In The End, They are Cute

Disclaimer: DMM

Warning: OOC, typo, kepanjangan, gaje, dll.

Author tidak mengambil keuntungan apa pun dari fanfic ini. Semata-mata dibuat demi kesenangan pribadi, dan untuk event bunalember di twitter.


Day 10: Kappa


Rasa-rasanya baru kemarin sore anak berkepang manis itu menjadi tetangganya, tetapi ternyata satu tahun sudah berlalu. Begitu banyak warna yang digubah tanpa pernah diubah, selain dibiarkan menjadi sesuatu yang selamanya tinggal.

Boneka salju ketiga sudah dibuat. Ukurannya yang mini menjadikan Dazai Osamu membuatnya secepat kilat. Kerja kerasnya menyatakan diri dalam sebentuk senyum yang terpatri di bibir, dan semakin lebar mendapati Akutagawa Ryuunosuke pun selesai. Kini pemandangan yang terpampang seperti keluarga bahagia dengan satu anak. Dazai ingin segera memikirkan ceritanya, tetapi ia menjatuhkan diri yang sejurus kemudian kaki serta tangannya bergerak-gerak.

"Tetep aja bosen! Aku pengen main ski," keluh Dazai jengkel. Belum puas dengan menjatuhkan diri, tubuhnya berguling-guling membuat salju kian menempel. Akutagawa menghampiri. Menulis sesuatu pada papan mungil yang selalu dibawanya ke mana-mana.

Sebentar lagi libur natal, 'kan? Dazai-kun bisa pergi bersama ayahmu.

Membaca ucapan tersebut Dazai justru manyun. Sekarang ia duduk sambil melipat tangan di depan dada. Mungkin langit yang tidak biru terlalu membosankan, ketika putih yang bertakhta sementara di atas sana tak menurunkan saljunya.

"Ayah, mah, tukang boong! Tahun lalu juga ngajak main ski pas libur natal, tetapi malah ketiduran seharian. Dibanguninnya susah banget lagi."

Merepotkannya adalah Akutagawa harus menghapusnya. Jika kehilangan spidol macam tiga hari lalu ia tidak bisa berkomunikasi dengan Dazai. Mereka akan pergi ke toko alat tulis yang pamannya pandai memaniskan apel. Selalu diberikan masing-masing satu, agar mereka belajar menggenggam sehingga nanti Akutagawa tak menjatuhkannya, atau Dazai bisa menemukannya seperti ia ingin koin seratus yen.

Tunggu sebentar, Dazai-kun. Aku punya ide bagus.

Langkah Akutagawa langsung berlari. Kurang dari sepuluh menit ia datang dengan membawa termos, dan dua cangkir yang diisi cokelat panas. Ibunya selalu meninggalkan kebahagiaan ini, sebelum berangkat menjaga toko di stasiun. Dazai sedikit mencicip. Tegukan kedua, ketiga atau seterusnya tidaklah jelas, sebab bocah sembilan tahun itu terlampau kegirangan.

"Enak banget! Jadi kepikiran sesuatu soal ceritanya."

Kursi panjang yang menggigil dan bersandar lesu pada tembok rumah, pertama-tama Dazai singkirkan dahulu salju di atasnya. Bukan hanya Akutagawa, tetapi Dazai pun dengan senang hati menunjukkan ia selalu membawa kertas serta krayon. Katanya menulis menggunakan krayon merah membuat ceritanya bagus. Akutagawa sedikit mengintip merasa penasaran.

"Ceritanya tentang keluarga boneka salju yang pergi liburan main ski, terus minum cokelat panas dan nyanyi lagu natal. Karena mereka udah dapet berkah dari dewa jadinya enggak meleleh. Bisa minum cokelat panas selama-lamanya, dan merayakan mereka sudah menjadi keluarga selama tahun."

"Sama seperti kita, Akutagawa-nii. Hari ini pertemanan kita udah genap setahun, lho."

Harusnya Akutagawa senang, karena mereka juga merayakan persahabatan yang genap setahun; dua hari sebelum natal ini. Namun, dia yang memang lebih tua dua tahun dibandingkan Dazai justru bergegas mengambil papan. Andaikata pesannya tidak Dazai baca duluan, ia pasti merasa geli terhadap tulisan Akutagawa yang mirip ceker ayam.

Jangan menyerah! Pasti Dazai-kun bakal pergi main ski. Impianmu bukan sekadar tulisan.

Akutagawa mengangguk-angguk. Mata Dazai mengerjap-ngerjap yang sejurus kemudian ia tertawa. Padahal Dazai tidak bermaksud menyerah, dan membiarkan impiannya tinggal di atas kertas saja. Tingkah laku Akutagawa sebenarnya aneh sejak pagi. Hanya yang kali ini lebih absurd lagi, di mana Dazai kurang ingin memikirkannya.

"Tahun ini aku emang berniat main ski, sih, bagaimanapun caranya. Akutagawa-nii mau tahu kenapa?" Akutagawa belajar mencintai namanya sejak Dazai menciptakan panggilan spesial itu. Jari-jemari yang lebih kecil darinya memeluk kedua tangan Akutagawa. Di balik syal kotak-kotak yang agak kebesaran, Akutagawa tahu Dazai tersenyum lebar–seperti awan yang masih mengerti matahari berada di belakangnya.

"Soalnya aku mau ajak Akutagawa-nii main ski juga. Selama ini Akutagawa-nii paling jauh ke toko alat tulis. Nanti pas natal kita pergi bareng-bareng, kok. Bakal kuusahakan."

Karena tangan Akutagawa benar-benar telanjang, rasa dinginnya menjadi bermanja-manja pada kehangatan yang seperti keibaan seorang ibu. Akutagawa ingin menulis. Bahkan ia harus, sebelum runyam mencampuri semua. Namun, Dazai yang berceloteh mengenai kecepatan super dalam petualangan bermain ski, dan matanya kian memancarkan matahari, sekadar menggeleng pun Akutagawa sangat kesakitan.

"Kenapa? Akutagawa-nii enggak suka?" Antara Dazai melepasnya dengan sedih, atau Akutagawa memaksa memutus pagutannya, Akutagawa benci yang mana pun. Melihat tangan Akutagawa gemetar sewaktu menulis Dazai hanya ingin berpikir Akutagawa kedinginan, tetapi ia sudah tak bisa mengelak menemukan firasat buruknya menjelma realitas.

Maaf, Dazai-kun. Natal nanti aku bakal pindah. Kami tinggal di kampung ibu sampai nenek meninggal.

Jadi karena itulah diamnya Akutagawa janggal. Pantas saja keluarga boneka salju yang mereka bikin hari ini kekurangan banyak sekali. Dazai bingung harus apa. Semua terlalu tiba-tiba untuk sebuah hari yang baru dimulainya.


Baik itu tangan, kaki, maupun seisi kepala Dazai, pokoknya semua yang ada padanya begitu malas, menjadikan ia hanya terpaku pada langit-langit kamar.

Kepalanya berputar-putar setiap mencoba mengingat, apa yang terjadi setelah Akutagawa menyatakan natal nanti ia pindah? Yang Dazai tahu tatapannya berat sekali. Saking letihnya terasa banyak yang berjatuhan entahlah apa. Berasal dari mana? Kenapa bisa terlepas? Namun Dazai paham itu bukanlah air matanya. Ia tak basah.

"Masalahnya bukan itu, kan, yang harus kupikirkan?"

Jika Akutagawa pergi, artinya Dazai harus meninggalkan sesuatu. Bukan tentang kenang-kenangan semata. Ia menginginkan yang nyata bagi mata, dibandingkan sekadar tulisan-tulisan mengenai rasa yang hanya dapat tertulis dalam hati. Masalahnya bertambah lagi di mana Dazai belum tahu. Guru berupa celengan yang mengajarinya bersabar akhirnya dipecahkan. Mengira dengan menghitung uang yang sempat terkumpul, Dazai didatangi ide luar biasa.

"Akutagawa-nii itu suka apa, ya? Haruskah kubelikan stok spidol selama setahun?"

Papan tulis yang lucu agar setiap menulis di atasnya Akutagawa riang? Kunciran rambut? Kostum sinterklas? Dazai terus mencoret-coret tembok kamarnya–terlalu malas mengambil kertas–sampai berujung mengacak-acak rambut frustrasi. Aneh sekali rasanya. Padahal tubuh dan hatinya tak merasai apa-apa, tetapi begitu sukar untuk beride seolah-olah banyak yang ditanggung, lantas terpikirkan walau ingin ditepis.

Mungkin tak merasai bukan berarti baik-baik saja. Justru karena kosong semua yang terlihat menjadi tidak jelas dan mengesalkan hati.

Jendela dibuka membiarkan angin malam bertamu. Salju tampak turun setitik demi setitik, menciptakan lautan putih di atas daratan. Dazai lantas tak tahu, apakah ia menyesal atau bersyukur telah melihatnya. Ayah yang belum pulang sekalipun sudah pukul sepuluh Dazai lupakan. Hanya berbekal piyama di tubuh ia keluar rumah. Menepuk-nepuk pipinya sebelum mencoba tersenyum.

"Malam, Akutagawa-nii. Ngapain malam-malam begini di luar?"

Yang disapa tersentak. Kehampaan di pandangannya tercabut, tetapi Akutagawa jadi campur aduk.

Enggak ngapa-ngapain. Belum ngantuk aja, kok.

Dazai mengangguk-angguk paham soalnya kondisi mereka sama. Akan tetapi jika Dazai tidak memperhatikan jendela, mana mungkin ia turun.

"Saljunya makin tebel aja. Bisa-bisa pas buka pintu rumah, aku ketimpa salju dari atap." Omong-omong perihal serpihan putih itu, bukankah ide untuk membelikan Akutagawa bola kristal berisi hiasan terdengar bagus? Sebenarnya pula Akutagawa sudah menulis jawaban. Namun, melihat Dazai sibuk sendiri, mumpung ada waktu Akutagawa menggantinya.

Sedang memikirkan apa? Kayaknya serius banget.

"A-ah ... cuma kepikiran kok Akutagawa-nii ada di luar malam-malam begini?"

Tadi mereka sudah membahasnya. Ketika Akutagawa menghapus untuk balasan yang baru, mendadak ia buntu walau sesungguhnya, sejak awal demikian. Dazai tidak bicara usai mendengar berita tersebut. Sekadar memastikan Dazai sedih pun Akutagawa tak bisa. Ada yang menjadi kabut di dalam Dazai, dan Akutagawa tidak bisa melihatnya, tetapi Dazai sendiri juga gagal memahami.

Apakah itu sebenarnya? Akutagawa hanya bisa menjabarkan kabut tersebut membuat Dazai merasa tidak merasakan apa-apa, tetapi sebetulnya ia merasakan sesuatu.

Satu tahun mereka menjalin suka-duka, Akutagawa sekadar mengerti Dazai sering pindah kota disebabkan pekerjaan ayahnya. Akutagawa tak pernah tahu siapa yang Dazai tinggalkan, atau kapan saja Dazai sendirian gara-gara belum sempat bertemu, tetapi justru berpisah duluan. Sudah sedemikian ceriwis pun Dazai bisu soal itu. Salah Akutagawa juga, dan bukan karena ia tidak pernah menyinggungnya duluan.

Kekeliruan terbesar Akutagawa adalah ia tidak pernah menceritakan siapakah dirinya. Minimal memberitahu ia bukan tunawicara pun tak Akutagawa perbuat, tetapi tetap saja Dazai berbicara banyak dengannya.

"Kau itu hanya dipenuhi hal-hal yang buruk, tetapi setidaknya jika seperti ini kau memiliki sesuatu yang baik."

Rasa senang karena Akutagawa akan pindah tiba-tiba melompat-lompat. Meski ia sebatas meninggalkan tempat di mana segenap penderitaannya tumbuh, sedangkan selamanya hatinya abadi di dalam keburukan, itu jauh lebih baik daripada tidak sama sekali. Ia akan segera bisa menikmati selimut. Bermain di ruang tamu. Menjelajahi seluruh sudut rumahnya tanpa takut diikuti ngiang, seperti yang barusan.

Jejak dari ayahnya tak akan terangkat dan tiba-tiba Akutagawa menontoni tubuhnya dilecehkan, tetapi di satu sisi Akutagawa tidak bisa bermain bersama Dazai la–

"Sebenernya aku lagi pusing mikirin hadiah."

Lagi-lagi Akutagawa terlalu memenuhi dirinya sendiri dengan yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan lagi. Mungkin ini kesempatannya. Sekarang ia lebih ingin memperbaiki celah yang membelah atmosfer milik mereka.

Udah nemu idenya?

"Hehehe ... belum. Bingung apa yang bagus."

Mau kubantu carikan? Emangnya Dazai-kun mau kasih hadiah ke siapa?

Mampus. Keringat dingin membanjiri Dazai, karena tampaknya ia salah keputusan. Sekeras mungkin Dazai memeras otaknya. Walaupun memang lebih cepat jika Dazai bertanya pada Akutagawa, apakah yang ia sukai, nanti tidak jadi kejutan. Sering bertingkah bodoh bukan serta-merta berarti Dazai harus diberitahu barulah menyadarinya.

"Bu-buat Paman Kan. Maaf."

Paman Kan yang tinggal di samping rumah Dazai itu membuat Akutagawa diam seribu basa. Entahlah ada apa di antara mereka, ketika setiap Dazai lihat Akutagawa pasti menjauhi beliau secara sengaja. Yang pertama kali menyudahi kecanggungan tersebut adalah Akutagawa. Tangannya melambai ke arah Dazai yang membalasnya dengan cara sejenis. Namun, saat dipastikan Dazai telah kembali dilindungi rumahnya, Akutagawa keluar lagi.

"Gimana coba kalo entar Akutagawa-nii sakit?"

Hampir setiap hari Akutagawa habiskan dengan berada di luar, begitu pun ketika malam sampai-sampai Akutagawa terbiasa tidur bersama udara dingin. Apabila ibunya memiliki sisa tenaga beliau akan mengecek keluar. Selama ini Paman Kan adalah yang paling sering menggendong Akutagawa masuk, dan ibu Akutagawa hafal sehingga memberikan kunci candangan.

Saat Dazai diam-diam mengintip dari jendela kamarnya lagi, ternyata bukan hanya dirinya sendiri yang gagal ia mengerti, melainkan pula Akutagawa bahkan Paman Kan–aneh saja mengapa Paman Kan masih baik, padahal Akutagawa terang-terangan menolaknya.


Pagi harinya ketika biru belum sepenuhnya selesai melukis langit, Dazai sudah berangkat menuju suatu destinasi bernama mal ditemani Shiga Naoya.

Hiruk pikuk pusat perbelanjaan turut merayakan natal. Dibandingkan berjalan di sisi Shiga untuk menciptakan cerita kakak-adik yang menggemaskan, Dazai lebih memilih memimpin langkah sampai-sampai Shiga kewalahan. Beberapa menit sekali Shiga harus mempercepat tempo, atau Dazai seolah-olah lenyap. Ujung-ujungnya pula mahasiswa yang tengah magang tersebut menarik kerah belakang coat Dazai. Menghentikannya paksa daripada dipaksa melangsungkan kejar-kejaran.

"Jangan cepat-cepat, Dazai. Bisa repot kalo kau sampai hilang."

Balasan yang Shiga peroleh adalah Dazai mencibir. Lagi pula sejak kapan Dazai sudi menghabiskan waktunya bersama Shiga Naoya? Sedikit-sedikit dia mengatakan Dazai bandel. Jika bukan karena nubuat sang ayah, Dazai tentu saja lebih memilih pergi bersama beliau. Sebelum keberangkatan dimulai pun Shiga dan Dazai sempat cekcok. Katanya ia tak percaya ayahnya harus meliput berita di kota lain, jadilah Shiga menghubunginya yang juga merangkap senior di tempatnya magang.

"Emangnya udah ketemu hadiahnya?" Pertanyaan Shiga lagi-lagi membekukan paksa langkah Dazai. Dilihat dari caranya berhenti, pasti bocah tengil yang seumpama buku terbuka itu hanya merepotkan dirinya sendiri demi menghindari Shiga.

"Na-nanti juga kalo keliling-keliling … idenya ketemu."

"Meragukan banget nada bicaramu."

"Apaan, sih?! Dari pagi aja udah nyebelin ba–" Tangan Dazai tahu-tahu digenggam. Dengan cara yang sedikit kasar, Shiga tampak seolah-olah hanya mendorong Dazai menggunakan keinginannya yang egois, "Pertama-tama kita ke toko buku dulu."

Keramaian toko buku tidaklah sepadat di luar sana, atau sebenarnya segini pun sudah sangat menumpuk, tetapi lagu yang mengalun membuatnya tampak lenggang. Pohon natal mini sampai raksasa, hiasan-hiasan berupa kado imitasi, jingle bell, wreath ring, gantungan berbentuk kaus kaki–semua itu pertama-tama memaku Dazai. Menggugah hatinya, membayangkan kaki-kaki mungil mereka berjinjit yang bukan sekadar kesenangan semata, melainkan turut menghias kenangan dengan keindahan.

"Pohon natal itu kemahalan. Dia suka buku, bukan? Kenapa enggak membelikannya buku?"

Saran dari Shiga mengejutkan Dazai. Netra emasnya menyipit tidak suka, tetapi sejurus kemudian sadar dengan sendirinya bahwa Shiga benar.

"Rasanya Akutagawa-nii udah baca semua buku yang ada di dunia, deh." Rak-rak kecokelatan menjulang tinggi dari ujung ke ujung. Itu adalah pertama dan terakhir kalinya Dazai bermain ke kamar Akutagawa, karena jika Akutagawa berlama-lama di sana kalau bukan untuk tidur, Akutagawa asma tiba-tiba.

"Yang biasa Akutagawa baca adalah sastra klasik. Membelikannya buku cerita untuk anak-anak enggak memalukan, kok."

"Shiga-nii tau buku yang bagus?"

"Anak-anak sepertimu harusnya lebih tau, dong." Tengkuk yang tidak gatal digaruk. Sepertinya hanya Akutagawa dan Dazai yang lebih menyukai paragraf mengisahkan kisah, dibandingkan gambar warna-warni yang melakukannya untuk menyegarkan jiwa bocah mereka.

"Tuh, kan, sesat! Keluar aja udah. Gara-gara Shiga-nii aku jadi males di sini."

Tengil dan tidak jelas memang ciri khas Dazai. Ketika anak itu keluar begitu saja, Shiga masih di toko buku mencari-cari sesuatu. Menyadari Shiga belum menyusulnya Dazai mencak-mencak. Api dalam kedongkolannya kian terbakar, mendapati malah Shiga yang menemukan hadiah untuk dirinya sendiri. Ribut yang mereka sulut membuat dunia hanya dimiliki keduanya.

"Berhenti main-main, Dazai. Masa iya kau serius mau ke sini?" Toko yang diselimuti aneka warna pastel Shiga tunjuk-tunjuk dengan perasaan tidak terima. Seluruh pengunjungnya adalah wanita muda, atau yang merasa di dalam jiwanya masih mengalir darah muda. Dazai tersenyum mengejek. Seratus persen ia yakin Shiga ogah-ogahan masuk ke dalam.

"Serius, lah! Rambut Akutagawa-nii, kan, panjang. Jadi, kubelikan dia kunciran rambut. Pengecut tunggu aja di luar."

Memang dasar inilah pekerjaan bocah. Telah diwanti-wanti sedemikian rupa oleh ayah Dazai, suka atau benci Shiga menerobos saja. Di dalam sana merutuki, apakah Dazai menganggap Akutagawa perempuan atau bagaimana? Namun, di satu sisi ia puas, sebab penantiannya dibayar dengan buah manis yang mengenyangkan seluruh dirinya yang tak habis pikir.

"Silakan dilihat-lihat, Dek. Kalau bingung Kakak bisa merekomendasikan sesuatu padamu."

Hati dari salah seorang pegawainya tertarik dengan kemurnian Dazai yang jernih. Penuh antusiasme Dazai menyambut tawaran tersebut. Diperlihatkan sebuah kunciran yang mungkin memenuhi harapannya–polos, warnanya gelap, jangan terlalu penuh model, biasa-biasa saja intinya, tetapi yang bagus dan keren; kontradiksi bertebaran di mana-mana.

"Gimana kalo yang ini?"

Sebuah kunciran hitam polos diperlihatkan. Dazai mengangguk-angguk tak kalah semangat, dan berniat mengambilnya jika saja …

"Beli buat gebetannya, ya, Dek? Kelihatannya anaknya tomboi, tapi biasanya jarang yang rambutnya panjang. Unik banget, Dek. Kakak mendukungmu, lho."

Kata "gebetan" membuat Dazai menjatuhkan kunciran yang sudah ia terima. Shiga benar-benar melihat wajah Dazai merah padam. Buru-buru kabur yang kurang ajarnya sambil berteriak, "Go-goblok!"–pakai nada malu-malu kucing pula–menyebabkan Shiga sibuk minta maaf sana-sini barulah menyusul Dazai.

"Makanya udah kubilang jangan asal-alasan. Buku gambar, deh, gimana? Kamus bahasa Inggris juga kelihatannya ba–", "Daritadi Shiga-nii bawel. Nyebelin," potong Dazai jengkel. Dikiranya ia main-main apa? Shiga kira Dazai tidak tahu yang Akutagawa sukai … apa? Selalu saja membuat Dazai berpikir, "Benar juga, ya". Apa namanya kalau bukan meremehkan Dazai?

"Ayo makan dulu. Anak kecil rese kalo laper."

"IH! Siapa juga yang la–"

Perutnya mengkhianati Dazai dengan bermuka tembok, saat terdengar bergemuruh. Mereka pergi ke restoran cepat saji. Sebuah hal yang jarang Shiga perbuat, jika kebetulan ia harus menemani Dazai ke suatu destinasi. Bahkan Dazai diizinkan memesan sesuka hatinya. Sekalian bawa pulang untuk Akutagawa, makanya Dazai harus segera memutuskan, atau kasihan Akutagawa apabila meminum soda yang tawar gara-gara es batunya mencair.

"Daritadi juga Shiga-nii bicarain Akutagawa-nii mulu." Seribu untung mereka kebagian tempat duduk. Mendengarkan Dazai meributkan ini atau itu pun, setidaknya Shiga tak lelah-lelah amat. Lebih menghemat tenaga, daripada menghadapi sifat kanak-kanak Dazai saat berdiri.

"Kenapa? Cemburu?"

"Cemburu apaan, deh? Gak jelas tau. Aneh-aneh aja."

"Soalnya kau tidak senang ketika aku membicarakan soal Akutagawa, seperti … ya … kau hanya ingin Akutagawa dibicarakan olehmu pertama-tama, kemudian yang lain menanggapi."

"Iya … kali."

Helaan napas lolos dari Shiga. Sewaktu burger berukuran XL untuk Dazai menghampirinya pun, Shiga bisa tahu Dazai kekurangan banyak hal, meski caranya mengunyah terlihat rakus. Sebelum berangkat ke mal mereka sempat melihat Akutagawa pun keluar rumah, dan membawa buku gambar serta krayon dua belas warna. Mengetahui Dazai bersama Shiga, anak malang itu langsung kabur. Padahal Shiga pikir Dazai bakal mencengah Akutagawa untuk seulas sampai jumpa, tetapi nyatanya Dazai bisu.

Menilik Shiga pun mengisi posisi sebagai warga kompleks yang sama dengan kedua bocah ini, walau jarak rumahnya terpaut jauh, memang ia sudah mendengar berita bahwa Akutagawa pergi besok.

Sebenarnya Shiga tak merasa aneh juga, apabila tali yang mempertahankan Akutagawa dan Dazai renggang. Namun, perkara tersebut nyatanya mengoyak kata "sederhana" yang mendeskripsikannya. Ada yang lebih rumit yang disembunyikan, di mana diam-diam hambur tanpa sepengetahuan mereka, dan orang-orang dapat merasakan, mereka tengah menginjak serpihan-serpihan tak kasatmata yang dijatuhkan oleh Akutagawa serta Dazai.

"Jujurlah padaku, Dazai. Apa kau tidak penasaran kenapa Akutagawa tunawicara?" Acara makannya terhenti. Dazai menatap tak mengerti pada Shiga, tetapi tetap berminat menjawab pertanyaan dadakan tersebut.

"Tunawicara itu biasanya sejak lahir, 'kan? Palingan kalo enggak Akutagawa-nii pernah mengalami kecelakaan."

"Hanya dengan pemikiran seperti itu kau merasa puas? Bagaimana jika ternyata kau salah? Malah makin tidak enak, lho." Ketakutan Akutagawa pada pria dewasa bukan lagi rahasia umum, begitu pun Dazai yang sering pindahan.

"Kok jadi nanya terus-terusan? Bikin risi aja. Habiskan burgermu sana."

"Aku bertanya karena ingin mengajarimu, Dazai. Jika begini terus, saat kalian bertemu kembali semuanya enggak akan sama seperti dulu. Pertemuan di masa depan bisa-bisa membuat kalian terluka. Kau tak merasa mengenali Akutagawa, begitu pun sebaliknya, sebab terlalu banyak yang kalian rahasiakan di masa kini."

"Terus?"

"Pikirkan sendiri solusinya. Katanya kau genius. Masa begitu aja enggak bisa?"

Sok-sokan berkata ingin mengajari, tetapi Dazai hanya merasa mendengarkan kesia-siaan yang gagal bermakna. Selesai makan mereka benar-benar berkeliling mal. Shiga sudah tidak mengomentari Dazai, ketika ia berkata ingin membelikan ini atau itu untuk Akutagawa seabsurd apa pun cetusannya. Lama-kelamaan Dazai berhenti sendiri. Jam yang berdiri di tengah-tengah bangunan sudah menunjukkan pukul empat sore pun, Shiga tidak menyuruh Dazai bercepat-cepat agar mereka bisa pulang.

"Shiga-nii …" panggil Dazai lirih. Mungkinkah Shiga marah pada Dazai? Burger dan soda untuk Akutagawa bagaimana? Kenapa rasanya meresahkan sekali mendapati Shiga berturut-turut diam?

"Mau pulang dengan tangan kosong? Terserah, sih."

"E-enggak gitu! Ayo ke toko mainan. "

Toko mainan paling dekat dengan tempat mereka berdiri, dan lebih baik dibandingkan Dazai merasa dihantui jam yang meniru Big Ben tersebut. Bola kristal yang diisi rumah kayu tua seharusnya cukup. Harganya pun sesuai kantong. Apa pun yang Dazai berikan pasti membahagiakan Akutagawa. Kenapa ia masih terlihat kecewa, Dazai tidak peduli. Penyesalannya yang terlambat mekar, karena baru sekarang ini ia mengakui sengaja berputar-putar agar tak bertemu Akutagawa, membuatnya terlalu sedih.

Terlalu sedih, sampai-sampai ia menemukan, atau sebenarnya benda itulah yang menemukannya.

"Iya, ya, bener juga! Aku mau beli aja."

Bola kristal di tangan Dazai diserahkan ke Shiga. Meski Shiga sadar ia diperintah dengan sangat sembarangan, kali ini ia sungguh-sungguh tersenyum untuk Dazai. Pegawainya sekalian diminta untuk membungkus boneka kappa tersebut menggunakan kertas kado. Uang yang kurang pun dibantu oleh Shiga. Rambut merahnya lantas diacak-acak yang bagi Dazai tanpa alasan, sehingga ia tetap kesal pada Shiga dibandingkan berterima kasih.

"Sekarang kita pulang. Akutagawa pasti menunggumu."

Setibanya di sebuah halaman depan yang khas dengan bunga nanohana untuk musim dingin, mereka sama-sama melihat Akutagawa yang mengenakan pakaian berlapis-lapis yang lapisannya super, tertidur di depan rumahnya. Shiga membawanya masuk. Dazai meletakkan burger dan soda yang Shiga belikan untuk Akutagawa di atas nakas. Iseng-iseng mencium keningnya, tetapi malah Dazai yang ingin berjingkrak-jingkrak saking malunya.

"Akutagawa-nii lucu banget. Buku gambar sama krayonnya juga masih dipeluk."

Perlahan-lahan Dazai berusaha mengangkatnya. Tanpa sengaja sebuah amplop terjatuh yang jelas-jelas ditunjukkan bagi Dazai, dan ketika membukanya Dazai merasa senyumannya itu tanpa batas.

Jam delapan malam nanti dateng ke rumah, ya. Aku mau merayakan natal bareng Dazai-kun.

Boneka kappa-nya pun sudah menunggu Akutagawa. Sekarang sudah tidak apa-apa (seharusnya), karena Shiga tahu Dazai bisa, baik itu mengetahui kesukaan Akutagawa yang tak diketahui orang luar seperti mereka, dan Dazai akan jujur nantinya.


Malam menjadi putri yang bersahabat, sekalipun tanpa kecemerlangan pangeran purnama atau ditemani anak-anaknya yang meriah dan bercahaya, yakni bintang-bintang.

Definisi pakaian terbaik bagi Dazai adalah pakaian yang paling ia favoritkan. Lima belas menit yang Dazai habiskan untuk mematut dirinya dibuat seolah-olah ia telah mengeluarkan satu jam penuh. Dengan heboh Dazai berlari menuruni tangga. Tak ketinggalan membawa kado untuk nantinya ditukar, dan berpamitan pada ayahnya yang entah sejak kapan ikut menghangatkan rumah mereka.

"Hati-hati di jalan. Jangan lari-lari kayak tadi."

"Tenang aja, Yah. Rumahnya deket ini. Meluncur doang juga sampe."

Putranya yang menggemaskan itu hampir kehilangan sebagian ketampanannya, apabila ayah Dazai tidak menyadari ada rambut yang mencuat. Kurang dari lima menit Dazai tiba. Menekan bel menandakan kehadirannya yang Akutagawa sambut dengan keriangan, disambung harum makanan yang menguar penuh kepercayaan diri. Menjelaskan rasa lapar yang bergejolak dalam perut Dazai dengan lengkap sekaligus baik.

"Makanannya kayaknya banyak, ya?"

Mereka dalam perjalanan menuju ruang makan. Telunjuk Akutagawa mencolek bahu Dazai. Memperlihatkan papan yang sudah diisi tulisan.

Aku bilang ke ibu Dazai-kun makannya banyak, jadi bikin banyak. Omong-omong makasih buat burger-nya. Enak.

"Lain waktu sampaikan juga buat Shiga-nii. Tadi selama di mal dia nyebelin banget, sih."

Separuh waktunya diberikan pada kata-kata yang sibuk menjelaskan betapa menjengkelkannya Shiga. Sesekali Akutagawa lebih melapangkan senyum. Menurutnya cara Dazai bercerita lucu, sebab di lain sisi ada tersirat rasa senang ketika Shiga menemaninya. Ditambah lagi Dazai terus-menerus membawa hadiahnya ke mana pun, dibandingkan menaruhnya di atas meja di ruang tamu.

Makan malam berlangsung menyenangkan. Bagi Dazai bintangnya adalah kalkun panggang, sampai-sampai ia terus mengeja rasa daging yang lebih berair tersebut Menggung mulutnya. Ibu Akutagawa selalu baik. Ia berkata akan merindukan masakan beliau, terutama sayur-mayur yang biasanya Dazai benci, dan beliau berjanji sewaktu-waktu bakal berkunjung.

"Terima kasih telah berteman dengan Ryuu, Dazai-kun. Semoga dia tidak terlalu merepotkanmu."

Kegembiraan memang tidak pernah berteman baik dengan doa sepanjang masa. Tahu-tahu Dazai tak lagi memegang sendok yang dilengkapi garpu. Tangannya diselimuti busa sabun atas inisiatifnya sendiri, walau ibu Akutagawa bilang berkali-kali Dazai langsung duduk saja.

"Gak pernah merepotkan, kok. Temenan sama Akutagawa-nii seru banget." Pipi Akutagawa bersemu. Merah semakin

"Kapan-kapan Bibi ajak ke kampung halaman Bibi, ya. Di sana pemandangannya bagus, lho. Bisa berenang di sungai."

"Beneran?! Keren banget, dong! Nanti Akutagawa-nii ikut berenang, ya. Bisa mancing juga enggak?"

"Bisa, kok, bisa. Ikan dari sungai sangat enak jika dibakar."

Sebenarnya Akutagawa agak iri, menontoni ibu dan Dazai mengobrol dengan asyik. Semenjak mengenali Dazai Osamu sebagai eksistensi yang berwujud manusia, Akutagawa senantiasa mencoba mengeluarkan suaranya lagi, walau ia masih gagal bahkan hingga sekarang. Sebelum membuka kado mereka memainkan aneka permainan. Kartu, ludo, ular tangga, Dazai rasa ia bisa melupakan artinya kesedihan.

"Udah jam sembilan. Ayo buka kado!" Dazai meletakkan kartunya begitu saja. Pertandingan pun sudah berada di ujungnya, dan pemenangnya Akutagawa, bahkan yang sebenarnya bermain hanya mereka berdua–ibu Akutagawa tak mengerti sedikit pun mengenai aturannya.

"Ryuu mau memberikan ke Dazai duluan?"

Anggukan diberi sebagai jawaban. Bungkusnya yang berwarna merah diserahkan pada Dazai yang membukanya di tempat. Sebuah rajutan yang menciptakan bentuk syal seketika meletupkan kebahagiaan Dazai. Mungkin sebagai ungkapan terima kasihnya, ia mempersilakan ibu Akutagawa lebih dulu menghadiahkan cintanya kepada Akutagawa.

"Apa Ryuu suka hadiahnya?"

Suka. Boneka kappa-nya lucu.

Dari kepalanya yang botak, bertempurung macam kura-kura, dan mulutnya moncong, tak dapat dipungkiri itu kappa. Mendadak Dazai berdiri. Ikut-ikutan bingung tatkala ibu-anak tersebut memandangi Dazai heran. Salivanya kini Dazai teguk dengan susah payah.

"Emm ... ya ... aku baru inget, ini ketuker sama hadiah punya Paman Kan. Tunggu bentar, ya."

Dazai berbohong. Jadilah anak itu sebatang kara memikirkan mendung yang mulai menusuknya. Berlari ke mana saja yang bisa ia tuju, sambil membawa kado yang masih utuh. Pusat perbelanjaan semakin terbangun. Setiap langkah Dazai hanya menunduk dan membawa kebimbangan. Tubuhnya sampai berakhir menabrak seseorang yang berbau sake.

"Maaf," ucap Dazai singkat, padat, dan bergetar. Dirinya ingin buru-buru beranjak. Namun, bahunya ditahan oleh tenaga yang lebih kuat. Mengalahkan telak Dazai yang banjir keringat dingin, ditambah kakinya kikuk setengah mampus.

"Dazai? Apa yang kau lakukan di sini?"

"Paman ... Kan?"

Syukurlah bukan preman, tetapi ditemukan oleh Paman Kan yang bau alkoholnya pekat agak mengganggu juga. Sekilas ia dinasihati, terlalu bahaya untuk berkeliaran malam-malam. Karena Dazai diam saja, Paman Kan hanya bertindak mengikuti kebaikan menurut orang dewasa. Di tengah perjalanan barulah Dazai meminta berhenti. Menunjuk taman kota yang berada di luar kompleks.

"Sebentar aja, lho. Udaranya makin dingin juga."

Masalahnya bertambah lagi yang Paman Kan tahu, kerisauan itu terletak pada kado yang Dazai peluk. Untunglah ia menolak minum banyak-banyak. Kesadaran Paman Kan masih segar, dan ditepuknya punggung Dazai agar anak itu lebih bersemangat.

"Kadonya kenapa?" Mata Dazai mengerjap-ngerjap mendapati pertanyaan tersebut. Sejelas itu, kah, kekusutan yang terlukis di gurat-gurat wajahnya?

"... mirip sama punya ibunya Akutagawa-nii." Boneka kappa berukuran sedang. Bajunya pun ala sinterklas yang merupakan edisi terbatas. Paman Kan mengangguk-angguk paham, tetapi tiba-tiba meninggalkan sahabatnya bukanlah perbuatan terpuji–ibu Akutagawa memberitahu dengan riang, mereka mengundang Dazai ke pesta–sehingga Kan menyentil kening Dazai.

"Kok tiba-tiba aku disentil?!"

"Kamu pikir Ryuu tidak akan mencarimu apa? Sekarang dia pasti khawatir. Masa iya kau mau semuanya berakhir seperti ini?"

Lagi-lagi dikatakan. Orang-orang selalu saja bertanya, "Apa kau mau berakhir seperti ini?", dan mereka tidak perlu sebab mengetahui jawabannya. Mustahil Dazai mau. Justru karena tindakannya balau Dazai-lah yang paling enggan berpisah dengan Akutagawa. Rasa manis untuk ditaruh pada kata-kata dan tindakannya dapat Dazai temukan di mana saja. Namun ... namun berarti apa ... kalau sampai jumpa yang Dazai ucapkan dibuat-buat?

Tiada yang berasal dari hatinya. Dazai mana mau senyumannya palsu di saat ia melambaikan tangan kepada Akutagawa. Namun, di sisi lain meskipun keresahannya yang paling jelas sekaligus jernih, mana mungkin juga Dazai mau menunjukkannya?

"Shiga ... tidak mengatakan sesuatu padamu?" Nama yang tiba-tiba diangkat itu semakin memusingkan Dazai. Ia benci Shiga. Apalagi Shiga yang tadi memainkan teka-teki di hadapan Dazai, ketika Shiga biasanya blak-blakan menyembur Dazai.

"Cuma hal-hal menyebalkan, kok."

"Kayak apa?"

"Hmm ... oh. Dia ngomong beberapa hal yang gak aku ngerti. Kalo kami bertemu di masa depan bakal tersakiti. Merasa gak saling kenal, karena banyak yang dirahasiakan di masa kini. Apaan coba? Aneh banget tiba-tiba ngomong gitu."

"Artinya dia nyuruh kamu bercerita, Dazai. Itu maksud Shiga."

"Selama ini kamu gak pernah cerita, kan, gimana kehidupanmu sebelum pindah kemari? Kami enggak tahu apa motifmu sampai bersikeras melakukannya. Namun, bukankah Ryuu berhak tahu? Dia sahabatmu. Jika tidak ada yang bisa diungkapkan kepada orang lain, maka kamu bisa memberitahu Ryuu."

Pertama-tama mereka adalah satu yang masih masing-masing, lalu menjadi dua dan saling menggenggam. Mereka lebih luas dibandingkan kata "luas" yang ditulis dalam cerita pada selembar kertas. Mereka bukanlah sekadar satu ditambah satu, sebab imajinasi tidak mewujud angka-angka yang berhitung. Oleh karenanya pula, tiada yang namanya, seberapa banyak yang sudah dilakukan dan telah ada?

Mereka pun merupakan imajinasi itu sendiri. Imajinasi yang istimewa, karena nyata dan dapat menyimpan kenyataan ke dalam kenang-kenangan. Mereka dapat menjadi siang hari di pelataran rumah maupun halaman belakang. Sebuah subuh untuk menyaksikan terbitnya embun, matahari yang selalu baru. Bahkan malam ketika seharusnya Dazai serta Akutagawa adalah pesta yang melepaskan satu hal menjelma segalanya.

Menjadi dua tidak serta-merta dapat mencapai langsung keindahan itu. Mereka telah mengumpulkan waktu setidaknya. Merajut tumpukan hari yang tercipta agar kukuh, lalu memiliki sekaligus menjaganya bersama-sama. Dari sanalah tak akan ada yang dengan mudahnya berderai-derai, makanya cerita seburuk apa pun dapat berlabuh secara nyaman pada hubungan mereka, bukan?

"Jadi benar kamu tidak sedih, besok sudah berpisah dengan Ryuu?" Mau bagaimana lagi? Dibantu bagaimanapun apabila Dazai masih keras kepala, baik Shiga maupun Paman Kan tak akan berdaya.

"Se-sedih, kok! Ya kali enggak."

"Masih mau main sama Ryuu nanti?"

"Mau! Aku mau main ski bareng Akutagawa-nii. Masih banyak yang belum kami lakukan."

Suara Dazai serak. Entahlah kenapa, tetapi ia ingin menangis dan matanya sudah panas. Perpisahan pertamanya pun begitu menyesakkan. Yang kedua, ketiga, keempat ... lama-kelamaan Dazai hanya tak menghitungnya. Ia pikir harus terbiasa. Setiap kesedihan yang melambaikan sampai jumpa itu sangat bodoh. Melelahkan sekali, makanya Dazai bungkam saja yang ternyata justru menggugurkannya.

"Suatu hari nanti aku bakal mengunjungi desa Akutagawa-nii. Pergi juga buat menemui Ango sama Oda. Aku akan merindukan Akutagawa-nii. Aku juga selalu merindukan Ango dan Oda. Semoga kami berempat bisa main bareng!"

"Katakan itu padanya dan berikan kadonya juga. Ryuu pasti menyukai bonekanya."

Paman Kan menyinggung seulas senyum. Artinya Dazai siap pulang, dan bahkan ia dijemput Akutagawa yang berlarinya gugup, kala menghampiri Dazai. Tubuh Akutagawa seolah-olah menghalangi Dazai dari Paman Kan. Wartawan tersebut menggeleng agar Akutagawa tenang saja. Memimpin jalan berniat mengantar keduanya pulang.

"K-ka ... kamu ... be ... benar-benar ... enggak ... Dazai-kun?" Seketika Paman Kan menengok ke belakang. Di dalam pelukan Akutagawa netra Dazai juga membeliak. Ternyata inilah yang Shiga maksud dengan jika salah persepsi, semakin tak mengenakkan hati. Dazai merasakan karmanya yang pahit.

"Bener, kok, enggak. Kami hanya kebetulan bertemu, dan aku memberi beberapa nasihat. Semoga di kampungmu orang-orangnya baik, ya, Ryuu. Sekarang kita pulang dulu."

Napasnya belum pernah selega ini. Di belakang punggung Paman Kan. pujian dari Dazai sibuk mengagumi lembut suara Akutagawa. Malam itu mereka benar-benar menceritakan segalanya sebagai segalanya. Mengenai Dazai yang meninggalkan Ango serta Oda. Menjelaskan siapakah mereka. Dazai tak pernah bilang, karena ia yakin segera berpisah dengan Akutagawa, sehingga tiada artinya apabila banyak-banyak bercerita selain meletihkan. Meminta maaf atas pemikiran yang egois.

Tak ketinggalan, Dazai pun meminta maaf telah membuat Akutagawa tidur di luar secara tidak langsung. Mengakui ia sengaja berlama-lama di mal, karena hanya ketakutan yang tersisa apabila bertemu Akutagawa saat itu. Sebenarnya tiada hadiah yang Dazai beri kepada Paman Kan. Dirinya kabur gara-gara hadiahnya sama dengan milik ibu Akutagawa.

Sementara Akutagawa memercayakan mimpi buruknya kepada Dazai. Meyakinkan dirinya yang masih tujuh tahun yang selama ini menggigil ketakutan di sudut kenangannya, bahwa Dazai pantas bagi luka Akutagawa. Dulu ia pernah dipaksa "melayani" ayahnya yang kini pergi melupakan keluarganya. Dalam tiga tahun dan hampir setiap malam yang Akutagawa pikir, membuat rumahnya juga masa depannya sangat muram untuk selama-lamanya.

Ayahnya pun bilang Akutagawa itu terbuat dari keburukan. Kelahiran yang tidak pernah didoakan keselamatannya. Namun, apabila Akutagawa diam atau mendesah, ia masih bisa menjadi anak yang baik. Sejak Akutagawa berdarah dari kelaminnya suaranya pun direnggut. Namun, berkat seorang cowok berkepang manis yang menjadi tetangganya, sekarang Akutagawa sudah mendapatkan kembali yang berharga baginya. Cepat atau lambat ia tak sabar mengangkat telepon.

Di mana semua itu diakhiri dengan pelukan dari Dazai. Seluruh tubuhnya bahkan seolah-olah menangis, ketika bergetar hebat seperti ini.

Akutagawa kemudian bilang ia ingin berterima kasih pada Paman Kan serta Shiga besok. Dazai langsung setuju untuk menemaninya. Shiga-lah yang membuat Akutagawa berani menghampiri Dazai, sementara Paman Kan turut melelapkan mimpi buruknya, dengan membawanya tinggal pada naungan selimut–padahal ia tidur hingga pejamnya erat, tetapi Paman Kan menjaganya dibandingkan "menyerangnya".

"Terima kasih, Dazai-kun. Kappa-nya … lucu."

Perasaan tersebut benar-benar menutup hari mereka yang panjang, tetapi luar biasa. Usulan agar Dazai menginap sangat menyenangkan. Akhirnya pula Akutagawa tak dingin akibat salju lagi.


Tamat.


A/N: Cuma pengen ngomong maaf kalo OOC. sebenernya bisa dibikin aktgw itu ad penyakitnya, cuma lupa namanya dan di manga apa bisa nemu itu. jadilah dibikin dia gegara trauma aja. thx buat yang udah baca, fav, follow, review, atau numpang lewat aja. mari bertemu di fic lainnya.