"Mengakhiri adalah jalan terbaik."
Dua menit kemudian dan Hinata masih membeku tapi satu detik kemudian, dia menerjang Toneri, untung saja Naruto berhasil menahannya terlebih dulu dengan cara melingkarkan lengannya ke perut Hinata, menariknya sedikit menjauh karena kedua kakinya menendang meja di depannya.
"Sini biar kuakhiri hidupmu! Itu yang terbaik'kan?!" pekik Hinata penuh dengan emosi mencoba mencekik Toneri tapi Naruto tak mau melepaskan tubuh kecilnya.
"Hinata hoi hentikan." Hinata benar-benar tak perduli pada perkataan Naruto. Dia menunjukan emosinya tanpa ragu. Dia benar-benar siap menendang Toneri.
"Mengapa kamu marah?!" Toneri dibuat beranjak karena syok akan respon garang Hinata. Ia tak paham pada respon penuh emosi Hinata, apa salah dirinya hingga Hinata menjadi semarah itu?
"MARAH?! AKU MARAH KARENA KAU BODOH!" jika saja Naruto lengah barang sedetik, akan ia kirim Toneri ke neraka jalur VIP!
"Mengapa aku bodoh?!" suara Toneri naik seoktaf karena bingung. Ia bahkan tak mau ambil pusing soal Hinata yang kurang ajar tapi apa alasan Hinata mengatainya bodoh karena ia tak mau sakit hati lagi? "Apa salahku tak ingin terluka lagi? Kau membelanya pasti karena dia kaummu."
"HAH? KAUMKU?" semua yang keluar dari bibir Toneri benar-benar terdengar menyebalkan di telinga Hinata. Suara bodohnya terdengar mengelikkan dan camkan ini baik-baik! Hinata tak membela Hime karena mereka sesama perempuan tapi ia membelanya karena Toneri harus menilai masalah ini dari sudut panjang sang Hime! Dia akan mengerti jika dia melakukannya.
"Hei, dengar kau menyebalkan." Kaki Hinata berhenti menendang, Naruto melepaskan dirinya ketika ia tak lagi mencoba mencekik Toneri.
Satu tarikan nafas Hinata lakukan sebelum mengatakan. "Coba kau lihat masalah ini dari sudut pandang Hime. Apa kau tak merasa kasihan padanya, hah?" ia menatap Toneri dengan tatapan lantang, berharap keseriusannya bisa membuat Toneri mengerti.
"Tahukah kau betapa tersiksanya dia harus terus berkata dia tak menyukaimu karena dia merasa tak pantas, semua perlakuanmu dan statusmu membuat dia lebih rendah lagi tapi kau tetap memaksanya untuk tetap di sampingmu." Jelas sekali semua ini berawal dari Toneri tapi dia bersikap seolah dia satu-satunya yang terluka.
"Kau sangat mudah sekali mengatakan tak masalah, tak apa, kau menerima, tapi itu menurutmu. Itu bagaimana kau melihat dirimu, tapi bagaimana dengan dia? Dia mencoba untuk pergi juga karena dia sangat takut tapi kemudian dia tak bisa lagi menahan perasaannya dan dia kembali tapi kau membiarkan dia pergi lagi. Hahaha!" Hinata tertawa singkat untuk meredakan emosinya yang kembali naik. Semakin memikirkannya semakin membuat dirinya ingin menghajar Toneri.
"Dari awal kau yang egois! Kau yang memaksa dia untuk terus bersamamu, memaksanya untuk bersikap egois tapi kau tak mau menyadari bahwa semuanya bermula dari dirimu yang bodoh itu. Dia bisa maafkanmu dan menahan dirinya sendiri karena tak ingin kau dalam masalah sekecil apapun itu tapi lihatlah, dia berbuat kesalahan tapi kau malah tak mau memaafkannya seolah hanya kau satu-satunya YANG PALING TERLUKA!" Hinata ngos-ngosan setelah mengakhiri ocehannya dengan sedikit jeda mengambil nafas singkat. Matanya melotot tajam. Mereka harusnya menjadi pasangan yang sempurna tapi hanya karena salah paham dan kurangnya komunikasi, beginilah mereka, menyedihkan.
.
.
.
.
.
.
Disclaimer : Demi apapun, Naruto bukan punya saya, punya Masashi Sensei, saya hanya pinjam saja.
Portal : Diffrent
(Hati hati typo, tulisan mendadak hilang, OOC, AU dan lain-lain. Udh usahain sebagus mungkin)
Portal : Diffrent by authors03
Please.. Dont like dont read.. Thanks.
.
.
Chapter 12
.
.
"Aku akan membawamu kembali ke kerajaanmu besok pagi, jangan khawatir, aku akan jelaskan soal kepergianmu selama ini." Suaranya begitu lembut terdengar oleh sang prajurit, ditambah senyuman halusnya, gadis ini selalu terlihat sangat lembut dan baik seperti biasanya tapi.
"Ha'i, terima kasih Hime!" mata biru itu menatap ke bawah sebelum kembali menoleh ke mata bulan tadi. Tapi dari pancaran matanya, dia tampak sangat sedih. Setelah kembali dari istana, dia menjadi sangat sedih tapi dia mencoba menyembunyikannya.
Ketika dengan ajaibnya kembali ke dunia ini, mereka terjatuh dari atas pohon, syukur dirinya tak jatuh pingsan dan bisa mengamankan sang Hime di gubuk tempat tinggal sang Hime dulu yang terdapat di tengah hutan, di sinilah mereka sekarang untuk sementara.
Sang Hime mengatakan akan pergi ke istana tapi kemudian pulang dengan kesedihan, dia malah memikirkan untuk membawanya kembali ke istana agar tidak ada salah paham karena di cap sebagai pengkhianat. Bagaimanapun rajanya berteman baik dengan sang raja yang ia ketahui sangat mencintai Hime, tak mungkin akan ada masalah ketika sang Hime yang menjelaskan.
"Aku ingin istirahat." Sang Hime beranjak dan mengambil duduk di sudut ruangan. Dia tak berbaring tapi duduk dengan memeluk kedua kakinya, menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Dia tak hanya terlihat sedih tapi juga lemah. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Tapi apapun itu, tak akan sopan jika ia bertanya. Memilih mengabaikan, prajurit bersurai kuning itu bangkit berniat berjaga di luar gubuk tapi betapa terkejut dirinya ketika ia membuka pintu dan melihat siapa yang entah sejak kapan berdiri di balik pintu.
"Yang Mulia, Toneri!" prajurit tadi sontak membungkuk hormat tapi gadis di sudut ruangan mengangkat kepala, menatap terkejut lelaki bersurai perak yang tak ia sangka muncul di depan pintu rumahnya.
"..."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Toneri berdiri menatap lurus ke depan. Suara dari rumput yang terinjak menandakan seseorang melangkah mendekat. Ketika suara melangkah itu hilang, ia memutar badan menatap siapa yang berdiri di belakangnya.
Gadis itu membungkuk hormat tanpa mengangkat kepala. Dia seperti mencoba menghindari kontak mata.
"Bisakah kita bicara?" ini adalah apa yang ia tanyakan tapi ia bahkan tak tahu harus membicarakan apa.
"Apa yang ingin anda bicarakan, Yang Mulia?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Salju di malam hari harusnya sangat dingin tapi kepala panas Hinata memanaskan semua badannya bahkan sampai kamar ini terasa sangat panas. Sudah cukup lama Toneri pergi tapi ia masih saja kesal. Bisa-bisanya dia mengakhiri sebuah cinta dan perjuangan kerasnya dengan mudah!
"Kau belum puas marah?" pertanyaan itu keluar sesaat setelah Naruto mengambil duduk di sebelah Hinata di bawah kasur dan membuat kepala Hinata bersandar di pundaknya.
"Ugh! Jika kau adalah Toneri, apa yang akan kau lakukan?!" tanya Hinata ingin tahu. Ia penasaran sekarang apa yang akan terjadi setelah Toneri pergi untuk berbicara dengan sang Hime. Jangan-jangan dia malah melakukan hal yang lebih bodoh lagi?
"Hm kurasa aku akan mengoreksi diriku dulu sebelum aku merasa pantas terluka." Jawab Naruto jujur. "Bagaimanapun Toneri yang memulai semua ini. Dia memaksa Hime untuk tinggal bersamanya tanpa mau tahu soal bagaimana pandangan orang-orang dan perasaannya."
"Nah benar kan! Hime terpaksa terus bersamanya tanpa berani jatuh hati, dia bahkan berusaha keras untuk menjadi layak tetap berada di dekatnya karena semua tekanan yang ada di pikirannya."
"Tapi bagaimana kalau Hime tetap memutuskan untuk menolaknya?" tanya Naruto penasaran. Hinata spontan mengangkat kepala dan menatapnya terkejut. Hime selalu menolak Toneri karena dia takut pada apa yang akan terjadi jika ia menerimanya. Jadi, bagaimana jika dia menolaknya lagi?
"Hime menolak?" Hinata berpikir sejenak. Itu benar, Hime bisa saja menolak Toneri lagi, mengapa ia baru memikirkannya sekarang?
"Jika dia menolak, aku akan menghajarnya sampai dia sadar!" geramnya yang malah membuat Naruto tertawa kecil. Hinata pemaksa sekali, tapi apapun pilihan mereka, ia mengharapkan yang terbaik.
"Astaga Hinata."
"Tak mau tahu pokoknya mereka harus bersama-sama!"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Maukah kamu kembali ke istana denganku?" pertanyaan itu menyentak Hime hingga membuatnya menoleh. Pertanyaan-pertanyaan berputar di kepalanya. Kenapa? Mengapa? Apa alasannya tiba-tiba meminta dirinya untuk kembali? Tapi dari semua itu yang ingin ia tahu adalah kenapa wajah putih Toneri terluka? Terdapat bekas cakaran di pipi dan sudut bibirnya, bahkan sedikit lebam di sudut mata.
"Apakah anda baik-baik saja? Anda terluka." Kekhawatiran keluar dari nada bicaranya tanpa aba-aba.
"Hinata menghajarku karena dia marah aku kecewa padamu." Lagi-lagi Hime menundukkan kepala. Jadi, dia terluka karena dirinya?
"Hamba sungguh menyesalinya, maafkan Hamba." Ucapnya penuh penyesalan. Hinata pasti kesal karena semuanya ternyata tak berjalan sesuai dengan apa yang dia bayangkan tapi ia tak menyangka Hinata sampai melayangkan tangannya ke Toneri.
"Aku sedikit memikirkannya ketika Hinata menghajarku dan mengoceh. Dia bilang semua ini adalah salahku." Begitulah yang ia tangkap dari ocehan Hinata.
Hime hanya terdiam, ia tak tahu harus menjawab apa tapi Toneri tiba-tiba mengulurkan satu tangannya, membuat ia menatap tangan itu sebelum kembali menatap wajah Toneri.
"Jadi, maukah kamu kembali ke denganku?" tanyanya lagi. Rasanya akan lebih baik jika mereka bisa berbicara dengan nyaman.
"Aku ingin mendengar tentang semua sikapku yang telah membuatmu tak nyaman." Tatapan matanya begitu lembut, menghanyutkan tapi Hime ragu apakah ini adalah pilihan yang benar? Apa yang akan terjadi ketika ia kembali ke istana?
Tanpa sadar Hime menjauh, mengambil dua langkah mundur. Mungkin sebaiknya ia menolak.
Tapi...
"Hinata akan menghajarku lagi kalau aku tak membawamu kembali."
"Sungguh?" mata Hime terbelak karena terkejut. Ia mencari jawaban di mata Toneri tapi dia tak tampak seperti sedang bercanda.
"Iya, dia sangat marah padaku sekarang. Apa kau ingin aku dihajar lagi olehnya?" Tentu saja ia bisa menghentikan Hinata dengan mudah bahkan membalas perbuatannya jauh lebih menyakitkan tapi Hinata sudah menjadi temannya. Ia tak ingin menyakiti Hinata dan juga ia memikirkan kata-kata Hinata tadi.
"Aku tak ingin kau ataupun dia menyesalinya."
"Tidak..." jawab Hime ketika dia menggeleng pelan dan jawaban itu menghadirkan senyuman tipis di bibir Toneri. Entah mengapa raut wajahnya lucu, dia seperti anak kecil yang di ancam untuk menurut jika dia tak ingin orang tuanya terluka.
Toneri sedikit menggerakkan tangannya yang masih terulur untuk menunjukkan bahwa ia masih menunggu jawaban.
"Kalau begitu, ayo."
Ragu, ragu dan ragu hanya itu alasan mengapa Hime membeku, tangannya ingin menerima uluran tangan itu tapi ia menahannya.
Tapi...
Tapi lelaki ini datang sampai ke sini untuk memintanya kembali, mungkin ia harus mengambil kesempatan ini untuk menyelesaikan semua kesalahpahaman dan juga memastikan agar Hinata tak lagi menggunakan kekerasan pada Toneri.
Perlahan, kepalanya terangguk kecil. Tangannya menerima uluran tangan Toneri.
Kepalanya tertunduk ketika tangan itu membawanya pergi dan entah mengapa pula sudut bibirnya terangkat.
Ia tersenyum.
.
.
.
.
To be continue
