"Bagaimana kalau kamu bukan Hime-ku?" Toneri mengulang pertanyaan yang ia dengar jelas. Pertanyaan bodoh apa ini?
"Iya…" Hinata menegaskan. "Bagaimana kalau aku hanyalah seseorang yang mirip dengannya…?"
"jika begitu. Kamu…"
"Kamu akan mati." Seriusnya raut wajah Toneri membuat Hinata menelan ludah, khawatir dan takut.
"Ahahaha bercanda." Hinata tertawa kaku, berusaha mencairkan suasana yang menegang. "Bercanda. Kau sangat serius, Toneri ahahaha."
"Aku juga bercanda, Hime." Toneri tersenyum manis tanpa tahu kalau jantung Hinata hampir saja meloncat keluar dari tempatnya. "Sudah aku katakan itu tipuan yang bodoh."
"Ahahahaha"
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Different
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Different by Authors03
Romance/Fantasy
Please.. Dont like dont read thanks.
Chapter 4
.
.
.
"Meski lebih banyak bangunan daripada hutan yang luas, dunia masih saja indah."
Jam menunjuk pukul 06.21
Di pusat kota, di sinilah Naruto dan sang Hime berada tepatnya di bagian taman kota. Menikmati pemandangan dan udara pagi yang segar.
"Pakaiannya pun meski edikit aneh, bukankah ini pakaian yang indah?" celana jeans dengan kaos putih. Ia bahkan baru tahu apa itu celana. Di tempatnya semua orang memakai pakaian yang lebih terlihat seperti kain.
Badan itu terputar menikmati dingin sang angin dan hangatnya mentari yang baru saja terbit.
Ini sangat menyenangkan. Ia bisa kemana saja dan menikmati. Ia sungguh merasa bebas.
"Hati-hati. Kau akan jatuh kalau terus berjalan tanpa melihat ke depan." Naruto tersenyum tipis. Dia terlihat sangat senang hingga dia tak bisa berhenti menatap kesana-kesini. Bangunan, langit, taman, pohon, rumput, jalan dan manusia yang tengah berlalu. Dia tidak melewatkan apapun.
Hingga dia melihat sebuah kursi panjang dan memilih duduk di sana, tentunya Naruto mengikuti.
"..."
"Jika aku melakukan hal yang sebelumnya Hinata lakukan. Menurutmu apakah aku akan bisa menyusulnya?" tiba-tiba Naruto membuka topik setelah temenung cukup lama.
"Apa hal itu akan menjaminmu sampai ke sana? Bagaimana kalau tidak?" sang Hime bertanya.
"Tapi bukankah lebih baik mencoba daripada tidak? Naruto berusaha menyakinkan dirinya atas rencana yang terus saja berputar di kepala.
"Anggap saja itu berhasil tapi bagaimana kalau kamu tidak muncul di tempat di mana Hinata berada?"
"..." Naruto terbungkam. Tentunya masalah ini akan semakin rumit bukannya beres.
.
.
.
.
"Apa?! Sepertinya ada yang salah dengan telingaku. Bisa kau ulangi ucapanmu tadi? Hah?!" Hinata mendekatkan telinganya ke arah Toneri hingga membuat Toneri menggeleng.
"Kita akan pergi ke Kerajaan Sabaku sekarang. Kamu adalah juru bicaraku, apakah kamu sudah menyiapkan segalanya?" Toneri mengulangi ucapannya barusan dengan nada yang jauh lebih jelas.
"Kau tak bilang apapun dan tiba-tiba saja"
"Aku sudah mengatakannya jauh hari, Hime. Apa kamu lupa?" sela Toneri. Tak biasanya Hime begini ceroboh. Bahkan dia selalu saja sudah sedia tanpa perlu Toneri memanggilnya.
"Mati aku." Badan Hinata lemas. Rasanya berat sekali di sini. Semuanya terasa seperti pekerjaan.
"Anoo apa yang perlu aku siapkan?" tanya Hinata pasrah.
"Suara dan logika, Hime. Cuma itu." Toneri tersenyum dan kemudian melangkah pergi.
"Haha iya cuma itu..."
.
.
.
"Kamu bahkan tidak bisa menunggangi kuda. Apa itu cuma alasan agar kau bisa berdua denganku?" Toneri tak bisa menahan senyum bahagia tapi Hinata yang teduduk di depannya tak tampak senang. Dia tampak frustasi.
"Aku lupa ingatan. Jangan tanya-tanya kenapa aku tiba-tiba menjadi sangat tak berguna." Jawab Hinata lemas, tak berdaya.
Alasan yang sangat meragukan dan aneh tapi Toneri tidak bertanya lebih banyak lagi.
Kuda yang ia dan Toneri tunggangi melaju diikuti oleh beberapa pengawal di belakang.
Urusan kerajaan, kau tahu. Itu kenapa Toneri harus pergi ke Negeri tetangga tapi Hinata bukan anggota kerajaan. Ia tak tahu apapun.
"Kepalaku berdenyut." Gumannya putus asa. Tak kuasa menahan banyaknya beban pikiran, Hinata menyandarkan samping wajahnya ke area leher Toneri. Bahkan tangan yang semula menggengam tali yang terikat di kuda hitam ini berpindah ke sisi baju merah Toneri, ia mengengamnya erat untuk memastikan badannya yang lemas ini tak terjatuh.
Sekian lama, rasanya cuma sekaranglah tingkah gadis ini yang membuat jantungnya berdebar sangat kencang dan perutnya berbunga-bunga. Ini yang tengah Toneri pikirkan.
"Hime, apa kamu bersedia menikahi"
"Tidak..." sela Hinata cepat dan malas.
Hm cukup menyakitkan.
.
.
.
.
.
"Aku benar-benar tidak bisa tidur tenang karena memikirkannya."
"Apa... Kamu mencintainya, Naruto?" tanya sang Hime. Ia bisa lihat itu di mata Naruto.
"Aku..." Naruto berpikir sejenak. "Tidak, aku hanya merasa harus menjaganya. Kami selalu bersama." Jawabnya ragu tapi itu membuat yang mendengar yakin kalau tebakannya benar.
"Menurutmu apa itu cinta?" Naruto menoleh ke arah Hime yang melemparkan senyuman tipis kepadanya.
"Entahlah. Aku tak pernah memikirkan soal cinta." Jawab Naruto jujur. Hinata selalu ada untuknya. Ia tak merasa perlu pendamping.
"Yah tentu saja. Karena kamu selalu bersama dengannya hingga kamu merasa tak perlu siapapun." Ia melanjutkan, "Tapi umurmu sudah hampir menginjak 19, mungkin kamu harus mulai memikirkannya. Seseorang yang akan menemani dan bersamamu." Memikirkan mendapat sosok seperti itu membuatnya senang tapi belum ia temukan sosok itu hingga kini.
"Aku masih muda." Naruto terkekeh. Hime berbicara seolah dirinya sudah sangat dewasa. " Bagaimana denganmu? Umurmu 3 tahun lebih tua dariku tapi kau juga tetap sendiri. Seorang Raja ingin menikahimu tapi kau malah menolak." Apakah ini bisa dibilang bodoh? Seorang raja ingin menikahi seorang gadis sebatang kara yang bahkan tak setingkat dengannya. Ini adalah keberuntungan luar biasa.
"Aku hanya tidak mencintainya." Jawab Hime jujur dan ini adalah satu-satunya alasan ia menolak.
"Seseorang pernah bertanya, hidup dengan orang yang mencintaimu meski kau tak mencintainya atau hidup bersama orang yang kau cintai tapi dia tidak begitu. Mana yang akan kau pilih?"
"Seseorang yang aku cintai?" jawab Hime ragu. Bagaimana bisa seseorang hidup dengan orang yang tidak dia cintai di dalam satu atap?
"Cinta itu bisa datang kapan saja. Selama dia mencintaimu, kau takkan pernah tersiksa tapi jika kau bersama orang yang tak mencintaimu, rasanya seperti neraka." Naruto bukan pakar cinta bahkan ia tak pernah pacaran tapi entah kenapa ia berbicara sok begini.
"Aku tidak tahu..." Hime berpikir. Hidupnya cukup menyenangkan selama ia bersama Yang mulia. Meski ia tak sadar kalau lelaki itu mencintainya. Tapi seperti apa cintanya? Apakah pantas seseorang seperti ini menerima cinta lelaki seperti itu?
"Berikan dia kesempatan. Kau tidak akan menyesal." tambah Naruto menyakinkan kalau lelaki itu mungkin saja yang terbaik untuk gadis ini.
"Aku lapar." Hime mengubah topik pembicaraan karena tak berniat membahas lebih lanjut.
"Ayo, pergi makan."
.
.
.
.
Kembali ke Hinata.
Selang satu jam, mereka tiba.
"Sabaku Gaara."
"Kau datang dengannya lagi, Toneri."
Wah mereka terlihat akrab, itu yang Hinata pikirkan.
Setelah tiba, pengawas menuntun mereka ke sebuah ruangan. Meja yang melingkar dengan seorang lelaki bersurai merah di sana dan tentunya beberapa pengawal yang setia berdiri di sekitarnya. Itu yang Hinata lihat.
"Calon istriku, tentu saja." Dengan bangga Toneri menjawab dan mendudukkan diri di bangku yang tersedia, Hinata mengikuti duduk di sebelah Toneri.
"Hime?"
"Hah? Iya aku." Hinata menjawab cepat saat lelaki yang ia ketahui bernama Gaara memanggil.
Cukup lama dia mengamati wajah Hinata sebelum mengatakan. "Hm ini perasaanku saja atau kamu memang sedikit lebih jelek dari terakhir kali aku melihatmu?" kening Hinata berkerut. Tak dia, tak dia responnya sama-sama menyebalkan.
Hinata tersenyum. "Ini perasaanku saja atau KAMU memang sedikit lebih menyebalkan dari terakhir kali kita bertemu?" meski asal, Hinata tetap ingin membalas. Persetan ia akan di hukum atau apa karena lancang. Ia hanya ingin membalas.
"Bwuahahaha! Apa ini perasaanku saja atau kamu memang lebih menarik dari sebelumnya?" syukur dia tak marah tapi apakah itu pujian? Hinata tak senang.
"Ehem." Toneri berdehem. " Mari kita selesaikan urusan kita." Ia tak suka melihat rambut merah itu memuji Himenya.
"Santai Toneri. Kita punya banyak waktu. Prajurit yang aku tugaskan belum tiba. Mari kita sedikit berbincang." Gaara menjawab santai. Sedikit berbincang-bincang dengan seorang teman tidak buruk bukan?
"Sake?" Gaara menuangkan minuman dari guci kecil ke gelas kecil Toneri dan Hinata.
"Tidak, aku masih 18" tolak Hinata cepat.
"18? bwuahahaha ya meski kelihatan seperti itu tapi aku tahu kamu. Umurmu 22, Hime." Astaga Hinata lupa dimana ia berada untuk sejenak. Tapi seberapa dekat gadis ini dengan raja itu sampai dia berbicara seakrab itu hmm...
"Ayo minum." Karena mereka berdua mengangkat gelas, mau tidak mau Hinata mengikuti. Ia teguk sake yang terasa pahit ini di kala mereka berdua melakukannya. Ugh ini sangat pahit meski terasa enak.
Gaara kembali menuangkan.
"Jadi, kapan kalian menikah? Aku terus mendengar dia adalah calon istri tapi tidak pernah menjadi istri." Gaara membuka topik untuk berbasa-basi.
"Tidak usah terburu-buru, Gaara. Semua ada waktunya." Toneri menjawab dengan senyum percaya diri.
"Cih, padahal dia ditolak." Batin Hinata berdecih tapi ia memilih tak ikut campur pada percakapan yang mungkin akan menyulitkannya.
"Katakan padaku, bagaimana pernikahan impianmu, Hime?" Gaara bertanya. Meski Hinata tak mau menjawab, ia tak punya pilihan bukan?
"Menikah dengan orang yang aku cintai pastinya. Itu sungguh sebuah impian." Senyuman manis sebagai bumbu jawabannya.
"Hahaha tentu saja. Kamu akan menikah dengan Toneri, siapa lagi yang kamu cintai?" Hinta ikut menoleh di saat ia sadar Toneri menoleh dan tersenyum penuh artian padanya. Sepertinya Hinta membawa topik ini ke arah yang salah.
"I...iya haha siapa lagi yang aku cin-tai. Tidak ada." Dasar.
"Maaf paduka, hamba sudah tiba." Seorang prajurit dengan pakaian baja berlutut dan memberi hormat kepada Gaara.
"Berdirilah, bagaimana dengan tugasmu?" dia berdiri dan kemudian menjawab. "Semuanya berjalan lancar, Paduka. Hamba telah menyelesaikan tugas hamba." Tangannya terangkat dan membuka penutup baja di bagian mulut kemudian melepaskan topi baja itu dari kepalanya.
"Bagus kalau begitu. Aku ada tugas lagi untukmu."
"Hamba siap menerima titah, Paduka." Jawabnya lantang. Prajurit ini adalah prajurit nomor satu Gaara. Terpercaya dan terhebat.
"Siapkan pasukan dan kita akan menyerang Negeri hujan bersama sekutu dalam waktu singkat.
"Apa?!" Hinata terperanjat kaget atas apa yang baru saja ia dengar.
"Mengapa kalian mau menyerangnya?" tanya Hinata memastikan.
"Perebutan wilayah dan untuk memperluas wilayah tentu saja. Pertanyaanmu aneh, Hime." Jawab Gaara terkejut pada suara teriakan tadi.
"Tidak boleh." Timpal Hinata cepat. "Tanah kalian sudah seluas ini mengapa harus menambahkannya lagi dan dengan perang? Itu bukan hal yang bagus. Akan ada korban atas perbuatan kalian." Jelasnya tak setuju pada apapun yang dua raja ini rencanakan.
"Hime, kamu seharusnya membantu. Mengapa kamu jadi membela yang lain?" heran Toneri pada sikap Himenya.
"Aku tidak membela. Aku hanya bilang itu bukan hal yang bagus. Menciptakan korban itu bukan hal yang seharusnya dilakukan seorang raja'kan?" Hinata cemberut. Apa dia gila memasukkan Hinata pada rencana gila mereka? Mungkin Hinata tidak ikut menyerang tapi tidakkah itu kejam?
"Hime"
"Intinya aku tak suka! Jangan melakukannya Toneri." Hinata mengembungkan pipinya, kesal.
"Apa kamu baru saja memerintahku?" Toneri terkejut. Di depan Gaara? Berani sekali dia.
"Persetan dengan peraturan kerajaan raja atau apapunlah! Aku mau kabur dasar kau raja yang jahat!" Toneri dan Gaara terdiam saat Hinata mengangkat kedua sisi gaunnya dan berlari pergi dengan langkah yang kasar.
"Wow..." Gaara terpukau atas sikap gadis yang ia kenal sangat sopan dan terhormat menjadi sangat jauh dari kata sopan dan bahkan manja. "Dia berubah menjadi sangat menggemaskan. Apa yang kamu lakukan padanya?"
"Diam kau, Gaara."
.
.
.
"Hati-hati, Hime." Naruto menangkap tubuh Hime yang hampir tersungkur ke lantai karena tersandung kakinya sendiri.
"Terima kasih." Ucap sang Hime membenarkan posisi berdirinya dan melanjutkan acara jalannya di sebelah Naruto.
"Dia pasti sangat senang memiliki seseorang sepertimu." Naruto menoleh.
"Siapa yang tahu? Mungkin dia biasa saja." Jawab Naruto ragu.
"Aku senang bertemu denganmu. Kamu orang yang baik." Entah apa arti senyuman yang Naruto liat sebelum wajah cantik itu tertunduk.
"..."
"Aku merindukan dia..." ucap Naruto tersenyum miris. Sudah hampir dua minggu berlalu dan ia tak bisa melakukan apapun.
"Maaf..." Hime mengambil lembut tangan Naruto di saat langkahnya terhenti. "Aku tidak bisa membantu apa-apa selain menghiburmu." Ia tersenyum saat mata Naruto dari tangannya beralih ke mata.
.
.
.
.
Langkah Hinata terhenti setelah ia berjalan cukup lama tanpa tujuan.
Hutan. Iya, sepertinya Hinata berada di dalam hutan atau tepatnya tersesat.
Tapi kejadian waktu itu terjadi lagi.
Ia melihat Naruto menggengam tangan gadis itu dan menatapnya.
.
.
"Kau sangat mirip dengannya..." wajah Naruto terlihat sendu. "Tidak ada yang lain di kepalaku selain bagaimana cara mengembalikan Hinata." Tambahnya berharap akan adanya keajaiban.
.
.
"Naruto..." raut wajah Hinata sedih.
"Aku merindukanmu, Naruto bodoh."
.
.
"Yaampun. Bukan aku yang mengatakannya." Seolah tersadar dari alam bawah sadar, Hime menarik tangannya menjauh dari Naruto.
"Hinata?!" Naruto mencerna apa yang baru saja terjadi.
Tadi seperti Hinata.
Hinata... Ia dengar Hinata menyebutnya bodoh.
"Maafkan aku. Aku tak bermaksud berbicara begitu. Terjadi begitu saja." Kejut Hime tak mengerti mengapa ia tiba-tiba berbicara seperti itu. Ini sungguh diluar kesadarannya.
"Hinata?!" Naruto menyentuh kedua pundak Hime dan menatap dalam matanya. Ia seperti melihat Hinata tadi.
.
.
.
"Kabur, kabur saja kenapa harus lapor-lapor, Hime?" Toneri memakai nada mengejek. Cukup lama mencari akhirnya ketemu juga gadisnya ini.
Pipi Hinata membulat, cemberut. Alisnya tertekuk dan ia menatap tajam Toneri yang tiba-tiba muncul dengan kuda hitam.
.
.
.
"..."
"Maaf." Naruto menjauh di saat apa yang ia kira tak sesuai harapannya. "Tadi aku seolah melihat Hinata." Lanjutnya putus asa. Ia kira kalau saja ia menyentuh gadis ini, Hinata akan bisa melihatnya ternyata itu hanya perasaannya saja.
"Ayo pulang."
"Iya, Naruto."
.
.
.
"Kenapa kau ke sini hah?!" Hinata menghampiri Toneri yang baru saja turun dari atas kuda dengan langkah besarnya.
"Mencarimu, tentu saja." Jawab Toneri apa adanya. Ia tak mungkin membiarkan gadis ini sendirian.
"Hei, omong-omong apa lelaki memang tak bisa dipercaya?" Hinata menatap Toneri. Ia ingin melampiaskan rasa kesalnya.
"Apa maksudmu?" Toneri binggung apalagi di saat Hinata tiba-tiba menggengam tangannya.
"Kamu sangat mirip dengannya." Hinata meniru adegan yang ia lihat tadi. "Dia berbicara begitu seperti akan mencintai gadis itu tapi kemudian dia bilang apa yang dia pikirkan hanyalah bagaimana cara mengembalikan gadis yang lain. Dan caranya bicara sama sekali tak menyakinkan. Kau percaya itu? Lelaki tak bisa dipercaya. Berkata begitu di saat dia memegang tangan gadis lain." Oceh Hinata tak suka. "Apa kau bisa putus dengan lelaki yang bukan pacarmu? Ini menyebalkan!" lanjutnya lagi. Ugh ia selalu saja menghajar Naruto kalau Naruto membuat sesuatu yang menyebalkan tapi sekarang mereka terlalu jauh untuk Hinata bisa melakukannya.
"Siapa yang tengah kau bicarakan?" bukannya jawaban yang Toneri dapatkan tapi malah air mata.
"Huuuuuuu kenapa aku merasa sedih." Mata Hinata berkaca-kaca tanpa bisa ia kontrol. Ia sangat menyebalkan. Badannya bergetar dan dadanya terasa sangat tak mengenakkan. Ia benci sejauh ini dari Naruto.
"Kamu seperti bukan gadis yang kukenal. Mengapa kamu menjadi begitu lemah?" tak tahan melihat air mata yang mengalir, Toneri memberi sebuah pelukan. "Kamu membuatku merasa harus melindungimu."
Hinata menyandarkan keningnya ke pundak Toneri. Menikmati lembutnya Toneri memeluk.
Dia sangat lembut, selalu begitu sikapnya. Selain suka melarang seenaknya, dia lelaki yang baik. "Aku jadi bertanya-tanya, mengapa kamu di tolak?" tanya Hinata penasaran.
"Kenapa kamu menanyakan sesuatu yang harusnya kamu jawab?" Toneri terkekeh. Tampan, kaya raya, Raja. Ia memiliki segalanya. Apa yang membuatnya pantas ditolak? Tidak ada tapi gadis ini melakukannya.
"Sudah kubilang aku lupa ingatan. Katakan padaku apa ada hal yang pernah membuatku marah?" pinta Hinata melepas pelukannya dan menatap Toneri yang tampaknya tengah berpikir.
"Hmm kalau diingat-ingat, sepertinya ada." Toneri mencoba mengingat kejadian dulu, kejadian dua tahun lalu di saat pertama kali ia mengenal gadis ini. "Kamu sangat marah sampai kamu mengatakan aku seseorang yang sangat kasar hahaha." Toneri terkekeh ketika mengingatnya, awal mula ia jatuh hati pada gadis ini.
"Ceritakan padaku."
"Baiklah kalau itu maumu, Hime."
Flash back
.
.
.
.
To be continue
