Rasanya tak menyenangkan melihat wajah yang bukan apa-apa dibanding dirinya. Ia merasa kesal.

Tak lama menunggu, mata itu terbuka menampilkan sepasang mata biru dan sang empu langsung mendudukkan dirinya, menoleh ke arah samping.

.

.

"Siapa kau?" tanya Naruto menatap lelaki yang terduduk di bangku mewah di sebelah kasur, menatapnya entah dengan artian apa.

"Apa kamu Naruto?"

"Mengapa kau bisa tahu namaku?" Naruto malah bertanya balik. Ketika ia mengamati sekitarnya, ia melihat cahaya mentari masuk melewati jendela yang tertutup tirai berwarna putih. Ia tak ingat apapun setelah merasa tubuh lemahnya tiba-tiba jatuh ke tanah.

"Mengapa kamu datang ke sini?" mengabaikan pertanyaan Naruto, Toneri membuat pertanyaannya sendiri.

"Aku mencari temanku. Aku tak tahu bagaimana cara menjelaskannya tap"

"Temanmu berpindah tempat ke sini dan seseorang yang mirip dengannya muncul di sana." Naruto mengangguk kecil. "Sekarang kamu mencoba untuk membawanya kembali." Sepertinya lelaki ini adalah teman Hinata. Pasti Hinata yang menceritakannya.

"Tapi kau salah."

"Apa maksudmu?" tanya Naruto tak paham.

"Hime. Apakah Hime pernah mengatakannya padamu?"

"Mengatakan apa?"

"Mengatakan kalau Hinata hanya bisa kembali jika orang yang mirip dengannya kembali ke tempatnya dan menyentuhnya."

"Apa?" Naruto terkejut pada apa yang ia dengar. Jikasaja ucapannya benar, lantas untuk apa ia ke sini? Dirinya tak menyelesaikan masalah melainkan membuat masalah baru.

"Hanya itu satu-satunya cara untuk membawanya kembali."

"..."

.

.

.

"Hah! Hah!" langkah kaki di balik flat shoes itu berhenti. Ia mengambil nafas panjang untuk mengatur rasa lelah.

"Berhenti kau, pencuri!" teriaknya menyerah untuk kembali mengejar.

.

.

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

Portal : Diffrent

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Portal : Diffrent by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 7

.

"Aku sama sekali tak paham. Hime tak pernah katakan apapun." Ucap Naruto bingung. Ia yakin sang Hime tak pernah mengatakan dia tahu soal apapun.

"Tak hanya sampai di sana, dia juga bahkan tak bilang bahwa dia bisa kembali ke sini dengan mudah dan bahkan bisa membawamu." Naruto semakin membeku dibuat kalimat yang tak pernah ia duga. Mengapa? Jika saja ucapan lelaki ini benar. Mengapa sang Hime tak pernah katakan apapun? Mengapa dia merahasiakannya?

"Kau pasti salah, jika saja benar seharusnya dia"

"Dia akan mengatakannya? Begitu pikirmu? Justru dia tak akan mengatakannya karena dia tak ingin dipaksa pulang ke sini." Toneri benci mengakuinya tapi sang Hime bukan hanya menolaknya tapi benar-benar membencinya mungkin juga benci berada di dalam istananya.

"Kami belajar bersama, guru yang sama, selalu bersama. Dia tahu segala hal yang aku ketahui bahkan hal yang aneh sekalipun seperti keajaiban portal ini." Jelas Toneri membuat Naruto berpikir keras.

"Itu sebabnya." Naruto tak tahu harus merespon seperti apa tapi setidaknya sekarang ia tahu alasan sang Hime selalu mencegahnya memainkan permainan yang sama dengan Hinata. "Dia tahu semuanya. Dia sudah tahu Hinata takkan bisa kembali kalau dia tak kembali." Naruto masih saja tak bisa mempercayainya. Dia menutupi semuanya dengan sangat hebat.

"Ketika dua orang dari tempat yang berbeda berpindah tempat, yang dipindahkan bisa kembali kapan saja bahkan membawa siapa saja yang dia sentuh. Tapi yang memindahkan hanya bisa kembali jika yang dipindahkan mengembalikannya." Jelas Toneri. Sesuatu yang ajaib ini dimulai jauh dari leluhurnya tapi tak semua orang mengetahuinya dan tak semua orang bisa melakukannya tapi sejarah terus tercatat hingga ia tahu soal ini. Awalnya Toneri juga tak mempercayai tebakannya tapi lama kelamaan ia tak bisa terus menolak kenyataan bahwa gadis yang bersamanya bukan sang Hime.

"Dan satu hal lagi, mungkin kamu tak memperhatikannya tapi lama kelamaan sikap merekapun akan bertukar."

Naruto tak mengerti. Bertukar?

"Jika kamu melihat perubahan sikap pada Hime maupun Hinata, kamu harus tahu bahwa itu bukan beradaptasi, perlahan jiwa mereka bertukar." Itu bukan masalah kecil. Bagaimanapun meski mereka mirip, mereka memiliki jiwa dan raga yang berbeda, jika saja mereka bertukar mereka bukan lagi orang yang sama, selamanya.

"Mengapa kau bisa mengatakannya setenang itu?! Apa yang harus kita lakukan sekarang?!" Naruto panik memikirkan hal yang dikatakan lelaki itu terjadi. Ia tak mau hal seperti itu terjadi! Ia inginkan Hinata kembali, benar-benar Hinata! Jiwa dan raga yang utuh bukan hanya mirip dengan raganya.

"Apa yang bisa aku lakukan? Sang Hime memilih untuk tidak kembali dan sekarang kamu di sini, tak ada yang bisa menyeretnya pulang." Kacau, Naruto mengacak kasar surai kuningnya. Dan juga Toneri bukannya tenang, iapun tak mau bersama orang lain selain sang Hime tak perduli seberapa mirip mereka. Bahkan meski ia sempat melakukan kesalahan dengan ingin menganggap gadis itu Hime, ia tetap tak mau.

"Sebenarnya aku tak mau mengatakannya tapi aku benci mengakui bahwa gadis itu bukan Hime tapi aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri mengapa aku ditolak oleh orang yang bahkan sangat mirip. Sebenarnya apa salahku?" ia benar-benar ingin tahu. Sesuai ucapannya, Toneri benci melakukan kesalahan, ia menekan rasa kecewanya dan mendengarkan ucapan Hinata dari balik pintu tapi sampai detik ini ia terus bertanya-tanya soal apa salahnya. Mengapa ia dikecewakan seperti ini?

"Sekarang yang terpenting adalah mengembalikan mereka. Apakah tidak ada cara lain? Atau apa saja yang berguna?"

Toneri sedikit berpikir. "Aku punya cara untuk berbicara pada Hime."

"Bagaimana caranya?!"

"..."

.

.

.

Hinata terduduk di samping kasur sambil menatap ke arah pintu. Malam sudah datang lagi tapi pintu kamarnya tak terbuka. Toneri bahkan tak datang, hanya sang dayang yang mengantarkan makanan untuknya tadi.

Hinata menatap tangannya di atas gaun. Entah mengapa dan sejak kapan ia merasa selalu kesepian.

Ceklik

"..." Hinata reflek berdiri menatap siapa yang muncul dari balik pintu dengan menutup kembali pintu itu.

"..." tak tahu harus berkata apa, Hinata hanya diam bahkan sampai Toneri berdiri di depannya.

"Hinata,"

"Hah?" Hinata tersentak ketika Toneri menyebut namanya. Apakah dia sudah tahu apa yang ia sembunyikan? Tapi darimana?

"Tidakkah ada yang ingin kamu katakan padaku?" Hinata menunduk sambil memainkan jari di atas perut.

"Aku benar-benar minta maaf." Ucap Hinata menyesal tanpa mengangkat kepalanya. "Aku tak bermaksud berbohong tapi aku takut." Ia mengatakan yang sebenarnya.

"Mengapa kau takut?" tanya Toneri ingin tahu.

"Karena kau sangat mencintai gadis ini dan kau tak mau mencoba mendengarkanku. Aku tak ingin menyakitimu dan aku juga tak ingin kau marah tapi aku tak bisa memaksa diriku menjadi seperti yang kau mau." Ia tak bisa memaksa dirinya untuk merasa nyaman di sini dan tak memikirkan rumahnya hanya agar Toneri senang.

"Tapi sekarang kau datang, mengapa?" tanya Hinata. Mengapa Toneri tiba-tiba muncul dan mau mendengarkan bahkan sepertinya dia mencoba menerima alasan Hinata.

"Karena ketika aku mulai memikirkan untuk melepaskannya, aku merasa beban yang ada dipundakku terasa ringan." Tapi tidak dengan hatinya. Hanya saja ia ingin mencobanya.

"Aku terlalu mencintainya sampai aku mencoba membuang kenyataan bahwa kamu bukan dia dan dia pergi karena dia membenciku tapi di satu sisi aku merasa seperti mengkhianatinya. Aku mencoba mengakui kesalahanku." Hinata bahkan tak suka pada dirinya karena keras kepala dan tak suka mendengarkan, bersikap seenaknya. Mungkinkah itu juga alasan sang Hime pergi? Sejak awal ia memaksa gadis itu untuk berada di dekatnya tanpa mau mendengarkan apapun darinya.

"Tapi Hinata, kamu harus memaafkanku karena ini." Raut wajah bingung Hinata tergantikan oleh raut wajah terkejut ketika Toneri tiba-tiba menarik tangannya membuat badan Hinata tertarik maju.

.

.

.

"Kyaaaaaaaahh!"

Telapak tangan sang Hime menampar kuat udara. Dengan cepat ia mendudukkan dirinya dan mengawasi sekitarnya yang gelap.

"Tolong, izinkan aku bicara denganmu." Jantungnya berdebar tak karuan membuat dadanya kempas-kampes. Tidurnya begitu nyenyak sampai tiba-tiba mimpi di mana sang raja menarik tangannya dan mencoba menciumnya.

"Mengapa aku melihatnya?" Hime menekan dadanya yang berdenyut.

.

.

"Ughh!"

"Astaga!" mata Hinata terbelak kaget. Kedua tangannya menutup bibirnya yang membulat sempurna, terkejut karena melihat Toneri tersungkur ke lantai.

"Aku bersumpah itu bukan aku!" Hinata berkata jujur, tangannya bergerak sendiri tadi. Ia tersadar kembali ketika tangan Toneri lepas dari tangannya.

"Hime..." sabar. Sabar. Toneri menyentuh pipinya yang terasa panas dan berdenyut. Respon sang Hime sangat cepat sekali. Dia melayangkan Toneri sebelum bibirnya bahkan dekat dengan bibir Hinata. Benar-benar "..."

"Hinata harus tekejut dalam kondisi aku menyentuhnya. Jadi Sang Hime akan merasakan apa yang Hinata rasa. Lebih baik lagi jika dilakukan ketika sang Hime tengah terlelap karena dia akan melihatku lebih jelas." Itu adalah apa yang Toneri katakan pada Naruto tapi kapan terakhir kali Toneri ditampar? Kejadian ini mengingatkannya pada kejadian masa lalu meski tamparan kali ini jauh lebih sakit, tapi rasanya sama.

"Ughh! Mengapa aku melakukannya?" padahal ia bisa hanya membuat Hinata terkejut tapi ia malah membuat dirinya berakhir dengan tertampar.

"Apa harus kupanggilkan tabib?!" tanya Hinata khawatir. Masih tak paham mengapa tangannya bisa tiba-tiba bergerak tapi kejadian seperti ini mengingatkan dirinya yang melihat Naruto di dunianya. Apakah Toneri mencoba melakukan hal yang sama agar gadis itu bisa melihatnya? Mungkinkah? Ia mulai berpikir bahwa ada sesuatu yang Toneri tahu tapi ia masih dalam keadaan sangat terkejut untuk bisa mengingat kecurigaannya.

"Aku tak apa-apa." Toneri berdiri masih dengan menyentuh pipinya. Seandainya saja gadis itu bukan gadis yang sangat ia cintai, ingin sekali Toneri mengumpatnya dengan keras karena menamparnya sekuat itu.

"Aku tak apa-apa." Toneri melangkah keluar meninggalkan Hinata yang masih terlihat khawatir tapi langkahnya terhenti karena suara Hinata.

"Aku masih ingin tahu mengapa kau tiba-tiba berubah pikiran? Sebelumnya kau sangat marah tapi sekarang kau seperti menerima bahwa aku bukan orang yang kau cinta. Bahkan sepertinya kau sudah lama tahu bahwa aku bukan dia." Toneri berbalik menatapnya membuat Hinata bisa melihat jelas bekas tamparan di pipi putihnya.

"Karena kamu bilang aku tak pernah mencoba mendengarkan dan hal itu membuatmu takut." Toneri melanjutkan. "Aku terjaga semalaman karena tak bisa berhenti memikirkannya. Mungkinkah itu salahku? Apakah salahku karena aku memaksanya untuk tinggal di sampingku?" Toneri mulai menyadarinya percuma menjaga gadis itu untuk tetap di sampingnya ketika dia tak menginginkannya. Ia tak bisa berhenti memikirkan perkataan Hinata tapi ketika ia mulai menerimanya, ia merasa sedikit lebih tenang.

"Sama seperti dirimu. Sia-sia semua yang aku lakukan karena jika kamu tak ingin di sini, apapaun yang aku lakukan tak berguna. Bukankah begitu?" Hinata tak menjawab tapi ucapan Toneri tak salah. Apapun yang dia berikan, apapun yang Hinata dapat, sebaik dan semewah apapun hidupnya di sini, hatinya tetap ingin kembali ke tempatnya semula apapun alasannya. Ia senang Toneri mencoba mengerti hal itu meski pada awalnya dia benar-benar sangat keras kepala. Apakah ada hal lain yang membuatnya berubah pikiran? Cinta bukan hanya soal bersama tapi juga merelakan. Mungkinkah dia menyadari hal itu?

"Terima kasih." Hinata tak tahu apakah ia bisa menghibur Toneri atau tidak tapi ia memberikan senyum bahagia terbaiknya. "Terima kasih untuk mau mengerti. Aku benar-benar merasa bahagia." Seandainya ada yang bisa ia lakukan agar Toneri merasa senang, akan ia lakukan untuk membalas semua sikap baiknya.

"..." bukannya mengabaikan senyuman manis itu tapi Toneri tak tahu harus merespon seperti apa. Ia memutar badan dan melangkah keluar meninggalkan Hinata. Ia hanya mencintai satu perempuan selama ini tapi Hinata akan segera bertemu dengan Naruto dan meskipun mereka tak bisa kembali ke dunianya setidaknya mereka bersama. Bagaimana dengan dirinya? Sekarang ia akan sendiri di istana besar ini tanpa perempuan yang ia cintai. Memikirkannya saja sudah membuatnya merasa kesepian.

Ia akan duduk sendiri di meja makan yang luas, mengingat bahwa sebelumnya selalu ada seorang gadis yang selalu menemaninya.

Belajar sendiri tanpa ada yang bisa menjadi saingan ketatnya.

Berjalan sendiri tanpa bisa mengajak gadis itu berbicara santai.

Pergi sendiri tanpa ada yang berada di sisinya untuk membuatnya tersenyum.

Tak ada lagi wajah yang bisa membuat hatinya merasa hangat.

Tak ada lagi seseorang yang bisa ia tatap dengan penuh cinta.

Semuanya benar-benar hilang.

Tak akan ada lagi orang itu.

Tak ada lagi orang yang benar-benar ia cintai sepenuh hati.

"Tapi aku...

.

.

-tidak merasa bahagia."

.

.

.

To be continue

Semoga suka

Sebenarnya karakter Toneri di sini terlalu sabar habis gimannya si hime itu kan penakut kali takutnya kalau sampe toneri buat kesalahan sikit lebih besar dia bakal semakin takut atau ga percaya sama Toneri tapi ya begitulah. Mungkin ga begitu bagus tapi silahkan di nikmati

Q : Apakah hime tak bisa balik?

A : Ya dia bisa! Tapi dia tak mau.

Ichiko : senang kalau kamu suka, terima kasih banyak :"

Bye bye