Seumur hidup, Toneri bersumpah tak pernah ia rasakan denyutan menyakitkan seperti ini di hatinya. Sakit karena di tolak, sakit karena tetap bersama orang yang menolaknya, sakit karena terlalu dan terus mencintainya. Rasa sakit itu tak sebanding dengan rasa sakit yang ia alami sekarang.
Ia membeku, benar-benar membeku. Jiwanya seolah meninggalkan raga ketika gadis yang ia lamar melupakan dirinya dengan mudah dan memanggil nama lelaki lain. Tak hanya sampai di sana, gadis itu meninggalkannya demi mengejar lelaki yang ia panggil itu. Dirinya seolah bukan apa-apa, tak berarti sama sekali bagi gadis itu. Rasanya benar-benar menyakitkan. Hatinya sangat pedih.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Diffrent
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Diffrent by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 6
.
.
"Apa kamu benar-benar sangat sakit sampai kehilangan fungsi otakmu?"
Langkah Hinata terhenti karena lengannya di tarik ke atas dengan kasar.
"Lepaskan aku. Ini benar-benar penting." Hinata mencoba melepaskan diri, benar-benar tak bisa memikirkan apapun selain mengajar orang yang ia lihat tapi Toneri tak melepaskannya bahkan menguatkan cengkraman.
"Lepaskan aku." Ia menjadi panik ketika punggung orang yang ingin ia kejar semakin mengecil. Ia benar-benar harus memastikan siapa orang itu.
"Diam dan lihat aku." Toneri menarik tangan Hinata mencoba membuat Hinata yang ingin melepaskan diri menghadapnya.
"Toneri. Aku benar-benar harus"
"..."
"Aku bilang lihat aku." Badan Hinata melemah. Lelaki tadi sudah hilang entah kemana ketika tarikan kuat dari tangan Toneri membuat badannya sedikit oleng.
"Apa aku harus mengulangi lagi ucapanku?" gadis ini bahkan tak mau menatapnya. Sama sekali tak menghiraukan dirinya yang terus menahannya. Siapa yang dia lihat dan sepenting apa orang itu sampai membuat gadis ini bertingkah seperti ini?
"Aku perintahkan kamu untuk melihatku." Tiga kali mengulang dan Akhirnya gadis itu memutar badan, mengangkat kepala dan menatapnya.
Bukannya Hinata mencoba bersikap tak berperasaan tapi keadaan tepatnya hatinyapun tengah kacau membuatnya tak bisa memikirkan seperti apa kondisi hati Toneri sekarang. Apa yang ada di kepala Hinata saat ini hanyalah ia ingin tahu apakah benar orang tadi adalah Naruto? Jika iya, Bagaimana dan mengapa dia muncul di sini?
"Aku benar-benar kacau." Kepala Hinata tertunduk, mengabaikan Toneri yang masih belum melepas lengannya. Pikiran Hinata kalut. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Setidaknya ia harus tahu siapa orang tadi.
"Seandainya saja aku tak mencintaimu seperti ini." Kepala Hinata mendonggak karena Toneri meraih dagunya.
"Kamu"
.
.
.
"Hah!" rasanya seperti tersadar dari lamuan. Gadis yang biasa di panggil Hime menggeleng cepat. Ia melihat sang Raja dan dia tampak sangat kecewa
"Mengapa aku bisa melihatnya?" apakah itu sungguh terjadi atau hanya hayalan? Selain itu gadis yang mirip dengannya terlihat sedih.
"..." sekarang Naruto juga entah ada dimana. Ia sendiri di rumah ini, melamun, terdiam tak tahu apa yang tengah dan harus ia lakukan.
Sedikit rasa sesal menganggu pikirannya tapi ia tak merasa ingin pulang.
"Mengapa dia marah...?"
.
.
"Aku tak bermaksud begitu, mengabaikan kau tadi."
"Apa kau tahu? Hal yang paling kubenci adalah melakukan kesalahan. Aku begitu sabar karena jika saja aku melakukan sesuatu yang salah apalagi padamu, aku merasa akan menyesalinya seumur hidupku tapi kamu bahkan tidak mencoba menghargaiku." Kemudian Toneri melangkah pergi dengan menarik lengan Hinata yang tak pernah ia lepas.
"Lepaskan aku! tanganku sakit." Sakit? Jika saja dia tak memiliki wajah itu, Toneri bersumpah akan membuatnya dalam masalah besar tapi ketika ia melihat wajah itu, hatinya luluh. Ia takut melakukan sesuatu yang akan membuat gadis itu menangis. Toneri mencoba menekan rasa kecewanya sebisa mungkin karena ia takut melakukan kesalahan tapi tetap saja ia tak bisa berpura-pura bahwa ia baik-baik saja. Ia merasakan sakit.
"Mulai sekarang aku tak izinkan kamu keluar dari dalam istana dan aku tak izinkan kamu bertemu siapapun."
"Aku tak mau!" rontak Hinata mencoba menghentikan langkah kakinya tapi gagal karena tenaga Toneri terlalu kuat dibanding tenaganya.
"Lepaskan aku! Aku tak melakukannya dengan sengaja, Toneri. Kau tak bisa bersikap seperti itu padaku." Rasanya Hinata seperti akan menangis. Ia merasa takut dan juga khawatir. Jika Toneri benar-benar mengurungnya, bagaimana bisa ia mencari orang yang ia lihat tadi?
"Sayang sekali, aku bisa." Jawab Toneri tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan, mengabaikan Hinata yang mencoba melepaskan lengan kecilnya.
"Aku bukannya mengabaikanmu. Aku juga dalam masalah." Sayang sekali Toneri tak ingin mendengarkan.
.
.
.
.
"Hah~ hah~" Naruto menelan ludah untuk mengurangi rasa kering di tenggorokan. Ia terus berlari dari tadi tapi ia tak menemukan apapun di bawah langit yang sudah gelap. Tapi sepertinya ia sudah keluar dari dalam hutan karena sekarang tempat ini dipenuhi oleh gubuk. Hari sudah malam dan sangat dingin, ingin rasanya berteduh tapi ia tak tahu apapun tentang tempat ini. Dimana ia harus pergi?
"Apakah Hinata di sini?" ada sesuatu hal melintasi benak Naruto. Gadis yang mirip dengan Hinata itu mengatakan dia tinggal bersama raja yang pastinya di dalam istana.
Mungkinkah?
"..." Naruto menatap istana besar yang bisa ia lihat dari sini. Tempatnya lumayan jauh tapi mungkinkah Hinata berada di sana?
"..."
.
.
.
"..." tak ada sepatah katapun. Toneri pergi dengan mengunci pintu kamar Hinata setelah memaksanya masuk. Hinata bisa melihat jelas kekecewaan dari mata Toneri sesaat sebelum dia menutup pintu.
"Toneri! Buka pintunya!" Hinata mendekati pintu emas kamarnya. Ia memutar ganggang pintu tapi pintu itu tak mau terbuka.
"Aku ingin menceritakan semuanya padamu, aku serius tapi kau membuatku takut. Tolong jangan bersikap seperti ini."
"Aku hanya ingin pulang."
.
.
"..."
Toneri masih belum beranjak dari balik pintu tanpa Hinata tahu. Ia berdiri di sana untuk mendengar apa saja yang akan keluar dari bibir Hinata.
.
.
"Kau tahu Bagaimana rasanya bersama orang yang menolakmu. Seharusnya kau paham perasaanku di sini takut dan khawatir bertanya-tanya soal bagaimana keadaan Naruto." Suara Hinata melemah. Ia memutar badan dan menyandarkan punggungnya di pintu emas.
"Aku seperti melihatnya. Aku hanya ingin tahu apakah itu dia atau bukan. Apakah dia datang untukku?" kepala Hinata tertunduk. Seandainya ia bisa mengatakan yang sebenarnya pada Toneri tapi Toneri tak terlihat seperti mau mendengarkan. Yang dia perdulikan hanyalah dia mencintai gadis ini dan gadis ini harus bersamanya. Dia tak mau memperdulikan apapun selain itu.
.
.
"Kau tak tahu seperti apa rasa sesalku karena aku tak bisa mengatakan yang sebenarnya." Dia terdengar begitu menyesal.
"..." tubuhnya terasa letih. Toneri menyandarkan punggungnya ke pintu, kepalanya kosong tak tahu harus berpikir apa. Ia mendengar semua kalimat Hinata dari balik pintu ini tanpa tahu harus merespon seperti apa.
"Kau sangat baik, aku tak ingin menyakitimu. Tapi semuanya terjadi seperti ini."
"..."
"Salahkah aku jika aku mengharapkan kau untuk mau mendengarkan dan mengerti...?
"Kau tak mau mencoba mengerti."
.
.
"Bukan hanya kau yang sedih. Tapi kita semua merasakan hal yang sama." Hinata menggigit bibir bawah untuk menekan denyutan pedih di dalam dadanya.
.
.
"Aku sedih, Naruto juga pasti sedih."
"Maafkan aku..."
"..." Tak ingin mendengarkan lebih banyak lagi. Toneri melangkah pergi.
.
"Ampun, Yang Mulia. Ada seorang warga di luar dan dia mengatakan mencari seseorang di dalam istana ini." Seorang prajurit menghampiri dengan hormat, menghentikan langkah Toneri.
"Tapi dia tak sadarkan diri, sepertinya karena lelah. Apa yang harus kami lakukan, Yang Mulia?"
"..."
"..." dua menit terdiam karena pikiran Toneri sedang bertarung membuatnya melamun. Mungkinkah orang itu...
Seseorang yang Hinata cari?
Mungkinkah?
Dia...?
Dia sungguh muncul di sini?
"Bawa dia masuk dan panggilkan tabib."
.
.
.
To be continue
Naruto dlm masalah hm
Harusnya swmalam dah up tapi ada urusan maap
Maaf. Kalau ga bagus tapi semoga bisa mengisi waktu luang bye bye
