Deg
Deg
Deg
Jantung Naruto tak berhenti berdebar sangat kencang, kakinya berjalan mondar-mandir di balik pintu kamar. Niatnya ingin keluar untuk mencari tahu kebisingan yang tiba-tiba terdengar tapi ia telah diingatkan untuk tidak keluar dari dalam kamar Hinata selama acara berlangsung.
Hingga tiba-tiba pintu tempatnya berada terbelah. Betapa kaget ia melihat temannya, Hinata berada di kedua tangan Toneri yang membawanya menuju kasur. Naruto menyusul, tak lupa dengan menutup terlebih dahulu pintu yang terbuka.
"Apa yang terjadi pada Hinata?" tanya Naruto khawatir dan juga panik tapi Toneri menoleh padanya dengan raut wajah sedikit kebingungan tapi juga tersirat kekhawatiran.
"Hime ada di sini." Tapi apakah mungkin? Tapi Toneri melihatnya dengan jelas. Mengapa dia kembali? Bukankah dia tak ingin kembali?
"Aku menanyakan Hinata. Kenapa dengan Hinata? Mengapa dia tak sadarkan diri?" hanya Hinata yang sekarang ada di kepala Naruto, ia ingin tahu mengapa Hinata pingsan.
Tapi Toneripun punya seseorang yang tengah ia pikirkan. Ia bingung. Ia bahkan tak tahu bagaimana cara menjelaskan apa yang terjadi kepada Hinata. Ia mencoba mengatur detak jantungnya sebelum mengatakan.
"Aku harus pergi ke suatu tempat. Tetaplah di sini dan jaga Hinata." Hanya ada satu cara untuk tahu, ia harus ke sana dan memastikan sendiri dengan kedua matanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Naruto, Toneri berlalu pergi begitu saja.
Menghiraukan Toneri, Naruto mengambil duduk di samping kasur dan mengamati Hinata.
"Hinata..."
"Apa yang terjadi padamu?"
.
.
.
"Hiyaaaa!" kuda terus melaju hingga tali kekangnya ditarik membuat langkahnya terhenti tepat di depan salah satu pohon di dalam hutan.
Sang empu turun dari atas kuda dengan melihat sekitar tapi ia tak menemukan apa yang ia cari.
Apakah dirinya salah?
Tapi tak mungkin. Ia melihat dengan jelas kejadian itu meski tak langsung.
"Aku yakin di sini." Ia yakin, sangat yakin tempat ini ia melihat sang Hime terjatuh. Pohon yang paling tinggi di dalam hutan ini.
Tapi mengapa ia tak melihat siapa yang ia cari? Tempat ini kosong.
Tangan Toneri terangkat dan ia menekan dadanya yang berdebar kencang. Ia merasakan cubitan di bagian dadanya. Raut wajahnya menunjukkan kesedihan. Ia sampai tak tahu harus berpikir apa.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Diffrent
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Diffrent by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 9
.
.
Lelah, tak berdaya, tak bertenaga, bahkan dengan raut wajah yang sangat lemah sekali, pemilik surai perak itu masuk ke dalam kamar dengan wajah tertunduk.
"Apa Hinata belum sadarkan diri?" ia termenung cukup lama di dalam hutan sebelum akhirnya putus asa dan kembali ke dalam istana, matahari akan tenggelam sebentar lagi, itu adalah alasan mengapa ia pulang.
Naruto hanya menggeleng sebagai jawaban. Melihat raut wajah lesu Toneri membuat ia tak berani banyak berkata. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya? Dia panik sewaktu pergi tapi pulang dengan raut wajah tak berdaya.
"Kurasa kau harus beristirahat. Kau tampak lelah." Ucap Naruto khawatir ketika Toneri sepertinya tenggelam dalam pikiran ketika dia menatap kosong Hinata. Entah apa yang dia pikirkan.
Jika saja tak di sini, mungkinkah sang Hime terluka di dunia sana? Ia merasa sangat khawatir sekali sampai tak bisa bernafas dengan tenang. Tapi mengapa ia yakin sekali hutan tadi adalah tempat sang Hime jatuh?
"Aku akan ke kamarku." Hanya itu yang Toneri katakan setelah terdiam cukup lama dan dia pergi begitu saja.
.
.
.
"Ugh!" tak pernah ia tahu terbangun rasanya semenyakitkan ini. Punggungnya terasa sangat sakit seolah akan patah sampai ia susah untuk bergerak, hingga memaksa dirinya tetap dalam posisi baring.
"Hinata?!" mata Hinata terkedip beberapa kali sebelum ia melihat jelas siapa yang ada di dekatnya.
"Naru..to?" rasanya kepalanya sedikit berdenyut tapi masih bukan apa-apa dibandingkan sakit di punggungnya.
"Apa kau baik-baik saja?" raut wajahnya khawatir. Dia mencoba membantu Hinata duduk tapi Hinata menolaknya.
"Apa yang terjadi? Mengapa kau pingsan?" tanya Naruto lagi setelah Hinata terdiam cukup lama.
"Aku tak ingat." Hinata menyentuh dahinya mencoba mengingat apa penyebab ia pingsan tapi yang bisa ia ingat hanyalah ia tiba-tiba merasa seperti terhantam dengan kuat dan langsung saja ia sudah tak sadarkan diri.
"Aaaaa punggungku seperti mau patah." Naruto seharusnya tak tertawa melihat betapa kesakitannya Hinata tapi raut wajah frustasi Hinata membuatnya menahan tawa. Raut wajah sekaratnya sangat lucu. Ia tahu Hinata pasti sangat kesakitan tapi entah mengapa malah terlihat berpura-pura.
"Kau baik-baik saja, mengapa wajahmu seperti mau mati?" tangan Naruto meraih tangan Hinata di dahi tadi dan ia membelai pelan pucuk kepala Hinata.
"Apa kau pernah merasakan patah tulang? Punggungku seperti patah kau tahu? Aku sampai susah bernafas." Jawab Hinata geram tak senang pada kekehan kecil Naruto. "Arrr sakit sekali! Punggungku patah!" tak bisa ia jelaskan dengan kata-kata rasa sakit yang ia yakin tak akan ia rasakan ini.
"Tapi kau juga tak pernah patah tulang. Hanya seperti."
"Ish kau menyebalkan!" Hinata menepis tangan Naruto di kepalanya setelah menatap tajam. "Aku sedang sakit tapi kau malah menertawaiku."
Naruto tersenyum ketika Hinata membuang wajahnya.
"Aku hanya senang melihatmu baik-baik saja."
"Aku tak baik-baik saja. Aku tak bisa bergerak!" koreksi Hinata dengan nada kesal.
"Hei, Hinata." Panggilan itu membuat Hinata menoleh dan apa yang ia lihat hanyalah senyum di bibir Naruto. Mengapa dia tersenyum seperti itu? Kenapa?
"Apa aku sudah mengatakannya padamu?"
Alis Hinata terangkat sebelah. "Mengatakan apa?" tanyanya penasaran.
"Aku sangat merindukanmu." Mengapa raut wajahnya sedikit sedih tapi juga lega?
"Banyak hal yang terjadi membuatku tak ingat untuk mengatakan kalau kau membuatku takut setengah mati ketika kau menghilang setelah memainkan permainan bodoh itu." Apa yang coba Naruto katakan? Mengapa Hinata tak mengerti apa maksud perkataannya?
"..." Hinata tak kunjung bersuara bahkan ketika Naruto mengambil satu tangannya dan menggenggamnya erat.
"Aku senang bisa bertemu denganmu lagi."
.
.
.
"Ehem sebenarnya beberapa hari ini kau tampak sedih tapi kau sangat sibuk." Yang disinggung hanya menoleh dua detik sebelum kembali sibuk pada tumpukan buku di tangannya yang berada di atas meja.
"Bagaimana dengan punggungmu?" koreksi, bukan beberapa hari melainkan satu minggu. Ia melihat gadis itu merenggek kepada Naruto soal punggungnya yang seperti mau patah tapi sekarang dia muncul di sini, sudah pasti dia baik-baik saja tapi dari cara bicaranya, sepertinya dia khawatir?
"Sudah mendingan." Rasanya masih sakit tapi sudah jauh lebih baik dari beberapa hari yang lalu.
"Beberapa hari ini kau seperti mengurung diri, apakah kau baik-baik saja?" sebelumnya dia sangat banyak menghabiskan waktu bersama Hinata tapi setelah pernikahan yang gagal kemarin, dia seperti menyibukkan diri seperti menghindari sesuatu.
Toneri meletakkan buku, dia tersenyum menatap Hinata yang berdiri di depan singgahsananya.
"Aku tak baik-baik saja tapi tak masalah." Jawabnya jujur, bahkan senyumannya saja sudah memancarkan rasa sakit yang sepertinya coba dia hindari.
"Mungkinkah kau mau jalan-jalan?" melihat Toneri menjadi pemurung, jujur membuat Hinata tak merasa enak hati. Ia begitu senang bersama Naruto sedangkan Toneri. Dia tampak sedih, selalu sedih.
"Tidak." Jawaban itu membuat Hinata memainkan jari-jarinya di atas perut. Toneri menolak bahkan tanpa berpikir.
"Tapi baiklah jika kau memaksa." Dia berdiri setelah menutup buku yang ada di atas meja. Sontak, hal itu membuat Hinata tersenyum.
"Iya! Aku memaksa!" Toneri ikut tersenyum akan respon Hinata.
.
.
.
"Hinata?" Naruto menatap terkejut siapa yang masuk ke dalam kamar. Untuk sementara ini ia memang selalu berada di kamar Hinata. Selain untuk menghindari dilihat oleh orang lain, ia juga menjaga Hinata.
"Bukankah kau bilang ingin pergi bersama To" perkataan Naruto terjeda, bukan oleh selaan gadis itu, melainkan oleh tatapannya."
"Naru"
.
.
.
"Hm aku iri padamu."
"Iri?" Toneri menatap bingung. Mengapa Hinata harus iri padanya?" kakinya berjalan menyesuaikan langkah kecil Hinata di sebelahnya, menyusuri indahnya halaman belakang istana yang dipenuhi oleh bunga-bunga yang indah.
"Tentu saja aku iri! Aku pernah membaca di sebuah buku bahwa setelah seseorang melewati masa-masa sedihnya, hanya tersisa kebahagiaan." Jelas Hinata bersemangat, berharap ia bisa menghibur Toneri. "Wah kelak kau pasti tak akan pernah merasakan kesedihan lagi. Aku iri." Toneri tersenyum lucu. Ia tak pernah tahu ada cerita seperti itu. Kalaupun ada pasti hanyalah mitos. Akan selalu ada kebahagiaan di banyaknya kesedihan, begitupun sebaliknya.
"Benarkah? Buku apa yang dirimu baca?" sudah Toneri duga, itu hanyalah karangan. Lihatlah wajah berpikir Hinata. "Aku penasaran." Tambah Toneri membuat Hinata menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Buku apapun itu tak penting, tapi begitulah yang aku baca!" balas Hinata cepat mencoba menghindari pertanyaan Toneri.
"Sungguhkah? Kau yakin tak mengarang?" Toneri mengambil duduk di bangku di sebelah Hinata.
"Ti-tidak! Tentu saja tidak!" bantah Hinata cepat tapi terlihat jelas sekali bahwa dia berbohong. "Itu benar! Aku membacanya!"
"Naruto datang." Padahal baru saja duduk menikmati segarnya udara setelah beberapa hari tak keluar dari dalam istana tapi sepertinya tak akan lama ia ingin kembali ke dalam istana lagi.
"Heh?" Hinata menoleh ke arah yang Toneri tatap dan ia melihat Naruto berlari menghampiri. Dia tampak sangat buru-buru sekali.
"Hinata, ayo"
"Kenapa?" Toneri bahkan tak ingin penasaran tapi mengapa Naruto tampak sangat buru-buru? Apa yang sedang dia lakukan?
"Ini benar-benar penting."
"Tak apa, pergilah." Ucap Toneri ketika Hinata menatapnya. Sepertinya ada hal yang benar-benar penting sampai membuat Naruto datang ke sini dan mencoba menarik Hinata pergi.
Tapi mereka tak coba kabur dari istana bukan?
Mana mungkin?
.
.
.
"Apa?"
"Apa?" rasa ingin tahunya seperti akan meledak tapi Naruto tak kunjung menjawab. Dia hanya terus menarik Hinata sampai masuk ke dalam kamar.
"Apa?"
"Ada apa?" dia masih tak menjawab tapi memutar badan Hinata menghadap ke arah yang sama dengannya.
DEG!
Dia
Perempuan bersurai indigo dengan mata bulan.
"Aku?" Hinata menatap penuh kebingungan.
Tidak
Bukan dirinya.
Seseorang yang mirip dengannya.
Tangan Hinata terangkat menutup bibirnya yang membulat.
Ia ingat sekarang mengapa ia pingsan.
"Aku melihatmu jatuh dari pohon." Itu dia. Sudah pasti dia. Dia yang mirip dengannya, yang harusnya tinggal di sini bersama Toneri.
"Hime!"
"..."
"Apa kau baik-baik saja?" lagi-lagi bibir Hinata membulat, rasanya seperti mustahil. Bahkan suaranya juga sama. Gadis di depannya seperti cermin tapi Hinata tak sedang bercermin. Dia nyata.
"Aku baik-baik saja! Aku yang harusnya bertanya!" Hinata berlari menghampiri sang Hime dengan mengelilingi tubuhnya guna mengamati serinci mungkin.
"Kau benar-benar mirip denganku." Mau dilihat dari mana saja bahkan sedekat apapun, mereka benar-benar sama bahkan sampai ke model potongan rambut sekalipun.
"Gila. Bahkan anak kembarpun tak bisa semirip ini."
.
.
.
To be continue.
