Disclaimer

Sekotengs (c) Lifina

Warning

Contains BL, no plot just fluff


Fanfic ini adalah missing scene sebelum Ezra dioperasi (Sekotengs episode 82)


"Lho? Kalian yakin Raka bilang mau ke sini duluan? Ga ke tempat lain?" tanya Ezra.

"Yakin banget, Zra. Tadinya, kita mau jemput Raka dari apartemennya, tapi dia bilang dia udah berangkat duluan," jawab Vino.

"Hm ... jadi, sekarang Raka ada di mana ya? Gue jadi khawatir," ucap Ezra.

Tok. Tok. Tok.

Terdengar suara ketukan pintu yang mengalihkan perhatian semua orang.

Kriet.

Terlihat pemuda berbadan tinggi dengan rambut abu-abu dan bermuka datar yang tak lain adalah Raka.

"Permisi," ucapnya dengan suara yang datar.

"Eh, Nak Raka," ujar Ibu Ezra.

'Asik, ada Kak Raka,' batin Terra kesenangan.

"Pagi, Tante dan Terra. Maaf, tadi saya ada sedikit urusan," kata Raka.

"Gapapa, kok, Nak," kata Ibu Ezra, "oh ya, Tante titip Ezra bentar ya. Tante dan Terra mau beli makanan dulu di bawah," lanjutnya sambil menarik Terra ke luar kamar.

'Yah ... aku 'kan mau ngobrol dengan Kak Raka'

Brak.

Terdengar pintu yang sudah ditutup.

"Rak, lo dari mana aja, sih? Kita sempet khawatir, tahu?" tanya Dean.

"A-k-u t-a-d-i k-e-t-i-d-u-r-a-n," jawab Raka dengan nada yang kaku seperti robot.

'Bohong banget,' batin Vino dan Dean.

Hening. Terlihat sekali Raka ingin berbicara sesuatu, tetapi dia menahannya.

"Oh ya, Rak, Zra, kita kayaknya juga mau beli makan di bawah soalnya kita belom makan abis jaga tadi," Dean memecah keheningan sambil menyeret Vino.

"Loh? Bukannya kita ..."

Belum selesai Vino menyelesaikan kalimatnya, Dean sudah menyikut perutnya.

"Aw ... aduh, perut gue," keluh Vino.

"Tuh, si Vino kumat *dyspep-nya. Jadi, kita buruan nyari makan ya," akhirnya sekarang Dean berhasil menyeret Vino ke luar kamar.

Kamar rawat Ezra kembali hening.

"Raka, kamu dari mana saja?" tanya Ezra memecah keheningan.

"Aku tadi ketiduran," jawab Raka.

"Bohong. Aku tahu pasti Raka berbohong," kata Ezra.

Raka pun mengjela nafasnya, "tadi aku menemui dr. Ananda."

"Lalu?"

"Aku meminta beliau melakukan yang terbaik u-n-t-u-k-m-u," jawab Raka dengan nada yang datar, tetapi tetap tidak bisa menyembunyikan kekakuannya di akhir kalimat.

Dengan mata berkaca-kaca, Ezra menatap Raka. Kemudian, dia berdiri dan memeluk Raka.

"Raka, katakan lah yang sebenarnya. Aku sudah 4 tahun kenal Raka. Aku tahu gerak-gerik kamu kalau berbohong."

Raka pun kaget saat Ezra memeluknya. Raka kemudian, mengelus rambut Ezra.

"Ezra, aku takut kita tidak bisa bersama lagi dan tidak bisa mengucapkan sumpah kita bersama. Padahal, tinggal sedikit lagi kita bisa mengucap sumpah kita dan menjadi dokter. Aku hanya ingin kamu selamat. Aku tidak mau berpisah denganmu," jawab Raka panjang lebar.

"Raka, maaf. Maaf, aku sudah pernah berjanji untuk tidak pergi ke mana pun. Aku takut tidak bisa menepati janjiku," ucap Ezra dengan berlingangan air mata.

"Aku sayang sama Raka," ujar Ezra sambil sesenggukan.

"Aku juga sayang Ezra," balas Raka.

Sementara itu, di balik pintu kamar rawat Ezra, terlihat Ibu Ezra yang tersenyum kecil.

END


Author's note: *dyspep=dyspepsia, sakit maag.