"Tidak! Pokoknya tidak bisa. Aku tak mau Hinata melakukannya." Naruto menarik Hinata ke belakang punggungnya. Matanya menatap tak senang lelaki di depannya.

"Kalau begitu aku juga tak bisa membiarkan kalian pergi begitu saja." Kedua mata itu beradu, sama sekali tak berniat mengalah.

.

.

Beberapa saat sebelumnya.

"Naruto?! Kau sungguh Naruto?!" Hinata menatap tak percaya siapa yang tiba-tiba muncul di depannya.

Yang diajak bicara tersenyum, antara lega dan senang. "Apa kau baik-baik saja?" gadis itu berdandan sangat cantik sekali dengan mengenakan gaun yang indah. Apakah seperti ini hidupnya di sini? Tapi Naruto lebih merindukan gadis itu dalam celana panjang dan tampang kekanakan bukan elegan.

"Narutoo!" bukan jawaban yang Naruto dapatkan tapi pelukan. Hinata berlari ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat. "Kau benar-benar Naruto!"

.

.

.

"Benar-benar menyebalkan. Pertama kalinya aku dikhianati." Oceh lelaki berambut merah itu tak senang. Salah satu prajuritnya menghilang entah kemana. Itu adalah sebuah pengkhianatan.

"Omong-omong terakhir kalinya kamu bilang akan menikah, aku sudah mengundang semua raja yang ada di negeri ini. Anggap saja itu hadiah dariku karena mereka berjanji akan hadir. " Dia tersenyum penuh kebangaan karena ia menduga Toneri akan senang semua orang tahu akhirnya dia menikah dengan orang yang paling dia suka tapi dia tak tahu Toneri gelisah.

"Kau sebaiknya cepat menentukan tanggal karena mereka takkan bisa menunggu lama." Toneri masih tak menjawab. Ia akan sangat senang kalau saja semuanya berjalan lancar tapi sialnya ia bahkan tak punya calon sekarang. Apa yang harus ia lakukan? Mengatakan bahwa pernikahannya tak akan terjadi sungguh bukan ide yang bagus. Hal itu selain memalukan akan sangat menghina dirinya.

"Aku sudah meminta prajuritku untuk membagikan undangan, Gaara. Apakah kau belum mendapatkannya?" Toneri memaksa senyuman dan hal itu mengagetkan Gaara.

"Wah akhirnya." Ia tak menyangka akhirnya mereka akan segera menikah tapi ia senang mendengarnya.

"Aku benar-benar senang mendengarnya. Jadi, dimana calon istrimu? Aku akan dengan senang hati mengucapkan selamat padanya." Toneri lagi-lagi tersenyum tipis.

"Kamu bisa melakukannya nanti di acara pernikahan kami."

"Yah... Yah, baiklah." Dia sangat posesif sekali.

"Kalau begitu, aku akan segera pergi." Ia datang hanya untuk mengatakan satu hal itu. Tentu saja ia harus datang sendiri sebagai bentuk kesopanan.

.

.

Begitulah yang terjadi. Toneri muncul untuk menemui Hinata dan Naruto yang sibuk berbicara di kamar Hinata dengan mengatakan.

"Aku tak bilang aku perlu bantuan tapi kalian harus membantuku."

Mereka berdua saling menatap penasaran pada apa yang ingin Toneri katakan.

"Hinata harus pura-pura menikah denganku dan setelah itu aku akan izinkan kalian pergi." Rencananya ia hanya perlu menikah dan setelah itu tak masalah Hinata tak pernah keluar dari istananya, tak akan ada yang curiga. Hal itu lebih bagus daripada menyebarkan berita ia tak jadi menikah.

Kembali ke waktu sekarang.

"Aku tetap tak mau Hinata melakukannya." Pura-pura atau sungguhan, ia tak ingin Hinata mengikat janji suci dengan lelaki ini. Pasti ada ide yang lebih bagus lagi selain memalsukan pernikahan.

"Aku tak apa-apa, aku tak keberatan." Hinata menyela membuat mata yang tengah beradu menoleh.

"Toneri bersikap sangat baik padaku bahkan kita. Dia membiarkan kita pergi, aku ingin membantunya." Hanya pura-pura, ia ingin membalas kebaikan Toneri bahkan jika hanya sekali ini saja.

"Kamu ingin melakukannya?" tanya Toneri memastikan, meski dia tak mau sekalipun, Toneri terpaksa memaksanya. Ia tak ingin harga dirinya terluka.

Hinata mengangguk yakin. Baiklah, sedikit ragu tapi ia mencoba menyakinkan diri bahwa semua akan baik-baik saja. Idenya akan berjalan lancar dan dirinya dan Naruto akan keluar dari tempat ini.

"Prajurit!" beberapa orang berpakaian pengawal di depan pintu kamar yang tak tertutup melangkah mendekat.

"Ha'i Yang Mulia?" mereka membungkuk hormat.

"Sebarkan pada semua warga dan kerajaan tetangga bahwa pernikahan kami akan di adakan tiga hari lagi."

"Siap dilaksanakan, Yang Mulia!"

.

.

.

.

.

Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.

Portal : Diffrent

(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)

Portal : Diffrent by authors03

Please.. Dont like dont read.. Thanks.

.

.

Chapter 8

.

"Ini agak mencurigakan." Ketika sang prajurit dari kerajaan tetangga pergi, Gaara tersenyum karena beberapa hal muncul di kepalanya. Sehari setelah membahas pernikahan dengan Toneri, ia mendapat undangan bahkan jarak harinya terlalu dekat seperti dia terburu-buru.

"Kalian dengar itu? Pastikan semua raja dari semua negeri datang." Tapi abaikan itu, ia akan sangat bahagia menghadiri pernikahan temannya yang sangat ia nantikan.

"Akhirnya bulan lagi calon." Gaara tak bisa menahan senyumannya membayangkan wajah bahagia Toneri.

.

.

.

"Tidakkah ini terlalu terburu-buru?" hanya tertinggal satu hari lagi. Bahkan malam ini juga sudah di adakan pesta kecil untuk merayakan pesta besar besok.

Di sini Hinata terpaksa tersenyum, terlihat bahagia berdansa dengan sang Raja karena semua mata tertuju pada mereka di tengah-tengah lantai dansa.

"Aku kira kau ingin segera pergi?" tapi bukan hanya itu alasannya, alasan yang lain Toneri tak merasa sanggup melihat wajah itu lebih lama lagi. Semakin ia melihatnya, semakin ia merasa bimbang dan rindu pada sang Hime.

"Aku tahu tapi meskipun ini palsu aku tetap saja merasa takut." Hinata tersenyum tipis. Ia bahkan tak tahu akan pergi kemana setelah keluar dari sini tapi ia tetap ingin segera pergi bersama Naruto.

Deg!

Cuma akting

Cuma drama

Cuma palsu

Mata Hinata terpejam karena sedikit terkejut ketika tangan Toneri menariknya membuat badan mereka menempel. Mereka berdansa dalam jarak yang sangat dekat diiringi oleh alunan musik yang lembut. Ia tak boleh terlihat mencurigakan sama sekali.

.

.

.

"Aku merasa tak baik mengatakan ini tapi aku sungguh mengharapkan yang terbaik untukmu." Mengapa wajah sang raja muncul? Mengapa ia bisa merasakan tangan lelaki itu menyentuhnya? Kapan terakhir kali mereka berdansa? Ia tak ingat tapi ada sesuatu menjanggal di hatinya dan rasanya tak nyaman.

"Aku mengharapkan kau bertemu gadis yang benar-benar sangat mencintaimu dan membuatmu bahagia." Ia bisa melihat manisnya senyuman lelaki itu seolah dia sangat menginginkan hal itu terjadi. Ia bisa melihat wajah kecewa dan terlukanya. Apakah benar dirinya adalah penyebab raut wajah itu ada? Mengapa raut wajahnya begitu hanya karena dirinya?

.

.

Badan Hinata berputar sebelum Toneri kembali meraih tangannya tapi kemudian wajahnya tertunduk.

"Mengapa kau menangis?" mencoba tak mengacaukan situasi, Toneri memeluk Hinata menyembunyikan wajahnya di dada bidangnya.

"Maafkan aku."

.

.

"Mengapa aku menangis? Hiks"

.

.

.

Waktu berlalu begitu lambat dan juga cepat. Naruto tak bisa keluar dari kamar selama tiga hari ini dikarenakan di luar terlalu ramai. Toneri mengatakan ia adalah prajurit di salah satu kerajaan, akan sangat buruk sekali kalau ia terlihat di sini itu sebabnya ia hanya bisa sembunyi di dalam kamar. Tapi ia gelisah. Ia benar-benar tak ingin membayangkan Hinata menikahi lelaki itu meski hanya pura-pura.

.

.

"Hei berhenti kamu! Tolong berhenti! Biarkan aku bicara padamu!" benar dugaannya, pencuri yang mengambil tasnya kemarin tak akan pergi jauh dari gang kecil ini. Sampai ke ujung dunia, akan ia tangkap lelaki itu.

Ia harus!

"Tolong berhenti!" sungguh sia-sia sekali ia belajar bela diri tapi tak diajarkan bagaimana cara berlari dengan cepat.

"Ini aku! Apa kamu tak mengenalku?!"

"Tolong berhenti!"

.

.

Apa kau bisa mendengar sekuat apa jantung Hinata berdebar? Badannya sedikit bergetar karena takut berjalan menyusuri altar beralas karpet merah.

Rasanya baru kemarin tapi tiga hari sudah berlalu. Pestanya di adakan dengan sangat mewah di dalam salah satu ruangan supar luas di dalam istana. Kedua sisi di penuhi oleh para tamu undangan sedangkan dari sudut ke sudut ruangan sampai luar istana di jaga ketat oleh para pengawal. Kaki Hinata terasa lemah sekali memikirkan betapa banyak mata tertuju padanya tapi ia mencoba untuk berjalan lurus menyeret gaun putih panjang yang ia kenakan.

Keringat menetes dari dahi kirinya ketika matanya melirik ke arah tamu undangan yang ada. Mereka berpakaian sangat mewah sekali bahkan aura mereka sangat tegas kali.

.

.

.

"Iya, ini aku." Tak perlu waktu lama lelaki itu berlutut.

"Maafkan hamba, tak bisa mengenali Hime."

"Tak apa, tolong bangunlah. Mengapa bisa kamu sampai di sini?"

"Hamba juga tidak tahu, tiba-tiba saja hamba muncul di tempat aneh ini." Ia bahkan tak tahu mengapa ia bertanya padahal ia jelas tahu bagaimana bisa prajurit dari kerajaan Sabaku ada di sini.

"Aku akan membawamu pulang."

"Apakah anda tahu jalan pulang?" dia menatap terkejut dan yang diberi pertanyaan hanya mengangguk.

"Berikan aku tanganmu."

.

.

Kedua mempelai menyatukan kedua tangan mereka dalam posisi berhadapan. Hinata merasa nafasnya tercekat. Ini bahkan lebih mengerikan daripada menikah sungguhan. Terlalu banyak saksi di sini, Bagaimana jika mereka curiga bahwa pernikahan ini palsu?

"Jangan takut." Hinata mengangkat kepalanya yang sedari tadi menunduk dan menatap Toneri yang terlihat sangat tenang. Dia seperti pembohong andal, bagaimana bisa dia setenang itu membohongi satu negeri? "Ini akan segera berakhir."

.

.

Tanpa sadar sang Hime tenggelam dalam pikirannya. Wajah sang Raja muncul di kepalanya membuat dirinya lupa akan apa yang ingin ia lakukan.

"Mengapa tiba-tiba hamba muncul di sini?" sang prajurit mengajukan pertanyaan ketika sang Hime tak melakukan apapun tapi tampak melamun.

"Hamba sedang di atas poh"

"Di atas pohon?" baru saja tersadar dari lamuan. Tunggu!

Apa ia bilang di atas pohon?!

"Kyaaaaaaahhh!"

.

.

.

"Heh!" Hinata tersentak ketika punggungnya terasa sangat menyakitkan seperti terbentur. Matanya perlahan kabur dan kesadarannya perlahan hilang.

"To...ne...ri"

Badannya merosot ke bawah tapi terlebih dulu ditangkap oleh Toneri sebelum menyentuh lantai.

"Hime?!" saat itu juga semua tamu undangan menjadi panik bertanya-tanya soal apa yang terjadi pada sang mempelai yang tiba-tiba pingsan dan pastinya Toneri dalam keadaan jauh lebih panik lagi.

"HIME!"

.

.

.

.

To be continue

Bye bye