hinata berusaha menyingkirkan tangan Toneri yang meraih dagunya dengan cara menggeleng tapi Toneri malah menahan wajahnya agar terus menatap lurus ke arahnya.
"Sialan" Hinata tak bisa menghindari tatapan Toneri karena kalau ia lakukan, Toneri menekan dagunya dengan kuat dan itu cukup menyakitkan.
"Bantah aku sekali lagi dan aku pastikan kau akan menyesalinya, Hime." ancamnya masih berusaha bersabar tapi itu cukup membuat wajah menyebalkan Himenya tadi menjadi normal.
Hinata akan berkata jujur, wajah Toneri saat ini terlihat sangat menakutkan dan ia tak suka itu!
Tapi itu hanya untuk sesaat. Wajah normal yang Toneri perhatikan berubah.
"Huaaaaaaa Naruto! Dasar kau iblis jahat! Emang pantas kau ditolak! Kau kasar sekali pada perempuan! Tolol!" marah Hinata tak kuasa menahan air matanya. Bahkan Narutopun tak berani bersikap kasar padanya tapi lelaki ini sangat menyebalkan. Mentang-mentang saja Raja, dia bersikap seenaknya!
Toneri membeku. Apakah Himenya baru saja menangis seperti bayi? Ini mengagetkan. Ini tak pernah terjadi sebelumnya.
"Pengawal, besok pastikan kamu panggilkan tabib ke sini." Ucapan ini tanpa sadar membuat air mata Hinata berhenti mengalir.
"Tabib? Apa itu?" tanya Hinata bingung dan kepo.
"Hime, apakah kamu sakit?"
"Hah?"
"Kamu terlihat sangat aneh dari siang tadi." Toneri cemas tapi Hinata masih terlihat bingung, sibuk mencari di kepalanya apa arti kata 'tabib'.
.
.
.
.
"Iya, jadi besok kau harus ikut aku ke sekolah. Kau harus menjadi Hinata dan tak boleh ada satupun yang tahu kau bukan Hinata." Naruto memperjelas ucapannya setelah menjelaskan apa itu sekolah.
"Tapi saya penasaran. Adakah tempat yang dinamakan sekolah? Di Negeri Bulan hanya keluarga kerajaan yang memiliki guru. Tapi di sini semua memiliki guru." Hime tersenyum karena sangat tertarik pada tempat yang di namakan sekolah.
"Ya intinya kau harus ikut aku ke sana dan aku akan mencari tahu bagaimana caranya mengembalikan Hinata dan kau."
"Iya, baiklah." Ia menurut.
.
.
.
Besok paginya
Seperti biasa aktivitas yang selalu dilakukan oleh para murid. Datang ke sekolah dengan menggenakan seragam dan belajar.
Tapi jam masih menunjuk pukul 7.45 dimana masih ada 15 menit lagi sebelum masuk.
Di kantin, di sinilah kita berfokus. Tepatnya pada sepasang manusia yang tengah terduduk berseberangan di sana.
"Ramen sangat enak bukan?" tanya Naruto melahap ramen di atas meja. Ia harus memakan makanan kesukaannya ini untuk menjaganya tetap tenang dan bersikap se-normal mungkin.
"Di istana, kami di larang makan makanan murah."
"Hah?"
"Yoo! Naruto Hinata!"
"Jangan mengagetkan, Kiba! Kami lagi makan." kejut Naruto yang hampir tersedak kuah ramen.
"Hinata, ya saya." Hime menggelap bibirnya dengan tisu dan tersenyum setelah menatap siapa yang memanggil, dia kini berdiri di samping meja.
"Haha lucu sekali Hinata."
"Apa yang lucu?" tanya Hime binggung membuat yang mengajak bicara semakin binggung.
"Naruto, tumben sekali Hinata tak marah aku menggagetkannya?" Kiba berbisik ke telinga Naruto. Padahal biasanya gadis itu tidak akan segan-segan meninjunya.
"Biarkan saja pergi kau!" usir Naruto, takut akan Kiba menaruh curiga.
.
.
.
"ASTAGA KAMI-SAMA! BAGAIMANA MUNGKIN LELAKI INI ADALAH ORANG YANG MEMIMPIN NEGERI INI?!" komplain Hinata tak percaya pada betapa bodohnya Toneri.
Ia baru tahu ternyata tabib yang Toneri maksud itu adalah DOKTER!
"Aku tak sakit ataupun gila kau tolol bodoh! Lepaskan aku!" rontak Hinata tapi tak ada satupun yang mau melepaskan dirinya yang di ikat paksa di atas kasur.
"AKU BUKAN HIME YANG KAU MAKSUD! AKU HINATA!" pekiknya frustasi saat dokter tadi menarik kelopak matanya ke atas dan mengamati mata bulannya.
"Bagaimana keadaannya, tabib?" tanya Toneri khawatir.
"Maaf, Yang mulia. Sebaiknya Hime diberi obat penenang dulu." sarannya karena Hime tak kunjung diam dan terus saja menggeliat layaknya cacing, serta jangan lupakan suaranya yang memekakkan telinga.
"HAH?!" Hinata kaget. Suntik maksudnya? APA KAU TAHU BETAPA TAKUT HINATA PADA BENDA TAJAM?!
"Tidak tidak! Tolong kyaaaahhh tolong jangan jarum huaaaaaa!" Hinata semakin histeris saat benda tajam yang terlihat sangat kuno mulai mendekati lengan putihnya.
"NARUTO Huaaaaaaaa!
"Tolong aku"
.
.
.
To be continue
.
.
Sory sebelumnya banyak typo padahal dah dicek masih aja ada typo nyebelin emang huh!
Hmm aneh ga sih ceritanya
Tiba2 kepikiraan ini. Dimana ada dua Hinata dari dua tempat yang berbeda dengan dua karakter yang berbeda dan suatu hari tanpa sengaja mereka bertukar tempat dan bertemu lelaki yang berbeda pula.
Sampai jumpa lagi
Btw suka lihat yang mana neh
ToneriXhina atau NaruXHime? Karena masih awalan alias pengenalan mungkin, romance nya masih ga nyampe padahal Author yang nulis aja ga sabar mau ke bagian romancenya :v
Enjoy
Semoga suka
Bye bye
