"Ugh perutku mual." Keluh Hinata berjalan ling-lung sambil terus mengelus lembut perutnya di balik pakaian berwarna perak. Ia baru saja keluar dari dalam kamar yang sebelumnya baru tersadar dari tidurnya yang disebabkan oleh obat penenang.
"Kamu terlihat lebih tenang sekarang." Senyum di bibir Toneri mengambang. Baru saja ingin mengunjungi Himenya tapi pas sekali dia sudah siuman. "Tentu saja harus, aku memanggil tabib terbaik dari Negeri ini untukmu." tambahnya senang tapi itu malah membuat Hinata menatapnya kesal. Dia seperti tengah pamer alias sombong.
"Dokter tolol kek gitu apanya yang bagus? Dia memberiku obat yang membuatku mual!" tanpa basa-basi Hinata mengatakan apa yang ada di pikirannya. "Dikira aku gila apa sampai harus di suntik!" tambahnya melangkah pergi, meninggalkan Toneri.
Tapi ia berhenti di langkah ke lima.
Dagunya terangkat ke kanan menandakan ia sedang berpikir.
"Apa mungkin aku harus mengecilkan sedikit suaraku?" inner Hinata bertanya.
Setelah ia pikirkan, ia cukup takut akan mendapat suntikan menyakitkan itu lagi karena ia terus memberontak layaknya orang gila.
"Hm sepertinya. Lagipula bukankah memudahkan aku untuk kemana-mana kalau dia mempercayaiku?" satu sudut bibir Hinata terangkat, ia menyeringai ketika kepalanya terangguk-angguk. Ide yang bagus, ah ia begitu pintar.
"Anoo" Hinata berbalik dan tersenyum sembari menatap Toneri. "Aaa Tone-Yang mulia." Hinata tersenyum manis. "Aku minta maaf untuk… Ya intinya aku minta maaf kalau aku salah." Ucap Hinata berusaha memakai nada selembut mungkin meski caranya bicara masih menyebalkan.
"Ayoo…" Toneri melangkah melewati Hinata dan Hinata mengikuti. "Kemana?" tanyanya masih dengan senyuman.
"Waktunya kita belajar." Jawab Toneri. Ia tahu Himenya suka belajar, ya anggap saja ini adalah kebaikan hatinya dan ia memaafkan Hime atas tingkahnya yang tidak menyenangkan.
"Iya baikl-Hah?" kepala Hinata baru saja mencerna kata 'belajar.'
"Belajar? Sinipun harus belajar?!" oh tidakkkkk Hinata benci belajar!
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Different
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Different by Authors03
Romance/Fantasy
Please.. Don't like don't read thanks.
Chapter 3
.
.
.
Kringgggg
Bel istirahat berbunyi dan tempat duduk sang Hime langsung penuh di kerumunin para murid di dalam kelas.
"Gila Hinata!"
"Apa kau sungguh Hinata? Bagaimana bisa latihan mendadak ini kau mendapat nilai sempurna?!" hal inilah yang menghebohkan satu kelas 12-B.
"Gila aku hampir tak percaya kalau saja tidak melihatnya!"
"Bagaimana bisa kau yang mendapat juara terakhir? Dan selalu mendapat nilai minus?!"
"Aku suka balajar." Jawab Hime singkat dengan senyuman. Mendapat nilai sempurna sudah sangat mudah meski pelajaran yang ia dapatkan di sini berbeda dari di Istana tapi ia tetap saja bisa menebaknya dengan cepat. Ia bahkan sering berlomba kecerdasan dengan Yang mulia. Ini mudah.
"Oke oke bubar bubar! Sudah jam makan!" sedari tadi mencoba menembus kerumunan, akhirnya Naruto berhasil menyelip. Apa ia lupa mengatakan kalau Hinata itu harusnya tidak sepandai ini?
"Hinata itu tidak suka belajar." Bisiknya di telinga Hime hingga membuat senyum di bibir Hime memudar. Ups apakah ia baru saja membuat kesalahan?
"Bubarrrrr kalian!"
.
.
.
"Seperti biasa, Yang mulia mendapat nilai sempurna lagi." Yang merasa dipuji, tersenyum bangga, "Tapi Hime nilai anda sangat mengecewakan." Wajah Hinata tertekuk ketika guru tadi menatapnya dengan tatapan yang tajam dan menggerikan.
"…"
"Aku. Aku pusing." Bohong Hinata, sengaja menyentuh keningnya agar lebih menyakinkan. "Kepalaku berputar membuatku tak bisa fokus." Lanjutnya memasang wajah memelas. Persetanlah. Ia paling buruk di pelajaran yang ada angka dan dengan sialnya itu malah ia dapat tadi.
Toneri menatap curiga. Selama ia bersama Himenya, dalam keadaan apapun, dia tidak pernah membuat alasan apalagi mendapat nilai sejelek itu. Ada yang aneh.
"Pelajaran untuk hari ini, selesai."
.
.
.
.
.
Di taman yang terletak di samping Istana. Di sinilah Hinata terduduk, merenung di bawah pohon besar.
"Huhu ini menyebalkan. Tak di sana tak di sini mereka membuatku terlihat bodoh." Bibirnya melengkung ke bawah. Tangannya tak berhenti mencubit rumput-rumput yang terpotong rapi di sekitarnya. Ia ingin melampiaskan rasa kesal dengan sedikit kecewanya ini.
"Iya aku tak pandai tapi coba saja kalau tadi si sialan itu tak di sana. Guru itu pasti akan menyebutku bodoh." Oceh Hinata lagi.
"Kamu tidak bodoh, Hime dan tidak akan ada yang berani menyebutmu begitu." Hinata mengangkat kepalanya dan menatap siapa yang baru saja bersuara.
"Kau selalu saja ada di depanku ketika aku mengangkat kepalaku." Toneri tersenyum. Apa itu mengartikan Ia selalu ada untuk Himenya ini?
Toneri bersimpuh, tangannya menyelipkan surai indigo Hinata ke belakang daun telinga.
"Mungkinkah ada sesuatu yang ingin kamu katakan padaku?" tanya Toneri ketika kepala Hinata kembali tertunduk.
"…" Hinata berpikir keras.
"Mungkinkah dia akan mengusirku kalau tahu aku bukan orang yang dia maksud?" batin Hinata bertanya. Kemana ia akan pergi kalau hal itu benar-benar terjadi? Atau lebih parahnya bagaimana kalau lelaki ini malah marah dan membunuhnya? Mungkin sedikit berlebihan, tapi bisa juga tidak. Siapa yang tahu dia marah karena merasa dibohongi?
"…" Hinata binggung harus berbuat apa tapi mau tak mau, ia menjawab. "Tidak. Aku hanya…" Hinata menggigit bibir bawahnya dengan kuat. Apa yang ada di pikirannya?
"Kenapa kamu menangis, Hime?" dengan siggap, Toneri menghapus air mata Hinata dengan jarinya.
"Hiks bibirku sakit awww." Desis Hinata yang hampir saja membuat Toneri jungkir balik.
Astaga. Sepertinya memang ada sedikit masalah pada kepala Himenya.
"Siapa suruh kau mengigitnya begitu kuat, bodoh!"
"Huuu jangan mengataiku! Bibirku sakit!"
.
.
.
.
19.21
"Ada apa dengan kamu, Uzumaki Naruto?" Hime bertanya ketika ia melihat Naruto mengusap wajahnya dengan kasar, dia terlihat gusar.
"Aku khawatir. Bagaimana dengan Hinata? Bagaimana kabarnya?" Naruto berdiri dan berjalan mengelilingi kamar Hinata, tempat ia melamun sedari tadi.
"Tenang saja, saya yakin dia baik-baik saja." Hime tersenyum, Naruto menoleh ke arahnya.
"Bagaimana kau bisa yakin? Kau sendiri yang bil"
"Memang benar, tapi sebagaimana Yang mulia bersikap. Yang mulia tidak pernah menyakiti saya." Jawabnya menyakinkan tapi tak cukup membuat Naruto yakin.
"Kalian berbeda." Naruto memberi jeda. "Kalian beda. Hinata tidaklah sepertimu bahkan kau bukan dia dan dia bukan kau. Bagaimana jika ada tingkah Hinata yang membuatnya sangat marah hingga dia menyakiti Hinata?" Naruto membuang nafasnya kasar, ia frustasi. Ia merasa sangat bersalah. Selain membuat Hinata menghilang, ia juga berbohong kepada semuanya.
"Maafkan saya…" Hime memainkan kedua ibu jarinya di atas perut ketika kepalanya tertunduk. Iapun tak bisa menjamin apapun karena selama di dekat Yang mulia, ia selalu bersikap selayaknya.
"…"
"Seharusnya aku ikut dengannya." Tiba-tiba Naruto membuat topik baru hingga membuat Hime menatapnya.
"Harusnya aku ikut menyentuh map itu tapi aku sungguh tak menyangka hal ini akan terjadi hingga aku mengabaikannya dan kemudian..." Naruto menarik nafas panjang, wajahnya memerah. Kalau saja waktu itu ia mengikuti Hinata seperti seharusnya, mungkin saat ini setidaknya ia masih bersama Hinata, Hinata tidak akan hilang dan sendirian di luar sana.
"Uzumaki Naruto, ini bukan salahmu." Hime mendekat dan mengelus lembut pundak Naruto, berniat menenangkannya tapi
Naruto malah memeluknya erat.
Sangat erat hingga Hime merasa sulit bernafas tapi ia tak berkomentar. Ia mencoba membantu lelaki yang terlihat sangat frustasi ini.
"Ini bukan salahmu, Uzumaki Naruto."
.
.
.
.
"Auch!" langkah Hinata terhenti karena ia merasakan sesak di dadanya. Tangannya meraih pintu kamar tepat di depannya untuk menahan berat badannya. Rasanya sulit bernafas.
"Hyuuga Hinata baik-baik saja, percayalah."
Hinata mengerjapkan matanya berkali-kali. Ada sesuatu yang menyinggahi pikirannya layaknya memori.
"Dia sungguh membuatku gila. Hinata, seharusnya aku tak membiarkannya meski itu hanyalah permainan. Harusnya aku tak membiarkannya."
"Kita akan mengembalikannya, pasti. Jangan menangis, Uzumaki Naruto."
.
.
.
"Iya… Iya, kau benar." Naruto menjauh dan menggelap air mata dengan jari tangannya.
Sekali hembusan nafas, ia tersenyum. Berusaha seoptimis mungkin, "Kita akan mengembalikan Hinata, pasti" ucap Naruto optimis membuat Hime membalas senyumannya.
"Iya, Uzumaki Naruto."
.
.
.
.
"Naruto!" panggil Hinata tersadar dari pemikirannya.
Dengan cepat, ia berlari masuk ke dalam kamar dan mencari Naruto kemana-mana.
"Naruto!?" tapi karena tidak menemukan apa yang ia cari, langkahnya terhenti.
Sejenak ia mencerna soal apa yang baru saja ia lihat.
"Naruto… me-memeluk... aku?" masih bingung.
"AKU?!" Pekiknya terkejut.
"Jadi, maksud dia Hime itu adalah AKU?!" Hinata menutup mulutnya yang terbuka lebar karena terkejut. Awalnya ia bingung bagaimana bisa Toneri tidak bisa membedakan dirinya dan Hime tapi sekilas pemikiran yang entah nyata atau tidak membuatnya mengerti.
"Tidak tidak. Mungkin kami hanya mirip. Iya tentu saja. Dia tak mungkin aku. Aku'kan ada di sini." Hinata masih tak mengerti. Ia harus memastikan benar atau tidak apa yang baru saja melintasi pikirannya. Tapi omong-omong bagaimana bisa ia melihat Naruto tapi abaikan itu.
"Aku harus tanya padanya." Hanya ini satu-satunya jalan agar Hinata tahu jawabannya.
.
.
.
"Bukannya aku mencurigainya tapi tidakkah dia memang mencurigakan?" Toneri berpikir di dalam bak mandi yang berisi air hangat serta ditaburi bunga-bunga.
Aroma bunga membuatnya tenang.
Hime membuatnya pusing.
"Jawablah, Shion."
"Maaf, Yang mulia. Hamba tidak begitu memperhatikan Hime." Yang diajak bicara menjawab apa adanya.
Sebelum ada yang berpikiran aneh-aneh. Shion adalah dayang pribadi Toneri dan yang sekarang ia lakukan hanyalah berdiri dan menatap lurus ke depan. Tujuannya di sini hanyalah mengambilkan handuk untuk yang tengah berendam setelah menyiapkan air hangat di dalam bak itu. Ia tak mengintip dan apapun itu, Ia hanya berdiri dan menatap kosong ke depan.
"Harusnya kamu memperhatikannya. Bukankah itu termasuk pekerjaanmu?"
"Maafkan hamba, Yang mulia."
"Toneri!"
Pintu kamar mandi yang terbuat dari emas tak jauh di depan Toneri terbelah dan siapa ini.
"Hime?"
"Kyaaaah!" dengan segara Hinata membalikkan badan.
"KAMAR MANDI?!" Hinata kira ruang pribadi adalah kamar entah apa yang jelas bukan kamar mandi tapi ternyata ia salah.
"Apa yang kau lakukan dengan seorang perempuan di kamar mandi?!" tanya Hinata terkejut. Apakah ia baru saja menggebrek sesuatu yang aneh-aneh?
Shion memberikan Toneri sebuah handuk dan kemudian pamit keluar dari ruangan.
"Hime, kenapa kamu ke sini?" Toneri menghampiri dengan handuk putih yang sudah menutup pinggang hingga lututnya.
Telanjang dada, iyap benar sekali.
"Astaga!" Hinata kembali membalikkan badannya saat ia tak sengaja menfokuskan matanya ke six pack du perut Toneri. Hampir saja ia tercekik oleh teriakannya yang tak sempat keluar.
Badannya gagah. Aaaa! Abaikan itu.
"Yaampun jangan katakan aku baru saja memergokimu." Ucap Hinata panik tapi itu malah menghadirkan senyuman lucu di wajah Toneri.
"Apakah di matamu kami terlihat seperti sedang melakukan sesuatu yang aneh?" Toneri bertanya dengan nada lucu.
Menilai dari perempuan yang Hinata lihat tadi masih lengkap dengan pakaian dan hanya berdiri lumayan jauh dari Toneri yang berada di dalam bak mandi. Sepertinya jawabannya, "Tidak. Kurasa tidak." Jawab Hinata. "Tapi apa yang kau lakukan dengannya di kamar mandi, berdua?" tanya Hinata aneh setelah ia membalikkan badannya dan menatap Toneri. Hanya menatap mata Toneri, tidak kemana-mana. Ia perlu tenaga tambahan untuk mempertahankan matanya agar tidak turun ke bawah.
"Dia dayang." Toneri menjawab singkat.
"Tapi tetap saja dia perempuan! Apakah wajar seorang gadis berada di dalam kamar mandi seorang lelaki yang tengah mandi?" tanya Hinata lagi. Apalagi mereka bukan suami istri, mungkin juga bukan sepasang kekasih jadi apa maksudnya ini?
"Apa kamu cemburu?" tanya Toneri lucu membuat Hinata membantahnya dengan cepat, "Tidak! Tentu saja tidak! Bukan itu maksudku."
"Dia dayangku. Bukankah memang sudah seharusnya dia melayaniku? Itu peraturannya, kamu tahu itu?" percayalah Toneri tak pernah melakukan hal yang aneh-aneh seperti yang tengah gadis ini pikirkan.
"Melayani, apa maksudmu juga termasuk itu-itu?" Hinata menekankan kata 'itu-itu', Toneri mengerti apa maksudnya. Pasti itu soal sesuatu yang intim.
"Tentu saja tidak, Hime. Hanya mengerjakan kebutuhkanku." Jawab Toneri jujur tapi Hinata masih tak puas akan jawaban yang ia dapatkan.
"KEBUTUHAN APA DI KAMAR MANDI? Kau dimandikan? Atau apa? Kau bukan anak kecil yang harus dimandikan bukan?" suara Hinata naik seoktaf sebelum kembali normal.
"Aku ini Raja. Orang lain mengerjakan, aku menikmati. Mengapa kamu bersikap seperti itu? Apa kamu tak suka?" Toneri mencoba menggoda tapi itu malah membuat Hinata semakin kesal dan malu.
"AKU TIDAK!" bantah Hinata cepat ketika ia merasa Toneri memojokkannya. "Aku ini perempuan. Maksudnya kalau saja aku memergoki cowokku berdua dengan seorang wanita tentu saja aku marah. Iya, aku marah!" anggap saja Hinata tengah membela perempuan yang di lamar Toneri. Ia harus, tentu saja. Perempuan mana yang tak marah melihat lelakinya berduaan dengan seorang perempuan dan jangan lupakan dia tak berpakaian. Apa saja bisa terjadi entah sengaja atau tidak. Pantas saja dia di tolak, memang sangat wajar!
"Omong-omong soal perempuan." Hinata mengubah topik ketika teringat akan tujuannya ke sini.
"Aku adalah Hime, benar bukan?"
Krik krik
"…"
Toneri membisu.
Begitu juga dengan Hinata, ikut membisu ketika tatapan Toneri berubah.
Bukankah ini pertanyaan yang bodoh?
"Tidak maksudnya. Aku adalah Hime. Bukan maksudku astaga gimana cara mengatakannya." Rasanya Hinata ingin mengutuk otaknya yang begitu lamban menciptakan kata-kata yang pas.
"Aku adalah Hime?" astaga Hinata.
"…"
"Hime, kamu sangat aneh. Tentu saja kamu Hime." Jawab Toneri aneh.
"Misalnya aku bukan Hime, apakah aku terlihat seperti dia?" tanya Hinata lagi, membuat alis Toneri naik sebelah.
"Kamu adalah Hime, dari sisi manapun. Kamu adalah Hime. Kamu tidak berniat membohongiku dengan mengatakan kamu bukan Hime hanya karena kamu tidak senang aku meminangmu bukan?" jawab dan tanya Toneri. Kalau iyapun dia lakukan, sangat tak mungkin Toneri akan mempercayainya. Dia jelas-jelas Himenya.
"Bagaimana kalau aku bilang, aku memang bukan dia?" mengabaikan pertanyaan Toneri, Hinata kembali bertanya dan pertanyaan ini cukup membuat Toneri memutar otaknya.
"Bagaimana kalau kamu bukan Hime-ku?" Toneri mengulang pertanyaan yang ia dengar jelas. Pertanyaan bodoh apa ini?
"Iya…" Hinata menegaskan. "Bagaimana kalau aku hanyalah seseorang yang mirip dengannya…?"
…
"jika begitu. Kamu…"
.
.
"Kamu akan mati."
.
.
.
To be continue
.
.
.
Yey chapter 3 selesai
Menurut perkiraan kayaknya bakal panjan cerita ini. Kayaknyaaa
See youuu
