Srekk srekkk
Toneri menurunkan kembali panah yang tak sempat ia bidik karena suara gaduh yang entah berasal dari mana.
"Iitai!" desisan kesakitan sontak membuatnya berlari menghampiri semak-semak, asal suara tadi.
"Kau tak apa-apa?"
"Kyaaahh!"
Plaaaaakkk
Toneri membeku di tempat. Niatnya hanya membantu gadis yang tersungkur di tanah tapi gadis itu menamparnya dengan sangat kuat sekali di pipi antiknya.
"Apa kamu sudah gila?!"
"Kamu yang gila! Tak seharusnya seorang lelaki menyentuh seorang perempuan tanpa izin. Apa kamu tidak sekolah?!" Toneri dibuat terdiam atas kelancangan itu. Niatnya ingin bermain dengan hewan di hutan ini tapi ia malah merasa dipermainkan oleh gadis yang entah siapa ini.
"Aku hanya mencoba membantumu."
"Kamu tetap tak harus tiba-tiba muncul dan menyentuhku!" padahal Toneri hanya mencoba menarik lengannya, membantunya berdiri.
"Hei, kamu sebaiknya minta maaf padaku karena telah menamparku." Toneri memperbaiki posisi berdirinya menjadi tegap, ia menatap tak suka gadis yang baru saja berdiri dengan menyapu pakaiannya menggunakan tangan.
"Akan aku tambahkan lagi kalau kamu mengulanginya lagi." Ancam gadis itu kemudian pergi begitu saja membuat Toneri menatapnya tak percaya. Manusia mana yang dengan lancangnya memperlakukannya seperti ini?
.
.
.
.
"Sudah ditemukan?"
"Benar, paduka." Prajurit itu membungkuk hormat pada rajanya yang tampak sedang dalam suasana hati yang buruk. "Saya yakin gadis itu akan berada di sana setiap pagi."
"Besok juga kita pergi." Toneri memberi jeda.
.
.
.
Dan besoknya di sinilah mereka berada.
Sang pemeran, Toneri langsung mendapatkan tatapan tak suka dari gadis yang menamparnya semalam.
"Bisakah kita bicara empat mata?" Gadis itu tampaknya menyadari suasana akan menjadi sangat buruk ketika mereka memutuskan untuk berbicara di keramaian sini jadi dia berlalu pergi diikuti oleh Toneri dan dua orang prajurit.
.
.
"Aku akan memaklumimu karena aku menduga kamu tak mengenal aku, jadi sekarang aku menunggu permintaan maafmu." Gadis iti harusnya bertekuk lutut dan memohon ampunan di saat dia tahu dengan siapa dia tengah berhadapan tapi.
"Siapapun kamu, tak berarti bisa bersikap seenaknya. Menggunakan kekuasaan seperti ini? Kamu harusnya malu." Siapapun dia bukan berarti dirinya harus bertekuk lutut, bukankah begitu?
"Kamu benar-benar lancang."
"Aku tidak, aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan. Kalau kamu tak ingin dijawab, jangan ajak bicara." Setiap gadis itu berbicara, Toneri merasa jengkel tapi sedikit di dalam lubuk hatinya, ia merasa geli.
"Tak ada peraturan yang tak bersalah meminta maaf hanya karena dia tak memiliki kekuasaan."
"Kamu benar-benar menantangku?"
"Aku tidak melakukannya. Kamu yang datang padaku hari ini dan menuntut maaf dariku dengan memamerkan siapa kamu."
"Prajurit!"
.
.
Flashback end.
"Apa? Apa?" tanya Hinata penasaran.
"Kenapa berhenti?! Lanjutkan apa yang terjadi setelahnya!" tuntutnya penasaran tapi Toneri malah tersenyum kikuk.
"Yaa kemudian aku kesal. Kamu terus menjawabku setiap kali aku mengatakan sesuatu, tapi jauh di dalam hati, aku merasa lucu. Kamu cukup manis, aku tak pernah menyadari kapan aku menjadi sangat ingin menempatkanmu di sisiku." Toneri melanjutkan dengan sedikit kekehan.
Toneri pov
Menyenangkan.
Apa kamu tahu bagian mana yang paling menyenangkan?
Ketika dirimu adalah raja, perintahmu adalah mutlak. Tak ada yang boleh menantangmu tapi bukan berarti kamu akan selalu benar. Aku tak tahu bagaimana bisa gadis ini sangat berani dan pintar. Tapi aku merasa akan senang memiliki teman beradu mulut ini.
"Bawa dia ke istana." Perintahku yang pastinya langsung dituruti.
"Turunkan aku! Kamu tak bisa lakukan ini padaku!" Dia memberontak dengan menatapku kesal dan aku mendekatinya. Mengikis jarak di antara wajah kami dengan dia yang di gendong bak karung beras di pundak prajuritku.
"Kamu bilang aku menggunakan kekuasaan? Biar kutunjukkan seperti apa itu menggunakan kekuasaan."
Pov end
"Kau menyiksanya sampai dia menurut?" tebak Hinata syokk.
"Kamu kira aku seperti itu? Toneri menatap tak percaya. Dia benar-benar melihat Toneri sebegai orang yang jahat.
"Kau menamparku lagi, Hime!" lanjutnya geram mengingat masa lalu buruk itu.
"Wah? Serius?!" Hinata terkekeh membayangkan seperti apa wajah Toneri yang ditampar bukan sekali tapi dua kali.
Toneri pov
"Lancang sekali kamu!" geramku mencengkram kuat tangan yang menyentuhku.
"Iittai!" tapi kemudian melihat wajah kesakitannya, aku melepaskannya. Aku memalingkan wajah dan melangkah pergi. Marah tapi juga tak mau membencinya.
Pov end
"Hanya itu, hanya itu pertama dan terakhir kalinya aku menyakitimu." Sekarang Toneri juga berpikir keras. Mengapa dirinya di cap kasar hanya karena itu? Dirinya ditampar dua kali tapi ia tak pernah berpikir Himenya adalah gadis yang kasar.
"Lalu apa lagi setelah itu?" tanya Hinata masih penasaran.
"Setelah di istana, ah peraturannya adalah anggota kerjaan harus menuruti rajanya tanpa alasan apapun dan mereka yang dianggap keluarga harus bersikap terhormat. Kamu sangat tahu itu jadi, begitulah kamu dengan terpaksa menjadi gadis baik di depanku." Toneri tersenyum lucu.
"Aku merindukan wajah yang tampak sangat ingin menghajarku kalau saja bisa." Ia menatap lurus ke arah langit. Ia merindukan Himenya yang seperti itu karena sekarang Himenya tampak berbeda. Tapi seperti sekarang atau dulu, satu hal yang ia tahu. Gadis ini tetap tak mencintainya.
"Sekarang mengingat seperti apa tangannya menamparku membuat hatiku berdebar." Lanjutnya mengingat apa yang pernah terjadi.
"Kau gila, itu bukan sesuatu yang mendebarkan." Toneri terkekeh. "Aku tahu, hanya saja rasanya menyenangkan seseorang marah padaku karena tak ada yang berani melakukannya." Iya, dirinya adalah raja, tak akan ada yang berani.
Tangan Toneri terangkat membelai surai indigo Hinata. "Kamu terasa berbeda tapi kamu tetaplah Himeku, hanya saja kadang aku merasa merindukanmu." Hinata bisa melihat jelas rasa rindu dari senyuman tipis dan mata Toneri.
"Kau tak jahat." Salahkah jika ia mencoba menghiburnya?
"Hm?" alis Toneri naik sebelah.
"Kau tak kasar. Maksudku aku pasti sudah gila karena membencimu hanya karena masalah kecil itu." Toneri menahan tawa kecilnya. Apa dia baru menyadari betapa lembutnya Toneri sekarang?
"Tidak Hime, karena kamu sangat istimewa, kamu menjaga dirimu itu kenapa kamu bersikap seperti itu karena aku bahkan tak pernah minta maaf padamu." Toneri menambahkan. "Bayangkan saja jika dulu kamu tak seperti itu, kamu takkan bersamaku sekarang. Aku merasa bersyukur karenanya." Dia begitu lembut dan tulus. Dia sangat menenangkan. Setiap kata dan tangan lembutnya. Gadis yang dicintainya seharusnya merasa sangat beruntung.
Hinata tersenyum tanpa sadar.
"Rajaku yang malang." Ia berdiri dan mengacak surai perak Toneri. Seandainya saja ia bisa mengakui kebenarannya bahwa ia bukan gadis yang dicintainya. Tapi Hinata merasa takut. Entah takut akan resikonya atau takut akan kecewanya Toneri. Toneri memiliki hati yang sangat lembut, ia tak merasa tega menyakitinya.
Toneri tersenyum ketika ia mengambil tangan Hinata dan menatapnya. "Aku ingin memberimu sesuatu."
"Huh?"
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Diffrent
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Diffrent by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 5
"Tolong."
"Tolong."
"Tolong bawa aku pada Hinata!"
.
.
"Naruto?" pintu terbuka dan gadis bersurai indigo itu tak menemukan apa yang ia cari tapi sesuatu di atas lantai menarik perhatiannya. Dia mendekat dan meraih selembar maps itu.
Pupil matanya membesar, raut wajahnya terkejut.
"Jangan bilang..."
.
.
.
"Hei, prajurit. Apa kamu mendengarkan aku?"
"Hah?!" detik itu juga Naruto tersadar dari lamuannya. Tanpa sadar ia menatap ke sekitarnya dan ia melihat nuasana yang berbeda ppadahalia berada di kamarnya tadi. Ada seseorang bersurai merah terduduk di depannya tapi mengapa ia berlutut padanya?
"Aku berfikir soal menculik sang Hime. Toneri pasti akan sangat marah sekali, aku panasaran." Raut wajahnya ragu.
"Hime?" Naruto tersentak. Hime, apakah Hime yang dia maksud adalah seseorang yang mirip dengan Hinata?
"Tapi dia bisa saja menjadi gila dan melakukan apapun untuk membalasku." Gaara makin ragu, meskipun hanya untuk bercanda Toneri tak terasa seperti akan memakluminya. Dia benar-benar mencintai gadis itu. Lihat betapa sabar dia, kau tahu dia sangat mencintainya.
"Lupakanlah, kau boleh pergi." Ucapnya tapi Naruto tak mengerti. Hanya saja ia bangkit dan berjalan pergi.
.
.
"Astaga dimana aku?" pikir Naruto panik. Tanpa ada yang curiga ia kabur dari istana tempatnya muncul dan lari kemana saja sesuai kakinya membawa tapi ia benar-benar tersesat. Hanya ada hutan di sini, ia tak tahu harus ke mana sungguh membuatnya bimbang. Tapi mengingat betapa terkejut dirinya mengingatkannya pada Hinata. Apakah Hinata setakut ini ketika tiba-tiba muncul? Hanya saja dimana Hinata sekarang? Setelah mengelilingi istana ia tak bisa menemukan Hinata. Dengan berat hati, ia harus yakin bahwa Hinata tak berada di sana tapi jika saja tidak di sana. Dimana dia? Apakah Naruto muncul di tempat yang berbeda dengan Hinata?
.
.
.
20.04
"Mengapa membawaku ke sini?"
"Tidakkah kamu suka? Udara di hutan ini sangat dingin dan sangat damai. Kita bisa melihat jelas bintang-bintang dari sini" Jawab Toneri menikmati segarnya oksigen.
"Aku ingin memberimu ini." Acara mengamati sekitar Hinata terjeda. Ia menoleh ke arah telapak tangan Toneri.
"..." ada cincin emas di sana.
"Aku tahu kamu mungkin masih keberatan tapi aku ingin kamu menjadi milikku, Hime." Hinata terdiam. "Aku menjadi sedih mengingat ucapan Gaara bahwa aku selalu mengatakan kamu milikku tapi kamu tak pernah menjadi milikku." Sekarang sungguh bukan waktu yang tepat dan juga melihat Toneri seperti ini membuat Hinata merasa semakin menyesal telah menipunya.
"Menikahlah denganku, Hime." Hinata hanya membisu, tak berani bersuara.
"..." ia bahkan tak berani mengangkat kepala untuk menatap tapi ketika Toneri mencoba mengambil tangannya, ia melangkah mundur selangkah dengan menyembunyikan kedua tangannya ke belakang badan. Ia menatap penuh penyesalan, Jantungnya berdegup semakin kencang karena rasa bersalah. Apa yang harus ia lakukan? Toneri tak seharusnya melamar. Bisakah Hinat menolaknya? Bagaimana jika dia kecewa?
"Aku"
Ucapan Hinata terjeda. Ketika ia mencoba mengangkat kepala ia melihat sesuatu jauh di belakang Toneri. Meski keadaan gelap ia merasa tak asing dengan apa yang ia lihat.
Warna cerah itu berlari melewatinya.
"Naruto?!" apa yang ia lihat membuat Hinata lupa ada seseorang berada di depannya. Apa yang berlari menjauh membuatnya mengangkat kedua sisi gaun dan berlari pergi untuk memastikan, berharap bahwa dirinya tak salah.
Tidak! Ia tak mungkin salah. Selama di sini belum pernah ia menemukan siapapun dengan rambut berwarna cerah itu.
"Naruto!"
"..."
.
.
.
.
To be continue
Halooo
Maap semua gegara agak gak hm apa ya sebutannya ya pokoknya lama update deh. Author berusaha. Ya meski ga bagus. Nikmatila
Bye bye
